Anda di halaman 1dari 10

Nilai Ekonomi Hutan Dibagian Hulu Sub DAS Ciesek

Sebagai Penyedia Jasa Wisata

Forest Economic Value in Ciesek Sub Watershed


for Nature Tourism Service

Nurdin Sulistiyono 1
1
PS. Manajemen Hutan, Jur. Kehutanan, Fak. Pertanian, Univ. Sumatera Utara
emai: nurdinsty@yahoo.com

Abstract
The estimation of forest economic value for nature tourism services has an important
value to be conducted, due to the existence of forest at upland of Ciesek Sub
Watershed is higly pressured. because By knowing forest economic value of nature
tourism service, it is expected that forest rehabilitation at upland is better than before.
The reseach objective is to estimate forest economic value at upland Sub Watershed
distric of Bogor. The Method reseach is to estimate forest economic value is travel
cost method. The result of reseach showes the forest economic value in upland Sub
Watershed for Curug Panjang ecotourism park is Rp.164.062.827 / years or
Rp.16.032 / person / years.

Key Words : Value economic, travel cost

Abstrak
Kegiatan penentuan nilai ekonomi Hutan Sebagai Penyedia Jasa Wisata Alam
menjadi penting untuk dilakukan mengingat keberadaan hutan di hulu Sub DAS
Ciesek banyak menghadapi tekanan. Dengan diketahuinya besarnya nilai ekonomi
hutan sebagai penyedia jasa wisata alam maka diharapkan upaya-upaya perbaikan
hutan di hulu Sub DAS Ciesek menjadi semakin baik dari sebelumnya. Tujuan dari
kegiatan penelitian ini adalah menentukan besarnya nilai ekonomi hutan di Sub DAS
Ciesek Kabupaten Bogor sebagai penyedia jasa wisata bagi Taman Wisata Curug
Panjang. Metode yang digunakan dalam penentuan nilai ekonomi dalam penelitian
ini adalah metode biaya perjalanan (Travel Cost Method). Dari hasil penelitian
didapatkan informasi besarnya nilai ekonomi hutan di Sub DAS Ciesek sebagai
penyedia Jasa Wisata Alam bagi Taman Wisata Alam Curug Panjang adalah
Rp.164.062.827/tahun atau Rp.16.032/orang/tahun.

Kata Kunci : Nilai ekonomi, biaya perjalanan

1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Nilai ekonomi hutan sebagai suatu ekosistem penyangga kehidupan sangat
besar manfaatnya bagi kelangsungan hidup mahluk hidup baik yang ada di dalam
maupun di sekitar ekosistem hutan itu sendiri. Manfaat ekonomi ini terdiri dari use
value (nilai guna) dan non use value (nilai bukan guna). Salah satu ragam dari nilai
guna hutan adalah sebagai penyedia jasa wisata alam.
Kawasan hutan lindung yang berada di hulu Sub DAS Ciesek, DAS Ciliwung
Hulu Kabupaten Bogor selain mempunyai peran sebagai kawasan lindung juga
menjadi lokasi wisata alam. Perum Perhutani KPH Bogor bersama masyarakat Desa
Megamendung telah mengelola kawasan wisata alam ini dalam bentuk pengelolaan
kawasan wisata alam Curug Panjang. Kawasan wisata alam ini mulai dikelola sejak
tahun 2000 oleh Perum Perhutani. Keindahan alam terutama curug (air terjun)
menjadi daya tarik utama kawasan wisata ini. Dengan sistem pengelolaan yang terus
diperbaiki oleh Perum Perhutani bersama masyarakat sekitar, membuat tingkat
kunjungan ke kawasan wisata ini dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pada hari
sabtu dan minggu tempat wisata alam ini ramai dikunjungi oleh pengunjung dari kota
Bogor dan sekitarnya.
Kegiatan penentuan nilai ekonomi Hutan Sebagai Penyedia Jasa Wisata Alam
menjadi penting untuk dilakukan mengingat keberadaan hutan di hulu Sub DAS
Ciesek banyak menghadapi tekanan. Diharapkan dengan diketahuinya besarnya nilai
ekonomi hutan sebagai penyedia jasa wisata alam maka upaya-upaya perbaikan hutan
di hulu Sub DAS Ciesek semakin ditingkatkan, disamping itu pula kegiatan penelitian
ini dimaksudkan agar kegiatan pengelolaan Taman Wisata Alam Curug Panjang
kedepan semakin baik.

Tujuan
Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah menentukan besarnya nilai ekonomi
hutan di Sub DAS Ciesek Kabupaten Bogor sebagai penyedia jasa wisata bagi Taman
Wisata Curug Panjang.

2
METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Kegiatan penelitian ini dilakukan di Taman Wisata Alam Curug Panjang yang
berada di daerah Sub DAS Ciesek, DAS Ciliwung Hulu, Kabupaten Bogor. Adapun
proses pengambilan data dilakukan selama enam bulan yakni pada bulan Maret -
Agustus 2005.

Kerangka Pemikiran
Kegiatan penelitian ini didasarkan dari asumsi bahwa sumber air bagi Curug
Panjang yang menjadi daya tarik utama Taman Wisata Alam Curug Panjang berasal
dari hutan yang terletak di hulu Sub DAS Ciesek. Selanjutnya dari kurva permintaan
rekreasi alam yang terbentuk, besarnya nilai ekonomi hutan sebagai penyedia jasa
wisata alam dapat ditentukan yakni dengan cara menghitung besarnya kesediaan
membayar pengunjung Taman Wisata Alam Curug Panjang dari kurva tersebut.

Pengambilan Data
Teknik pengambilan contoh dilakukan secara purposive dengan tetap
memperhatikan keterwakilan dan ketersebaran data. populasinya adalah pengunjung
wisata alam Curug Panjang yang ada di daerah penelitian. Pengunjung wisata adalah
masyarakat sekitar maupun masyarakat yang berasal dari luar daerah penelitian.
Penelitian dilakukan dengan cara mewawancarai 44 pengunjung kawasan
wisata alam tentang besarnya biaya perjalanan yang dikeluarkan, karakteristik
pengunjung, dan presepsi atau penilaian terhadap kawasan wisata alam. Adapun
Teknik Penilaian Ekonomi yang dipakai untuk menentukan besarnya nilai ekonomi
Jasa Wisata Alam Curug Panjang adalah menggunakan metode biaya perjalanan
(Travel Cost Method).
Biaya perjalanan yang digunakan termasuk diantaranya biaya transportasi,
biaya konsumsi, biaya penginapan dan biaya untuk membeli tiket masuk kawasan
wisata alam. Tahapan penentuan nilai ekonomi wisata alam adalah sebagai berikut :

3
1. Menduga jumlah pengunjung dari masing-masing daerah asal pengunjung
(zone) berdasarkan wawancara dengan responden.
Zi = Pi x ∑Y
dimana :
Pi = Persentase kunjungan dari zone i
Zi = Jumlah pengunjung dari zone-i
∑Y = Jumlah seluruh kunjungan
2. Menentukan besarnya biaya perjalanan rata-rata dari jumlah total biaya
perjalanan yang dikeluarkan selama melakukan perjalanan atau kegiatan
rekreasi.
BPR = TR + D + KR + L
Dimana :
BPR = Biaya perjalanan rata-rata (Rp/orang)
TR = Biaya transportasi (Rp/orang)
D = Biaya dokumentasi (Rp/orang)
KR = Biaya konsumsi selama berwisata (Rp/orang)
L = Biaya lain-lain (Rp/orang)

3. Menentukan biaya perjalanan rata-rata zone i (X1i)


n
∑ Bpi
X1i = j=1
Ni
dimana :
X1i = Biaya perjalanan rata-rata daerah asal i
Bpi = Biaya perjalanan hasil pengambilan contoh i
Ni = Jumlah populasi daerah asal i
4. Menentukan laju kunjungan pengunjung per 1000 orang zona i dalam satu
tahun.
LKi = ∑ JPi x 1000
∑ JPT

4
dimana :
LKi = Laju kunjungan pengunjung zona i
JPi = Jumlah pengunjung zona i
JPT = Jumlah populasi pengunjung zona i
5. Menentukan nilai ekonomi wisata
Nilai ekonomi wisata didapatkan dari total kesediaan membayar seluruh
pengunjung pada tinkat harga karcis tanda masuk yang berlaku. Total
kesediaan membayar pengunjung adalah luas daerah dibawah kurva
permintaan jasa wisata pada tingkat harga karcis tanda masuk yang berlaku.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Informasi mengenai karakteristik dan presepsi pengunjung terhadap kawasan


wisata alam Curug Panjang dapat dilihat dalam tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Karakteristik dan Persepsi Pengunjung Kawasan Wisata Alam Curug


Panjang

No Klasifikasi Keterangan Jumlah Prosentase (%)


1 Jenis Pekerjaan Pelajar/mahasiswa 34 77,27
Swasta 10 22,73
2 Kelompok Umur 12 - 20 22 50,00
20 - 30 20 45,45
30 tahun keatas 2 4,54
3 Pendapatan < Rp.500 rb 36 81,81
Rp. 500 rb – 1 juta 6 13,63
Rp. > 1 juta 2 4,54
4 Motivasi Kunjungan wisata 26 59,09
outbound 12 27,27
lainnya 6 13,64
5 Intensitas Kunjungan kurang dari 3 x 30 68,18
lebih dari 3 x 14 31,82
6 Cara Melakukan Kunjungan sendiri 5 11,36
berkelompok 39 88,64
7 Lamanya Kunjungan Pulang-pergi 16 36,36
menginap 28 63,64
Sumber analisis data primer, 2005

5
Dari tabel 1 di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar pengunjung kawasan
wisata alam Curug Panjang adalah pelajar/mahasiswa (77,27 %) kemudian diikuti
oleh swasta (22,73 %) dimana kelompok umur pengunjung terbesar adalah kelompok
umur 12 – 20 th (50 %), diikuti kelompok umur 20 – 30 th (45,45 %) dan 30 tahun ke
atas (4,54 %). Sebagian besar pengunjung kawasan wisata alam Curug Panjang
berpendapatan kurang dari Rp.500.000 (81,81 %) hal ini bisa dimaklumi karena
sebagian besar adalah pelajar/mahasiswa yang belum punya penghasilan.
Motivasi kunjungan para pengunjung selain wisata (59,09 %), adalah outbound
(27,27%) dan sisanya motivasi lainnya (13,64 %). Lokasi kawasan wisata Curug
Panjang memang sudah lama dimanfaatkan sebagai kawasan outbound, kondisi
alamnya yang indah serta kondisi jurug yang cukup menantang membuat kawasan ini
sangat cocok untuk dikembangkan sebagai kawasan petualangan alam. Para
pengunjung datang ke kawasan ini dengan cara berkelompok (88,64 %) sedangkan
sisanya sendiri (11,36 %). Sebagian besar responden (31,82 %) mengatakan pernah
datang lebih dari 3 kali ke kawasan wisata alam ini, sedangkan sisanya (68,18 %)
menyatakan kurang dari 3 kali. Pengunjung yang datang lebih dari 3 kali sebagian
besar adalah dari wilayah bogor sedangkan pengunjung dari luar bogor sebagian
besar baru datang satu kali. Kawasan wisata alam ini hanya ramai pengunjung pada
hari sabtu-minggu saja, sedangkan hari lain relatif sepi. Biasanya para pengunjung
yang mempunyai motivasi outbound akan menginap (63,64 %) di kawasan wisata
alam ini, sedangkan sisanya pulang pergi (36,36 %) yang kebanyakan merupakan
pengunjung yang mempunyai motivasi berwisata.
Berdasarkan data dari Perum Perhutani jumlah pengunjung kawasan wisata
alam Curug Panjang pada tahun 2000 berjumlah 3.800 dan tahun 2001 sebesar 4.037
atau mengalami peningkatan sebesar 237 orang, dengan asumsi peningkatan jumlah
pengunjung tiap tahunnya sama maka pada tahun 2005 terdapat 4.985 pengunjung.
Berdasarkan data jumlah pengunjung dan data sampel responden maka didapatkan
tingkat kunjungan pengunjung seperti yang tersaji pada tabel 2.

6
Tabel 2. Tingkat Kunjungan di Kawasan Wisata Alam Curug Panjang Berdasarkan
Biaya Perjalanan

Jumlah
Jumlah Laju Biaya
Daerah Prosentase Populasi Jumlah
Sampel Kunjungan Perjalanan
No Asal Pengunjung Daerah Pengunjung
Pengunjung per 1000 Rata-rata
Pengunjung (%) Pengunjung (orang)
(orang) orang (Rp)
(orang) *
1 Bogor 16 36,36 820.707 1.813 3 19.109
2 Jakarta 22 50,00 8.792.000 2.493 1 63.659
3 Bekasi 6 13,64 1.877.414 680 1 52.500
Total 44 4.985
Sumber analisis data primer, 2005
Keterangan : * Data BPPS tahun 2003

Adapun besarnya biaya perjalanan yang dikeluarkan oleh pengunjung di


Kawasan Wisata Curug Panjang dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini.

Tabel 3. Besarnya Biaya Perjalanan Pengunjung Kawasan Wisata Alam Curug


Panjang

No Jenis Pengeluaran Biaya Prosentase (%)


1 Transportasi 17.320 36,66
2 Konsumsi 16.066 34,01
3 Tiket Masuk 3.000 6,35
4 Penginapan 3.286 6,96
5 lain-lain 7.571 16,03
Jumlah 47.242
Sumber analisis data primer, 2005

Kurva permintaan manfaat rekreasi kawasan wisata alam Curug Panjang


berdasarkan biaya perjalanan dibuat untuk melihat hubungan jumlah pengunjung
pada berbagai tingkat harga tiket masuk kawasan wisata. Hasil penelitian
menunjukan semakin tinggi harga tiket masuk kawasan wisata maka semakin sedikit
jumlah pengunjung kawasan wisata tersebut.

7
70000

HTM (Rp/orang)
60000

50000

40000

30000

20000

10000

0
- 2.000 4.000 6.000 8.000 10.000 12.000 14.000

Jumlah Pengunjung (orang)

Gambar 1. Kurva Permintaan Manfaat Wisata Alam Curug Panjang

Pada harga tiket masuk yang diperlakukan sekarang ini yakni Rp.3.000/orang,
diperkirakan jumlah pengunjung akan mencapai 10.233orang/tahun dengan
keuntungan yang akan didapatkan pihak pengelola sebesar Rp.30.700.070/tahun,
kesediaan membayar pengunjung atau manfaat rekreasi sebesar Rp. 164.062.827 atau
Rp.16.032/orang, sementara surplus konsumen yang dirasakan oleh pengunjung
mencapai Rp.133.362.757/tahun atau Rp.13.033/orang. Hasil perhitungan manfaat
nilai ekonomi dari jasa wisata di Curug Panjang pada tingkat harga karcis yang
sekarang berlaku (Rp.3000) selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini.

Tabel 4. Nilai Ekonomi Wisata Curug Panjang Pada Tingkat Harga yang Sekarang
Berlaku

Nilai sampel Jumlah Nilai Total


(Rp/orang) Pengunjung (Rp/tahun)
Kesediaan berkorban 16.032 10.233 164.062.827
Nilai yang dikorbankan 3.000 10.233 30.700.070
Surplus Konsumen 13.033 10.233 133.362.757
Sumber analisis data primer, 2005

Hasil perhitungan juga menunjukan bahwasanya penerimaan pihak pengelola


akan maksimum pada saat harga tiket masuk sebesar Rp.12.000/orang dengan
perkiraan jumlah pengunjung mencapai 5.270 orang/tahun. Pada kondisi ini pihak
pengelola akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp.63.235.494. Besarnya nilai

8
manfaat rekreasi adalah Rp.126.834.835 atau rata-rata kesediaan membayar setiap
pengunjung mencapai Rp.24.069/orang, sedangkan surplus konsumen mencapai
Rp.63.599.342 atau Rp.12.069/orang. Harga tiket masuk pengunjung sebesar
Rp.12.000/orang dirasakan masih wajar karena harga ini masih dibawah rata-rata
kesediaan membayar pengunjung yang sebesar Rp.24.069/orang.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Dari uraian penjelasan di atas maka kesimpulan yang dapat diambil dari
kegiatan penelitian ini adalah :
1. Besarnya nilai ekonomi hutan di Sub DAS Ciesek sebagai penyedia
Jasa Wisata Alam bagi Taman Wisata Alam Curug Panjang adalah Rp.
164.062.827 / tahun atau Rp.16.032/orang/tahun. Nilai ekonomi ini masih
relatif kecil karena sebagian besar pengunjungnya berasal dari wilayah
bogor sehingga besarnya biaya perjalanan yang dikeluarkannyapun relatif
kecil.
2. Pemberlakuan harga tiket masuk sebesar Rp 3.000 masih bisa
ditingkatkan dimana penerimaan pihak pengelola Taman Wisata Alam
Curug Panjang akan maksimum pada saat harga tiket masuk sebesar
Rp.12.000/orang dengan perkiraan jumlah pengunjung mencapai 5.270
orang/tahun. Pada kondisi ini pihak pengelola akan mendapatkan
keuntungan sebesar Rp.63.235.494/tahun.

Saran
Perlu adanya penghitungan nilai ekonomi hutan sebagai penyedia jasa wisata
alam di Curug Panjang ini dengan metode contingent valuation sebagai pembanding.
Untuk meningkatkan nilai ekonomi perlu diupayakan penambahan fasilitas rekreasi
dan promosi oleh pihak pengelola sehingga bisa menarik jumlah kunjungan.

9
DAFTAR PUSTAKA

Bahruni. 1999. Penilaian Sumberdaya Hutan dan Lingkungan. Diktat. Fakultas


Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Bishop JT. 1999. Valuing Forests : A Review of Methods and Applications in


Developing Countries. London: International Institute for Environment and
Development.

[BPS Kabupaten Bogor] Badan Pusat Statistik Kabupaten Bogor. 2004. Kecamatan
Cisarua Dalam Angka Tahun 2004 : Badan Pusat Statistik Kabupaten Bogor.

[BPS Kabupaten Bogor] Badan Pusat Statistik Kabupaten Bogor. 2004. Kecamatan
Megamendung Dalam Angka Tahun 2004 : Badan Pusat Statistik Kabupaten
Bogor.

Darusman D, Bahruni. 1993. Studi Permintaan terhadap Intangible (Rekreasi) dari


Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Prosiding Sminar Hasil Penelitian
Perguruan Tinggi tanggal 5 – 9 februari 1992 di Hotel USSU, Cisarua Bogor.
Buku III Bidang Hukum dan Ekonomi.

Handayani T. 2002. Nilai Ekonomi dan Strategi Pengelolaan Taman Nasional Meru
Betiri. Tesis. Program Pasca Sarjana IPB. Bogor.

Pearce D, D Moran 1994. The Economic Value of Biodeversity. IUCN The World
Conservation Union. Earthscan Publication Ltd, London.

10