Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Filsafat pada dasarnya, merupakan buku dan prinsip-prinsip tertinggi
menentukan pemikiran dan tindakan seseorang. Sistem nilai kita anut dan kita
pertahankan, menjadi sarana bagi kita untukmenjalankan kejadian-kejadian dan
pengendalian tindakan kita. Disadari atau tidak, seseorang berpegang pada filsafat
tertentu dan filsafat membentuk pola-pola pemikiran dan cara kehidupannya,
termasuk ia lihat dunia ini. Jati diri dan keutuhan bangsa akan terjadi bilamana
bangsa itu adalah hal dipercayai oleh dan disebarkan kepada seluruh warganegara.
Pemikiran filosofis muncul karena orang tidak puas melihat realita pada
permukaannya. Tidak ada orang bisa merenung secara mendalam ke akar-akarya
(radikal) guna mencari hakekat dan makna sesuatu fenomenon.
Dalam arti luas-luasmya, filsafat olahragamerupakan hasil renungan radikal
tentang olahraga. Dengan mempelajarinya (dalam arti menguasainya), seorang ilmuan
olahraga atau guru pendidikan jasmani atau olahraga diharapkan akan yakin dengan
sepenuhnya bahwa profesinya mengandung
B. Tujuan
Tujuan pembuatan critical book report ini adalah :
1. Memenuhi tugas wajib mata kuliah Filsafat Pendidikan
2. Menanggapi atau mengkritisi isi buku Pengatar Filsafat Pendidikan

C. Manfaat
Manfaat pembuatan critical book report ini adalah :
1. Menambah wawasan pembaca tentang Filsafat Pendidikan
2. Menambah pengetahuan penyusun dan pembaca tentang critical book report

1
D. Identitas Buku

1. Judul : FILSAFAT OLAHRAGA


2. Pengarang : Prof. Dr. Agung Sunarno, M.Pd
3. Penerbit : LARISPA INDONESIA
4. Kota Terbit : Medan
5. Tahun Terbit : 2015
6. ISBN : 978-602-71584-8-1

2
BAB II

RANGKUMAN BUKU

1. BAB I “PERKENALAN DENGAN FILSAFAT”

Mata kuliah ini berjudul “Filsafat Olahraga”. Ia merupakan sebuah kata majemuk
yg tersusun dari kata “Filsafat” dan “Olahraga”. Secara etimologi kata filsafat berasal dari
bahasa yunani “philoshopia”. Philos artinya suka, cinta atau gandrung (tergila-gila), dan
shopia atau shopos berarti kebijaksanaan(wisdom). Jadi Filsafat dapat diartikan secara
umum sebagai cinta atau gandrung akan kebijaksanaan. Karena kebijaksanaan itu
mempengaruhi pilihan yg kita ambil dan kegiatan yg kita lakukan filsafat itu menjadi
suatu disiplin yg paling mendasar.

A. PENJELASAN LEBIH LANJUT TENTANG MAKNA FILSAFAT

Makna Filsafat dari sudut pandang etimologis yg dipaparkan di muka mungkin


masih terlalu luas untuk mahasiswa guna memahami konsep filsafat. Plato
mengartikan filsafat sebagai “Pengetahuan yg berhubungan degan usaha mencapai
pengetahuan kebenaran yg asli “. Bagi Aristoteles, filsafat adalah “ilmu atau
pengetahuan yg meliputi kebenaran yg didalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika,
logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika”. Sedangkan Al Farabi seorang
filsuf islam menyatakan “Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) tentang alam maujud
bagaimana hakekat yg sebenarnya”. Earle Zeigler yg dikutip oleh Freeman (1982)
menyatakan bahwa filsafat adalah “suatu ilmu yg meneliti fakta-fakta, prinsip-prinsip,
dan masalah-masalah realitas (kenyataan) dalam usaha untuk melukiskan,
menganalisis dan mengevaluasinya. Harold Barrow (Freeman, 1982) mengemukakan
ada tiga filsafat: (1) filsafat sebagai kajian tentang kebenaran (truth) atau prinsip-
prinsip yg mendasari semua pengetahuan, (2) filsafat sebagai kajian tentang penyebab
dan prinsip-prinsip yg paling umum tentang alam semesta, dan (3) filsafat sebagai
suatu system yg membimbing kehidupan.

B. Objek Filsafat

Salah satu syarat dari sains (ilmu pengetahuan) adalah bahwa ia harus
mempunyai objek (bidang kajian). Objek itu terdiri atas objek material dan objek
formal. Objek material dari filsafat adalah segala sesuatu yg ada, baik yg konkrit

3
maupun abstrak, sedangkan objek formalnya adalah aspek yg paling hakiki dari
sesuatu yg ada itu.

1) Objek material = segala sesuatu yg ada dan yg mungkin ada; yg konkrit-fisis, yg


non fisis, abstrak, psikis spiritual. Termasuk pengertian abstrak-logis,
konsepsional, rohaniah, nilai-nilai agama dan alam metafisis, bahkan tuhan sendiri
2) Objek formal = menyelidiki segala sesuatu yg tidak terbatas itu dengan sedalam-
dalamnya guna mengerti hakekatnya. Filsafat mencari kebenaran dan kodrat
hakiki sesuatu (The nature of nature). Objek formal ini memberi watak dari sudut
pandangan berbeda dengan ilmu pengetahuan, karena filsafat ingin mengerti
segala sesuatu yg tidak terbatas (kesemestaan) dan mendasar, seadalam-dalamnya
(hakiki).

C. HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN ILMU (SAINS)

Sebagaimana telah disinggung di muka, pada awal kemunculannya, filsafat


dipandang sebagai induk segala ilmu-ruang lingkup filsafat, pada waktu itu,
mencakup ilmu-ilmu tentang manusia dan ilmu-ilmu tentang alam semesta. Karena itu
seorang filsuf biasanya adalah juga seorang sosiolog. Astronom, fisikawan,
matematis, dan bahkan seniman. Lambat laun, seiring dengan bertumbuh kembangnya
batang tubuh pengetahuan (body of knowledge), berbagai cabang ilmu memisahkan
diri dari filsafat sebagai induknya.

Dengan mengurangi bobot spekulasinya, filsafat harus bergantung kepada


data-data yg dihasilkan sains. Fakta-fakta ilmiah menjadi landasan pacu bagi analisis
filosofis. Seorang filsuf tak dapat menyambung ujung-ujung yg terburai tanpa
mengenal ujung-ujung yg akandisambungnya itu. Jadi, temuan-temuan ilmiah
merupakanbahan mentah untuk diklarifikasi, dikembangkan, dikritik, dan
digabungkan oleh seorang filsuf.

4
D. PERTANYAAN-PERTANYAAN FILOSOFIS

Dalam garis besarnya, paling tidak, ada lima pertanyaan filsafat :

1) Pertanyaan berkenaan dengan hakekat sesuatu


Pertanyaan ini menkut kualitas, karakteristik(ciri-ciri khas), atau aspek-aspek dari
benda-benda fisik (misalnya kursi) maupun nonfisik dan segala bentuk tindak.
2) Pertanyaan berkenaan dengan apa orang ketahui
Ini mempertanyakan tentang apa manusia ketahui, bagaimana mereka
mengetahuinya, dan bagaimana mereka mempunyai keyakinan dan pandangan
berbeda-beda.
3) Pertanyaan berkenaan dengan nilai (values)
Dengan pertanyaan ini akan dicoba untuk menggunakan nalar untuk menanamkan
sesuatu hal, tindak, atau kejadian itu baik.
4) Pertanyaan berkenaan dengan perilaku baik
Pertanyaaan ini bersangkutan dengan apa baik dalam kehidupan dengan titik
fokusnya bagaimana orang mempengaruhi orang lain untuk lebih baik (better)
atau lebih buruk (worse).
5) Pertanyaan berkenaan dengan : apakah keindahan.
Pertanyaan ini secara khusus berfokus pada hal-hal baik atau indah menurut
ukuran sensual (penginderaan) dan seni.

E. PENDEKATAN DAN METODE FILSAFAT

Ahli-ahli filsafat sepakat bahwa dalam kajian filsafat ada tiga pendekatan:
Spekulatif, Normatif, dan Analitis. Pendekatan spekulatif Nampak ketika seorang
filsuf mencoba mereka –reka (guessing) jawaban atas suatu persoalan dengan
mengajukan suatu hypothesis belum terbuktikan kebenarannya.

Metodologi filsafat, menurut Vanderzwaag (1972) ada lima; 1. Latar belakang


sejarah, 2. Interpretasi beragam, 3. Pertimbangan nilai (value judgment), 4.
Menemukan dan menjernihkan issu-issu pokok (discovering and clarifying the main
issues) dan 5. Menetapkan hubungan konsep-konsep serupa.

1) Latarbelakang sejarah

5
Sejarah adalah suatu penentu penting untuk pemikiran filosofis baik
pengaruh itu langsung maupun tidak. Kita akan terbantu untuk menyusun secara
kritis sesuatu konsep misalnya, apabila kita dapat memperoleh rujukan dari para
filsuf masa lampau mengenai konsep tersebut.
2) Interpretasi Beragam
Mengkaji berbagai macam penafsiran atas sesuatu konsep, slogan, klise
atau suatu kejadian merupakan salah satu metode dari analisis filsafat.
3) Pertimbangan Nilai
Pertimbangan nilai adalah suatu bentuk evaluasi. Namun, berbeda dengan
evaluasi ilmiah, pertimbangan nilai tidak harus didasarkan atas fakta-fakta.
4) Menemukan dan menjernihkan isu-isu pokok (Discorening and Clarifying The
Main Issues)
Isu adalah pernyataan – pernyataan dilahirkan dari suatu konsep. Beragam
penafsiran dan/ atau pertimbangan nilai seringkali mengarah kepada isu-isu pokok
melingkari suatu konsep.
5) Menetapkan Hubungan dengan konsep-konsep Hampir Sama
Ketika kita mengkaji berbagai macam ide atau masalah, kita perlu melihat
dengan lebih jelas bagaimana hubungan satu dengan lainnya.

F. HIERARKI BERFIKIR FILOSOFIS

Davis dan Miller, sebagaimana dikutip Freeman (1982) menjelaskan tingkat-


tingkat berfikir filosofis, Hirarki itu bergerak dari tingkat terendah yaitu pendapat
dari sebarang orang (any person’s opinion) ke tingkat paling tinggi yaitu hokum.

Diatas hipotesis adalah teori, mencoba unruk menetapkan sesuatu lebih


mungkin atau lebih mendekati kebenaran dari pada hipotesis, merupakan probabilitas
rendah dari kebenaran (truth). Teori merupakan suatu usaha untuk menjelaskan
beberapa fenomena atau kejadian, tetapi suatu teori percobaan (attempted theory)
belum sepenuhnya terbukti benar.

6
2. “BAB II CABANG-CABANG DAN ALIRAN FILSAFAT”

Filsafat Olahraga tidak bertujuan untuk mengajari guru atau pelaku olahraga tentang,
misalnya bagaimana menciptakan cabang olahraga, atau bagaimana seharusnya sikap
(attitude) seorang, atau bagaimana metode mengajar pendidikan jasmani.

A. CABANG – CABANG FILSAFAT

Dalam garis besarnya ada 3 cabang filsafat : 1. Ontologi, 2. Epistemologi, dan 3.


Axiologi.

1) Ontologi
Ontologi adalah cabang filsafat yg berkenaan dengan hakekat dari kenyataan (the
nature of reality).
2) Epistemologi
Epistemologi adalah masalah filsafat berkenaan dengan hakekat pengetahuan dan
hakekat mengetahui.
3) Axiologi
Axiology adalah cabang filsafat yg berkenaan dengan masalah nilai (value).
Axiology dapat dibagi 2 kategori besar yaitu etika dan estetika. Etika berkenaan
dengan konsep benar dan salah, baik dan buruk dalam kelakuan.

B. ALIRAN – ALIRAN FILSAFAT

Banyak aliran dalam filsafat tetapi semuanya dapa digolongkan kepada empat
aliran pokok yaitu :

1) Naturalisme

Paham naturalisme menganggap alam sebagai satu – satunya hal nyata. Ajaran ini
berasal dari Democritus, lahir kira – kira tahun 460 S.M. ia mengatakan bahwa
apabila atm –atom terkombinasi akan terbentuklah tubuh yg alami. Orang akan
mati ketika atom – atom yg menyusun tubuhnya terpisah.

2) Idealisme
Bagi filsafat idealisme pikiran dan penalaran (reason) adalah hal – hal penting
dalam realita, penganut paham ini merasa bahwa di atas dunia fisik terdapat dunia
pikiran dan roh. Nalar, intelligensi, kepribadian dan nilai lebih penting dari pada

7
zat, gerak atau tenaga. Pikiran atau intelligensi adalah sumber material dengan
hukum – hukum mekanikanya adalah skunder dan derivatif.
3) Realisme
Realisme adalah filsafat berkenaan dengan hal – hal ilmiah. Kaum realis sangat
tergantung kepada penelitian ilmiah. Kebenaran harus dicari dengan jalan
eksperiman. Tujuan realisme adalah untuk melihat hal sebagaimana adanya dan
bagaimana manusia harus menyesuaikan diri dengan realita ini.
4) Pragmatisme
Pragmatisme adalah suatu bentuk dari empirisme karena ia berpendapat bahwa
pengetahuan tentang alam didasarkan atas pengalaman dan percobaan
(eksperimen) atau atas observasi dan induksi. Ia menolak pencarian kebenaran
melalui spekulasi intelektualistik, justru menurutnya kebenaran atau validitas dari
suatu prinsip atau keyakinan bergantung kepada efeknya dalam praktek.

3. “BAB III HAKEKAT MANUSIA”


A. JASMANI DAN ROHANI

Ketika melihat seorang manusia dengan indera pengelihatan kita, maka kesan
pertama muncul adalah bahwa ia mempunyai sosok (bentuk dan rupa tubuh). Ia
mempunyai jasmani (tubuh fisik). Dengan adanya jasmani, manusia bergerak dan
beraktivitas sepanjang hidupnya. Namun jasmani bukanlah satu – satunya komponen
dalam diri manusia hidup. Selain jasmani (tubuh, badan, raga, dan fisik) masih ada
lagi apa disebut jiwa (rohani, anima, mind).

B. HUBUNGAN JASMANI DAN ROHANI DALAM DIRI MANUSIA

Kajian tentang hubungan jasmani dan rohani itu penting sebab ia akan memberi
dampak kepada status professi berkaitan dengan jasmani. Apabila orang menganut
paham, bahwa jasmani dan rohani itu merupakan dua entitas terpisah, dan rohani itu
lebih penting dari jasmani maka pendidikan jasmani dan professi lainnya berkaitan
dengan jasmni akan dianggap sebagai berstatus kelas dua. Sebaliknya kalau orang
memahami kejasmanian (embodiment) dan pemikiran/ thoughtfidlness) itu sebagai
aspek – aspek tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia maka profesi pendidikan
jasmani dan profesi lainnya berkaitan dengan jasmni akan dianggap berdiri sama
tinggi dengan ilmu – ilmu lainnya.

8
1) Dualisme
Paham dualisme berpendapat bahwa orang tersusun dari entitas berbeda
yaitu rohani (atau jiwa) dan jasmani (atau tubuh). Seseorang individu itu lebih
dekat diasosiasikan dengan belahan rohani berfikir. Jasmani, walaupun penting,
kurang berarti bagi hakikat diri individu.
Pengusung paham dualisme bukan saja menyatakan bahwa seorang
individu atau diri itu merupakan kambinasi dari badan dan jiwa tetapi juga bahwa
jiwa itu lebih superior dari pada badan. Jiwa mengarahkan, mengontrol dan
mengawasi badan.
a. Kelemahan teori Dualisme
Banyak kritik diajukan oleh para ahli untuk mengah kebenaran dari paham
dualism ini. Diantaranya, paling mendasar, adalah dari Kretchmar (1994)
yaitu :
(1) Dualisme mengkaji badan dan jiwa secara terpisah (abstraksi). Karena itu
mereka tidak berhasil melukiskan betapa seorang individu itu merupakan
satu kesatuan utuh jasmaniah – rohaniah.
(2) Sukar untuk memahami bagaimana tubuh dan jiwa berinteraksi menjadi
satu padahal satu bersifat material (tubuh) sementara satu lagi (jiwa)
bersifat immaterial.
Kretchmar (1994) selanjutnya mengklarifikasi paham dualisme itu menjadi
empat bentuk : (1). Dualisme Objek, (2). Dualisme Nilai, (3).Dualisme
perilaku, (4). Dualisme kebahasaan.
b. Materialisme atau Fisikalisme

Mereka memahami makhluk manusia sebagai seluruhnya jasmani. Namun


Fisikalisme tetap saja berpaham dualisme karena penganut paham ini
mengakui adanya dua unsur dalam diri manusia yaitu jasmani dan rohani.
Hanya saja, kalau faham dualisme lainnya lebih mendewakan jiwa kaum
fisikalis cenderung mendewakan jasmnai.

9
1) Holisme

Paham Holisme berusaha memahami manusia sebagai satu individu


jasmaniah – rohaniah utuh menyeluruh jadi bukan individu tersusun dari unsur
jasmani dan rohani (dualisme).

Ada empat frase paling populer mendukung paham Holisme.

a. “Mens sana in corpore sano” dari juvenalis. Seorang individu adalah satu
makhluk utuh – menyeluruh, tersusun dari dua unsur berhubungan sangat
erat: jasmani dan rohani. Jiwa sehat bersemayam dalam dan bergantung pada
adanya tubuh sehat.
b. “kesatuan jiwa, badan dan roh” (segitiga YMCA). Seorang individu adalah
satu makhluk utuh menyeluruh, mempunyai tiga aspek. Tidak ada satu
bagian lebih tinggi atau mendapat perhatian lebih khusus dari dua lainnya.
c. “Pendidikan melalui jasmani” dari Williams (1965). Seorang manusia dalah
suatu makhluk utuh menyeluruh karena itu, dalam pendidikan jasmani,
prinsip ini harus diterapkan. Artinya, melalui kegiatan sport, tari dan latihan
haus tumbuh pula pembelajaran social dan moral.
d. “Pendidikan untuk jasmani” dari Me Cloy (1940). Sepintas lalu, dengan
konsep education of the physical terkesan bahwa Me Cloy adalah seorang
dualis. Tetapi sebenarnya tidak. Baginya tetap individu itu makhluk utuh
menyeluruh. Hanya saja pendidikan jasmani harus mempunyai sasaran (aim)
utama pada hasil bersifat organis seperti kesegaran kardiovaskular,
peningkatan kekuatan, dan kelenturan tubuh. Semua ini diharapkannya
mempengaruhi sikap (attitude) dan pemikiran.

1. Penafsiran Horizontal Terhadap Diri Manusia


Bahwa puncak dan alas dari pradigma itu tidak merupakan jiwa dan badan
atau mental dan fisik. Ia hanya merupakan dua kutub dari semua perilaku
manusia. Pada kutub atas terdapat aktivitas sedenter meliputi refleksi
(pengingatan dan penggunaan fakta – fakta proposisi) dan intuisi (penggunaan
beragam keterampilan intelektual, misalnya berhitung, menulis, deduksi,
induksi, dan berimajinasi ). Ia disebut sedenter karena aktif secara intelektual

10
dapat dilakukan sambil duduk di kursi dengan gerak minimal dan kurangnya
kepercayaan pada persepsi indera.

2. Aliran Fenomenologi

Menurut kaum fenomenologis, harus dijelaskan bukanlah pendapat


abstrak mengenai hakekat fenomena(gejala) itu sendiri tetapi fenomena itu
sebagaimana dialami, atau sebagaimana ia muncul. Kaum fenomenologis
mengklaim bahwa kita harus memahami dan mendeskripsikan tubuh kita
sebagai kita mengalaminy, sebagai dia hidup, dan sebagai aku. Tubuh
bukanlah sesuatu aku miliki, tetapi “aku adalah tubuhku”. Itulah kata Gabriel
Marcel dikutip oleh Hyland(1990).

4. “BAB IV OLAHRAGA VERSI INDONESIA”

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), kata”olahraga” dijelaskan sebagai


“Gerak badan untuk menguatkan dan menyehatkan tubuh (seperti sepakbola, berenang,
lempar lembing). Dalam penjelasan dari KBBI itu saja sudah terbukti bahwa olahraga
bukanlah “sport sebab sport pada hakekatnya bukan sekedar gerak badan. Pengertian
gerak badan lebih dekat dengan istilah “exercise”.

A. KEGIATAN JASMANI SEBAGAI PENGALAMAN SOSIAL


Bentuk kegiatan jasmani merupakan suatu pengalaman social adalah tujuan
utamanya untuk menjadi medium bagi hubungan social yaitu bertemu dengan kenalan
baru atau mempertahankan hubungan sudah terjalin. Hamper semua bentuk kegiatan
jasmani mempunyai unsur ini, baik sengaja dirancang maupun tidak.

B. KEGIATAN JASMANI UNTUK KESEHATAN DAN FITNESS

Sudah tidak perlu didebatkan lagi bahwa kegiatan jasmani dapat meningkatkan
kesehatan dan fitness. Bahkan physical fitness tidak dapat diperoleh melalui kegiatan
apapun selain kegiatan jasmani. Bukan hanya senam dan latihan –latihan conditioning
dapat meningkatkan kesehatan dan fitness tetapi kebanyakan kegiatan jasmani lainnya
juga mangandung manfaat ini.

11
C. KEGIATAN JASMANI UNTUK MENDEKATI VERTIGO

Vertigo adalah sensasi mencekam berupa perasaan gamang, ngeri, atau panic timbul
ketika orang berada di bawah cengkraman sesuatu kekuasaan lain luar biasa.
Kegiatan jasmani dalam bentuk permainan biasanya dilakukan orang untuk vertigo,
antara lain adalah panjat pinang, loncat indah dari menara setinggi 10 meter, terjun
paying, berselancar (surfing), balap mobil atau sepeda motor dan arum jeram. Bentuk
– bentuk permainan ini cukup potensial menimbulkan bahaya kecelakaan tetapi masih
dapat dikontrol oleh manusia (pelakunya).

D. KEGIATAN JASMANI SEBAGAI PENGALAMAN ESTETIS

Beberapa bentuk kegiatan jasmanin dianggap menyenangkan mata, dan mempunyai


kemampuan untuk memuaskan rasa keindahan. Namun sebagian lain merasa bahwa
indah itu hanya gerakan – gerakan kreatif dan ekspressif saja yaitu tari.

E. KEGIATAN JASMANI SEBAGAI KATHARSIS

Ada bentuk – bentuk kegiatan jasmani dianggap dapat meredakan ketegangan


terpendam terjadi karena frustasi. Contoh lebih dekat dengan catharsis adalah tinju
dan olahraga bela diri pada umunya.

F. KEGIATAN JASMANI SEBAGAI PENGALAMAN ASTETIK

Istilah asceticism berasal dari dunia keagamaan dimana orang bersedia mengekang
kebutuhan jasmani atau bahkan menyiksa fisiknya demi mencapai kesempurnaan
jiwa, misalnya menahan diri dari mengumbar nafsu biologis, puasa, berjalan diatas
bara api, menusuk – nusuk diri dengan pisau atau pedang, dan berbaring diatas paku.

Demikianlah, dari segi fungsi istilah olahraga dalam bahasa Indonesia identic dengan
konsep physical activity. Dari segi tujuannya olahraga dapat dibagi menjadi lima
komponen :

1. Olahraga pendidikan (atau pendidikan jasmani) untuk mencapai tujuan pendidikan


2. Olahraga prestasi (atau sport) untuk mencapai prestasi setinggi – tingginya
3. Olahraga rekreasi, untuk bersenang – senang
4. Olahraga kesehatan, latihan jasmani untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan, dan

12
5. Olahraga adaptif, serangkaian latihan jasmani dirancang khusus untuk
penyandang cacar( atau biasa disebut juga olahraga rehabilitas), untuk wanita
hamil, dan untuk pengobatan penyakit (fisio terapi).

Dapat disimpulkan bahwa olahraga memang merupakan kegiatan, tetapi tidak semua
kegiatan adalah olahraga. Hanya kegiatan jasmanilah dapat digolongkan sebagai
olahraga.

5 “BAB V FILSAFAT OLAHRAGA”

Perhatian orang terhadap filsafat olahraga baru bangkit tahun 1970-an. Dalam
garis besarnya, filsafat olahraga merupakan suatu studi mendalam tentang hakekat
oalhraga dan peran dimainkannya dalam budaya. Dalam mencari tahu hakekat olahraga,
filsafat olahraga mencoba melakukan studi mendalam tentang konsep – konsep olahraga
ada melalui berfikir kritis dan bebas. Konsep – konsep seperti bermain, permainan, sport,
dan pendidikan jasmani dilukiskan sedemikian rupa sehingga jelas perbedaannya satu
dengan lain.

A. PENGALAMAN BEROLAHRAGA

Apa dialami pelaku olahraga ketika berolahraga, merupakan objek pengkajian


filosofis utama. Cfeh Freeman (1982)melukiskan pengalaman berolahraga (sport)
bagi pelaku olahraga itu mempunyai tiga karakteristik dasar: emosional, personal, dan
situsional.

Selain pengalaman fisik, olahraga juga melibatkan emosi. Hal ini berlaku bak
bagi pemain maupun penonton, pertandingan olahraga sering menimbulkan tindak
kekerasan fisik (physical aggressiveness) didorong oleh emosi.pengalaman olahaga
juga diwarnai oleh factor pribadi (personal).

Vanderzwaag dan Sheehan menyatakan ada tujuh kondisi atau situasi dimana
pengalaman olahraga terjadi (Freeman, 1982). pertama apa disebut “memorable
sport experience” (pengalaman olahraga menjadi kenangan). kedua adalah “Sporting
classic” yaitu pengalaman dirasakan oleh penonton, atlet maupun coach dalam
pertandingan besar seperti olympiade atau kejuaraan dunia. ketiga adalah “ The
Atmosphere of a sport (iklim olahraga) sukar mengatakan tetapi dialami oleh
penonton dan atlet dalam pertandingan olahraga, seperti perasaan harap – harap
cemas. keempat adalah “element of jKr Jection” (unsur – unsur kesempurnaan).

13
kelima adalah “The team experience” adalah (pengalaman tim). Ada perasaan tertentu
(kebanggaan dialami para anggota tim ketika tim itu juara. keenam adalah “lifetime
enjoyment sport”. Banyak cabang olahraga diminati orang sejak muda sampai tua.
Kemudian terakhir adalah “Just playing” (hanya sekedar bermain) yaitu dialami oleh
orang – orang tak seberapa mahir dalam cabang olahraga tersebut dan dimainkan
timnya untuk iseng sekali – sekali.

B. ALASAN MENGADAKAN PENGKAJIAN FILOSOFIS


Ada tiga alas an pokok mengapa kajian filosofis terhadap olahraga itu perlu
dilakukan:
1. Untuk menemukan apa perlu kita ketahui tentang olahraga
2. Kajian filosofis terhadap olahraga dilakukan untuk mrnghasilkan pedoman praktis
untuk bertindak.
3. Untuk menghasilkan pemahaman lebih mendalam tentang olahraga.

C. DEFENISI FILSAFAT OLAHRAGA

FILSAFAT OLAHRAGA adalah pemikiran filsafat diterapkan untuk kegiatan


olahraga.

Istilah diterapkan itu menkut dua hal :

1. Menerapkan filsafat olahraga itu berarti menggunakan metode filsafat dalam


mendiskusikan masalah – masalah olahraga, dengan cara : a.)menganalisis suatu
masalah dalam hal apa dijadikan sebagai dasar ontologisnya (misalnya apakah
idealism atau realisme) dan apa implikasinya. b.) memeriksa masalah itu dengan
melihat argument dari pihak mendukung dan menkalnya. c.) klarifikasi terhadap
makna< defenisi istilah – istilah digunkan, d.) menyimpulkan ringkasan
(synopsis) dari sumber – sumber banyak, dan e.) membandingkan berbagai
macam pandangan terhadap maslah itu, termasuk menelusuri landasan sejarahnya.
2. Mengkaji tujuan dari olahraga secara mendalam.

14
D. ISSU – ISSU DALAM FILSAFAT OLAHRAGA
Untuk memahami jenis – jenis masalah apa saja perlu dikaji dalam filsafat olahraga,
Freeman (1982) Mengumpulkan Sembilan issu perlu dikaji dalam FILSAFAT
OLAHRAGA :
1. HAKEKAT SPORT
Ada empat teknik dapat digunakan untuk membantu memahami hal ini : defenisi,
karakterisasi, klassifikasi, dan komparasi.
Defenisi adalah penggunaan nalar induktif untuk membatasi sport dengan
aktivitas – aktivitas dianggap murni sport. Karakterisasi menggunkan pola logika
deduktif untuk menerapkan unsur – unsur atau karakteristik sport. Sesudah
karakteristik dasar ditetapkan maka sang filosof akan mencari hubungan –
hubungan dasar. Ini dilakukan dengan klasifikasi yaitu mengelompokkan subjek –
subjek atau kegiatan – kegiatan menurut unsur – unsurnya sejenis. Akhirnya sang
filosof menggunakan teknik komparasi untuk melihat apakah unsur – unsur
teoritik itu berlaku untuk kegiatan – kegiatan sejenis.
2. TUBUH DAN KEBERADAAN
Kajian ini membahas hubungan tedapat antara akal, tubuh, dan jiwa, termasuk
tantang nilai relative dari masing – masingnya. Konsep hubungan jiwa – raga atau
rohani – jasmani telah menjadi perhatian para filosof sejak zamannya plato.
3. SPORT SEBAGAI PENGALAMAN BERMAKNA
Pengalaman ini dapat berbeda bagi satu dan lain orang karena setiap individu
mungkin mempersepsi kejadian atau hal secara berbeda. Faktor ini membuat
kajian filosofis tentang pengalaman bermakna menjadi sukar.
4. SPORT VERSUS PENDIDIKAN JASMANI : KONFLIK FILOSOFIS
Banyak ahli berpendapat bahwa pemahaman jelas mengenai masalah ini menjadi
sukar karena banyaknya mitos terus bertahan di seputar masalah ini. Ada lima
mitos : pertama, bahwa ada garis kentinuum dari bermain ke permainan dan
sampai ke sport. Kedua, kepercayaan bahwa hanya ada satu – satunya model
untuk program sport. Ketiga , bahwa sikap – sikap positif seperti sportivitas dan
fair play sudah melekat (inhereri) dalam permainan. keempat, soal defenisi dari
istilah – istilah digunakan dalam pendidikan jasmani. Kemudian terakhir adalah
akibat dari mengabaikan keaslian sejarah dari sport padahal konflik dalam makna
dan tujuan dari sport dan pendidikan jasmani mungkin dapat diselesaikan dengan
mengambil sejarah yunani kuno sebagai kaca perbandingan.
15
5. SPORT DAN ESTETIKA
Masalah estetika adalah masalah apakah seni, apakah keindahan itu dan apakah
ketentuan dari kualitas estetika. Sport sudah lama dianggap sebagai subjek dari
karya seni dan belakangan ini sport malahan dipandang sebagai bentuk seni.
6. SPORT DAN NILAI
Bidang nilai (values) mungkin merupakan aspek sport paling menarik perhatian
bagi banyak orang karena nilai – nilai perilaku dan moral diperhatkan pelaku
sport sangat diperhatikan oleh para pengamat.
7. KONSEP FAIR PLAY DAN SPORTIVITAS
Melalui penelitian mendalam apakah pelaku dan mantan pelaku olahraga akan
memmilkki sikap mental sperti itu dalam pergaulan di masyarakat dan apakah
sikap fair play dan sportivitas itu merupakan hasil dari pengalaman berolahraga.
8. KONSEP AMATIR
Konsep amatir mengemukakan setiap empat tahun sekali ketika pesta olahraga
olympiade diselenggarakan. Biasanya panitia penyelenggara mengadakan aturan –
aturan ketat mengenai amatirisme.
9. SPORT DAN SPEKULASI METAFISIK
Metafisika adalah suatu kajian tentang realistis dan dalam filsafat olahraga hal iini
berkaitan dengan hakekat sport (the nature of sport). Gerber dan Morgan
sebagaimana dikutip oleh Freeman (1982) menyatakan ada tiga pertanyaan
tentang realistis : (1.) apakah realistis menurut sudut pandang hakekat dunia
(cosmology) , (2.) apakah realitas menurut sudut pandang ilahiah (theology), (3.)
apakah realitas dari sudut pandang eksistensi manusia (ontology).
Ada 3 pendekatan dapat digunakan (1) mengembangkan implikasi dari aliran –
aliran besar filsafat untuk issu – issu pokok dalam sport. (2) mengembangkan
implikasi sistem – sistem filsafat dari filsuf – filsuf besar untuk issu –issu minat
terhadap sport dan (3) langsung mengadakan pengujian filsafat terhadap issu
pokok dari sport.

16
6. “BAB VI BERMAIN, PERMAINAN, DAN SPORT”

Dalam bab ini akan diungkapkan perbedaan istilah bermain, permainan, dan
sport, bagaimana hubungannya satu sama lain, dan bagaimana peran masing – masing
dalam pola menyeluruh dari budaya.

A. BERMAIN (PLAY)
Bagi Huizinga, bermain adalah bagian tak terpisahkan dari semua
kegiatan manusia. Huizinga (1964) selanjutnya menyatakan :
Bermain adalah suatu kegiatan atau okupasi dilakukan dalam peraturan
dibuat menurut waktu dan tempat, sesuai dengan aturan diterima secara bebas
tetapi mengikat , mempunyai tujuan pada dirinya sendiri, dan diiringi dengan
perasaan ketegangan, gembira, dan kesadaran bahwa ia (bermain itu ) berbeda
dengan kehidupan biasa, KUNCI BERMAIN ADALAH GEMBIRA.

Piaget (1962) membedahkan kegiatan bermain dan non bermain (bekerja)


dengan menetapkan kriteria bermain sebagai berikut :

1. Bermain mempunyai tujuan pada dirinya sendiri (otoletik) sedangkan


kegiatan bekerja atau non- bermain lainnya mempunyai tujuan dimana
kegiatan itu sendiri.
2. Kegiatan bermain bersifat spontan sedangkan bekerja bersifat terpaksa
(compulsion)
3. Bermain adalah kegiatan untuk bersenang – senang, sedangkan bekerja
ditujukan untuk mencari hasil berguna (useful result) tanpa mengacuh
kesenangan.
4. Bermain itu terbebas dari struktur organisasi terorganisasi
5. Dalam bermain, konflik dalam kehidupan nyata antara kebebasan
individu dan batasan social ( social restraints) hilang sama sekali atau
dialihkan kepada solusi akseptabel.
6. Bermain bercirikan motivasi berlebihan (over motivation) yakni
pengalihan tenaga ekstra tidak perlu (extra unnecessary twist)

17
1. KATEGORI BERMAIN

Cailois (1962) membagi bermain dalam empat kategori : AGON, ALEA,


MIMICRY, DAN ILINX.

Agon adalah semua bentuk bermain berisi kontes (perjuangan, kompotisi).


Dengan adanya unsur komtpetisi, sebenarnya istilah agon lebih pas untuk dikenakan
kepada permainan (bukan bermain).

Kategori kedua adalah Alea dalam bahasa latin berarti “ Dadu” . kedalam
jenis ini termasuk semua bentuk bermain pemenangnya bergantung kepada unsur
kebetulan (change) atau untung – untungan (lucky). Disini factor berfikir dalam
menyusun strategi dan meramal (dalam main poker misalnya) juga berpengaruh ,
tetapi factor keberuntungan jauh lebih menonjol.

Kategori ketiga yaitu mimicry. Kata mimicry berasal dari kemampuan hewan
sejenis kadal untuk mengubah warna kulitnya sesuai dengan warna tempat ia berada
untuk penyamaran. Jenis permainan keempat dinamakan oleh Cailois sebagai ilinx.
Dalam bahasa latin, ilinx berarti arus putar (whirpool), dan kata ini synonim dengan
vertigo. Jadi ilinx adalah bermain menimbulkan perasaan gamang tetapi menggelitik
perasaan senang.

Cabang – cabang olahraga termasuk jenis ilinx antara lain adalah mendaki
gunung, panjat, terjun paying, loncat indah dari menara, arung jeram dan balap mobil
motor ilinx merupakan jawaban bagi kebutuhan seseorang untuk merasakan stabilitas
dan keseimbangan tubuh bilang untuk sejenak, melepaskan diri dari kungkungan
persepsi, dan lukkan kesadaran, kesemuanya diakhiri dengan kepuasan dan rasa
gembira.

2. BENTUK – BENTUK BERMAIN

Dalam garis besarnya, ada dua bentuk bermain: paida dan ludus (Cailois 1962).
Pembagian ini didasarkan atas suatu rentangan antara dorongan hati (impulse) dan
pengendalian (control), atas perbedaan antara spontanitas ekspresi dirin tidak
mencerminkan kerusuhan terdapat pada bermain pada anak – anak (paidid) dan
kecenderungan untuk memformalkan dan mengkonvensionalkan bermain (ludus).
Dalam paida tidak ada persaingan (kompetisi) dan lawan (rivalry).

18
Ludus adalah bermain mempunyai ciri formal dan konvensional. Artinya
dilaksanakan secara resmi da nada aturan disepakati bersama. Dalam ludus masih
terdapat unsur gembira tetapi relatif kecil. Istilah paidis adalah “bermain- main”.
Lever dikutip oleh Calhoun (1981) menyimpulkan bahwa bermain (play) adalah “
suatu interaksi kooperatif tidak mempunyai tujuan dinyatakan.

3. KAJIAN KONSEPTUAL TENTANG BERMAIN

Dalam Filsafat, kajian konseptual itu penting demi menentukan jatidiri (identitas)
murni dari suatu hal atau benda. Sebagai analogi, mangga hampir sama dengan kuini
tetapi dengan melakukan kajian konseptual kita dapat memastikan bahwa mangga
tidak sama dengan kuini.

B. PERMAINAN (GAME)

Bermain atau bermain – main diwarnai oleh suasana paida tetapi dalam permainan
(game), unsur hiduplah menonjol. Permainan formal merupakan interaksi
kompetitif dan bertujuan untuk mencapai suatu tujuan telah ditetapkan
sebelumnya. Ager dikutip oleh Calhoun , 1981 menyatakan bahwa :

Permainan adalah suatu kegiatan bermain mempunyai peraturan jelas, tujuan


khusus, unsur kompetisi atau kontes, batas waktu atau kadang – kadang ruang,
serta urutan tindak pada hakekatnya terulang setiap kali permainan itu dimainkan.

1. Bentuk – bentuk permainan


Permainan dapat dibedakan dalam tiga bentuk :
a. Permainan keterampilan fisik
Hasilnya bergantung kepada terutama kemampuan fisik pemain, seperti
kontes angkat berat.
b. Permainan strategi
Yaitu permainan melibatkan langkah – langkah penyerangan masing –
masing langkah merupakan satu pilihan antara beberapa alternative.
c. Permainan keberuntungan
Dalam permainan keberuntungan, pemenangnya ditentukan oleh tebakan
irrasional maupun perilaku suatu mesin.

Sebagaimana defenisi permainan dirumuskan oleh Loy Jr (1969):

19
Permainan adalah semua bentuk kompetisi berisi unsur bermain yan hasilnya
ditentukan oleh keterampilan fisik, strategi, atau keberuntungan, secara sendiri –
sendiri maupun dalam kombinasi,

C. SPORT
Di Indonesia, orang awam seringkali menganggap kata “olahraga” sebagai
padanan kata untuk “sport”. Namun, apabila seseorang melakukan senam
kesegaran jasmani atau senam jantung sehat.
Kenyamanan menunjukkan bahwa kata “SPORT” sudah populer dan sudah lama
dipakai menurut aslinya saja tanpa dialih bahasakan lagi kedalam bahasa
indonsesia tetapi dengan elaborasi lebih mendalam.

1. Pengertian Sport
Pada tahun 1962, dapartemen Olahraga RI (sekarang badan ini tidak ada lagi
dalam struktur kabinet) mengeluarkan defenisi olahraga sebagai berikut :
Olahraga adalah segala kegiatan/ usaha untuk mengembangkan, membina, dan
meningkatkan kekuatan – kekuatan jasmaniah dan rohaniah pada setiap
manusia.
2. Defenisi terseut jelas berlebihan, dan ini adalah konsekuensi logis dari
masuknya unsur politik dalam olahraga. Dalam literatur terdapat banyak fakta
mencoba merumuskan defenisi sport, tetapi demi menghemat ruangan dan atas
bahwa banyak defenisi tersebut hanya berbeda dalam redaksi kalimat tetapi
isinya sama, maka berikut hanya dikutip tiga defenisi sport :
1. SINGER (1976)
SPORT adalah suatu kegiatan manusia melibatkan organisasi administratif dan
peraturan – peraturan berlatar belakang sejarah menetapkan tujuannya dan membatasi
pola perilaku manusia serta melibatkan kompetisi atau tantangan, dan hasilnya
ditentukan terutama oleh keterampilan fisik (physical skill).
2. GUTTMANN (1978)
SPORT adalah kontes bersifat bermain mementingkan keterampilan.
3. UNESCO
SPORT adalah setiap aktivitas fisik berupa permainan berisikan perjuangan
melawan unsur – unsur alam, orang lain, maupun diri sendiri.

20
Dari defenisi – defenisi tersebut dapat ditarik kesimpulan :

a. Setiap sport merupakan permainan. Hal ini bukan hanya berarti bahwa ia mengandung
unsur gembira tetapi juga bahwa ia bersifat non – realitas dan non- utilitarian.
b. Setiap sport bersifat kompetitif. Ia berisi perjuangan (kualitas) untuk melawan suatu
hambatan, baik itu berupa unsur – unsur alam, orang lain, diri sendiri maupun suatu
standard.
c. Setiap sport telah mempunyai peraturan tersendiri berlatar belakang historis.
d. Setiap sport adalah permainan dilakukan dengan gerak fisik (jasmani) melibatkan
otot – otot besar tubuh.
Menurut James Kearing dikutip oleh Freeman (1982) :
Athletics pada dasarnya adalah suatu kegiatan kompetisi bertuuan (satu – satunya )
untuk mencapai kemenangan dalam pertandingan, dan ditandai dengan adanya
semangat pengabdian, pengorbanan dan kerja keras,

3. Aspek – aspek sport


Sport dapat dipandang dari tiga segi (aspek) : 1. Sport sebagai suatu peristiwa
permainan, 2. Sport sebagai permainan terlembaga, dan 3. Sport sebagai suatu
system sosial.
1.) Sport sebagai suatu peristiwa permainan

Permainan adalah bentuk bermain berisi kompetisi hasilnya ditentukan oleh keterampilan
fisik, strategi, atau untung – untungan maupun kombinasi.

a.) Sifat bermain


Menurut Loy (1969), dalam sport bahkan berbentuk sangat terorganisasi sekalipun
masih terdapat unsur bermain.
b.) Kompetisi
Kompetisi adalah perjuangan untuk memperoleh supremasi antara dua pihak saling
berhadapan.
c.) Keterampilan Fisik, Strategi, dan Untung – untungan
Dalam sport mungkin faktor untung – untunganlah paling kurang relavan. Faktor
untung – untungan dalam sport barangkali hanya terdapat dalam usaha untuk
membuat keadaan seimbang (equality) sebelum pertandingan dimulai.
d.) Keunggulan Fisik

21
Dalam faktor ini mungkin sport agak berbeda dengan permainan. Jika dalam
permainan, orang tidak dengan sungguh – sungguh perlu mempersiapkan kondisi
puncak fisiknya, sport sangat menekankannya.

2.) Sport sebagai permainan terlembaga

Sport merupakan permainan terlembaga (institutionalized game ). Berbagai permainan


terlembaga, kita dapat menganalisis sport dari aspek ilim organisasinya, teknologinya,
simboliknya, dan iklim pendidikannya.

a. Iklim Organisasi
Dalam iklim organisasi, berikut ini akan dibahas masalah tim, sponsorship, dan
pemerintah.
 Tim
Dalam sport, kelompok pesaing, pada umumnya, diseleksi secara berhati – hati, dan
sekali keanggotaan sudah terbentuk maka jadilah ia organisasi social sabil dan di
Indonesia disebut induk organisasi olahraga (contoh, PSSI, PBSI, PERPANI,
PERCASI, dan PASI).
 Sponsorship
Karena sifat permanen dari kelompok – kelompok social dalam sport itu maka
biasanya tumbuh pulalah badan – badan sponsor mendanai perkumpulan tersebut
karena merasa berkepentingan.
 Pemerintah
Dalam sport formal, keterlibatan pemerintah bersangkutan tak dapat dihindarkan.
Hal ini karena dalam lembaga itu terdapat kepentingan pemerintah yaitu mentangkut
reputasi daerah atau bangsa.

b. Iklim Teknologi
Teknologi selalu terlibat dalam sport, baik dalam peningkatan mutu alat – alat dan
perlengkapan, pembinaan fisik, metode latihan, maupun dalam penyelenggaraan
kompetesi.
c. Iklim Simbolik
Iklim simbolik dalam sport meliputi unsur – unsur kerahasiaan (Secrecy), pertunjukan
(display) dan ritual.

22
d. Iklim Pendidikan
Dalam sport juga ada iklim pendidikan yaitu dalam kegiatan – kegiatan berkaitan
dengan alih keterampilan dan pengetahuan kepada atlet. Dalam permainan, iklim
pendidikan itu juga ada yaitu ketika seseorang ingin memainkan sesuatu cabang
permainan ia masih awam. Untuk membina kwalitas keterampilan, fisik, teknik, dan
strategi, dalam kegiatan sport mutlak adanya pelatihan (coaching) ditangani oleh
tenaga professional.

3.) Sport sebagai Institusi Sosial

Merebaknya kegiatan sport ke semua lapisan masyarakat dan ke seluruh daerah dari kota
sampai pedesaan menyebabkan sport telah tumbuh menjadi suatu institusi social. Berbicara
mengenai sport sebagai institusi social, kita merujuk kepada sport order (tatanan sport).
Menurut Loy (1969), sport order itu tersusun dari semua organisasi social di masyarakat
mengorganisasi, memfasilitasi, dan mengatur perilaku manusia dalam situasi sport.

4.) Sport sebagai suatu situasi social

Sistem social, secara sederhana, dapat didefenisikan sebagai kumpulan orang dengan ciri –
ciri dapat diidentifikasi sebagai adanya hubungan interaktif diantara orang – orang tersebut
berangkat dari defenisi tersebut.

Jenis keterlibatan merupakan hubungan seseorang dengan “wahana produksi” dari suatu
kegiatan sport. Produser sport terdiri atas :

a. Produser primer yaitu para pemain bertanding (konsestan). Mereka memegang peran
utama dalam produksi sport.
b. Produser sekunder yaitu orang – orang bukan konsestan tetapi sangat berperan
langsung dalam teknologi memenangkan pertandingan, seperti pemilikk kelab, coach,
official, dan pelatih.
c. Produser tertier terdiri atas orang – orang aktif terlibat dalam situasi sport tetapi
tidak terlibat dalam teknik memenangkan pertandingan.

Konsumen terdiri atas :


a. Konsumen prmer, yaitu penonton hadir langsung di lapangan pertandingan.

23
b. Konsumen sekunder, yaitu terdiri atas para penonton mempersaksikan pertandingan
melalui media elektronik( radio atau televise).
c. Konsumen tertier, yaitu orang – orang terlibat dalam pembicaraan mengenai suatu
pertandingan, tetapi bukan penonton, peminat rubrik olahraga dalam media cetak
termasuk konsumen tertier.

D. HUBUNGAN BERMAIN – PERMAINAN – SPORT

Mendefenisikan bermain sebagai “ setiap kegiatan nonutilitarian dilakukan demi permainan


itu sendiri”. dibaginya dalam dua kategori : spontan dan terorganisir. Ketika seseorang
bermain, seorang diri, ia bermain secara spontan, tetapi ketika bermain itu melibatkan lebih
dari satu orang maka disitu diperlukan peraturan dan pengaturan (organisasi), dan berubahlah
bermain itu menjadi permainan. Dalam permainan, spontanitas menyerah kepada aturan
bermain.

Hubungan antara bermain – permainan dapat dijelaskan sebagai berikut :

 Semua sport adalah permainan. Tidak semua permainan adalah sport.


 Sport dan permainan, mungkin bermain mungkin tidak
 Sport dan permainan adalah bermain kalau dilakukan secara sukarela untuk imbalan
intrinsic.
 Sport dan permainan bukan bermain kalau dilakukan bukan dengan sukarela atau
ditujukan untuk memperoleh imbalan ekstrinsik
 Bermain dapat berupa kegiatan bukan permainan atau bukan sport.

7. BAB VII : “HUBUNGAN SPORT DENGAN PENDIDIKAN JASMANI”

Sport adalah suatu kegiatan manusia melibatkan organisasi administratif dan


peraturan-peraturan berlatar belakang sejarah menetapkan tujuannya dan membatasi pola
prilaku manusia serta melibatkan kompetisi atau tantangan, dan hasilnya ditentukan terutama
oleh keterampilan fisik.

A. Pearn Gerak dalam Pendidikan Jasmani


Pendidiakn jasmani dapat dipandang sebagai bagian integral dan pendidikan
menyeluruh memberikan kontribusi kepada perkembangan individu melalui medium

24
gerak manusia. Adapun gerak manusia dimanfaatkan oleh pendidikan jasmani itu
bukanlah sembarang gerak. Gerakan-gerakan itu adalah sudahdikemas dalam paket-
paket tertentu berupa berbagai sport, dan permainan, olahraga akuatik, senam, latihan
jasmani, atletik, olahra beladiri, camping, dan sebagainya.
Salah satu misi pendidikan jasmani adalah memberi kesempatan untuk memenuhi
hasrat bergerak ada pada setiap manusia. Pendidikan sifat baik-baik seperti
sosiabilitas, sportifitas, dan moralitas diberikan tidak secara verbalisme, tetapi diserap
peserta didik melalui interaksi dengan sesama teman dalam praktek olahraga dibawah
bimbingan seorang guru profesional.
B. Hubungan Sport Dengan Pendidikan Jasmani
Ketika pendidikan jasmani dipandang sebagai pendidikan untuk jasmani, sport tidak
dimasukkan dalam kurikulum pendidikan jasmani. Isi kurikulum hanya terdiri atas
latihan jasmani dan senam. Sport mulai masuk kurikulum pendidikan jasmani setelah
konsepnya berubah menjadi pendidikan melalui jasmani.
Sport diadopsi oleh pendidikan jasmani karena keduanya memiliki persamaan dalam
hal terhadap gerak manusia, serta adanya nilai-nilai pendidikan dalam sport.
Masuknya sport kedalam program pendidikan jasmani mempunyai kebaikan dan
kelemahan. Kebaikannya adalah:
1. Makin bertambahnya perhatian perhatian kepala sekolah terhadap kegiatan
pendidikan jasmani, karena sport dapat mengangkat repotasi sekolah.
2. Timbulnya perubahan lebih respek dari guru-guru bidang studi lain, kepada
program dan guru pendidikan jasmani, lebih-lebih kalau sekolah mereka sering
menjadi juara.
3. Meningkatkan semangat dan minat murid mengikuti pelajaran pendidikan
jasmani.

Adapun kelemahannya adalah:

1. Membengkaknya dana harus disediakan oleh sekolah karena adanya tuntutan


pengeluaran tambahan untuk menyediakan fasilitas dan peralatan olahraga
memadai.
2. Dapat memancing timbulnya tindakan tidak terpuji.
3. Apabila tidak dikelola dengan baik satu rumamen antar sekolah dapat berpotensi
menimbulkan keributan atau perkelahian massal.

25
4. Dapat menimbulkan kecenderungan guru pendidikan jasmani untuk mengadakan
diskriminasi dalam pelayanan terhadap murid-muridnya. Murid berbakat
diistimewakan sedangkan kurang berbakat ditelantarkan,
5. Kesulitan sekolash untuk memperoleh guru profesional yaitu berkompeten
sebagai guru sekaligus coach.

8. BAB VIII : “SPORT SCIENCE”

Sebagaian bagian dari pendidikan, profesi pendidikan jasmani memanfaatkan


kegiatan atau keterampilan jasmani untuk mengubah perilaku peserta didik, baik dalam ranah
politik, kognitif, afektif, maupun psikomotor. Usaha mengubah perilaku orang bukan
pekerjaan mudah. Itulah sebabnya dalam pendidikan jasmani sebagai profesi diperlukan
adanya landasan dasar intelektual berupa batang tubuh pengetahuan. Banyak teori dipelajari
oleh seorang calon guru pendidikan jasmani dalam pendidikan pra-jabatannya diperguruan
tinggi menyebabkan sebagian pakar terangsang untuk menjadikan seperangkat teori itu
sebagian suatu disiplin ilmu.

A. Disiplin Akademik Untuk Pendidikan Jasmani


Ada tiga tolok ukur harus dipenuhi oleh sesuatu untuk dapat disebut sebagai suatu
disiplin akademik: (1) ada satu fokus perhatian, (2) adanya suatu batang tubuh
pengetahuan unik, (3) ada metode penelitian khusus.
Kontribusi unik diberikan pendidikan jasmani kepada pendidikan umum adalah
perkembangan tubuh secara umum melalui kegiatan fisik. Jika kegiatan fisik ini
diarahkan oleh guru kompeten sehingga hasil lainnya dari kependidikan menyertai
kegiatan fisik itu maka jelaslah bahwa kegiatan fisik itu tidak hanya berupa adanya
jasmani.
1. Subdisiplin sport science
2. Pedadogi sport
Pedadogi sport berurusan dengan pengajaran, khususnya keterampilan dalam
situasi sport. Ia meliputi metode pembelajaran dan unsur-unsur lainnya terkait
dengan profesi pendidikan jasmani.
3. Biomekanika sport
Biomekanika sport berurusan dengan efek hukum alam dan tenaga-tenaga pada
tubuh dalam sport. Ia dikembangkan dari ilmu kinesiology juga merupakan kajian
tentang gerak.

26
4. Fisiologi sport
Efek dari latihan merupakan faktor paling diperhatikan dalam fisiologi sport
sehingga membuat subdisiplin ini sangat penting dalam kajian sport.
5. Psikologi sport
Psikologi sport berurusan dengan pengkajian tingkah laku manusia dalam situasi
sport. Kajian psikologi sport menaruh perhatian pada faktor-faktor psikologi
mempengaruhi pembelajaran dan untuk kerja dari keterampilan fisik; bagaimana
individu dipengaruhi oleh faktor-faktor internal maupun eksternal.
6. Sosiologi sport
Sosiologi sport berurusan dengan kajian tingkah laku sosial orang dalam situasi
sport, baik tingkah laku secara individual maupun secara kelompok. Ahli sosiologi
mengkaji bagaimana oorang berinteraksi satu sama lain dalam situasi sport untuk
menyimpulkan betapa proses dapat mempengaruhi perkembangan dan sosialisasi
mereka, atau bagaimana mereka dapat cocok untuk masyarakatnya.
7. Sejarah sport
Sejarah sport mengkaji sport dimasa lalu, ia dapat berfungsi mengajari kita
bagaimana sesuatu dapat menjadi seperti sekarang dan ia dapat menuntun kita
dalam memecahkan masalah.
8. Filsafat sport
Filsafat sport berurusan dengan pengkajian apa dan mengapa sport. Dedalam bab-
bab terdahulu sudah dibahas secara lebar tentang filsafat sport sehingga disini tak
perlu dikupas disini kembali.

9. BAB IX “NILAI-NILAI DALAM OLAHRAGA”

Nilai adalah suatu dijunjung tinggi oleh seseorang atau suatu kelompok dalam
kehidupan pribadi, misalnya, ada orang berprinsip bahwa uang adalah segalanya. Bagi orang
materaalisme seperti ini mungkin akan menghalalkan segala cara asalkan mendapat uang.
Bagi seorang pengemis, agamalah prinsip-prinsip paling tinggi. Ia ikhlas untuk secara
konsisten menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya.

Sport, sebagai suatu subkultur, mengandung nilai-nilai melakat padanya. Nilai-nilai


terkandung dalam sport itu dapat ditransfer dalam kehidupan sehari-hari dimasyarakat. Orang
sudah biasa terlibat dalam kegiatan sport secara intensif menyakini atas terus berkembang
dalam konteks kehidupan olahragawan sehari-hari.

27
Sport pada prinsipnya mempunyai kultur sendiri meskipun ia berada kultur
masyarakat lebih luas. Sebagai suatu subkultur, sport mempunyai nilai intrinsik tersendiri
selai nilai-nilai ekstrinsik. Sebagaimana telah tersinggung dimuka, diri, bermain jujur, dan
persahabatan.

10. BAB X “MASALAH ETIKA DALAM OLAHRAGA”


A. Etika dan Moral
Kekuatan etika tidak sekuat kekuatan hukum. Artinya orang melakukan perbuatan
tidak bermoral. Hukumannya hanya bersifat sosial. Perbuatan bernilai moral bersifat
universal dan lebih prinsip antara lain sebagai berikut.
1. Keadilan adalah sesuatu didambakan orang dimana-mana diseluruh dunia namun
tak kunjung tercapai secara sempurna. Keadilan itu terbagi menjadi empat bentuk
yaitu, distributif, prosedural, retributif, dan kompesantori.
2. Kejujuran selalu terkain dengan kesan terpercaya, dan terpercaya selalu terkait
dengan kesan tidak berdusta, menipu, dan memperdaya. Pemain jujur adalah
pemain mematuhi pertandingan sesuai dengan mengandalkan keampuhan teknik,
taktik dan ketangguhan fisik secara jujur.
3. Tanggung jawab adalah kesediaan untuk memikul atau menanggung perbuatan
sendiri. Seorang pemain harus bertanggung jawab pada timnya, pelatih dan
kepada tim itu sendiri. Seorang wasit untuk bertanggung jawab untuk memimpin
pertandingan sesuai dengan peraturan.
4. Kedamaian mengandung makna nyaman bagi semua pihak tanpa adanya
permusuhan dan tindakan kekerasan. Pertandingan olahraga memang mengandung
unsur kompetitif tetapi sikap kompetitif itu tidak permusuhan, sebab pertandingan
hanya akan dapat terjadi jika terjalin kerja sama antara kedua belah pihak
bertanding.
B. Metode Keteladanan
1. Pelajaran dan olahraga
Pengalaman menyenangkan akan diteruskan pengalaman pahit akan
menimbulkan kehati-hatian dan akan di tinggalkan.
a. Citra olahraga berskala besar
Olahraga berskala besar menurut istilah Freeman adalah olahraga kompetitif
tingkat puncak sekaligus berbiaya besar dan bersifat profesional. Olahraga

28
berprofesional ini sering diwarnai oleh praktek-praktek “kotor” lebih-lebih
apabila ditangani oleh sponsor ada mafia dibelakangnya. Masalahnya
kompetisi olahraga pada tingkat bawah dan bersifat amatir mencoba pula
meniru paradigma olahraga kompetitif berskala besar.

b. Penghargaan berlebihan terhadap kemenangan


Dengan berpegangan pada prinsip bahwa kemenangan adalah satu-satunya
maka orang akan siap melakukan apa saja untuk mencapai tujuan menang. Ini
merupakan penyalahgunaan cita-cita olahraga sebagai kontributor bagi proses
pendidikan, dan cenderung mengabaikan nilai-nilai etika.
c. Sportivitas buruk
Sportivitas buruk dapat muncul sebagai akibat dari contoh diberikan oleh
guru dan pelatih kepada timnya dan murid-murid lain dalam berupaya meraih
kemenangan dan kemasyuran.
d. Kurangnya kegembiraan dalam olahraga
Kegiatan olahraga sebenarnya merupakan membuat orang gembira. Namun
dengn adanya penekanan terhadap masalah menang kalah, unsur kegembiraan
dari sport jadi tersingkir. Coach menganggap: “kita datang kesini untuk
menang bukan untuk senang” dan menganggap sebagai pertanda sikap
kompetitif lemah, bukan saja tidak mengerti hakekat olahra tetapi juga tidak
mendidik.
C. Pendidikan moral melalui olahraga
Banyak pelajaran moral secara potensial terkandung dalam kegiatan olahraga.
Masalahnya bagaimana kita dapat mengangkat potensi itu kepermukaan sehingga ia
dapat diajarkan sebagai bagian dari proses pendidikan.
1. Keadilan dan persamaan
2. Penghormatan dan penghargaan pada diri sendiri
3. Penghormatan pada orang lain
4. Menghormati peraturan dan atasan
5. Kesadaran akan sudut pandang nilai

29
BAB III
PEMBAHASAN
A. KELEBIHAN BUKU
Buku Filsafat Pendidikan karya Prof. Dr. Agung sunarno, M.Pd. Buku ini
mempunyai kelebihan dibandingkan dengan buku filsafat pendidikan lain. Kelebihan
dari buku karya rof. Dr. Agung sunarno, M.Pd. adalah:

1. Buku ini memiliki tampilan buku dapat menarik minat pembaca.


2. Tata letak dan tata tulis pada buku ini pun rapih, sehingga para pembaca tidak
terganggu dengan tata letak dan tata tulisnya. Kemudian font digunakan sangat
baik, sehingga para pembaca dapat membacanya dengan baik.
3. Kehadiran buku ini sangat penting artinya terutama untuk kalangan pengkaji
filsafat olahraga dan pendidikan / akademisi maupun masyarakat, dapat dijadikan
referensi bagi pengembang kurikulum dan praktisi pendidikan. Buku ini
menyajikan beberapa argumen terkait dengan filsafat, mulai dari filsafat timur
jauh sampai filsafat zama pra-sokrates mengenai filsafat pendidikan.
4. Buku ini mampu memberikan peta bagi penelusur lebih mendalam terhadap
filsafat pendidikan melalui berbagai pendekatan ditawarkan. Namun sa, selama
ini landasan filsafat pendidikan Pancasila kita hanya menjadi landasan imajiner
saja.

B. KEKURANGAN BUKU
Kelemahan dari buku karya Prof. Dr. Agung sunarno, M.Pd. adalah:
1. Pada tampilan bukunya memang menarik, namun pilihan gradasi warnanya gelap,
sehingga bagi anak-anak buku ini kurang menarik.
2. Buku ini sama seperti buku-buku filsafat olahraga lain dalam penyajiannya masih
menggunakan alur berpikir datar-datar saja.
3. Sudut pandang buku ini belum memberikan tif-tif atau upaya-upaya dalam
mengatasi problematika pendidikan baik dari sudut pandang filsafat maupun dari
sudut pandang pendidikan itu sendiri.
4. Masih banyak terjadi kesalahan penulisan pada buku karangan Prof. Dr. Agung
sunarno, M.Pd.

30
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Mata kuliah ini berjudul “Filsafat Olahraga”. Ia merupakan sebuah kata
majemuk yg tersusun dari kata “Filsafat” dan “Olahraga”. Secara etimologi kata
filsafat berasal dari bahasa yunani “philoshopia”. Philos artinya suka, cinta atau
gandrung (tergila-gila), dan shopia atau shopos berarti kebijaksanaan(wisdom). Jadi
Filsafat dapat diartikan secara umum sebagai cinta atau gandrung akan kebijaksanaan.
Karena kebijaksanaan itu mempengaruhi pilihan yg kita ambil dan kegiatan yg kita
lakukan filsafat itu menjadi suatu disiplin yg paling mendasar.

B. SARAN
Setelah membaca dan memahami isi dari buku karya Prof. Dr. H. Jalaluddin
ini, dengan berdasarkan kelemahan dan kelebihan isi buku yang telah dipaparkan pada
bab sebelumnya, maka saya sebagai pembaca menyarankan bagi pembaca lainnya
agar jangan hanya menggunakan buku karya Prof. Dr. H. Jalaluddin ini saja sebagai
bahan bacaan, tetapi juga tetap menggunakan buku lain demi penyempurnaan
informasi yang ingin diperoleh pembaca.

31
DAFTAR PUSTAKA

Sunarno, Agung. 2015. FILSAFAT OLAHRAGA. Medan: LARISPA INDONESIA

32