Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN HEMATOLOGI

ESTIMASI TROMBOSIT

Oleh :

NI MADE SUKMA WIJA YANTI

P07134017 058

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

JURUSAN ANALIS KESEHATAN

2018/2019
BLOOD SMEAR/SEDIAAN APUSAN DARAH TEPI (ESTIMASI JUMLAH
TROMBOSIT)

Hari/Tanggal : Kamis, 2019

Tempat : Laboratorium Hematologi Poltekkes Denpasar

I. TUJUAN
a. Tujuan instruksional umum
1. Mahasiswa dapat mengetahui cara membuat sediaan apus yang baik dan benar.
2. Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan cara membuat sediaan apus yang
baik dan benar.
3. Mahasiswa dapat memahami cara menghitung jenis leukosit.
b. Tujuan istruksional khusus
1. Mahasiswa dapat melakukan cara membuat sediaan apus yang baik dan benar.
2. Mahasiswa dapat mengamati dan menghitung jumlah relative masing – masing
jenis leukosit dalam 100 buah leukosit (semua jenis) dalam bentuk (%).

II. METODE
Metode yang digunakan pada praktikum ini adalah metode Sediaan Kering.

III. PRNSIP
Prinsip sediaan apus yaitu suatu apusan darah tipis dibuat dengan meletakkan setetes (kecil
saja) darah pada kaca objek, diratakan sedemikian sehingga terbentuk hapusan yang tipis
(hanya selapis). Prinsip pewarnaan didasarkan pada sifat kimiawi dalam sel. Zat warna yang
bersifat asam akan bereaksi dengan komponen sel yang bersifat alkalis. Demikian pula
sebaliknya. Pewarnaan sediaan apus menggunakan prinsip Romanosky yaitu menggunakan
dua zat warna yang berbeda yang terdiri dari Azure B (trimethylthionin) yang bersifat basa
dan Eosin Y (tetrabromoflourescein) yang bersifat asam seperti yang dianjurkan oleh The
International Council for Standardization in Haematology, dan pewarnaan yang dianjurkan
adalah Wright-Giemsa dan May Grunwald-Giemsa (MGG). Diamati dibawah mikroskop
dengan pembesaran 100x dan diisi minyak imersi. Rerata trombosit yang diperoleh dalam 5
– 10 Lapang Pandang dikali 20.000 / mm3 merupakan jumlah trombosit secara estimasi.

IV. DASAR TEORI

Pemeriksaan mikroskopik dari sediaan Hapusan Darah Tepi (HDT) yang telah disiapkan dan
diwarnai oleh petugas laboratorium profesional dan berpengetahuan luas adalah hal yang sangat
diperlukan dan sangat penting atau berguna secara klinis dalam sejumlah keadaan klinis dan
karena berbagai alasan. Pemeriksaan hapusan darah tepi berfungsi untuk setidaknya untuk
memverifikasi hasil hematologi otomatis, dan menentukan apakah hitung leukosit diferensial
secara manual harus dilakukan (Gulati, Ph, Song, Florea, & Gong, 2014).

Pemeriksaan hapusan darah tepi atau hitung leukosit ataupun trombosit metode manual
dengan hitung darah lengkap (CBC) memberikan gambaran matologis dari kasus, setidaknya dari
sudut pandang morfologis. Blood smear atau hapusan darah tepi dengan ataupun tanpa
disediakannya interpretasi berfungsi untuk memastikan bahwa tidak ada temuan klinis yang salah
atau menyimpang secara signifikan, selain memberikan diagnosis atau petunjuk diagnostik,
terutama jika dan ketika diprogram oleh dokter (Gulati et al., 2014).

Tes atau uji yang paling umum dilakukan di laboratorium hematologi klinik adalah test
Complete Blood Count (CBC) atau dikenal dengan hitungan darah lengkap umumnya dikenal
dengan CBC atau jarangnya dikenal dengan istilah Hemogram. Test atau uji kedua yang paling
umum atau sering dilakukan dalam tes hematologi klinik adalah tes yang secara tradisional atau
konvensional dikenal dengan nama hitung leukosit diferensial atau DIFF. Saat ini tersedia
penganalisa hematologi otomatis yang mampu melakukan kedua tes atau uji diatas secara adil
andal, efisien, dan hemat biaya (Gulati et al., 2014).

Blood Smear Scan (BSS) atau dikenal dengan pemindaian hapusan darah biasanya digunakan
untuk memverifikasi hitung trombosit otomatis, khususnya jika ditandai oleh analyzer untuk
verifikasi atau jika secara signifikan lebih rendah dari batas terendah rentang referensi.
Kebanyakan laboratorium memilih untuk memverifikasi perhitungan trombosit otomatis ketika
pemeriksaan menunjukkan hasil dibawah 100 x 109/L pada pasien baru atau ketika sebuah delta-
check gagal dengan penurunan jumlah trombosit yang signifikan (penurunan ≥ 50%) pada
perhitungan darah lanjutan. Verifikasi hitung trombosit/platelet atau plt dibawah 100 x 109/L
merupakan hal yang penting dikarenakan pseudo-throbositopenia ketika tidak diperlukan dapat
menyebabkan adanya pemeriksaan hematologi, pemeriksaan laboratorium tambahan, penentuan
operasi atau prosedur khusus, dan atau tranfusi trombosit (Gulati et al., 2014).

V. ALAT DAN BAHAN


a. Alat
 Objek glass
 Pipet tetes
 Rak pewarnaan
 Lap
 Mikroskop
b. Bahan
 Darah vena dengan antikoagulan EDTA
 Pewarna Giemsa
 Oil imersi

VI. CARA KERJA


a. Cara Membuat Sediaan Apus
1. Dipilih kaca objek yang bertepi rata untuk digunakan sebagai kaca
penghapus.
2. Satu tetes kecil darah diletakkan pada 2 – 3 mm dari ujung kaca objek. Kaca
penghapus diletakkan dengan sudut 30 – 45o terhadap kaca objek di depan
tetes darah.
3. Kaca penghapus ditarik ke belakang hingga mengenai tetes darah, gerak –
gerakkan kaca penghapus hingga darah menyebar pada sudut tersebut.
4. Dengan gerak yang mantap, kaca penghapus didorong sehingga terbentuk
apusan darah sepanjang 3 – 4 cm pada kaca objek. Darah harus habis
sebelum kaca penghapus mencapai ujung lain dari kaca objek. Apusan
darah tidak boleh terlalu tipis atau terlalu tebal, ketebalan ini dapat diatur
dengan mengubah sudut antara kedua kaca objek dan kecepatan menggeser.
Makin besar sudut atau makin cepat menggeser, maka makin tipis apusan
darah yang dihasilkan.
5. Apusan darah dibiarkan mongering. Identitas pasien ditulis pada bagian
tebal dari kaca objek dengan pensil kaca.
b. Cara pewarnaan
1. Sediaan apus diletakkan pada arak pewarnaan.
2. Sediaan apus difiksasi dengan menggunakan methanol absolut 2 – 3 menit.
3. Sediaan apus digenangi dengan zat warna Giemsa yang baru diencerkan.
Larutan Giemsa yang digunakan adalah larutan Giemsa 5% atau 10%,
diencerkan terlebih dahulu dengan larutan dapar. Dibiarkan selama 20 – 30
menit.
4. Dibilas dengan menggunakan air ledeng, mula – mula dengan aliran lambat
kemudian lebih kuat dengan tujuan menghilangkan semua kelebihan zat
warna. Letakkan sediaan apus dalam rak dengan posisi tegak dan dibiarkan
hingga mongering.
c. Memeriksa sediaan apus darah tepi :
1. Dengan mata telanjang, diperiksa mutu pulasan sebelum dipulas.
2. Dengan mikroskop obyektif 10x (setelah dipulas), diperiksa apakah
penyebaran sel cukup rata, bagaimana mutu pulasannya dan bagaimana
penyebaran leukosit serta kesan – kesan jumlahnya.
3. Pada daerah yang eritrositnya saling berdekatan adalah daerah yang paling
baik untuk melakukan hitungan estimasi trombosit dan estimasi leukosit.
Dengan pembesaran sedang (lensa objektif 40x dan lensa okuler 10x)
dilakukan hitung estimasi trombosit dan estimasi leukosit. Bila diperlukan
penilaian lebih lanjut dari sediaan apus menggunakan lensa objektif 100x
menggunakan minyak imersi.
d. Perhitungan Estimasi Trombosit
1. FN : 18 dihitung dalam 18 lapang pandang dan dikalikan 1000 (mm3)
2. FN : 22 dihitung dalam 11 lapang pandang dan dikalikan 1000 (mm3).
e. Perhitungan Estimasi Leukosit
1. FN : 18 dihitung dalam 15 – 35 lapang pandang dan dikalikan 300
2. FN : 22 dihitung dalam 22 – 50 lapang pandang dan dikalikan 200

VII. CIRI – CIRI SEDIAAN APUS YANG BAIK:


a. Sediaan tidak melebar sampai pinggir kaca objek, panjangnya 1/2 sampai 2/3 dari
panjang kaca objek.
b. Ujung apusan harus halus dan rata, tidak kasar (bergerigi) dan bergaris – garis.
c. Pada sediaan apus harus ada bagian yang cukup tipis untuk diperiksa (counting
area), pada bagian itu eritrosit terletak berdekatan tanpa bertumpukan dan tidak
menyusun gumpalan atau rouleaux.
d. Pinggir sediaan itu rata dan sediaan tidak boleh berlubang – lubang (apusan bias
tampak berlubang – lubang karena kaca objek yang dipakai berminyak) atau
bergaris – garis.
e. Penyebaran leukosit tidak boleh buruk, leukosit – leukosit itu tidak boleh
berhimpun pada pinggir – pinggir atau ujung – ujung sediaan.

VIII. HASIL PENGAMATAN

Nama Pasien : Mastur

Umur : 50 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Hasil Pengamatan :

Jenis Sel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Trombosit 18 55 24 22 32 60 33 48 33 39 40 23 40 30 39

Leukosit 4 4 1 2 - 2 - - 1 - - - 2 1 1

Jenis Sel 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

Trombosit 51 65 40

Leukosit 1 1 4 1 3 1 1 2 1 2 3 - - 3 1

Jenis Sel 31 32 33 34 35

Trombosit

Leukosit 1 - 1 1 1

Pada praktikum hematologi tentang estimasi trombosit pada tanggal 14 Maret 2019 dilakukan
juga estimasi leukosit dengan sampel atas nama Mastur (50) dengan jenis kelamin laki-laki.
Mikroskop yang digunakan adalah mikroskop dengan FN (Field Number) 18, maka pengamatan
trombosit hanya dilakukan dengan mengamati sebanyak 18 lapang pandang, sedangkan untuk
estimasi leukosit dilakukan pengamatan sebanyak 35 lapang pandang.

IX. PEMBAHASAN

Peripheral Blood Film (PBF) adalah sarana hematologis yang sangat informatif yang dapat
digunakan untuk skrinning, diagnosis dan pemantauan perkembangan penyakit, dan untuk
pemantauan respon terapeutik. Pemeriksaan apusan darah secara mikroskopis mungkin hanya
terbatas pada scan apusan darah atau mungkin termasuk pemeriksaan apusan darah lengkap
dengan penghitungan diferensial manual dan/atau ulasan apusan darah. Pemeriksaan apusan darah
berfungsi sebagai quality control alat penganalisa otomatis dalam memverifikasi hasil yang
dihasilkan, identifikasi sel-sel abnormal atau imatur atau tidak normal/tidak khas dan mengenali
kelainan morfologis yang signifikan secara klinis, yang tidak mampu dianalisis oleh alat
penganalisis otomatis baik untuk menandai atau mendeteksi dan mengidentifikasi (Momodu,
2016).

Telah dilaporkan bahwa indikasi klinis umum untuk analisis apusan darah tepi termasuk sitopenia
yang tidak dapat dijelaskan seperti anemia, leukopenia atau trombositopenia; leukositosis yang
tidak dijelaskan seperti limfositosis, monositosis; dugaan penyakit mielopoliferatif kronis atau
akut, seperti myeloid leukemia kronis; dugaan kasus anemia nutrisional; dugaan penyakit
limfopoliferatif kronis seperti leukemia limfositik kronis; diduga kegagalan organ seperti penyakit
hati, penyakit ginjal; beberapa sepsis bakteri dan infeksi parasit dan evaluasi respon terapi di antara
kondisi lain (Momodu, 2016).

Blood Smear Scan (BSS) atau dikenal dengan pemindaian hapusan darah biasanya digunakan
untuk memverifikasi hitung trombosit otomatis, khususnya jika ditandai oleh analyzer untuk
verifikasi atau jika secara signifikan lebih rendah dari batas terendah rentang referensi.
Kebanyakan laboratorium memilih untuk memverifikasi perhitungan trombosit otomatis ketika
pemeriksaan menunjukkan hasil dibawah 100 x 109/L pada pasien baru atau ketika sebuah delta-
check gagal dengan penurunan jumlah trombosit yang signifikan (penurunan ≥ 50%) pada
perhitungan darah lanjutan. Verifikasi hitung trombosit/platelet atau plt dibawah 100 x 109/L
merupakan hal yang penting dikarenakan pseudo-throbositopenia ketika tidak diperlukan dapat
menyebabkan adanya pemeriksaan hematologi, pemeriksaan laboratorium tambahan, penentuan
operasi atau prosedur khusus, dan atau tranfusi trombosit (Gulati et al., 2014).

Alasan tambahan kenapa dilakukan scanning atau pemindaian apusan darah tepi untuk
melakukan estimasi adalah (a) untuk memverifikasi hasil pemeriksaan CBC atau hitung darah
lengkap yang dihasilkan oleh alat penghitung atau alat pemeriksaan otomatis, (b) untuk
memutuskan bahwa alat perhitungan otomatis tersebut dapat dipercaya untuk melakukan
pemeriksaan pasien dan dengan demikian dapat dipercaya untuk dibuat laporan hasil pemeriksaan
pasien, atau untuk mengetahui apakah metode manual perlu dilakukan dan hasil metode manual
yang dibuat laporan pemeriksaan pasiennya dibandingkan metode otomatis, (c) untuk memutuskan
kesesuaian dari apusan darah tepi dan kualitas warna dari metode manual dan untuk memilih
counting area untuk melakukan perhitungan metode manual jika diperlukan. Hal ini juga dilakukan
oleh seorang teknisi di dalam laboratorium (Gulati et al., 2014).

Untuk verifikasi perhitungan jumlah trombosit, keseluruhan apusan darah tepi harus diperiksa
terlebih dahulu di bawah mikroskop dengan menggunakan objektif kering yaitu pembesaran 10x
untuk memeriksa adanya clumping atau gumpalan trombosit. Trombosit yang mengalami
clumping dengan ukuran luas atau besar akan dengan mudah untuk dilihat dibawah pembesaran
ini tetapi untuk trombosit yang mengalami clumping dengan ukuran yang kecil mungkin tidak
akan dengan mudah diamati dibawah pembesaran ini. Dengan demikian dibutuhkan pengamatan
dengan pembesaran yang lebih besar seperti pembesaran 40x menggunakan sediaan kering,
pembesaran 50x dengan menggunakan oil immersi, dan pembesaran 100x dengan menggunakan
oil imersi (Gulati et al., 2014).

Trombosit adalah fragmen subselular yang berasal dari megakariosit di sumsum tulang, beredar
di darah sebagai cakram kecil yang memiliki struktur presisi dan reproduksi. Satu megakariosit
dapat menghasilkan 1000-3000 trombosit. Megakariosit adalah sel myeloid yang jarang (terdapat
<1%) yang berada terutama di sumsum tulang. Trombosit sangat kecil, berinti, berdiameter sekitar
3 μm, dan terdiri dari sitoplasma tertutup dalam membran sel. Rentang kehidupan trombosit
normal adalah sekitar 7-12 hari, dan ketika waktu hidupnya sudah habis, maka trombosit ini akan
dihancurkan oleh makrofag di dalam limpa. Trombosit dalam darah perifer bersifat heterogen
terkait dengan ukuran, kepadatan, dan karakteristik pewarnaan. Morfologi mereka juga sangat
bervariasi tergantung pada metode, dan antikoagulan yang digunakan untuk memeriksa mereka
(Bajpai, Rajak, & Poonia, 2015).

Pada preparat basah, trombosit akan tampak tidak berwarna, tubuh yang cukup refraktil tidak
berbentuk atau elips. Pada pengecatan dengan menggunakan metode Romanowsky, trombosit
akan tampak bulat, oval atau berbentuk batang. Butiran azurophilic terlihat berwarna biru
muda. Butiran ini mungkin sangat rapat di bagian tengah trombosit yang dapat memberikan
tampilan nukleus. Trombosit bersifat multifungsi atau memiliki banyak fungsi di dalam tubuh
manusia dan memiliki peran kunci didalam banyak proses fisiologis misalnya perbaikan luka,
respon imun terlepas dari peran mereka yang terkenal di bidang hemostasis dan trombosis (Bajpai
et al., 2015).
Sedangkan, White Blood Cell atau disebut juga dengan leukosit merupakan salah satu bagian
terpenting dalam sistem imunitas tubuh. Leukosit berfungsi melindungi tubuh dengan
menyingkirkan virus dan bakteri di dalam tubuh. Istilah medis digunakan untuk menggambarkan
perhitungan yang rendah adalah Leukopenia. Leukopenia mengindikasikan adanya infeksi.
Sedangkan istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan perhitungan yang tinggi adalah
Leukositosis. Leukositosis ini mengindikasikan adanya infeksi di dalam tubuh, leukemia, atau
kerusakan jaringan (Sahastrabuddhe, 2016).

Telah diketahui bahwa trombositopenia merupakan salah satu parameter yang paling penting
dalam manajemen pasien. Karena itu, sangat penting untuk laboratorium menilai jumlah trombosit
dengan akurasi tertinggi. Kisaran normal jumlah trombosit dalam darah individu yang sehat adalah
150000 - 400000/μL (Bajpai et al., 2015), sedangkan untuk leukosit adalah 5000-7000 per mm3
(Chauhan & Bhoyar, 2016). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Oliveira et al menyarankan
bahwa jika dalam pemeriksaan trombosit menggunakan alat otomatis ditemukan bahwa jumlah
trombosit kurang dari 30000/µL maka hasil harus dikonfirmasi lagi dengan estimasi perhitungan
tombosit metode manual yaitu dengan menggunakan HDT. Estimasi trombosit dan/atau leukosit
merupakan hal yang penting, terlebih jika hasil otomatis mengeluarkan hasil hitung trombosit dan
leukosit yang rendah (Bajpai et al., 2015).

Estimasi jumlah trombosit ataupun leukosit dari darah apusan harus sistematis setiap kali
penghitungan otomatis salah karena bahkan mesin paling mahal dan paling efektif tidak mampu
menggantikan penilaian manusia. Memperoleh jumlah trombosit yang akurat dengan
menggunakan penganalisis hematologi otomatis mungkin diperumit dengan kehadiran partikel
ukuran yang serupa dan / atau sifat hamburan cahaya (fragmen sel darah merah, sel darah merah
mikrositik, fragmen sel darah putih apoptosis) dan adanya trombosit raksasa serta adanya clumping
pada trombosit. Bahkan alat penganalisis hematologi otomatis yang paling mahal dan akurat tidak
dirancang untuk menggantikan evaluasi apusan darah tepi, dan validasi mikroskopis jumlah
trombosit adalah komponen penting dari apusan darah tepi (Anitha, Itagi, & Itagi, 2014).

Berdasarkan studi yang dilakukan Anitha K. et al disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan secara
statistik diantara kedua metode tersebut. Hasil studi yang ditemukan oleh Anitha K. et al
menemukan bahwa metode estimasi dengan apusan darah tepi bersifat sederhana, dapat dipercaya,
cepat, dan lebih murah dimana bahkan dapat dilakukan di rumah sakit yang tidak memiliki
peralatan yang bagus atau modern. Estimasi metode ini dapat sangat membantu dalam menilai
perbedaan dari setiap gangguan yang bisa menyerang tubuh manusia dan dapat membantu
diagnosis dini terhadap trombositopenia, dengan begitu pasien dapat diarahkan untuk menuju ke
pusat kesehatan yang lebih besar untuk dilakukan manajemen pasien sedini mungkin (Anitha et
al., 2014).

Pada praktikum hematologi tentang estimasi trombosit yang telah dilakukan pada tanggal 14
Maret 2019 dilakukan juga estimasi leukosit. Sampel darah yang digunakan adalah atas nama
Mastur (50) dengan jenis kelamin laki-laki. Hasil pengamatan yang didapatkan adalah jumlah
trombosit sebanya 682 sel, dan leukosit dengan jumlah 46 sel. Hasil trombosit kemudian dikalikan
1000 untuk mendapatkan jumlah estimasi, serta untuk jumlah leukosit dikalikan dengan 300 untuk
mendapatkan hasil akhir estimasi. Ini berarti hasil estimasi dari trombosit adalah sebesar
682.000/µL dan hasil akhir estimasi leukosit adalah 13.800/µL. Pada saat pengamatan ada
perbedaan jumlah lapang pandang dalam menghitung trombosit dengan leukosit, yaitu trombosit
menggunakan 18 lapang pandang ketika menghitung dan leukosit menggunakan 35 lapang
pandang ketika menghitung. Hal ini dikarenakan mikroskop yang dipakai adalah mikroskop
dengan FN 18. Maka dari itu jumlah lapang pandang yang digunakan untuk menghitung berbeda.

Pada hasil yang didapatkan, ternyata terdapat perbedaan dengan hasil yang dikeluarkan oleh alat
penghitung RSUP Sanglah, dimana jumlah trombosit yang terhitung di alat adalah sebesar 555.20
x 103 /µL, sedangkan jumlah leukosit yang terhitung di alat adalah sebesar 35.85 x 103/µL.
Sedangkan, ketika dilakukan pemeriksaan hasil yang diamati adalah 682000/µL untuk trombosit
yang termasuk keadaan trombositosis, dan 13800/µL untuk leukosit. Hal ini dapat terjadi karena
ketika terdapat trombosit yang clumping dalam jumlah besar oleh alat akan terhitung 1 seperti
yang disebutkan di dalam penelitian Anitha K. et al yang mana hal ini merupakan kekurangan dari
alat penghitung otomatis dimana memperoleh jumlah trombosit yang akurat dengan menggunakan
penganalisis hematologi otomatis mungkin diperumit dengan kehadiran partikel ukuran yang
serupa dan / atau sifat hamburan cahaya (fragmen sel darah merah, sel darah merah mikrositik,
fragmen sel darah putih apoptosis) dan adanya trombosit raksasa serta adanya clumping pada
trombosit (Anitha et al., 2014).
X. KESIMPULAN

Pada praktikum hematologi tentang estimasi trombosit dan leukosit dengan sampel atas nama
Mastur (50) dengan jenis kelamin laki-laki didapat hasil estimasi trombosit yaitu sebesar
682.000/µL dengan ditemukannya trombosit sebanyak 682 sel di dalam 18 lapang pandang, dan
leukosit sebanyak 13800/µL dengan ditemukannya 46 sel di dalam 35 lapang pandang. Hasil ini
berbeda dengan hasil yang dikeluarkan oleh alat penghitung otomatis yang terdapat di RSUP
Sanglah yaitu trombosit sebesar 555.20 x 103 /µL dan leukosit sebesar 35.85 x 103/µL. Dengan
hasil yang didapat melalui estimasi dengan melakukan pemeriksaan pada HDT maka dapat
dinyatakan bahwa pasien mengalami keadaan yang disebut trombositosis dan leukositosis yakni
trombosit dan leukosit pasien berada di atas keadaan normal.
DAFTAR PUSTAKA

Anitha, K., Itagi, I., & Itagi, V. (2014). Comparison of Platelet Count by Peripheral Smear
Method and Automated Method in Pregnant Women, 4(1), 2–5.
https://doi.org/10.5455/njppp.2014.4.040720131

Bajpai, R., Rajak, C., & Poonia, M. (2015). Platelet estimation by peripheral smear : Reliable ,
rapid , cost-effective method to assess degree of thrombocytopenia, 2(2), 2013–2016.

Chauhan, S., & Bhoyar, D. (2016). Automatic Rbc ’ s and Wbc ’ s Counting by Using Circular
Hough Transform and K-Mean Clustering Algorithm, 2545–2548.

Gulati, G., Ph, D., Song, J., Florea, A. D., & Gong, J. (2014). Purpose and Criteria for Blood
Smear Scan , Blood Smear Examination , and Blood Smear Review, (March).
https://doi.org/10.3343/alm.2013.33.1.1

Momodu, I. (2016). Determination of Platelet and White Blood Cell Counts from Peripheral
Blood Smear : An Indispensable Method in Under-resourced Laboratories, 5(2), 1–7.
https://doi.org/10.9734/IBRR/2016/25105

Sahastrabuddhe, A. P. (2016). Counting of RBC and WBC Using Image Processing: A Review.
International Journal of Research in Engineering and Technology (IJRET), 356–360.

Anda mungkin juga menyukai