Anda di halaman 1dari 9

SEJARAH SINGKAT BAHASA INDONESIA

Bahasa Melayu sebagai pendahulu bahasa Indonesia digunakan

sebagai bahasa pengantar (lingua franca) perdagangan, antara pedagang dari suku

yang berbeda di Nusantara. Penggunaan ini berlangsung sejak masa kerajan

Sriwijaya, yang bebasis di Sumatera bagian selatan, dan berjaya antara abad ke

7 hingga 11 Masehi.

Pada masa Sriwijaya ini, bahasa Melayu menyerab banyak kata

serapan dari bahasa Sansekerta, sebagai pengaruh dari kebudayaan India dan

agama Hindu dan Buddha yang dominan pada masa ini.

Pada masa kesultanan Malaka, yang berdiri pada 1400 hingga 1511,

penggunaan bahasa Melayu meningkat, selain sebagai bahasa perdagangan juga

digunakan sebagai bahasa pengantar dalam penyebaran agama Islam. Pada masa ini,

kata serapan dari bahasa Arab masuk ke dalam bahasa Melayu.

Setelah datangnya penjajah Spanyol, Portugis, Belanda, dan

Inggris, bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa pengantar dalam administrasi

penjajahan dan penyebaran agama Kristen. Dalam masa ini, bahasa Melayu menyerap

kata serapan dari bahasa Spanyol, Portugis, Belanda, dan Inggris. Secara tidak

langsung, bahasa Melayu juga banyak menyerap kata dari bahsa Yunani dan Latin

dari bahasa Eropa tadi.

Bahasa Melayu dengan dibakukan menjadi Bahasa Indonesia, yang

diproklamirkan sebagai bahasa pemersatu selama Sumpah Pemuda pada tanggal 28

Oktober 1928. Kemudian bahasa Indonesia diberikan pengakuan resmia dalam UUD

1945 pasal 36, yang menyatakan bahwa “Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.”

https://brainly.co.id/tugas/168193
KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA DI NEGARA INDONESIA

Kedudukan Bahasa Indonesia


Kedudukan Bahasa Indonesia diidentifikasikan menjadi bahasa persatuan, bahasa
nasional, bahasa negara, dan bahasa standar. Keempat posisi bahasa Indonesia itu
mempunyai fungsi masingmasing seperti berikut:

Bahasa Persatuan
Bahasa persatuan adalah pemersatu suku bangsa, yaitu pemersatu suku, agama, rasa
dan antar golongan (SARA) bagi suku bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Fungsi pemersatu ini (heterogenitas/kebhinekaan) sudah dicanangkan dalam Sumpah
Pemuda 28 Oktober 1928.

Bahasa Nasional
Bahasa Nasional adalah fungsi jati diri Bangsa Indonesia bila berkomunikasi pada dunia
luar Indonesia. Fungsi bahasa nasional ini dirinci atas bagian berikut:
1.Lambang kebanggaan kebangsaan Indonesia
2.Identitas nasional dimata internasional
3.Sarana hubungan antarwarga, antardaerah, dan antar budaya, dan
4. Pemersatu lapisan masyarakat: sosial, budaya, suku bangsa, dan bahasa.

Bahasa negara
Bahasa negara adalah bahasa yang digunakan dalam administrasi negara untuk berbagai
aktivitas dengan rincian berikut:
1. Fungsi bahasa sebagai administrasi kenegaraan,
2. Fungsi bahasa sebagai pengantar resmi belajar di sekolah dan perguruan tinggi,
3. Fungsi bahasa sebagai perencanaan dan pelaksanaan pembangunan bagai negara
Indonesi sebagai negara berkembang
4. Fungsi bahsa sebagai bahasa resmi berkebudayaan dan ilmu teknologi (ILTEK)

Bahasa Baku
Bahasa baku (bahasa standar) merupakan bahasa yang digunakan dalam pertemuan
sangat resmi. Fungsi bahasa baku itu berfungsi sebagai berikut:
1. Pemersatu sosial, budaya, dan bahasa,
2. Penanda kepribadian bersuara dan berkomunikasi,
3. Penambah kewibawaan sebagai pejabat dan intelektual,
4. Penanda acuan ilmiah dan penuisan tulisan ilmiah.
Keempat posisi atau kedudukan bahasa Indonesia itu mempunyai fungsi keterkaitan
antar unsur. Posisi dan fungsi tersebut merupakan kekuatan bangsa Indonesia dan
merupakan jati diri Bangsa Indonesia yang kokoh dan mandiri.
Dengan keempat posisi itu, bahasa Indonesia sangat dikenal di mata dunia, khususnya tingkat
regional ASEAN, dengan mengedepankan posisi dan fungsi bahaasa Indonesia,
eksistensi bahasa Indonesia diperkuat dengan latar belakang sejarah yang runtut dan
argumentatif.

http://roisah.weebly.com/fungsi-dan-kedudukan-bahasa-indonesia.html
PROBLEMATIK NAHASA INDONESIA DARI SEGI FONOLOGI

. Analisis Kesalahan Berbahasa dari Segi Fonologi


Fonologi dalam bahasa adalah salah satu bidang dalam linguistik yang menyelidiki
tentang bunyi-bunyi dalam bahasa menurut fungsinya. Kesalahan berbahasa dari segi
fonologi adalah kesalahan berbahasa yang diperoleh dari kesalahan pengucapan bunyi-bunyi
bahasa yang dihasilkan oleh dari alat ucap manusia, serta kesalahan yang diperoleh dari
karena perbedaan penangkapan makna.
Kesalahan berbahasa yang dihasilkan karena kesalahan pengucapan manusia, jika dilihat
dari ada tidaknya rintangan terhadap arus udara, bunyi bahasa dapat dibadakan menjadi 2
(dua) kelompok, yaitu vokal dan konsonan. Vokal adalah pada pembentukan vokal bunyi
bahasa yang arus udaranya tidak mengalami rintangan dan kualitasnya ditentukan oleh tiga
faktor, yaitu : tinggi rendahnya posisi lidah, bagian lidah yang dinaikkan, dan bentuk bibir
pada pembentukan vokal itu.
1. Pada vokal
Kesalahan pengucapan pada vokal biasanya terdapat pada perbedaan cara pengucapan
oleh penutur bahasa antar daerah (logat/dialek) yang sudah menjadi kebiasaan dengan cirri
khasnya masing-masing, baik dari tekanan, intonasi, serta panjang pendeknya bunyi yang
membangun aksen yang berbeda-beda.
Pada vokal e, terkadang disebut dengan è atau é.
Contohnya, kata “pilek”. Orang yang berkebudayaan Jawa akan mengatakan kata “pilek”
sama halnya dengan bahasa Indonesia pada umumnya, namun terkadang terdapat kebudayaan
yang dialek/logatnya justru berbeda, seperti Sumatra, Flores, dan daerah luar jawa lainnya.

2. Pada konsonan
Kesalahan pengucapan pada konsonan sesuai dengan aslinya, konsonan dalam bahasa
Indonesia dapat dikategorikan berdasarkan 3 faktor, yakni : (1). Keadaan pita suara, (2).
Daerah artikulasi, dan (3). Cara artikulasi.
a. Keadaan Pita Suara
Karakteristik dari konsonan adalah diucapkan dengan saluran suara yang lebih konstriksi.
Ada konsonan yang diucapkan dengan saluran suara yang ditutup secara sesaat, yang lainnya
diucapkan dengan penutupan saluran suara pada titik-titik tertentu.
b. Daerah Artikulasi
Artikulasi atau pembentukan vokal, dimana udara yang berasal dari pernafasan melalui
pita suara dan kaviti-kaviti yang ada dibentuk menjadi suara yang dipakai untuk berbicara
dibantu oleh organ-organ bicara seperti bibir, lidah gigi dan sebagainya.
Artikulasi Vowel (Huruf Hidup). Karakteristik dari Vowel adalah diucapkan dengan saluran
suara yang terbuka (open vocal tract). Secara umum dapat dijelaskan dari posisi lidah, bibir
dan pharynx.
Artikulasi Konsonan (Huruf Mati). Karakteristik dari konsonan adalah diucapkan dengan
saluran suara yang lebih konstriksi. Ada konsonan yang diucapkan dengan saluran suara yang
ditutup secara sesaat, yang lainnya diucapkan dengan penutupan saluran suara pada titik-titik
tertentu.

c. Cara artikulasi
Kesulitan pada Artikulasi atau pengucapan, biasanya dapat dibagi menjadi: substitution
(penggantian), misalnya: rumah menjadi lumah, l/t; orrission (penghilangan), misalnya: sapu
menjadi apic, distortion (pengucapan untuk konsonan terdistorsi); indistinct (tidak jelas); dan
addition (penambahan).
Pada kasus ini, seseorang yang mengalami kesulitan artikulasi sehingga dikatakan melakukan
kesalahan dalam berbahasa, biasanya diberi sebutan “celat”.

PROBLEMATIKA BAHASA INDONESIA DARI SEGI MORFOLOGI

Analisis Kesalahan Berbahasa dari Segi Morfologi


Kesalahan berbahasa dari segi morfologi adalah kesalahan berbahasa yang terletak pada
ketidaktepatan pada bentuk-bentuk kata.
Pada analisis ini ada beberapa segi kesalahan dan memerlukan ralat/pembenaran, diantaranya
:
a. Kesalahan Pada Diksi (pemilihan kata)
Sebuah kata mengemban peran yang penting dalam sebuah kalimat/tuturan karena
arti atau makna sebuah kalimat dapat dibangun dengan pemilihan kata yang tepat. Apabila
terjadi kesalahan pemilihan kata maka akan terjadi pergeseran arti/ makna kalimat, tidak
sebagaimana diinginkan oleh penulisnya. Bagi pembaca, kesalahan tersebut akan
menimbulkan kesalahpaham atas arti/makna yang dimaksudkan penulis.
Kesalahan yang lakukan pada pemilihan kata meliputi (1) penggunaan kata yang
benar-benar tidak tepat untuk suatu konteks kalimat tertentu (2) penggunaan kata yang tidak
lazim dalam konteks masyrakat Indonesia (3) pengunaan sinonim kata yang tidak tidak
benar-benar tepat sebagaimana dituntut konteks kalimat tertentu (4) kerancuan dalam
penggunaan kata-kata yang mirip, seperti penggunaan ada dan adalah , mudah dan murah,
dsb. (5) penggunaan kata-kata yang merupakan hasil terjemahan secara harafiah dan (6)
kesalahan penggunaan kata terjemahan yang bersinonim, seperti kata to leave yang
terjemahan bahasa Indonesianya meninggalkan dan berangkat. Pasangan kata seperti inilah
yang sering dikacaukan dalam penggunaannya.
Beberapa kata yang kesalahan pemakaiannya cukup sering adalah kata ada yang
dikacaukan dengan kata adalah; penggunaan pronomina kita dengan kami (yang dalam
bahasa Inggris ‘us’); kata berangkat dengan kata meninggalkan; kata cara dengan kata
secara; kata tidak dengan kata bukan; kata ada dengan kata mempunyi. Beberapa contoh
kesalahan pembelajar dalam memilih kata di paparkan di bawah ini.
Contoh kesalahan pemilihan kata:
a) Situasi ini pusing untuk anak-anak dan bisa sangat mempengaruhi mereka.
b) Saya berbicara dengan sopir sambil naik. Dia ada sopir untuk enam tahun.
c) Adalah banyak penjual dan pembeli dalam pasar.
d) Kami berangkat SMA 3 kira-kira pada jam sepuluh malam.
e) Jam empat kami berangkat Hotel Radisson pergi ke Prambanan Temple.
f) Setelah itu bis mengambilkan kami ke tempat yang ramai.
g) Di Inggris masalah-masalah dengan disiplin sedang lebih jelek, misalnya kemangkiran dari
sekolah, kedatangan yang terlambat dan kekerasan.
h) Menurut tradisi, orang Batak adalah petani nasi tetapi pada waktu sekarang ekonomi Batak
sangat beruntung pada karet dan kopi. A

Alternatif pembenarannya:
a) Situasi ini membingungkan anak-anak dan sangat mempengaruhi mereka.
b) Saya berbicara dengan sopir ketika sudah di dalam taksi. Dia sudah menjadi sopir selama
enam tahun.
c) Ada banyak penjual dan pembeli di dalam pasar itu.
d) Kami meningglkan SMA 3 kira-kira pada jam sepuluh malam.
e) Pada jam empat, kami berangkat dari Hotel Radisson dan pergi ke Candi Prambanan.
f) Setelah itu, sopir bis mengantar kami ke tempat yang ramai.
g) Di Inggris, masalah disiplin lebih jelek, misalnya ketidakhadiran ke sekolah,
keterlambatan masuk sekolah dan kekerasan.
h) Menurut tradisi, orang Batak adalah petani padi, tetapi sekarang ekonomi masyarakat
Batak lebih baik dengan perkebunan karet dan kopi.

b. Kesalahan Penggunaan Afiks


Kesalahan penggunaan afiks me-, yang dapat dikacaukan dengan penggunaan afiks
di- . Hal ini juga berkaitan dengan bentuk aktif dan pasif yang akan diuraikan tersendiri.
Kesalahan lain yang intensitasnya juga cukup sering dilakukan adalah penggunaan afiks me-
yang dikacaukan pemakaiannya dengan afiks ber-. Afiks me- yang dikacaukan dengan
penggunaan verba bentuk dasar dan verba bentuk dasar + -i. Kesalahan lain yang intensitas
terjadinya relatif sering adalah penggunaan afiks me- yang dikacaukan dengan afiks me-....-
kan, afiks me-....-kan yang dikacaukan penggunaannya dengan afiks ber-, dan penggunaan
verba bentuk dasar yang dikacaukan pemakaiannya dengan afiks ber-.
Contoh kesalahan-kesalahan penggunaan afiks:
a) Saya nikmat perjalan di Indonesia.
b) Kalau orang tua perceraian, anaknya sering tinggal dengan ibunya.
c) Ketika saya membaca tentang perkelahian pelajar, saya mengherankan.
d) Kain batik paling terkenal di Australia dan sekarang saya tahu bagaimana batik membuat
menggunakan dua cara, batik cap dan batik tulis tangan.
e) Di Inggris guru-guru harus beruniversitas untuk tiga tahun kemudian mereka harus pergi ke
mengajar TCC (teacher training college) untuk satu tahun.
f) Lebih dari itu, Soeharto memperlihatkan menarik di Agama Islam.
g) Untuk menulis presentasi ini, saya dibicara dengan tiga orang.
h) Mungkin mayoritas orang Indonesia merasa kecemburuan kepada orang asing.
i) Dia menyuruh Kunto menyanyakan polisi.
j) Dalam karangan ini saya akan membicara tentang perbedaan keluarga di Yogyakarta atau
Jaaawa dan di Inggris.
Alternatif pembenarannya:
a) Saya menikmati perjalanan di Indonesia.
b)Kalau orang tua bercerai, anak-anaknya sering tinggal bersama ibunya.
c) Ketika saya membaca berita tentang perkelahian pelajar, saya heran.
d) Kain batik paling terkenal di Australia dan sekarang saya mengetahui cara membuat batik
yang menghasilkan dua jenis batik, batik cap dan batik tulis tangan.
e) Di Inggris, guru-guru harus belajar di universitas selama tiga tahun kemudian mereka harus
belajar di TCC (Teacher Training College) selama satu tahun.
f) Lebih dari itu, Soeharto memperlihatkan ketertarikannya pada Agama Islam.
g)Untuk menulis presentasi ini, saya berbicara dengan tiga orang.
h)Mayoritas orang Indonesia merasa cemburu kepada orang asing.
i) Dia menyuruh Kunto bertanya kepada polisi.
j) Dalam karangan ini, saya akan membicarakan perbedaan keluarga di Yogyakarta atau
Jawa dengan keluarga di Inggris

c. Kesalahan Urutan Kata


Urutan kata dimaksudkan sebagai susunan kata untuk membentuk tataran yang lebih
tinggi. Dalam bahasa Indonesia, pada umumnya, sesuatu yang diterangkan berada di depan
yang menerangkan. Namun demikian, sering terjadi kesalahan dalam urutan ini. Dari hasil
analisis data penelitian ini, ada 74 kesalahan dalam hal urutan kata. Para pembelajar
melakukan pembalikan atas urutan kata sebagaimana terlihat dalam beberapa contoh di
bawah ini.
Contoh kesalahan dalam urutan kata:
(1) Hari ini, menarik hari.
(2) Keluarga adalah sosial kesatuan yang paling penting bagi orang Batak Toba.
(3) Bernama ini ‘Ngelangkahi’.
(4) Kadang-kadang orang yang datang baru menjadi terkejut, mereka harap memenuhi mimpi
mereka.
(5) Jamu saset belum komplit harus dicampur dengan lain bahan-bahan seperti beras kencur,
anggur merah, madu, dll.
(6) Pada tanggal 16 September setulisan di halaman sembilan memberi kesan bahwa musik
pendidikan memerlukan sebagai dasar baik sekali untuk humaniora.
(7) Bentuk kedua di polusi datang dari industri.
(8) Mayoritas orang-orang saya dengan berbicara adalah sopir taksi dan juga tetangga saya di
desa saya.
(9) Terbang itu dipasang oleh British Aerospace pegawai dari onderdil dari Indonesia.
(10) Dia diajarkan SMA curikulum yang sama-sama di semua sekolah.

Alternatif pembenarannya:
(1) Hari ini adalah hari yang menarik.
(2) Keluarga adalah kesatuan sosial yang paling penting bagi orang Batak Toba.
(3) Ini bernama ‘Ngelangkahi’.
(4) Kadang-kadang, orang yang baru datang menjadi terkejut karena mereka berharap mimpi
mereka terpenuhi.
(5) Jamu saset yang belum komplit harus dicampur dengan bahan-bahan lain seperti beras
kencur, anggur merah, madu, dll.
(6) Pada tanggal 16 September, sebuah tulisan di halaman sembilan memberi kesan bahwa
pendidikan musik diperlukan sebagai dasar yang baik untuk pendidikan humaniora.
(7) Kedua bentuk polusi ini berasal dari industri.
(8) Mayoritas orang-orang yang berbicara dengan saya adalah sopir taksi dan juga tetangga
saya di desa.
(9) Pesawat terbang itu dirakit oleh pegawai British Aerospace dengan onderdil dari Indonesia.
(10) Dia mengajar sesuai dengan Kurikulum SMA yang sama di setiap sekolah.
http://suryaekasetiawan.blogspot.com/2011/05/kesalahan-kesalahan-berbahasa-
indonesia.html
PTOBLEMATIKA BAHASA INDONESIA DARI SEGI SINTAKSIS

1. Pengertian Analisis Kesalahan Berbahasa Dalam Bidang Sintaksis

Menurut Sofa (2008) bahwa Kesalahan sintaksis adalah kesalahan atau penyimpangan
struktur frasa, klausa, atau kalimat, serta ketidaktepatan pemakaian partikel. Analisis
kesalahan dalam bidang tata kalimat menyangkut urutan kata, kepaduan, susunan frase,
kepaduan kalimat, dan logika kalimat (Lubis Grafura : Untuk dapat menyusun kalimat yang
baik, kita harus menguasai kaidah tata kalimat (sintaksis). Hal ini disebabkan tata kalimat
menduduki posisi penting dalam ilmu bahasa.
Kalimat adalah serangkaian kata yang tersusun secara bersistem sesuai dengan kaidah yang
berlaku untuk mengungkapkan gagasan, pikiran, atau perasaan yang relatif lengkap
(Werdiningsih, 2006:77-79) dalam (Budi Santoso). Kesatuan kalimat dalam bahasa tulis
dimulai dari penggunaan huruf kapital pada awal kalimat dan diakhiri dengan penggunaan
tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru pada akhir kalimat. (Werdiningsih, 2006:78) dalam
(Budi Santoso) mengungkapkan bahwa sebuah kalimat dikatakan efektif jika dapat
mendukung fungsinya sebagai alat komunikasi yang efektif. Maksudnya bahwa kalimat
tersebut mampu mengungkapkan gagasan, pikiran, dan gagasan secara jelas sehingga
terungkap oleh pembaca sebagaimana diinginkan.

Menurut Arifin (2001: 116) sebuah kalimat hendaknya berisikan suatu gagasan atau ide. Agar
gagasan atau ide sebuah kalimat dapt dipahami pembaca, fungsi bagian kalimat yang meliputi
subjek, predikat, objek, dan keterangan harus tampak dengan jelas (eksplisit). Di samping
unsur eksplisit kalimat harus dirakit secara logis dan teratur.

Pateda (1989 : 58) menyatakan bahwa kesalahan pada daerah sintaksis berhubungan erat
dengan kesalahan pada morfologi, karena kalimat berunsurkan kata-kata itu sebabnya daerah
kesalahan sintaksis berhubungan misalnya dengan kalimat yang berstruktur tidak baku,
kalimat yang ambigu, kalimat yang tidak jelas, diksi yang tidak tepat yang menbentuk
kalimat, kalimat mubazir, kata serapan yang digunakan di dalam kalimat dan logika kalimat.

1. B. Analisis Kesalahan Berbahasa Dalam Bidang Sintaksis Berdasarkan Jenis


Keterampilannya (Menyimak, Membaca, Menulis Dan Membaca)

Menurut Sungkar Kartopati (2010) dalam pembelajaran bidang sintaksis terdapat 4 aspek
yang berhubungan dengan analisis kesalahn berbahasa, yaitu :

1. 1. Pembelajaran Sintaksis dalam mendengarkan.

Kalimat merupakan satuan kata yang mengandung gagasan yang menjadi pokok yang
didengar. Dari kegiatan mendengarkan tersebut respon atau tanggapan yang diharapkan dapat
berupa aspek keterampilan yang bersifat produktif misalnya menulis atau berbicara. Dalam
kegiatan atau sesuatu yang didengar tersebut diharapkan si pendengar dapat menyimpulkan
sesuatu yang didengar dalam kalimat yang benar pula. Sebagai contoh dalam sebuah Tujuan
Pembelajaran dijelaskan bahwa hasil yang diharapkan adalah siswa mampu menyimpulkan
isi berita dari bahan dengaran ke dalam beberapa kalimat dan menuliskan kembali berita yang
dari bahan dengaran dalam beberapa kalimat.

Untuk dapat mencapai tujuan tersebut siswa tentu saja harus mempunyai pengetahuan yang
cukup tentang kalimat dan unsur-unsur pembentuknya. Bagaimana membuat kalimat yang
efektif dan mudah dipahami oleh orang lain. Untuk mengajarkan kalimat kepada siswa guru
dapat menggunakan menggunakan metode-metode yang komunikatif dan melibatkan siswa
secara langsung dalam membuat atau menganalisis kalimat.

1. 2. Pembelajaran Sintaksis dalam Berbicara

Kecermatan dalam menyusun kalimat merupakan syarat bagi siswa ketika berbicara agar
gagasan atau ide yang ingin disampaikan dapat dipahami oleh pendengar dengan baik.
Pengetahuan tentang seluk beluk kalimat, baik jenis kalimat maupun keefektifan dalam
menyusun sebuah kalimat sangatlah perlu. Bentuk kalimat adalah segi sintaksis yang
berhubungan dengan cara berpikir logis, yaitu prinsip kausalitas yang menanyakan apakah A
menjelaskan B, ataukah B yang menjelaskan A. Logika kausalitas ini kalau diterjemahkan ke
dalam kalimat menjadi susunan subjek (yang menerangkan) dan predikat (yang diterangkan).
Bentuk kalimat ini bukan hanya menyangkut persoalan teknis kebenaran tata bahasa, tetapi
juga menentukan makna yang dibentuk oleh susunan kalimat.
Dalam kalimat yang berstruktur aktif, seseorang menjadi subjek dari pernyataannya,
sedangkan dalam kalimat pasif seseorang menjadi objek dari pernyataannya. Contoh kasus
seoarang guru yang sedang menasihati siswa dapat disusun ke dalam bentuk kalimat pasif
juga aktif. Kalimat guru menasehati siswa menempatkan guru sebagai subjek. Dengan
menempatkan guru di awal kalimat, memberi klarifikasi atas kesalahan siswa. Sebaliknya
kalimat siswa dinasehati guru, guru ditempatkan tersembunyi. Makna yang muncul dari
susunan kalimat ini berbeda karena posisi sentral dalam kedua kalimat ini adalah guru.
Struktur kalimat bisa dibuat aktif atau pasif, tetapi umumnya pokok yang dianggap penting
selalu ditempatkan diawal kalimat.

1. 3. Pembelajaran Sintaksis dalam Membaca

Sintaksis merupakan tataran gramatikal sesudah morfologi. Untuk Kalimat-kalimat yang


dirangkai hingga membentuk wacana harus dapat dipahami oleh siswa sehingga siswa dapat
memahami sebuah tulisan melalui kegiatan membaca. Oleh karena itu, pengetahuan tentang
kalimat perlu diberikan kepada siswa, melalui keterampilan bahasa lainnya.

1. 4. Pembelajaran Sintaksis dalam Menulis

Sintaksis atau tata kalimat yang mewajibkan siswa untuk dapat menyusun kalimat secara
efektif dan mudah dipahami. Dalam pelaksanaan pembelajaran siswa seringkali mengalami
kesulitan dalam membuat kalimat sehingga menimbulkan kesalahan-kesalahan yang
menyebabkan gagasan yang ingin disampaikan tidak dapat dipahami oleh pembaca. Siswa
membuatnya menjadi Hasil dari pada pembangunan harus kita nikmati, secara langsung guru
pasti akan melihat pada kesalahan penggunaan kata daripada. Sintaksis dalam pembelajaran
menulis dapat dikemas dalam berbagai teknik pembelajaran yang menarik, misalnya dengan
menulis berantai, yaitu guru memberikan satu kalimat pembuka dan siswa diminta untuk
melanjutkan kalimat tersebut, selain itu untuk menulis cerita guru dapat meminta siswa
membuat paragraf pembuka atau penutup. Dengan demikian siswa akan tertarik untuk
menulis.

1. 5. Berbagai contoh kalimat yang salah serta analisisnya

 “Kesalahan orang itu yaitu ialah mencuri”

Membaca kalimat diatas pasti kita mengatakan bahwa kalimat itu salah. Kalimat tersebut
berbunyi “ Kesalahan orang itu yaitu ialah mencuri “. Poerwadarminta (1976:367) dalam
Pateda (1989 : 60) menyatakan bahwa kata “ialah” bermakna “yaitu”, dan kata “yaitu”
bermakna “ialah”. Dengan demikian kalimat diatas dapat diperbaiki menjadi :

“Kesalahan orang itu ialah mencuri”

“Kesalahan orang itu yaitu mencuri”

 “ Para sodara jamaah pengajian sekalian yang kita hormati,….. Kita bersyukur kepada
para pelantara agama yang mana pada beliau-beliau itu begitu gigih memperjuangkan
agama….”

Kita lihat kesalahan yang sering kita jumpai ini adalah kerancuan atau gejala pleonasme
dalam penjamakan. Kata / para / yang sudah menunjukkan lebih dari satu sering digabungkan
dengan kata / sekalian / atau diulang misalnya / para pengurus-pengurus, para bapak-bapak,
dan sebagainya yang sudah sama-sama bermakna banyak. Demikian pula akhiran asing /-in /
pada kata hadirin, ini juga sudah menandakan banyak. Kesalahan serupa sering kita simak
misalnya pada saat ada pertunjukkan hiburan di lapangan, pembawa acara menyambut
penampilan penyanyi idola mereka dengan ucapan “ Baiklah para hadirin sekalian, kita
sambut penyanyi kesayangan kita…..” Bentuk yang benar adalah para hadir ( tetapi kurang
baik, kurang lazim ), sehingga bentuk yang baik dan benar adalah cukup hadirin atau
ditambah dengan kata sifat yang berbahagia. Dalam pengajian bisa menggunakan sapaan
Hadirin yang berbahagia, Bapak/ Ibu sekalian, Bapak/ Ibu/ Saudara sekalian yang saya
hormati, Saudara-saudara yang berbahagia, Para Saudara jamaah pengajian yang berbahagia
atau yang mengharap rida Allah, yang dimulyakan Allah, dan sebagainya. Bentuk sapaan
sodara dalam pengucapan memang alih-alih menjadi bunyi / o /, padahal dalam penulisan dan
juga pelafalan yang tepat adalah saudara ( secara etimologi berasal dari bahasa Sansekerta
yakni / sa / yang berarti satu dan / udara / yang berarti perut, jadi artinya adalah satu perut
atau berasal dari satu perut ibu seperti kakak, adik. Lama-kelamaan kata itu meluas
penggunaanya. Demikian pula kata / ibu /, / bapak / yang dialamatkan hanya pada lingkungan
keluarga saja (Inta Sahrudin : 2008)