Anda di halaman 1dari 7

SARWANSYAH

NIM P07220418035

Stase KMB di IBS

LAPORAN PENDAHULUAN STSG

A. Definisi
Skin graft adalah penempatan lapisan kulit yang baru yang sehat pada daerah
luka (Blancard, 2006 ) . Kulit merupakan organ yang penting bagi manusia
karena memiliki fungsi antara lain sebagai pelindung terhadap lingkungan
disekitarnya dan mempertahankan suhu tubuh. Komplikasi yang diakibatkan
oleh kerusakan dan kehilangan jaringan kulit dapat menimbulkan infeksi
bakteri, kehilangan cairan tubuh, protein, energi, serta kerusakan jaringan
dibawahnya.

Dalam menangani suatu luka akibat trauma atau dapat penyakit, hasil yang
diharapkan adalah dapat mengembalikan integritas anatomi maupun fungsinya.
Pada kenyataannya tidak semua luka menutup secara primer, karena kehilangan
kulitnya terlalu luas membutuhkan jaringan penutup untuk mengatasinya. Salah
satu pilihan untuk menutup luka tersebut adalah dengan melakukan tindakan
skin graft.

Skin graft adalah tindakan memindahkan sebagian atau seluruh tebalnya kulit
dari satu tempat ke tempat lain supaya hidup ditempat yang baru tersebut dan
dibutuhkan suplai darah baru (revaskularisasi) untuk menjamin kelangsungan
hidup kulit yang dipindahkan tersebut. Skin graft adalah tindakan
memindahkan sebagian atau seluruh tebalnya kulit dari satu tempat ke tempat
lain supaya hidup ditempat yang baru tersebut dan dibutuhkann suplai darah
baru (revaskularisasi) untuk menjamin kelangsungan hidup kulit yang
dipindahkan tersebut. (budiman 2008)
B. Tujuan
1. Mendeskripsikan konsep dasar tentang transplantasi kulit
2. Mendeskripsikan diagnosa keperawatan yang muncul pada asuhan
keperawatan yang muncul pada asuhan keperawatan klien transplantasi kulit
3. Mendeskripsikan rencana keperawatan yang dibuat pada asuhan
keperawatan klien dengan transplantasi kulit
4. Mendeskripikan tindakan tindakan yang telah dilakukan pada asuhan
keperawatan klien dengan transplantasi kulit
5. Mendeskripsikan evaluasi dari tindakan-tindakan yang telah dilakukan pada
asuhan keperawatan klien transplantasi kulit.

C. Indikasi
Skin graft dilakukan pada pasien yang mengalami kerusakan kulit yang
sehingga terjadi gangguan pada fungsi kulit itu sendiri, misalnya pada luka
bakar yang hebat, ulserasi, biopsi, luka karena trauma atau area yang terinfeksi
dengan kehilangan kulit yang luas. Penempatan graft pada luka bertujuan untuk
mencegah infeksi, melindungi jaringan yang ada di bawahnya serta
mempercepat proses penyembuhan.

Dokter akan mempertimbangkana pelaksanaan prosedur skin graft berdasarkan


pada beberapa faktor yaitu : ukuran luka, tempat luka dan kemampuan kulit
sehat yang ada pada tubuh. Daerah resipien diantaranya adalah luka-luka bekas
operasi yang luas sehingga tidak dapat ditutup secara langsung dengan kulit
yang ada disekitarnya dan memerlukan tambahan kulit agar daerah bekas
operasi dapat tertutup sehingga proses penyembuhan dapat berlangsung secara
optimal.
- Menutup defek kulit yang luas
- Dapat digunakan untuk penutupan sementara dari efek

D. Kontra indikasi
Kontra indikaasi dari STSG meliputi daerah yang memerlukan penampilan
kosmetik yang baik dan ketahanan yang cukup atau daerah-daerah yang dengan
adanya kontraksi luka yang cukup signifikan akan menurun fungsinya.
STSG dikontraindikasikan bila derrah resipen graft memiliki vaskularisasi yang
kurang baik sehinggah graft tidak dapat bertahan
- Ukuran luka kecil yang dapat diperbaiki dengan melakukan Full
Thinckness skin graft.

E. Cara Perawatan Skin Graft


Bila diyakini tindakan hemostasis darah resipien telah dilakukan dengan baik
dan fiksasi skin graft telah dilakukan dengan baik, balutan dibuka pada hari ke
5 untuk mengevaluasi take dari skin graft dan benang fiksasai di cabut. Take
dari skin graft maksudnya adalah telah trjadi revaskularisasi, dimana skin graft
memperoleh cukup vaskularisasi untuk hidup. Disarankan pada penderita
paska tindakan skin graft di ekstrimitas tetap memakai pembalut elastis sampai
pematangan graft kurang lebih 3-6 bulan.

Prosesnya

Sebelum induksi anestesi dilakukan “The Sign In”

1. Di konfirmasikan lagi kepada pasien

a. Identitas dan gelang pasien

b. Lokasi operasi

c. Prosedur yang akan dilakukan

d. Surat izin operasi dan surat izin anestesi

2. Apakah lokasi operasi sudah diberi tanda

3. Apakah mesin dan obat anestesi dan resusitasi sudah di cek lengkap

4. Apakah pulse oximeter sudah terpasang dan berfungsi

5. Ditanyakan lagi apakah pasien mempunyai riwayat alergi


6. Apakah pasien kesulitan bernapas / resiko aspirasi dan apa menggunakan
bantuan napas

7. Apakah ada resiko kehilangan darah saat operasi yang beresiko shock

8. Apakah terpasang dua akses intravena atau akses sentral

Tim bedah (operator, asisten 1 dan 2 serta instrumentator) menyiapkan diri dengan
memakai APD ( kaca mata gogle, gaun plastik dan boot ) dilanjutkan dengan
melakukan washing, gowning serta gloving.

Tim anestesi memberi tahu pasien bahwa pembiusan akan dilakukan. Setelah pasien
siap, lalu tim memulai general anestesi. Anestesi diberikan dengan posisi pasien
supine. Dengan cara memasukan obat Anestesi lewat intravena di awali dengan
obat-obatan premedikasi, sedasi, obat induksi dilanjutkan dengan pemberian
oksigenasi. Setelah pasien cukup relax lalu dipasang LMA no 4.0 utk menjaga
kepatenan napas pasien setelah ETT di fiksasi lalu dilakukan setting untuk ventilator
mode VC dengan VT 500, rate 14 PEEP 5 menggunakan O2 0,5 ltr/menit N2O 0,5
ltr/menit dan Sevoplurane 1,5 vol % sampai dengan pernapasan pasien sudah mandiri
Lalu dilanjutkan monitoring TTV setiap 5 menit. selanjutnya tim bedah dipersilahkan
memulai tindakan-tindakan pada lokasi dan sekitar lapangan pandang operasi.

Lanjut dilakukan pemasangan ground couter di bagian bawah otot tungkai bawah
pasien ke mudian oleh asisten satu yang suadah menggunakan APD dan pakaian steril
melakukan disinfeksi menggunakan betadine dengan cara sentriputar lalu dilakukan
drapping dengan kain steril.

Tim bedah masing-masing mengambil posisinya


- instrumentator menyiapkan semua instrumen yang diperlukan diatas meja mayo,
men-setting hampi dan pisau skingraff, menyerahkan selang suction beserta
canule-nya dan juga handle cauter ke asisten 1.

- asisten satu dibantu perawat sirkulasi men-setting kekuatan cutting dan


coagulation cauter juga kekuatan vacum suction.

Setelah siap dilakukan “The Time Out”

Perawat sirkulasi melakukan konfirmasi tentang

1. Seluruh anggota tim bedah juga anestesi dan perannya masing-masing.

2. dokter bedah melakukan konfirmasi verbal

a. Nama pasien

b. Prosedur

c. Lokasi incisi akan dilakukan

3. Pemberian profilasis pre op

4. Review :

a. Dokter bedah tentang langkah bila ada kejadian kritis

b. Tim anestesi tentang hal khusus yang diperhtikan pada pasien

c. Instrumentator tentang kesterilan alat dan masalah lainnya.

5. Apakah ada foto rontgen, scan, MRI dan lain-lain yang perlu ditayangkan.

Operasi dimulai dengan berdoa terlebih dahulu dipimpin oleh operator, setelahnya

- operator mengidentifikasi keadaan kedalaman dan sisi luka untuk mengukur


sebanyak apa perlunya kulit donor untuk stsg.
- lakukan debridement untuk menyiapkan tempat menempel kulit dari donor
selanjutnya tutup dengan kasa konpres Nacl 0,9 %

- mengencangkan kulit pada sisi dalam femur dextra lalu memasang hampi set
kulit donor lalu setelah siap graff diambil sesuai keperluan

- tutup lokasi pengambilan donor dengan kasa dan kompres NaCl 0,9 %.

- kulit yang di ambil kemudian diregangkan dan dibuat lubang setiap 1 cm


menggunakan bistauri

- lalu kulit yang sudah dilubangi itu kemudian di pasangkan diatas kulit luka
pertama dan di heating menggunakan nylon 4/0 dgn jarak sekitar 0,5 cm

- kemudian diatas graff itu ditutup dengan kasa agak tebal sebelum di beri hypafix.

- dan luka dari sumber graff juga ditutup kasa sebelum diberi hypafix dan
ditambahkan elastic bandage

Perawat bedah mengkonfirmasikan lagi the sign out

Akan ditanyakan

1. Apakah nama dan prosedur tindakan telah tercatat

2. Apakah instrumen, kasa dan jarum yang digunakan telah lengkap

3. Apakah specimen pemeriksaan telah diberi label

4. Apakah ada masalah dengan peralatan selama operasi

5. Tim bedah dan tim anestesi me review masalah yang harus diperhatikan untuk
penyembuhan, manajemen pengobatan dan perawatan selanjutnya.

Gas N2O dan isoplurane dimatikan. Ventilator di non aktifkan Pernapasan pasien di
ambil alih oleh tim anestesi, setelah napas pasien spontan dan VT-nya cukup
dilakukan ekstubasi LMA, suctioning dan diberikan facemask menggunakan O2 100 %
4 lpm sampai dengan pernapasan pasien adekuat. Selanjutnya pasien dipindahkan ke
kereta untuk dibawa ke ruang post op (Recovery Room)
Di ruang post op yang pertama di lakukan adalah memasang kembali akses bed side
monitor untuk mengukur TTV. Dilakukan observasi dengan menggunakan aldrette
score bila nilainya sama atau lebih dari 8 pasien boleh kembali keruang perawatan

DAFTAR PUSTAKA

Chandra, Budiman. 2008. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: EGC.


Diakses pada tanggal 8 N0vember 2017

Eliastham, Michael. 2008. Buku Saku Penuntun Kedaruratan Medis. Jakarta:


EGC diakses pd tgl 8 November 2017

Juniartha. 2007. Angka Kejadian Fraktur. http://okezone.com diakses pada


tanggal 8 November 2017