Anda di halaman 1dari 17

EVALUASIKAJIAN KESESUAIAN LAHAN UNTUK BUDIDAYA

BAYAM (Amaranthus sp ) DI KECAMATAN WONOSALAM


KABUPATEN JOMBANG

KERANGKA ACUAN KERJA


( Term Of Reference )

Disusun Oleh :

Muhammad Afwan (1625010038)


Ria Aprilia Hardinata (1625010042)
Safira Fitri Redian (1625010044)

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “ VETERAN “
JAWA TIMUR
SURABAYA
2019
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Survei evaluasi lahan merupakan metode atau cara mengumpulkan data
dengan turun langsung kelapangan dengan proses penilaian potensi suatu lahan
untuk penggunaan tertentu. Data yang diperoleh berupa data fisik, kimia,
biologi, lingkungan, dan iklim. Survei sangat diperlukan dalam proses dalam
berbagai penelitian, terutama dalam proses yang dilakukan dilapangan seperti
survei pendahuluan dalam penelitian tanah ini. Hasil evaluasi lahan akan
memberikan informasi dan/atau arahan penggunaan lahan yang diperlukan, dan
akhirnya nilai harapan produksi yang kemungkinan akan diperoleh. Lahan
yang dievaluasi dapat berupa hutan konversi, lahan terlantar atau tidak
produktif, atau lahan pertanian yang produktivitasnya kurang memuaskan
tetapi masih memungkinkan untuk dapat ditingkatkan bila komoditasnya
diganti dengan tanaman yang lebih sesuai. Sebagai contoh yaitu lahan
pertanian di kecamatan Wonosalam yang banyak memproduksi tanaman
tahunan. Hasil evaluasi lahan akan memberikan informasi dan/atau arahan
penggunaan lahan yang diperlukan, dan akhirnya nilai harapan produksi yang
kemungkinan akan diperoleh. Commented [S1]: Menurut saya ini tidak perlu. Paragraf
pertama sesaiknya tentang komoditas
Wonosalam adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Jombang, Provinsi
Jawa Timur, Indonesia. Kecamatan ini terletak di kaki dan lereng Gunung
Anjasmoro dengan ketinggian rata-rata 500-600 meter di atas permukaan laut.
Kecamatan Wonosalam terletak 35 km sebelah tenggara Kecamatan Jombang.
Kecamatan Wonosalam adalah salah satu penghasil durian terbesar di Jawa
Timur. Selain itu, kawasan Wonosalam juga memiliki potensi pariwisata yang
besar, khususnya agrowisata karena mayoritas mata pencaharian penduduknya
adalah petani. Selain durian, di kawasan Wonosalam juga merupakan penghasil
cengkeh, kopi, dan pisang.
Penanaman suatu komoditas hortikultura pada sebidang lahan harus
memenuhi kriteria kesesuaian lahan. Selain tanaman tahunan, komoditi
tanaman hortikultura yang sangat bermanfaat bagi masyarakat salah satunya
adalah buah yang membutuhkan perhatian khusus dalam rangka peningkatan
produktivitas. Oleh karena itu diperlukan kegiatan analisa kesesuaian lahan di
kecamatan Wonosalam tersebut untuk mengetahui tingkat kesesuaian lahan
terhadap tanaman holtikultur yaitu tanaman bayam.
Tanaman bayam merupakan salah satu jenis sayuran komersial yang mudah
diperoleh disetiap pasar, baik pasar tradisional maupun pasar swalayan.
Harganya pun dapat terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.Tumbuhan
bayam ini awalnya berasal dari negara Amerika beriklim tropis, namun
sekarang tersebar keseluruh dunia. Tanaman bayam sangat mudah dikenali,
yaitu berupa perdu yang tumbuh tegak, batangnya tebal berserat dan ada
beberapa jenisnya mempunyai duri. Daunnya biasa tebal atau tipis, besar atau
kecil, berwarna hijau atau ungu kemerahan (pada jenis bayam merah).
Bunganya berbentuk pecut, muncul di pucuk tanaman atau pada ketiak
daunnya. Bijinya berukuran sangat kecil berwarna hitam atau coklat dan
mengilap. Tanaman bayam sangat toleran terhadap perubahan keadaan iklim.
Bayam banyak ditaman di dataran rendah hingga menengah, terutama pada
ketinggian antara 5-2000 meter dari atas permukaan laut.

1.2 Tujuan
Tujuan dari Penyusunan Kerangka Acuan Kerja Kajian Kesesuaian Lahan
untuk Budidaya Bayam (Amaranthus sp) di Kecamatan Wonosalam Kabupaten
Jombang adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor pembatas kesesuaian lahan
terhadap budidaya tanaman bayam di Kecamatan Wonosalam Kabupaten
Jombang yang menentukan keberhasilan pengembangan Kawasan Pertanian
Wonosalam.
2. Memetakan lahan di daerah Wonosalam, Kabupaten Jombang Jawa Timur
sesuai dengan tata cara dan prosedur yang ditentukan sebagai dasar dari
perencanaan, pemaanfaatan, dan pengelolaan lahan agar dapat
dimanfaatkan secara efektif dan sebagai acuan dalam penggunaan lahan.
3. Menentukan dan menganalisis strategi yang tepat untuk pengelolaan lahan
pertanian yang membudidayakan tanaman bayam untuk meningkatkan
produktivitas aneka komoditas unggulan daerah secara efektif dan efisien
sesuai daya dukung lingkungan dan kelestarian lingkungan.

1.3 Luaran Commented [S2]: Luaran apa manfaat?

Output kegiatan survei lahan daerah Wonosalam adalah mendapatkan suatu


deskripsi secara komperherensif berupa peta dengan informasi yang mudah
terhadap daerah yang bersangkutan dengan penyesuaian tanaman bayam.
Mendapatkan data wilayah SPL 6 Wonosalam dengan kemampuan tentag
kelas kesesuaian, kemampuan dan kesuburan kategori S1 S2 S3 atau N1 pada
tanaman Bayam.
II. TINJAUAN PUSTAKA Commented [S3]: Gimana kalo tipusnya diisi tentang
informasi kondisi teknis-agronomis-biofisik kawasan
wonosalam, survey lahan, klasifikasi tanah, klimatologi,
klasifikasi kesesuaian lahan, karakteristik tanah darah
2.1 Klasifikasi Tanaman Bayam wonosalam,

Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman semusim dan tergolong


sebagai tumbuhan C4 yang mampu mengikat gas CO2 secara efisien sehingga
memiliki daya adaptasi yang tinggi pada beragam ekosistem. Bayam memiliki
siklus hidup yang relatif singkat, umur panen tanaman ini 3-4 minggu. Sistem
perakarannya adalah akar tunggang dengan cabang-cabang akar yang
bentuknya bulat panjang menyebar ke semua arah. Umumnya perbanyakan
tanaman bayam dilakukan secara generatif yaitu melalui biji (Hadisoeganda,
1996). Tanaman bayam secara sistematika di klasifikasikan sebagai berikut :
Divisio : Spermatophyta
Class : Angiospermae
SubClass : Dicotyledoneae
Ordo : Amaranthales
Family : Amaranthaceae
Genus : Amaranthus
Spesies : Amaranthus sp.

2.2 Morfologi Tanaman Bayam


Umumnya organ-organ yang penting pada tanaman bayam adalah sebagai
berikut :
a. Akar
Bentuk tanaman bayam adalah terma (perdu), tinggi tanaman dapat
mencapai 1,5 sampai 2 m, berumur semusim atau lebih. Sistem perakaran
menyebar dangkal pada kedalaman antara 20-40 cm dan berakar tunggang.
b. Batang
Batang tumbuh tegak, tebal, berdaging dan banyak mengandung air, tumbuh
tinggi diatas permukaan tanah. Bayam tahunan mempunyai batang yang keras
berkayu dan bercabang banyak.
c. Daun
Daun berbentuk bulat telur dengan ujung agak meruncing dan urat-urat daun
yang jelas. Warna daun bervariasi, mulai dari hijau muda, hijau tua, hijau
keputihputihan, sampai berwarna merah. Daun bayam liar umumnya kasap
(kasar) dan kadang berduri.
d. Bunga
Bunga bayam berukuran kecil, berjumlah banyak terdiri dari daun bunga 4
- 5 buah, benang sari 1-5, dan bakal buah 2-3 buah. Bunga keluar dari ujung-
ujung tanaman atau ketiak daun yang tersusun seperti malai yang tumbuh
tegak. Tanaman dapat berbunga sepanjang musim. Perkawinannya bersifat
uniseksual, yaitu dapat menyerbuk sendiri maupun menyerbuk silang.
Penyerbukan berlangsung dengan bantuan angin dan serangga.
e. Biji
Biji berukuran sangat kecil dan halus, berbentuk bulat, dan berwarna coklat
tua sampai mengkilap sampai hitam kelam. Namun ada beberapa jenis bayam
yang mempunyai warna biji putih sampai merah, misalnya bayam maksi yang
bijinya merah. Secara umum bayam dapat tumbuh sepanjang tahun, baik di
dataran rendah maupun dataran tinggi (pegunungan). Tanaman bayam tidak
menuntut persyaratan tumbuh yang sulit, asalkan kondisi tanah subur,
penyiraman teratur, dan saluran drainase lancar. Bayam juga sangat toleran
terhadap keadaan yang tidak menguntungkan sekalipun serta tidak memiliki
jenis tanah tertentu. Akan tetapi, untuk pertumbuhan yang baik memerlukan
tanah yang subur dan bertekstur gembur serta banyak mengandung bahan
organik. Derajat keasaman tanah (pH) yang baik untuk tumbuhnya adalah
antara 6-7. Apabila tanaman berada di bawah pH 6, bayam akan merana.
Sedangkan di atas pH 7, tanaman akan menjadi klorosis (warnanya putih
kekuning-kuningan, terutama pada daun-daun yang masih muda).

2.3 Syarat Tumbuh Tanaman Bayam


Tanaman bayam biasanya tumbuh di daerah tropis dan menjadi tanaman
sayur yang penting bagi masyarakat di dataran rendah. Bayam merupakan
tanaman yang berumur tahunan, cepat tumbuh serta mudah ditanam pada
kebun ataupun ladang (Palada dan Chang, 2003). Bayam mempunyai daya
adaptasi yang baik terhadap lingkungan tumbuh, sehingga dapat ditanam di
dataran rendah sampai dataran tinggi.
Hasil panen yang optimal ditentukan oleh pemilihan lokasi penanaman.
Lokasi penanaman harus memperhatikan persyaratan tumbuh bayam, yaitu:
keadaan lahan harus terbuka dan mendapat mendapat sinar matahari serta
memiliki tanah yang subur, gembur, banyak mengandung bahan organik,
memiliki pH 6-7 dan tidak tergenang air (Rukmana, 1995). Bayam sangat
toleran terhadap besarnya perubahan keadaan iklim. Faktorfaktor iklim yang
mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman antara lain: ketinggian tempat,
sinar matahari, suhu, dan kelembaban. Bayam dapat tumbuh di dataran tinggi
dan dataran rendah. Ketinggian tempat yang optimum untuk pertumbuhan
bayam yaitu kurang dari 1400 m dpl. Kondisi iklim yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan bayam adalah curah hujan yang mencapai lebih dari 1500
mm/tahun, cahaya matahari penuh, suhu udara berkisar 17-28°C, serta
kelembaban udara 50-60% (Lestari, 2009).

2.3 Jenis-jenis Bayam


Ada berbagai banyak jenis atau varietas bayam. Bayam ada yang
dibudidayakan,ada pula yang tidak dibudidayakan atau tumbuh liar. Berikut
berbagai jenis bayam :
Bayam yang dibudidayakan meliputi :
a. Bayam Cabut (Amaranthus tricolor L), bayam ini mempunyai batang
berwarna hijau, ada yang kemerah-merahan serta ada yang keputih-putihan,
daunnya agak panjang dengan ujung rucing. Cara memanennya dengan jalan
mencabut (Arief, 1990). Bayam cabut terbagi menjadi 2 yaitu :
1) Bayam Varietas lokal :
- Giji Hijau yaitu jenis bayam cabut, asal Thailand, umur panen 28 hari. Tinggi
pada saat panen sekitar 20-25 cm dengan sedikit percabangan. Batang
keputihan dan daun hijau keputihan.
- Giji Merah yaitu termasuk bayam cabut dari Thailand juga, umur panen 30
hari. Percabangan dan tingginya mirip dengan giji hijau. Bedanya pada batang
bayam ini berwarna kemerahmerahan dengan daun hijau belang merah tua
(Nazaruddin, 1998).
2) Bayam Varietas Impor
- Cummy, pertumbuhan varietas ini cepat dan kuat. Produksinya tinggi, daunya
lebar dengan tepi daun sedikit bergerigi, warna hijau tua. Tangkai daun
panjang, pertumbuhan batangnya lambat, benih bulat, tidak berduri dan mudah
ditanam. Cocok ditanam didaerah yang beriklim sedang dan dingin terutama
didataran tinggi.
- Green lake, pertumbuhan varietas ini cepat, produksinya tinggi, tanaman agak
tegak. Daunnya lebar dengan sedikit bergerigi, berwarna hijau muda. Tangkai
daun kecil dan panjang, benih bulat, tidak berduri dan mudah ditanam. Cocok
ditanam didaerah yang beriklim sedang dan dingin terutama didataran tinggi.
b. Bayam Petik/ Bayam Tahunan (Amaranthus hybridus L), Bayam ini
biasanya disebut bayam kakap atau bayam Taiwan, mempunyai daun lebar-
lebar dengan batang tegap, bergizi tinggi tetapi mempunyai rasa getir dan agak
keras. Sedang bijinya berwarna putih dan daunnya bisa dipanen terus menerus
sampai tahunan. Bayam ini mempunyai beberapa macam varietas diantaranya
adalah :
1) Amaranthus hybridus var. Caudatus L. Bayam ini berdaun panjang dengan
ujung meruncing, warna hijau atau merah tua. Bunga 15 terangkai panjang dan
berkumpul pada ujung batang serta tidak kompak. Bunga berwarna merah dan
kuning gading.
2) Amaranthus hybridus var. Paniculatus L. Mempunyai dasar daun lebar
dengan pangkal tumpul, berwarna hijau. Karangan bunga panjang dengan
menyebar disetiap ketiak daun (Arief, 1990).
3) Bayam petik lokal yang sering banyak ditanam antara lain :
- Bayam maksi, Tanaman hampir tidak bercabang, batang dan daun berwarna
kekuning-kuningan. Bunga bergerombol diujung batang. Produktivitas dari
tanaman ini cukup tinggi yaitu 13,8 ton/ha.
- Bayam raja, Bercabang banyak, batang dan daun berwarna kekuning-
kuningan. Bayam raja merupakan varietas yang paling tinggi produktivitasnya
mencapai 15,8 ton/ha.
- Bayam skop, tanaman bercabang cukup banyak, batang berwarna kemerah-
merahan. Daun berwarna hijau keputihputihan. Hasil penanaman dalam luasan
lahan 1 ha dapat mencapai 11,3 ton/ ha.
- Bayam betawi, tanaman cabang sedikit, batang dan daun berwarna hijau tua.
Karena cabangnya sedikit, produktivitas yang dapat dicapai relatif rendah yaitu
sekitar 7,1 ton/h

2.4 Kondisi tanah di Wonosalam


Kecamatan Wonosalam berada di ujung Kabupaten Jombang dengan luas
wilayah 121,63 km2. Ketinggian wilayah kecamatan ini ± 500 m dpl, karena
berada di lereng Gunung Anjasmoro yang mengakibatkan kondisi fisik yang
berbukit. Tanah yang terdapat di Wonosalam termasuk jenis Holosen Alluvium
dan sebagian Pistosen Fasein dengan jenis tanah bertekstur lempung, termasuk
jenis tanah pada kompleks mediteran coklat kemerahan dan lisotol. Tidak
terlalu banyak dialiri sungai namun kondisi air tanah Kecamatan Wonosalam
tidak mengandung kadar garam yang tinggi sehingga memberi kemudahan
pemilihan tanaman tropis yang variatif. Suhu berkisar antara 230 C – 300C
dengan iklim tropis dan subtropis. Kecamatan Wonosalam adalah salah satu
penghasil durian terbesar di Jawa Timur. Selain itu, kawasan Wonosalam juga
memiliki potensi pariwisata yang besar, khususnya agrowisata karena
mayoritas mata pencaharian penduduknya adalah petani. Selain durian, di
kawasan Wonosalam juga merupakan penghasil cengkeh, kopi, dan pisang.
III. METODE PELAKSANAAN

3.1 Waktu dan jadwal Pelaksanaan Commented [S4]: Tambahkan tabel pelaksanaan secra
rinci
Pelaksanaan dimulai hari Kamis tanggal 07 Maret 2019 hingga? pukul
05.00- selesai. Pengambilan sampel serta pengamatan kesesuaian lahan di
lokasi desa Wonosalam Kabupaten Jombang Jawa Timur dan Analisis
dilakukan di Laboratorium Sumber Daya Lahan Fakultas Pertanian UPN
“Veteran” Jawa Timur. Tahapan pelaksanaan kegiatan apa saja? Persiapan
sampai penyusunan laporan
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1. Altimeter 6. Palu

2. Clinometer 7. Linggis

3. Meteran jahit 8. Payung

4. Cangkul 9. Serbet

5. Hansaplas

3.2.2 Bahan
1. Tanah

2. Kassa

3. Tas plastik

4. Karet gelang

5. PETA topografi

3.3 Perencanaan

A. Pemetaan Bayam

1. Persiapan alat dan bahan.

2. Mencari titik untuk pemasangan patok di SPL 6.


3. Pengukuran kemiringan lereng.

4. Pengukuran panjang lereng.

5. Pengukuran tinggi tempat.

6. Penentuan titik kordinat.

7. Pengambilan sempel tanah.

8. Analisis sempel tanah.

B. Pemetaan Lahan

1. Persiapan alat dan bahan. 4. Pengukuran panjang lereng.

2. Mencari titik untuk 5. Pengukuran tinggi tempat.


pemasangan patok di SPL
6. Penentuan titik kordinat.
6.
7. Pengambilan sempel tanah.
3. Pengukuran kemiringan
lereng. 8. Analisis sempel tanah.

Commented [S5]: Peta nya diubah yang lebih layak ya

Gambar 3.1 Peta Survey Kesesuaian Lahan SPL 6


3.4 Pelaksanaan
3.4.1 Pra Survey Commented [S6]: Kegiatan pra survey apa saja? Tolong
dijelaskan secara rinci
Penyusunan kerangka acuan kerja dilakukan untuk Analisa Kesesuaian
Lahan di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, maka metode
penelitian yang digunakan adalah kombinasi metode-metode survey.
3.4.2 Teknik pengumpulan data
Selanjutnya, teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam
pengumpulan data/informasi terdiri dari 2 teknik yaitu: (1) observasi dan
browsing, dan (2) wawancara. Secara rinci, kedua teknik pengumpulan data
dimaksud dapat diuraikan sebagai berikut:
a) Observasi lapangan dan pengumpulan data sekunder
Dalam teknik ini, data dikumpulkan dengan mengunjungi obyek yang
diteliti serta mengamatinya. Untuk mendukung informasi yang diperoleh,
obyek yang diamati akan didokumentasikan dalam bentuk gambar serta
mengumpulkan keterangan tambahan dari masyarakat yang ada disekitarnya.
Selanjutnya, informasi yang bersifat sekunder juga dikumpulkan dari
pemerintah desa setempat.
Pada aspek yang bersifat biofisik, survey dilakukan dengan mengandalkan
data sekunder yang tersedia di instansi terkait (Dinas Pertanian dan
Perkebunan) ditambah dengan survey secara langsung melalui penentuan
lokasi pengambilan sampel tanah dengan menggunakan Bor dengan
menggunakan metode acak dalam hirarki. Hal ini dikarenakan karena peneliti
ingin mendapatkan sample tanah yang akurat dan terstruktur dalam
pelaksanaaanya karena sample diambil dari petak petak yang telah ditentukan
jaraknya.
Gambar 3.2 Peta Administrasi Kabupaten Jombang

Gambar 3.3 Peta Kontur Lokasi Wonosalam


Gambar 3.4 Foto Udara Lokasi Survey dan Pengambilan Sample Tanah

b) Wawancara
Wawancara adalah penggalian data dilakukan dengan mewawancarai
sejumlah key informan terpilih di tingkat kawasan. Key informan adalah person
di lokasi terpilih yang dianggap memiliki pengetahuan yang memadai tentang
berbagai masalah terkait dengan agropolitan yang ada di wilayahnya. Sejumlah
key informan yang akan diwawancarai antara lain adalah tokoh masyarakat,
pegawai pertanian dan perkebunan setempat.
3.4.3 Survey
3.4.3.1 Deskripsi lahan
Deskripsi lahan dilakukan dengan mengisi lembar deskripsi setelah
melakukan pengambilan sampel tanah dengan menggunakan Bor dengan
menggunakan metode acak. Lembar deskripsi berisi tentang deskripsi umum
daerah pengambilan sample tanah( satuan peta, relief, lereng, aliran
permukaan, drainase, dan erosi) serta deskripsi profil tanah (warna, tekstur,
batu, struktur, karatan, konsistensi, pori tanah, dll). Ditambahkan gambar
metode apa yang digunakan
3.4.3.2 Klasifikasi lahan
Klasifikasi kemampuan lahan (Land Capability Classification) adalah
penilaian lahan (komponen-komponen lahan) secara sistematik dan
pengelompokannya ke dalam beberapa kategori berdasarkan atas sifat-sifat
yang merupakan potensi dan penghambat dalam penggunaannya secara
lestari. Kemampuan lahan dipandang sebagai kapasitas lahan itu sendiri untuk
suatu macam atau tingkat penggunaan umum. Perbedaan dalam kualitas tanah
dan bentuk lahan (land form) seringkali merupakan penyebab utama
terjadinya perbedaan satuan peta tanah dalam suatu areal (Arsyad, 2006).
Tingkat ini menunjukkan apakah lahan sesuai atau tidak sesuai untuk
penggunaan tertentu. Oleh karena itu ordo kesesuaian lahan dibagi dua,
yaitu:
a. Ordo S : Sesuai
Lahan yang termasuk ordo ini adalah lahan yang dapat digunakan untuk
suatu penggunaan tertentu secara lestari, tanpa atau dengan sedikit resiko
kerusakan terhadap sumber daya lahannya. Keuntungan yang diharapkan
dari hasil pemanfaatan lahan ini akan melebihi masukan yang diberikan.
b. Ordo N : Tidak Sesuai
Lahan yang termasuk ordo ini mempunyai pembatas sedemikian rupa
sehingga mencegah suatu penggunaan secara lestari. Ada tiga kelas dari ordo
tanah yang sesuai dan dua kelas untuk ordo tidak sesuai, yaitu:
 Kelas S1 : Sangat Sesuai
Lahan tidak mempunyai pembatas yang berat untuk suatu penggunaan
secara lestari atau hanya mempunyai pembatas yang tidak berarti dan tidak
berpengaruh secara nyata terhadap produksinya serta tidak akan menaikkan
masukan dari apa yang telah biasa diberikan.
 Kelas S2 : Cukup Sesuai
Lahan yang mempunyai pembatas-pembatas agak berat untuk suatu
penggunaan yang lestari. Pembatas akan mengurangi produktivitas dan
keuntungan sehingga akan meningkatkan masukan yang diperlukan.
 Kelas S3 : Sesuai Marjinal
Lahan yang mempunyai pembatas-pembatas yang sangat berat untuk suatu
penggunaan yang lestari. Pembatas akan mengurangi produktivitas atau
keuntungan dan perlu menaikkan masukan yang diperlukan.
 Kelas N1 : Tidak Sesuai pada saat ini
Lahan yang mempunyai pembatas yang lebih berat, tetapi masih mungkin
diatasi.
 Kelas N2 : Tidak Sesuai selamanya
Lahan yang mempunyai pembatas yang permanen, mencegah segala
kemungkinan penggunaan lahan. Commented [S7]: Di masukkan di tipus saja kalo kaya
gini
4.2.2 Klasifikasi Potensi Obyek (Output)
Kegiatan klasifikasi dapat dilakukan setelah mendapatkan hasil analisa sampel
tanah dan mengetahui potensi tanah di .................. . setelah mengetahui potensi
maupun karakteristik tanah tersebut makan mencocokkan potensi tersebut dengan
persyaratan tumbuh tanaman............. apabila tanah tersebut mendukung
persyaratan tumbuh tanaman ...... maka terdapat peluang untuk membudidayakan
tanaman tersebut pada daerah ....................
3.4.4 Pemetaan
Pemetaan dilakukan dengan mengoverlay peta lokasi survey dengan hasil
survey. Hasil survey berupa penilaian kesesuaian lahan dengan skor yang
ditentukan sesuai dengan kelas kesesuaian lahan tersebut. Commented [S8]: Pemetaan merupakan penggambaran
hasil survey dengan membagi lahan sesuai potensi yang
sudah diketahui

ALUR PROSES????
ORGANISASI PELAKSANAAN ???
BAB PENUTUP ???????????

DAFTAR PUSTAKA

Arief., 1990. Hortikultura. Budi Offset. Yogyakarta.


Hadisoeganda, A. W. W. 1996. Bayam sayuran penyangga petani di Indonesia.
Monograft No. 4, Bandung
Lestari, G. 2009. Berkebun Sayuran Hidroponik di Rumah. Jakarta : Prima Info
Sarana
Nazaruddin. 1998. Budidaya dan Pengaturan Panen Sayuran Dataran Rendah. PT
Penebar Swadaya. Jakarta. 142 hal
Palada, M.C and L.C. Chang . 2003. International Cooperator’s Guide “Sugested
Cultural Practices for Kangkong “. Asian Vegetable Research and
Development Center. Taiwan. 36 p
Rukmana, R. 1995. Bayam Bertanam Dan Pengolahan Pasca Panen. Kanisius:
Yogyakarta.