Anda di halaman 1dari 10

Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XXI

Program Studi MMT-ITS, Surabaya 19 Juli 2014

RANCANGAN PERBAIKAN PROSES PRODUKSI DENGAN


MENGGUNAKAN QFD, LCA DAN LCC DI PT PG CANDI BARU
SIDOARJO

Noris Dian1), Sri Gunani Partiwi2)dan Udisubakti Ciptomulyono3)


1) Program Studi Magister Teknik Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember,
e-mail: norisdian@yahoo.co.id
2) Jurusan Teknik Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
3) Jurusan Teknik Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

ABSTRAK
Semakin meningkatnya jumlah industri yang ada pada suatu daerah maka akan meningkatkan
juga emisi yang dihasilkan dan jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam industri tersebut.
Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu dilakukan perbaikan pada proses produksi yang
dilakukan, salah satu cara yang digunakan untuk melakukan perbaikan adalah dengan
menggunakan metode Quality Function Deployment (QFD). QFD digunakan untuk
mentranslet keinginan dan kebutuhan konsumen yang digunakan sebagai dasar melakukan
strategi perancangan dengan menggunakan alat House of Quality (HoQ). Tujuan penelitian
adalah melakukan perbaikan proses produksi maka yang menjadi konsumen adalah manajer
bagian Keuangan dan Tata Usaha, Tanaman, Utilitas dan SDM. Dalam pembangunan HoQ
diperlukan atribut Voice of Customer (VoC). Untuk mendapatkan atribut kualitas diperoleh
dari literatur dan wawancara. Atribut lingkungan diperoleh dari perhitungan dengan Life
Cycle Assessment. Atribut biaya diperoleh dari Life Cycle Cost. Sedangkan atribut kesehatan
dan keselamatan pekerja diperoleh dari data perusahaan dan wawancara. Berdasarkan pada
hasil perhitungan HoQ maka dapat ditentukan rancangan perbaikan proses produksi. PT PG
Candi Baru Sidoarjo sebagai objek penelitian akan melakukan perbaikan berdasarkan pada
technical respon : mengurangi penggunaan belerang dna penggunaan Ca sakarat dan H3PO4.
Hasil perbaikan menunjukkan bahwa dengan melakukan penggantian belerang dengan
H3PO4 pada stasiun pemurnian dapat menurunkan dampak lingkungan yaitu dari 149
menjadi 145. Namun penggantian ini menyebabkan biaya bahan baku menjadi lebih mahal.
Kata kunci: Industri Gula, Rancangan Perbaikan, Proses Produksi, Quality Function
Deployment

PENDAHULUAN
Pada saat ini pertumbuhan industri di dunia semakin meningkat. Hal ini disebabkan
karena semakin meningkatnya dan beraneka ragamnya kebutuhan dari para konsumen
terhadap suatu barang. Salah satunya adalah pertumbuhan industri yang terjadi di Jawa Timur.
Pada tahun 2013 sektor industri pengolahan di Jawa Timur memberikan kontribusi sebesar
26,60 % terhadap struktur perekonomian Jawa Timur. Sedangkan sisanya sebesar 31,33%
dipengaruhi oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran, 14,91 % di pengaruhi oleh sektor
pertanian (BPS – Provinsi Jawa Timur, 2013). Peningkatan ini terjadi di berbagai sektor
antara lain pada sektor kimia, agro, hasil hutan, industri logam, mesin dan elektronika.
Dengan meningkatnya jumlah industri yang ada disuatu daerah maka akan meningkatkan
masalah lingkungan yang terjadi didaerah itu. Diantaranya adalah pencemaran yang

ISBN : 978-602-70604-0-1
A-39-1
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XXI
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 19 Juli 2014

diakibatkan oleh aktivitas industri yang berupa pencemaran udara, tanah dan air. Data
pencemaran yang diperoleh dari BPS dari tahun 2002 – 2011 dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1 Pencemaran air, tanah dan udara di Jawa Timur
TAHUN AIR TANAH UDARA
2002 3,48 0,86 5,46
2005 5,6 0,59 8,47
2008 4,81 0,46 7,33
2011 3,82 0,76 7,45
Sumber : BPS – Jawa Timur, (2013)

Pencemaran terjadi karena limbah buangan industri dan limbah rumah tangga, namun
yang memiliki peranan terbesar dalam pencemaran adalah limbah industri. Hal ini di karena
sebagian besar industri menggunakan bahan kimia sebagai bahan baku maupun bahan
pembantu dalam proses produksi.
Selain menyebabkan permasalahan lingkungan meningkatnya jumlah industri juga
akan mempengaruhi jumlah tenaga kerja yang diperlukan. Data tenaga kerja pada sektor
industri dari tahun 2009 – 2012 dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2 Jumlah Tenaga Kerja di Jawa Timur
Tahun 2009 2010 2011 2012
Jumlah 2.555.561 2.785.082 3.025.473 3.069.575
Tenaga Kerja
Jumlah 96.314 98.711 99.491 -
Kecelakaan
Biaya 328,5 401,2 504 -
(Milyar)
Sumber : BPS – Provinsi Jawa Timur (2013)

Perbandingan antara jumlah pekerja dengan jumlah kecelakaan kerja berbanding lurus.
Kasus kecelakaan industri yang terjadi di indonesia sebanyak 31,6% dipengaruhi oleh sektor
industri. Sedangkan menurut Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan pada
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengatakan bahwa Jawa Timur menjadi
peringkat ke-3 dalam kasus kecelakaan kerja sebesar 30% dari total kecelakaan kerja
keseluruhan ( antarajatim, 2012).
Salah satu industri yang menjadi sorotan karena dampak pencemaran dan tingkat
kecelakaan yang tinggi adalah industri gula. Pada industri gula pencemaran lingkungan
dimulai dari awal penanaman sampai dengan proses produksi (Ramjaewon, 2004; Renouf et
al, 2007; Contretas et al, 2009). Namun sebenarnya pada pabrik gula banyak limbah yang
dapat dimanfaatkan untuk produk lain seperti pemanfaatan ampas tebu sebagai penghasil
listrik (Nguyen et al, 2010; Mashoko et al, 2013), pemanfaatan molasses untuk bahan baku
pembuatan ethanol (Nguyen et al, 2010; Mashoko et al, 2013). Jumlah pabrik gula yang ada
di indonesia saat ini berjumlah 59 pabrik gula dan 8 pabrik gula rafinasi. Namun kebanyakan
pabrik gula yang ada di indonesia ini memiliki tingkat produktivitas yang rendah.
Penyebab rendahnya tingkat produktivitas pada pabrik gula disebabkan karena berbagai
permasalahan :

ISBN : 978-602-70604-0-1
A-39-2
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XXI
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 19 Juli 2014

Bahan baku :
 Rendahnya produktivitas lahan dan tingkat rendemen pada pabrik – pabrik gula serta
pasokan tebu sebagai bahan baku susah diperoleh.
 Bahan baku raw sugar untuk gula rafinasi pada saat ini masih import semua (Departemen
Direktorat Jenderal Industri Agro dan Kimia, 2009) . Hal ini disebabkan karena adanya
penyempitan lahan pertanian yang dialih fungsikan menjadi area perumahan maupun
perindustrian. Karena tebu yang digunakan merupakan tebu yang dibudidayakan oleh
masyarakat.
Proses produksi :
 Kualitas gula putih produksi dalam negeri masih belum memadai
 Produksi tebu dan gula masih terkonsentrasi di pulau Jawa dan Sumatra
 Pada umumnya mesin produksi yang digunakan pada pabrik gula sudah sangat tua dan
program revitalisasi belum berjalan seperti yang diharapkan (Departemen Direktorat
Jenderal Industri Agro dan Kimia, 2009).
Selain permasalahan kualitas bahan baku dan proses produksi untuk meningkatkan
produktifitas, perusahaan harus melakukan perbaikan proses produksi yang memperhatikan
masalah lain seperti masalah lingkungan, biaya selama proses produksi berlangsung (Utne,
2009) dan kesehatan keselamatan pekerja (Liew et al, 2014). Untuk melakukan perbaikan
tersebut dapat dilakukkan dengan menggunakan metode Quality Function Deployment
(QFD). QFD digunakan untuk mentranslet keinginan dan kebutuhan konsumen yang
digunakan sebagai dasar penentuan strategi perbaikan (Cohen, 1995).
Dalam menggunakan metode QFD digunakan alat yaitu House of Quality (HoQ). Dalam
pembangunan HoQ diperlukan data tentang Voice of Customer (VoC). Untuk aspek kualitas
dan kesehatan pekerja VoC diperoleh dari literatur dan wawancara. Sedangkan untuk aspek
lingkungan diperoleh dengan menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA), untuk
aspek biaya diperoleh dengan menggunakan metode Life Cycle Cost (LCC).
Berdasarkan pada uraian diatas maka tujuan penelitian ini adalah melakukan rancangan
perbaikan proses produksi yang memperhatikan aspek kualitas, lingkungan, biaya dan
kesehatan keselamatan pekerja dengan pendekatan QFD.

METODE
Penelitian ini dilakukan dalam 4 tahap, tahap pendahuluan, tahap pengumpulan data,
tahap pengolahan data, tahap analisa dan penarikan kesimpulan . Tahap pendahuluan dimulai
dari identifikasi awal yaitu dengan melakukan studi literatur pada jurnal, artikel, tugas akhir
dan tesis tentang QFD, LCA, LCC, kesehatan dan keselamatan pekerja. Setelah itu dilakukan
penentuan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian dilanjutkan dengan identifikasi
data yang diperlukan dan penentuan objek penelitian. Pada penelitian yang dilakukan
menggunakan objek penelitian PT.PG Candi Baru Sidoarjo.
Tahap Pengumpulan Data
Data yang diperlukan pada penelitian ini berasal dari data primer yang berupa data
hasil wawancara dari karyawan PT.PG Candi Baru Sidoarjo dan observasi yang dilakukan
secara langsung pada area produksi PT.PG Candi Baru Sidoarjo.
Untuk mendapatkan atribut kualitas pada proses produksi dilakukan studi literatur
yang berhubungan dengan proses produksi gula yang ideal dan dilakukan wawancara dengan
ahli. Sedangkan untuk mendapatkan atribut pada aspek lingkungan dilakukan dengan
menggunakan metode LCA dengan menggunakan software SimaPro. Sebagai inputan dalam
software SimaPro diperlukan data tentang jumlah bahan baku dan bahan pembantu yang

ISBN : 978-602-70604-0-1
A-39-3
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XXI
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 19 Juli 2014

digunakan, energi dan air yang digunakan selama proses produksi berlangsung. Untuk
mendapatkan atribut dari aspek biaya selama proses produksi berlangsung digunakan metode
LCC. Dalam perhitungan dengan menggunakan LCC maka diperlukan data tentang biaya
bahan baku, energi, transportasi, biaya pemeliharaan dan gaji karyawan.
Tahap Pengolahan Data
Pada tahap pengolahan data terdapat 4 tahapan pengolahan yaitu penentuan atribut Voice of
Customer (VoC), penyebaran kuisioner, pembangunan House of Quality (HoQ) dan rumusan
perbaikan proses.
Tahap Penentuan Atribut
Aspek Kualitas
Untuk mendapatkan atribut kualitas pada proses produksi gula dilakukan strudi literatur yang
berhubungan dengan proses produksi gula yang ideal dan akan dilakukan wawancara dengan
ahli. Kemudian dilakukan penentuan atribut yang akan digunakan dalam penyebaran
kuisioner.
Aspek Lingkungan
Untuk mengetahui dampak lingkungan dilakukan dengan menggunakan LCA. Dimana
dalam menerapkan LCA diperlukan data – data tentang jenis bahan baku, spesifikasi alat yang
digunakan, energi yang digunakan, aliran proses produksi dari raw material sampai end
produk dan kebutuhan air yang digunakan selama proses produksi. Data yang diperlukan
dalam penghitungan LCA secara keseluruhan merupakan data sekunder yang diperoleh dari
perusahaan secara keseluruhan. Dalam menggunakan metode LCA harus ditentukan tujuan.
Tujuan adalah untuk mengetahui dampak lingkungan yang diakibatkan oleh proses produksi
gula yang memiliki dampak signifikan terhadap lingkungan dan melakukan alokasi emisi
yang dihasilkan. Dengan functional unit yaitu produksi per satu ton gula. Sedangkan untuk
batasan penelitian dilakukan pada proses produksi saja tanpa memperhatikan proses
penanaman, penggunaan dan disposal.
Setelah didapatkan kriteria aspek dampak dari proses produksi kemudian dilakukan
penentuan aspek dampak yang harus diatasi. Penentuan aspek dampak menggunakan diagram
pareto. Sehingga dapat ditentukan atribut lingkungan yang perlu untuk diperbaiki berdasarkan
pada skor yang telah dihitung.
Aspek Biaya
Untuk mengetahui aspek biaya yang digunakan selama proses produksi maka pada
penelitian ini akan menggunakan Life Cycle Cost (LCC). Dalam perhitungan dengan
menggunkan LCC ini maka semua biaya yang dikeluarkan selama proses produksi akan
diperhitungkan.
Data yang digunakan untuk perhitungan LCC ini adalah data yang keseluruhannya
berasal dari perusahaan. Data yang diperhitungkan adalah biaya operasional yang terdiri dari
biaya pekerja, bahan baku, transportasi, biaya pemeliharaan, energi. Setelah dilakukan
perhitungan untuk menentukan biaya yang harus dikurangi maka ditentukan dengan memilih
data yang memiliki nilai 3 terbesar. Penentuan ini digunakan sebagai atribut biaya yang
dimasukkan kedalam matriks HoQ.

Aspek Kesehatan dan Keselamatan Pekerja


Pengumpulan data dilakukan dengan studi literatur, pengumpulan data kecelakaan
yang pernah terjadi dalam waktu 3 tahun terakhir, wawancara dan melakukan observasi

ISBN : 978-602-70604-0-1
A-39-4
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XXI
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 19 Juli 2014

langsung ke area proses produksi di PT. PG Candi Baru Sidoarjo. Setelah dilakukan
pengumpulan data maka dapat ditentukan atribut pada aspek kesehatan dan keselamatan kerja.
Penyebaran Kuisioner
Setelah diperoleh atribut dari aspek kualitas, lingkungan, biaya, kesehatan dan
keselamatan pekerja maka akan dibuat kuisioner. Pembuatan kuisioner untuk mengetahui
tingkat kepentingan, kepuasan dan harapan dari para konsumen yang nantinya akan dijadikan
dasar dalam pembangunan HoQ. Kuisioner akan disebarkan kepada para manajer bagian
instalasi, tanaman, sumber daya manusia dan tata usaha dan keuangan.
Setelah kuesioner kembali maka dilakukan penyusunan House of Quality. Dari Kuesioner
tersebut akan diperoleh voice of customer yang digunakan sebagai dasar penentuan technical
respon.
Pembangunan House of Quality
Setelah diperoleh atribut proses produksi dari aspek kualitas, lingkungan, biaya,
kesehatan dan keselamatan pekerja maka langkah selanjutnya adalah pembangunan House of
Quality.
Perumusan Strategi Perbaikan
Perumusan tindakan perbaikan ditujukan untuk memperbaiki proses produksi yang
saat ini sedang berlangsung. Sehingga diperoleh rancangan proses produksi yang
menghasilkan kualitas produk yang baik, dampak terhadap lingkungan rendah, biaya rendah,
tingkat kecelakaan dan gangguan kesehatan pekerja juga rendah.
Tahap Analisa dan Penarikan Kesimpulan
Setelah diperoleh hasil dari pengolahan data maka dilakukan analisa terhadap hasil
penelitian dan dilakukan penarikan kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Analisa Metode QFD
Quality Function Deployment (QFD) merupakan metode yang digunakan untuk
menerjemahkan keinginan dan kebutuhan konsumen terhadap suatu barang atau jasa, dengan
mengetahui keinginan dan kebutuhan konsumen tersebut maka akan dapat diketahui respon
teknis yang harus dilakukan perusahaan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen
tersebut. Objek amatan penelitian pada proses produksi di PT.PG Candi Baru Sidoarjo. Alat
yang digunakan dalam metode QFD adalah House of Quality (HoQ). Hasil dari analisa HoQ
maka dapat ditentukan rancangan perbaikan sebagai berikut.
Rancangan Perbaikan Proses Produksi
Pada bagian ini dijabarkan tentang rancangan perbaikan proses produksi. Rancangan
perbaikan berdasarkan hasil pengolahan HoQ. Penjelasannya adalah sebagai berikut :
Mengurangi Penggunaan Belerang (TR15)
Belerang merupakan salah satu bahan dasar yang sangat penting dalam industri
pengolahan kimia. Penggunaan terbesar belerang adalah dalam pembuatan asam sulfat (SO2)
(Austin, 1996).
Pada industri pengolahan gula dengan metode sulfitasi penggunaan SO2 sangat
diperlukan. SO2 digunakan pada proses pemurnian gula pada stasiun pemurnian. Hal ini
disebabkan karena sifat dari SO2 sebagai bahan pengoksidasi dan bahan pendehidrasi

ISBN : 978-602-70604-0-1
A-39-5
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XXI
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 19 Juli 2014

terhadap senyawa organik. Pada proses dehidrasi yaitu menyerap air dalam proses konversi
kimia dalam proses sulfitasi.
Pada proses pemurnian nira sering terbentuk kalsium sulfit yang berasal dari reaksi
antara gas SO2 dengan nira. Garam sulfit (CaSO3) memiliki sifat yang lebih stabil,
kelarutannya rendah bahkan lebih rendah dibandingkan dengan CaCO3 dan tidak berubah
menjadi sulfat jika berada pada pH netral (7 – 7,4). Jika pemberian SO2 berlebihan dengan pH
< 6,5 maka kalsium sulfit akan berubah menjadi kalsium bi sulfite (Ca(HSO 3)2) yang bersifat
larut dalam cairan. Pada proses penguapan gas SO2 akan mengakibatkan terserapnya gas
kedalam air kondensat yang dapat menurunkan pH air kondensate sedangkan untuk gas SO2
yang tidak terserap oleh air maka akan terbang ikut bersama uap nira. Gas SO2 yang terbang
bersama nira ini bersifat korosif dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan jika terhirup
oleh manusia.
Jika dalam nira kental masing terkandung gas SO2 dengan konsentrasi berlebihan
maka gas SO2 akan bereaksi dengan sisa kapur yang lolos dari penguapan dan dapat
membentuk kalsium sulfit yang mengendap. Sisa gas SO2 yang lainnya akan menuju ke
kondensor dan dapat merusak perpipaan dan badan kondensor. Selain dapat merusak sistem
perpipaan dan peralatan proses produksi gas SO2 juga dapat menyebabkan gula yang
diproduksi masih mengandung belerang. Hal ini dapat menyebabkan mutu gula menjadi
buruk.Gas SO2 dalam proses pemurnian berfungsi sebagai bleaching efek untuk mereduksi
ion feri menjadi ferro. Menurut standart nasional indonesia (SNI) kandungan SO 2 dalam gula
pasir tidak boleh melebihi 2 mg/ kg gula untuk mutu satu dan 5 mg/kg untuk gula mutu dua.
Hal ini disebabkan sifat SO2 yang digunakan sebagai pemucat bahan makanan dapat
membahayakan kesehatan manusia. Melihat dampak yang diakibatkan oleh penggunaan SO2
dalam proses pemurnian gula begitu banyak maka perlu adanya tidakan perbaikan untuk
mengurangi dampak yang diakibatkan. Salah satunya adalah dengan melakukan penggantian
penggunaan SO2 dengan bahan pemucat lainnya.
Penambahan asam phosphat (H3PO4) sebanyak 80 mg/l dan penambahan flokulan
dapat menggantikan penggunaan SO2 pada tahap pemurnian. Untuk mendapatkan hasil
pemurnian yang baik penggunaan asam phosphat dapat dilakukan dengan penambahan
sebanyak 100 sampai 200 mg/l (Sumarno, 1997). Pemberian asam phosphat bertujuan untuk
membentuk gumpalan – gumpalan yang lebih besar yang diperoleh dari penambahan susu
kapur untuk menghasilkan nira jernih. Pemberian asam phosphat dalam proses pemurnian
disebut teknik fosfatasi. Dalam penerapan teknik fosfatasi memiliki beberapa keunggulan
diantaranya :
 Dapat membentuk gumpalan tricalsium phosphat berupak butiran – butiran kecil
 Dapat meningkatkan Harkat Kemurnian nira jika penambahan asam phosphat
dilakukan sebanyak 200 mg/l.
 Dapat menurunkan warna nira.
Jika ingin mendapatkan hasil yang optimal maka penggunaan asam phosphat harus
ditingkatkan lagi menjadi 250 – 300 mg/l (Perwitasari, 2010).
Dalam proses fosfatasi sangat memerlukan bantuan dari flokulan. Flokulan merupakan
senyawa polielektrolik yang memiliki muatan anion sebanyak 5 – 10 juta. Anion yang
digunakan sangat berguna untuk meningkatkan efisiensi pemurnian nira. Sedangkan untuk
jumlah dari flokulan yang ditambahkan adalah sebanyak 2 – 3 mg/l ( Perwitasari, 2010).
Pada PT PG Candi Baru Sidoarjo dalam proses pemurnian nira menggunakan teknik sulfitasi-
defekasi, namun juga sudah menggunakan penambahan H3PO4 dan penambahan flokulan
tetapi penambahan H3PO4 dan flokulan masih dalam dosis yang rendah.

ISBN : 978-602-70604-0-1
A-39-6
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XXI
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 19 Juli 2014

Pada saat ini penggunaan H3PO4 yang ada di PT PG Candi Baru Sidoarjo pada proses
pemurnian masih memiliki dosis yang sangat rendah yaitu sekitar 3,24 kg H 3PO4 dengan
jumlah nira mentah sebanyak 25,2 ton. Hal ini disebabkan proses pemurnian masih
bergantung pada penggunaan SO2. Pada skenario 1 akan menggantikan SO2 dengan H3PO4.
Berdasarkan literature dalam proses pemurnian dengan menggunakan teknik fosfatasi jumlah
H3PO4 yang diperlukan agar mendapatkan hasil yang maksimal adalah sebesar 300 mg/l.
Sehingga jumlah H3PO4 yang digunakan untuk memurnikan 25,2 ton nira mentah adalah
sebanyak 7,227 kg.
Untuk jumlah flokulan yang digunakan pada saat ini di PT PG Candi Baru Sidoarjo adalah
sebesar 0,189 kg, berdasarkan penjelasan diatas jumlah flokulan yang digunakan untuk
mendapatkan hasil pemurnian yang baik adalah sebanyak 3 mg/l. Jadi jumlah flokulan yang
seharusnya digunakan adalah sebanyak 0,072 kg. Jumlah flokulan yang digunakan pada
teksik fosfatasi berjumlah lebih sedikit jika dibandingkan dengan teknik sulfitas. Sehingga
neraca masa pada stasiun pemurnian adalah sebagai berikut :
Tabel 3. Input dan Output pada Stasiun Pemurnian
Input Output
Material Quantity Unit Material Quantity Unit
Raw Juice 25,2 Ton Clear Juice 22,52 Ton
Phosphoric acid
(H3PO4) 7,227 Kg Filter Cake 2,72 Ton
Ca (OH)2 0,03 Ton Condensate water 7,27 Ton
De-ionised water 2,49 Ton
Super Flocculant
A-110 0,072 Kg
Condensate water 0,51 Ton
Steam 4,27 Ton
Electricity 83,95 kWh
Sumber : Pengolahan data produksi

Dari aliran input dan output pada stasiun pemurnian diatas kemudian dilakukan uji
terhadap dampak lingkungan dengan menggunakan software SimaPro. Dari hasil perhitungan
dengan menggunakan software SimaPro diperoleh dampak lingkungan dari penggantian SO 2
menjadi H3PO4. Dampak terhadap lingkungan dapat dilihat pada tabel 2.
Dari perhitungan katagori dampak pada tabel 2 terlihat bahwa dengan melakukan
penggantian belerang dengan H3PO4 dapat mengurangi jumlah dampak yang disebabkan
selama proses produksi berlangsung. Total dampak sebelum perbaikan adalah 148,97 Pt dan
setelah dilakukan perbaikan menjadi 145,88 Pt. Pada tabel 2 terlihat bahwa ada beberapa
kategori dampak yang mengalami penurunan namun ada juga yang mengalami kenaikan poin
setelah dilakukan perbaikan.
Dengan penggantian SO2 dengan H3PO4 juga dapat mengurangi dampak penggunaan
bahan bakar fosil, respiratory inorganik, perubahan iklim, ecotoxicity, acidification/
eutrophication, mineral, radiation, respiratory organik dan ozone layer. Namun penggantian
SO2 dengan H3PO4 mengakibatkan kenaikan dampak bahaya karsinogenik dan penggunaan
tanah. Namun peningkatan yang terjadi tidak terlalu signifikan.

ISBN : 978-602-70604-0-1
A-39-7
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XXI
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 19 Juli 2014

Perbandingan proses produksi sebelum dilakukan perbaikan dan setelah dilakukan


perbaikan adalah sebagai berikut.
Tabel 4 Input dan output pada stasiun pemurnian setelah perbaikan dan sebelum perbaikan.
Setelah Perbaikan Sebelum Perbaikan
Product Product
Impact category Unit Impact category Unit
of Sugar of Sugar
Total Pt 145,887 Total Pt 148,975
Fossil fuels Pt 103,207 Fossil fuels Pt 103,759
Resp. inorganics Pt 19,191 Resp. inorganics Pt 21,209
Climate change Pt 15,945 Climate change Pt 16,279
Carcinogens Pt 3,713 Carcinogens Pt 3,635
Ecotoxicity Pt 1,638 Ecotoxicity Pt 1,679
Land use Pt 0,929 Acidification/ Eutrophication Pt 0,929
Acidification/ Eutrophication Pt 0,750 Land use Pt 0,923
Minerals Pt 0,382 Minerals Pt 0,419
Radiation Pt 0,093 Radiation Pt 0,103
Resp. organics Pt 0,031 Resp. organics Pt 0,032
Ozone layer Pt 0,008 Ozone layer Pt 0,009
Sumber : Pengolahan data SimaPro

Kekurangan dan kelebihan penggunaan SO2


Kekurangan dari proses produksi dengan menggunakan SO2 dalam proses prmurnian :
 Dapat menyebabkan gangguan terhadap pernapasan
 Menyebabkan acidification/ eutrophication
 Menyebabkan keropos pada peralatan produksi
 Gula yang dihasilkan memiliki warna yang kurang bersih
 Jumlah filter cake yang terbentuk lebih banyak
Sedangkan kelebihan dari proses pemurnian dengan menggunakan SO2 :
 Harga SO2 lebih murah dari pada H3PO4
Kekurangan dan kelebihan penggunaan H3PO4
Kekurangan penggunaan H3PO4 dalam proses pemurnian gula adalah :
 Penggunaan H3PO4 dalam proses pemurnian memiliki biaya produksi lebih mahal. Hal
ini disebabkan harga H3PO4 lebih mahal jika dibandingkan dengan harga SO2.
Kelebihan penggunaan H3PO4 dalam proses pemurnian gula adalah :
 Nira yang dihasilkan lebih jernih dan lebih banyak
 Jumlah filter cake lebih sedikit
 Dampak terhadap lingkungan lebih rendah
 Gula yang dihasilkan lebih putih
Penggunaan Ca Sakarat (TR10)
Ca Sakarat merupakan campuran antara susu kapur dengan nira kental yang
direaksikan selama 5 menit dalam proses pencampuran dengan perbandingan 1 : 7 dengan pH
11 - 11,5. Pada kondisi tersebut proses ionisasi sakarat dapat memberikan kualitas endapan
yang lebih baik (Chen & Chou, 1993). Penggunaan Ca Sakarat ini juga berfungsi untuk
menggantikan penggunaan susu kapur dalam proses pemurnian dengan teknik sulfitasi. Ca
Sakarat memiliki waktu reaksi yang lebih cepat dibandingkan dengan susu kapur pada proses

ISBN : 978-602-70604-0-1
A-39-8
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XXI
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 19 Juli 2014

pemurnian. Waktu reaksi Ca Sakarat adalah selama 15 – 60 detik, sedangkan waktu reaksi
dengan menggunakan susu kapur adalah 3 – 5 menit, hal ini disebabkan karena sifat Ca
Sakarat yang memiliki sifat mudah larut dan mudah terionisasi dalam air. Selain sebagai
pengganti penggunaan susu kapur dengan menggunakan Ca Sakarat dapat menekan jumlah
belerang yang digunakan. Hal ini disebabkan karena pH yang terjadi pada proses defekasi
memiliki pH yang lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan susu kapur.
Selain berasal dari campuran antara susu kapur dengan nira kental, Ca Sakarat juga
dapat diperoleh dari pencampuran antara susu kapur dengan nira encer maupun dengan nira
mentah dengan perbandingan 1 : 9. Dalam penerapan proses pemurnian dengan bantuan Ca
Sakarat memiliki keuntungan dan kelebihan. Untuk itu perlu diperhatikan hal – hal dibawah
ini agar tidak terjadi kehilangan sukrosa.
 pH Ca Sakarat harus dijaga pada keadaan 10,5 – 11. Hal ini disebabkan karena sukrosa
akan pecah menjadi senyawa asam dan senyawa lainnya jika pH diatas 12.
 pH Ca Sakarat diatas 12 juga akan menyebabkan terjadinya endapan putih susu kapur
dilarutan bawah Ca Sakarat. Endapan ini akan menggikat sukrosa sehingga menyebabkan
kandungan sukrosa dalam blotong tinggi.
 Jika pemurnian dengan menggunakan Ca Sakarat dilakukan dengan cara manual (terutama
pengaturan pH) maka dapat menyebabkan variable proses pemurnian sulit untuk dicapai,
kehilangan sukrosa meningkat dan kualitas nira encer tidak sesuai dengan tujuan yang
diinginkan. Sehingga perlu ditunjang dengan system otomatisasi.
 Agar kualitas nira encer sesuai dengan tujuan yang diinginkan maka pihak pabrikasi harus
menjaga keajegan giling.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :
1. Berdasarkan pada tahapan QFD dengan menggunakan House of Quality dihasilkan 19
customer requirement dan 22 technical response untuk proses produksi gula yang
digunakan sebagai dasar perancangan perbaikan proses produksi.
2. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari perhitungan House of Quality respon teknis yang
memiliki prioritas tertinggi untuk diperbaiki adalah mengurangi penggunaan belerang
(TR15). Salah satu cara yang digunakan untuk mengurangi penggunaan belerang adalah
mengganti belerang dengan H3PO4. Dengan penggantian tersebut dampak lingkungan
yang diakibatkan menjadi lebih kecil yaitu dari 148,97 Pt menjadi 145,88 Pt. Namun dari
segi biaya bahan baku penggantian H3PO4 memiliki biaya yang lebih mahal.
Saran yang dapat diambil dari penelitian ini adalah
1. Penentuan perbaikan terhadap proses produksi di PT. PG Candi Baru Sidoarjo sebaiknya
berdasarkan pada prioritas technical respons yang telah didapat dalam penelitian ini.
Karena prioritas pada penelitian ini berdasarkan pada tingkat kepentingan dan kepuasan
yang dirasakan konsumen.
2. Pengembangan pada penelitian masih terbuka luas yaitu melakukan pemilihan technical
respons dengan mempertimbangkan benefit,cost dan risk dengan menggunakan skala
Saaty.

ISBN : 978-602-70604-0-1
A-39-9
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XXI
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 19 Juli 2014

DAFTAR PUSTAKA

Austin, G.T. (1996), Industri Proses Kimia. Penerbit Erlangga, Jakarta


Badan Pusat Statistik. (2013), Jawa Timur dalam Angka 2013, CV Media Konstruksi,
Surabaya
Chen, J.C.P & Chou, C.C. (1993), Cane Sugar Handbook, 12 ed.,Singapore
Cohen,L. (1995), Quality Function Deployment : How to make QFD work to you, Addison-
Wisley, Canada.
Koran Antara Jatim, (2012), Jatim Peringkat Tiga Tertinggi Angka Kecelakaan Kerja.
Dikutip 1 April 2014, Web Site : antarajatim.com
Liew, Weng Hui., Hassim, Mimi H., dan Denny, K.S.Ng, (2014), “Review of Evaluation ,
Technology and Sustainability Assessments of Biofuel Production”, Journal of
Cleaner Production, Vol. 71, hal. 2119-2127.
Mashoko, L., Mbohwa, C. dan Thomas, V.M, (2013), “Life Cycle Inventory of Electricity
Cogeneration From Bagasse in The South African Sugar Industry”, Journal of Cleaner
Production, Vol. 39, hal. 42-49.
Nguyen, T. L. T., Gheewala, S. H., dan Sagisaka, M, (2010), “Greenhouse Gas Savings
Potential of Sugar Cane Bio-Energy Systems”, Journal of Cleaner Production, Vol.
18, hal. 412–418.
Perwitasari, Dyah Suci, (2010), “Phosphat Acid and Flocculant Added in Juice Sugar Crystal
Process”, Journal Teknik Kimia, Vol. 4 (2), hal. 318–325.
Ramjeawon, T., (2004). “Life Cycle Assessment of Cane-Sugar on the Island of
Mauritius”, International Journal of LCA, Vol 9, hal 254 - 260.
Renouf, M.A., dan Wegener, M.K.., (2007), “Environmental Life Cycle Assessment (LCA)
of Sugarcane Production and Processing in Australia”, Proceedings of the Australian
Society of Sugar Cane Technologists, Vol 29.
Sumarno, (1997). Kemampuan Proses Fosfatasi dan Flotasi dalam Meningkatkan Kualitas
Gula Produk di Pabrik Pelaihari, Majalah Penelitian Gula P3GI, Pasuruan

ISBN : 978-602-70604-0-1
A-39-10