Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM TRANSCUTANEUS

ELECTRICALNERVE STIMULATION
(TENS)

Kasus Akut Non-spesific Low Back Pain

Oleh:

POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR


2018/2019
LAPORAN PRAKTIKUM TRANSCUTANEUS ELECTRICAL
NERVE STIMULATION (TENS)

A. Patologi Kasus Akut Non-spesific Low Back Pain (VAS 8,2)


1. Definisi :
Low Back Pain adalah nyeri yang dirasakan daerah punggung bawah, dapat
merupakan nyeri local maupun nyeri radikuler atau keduanya. Nyeri ini terasa diantara
sudut iga terbawa sampai lipat bokong bawah yaitu di daerah lumbal atau lumbo-sakral
dan sering disertai dengan penjalaran nyeri kea rah tungkai dan kaki. LBP yang lebih dari
6 bulan disebut kronik (Wagiu, 2005)
Nyeri punggung bawah miogenik berhubungan dengan stress/strain otot punggung,
tendon, ligament yang biasanya ada bila melakukan aktivitas sehari hari berlebihan. Nyeri
barsifat tumpul, intensitas bervariasi seringkali menjadi kronik, dapat terlokalisir atau
dapat meluas ke sekitar glutea. Nyeri ini tidak disertai dengan hipertensi, parestesi,
kelemahan atau defisit neorologis. Bila batuk atau bersin tidak menjalar ke tungkai.
Low Back Pain menurut perjalanan kliniknya dibedakan menjadi dua yaitu :

 Acute low back pain


Rasa nyeri yang menyerang secara tiba-tiba, rentang waktunya hanya sebentar, antara
beberapa hari sampai beberapa minggu. Rasa nyeri ini dapat hilang atau
sembuh. Acute low back pain dapat disebabkan karena luka traumatic seperti
kecelakaan mobil atau terjatuh, rasa nyeri dapat hilang sesaat kemudian. Kejadian
tersebut selain dapat merusak jaringan, juga dapat melukai otot, ligamen dan tendon.
Pada kecelakaan yang lebih serius, fraktur tulang pada daerah lumbal dan spinal dapat
masih sembuh sendiri. Sampai saat ini penatalaksanan awal nyeri pinggang acute
terfokus pada istirahat dan pemakaian analgesik.
 Chronic low back pain
Rasa nyeri yang menyerang lebih dari 6 bulan atau rasa nyeri yang berulang-ulang
atau kambuh kembali. Fase ini biasanya memiliki onset yang berbahaya dan sembuh
pada waktu yang lama. Chronic low back pain dapat terjadi
karena osteoarthritis, rheumatoidarthritis, proses degenerasi discus
intervertebralis dan tumor.
2. Etiologi :
a. Ketegangan otot
Ketegangan otot dapat timbul disebabkan oleh sikap tegang yang konstan atau berulang-
ulang pada posisi yang sama sehingga akan memendekan otot-otot yang akhirnya
menimbulkan nyeri. Nyeri juga dapat timbul karena regangan yang berlebihan pada
perlekatan otot terhadap tulang.
b. Spasme / kejang otot
Spasme / kejang otot disebabkan oleh gerakan yang tiba-tiba dimana jaringan otot
sebelumnya dalam kondisi yang tegang / kaku / kurang pemanasan.Spasme otot ini
memberi gejala yang khas, ialah dengan adanya kontraksi otot akan disertai rasa nyeri
yang hebat. Setiap gerakan akan memperberat rasa nyeri sekaligus menambah kontraksi.
Akan terjadi lingkaran suatu nyeri, kejang atau spasme dan ketidak mampuan bergerak.
c. Defisiensi otot
Defisiensi otot dapat disebabkan oleh kurangnya latihan sebagai akibat dari tirah baring
yang lama maupun immobilisasi.
d. Otot yang hipersensitif
Otot yang hipersensitif akan menciptakan satu daerah kecil yang apabila dirangsang
akan menimbulkan rasa nyeri ke daerah tertentu. Daerah kecil tadi disebut sebagai
noktah picu (trigger point). Dalam pemeriksaan klinik terhadap penderita nyeri
punggung bawah (NPB), tidak jarang dijumpai adanya noktah picu ini. Titik ini bila
ditekanakan menimbulkan rasa nyeri bercampur rasa sedikit nyaman.
Factor mekanik sebagai penyebab utama dari LBP di masyarakat dapat diklasifikasikan
menjadi dua kategori, yaitu :
 Statik
LBP pada tipe ini terjadi karena kesalahan postur seperti kepala menunduk ke depan,
bahu melengkung ke depan, perut menonjol ke depan dan lordosis lumbal berlebihan.
Hal ini akan berakibat otot-otot pinggang menjadi tegang, sehingga suplai darah ke otot
pinggang yang mengangkut oksigen menjadi terhambat dan otot kekurangan oksigen
yang berakibat timbulnya nyeri pada area punggung bawah.
 Dinamik
Dalam keadaan normal gerakan tulang berlangsung dan terintegrasi dengan baik dan
terjadi pembatasan oleh otot dan ligament. Agar tidak menimbulkan keluhan nyeri,
gerakan tidak boleh melanggar keterbatasan-keterbatasan ini karena akan berakibat
terjadi peregangan tulang pinggang. Pergerakan tulang pinggang adalah cidera regangan
pada ligamentum, tendon dan otot pinggang. Regangan akan menyebabkan luka yang
sangat kecil pada organ tersebut sehingga timbul rasa nyeri pada pinggang (Sadeli HA,
Tjahjor, B. 2001, dan Feske SK, Greenberg SA. 2003).
3. Patogenesis :
Pada kondisi nyeri punggung bawah pada umumnya otot ekstensor lumbal lebih
lemah dibanding otot fleksor, sehingga tidak kuat mengangkat beban. Otot sendiri
sebenarnya tidak jelas sebagai sumber nyeri, tetapi muscle spindles jelas diinervasi sistem
saraf simpatis. Dengan hiperaktifitas kronik, muscle spindles mengalami spasme sehingga
mengalami nyeri tekan. Perlengketan otot yang tidak sempurna akan melepaskan pancaran
rangsangan saraf berbahaya yang mengakibatkan nyeri sehingga menghambat aktivitas otot.
4. Tanda dan Gejala
Keluhan LBP sangat beragam, tergantung dari patofisiologi, perubahan biokimia
atau biomekanik dalam discus intervertebralis. Bahkan pola patofisiologi yang serupa pun
dapat menyebabkan sindroma yang berbeda dari pasien. Pada umumnya sindroma lumbal
adalah nyeri. Sindroma nyeri muskulo skeletal yang menyebabkan LBP termasuk sindrom
nyeri miofasial dan fibromialgia. Nyeri miofasial khas ditandai nyeri dan nyeri tekan seluruh
daerah yang bersangkutan (trigger points), kehilangan ruang gerak kelompo otot yang
tersangkut (loss of range of motion) dan nyeri radikuler yang terbatas pada saraf tepi.
Keluhan nyeri sering hilang bila kelompok otot tersebut diregangkan. Fibromialgia
mengakibatkan nyeri dan nyeri tekan daerah punggung bawah, kekakuan, rasa lelah, dan
nyeri otot (Dachlan, 2009).
Gejala penyakit punggung yang sering dirasakan adalah nyeri, kaku, deformitas, dan
nyeri serta paraestesia atau rasa lemah pada tungkai. Gejala serangan pertama sangat
penting. Dari awal kejadian serangan perlu diperhatikan, yaitu apakah serangannya dimulai
dengan tiba – tiba, mungkin setelah menggeliat, atau secara berangsur – angsur tanpa
kejadian apapun. Dan yang diperhatikan pula gejala yang ditimbulkan menetap atau kadang
– kadang berkurang. Selain itu juga perlu memperhatikan sikap tubuh, dan gejala yang
penting pula yaitu apakah adanya secret uretra, retensi urine, dan inkontinensia (Apley,
2013).
B. Prosedur Pelaksanaan
1. Persiapan Alat : (mencakup persiapan operasional alat) :
a. Hubungkan power cord (steker) unit ke adaptor lalu hubungkan power ke adaptor unit
b. Tekan tombol ON yang ada di belakang unit
c. Menjalankan unit dengan menekan tombol ON/OFF yang ada di panel depan unit
(tekan tombol selama 3 detik sampai unit aktif)
d. Selanjutnya,tekan tombol manual yang ada di panel depan unit TENS
e. Selanjutnya,pad dibasahi terlebih dahulu, dan diletakan pada permukaan pad yang
akan di kontakan dengan kulit pasien.

2. Persiapan Pasien :
a. Posisikan pasien pada posisi prone lying dan usahakan dalam keadaan senyaman dan
serileks mungkin.
b. Periksa area yang akan di terapi dalam hal ini: kulit harus bersih dan bebas dari
lemak, lotion.
c. Letakkan PAD pada area sekitar M. latissimus dorsi.
d. Periksa sensasi kulit, Lepaskan semua metal diarea terapi.
e. Sebelum memulai intervensi, terapist memberi penjelasan mengenai cara kerja dan
efek yang dapat ditimbulkan dari TENS.

3. Teknik Pelaksanaan :

Kasus Akut Non-spesific Low


Back Pain. 1. Posisi pad elektrode : Bipolar Series
Metode pemasangan pada elektrode : Pad diletakkan
Nilai VAS 8,2 dalam posisi Bipolar Series dan diletakkan pada area
M. latissimus dorsi .
2. Pemilihan dosis :
a. Bentuk arus TENS : High Frekuensi TENS
b. Bentuk gelombang : Symmetric
Foto c. Frekuensi : 100 Hz
d. Pulse Width : 80 µs
e. Frekuensi Burst : -
f. Intensitas arus : 20.0 mA (sensorik)
g. Waktu : 20 Menit

C. Evaluasi

Pada pemeriksaan ini mengalami keterbatasan vetebra dalam lingkup geraknya dan biasanya
pasien juga merasakan hal itu dengan atau tidak disertai nyeri pada bagian vertebra pada bagian
lumbal.Dan setelah diberikan Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation (TENS) dengan cara
penempatan pad bipolar series di m. latissimus dorsi pasien Akut Non-spesific Low Back Pain
gejala yang ditimbulkannya telah berkurang dan nilai VAS nya pun juga berkurang sedikit demi
sedikit.
KASUS-KASUS FISIOTERAPI :

1. Akut Sprain Ankle (VAS 8,6)


2. Kronik Sprain Ankle (VAS 5,2)
3. Akut Sprain Ligamen Collateral Medial Knee (VAS 9,3)
4. Akut Strain Tendon Achilles (VAS 7,6)
5. Akut Strain Gastrocnemius (VAS 7,2)
6. Akut Strain Hamstring (VAS 7,4)
7. Akut Contusio Quadriceps Femoris (VAS 7,8)
8. Akut Sprain Ligamen Cruciatum Knee (VAS 8,6)
9. Kronik Osteoarthritis Knee Joint (VAS 6,7)
10. Kronik Piriformis Syndrome (VAS 6,3)
11. Kronik Muscle soreness gastrocnemius (VAS 5,6)
12. Kronik Syndrome Tractus Iliotibial band (VAS 5,4)
13. Kronik Syndrome Pes Anserine Knee (VAS 6,2)
14. Kronik Tennis Elbow (VAS 6,3)
15. Kronik Shoulder Pain (VAS 6,4)
16. Kronik Tendinitis Bicipitalis (VAS 5,7)
17. Kronik Cervical Syndrome (VAS 6,7)
18. Kronik Spondylosis Lumbal (VAS 6,4)
19. Kronik Spondylosis Cervical (VAS 6,2)
20. Akut Non-spesific Low Back Pain (VAS 8,2)
21. Akut sprain wrist (VAS 8,5)
22. Kronik lesi meniskus knee (VAS 5,4)
23. Kronik Frozen Shoulder (VAS 5,8)
24. Kronik Ischialgia akibat HNP L4-L5 (VAS 7,8)
25. Kronik Brachialgia akibat Spondylosis/HNP C5-C6 (VAS 6,6)

Catatan :
Pilih dua kasus di atas, kemudian kasus yang dipilih dikerjakan sesuai format laporan di atas.