Anda di halaman 1dari 1

Bahagia itu sederhana, katanya

“Bahagia itu sederhana”, begitu frase yang banyak ditulis di media sosial akhir-akhir ini. Nampaknya bagi
sebagaian orang memang kebahagiaan tidak selalu berurusan dengan hal-hal yang besar. Sekedar menikmati
harumnya aroma kopi di pagi hari, melihat senyuman orang-orang di sekitarnya, atau menghirup udara segar
bebas polusi di pedesaan, sudah mampu membuat seseorang merasa bahagia, paling tidak mengungkapkan
frase di awal tadi. Namun bagi sebagian orang lagi kebahagiaan identik dengan pencapaian pada hal-hal wah
yang bersifat materialistic, seperti penghasilan yang tinggi, rumah dan kendaraan baru, hingga pujian atau
pengakuan orang lain terhadap dirinya berupa penghargaan atau jabatan yang dicapai. Sekilas, dua
persyaratan kebahagiaan ini terlihat kontradiktif, hal “kecil” versus hal “besar, non-materi versus materi. Jadi,
manakah yang benar? Keduanya? Ataukah salah satu adalah kebahagiaan sejati sedangkan yang satunya lagi
adalah semu?

Sebagaimana dikatakan sebelumnya, makna kebahagiaan sangat subyektif. Interpretasi seseorang bisa sangat
berbeda-beda ketika ditanyakan makna kebahagiaan. Dari individu yang sama pun terdapat potensi
pergeseran makna yang cukup besar antara saat ia mencoba mendefinisikan dengan saat ia mengalami
kebahagiaan tersebut. Karena kebahagiaan adalah masalah rasa, persis dengan kebingungan kita pada saat
memberi definisi pada rasa manis misalnya. Yang berbeda adalah rasa manis sama bagi semua orang (yang
tidak ada problem dengan indera pengecapnya), sedangkan ukuran, objek, dan rasa kebahagiaan yang berada
di hati ini bergantung pada pengalaman hidup, pencerahan, atau maqom orangnya. Kesimpulan bagian ini,
perjalanan hidup manusia pada dasarnya adalah sebuah proses pembelajaran memilah antara yang semu dan
nyata, antara realitas sementara dan realitas hakiki.

Urip iku urup

Pada sesi perkuliahan minggu lalu, ada ungkapan menarik yang dilontarkan oleh dosen pengampu. Yaitu urip
iku urup, salah satu falsafah Jawa yang dalam dan sangat layak menjadi tool refleksi tindak tanduk dan perilaku
kita. Kiranya jika falsafah ini ditarik ke dalam pertanyaan tulisan ini, maka cukup jelas alasan saya untuk
mengatakan bahwa kebahagiaan jenis pertama (non materi) di awal tulisan ini jauh lebih bermakna disbanding
jenis kedua (materi). Kebahagiaan atas pencapaian materi bersifat sesaat, sebab kebahagiaan seharusnya
tidak berhenti ketika hal yang kita inginkan tercapai, melainkan dapat terus mengalir dan bermanfaat bagi
semua ciptaan-Nya tanpa terkecuali. Manfaat ini bersifat mutual yang akhirnya kembali ke diri kita, dan
kemudian mengalir lagi, begitu seterusnya. Sehingga, sangat masuk akal jika dikatakan bahwa salah satu
tantangan terbesar manusia ialah menundukkan keegoannya, ke-aku-an nya, dengan cara menjadi insan yang
bermanfaat bagi seluruh alam. Sebab lumayan gendheng juga apabila kita mengamini kalimat “bahagia di atas
penderiataan orang lain”. Maka dapat dikatakan bahwa kebahagiaan non materi adalah jujur, transcendental,
dan ilahiah. Akan tetapi kebahagiaan jenis ini sendiri ialah hanya anak tangga ke puncak kebahagiaan yang
hakiki.

Kesimpulan

Kesimpulan tulisan ini, menurut saya, kebahagiaan semestinya dikaitkan dengan nikmat kasih sayang yang
diperoleh dari Tuhan. Mungkin, kebahagiaan pertama kali yang kita rasakan ialah pada saat Tuhan meniupkan
ruh yang menjadikan diri ini bernyawa dan hidup. Sehingga, perjalanan hidup di dunia ini pun sejatinya adalah
perjalanan mengejar kebahagiaan itu kembali, dimana pola yang kita lakukan adalah mencari, bahkan usaha
mengimitasi, hal-hal abstrak yang menurut kita adalah representasi dan percikan kasih sayang Tuhan.
Kebahagiaan sejati itu sendiri pada akhirnya adalah ujung perjalanan kembali dan bertemu Sang Maha
Pencipta Kehidupan sebagaimana do’a yang kita sering panjatkan “Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan
dunia, berikan pula kebaikan di akhirat…”

Wallahualam