Anda di halaman 1dari 12

Anatomi, Histologi dan Fisiologi dari

Usus halus, Usus besar dan Appendix

Erwin Ramandei
Kelompok III / QBD 2

I. Pendahuluan
Fungsi utama dari sistem pencernaan adalah untuk mentransfer nutrisi, air, dan elektrolit dari
makanan yang kita makan ke lingkungan internal tubuh. Makanan yang dicerna sangat penting sebagai
sumber energi, atau bahan bakar, dari mana sel-sel dapat menghasilkan ATP untuk melakukan aktivitas
yang bergantung pada energi tertentu, seperti transportasi aktif, kontraksi, sintesis, dan sekresi.
Makanan juga merupakan sumber bahan bangunan untuk pembaruan dan penambahan jaringan tubuh.
Tindakan makan tidak secara otomatis membuat molekul organik yang terbentuk sebelumnya dalam
makanan tersedia bagi sel-sel tubuh sebagai sumber bahan bakar atau sebagai bahan pembangun.
Makanan pertama-tama harus dicerna, atau dipecah secara biokimiawi, menjadi molekul-molekul kecil
dan sederhana yang dapat diserap dari saluran pencernaan ke dalam sistem peredaran darah untuk
didistribusikan ke sel-sel. Biasanya, sekitar 95% dari makanan yang dicerna tersedia untuk digunakan
tubuh.
Dengan demikian, urutan dalam perolehan nutrisi adalah konsumsi, pencernaan, penyerapan,
distribusi, dan penggunaan. Kami pertama-tama akan memberikan gambaran umum tentang sistem
pencernaan, memeriksa fitur-fitur umum dari berbagai komponen sistem, sebelum kita memulai tur
terperinci dari saluran tersebut dari awal hingga akhir.1

II. Pembahasan
Pemicu QBD II: Nyeri perut tidak mau hilang
Seorang wanita, 22 tahun, datang ke IGD dengan keluhan utama nyeri perut sejak 6 jam SMRS. Nyeri
perut mulanya dirasakan di daerah ulu hati lalu saat ini lebih dirasakan di daerah perut kanan bawah.
Keluhan disertai mual muntah. Adanya diare disangkal. Riwayat penyakit dahulu tidak ada yang
bermakna. Pasien bekerja di perusahaan swasta yang sedang menanjak usahanya sebagai sekretaris dan
sering tugas keluar kota mendampingi direksi. Dari pemeriksaan fisik didapatkan TD 110/70 mmHg,
Nadi 98/menit, Suhu 37,8 C, Pernafasan 20x/menit. Pemeriksaan abdomen didapatkan nyeri tekan pada
daerah kanan bawah, didapatkan pula nyeri perut positif dengan penekanan pada daerah perut kiri.
Pemeriksaan fisik lain dalam batas normal.
Pemeriksaan Laboratorium: Hb 9,8 gram/dL; Leukosit 11.500 sel/ mm3; Trombosit 478.000 sel/ mm3.
Test Hcg: negatif.
Pertanyaan:
1. Jelaskan anatomi dan histologi usus halus, appendik dan usus besar!
2. Jelaskan fisiologi usus halus, appendik dan usus besar!

1
A. Anatomi usus halus dan usus besar
Usus kecil memiliki panjang6-8 meter dan terdiri dari 2/3 bagian jejunum dan 1/3 bagian
ileum. Intestinum tenue terletak intraperitoneal dan berkelok-kelok. Jejunum mengisi rongga perut
kiri atas sedangkan ileum mengisi rongga perut kanan bawah. Besarnya jejunum kearah ileum makin
mengecil. Intestinum tenue berhubungan dengan dinding belakang perut melalui lipatan peritoneum
yang di sebut mesostenium, mulai dari flexura duodenojejunalis setinggi vertebra L2 berjalan kearah
kanan miring ke bawah , menyilangi garis tengah setinggi vertebra L3 di depan pars inferior duodeni
dab V.cava inferior , berakhir ke bawah pada fossa iliaca dextra di depan articulation sacroiliaca.
Fungsi usus halus ialah untuk mengakhiri proses pencernaan makanan yang di mulai dimulut dan
dilambung. Proses ini diselesaikan oleh enzim usus dan enzim pankreas serta di bantu empedu dalam
hati.
Pendarahan:
Arteri:
- Aa.jejunales et ilei: Arteri ini merupakan cabang dari A.mesenterica superior yang saling
beranastomosis dan memberikan cabang-cabang lurus ( vasa Rectae) dan cabang lengkung
(arcade). Arteri ini berjumlah 15-18 buah, dimana pada jejunum arcadenya setingkat dan vasa
rectanya panjang, sedangkan pasa ileum arcadenya bertingkat dan vasa rectanya pendek.

Vena:
- Darah dari Vv. Jejunales et ilei akan di alirkan ke dalam v.mesenterica superior.
V. mesentrica superior terletak depan a.mesenterica superior di dalam radix mesenterii dan
berakhir di belakang collum pancreatic.2,3

Duodenum
Tunika mukosa diliputi epitel selapis torak yang mempunyai mikrovil (brush borders). Di
antara sel epitel ada sel goblet yang jumlahnya di sini belum begitu banyak. Tunika mukosa
membentuk vilus intestinalis yang gemuk-gemuk. Lamina propira terdapat di bawah epitel vilus
intestinalis maupun di sekitar kriptus Lieberkuhn. Di dasar kriptus dapat ditemukan sel Paneth, suatu
sel berbentuk kerucut dengan puncaknya menghadap lumen. Di dalam sitoplasmanya terdapat
granula kasar berwarna merah. Tunika muskularis mukosa tidak ikut membentuk vilus intestinal.
Lapisan ini sering terlihat terpenggal-penggal karena ditembusi perluasan massa kelenjar Brunner.
Tunika submukosa dipenuhi kelenjar Brunner. Tunika mukosa dan submukosa bersama-
sama membentuk plika sirkularis Kerckringi. Artinya, pada stiap plika sirkularis terdapat banyak
vilus intestinalis. Pleksus submukosus Meissneri juga dapat ditemukan di sini. Tunika muskularis
sirkularis dan longitudinalis, diantaranya terdapat pleksus mienterikus Auerbachi. Tunika adventisia
berupa jaringan ikat jarang. Tunika mukosa. Pada pylorus, epitelnya selapis torak dan pada
duodenum epitelnya juga selapis torak tetapi sudah mulai terdapat sel goblet di antara sel-sel

2
epitelnya. Pada pylorus terdapat foveola gastrika, sedangkan pada duodenum terdapat vilus
intestinali. Pada pylorus terdapat kelenjar pylorus di dalam lamina propria, sedangkan pada
duodenum terdapat kriptus Lieberkuhn, berupa kelenjar tubulosa simpleks. Dadang pada lamina
propria tampak nodulus limfatikus.
Tunika submukosa. Pada pylorus tidak terdapat kelenjar, sedangkan di duodenum dipenuhi
kelenjar Brunner yang merupakan kelenjar tubulosa bercabang dan bergelung dan bersifat
mukosa.Tunika muskularis. Pada pylorus, tunika muskularis sirkularis tebal,sedangkan di
duodenum biasa. Tunika muskularis longitudinalis gambarannya sama padakeduannya. Tunika
serosa/adventisia. Sama seperti lambung. 2,3

Gambar 8. Histologi duodenum

Bagian Jejenum
Tunika mukosa jejunum gambarannya mirip duodenum tetapi vilus intestinalisnya lebih langsing
dan sel gobletnya lebih banyak. Sel paneth lebih mudah dikenali. Tunika submukosa di sini tidak
mengandung kelenjar. Hanya terdiri atas jaringan ikat jarang dengan pleksus Meissneri di
dalamnya. Lapisan ini juga ikut membentuk plika sirkularis Kerckringi. Tunika muskularis
susunannya sama seperti duodenum. Tunika serosa berupa jaringan ikat jarang. 2,3

Gambar 9. Histologi Jejenum

3
Bagian Ileum
Tunika mukosa mirip dengan jejunum, tetapi sel goblet jauh lebih banyak. Di dalam lamina
propria terdapat kelompokan nodulus limfatikus yang membentuk bangunan khusus disebut plaque
Peyeri. Kelompokan nodulus limfatikus ini sering terlihat meluas ke dalam tunika submukosa
sehingga sering menjadikan tunika muskularis mukosa terpenggal-penggal.
Tunika submukosa terdiri atas jaringan ikat jarang dengan pleksus Meissneri di dalamnya.
Di sini juga tidak terdapat kelenjar. Plika sirkularis Kerckringi tampak lebih pendek disbanding yang
terdapat pada duodenum maupun jejunum. Tunika muskularis, gambarannya sama seperti
duodenum dan jejunum. Tunika serosa juga terdiri atas jaringan ikat jarang. 2,3

Gambar 10. Histologi ileum

Usus Besar (Intestinum Crassum)


Intestinum crassum terdiri dari caecum, appendix vermiformis, colon, rectum, dan canalis
analis. Intestinum crassum dapat dibedakan dengan intestinum tenue karena adanya:
- Tiga lapis otot yang menebal, dikenal sebagai taenia coli.
- Sakulasi dinding intestinum crassum antara taenia coli, disebut haustra.
- Kantong omentum yang kecil, berisi lemak, disebut appendices epiploica (omentales).
Caecum adalah bagian pertamaintastinum crassum dan beralih menjadi colon ascendens.
Caecum terletak dalam kuadran kanan bawah, yakni dalam fossa iliaca.2 Caecum tidak memiliki
mesenterium. Ileum memasuki caecum secara miring dan untuk sebagian menyembul ke dalamnya
dengan membentuk sebuah labium superius dan labium inferius yang membentuk valve ileocaecalis
dan mengantar ke ostium valvae ileocaecalis.2 Pembuluh nadi caecum adalah aa. ileocolica.
Pembuluh balik caecum adalah v. ileocolica. Pembuluh limfe caecum adalah nodi lymphoidei
ileocolici. Persarafan caecum untuk simpatis dan parasimpatis adalah plexus mesenterica superior.
Colon terbagi menjadi 4 bagian yaitu:
- Colon Ascendens

4
Melintas dari caecum ke arah cranial pada sisi kanan cavitas abdominalis kea rah hepar, dan
membelok ke kiri sebagai flexura coli dextra. Pembuluh nadi colon ascendens adalah aa.
ileocolica dan a. colica dextra. Pembuluh balik colon ascendens adalah v. ileocolica dan v.
colica dextra. Pembuluh limfe colon ascendens adalah nodi lymphoidei paracolici, nodi
lymphoidei epiploici, dan nodi lymphoidei mesenterici superiores. Persarafan colon ascendens
adalah plexus mesentericus superior.
- Colon Transversum
Bagian intestinum crassum terbesar. Bagian ini melintas abdomen dari flexura coli dextra ke
flexura coli sinistra, dan di sini membelok ke arah kaudal menjadi colon descendens, dan di
sini membelok ke arah caudal menjadi colon descendens. Pembuluh nadi colon transversum
adalah a. colica media, a. colica dextra, dan a. colica sinistra. Pembuluh balik colon transversum
adalah v. mesenterica superior. Pembuluh limfe colon transversum adalah nodi lymphoidei
colici medii. Persarafan colon transversum adalah plexus mesentericus inferior.
- Colon Descendens
Colon descendens melintas retroperitoneal dari flexura coli sinistra ke fossa iliaca sinistra dan
disini beralih menjadi colon sigmoideum.2 Pembuluh nadi colon descendens adalah aa.colica
sinistra dan aa. sigmoidea superior. Pembuluh balik colon descendens adalah v. mesenterica
inferior. Pembuluh limfe colon descendens adalah nodi lymphoidei colici medii. Persarafan
colon descendens adalah plexus hypogastricus superior (simpatis) dan nn. splanchnici pelvic
(parasimpatis).
- Colon Sigmoideum
Colon sigmoideum meluas dari tepi pelvis sampai segmen sacrum ketiga, untuk beralih menjadi
rectum. Pembuluh nadi colon sigmoideum adalah aa.sigmoidale. sedanggkan pembuluh balik,
pembuluh limfe dan saraf sama dengan colon descendens. Sebagian penyerapan berlangsung
di dalam colon, tetapi dalam tingkatan yang lebih rendah daripada di intestinum tenue. Colon
dalam keadaan normal menyerap garam dan H2O. melalui absorbsi ini maka terbentuk massa
tinja (feces) yang padat. 2,3

B. Histologi
Terdapa empat lapisan utama saluran pencernaan adalah (1) mukosa, (2) submukosa, (3)
muscularis externa, dan (4) serosa. Struktur lapisan ini bervariasi berdasarkan wilayah. Gambar 24–
3 adalah pandangan komposit. Ini paling menyerupai usus kecil, segmen terpanjang dari saluran
pencernaan.
a. Mukosa
Lapisan dalam, atau mukosa, saluran pencernaan adalah selaput lendir. Ini terdiri dari
epitel, dibasahi oleh sekresi kelenjar, dan lamina propria dari jaringan areolar. Epitel
Pencernaan. Epitel mukosa sederhana atau bertingkat, tergantung pada lokasi dan tekanan yang

5
diletakkan di atasnya. Tekanan mekanis paling parah di rongga mulut, faring, dan
kerongkongan. Struktur ini dibatasi oleh epitel skuamosa berlapis. Sebaliknya, lambung, usus
kecil, dan hampir seluruh panjang usus besar (tempat penyerapan terjadi) memiliki epitel
kolumnar sederhana yang mengandung sel-sel mukosa. Tersebar di antara sel-sel kolumnar
adalah sel-sel enteroendokrin. Mereka mengeluarkan hormon yang mengkoordinasikan
aktivitas saluran pencernaan dan kelenjar aksesori.
Lapisan saluran pencernaan muncul sebagai lipatan memanjang, yang menghilang saat
saluran terisi. Lapisan juga memiliki lipatan melintang permanen yang disebut lingkaran
lipatan, atau plicae (PLI.-se;; folds). Pelipatan meningkatkan luas permukaan yang tersedia
untuk penyerapan. Sekresi sel-sel kelenjar di mukosa dan submukosa — atau di organ kelenjar
tambahan — dibawa ke permukaan epitel melalui saluran. 2-4

b. Lamina Propria
Lamina propria adalah lapisan jaringan areolar yang juga mengandung pembuluh darah,
ujung saraf sensorik, pembuluh limfatik, sel otot polos, dan jaringan limfatik yang tersebar.
Dalam rongga mulut, faring, kerongkongan, lambung, dan duodenum (bagian proksimal dari
usus kecil), lamina propria juga mengandung sel sekresi kelenjar lendir.
Di sebagian besar area saluran pencernaan, lamina propria mengandung selaput tipis otot
polos dan serat elastis. Lembaran ini disebut muscularis (mus-ku. -LAIR-is) mukosa (mu. -KO.
-Se.). Sel-sel otot polos di mukosa muskularis disusun dalam dua lapisan konsentris. Lapisan
dalam melingkari lumen (otot melingkar), dan lapisan luar berisi sel-sel otot yang tersusun
sejajar dengan sumbu panjang saluran (lapisan longitudinal). Kontraksi pada lapisan-lapisan ini
mengubah bentuk lumen dan memindahkan lipatan dan lipatan epitel. 2-4

c. Submukosa
Submukosa adalah lapisan jaringan ikat padat tidak beraturan yang mengikat mukosa ke
muscularis externa. Submukosa memiliki banyak pembuluh darah dan pembuluh limfatik. Di
beberapa daerah itu juga mengandung kelenjar eksokrin yang mengeluarkan buffer dan enzim
ke dalam lumen saluran pencernaan. Sepanjang margin luarnya, submukosa berisi jaringan
serabut saraf intrinsik dan neuron yang tersebar. Jaringan ini adalah pleksus submukosa, atau
pleksus Meissner. Ini mengandung neuron sensorik, neuron ganglion parasimpatis, dan serat
postganglionik simpatik yang menginervasi mukosa dan submukosa. 2-4

d. Muscularis Externa
Pleksus submukosa terletak di sepanjang batas dalam muskularis eksterna, juga disebut
muskularis. Sel otot polos mendominasi wilayah ini. Seperti sel-sel otot polos pada mukosa
muskularis, sel-sel di muskularis eksterna disusun dalam lapisan melingkar dalam dan lapisan

6
longitudinal luar. Lapisan-lapisan ini memainkan peran penting dalam pemrosesan mekanis dan
dalam memindahkan material di sepanjang saluran pencernaan.
Pergerakan saluran pencernaan dikoordinasikan terutama oleh neuron sensorik,
interneuron, dan neuron motorik dari sistem saraf enterik (ENS). ENS terutama dipersarafi oleh
divisi parasimpatis ANS. Serabut postganglionik simpatik juga bersinaps di sini. Banyak dari
serat-serat ini terus maju untuk menginervasi mukosa dan pleksus myenteric (mi-en-TER-ik)
(mys, otot + enteron, usus), atau pleksus Auerbach. Pleksus ini adalah jaringan ganglia
parasimpatis, neuron sensorik, interneuron, dan serat postganglionik simpatik. Itu terletak di
antara lapisan otot melingkar dan longitudinal. Secara umum, stimulasi parasimpatis
meningkatkan tonus dan aktivitas otot. Stimulasi simpatik menurunkan tonus otot dan aktivitas.
2-4

e. Serosa
Selaput serosa yang dikenal sebagai serosa menutupi muscularis externa di sepanjang
sebagian besar saluran pencernaan di dalam rongga peritoneum. Tidak ada serosa yang
menutupi muskularis eksterna rongga mulut, faring, esofagus, dan rektum. Sebagai gantinya,
jaringan padat serat kolagen dengan kuat menempelkan saluran pencernaan ke struktur yang
berdekatan. Selubung berserat ini disebut adventitia (ad-ven-TISH-uh). 2-4

C. Fisiologi usus halus dan usus besar


Pada dasarnya ada empat proses pencernaan dasar: motilitas, sekresi, pencernaan, dan penyerapan.
1. Motilitas
Istilah motilitas mengacu pada kontraksi otot yang mencampur dan memajukan isi
saluran pencernaan. Meskipun otot polos di dinding saluran pencernaan adalah otot polos fasik
yang menunjukkan ledakan kontraksi yang diinduksi aksi, ia juga mempertahankan tingkat
kontraksi rendah yang konstan yang dikenal sebagai nada. Nada penting dalam menjaga
tekanan stabil pada isi saluran pencernaan serta mencegah dindingnya tetap meregang secara
permanen mengikuti distensi. Dua tipe dasar motilitas pencernaan fasik ditumpangkan pada
aktivitas tonik yang sedang berlangsung ini: gerakan propulsi dan gerakan pencampuran.
Gerakan propulsive mendorong atau mendorong konten ke depan melalui saluran pencernaan,
dengan laju propulsi bervariasi tergantung pada fungsi yang dilakukan oleh daerah yang
berbeda. Artinya, konten dipindahkan ke depan dalam segmen tertentu dengan kecepatan yang
sesuai untuk memungkinkan segmen itu melakukan tugasnya. Misalnya, transit makanan
melalui kerongkongan sangat cepat, yang sesuai karena struktur ini hanya berfungsi sebagai
jalan dari mulut ke perut. Sebagai perbandingan, di usus kecil — tempat utama pencernaan dan
penyerapan — isinya bergerak maju perlahan, memberikan waktu untuk pemecahan dan
penyerapan makanan. Gerakan pencampuran melayani fungsi dua kali lipat. Pertama, dengan

7
mencampur makanan dengan jus pencernaan, gerakan ini meningkatkan pencernaan makanan.
Kedua, mereka memfasilitasi penyerapan dengan memaparkan semua bagian isi usus ke
permukaan yang menyerap dari saluran pencernaan.
Kontraksi otot polos di dalam dinding organ pencernaan menghasilkan pergerakan
material melalui sebagian besar saluran pencernaan. Pengecualian ada di ujung saluran —
mulut melalui bagian awal kerongkongan di awal dan sfingter anal eksternal di ujung — di
mana motilitas melibatkan otot rangka daripada aktivitas otot polos. Dengan demikian,
tindakan mengunyah, menelan, dan buang air besar memiliki komponen sukarela, karena otot
rangka berada di bawah kendali sukarela. Sebaliknya, motilitas yang dicapai oleh otot polos
sepanjang sisa traktus dikendalikan oleh mekanisme involunter yang kompleks. 1,4,5

2. Sekresi
Sejumlah cairan pencernaan dikeluarkan ke dalam lumen saluran pencernaan oleh kelenjar
eksokrin di sepanjang rute, masing-masing dengan produk sekretori spesifiknya sendiri. Setiap
sekresi pencernaan terdiri dari air, elektrolit, dan konstituen organik spesifik yang penting
dalam proses pencernaan, seperti enzim, garam empedu, atau lendir. Sel sekretori mengekstrak
dari plasma volume besar air dan bahan baku yang diperlukan untuk menghasilkan sekresi
khusus mereka. Sekresi dari semua cairan pencernaan membutuhkan energi, baik untuk
transportasi aktif dari beberapa bahan mentah ke dalam sel (yang lain berbeda digunakan secara
pasif) dan untuk sintesis produk sekresi oleh retikulum endoplasma.
Pada stimulasi saraf atau hormon yang tepat, sekresi dilepaskan ke lumen saluran
pencernaan. Biasanya, sekresi pencernaan diserap kembali dalam satu bentuk atau lainnya ke
dalam darah setelah partisipasi mereka dalam pencernaan. Kegagalan untuk melakukannya
(karena muntah atau diare, misalnya) mengakibatkan hilangnya cairan ini yang telah "dipinjam"
dari plasma. Selanjutnya, sel-sel endokrin yang terletak di dinding saluran pencernaan
mengeluarkan hormon-hormon pencernaan ke dalam darah yang membantu mengendalikan
motilitas pencernaan dan sekresi kelenjar eksokrin. 1,4,5

3. Pencernaan
Manusia mengonsumsi tiga kategori biokimia yang berbeda dari bahan makanan kaya energi:
karbohidrat, protein, dan lemak. Molekul besar ini tidak dapat melintasi membran plasma
secara utuh untuk diserap dari lumen saluran pencernaan ke dalam darah atau getah bening.
Pencernaan istilah mengacu pada pemecahan biokimiawi dari bahan makanan yang secara
struktural kompleks dari makanan menjadi unit-unit yang lebih kecil dan dapat diserap oleh
enzim yang diproduksi dalam sistem pencernaan sebagai berikut:
a. Karbohidrat paling sederhana adalah gula sederhana atau monosakarida (molekul "satu-
gula"), seperti glukosa, fruktosa, dan galaktosa, sangat sedikit yang biasanya ditemukan

8
dalam makanan (lihat hal. A-12). Karbohidrat yang paling dicerna adalah dalam bentuk
polisakarida (molekul "banyak gula"), yang terdiri dari rantai molekul glukosa yang saling
berhubungan. Polisakarida yang paling umum dikonsumsi adalah pati yang berasal dari
sumber tanaman.
Selain itu, daging mengandung glikogen, bentuk penyimpanan glukosa dalam otot
polisakarida. Selulosa, polisakarida diet lain, yang ditemukan di dinding tanaman, tidak
dapat dicerna menjadi monosakarida penyusunnya oleh cairan pencernaan yang
dikeluarkan manusia; dengan demikian, itu mewakili serat yang tidak bisa dicerna atau
"bulk" dari diet kita. Selain polisakarida, sumber karbohidrat diet yang lebih rendah adalah
dalam bentuk disakarida (molekul "twosugar"), termasuk sukrosa (gula meja, yang terdiri
dari satu glukosa dan satu molekul fruktosa) dan laktosa (gula susu yang terdiri dari satu
glukosa dan satu glukosa). molekul galaktosa).
Melalui proses pencernaan, pati, glikogen, dan disakarida diubah menjadi
monosakarida penyusunnya, terutama glukosa dengan sejumlah kecil fruktosa dan
galaktosa. Monosakarida ini adalah unit yang dapat diserap untuk karbohidrat. 1,4,5

b. Diet Protein terdiri dari berbagai kombinasi asam amino yang disatukan oleh ikatan
peptida. Melalui proses pencernaan, protein terdegradasi terutama menjadi asam amino
penyusunnya serta beberapa polipeptida kecil (beberapa asam amino yang dihubungkan
oleh ikatan peptida), keduanya merupakan unit yang dapat diserap untuk protein. 1,4,5

c. Sebagian besar Lemak makanan dalam bentuk trigliserida, yang merupakan lemak netral,
masing-masing terdiri dari gliserol dengan tiga molekul asam lemak yang melekat (tri
berarti "tiga"). Selama pencernaan, dua molekul asam lemak terpecah, meninggalkan
monogliserida, molekul gliserol dengan satu molekul asam lemak yang melekat (mono
berarti "satu"). Produk akhir dari pencernaan lemak adalah monogliserida dan asam lemak
bebas, yang merupakan unit lemak yang dapat diserap.
Pencernaan dilakukan dengan hidrolisis enzimatik ("pemecahan oleh air"). Dengan
menambahkan H2O di situs ikatan, enzim dalam sekresi pencernaan memecah ikatan yang
menahan subunit molekul kecil dalam molekul nutrisi bersama-sama, sehingga
membebaskan molekul kecil. Penghapusan H2O di situs ikatan awalnya bergabung dengan
subunit kecil ini untuk membentuk molekul nutrisi. Hidrolisis menggantikan H2O dan
membebaskan unit-unit kecil yang dapat diserap. Enzim pencernaan spesifik dalam ikatan
yang dapat dihidrolisis. Saat makanan bergerak melalui saluran pencernaan, ia mengalami
berbagai enzim, yang masing-masing memecah molekul makanan lebih jauh. Dengan cara
ini, molekul makanan besar dikonversi menjadi unit sederhana yang dapat diserap secara

9
progresif, secara bertahap, seperti jalur perakitan secara terbalik, karena isi saluran
pencernaan didorong ke depan. 1,4,5

4. Absorbsi
Di usus kecil, pencernaan selesai dan sebagian besar penyerapan terjadi. Melalui proses
penyerapan, unit kecil yang dapat diserap yang dihasilkan dari pencernaan, bersama dengan air,
vitamin, dan elektrolit, ditransfer dari lumen saluran pencernaan ke dalam darah atau getah
bening. Ketika kita memeriksa saluran pencernaan dari awal hingga akhir, kita akan membahas
empat proses motilitas, sekresi, pencernaan, dan penyerapan saat berlangsung di dalam masing-
masing organ pencernaan. 1,4,5

D. Appendix
Appendiks, ileum, dan colon ascenden pertama kali muncul pada minggu ke delapan dari
perkembangan embriologi sebagai tonjolan dari bagian terminal sekum dan secara bertahap
berputar ke lokasi yang lebih medial dan menetap di kuadran kanan bawah. Selama
perkembangan baik antenatal dan postnatal, tingkat pertumbuhan sekum melebihi appendiks,
bergeser ke medial menuju katup ileocecal. Hubungan basis apendiks ke sekum
tetap konstan, namun ujung dari appendiks dapat ditemukan di retrocecal, pelvis,
subcecal, preileal, atau posisi perikolik kanan. Anatomi tersebut memiliki kepentingan klinis
yang signifikan dalam konteks apendisitis akut. Tiga taenia coli berkumpul di
persimpangan sekum dengan appendiks dan dapat menjadi landmark yang berguna untuk
mengidentifikasi appendiks. Ukuran dari appendiks dapat bervariasi mulai dari 1 cm sampai
lebih dari 30 cm, dengan rata-rata panjang 6 sampai 9 cm.
Apendiks mendapatkan persarafan otonom parasimpatis dari nervus vagus dan
persarafan simpatis dari nervus torakalis X. Persarafan ini yang menyebabkan radang pada
apendiks akan dirasakan di daerah periumbilikal. Apendiks diperdarahi oleh arteri
apendikularis yang tidak memiliki kolateral. Pasokan arteri appendiks berasal dari cabang
apendikular dari arteri ileokolika, yang berasal posterior mulai dari ileum terminal dan masuk
mesoappendiks dekat pangkal apendiks. Drainase limfatik mengalir ke kelenjar getah bening
di sepanjang arteri ileokolika.6,7

Fisiologi Appendix Vermiformis


Appendiks menghasilkan lendir sebanyak 1-2 ml per hari. Lendir itu normalnya
dicurahkan kedalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Adanya hambatan dalam
pengaliran tersebut, tampaknya merupakan salah satu penyebab timbulnya apendisitis.
Jaringan limfoid yang mula-mula tampak pada usia 2 minggu akan meningkat jumlahnya
secara bertahap hingga mencapai puncaknya antara usia 12-20 tahun (200 buah) dimana

10
kejadian appendisitis juga mengalami puncaknya pada kisaran usia ini. Setelah usia 30 tahun
jaringan limfoid akan berkurang hingga setengahnya dan akan terus berkurang
hingga menghilang setelah usia 60 tahun. Apendiks juga mensekresi imunoglobulin (IgA) yang
diproduksi oleh GALT (gut assosiated limphoid tissues), yang sangat efektif sebagai
pelindung terhadap infeksi (berperan dalam sistem imun). Namun demikian, adanya
pengangkatan terhadap apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh. Ini dikarenakan
jumlah jaringan limfe yang terdapat pada apendiks kecil sekali bila dibandingkan dengan yang
ada pada saluran cerna lain. 6,7

III. Kesimpulan
Pencernaan merupakan suatu proses penguraian makanan dari struktur yang komplek
diubah menjadi satuan-satuan lebih kecil yang dapat diserap oleh enzim-enzim yang diproduksi
di dalam sistem pencernaan. Organ-organ utama yang berperan dalam sistem pencernaan antara
lain mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum, dan anus. Sementara organ
tambahan dalam sistem pencernaan meliputi hati, pankreas. Semua organ tersebut
menghasilkan enzim-enzim yang berguna untuk menguraikan makanan dari molekul kompleks
menjadi sederhana yang dapat digunakan oleh setiap sel untuk aktivitas tubuh manusia. Dalam
makalah ini dibahas tiga organ yaitu usus halus, apendiks dan usus besar yang mempunyai
fungsi yang mencerna makanan. Setiap organ ini memiliki fungsi dan struktur anatomi dan
histologi masing-masing yang menopang proses pencernaan yang efisien.

11
IV. Daftar pustaka
1. Sherwood Lauralee. Human Physiology From Cells to Systems 9th Edition. West Virginia
University. Department of Physiology and Pharmacology School of Medicine; 2016. p438-
31.
2. R.Putz and R .Pabst. Sobotta Atlas of Human Anatomy volume 2 Trurk, Visceral, Lower
Limb 14th editions. Munchen: URBAN & FISCHER. 2006. P262-384.
3. Netter H Frank. Atlas and Human Anatomy 6th edition. USA: Saunder Elsevier. 2011.
p398-531.
4. Martini H Frederic, Nath L Judi, Bartholomew F Edwin. Fundamentals of
Anatomy&Physiology Tenth Edition. New york. Pearson Education; 2015. P901-09.
5. Maried N Elaine, Hoehn Katja. Human Anatomy and Physiology Seventh Edition.
Washington DC. Pearson Education, Publishing as Benjamin Cummings; 2011. P455-593.
6. Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku ajar Ilmu Bedah. Edisi 3. Jakarta: EGC;2011. hal 755-
64.
7. Sander MA. Apendisitis akut: Bagaimana seharusnya dokter umum dan perawat dapat
mengenali tanda dan gejala lebih dini penyakit ini. Jurnal Kedokteran
Muhammadiyah. Vol.2, No.1. Januari 2011.

12