Anda di halaman 1dari 47

ASUHAN KEPERAWATAN PERIANESTESI PADA TN.

S DENGAN
RINOSINUSITIS KRONIS DAN DEVIASI NASAL DENGAN TINDAKAN
FESS (FUNCTIONAL ENDOSCOPIC SINUS SURGERY) DAN TEKNIK
ANESTESI UMUM DI INSTALASI BEDAH SENTRAL RSUD PROF. DR.
MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO

Disusun untuk Memenuhi Tugas Kelompok Praktik Klinik Keperawatan Anestesi


II Prodi D-IV Keperawatan Semester Tujuh
Pembimbing : Triyanto Puji Widodo, S.ST. & Ircham Saifudin, Am.An., S.Kep.,
Ns., MM.

Disusun oleh:

Afifatu Rohmah P07120215002


Erina Kurniawati P07120215018
Nelya Rhomi Kasanah P07120215027

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA

JURUSAN KEPERAWATAN

2018
HALAMAN PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN PERIANESTESI PADA TN. S DENGAN


RINOSINUSITIS KRONIS DAN DEVIASI NASAL DENGAN TINDAKAN
FESS DAN TEKNIK ANESTESI UMUM DI INSTALASI BEDAH
SENTRAL RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO

Diajukan untuk disetujui pada:

Hari :

Tanggal :

Tempat : RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Mengetahui,

Pembimbing Pendidikan, Pembimbing Lapangan,

Ns. Ircham Saifudin, Am.An S.Kep., MM Triyanto Puji Widodo, S.ST


NIP. 196605051989031014 NIP. 198012092005011012
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sinusitis adalah peradangan pada salah satu atau lebih mukosa sinus
paranasal. Sinusitis juga dapat disebut rinosinusitis, menurut hasil beberapa
diskusi pakar yang dipublikasikan di European Position Paper on
Rhinosinusitis and Nasal Polyps (EPOS) menggunakan istilah rinosinusitis
menggantikan sinusitis (Fokkens et al., 2007). Inflamasi sinus jarang terjadi
tanpa inflamasi mukosa nasal saja, biasanya terjadi bersamaan dengan
mukosa hidung karena letak yang berdekatan. Walaupun istilah yang saat ini
digunakan ialah rinosinusitis, para ahli yang menetapkan bahwa istilah
rinosinusitis maupun sinusitis dapat digunakan secara bergantian (Smeltzer,
2011).
Rinosinusitis merupakan penyakit yang sering ditemukan dalam
praktek dokter sehari-hari, bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab
gangguan kesehatan tersering di dunia. Konsensus Internasional 2004
membagi rinosinusitis menjadi akut dengan batas sampai 4 minggu, subakut
antara 4 minggu sampai 3 bulan dan kronik jika lebih dari 3 bulan
(Mangunkusumo, 2012).
Rinosinusitis kronik mempunyai prevalensi yang cukup tinggi.
Diperkirakan sebanyak 13,4 - 25 juta kunjungan ke dokter per tahun
dihubungkan dengan rinosinusitis kronik atau akibatnya. Di Eropa,
rinosinusitis diperkirakan mengenai 10%-30% populasi. Sebanyak 14%
penduduk Amerika, paling sedikitnya pernah mengalami episode rinosinusitis
semasa hidupnya dan sekitar 15% diperkirakan menderita rinosinusitis
kronik. Dari Respiratory Surveillance program, diperoleh data demografik
mengenai rinosinusitis paling banyak ditemukan secara berturut-turut pada
etnis kulit putih, Amerika, Spanyol dan Asia (Bubun et al., 2009).
Di Indonesia, dimana penyakit infeksi saluran napas akut masih
merupakan penyakit utama di masyarakat. Berdasarkan prevalensi ISPA tahun
2016 di Indonesia telah mencapai 25% dengan rentang kejadian yaitu sekitar
17,5 % - 41,4 % dengan 16 provinsi diantaranya mempunyai prevalensi di
atas angka nasional. Selain itu ISPA juga sering berada pada daftar 10
penyakit terbanyak di rumah sakit (Riskedas, 2016).
Pada kunjungan rawat jalan ke poli Rinologi RSUP Dr. M. Djamil
Padang pada tahun 2010, didapatkan kejadian rinosinusitis kronis sebesar
34,7% dan terbanyak terjadi pada usia antara 25-44 tahun (26,2%) diikuti usia
antara 45-64 tahun (23,8%) serta lebih sering ditemukan pada wanita (60,7%)
dibandingkan lakilaki (39,3%) (Budiman & Rosalinda, 2011).
Penatalaksanaan rinosinusitis tergantung dari jenis,derajat serta lama
penyakit masing-masing penderita. Pada RSA (Rinosinusitis Akut) terapi
medikamentosa (dekongestan, antihistamin, antibiotik, kortikosteroid)
merupakan terapi utama, sedangkan pada RSK terapi bedah mungkin menjadi
pilihan yang lebih baik dari pada medikamentosa. Tindakan bedah bisa
berupa irigasi sinus (antral lavage), nasal antrostomy, operasi Caldwell-Luc
dan Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS).
Pelayanan anestesi merupakan bagian integral dari pelayanan
perioperatif yang memiliki pengaruh besar dalam menetukan keberhasilan
tindakan pembedahan yang adekuat dan aman bagi pasien. Anestesi yang
ideal akan bekerja secara cepat dan baik serta mengembalikan kesadaran
dengan cepat segera sesudah pemberian anestesi dihentikan (Majid,A., Judha,
Istianah, U, 2011).
Dari latar belakang yang terurai diatas penulis akan membahas
mengenai penatalaksanaan asuhan keperawatan perianestesi pada pasien
Rinosinusitis Kronis dengan teknik general anestesi di RSUD Prof. Dr.
Margono Soekarjo Purwokerto.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan pengalaman yang nyata dalam memberikan
asuhan keperawatan perianestesi mulai dari pre anestesi, intra atau
durantee anestesi dan post anestesi pada pasien Rinosinusitis Kronis
dengan teknik general anestesi.

2. Tujuan Khusus
a. Memberikan gambaran mengenai pengkajian asuhan keperawatan
perianestesi pada pasien Rinosinusitis Kronis dengan teknik general
anestesi
b. Memberikan gambaran mengenai diagnosis keperawatan pada
asuhan keperawatan perianestesi pada pasien Rinosinusitis Kronis
dengan teknik general anestesi.
c. Memberikan gambaran mengenai perencanaan keperawatan
perianestesi pada pasien Rinosinusitis Kronis dengan teknik general
anestesi.
d. Memberikan gambaran mengenai implementasi keperawatan
perianestesi pada pasien Rinosinusitis Kronis dengan teknik general
anestesi.
e. Memberikan gambaran mengenai evaluasi keperawatan perianestesi
pada pasien Rinosinusitis Kronis dengan teknik general anestesi.

C. Waktu dan Tempat Praktek


Pelaksanaan kegiatan asuhan keperawatan perianestesi pada Tn. S
dengan Rinosinusitis Kronis dengan teknik general anestesi dilakukan pada
tanggal 12 Desember 2018 di Kamar Operasi 11 Instalasi Bedah Sentral
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Teori General Anestesi


1. Pengertian
Tindakan anestesi yang memadai meliputi tiga komponen menurut
Mangku & Senapathi (2010) yaitu hipnotik (tidak sadarkan diri atau mati
ingatan), analgesia (bebas nyeri atau mati rasa) dan relaksasi otot (mati
gerak). Ketiga target anesthesia tersebut popular disebut dengan “trias
anestesi”.
Anestesi umum merupakan tindakan menghilangkan rasa sakit
secara sentral disertai hilangnya kesadaran (reversible). Pada tindakan
anestesi umum terdapat beberapa teknik yang dapat dilakukan adalah
anestesi umum dengan teknik intravena anestesi dan anestesi umum
dengan inhalasi yaitu dengan face mask (sungkup muka) dan dengan
teknik intubasi yaitu pemasangan endotrecheal tube atau dengan teknik
gabungan keduanya yaitu inhalasi dan intravena (Latief, 2007).

2. Indikasi Indikasi

a. Infant dan anak usia muda

b. Dewasa yang memilih anestesi umum

c. Pembedahannya luas / ekstensif

d. Penderita sakit mental

e. Pembedahan lama

f. Pembedahan dimana anestesi local tidak praktis atau tidak


memuaskan

g. Riwayat penderita toksik / alergi obat anestesi local

h. Penderita dengan pengobatan antikoagulantia dan bedah anak


biasanya dikombinasikan dengan anestesi umum ringan

3. Kontra indikasi

Kontra indikasi anestesi umum tergantung efek farmakologi pada organ


yang mengalami kelainan dan harus hindarkan pemakaian obat pada:

a. Hepar yaitu obat hepatoksik, dosis dikurangi atau obat yang toksis
terhadap hepar atau dosis obat diturunkan.

b. Jantung yaitu obat-obat yang mendepresi miokardium atau


menurunkan aliran darah coroner
c. Ginjal yaitu obat yang diekskresi di ginjal

d. Paru-paru yaitu obat yang merangsang sekresi paru

e. Endokrin yaitu hindari obat yang meningkatkan kadar gula darah /


hindarkan pemakaian obat yang merangsang susunan saraf simpatis
pada diabetes karena bisa menyebabkan peninggian gula darah.

4. Teknik

General anestesi menurut Mangku & Senapathi (2010) membagi anestesi


menjadi 3 komponen yang disebut trias anestesi dengan teknik general
anestesi antara lain:

a. General anestesi intravena

Merupakan salah satu teknik general anestesi yang dilakukan dengan


jalan menyuntikkan obat anestesi parenteral langsung kedalam
pembuluh darah vena. Obat induksi bolus disuntikkan dengan
kecepatana antara 30-60 detik. Selama induksi anestesi
hemodinamik harus selalu diawasi dan diberikan oksigen.

b. General anestesi inhalasi

Merupakan salah satu teknik general anestesi yang dilakukan dengan


jalan memberikan kombinasi obat anestesi inhalasi yang berupa gas
atau cairan yang mudah menguap melalui alat atau mesin anestesi
langsung ke udara inspirasi. Menurut Mangku & Senapathi (2010)
ada beberapa teknik general anestesi inhalasi antara lain:

1) Inhalasi sungkup muka (face mask)

Secara inhalasi dengan nafas spontan, komponen trias anestesi


yang dipenuhi adalah hipnotik, analgetik dan relaksasi otot
ringan. Teknik ini dilakukan pada operasi kecil dan sedang
didaerah permukaan tubuh, berlangsung singkat dan posisi
terlentang.
2) Inhalasi Sungkup Laryngeal Mask Airway (LMA)

Secara inhalasi dengan nafas spontan, komponen trias anestesi


yang dipenuhi adalah hipnotik, analgetik dan relaksasi otot
ringan. Teknik ini dilakukan pada operasi kecil dan sedang
didaerah permukaan tubuh, berlangsung singkat dan posisi
terlentang.

3) Inhalasi pipa Endotracheal (PET) nafas spontan

Secara inhalasi dengan nafas spontan, komponen trias anestesi


yang dipenuhi adalah hipnotik, analgetik dan relaksasi otot
ringan. Teknik ini dilakukan pada operasi didaerah kepala-leher
dengan posisi terlentang, berlangsung singkat dan tidak
memerlukan relaksasi otot yang maksimal.

4) Inhalasi pipa Endotracheal (PET) nafas kendali

Inhalasi ini menggunakan obat pelumpuh otot non depolarisasi,


selanjutnya dilakukan nafas kendali. Komponen anestesi yang
dipenuhi adalah hipnotik, analgetik dan relaksasi otot. Teknik ini
digunakan pada operasi yang berlangsung lama > 1 jam
(kraniotomi, torakotomi, laparotomy, operasi dengan posisi
lateral dan pronasi).

5) Anestesi imbang

Merupakan teknik anestesi dengan kombinasi obat-obatan baik


obat anestesi intravena maupun obat anestesi inhalasi atau
kombinasi teknik general anestesi dengan anestesi regional
untuk mencapai trias anestesi secara optimal dan berimbang.

5. Komplikasi (Miller, 2010)

a. Trauma pada jaringan lunak gigi dan mulut

b. Hipertensi sistemik dan takikardi

c. Aspirasi cairan lambung


d. Barotrauma paru

e. Spasme laring

f. Edema laring

B. Konsep Teori Rinosinusitis Kronis


1. Definisi
Rinosinusitis adalah suatu peradangan pada sinus yang terjadi
karena alergi atau infeksi virus, bakteri maupun jamur. Secara klinis
rinosinusitis dapat dikategorikan sebagai rinosinusitis akut bila gejalanya
berlangsung dari beberapa hari sampai 4 minggu, rinosinusitis subakut
bila berlangsung dari 4 minggu sampai 3 bulan dan rinosinusitis kronis
bila berlangsung lebih dari 3 bulan.
Rinosinusitis bisa terjadi pada salah satu dari keempat sinus yang
ada yaitu maksilaris, etmoidalis, frontalis atau sfenoidalis. Bila mengenai
beberapa sinus disebut multisinusitis sedangkan bila mengenai semua
sinus paranasal disebut pansinusitis.
2. Etiologi
Etiologi dan faktor predisposisi rinosinusitis kronis cukup
beragam. Pada era pra-antibiotik rinosinusitis hiperplastik kronis timbul
akibat rinosinusitis yang berulang dengan penyembuhan yang tidak
lengkap. Berbagai faktor fisik, kimia, saraf, hormonal dan emosional
mempengaruhi mukosa hidung. Secara umum rinosinusitis kronis lebih
lazim pada iklim yang dingin dan basah. Defisiensi gizi, kelemahan
tubuh yang tidak bugar dan penyakit umum sistemik perlu
dipertimbangkan dalam etiologi rinosinusitis kronis. Perubahan dalam
faktor-faktor lingkungan misalnya dingin, panas, kelembapan dan
kekeringan. Demikian pula polutan atmosfer termasuk asap tembakau
dapat merupakan faktor predisposisi.
Dalam daftar predisposisi umum ini harus ditambahkan paparan
terhadap infeksi sebelumnya misalnya common cold, asma ataupun
penyakit alergi seperti rinitis alergika.
Faktor-faktor lokal tertentu juga dapat menjadi predisposisi
penyakit rinosinusitis kronis berupa deformitas rangka, alergi, gangguan
geligi, benda asing dan neoplasma.
Etiologi rinosinusitis kronis dapat berupa virus, bakteri dan jamur
dimana virus adalah penyebab utama infeksi saluran napas atas seperti
rinosinusitis, faringitis dan sinusitis akut.
3. Patofisiologi
Sinus-sinus terbentuk oleh evaginasi membran mukosa hidung dan
pelapis sinus merupakan epitelium pernapasan. Patofisiologi dasar
penyakit rinosinusitis kronis ini suatu gangguan mukosa di dan sekitar
ostium di regio meatus medius akibat reaksi radang pada hidung yang
berkelanjutan. Setiap infeksi traktus respiratorius atas biasanya mengenai
mukosa sinus karena epitel sinus merupakan epitelium kuboid bertingkat
bersilia yang mirip dengan epitelium kolumner bertingkat bersilia pada
hidung sehingga hal-hal yang terjadi di hidung biasanya terjadi pula di
sinus-sinus. Hidung akan mengeluarkan ingus yang dapat menghasilkan
superinfeksi bakterial yang kemudian bakteri tersebut dapat masuk
melalui ostium menuju ke dalam rongga-rongga sinus dan
berkembangbiak didalamnya.
Apabila terjadi udema, mukosa yang berhadapan akan saling
bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan lendir tidak dapat
dialirkan maka akan terjadi gangguan drainase dan ventilasi sinus
maksila dan frontal. Karena gangguan ventilasi maka akan terjadi
penurunan pH dalam sinus sehingga silia menjadi kurang aktif dan lendir
yang diproduksi menjadi lebih kental sehingga merupakan media yang
baik untuk tumbuh kuman patogen (Busquets, 2006; Mangunkusumo,
1999; Nizar, 2000; Wilma, 2007).
4. Manifestasi Klinis
Diagnosis rinosinusitis kronis ditegakkan jika terdapat 2 kriteria
mayor atau 1 kriteria mayor ditambah 2 kriteria minor. Yang merupakan
kriteria mayor dari rinosinusitis kronis antara lain berupa:
a. Nyeri atau rasa tekan pada bagian wajah di daerah yang terkena
merupakan ciri khas atau refered pain. Nyeri pipi menandakan
sinusitis maksila, nyeri diantara atau dibelakang kedua bola mata
menandakan sinusitis etmoid, nyeri dahi atau seluruh kepala
menandakan sinusitis frontal. Sedangkan pada sinusitis sfenoid nyeri
dirasakan di verteks, oksipital, belakang bola mata dan daerah
mastoid. Pada sinusitis maksila kadang ada nyeri alih ke gigi dan
telinga.
b. Gejala hidung dan nasofaring berupa sekret di hidung dan sekret
pasca nasal (post nasal drip).
c. Gejala faring yaitu rasa sakit tidak nyaman dan gatal di tenggorok.
d. Terdapat purulen pada pemeriksaan. Pada rinoskopi anterior
ditemukan sekret kental purulen dari meatus medius atau meatus
superior sedangkan pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen
di nasofaring atau turun ke tenggorok.
e. Hyposmia atau anosmia.
f. Gejala mata oleh karena penjalaran infeksi melalui duktus
nasolakrimalis.
g. Gejala di saluran cerna oleh karena mukopus yang tertelan dapat
menyebabkan gastroenteritis (sering terjadi pada anak).

C. Konsep Tindakan FESS


1. Definisi
Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF) atau Functional
Endoscopic Sinus Surgery (FESS) adalah teknik operasi pada sinus
paranasal dengan menggunakan endoskop yang bertujuan memulihkan
“mucociliary clearance” dalam sinus. Prinsipnya adalah membuang
jaringan yang menghambat komplek osteomeatal dan memfasilitasi
drainase dengan tetap mempertahankan struktur anatomi normal
(PERHATI, 2006).
BSEF merupakan operasi yang membutuhkan visualisasi yang baik
dimana darah tidak menggenangi lapangan operasi dan darah tidak
menutupi lensa endoskop mengingat sempitnya wilayah operasi.
Perdarahan yang sedikit saat operasi merupakan salah satu faktor yang
menentukan keberhasilan operasi serta menghindari komplikasi yang
membahayakan (PERHATI, 2006).
Dengan alat endoskop maka mukosa yang sakit dan polip-polip
yang menyumbat diangkat sedangkan mukosa sehat tetap dipertahankan
agar transportasi mukosilier tetap berfungsi dengan baik sehingga terjadi
peningkatan drenase dan ventilasi melalui ostiumostium sinus. Teknik
bedah BSEF sampai saat ini dianggap sebagai terapi terkini
untuk sinusitis kroniks dan bervariasi dari yang ringan yaitu hanya
membuka drainase dan ventilasi kearah sinus maksilaris (BSEF mini)
sampai kepada pembedahan lebih luasmembuka seluruh sinus (fronto-
sfeno-etmoidektomi) (PERHATI, 2006).
2. Indikasi
Indikasi umumnya adalah untuk rinosinusitis kronik atau
rinosinusitis akut berulang dan polip hidung yang tidak respon
dengan terapi medikamentosa yang optimal. Indikasi lain BSEF
termasuk didalamnya adalah rinosinusitis dengan komplikasi dan
perluasannya, mukokel, sinusitis alergi yang berkomplikasi atau sinusitis
jamur yang invasif dan neoplasia.
Bedah sinus endoskopi sudah meluas indikasinya antara lain untuk
mengangkat tumor hidung dan sinus paranasal, menambal kebocoran
liquor serebrospinal, tumor hipofisa, tumor dasar otak sebelah anterior,
media bahkan posterior, dakriosistorinostomi, dekompresi orbita,
dekompresi nervus optikus, kelainan kongenital (atresia koana) dan
penanganan epistaksis termasuk ligasi arteri sfenoplatina, dan
sebagainya.
3. Kontraindikasi
a. Osteitis atau osteomielitis tulang frontal yang disertai pembentukan
sekuester.
b. Pasca operasi radikal dengan rongga sinus yang mengecil
(hipoplasi).
c. Penderita yang disertai hipertensi maligna, diabetes mellitus,
kelainan hemostasis yang tidak terkontrol oleh dokter spesialis yang
sesuai.

4. Persiapan Pra Operasi


Persiapan Kondisi Pasien : Pra-operasi kondisi pasien perlu
dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Jika ada inflamasi atau udem, harus
dihilangkan dahulu, demikian pula jika ada polip, sebaiknya diterapi
dengan steroid dahulu (polipektomi medikamentosa). Kondisi pasien
yang hipertensi, memakai obat-obat antikoagulansia juga harus
diperhatikan, demikian pula yang menderita asma dan lainnya.
Naso-endoskopi prabedah untuk menilai anatomi dinding lateral
hidung dan variasinya. Pada pemeriksaan ini operator dapat menilai
kelainan rongga hidung, anatomi dan variasi dinding lateral misalnya
meatus medius sempit karena deviasi septum, konka media bulosa, polip
meatus medius, konka media paradoksikal dan lainnya. Sehingga
operator bisa memprediksi dan mengantisipasi kesulitan dan
kemungkinan timbulnya komplikasi saat operasi.
CT Scan. Gambar CT scan sinus paranasal diperlukan untuk
mengidentifikasi penyakit dan perluasannya serta
mengetahui landmark dan variasi anatomi organ sinus paranasal dan
hubungannya dengan dasar otak dan orbita serta mempelajari daerah –
daerah rawan tembus ke dalam orbita dan intra kranial. Konka-konka,
meatus-meatus terutama meatus media beserta kompleks ostiomeatal dan
variasi anatomi seperti kedalaman fossa olfaktorius, adanya sel Onodi,
sel Haller dan lainnya perlu diketahui dan diidentifikasi, demikian pula
lokasi a.etmoid anterior, n.optikus dan a.karotis interna penting diketahui.
Gambar CT scan penting sebagai pemetaan yang akurat untuk
panduan operator saat melakukan operasi. Berdasarkan gambar CT
tersebut, operator dapat mengetahui daerah-daerah rawan tembus dan
dapat menghindari daerah tersebut atau bekerja hati-hati sehingga tidak
terjadi komplikasi operasi. Untuk menilai tingkat keparahan inflamasi
dapat menggunakan beberapa sistem gradasi antaranya
adalah staging Lund-Mackay. Sistem ini sangat sederhana untuk
digunakan secara rutin dan didasarkan pada skor angka hasil gambaran
CT scan.

Tabel 1. Lund-MacKay Radiologic Staging System

Lokasi Gradasi* *Gradasi radiologik dari 0-


Radiologik 2:
Sinus Maksila
Gradasi 0 = Tidak ada
Etmoid Anterior
Etmoid Posterior Kelainan
Sfenoid Gradasi 1 = Opasifikasi
Frontal
Kompl.Ostiomeatal Gradasi 0 dan 2 parsial
saja Gradasi 2 = Opasifikasi
Kompliet

D. Konsep Asuhan Keperawatan Perianestesi dengan General Anestesi


1. Pre Anestesi
Pengkajian Pre Anestesi dilakukan sejak pasien dinyatakan akan
dilakukan tindakan pembedahan baik elektif maupun emergensi.
Pengkajian pre anestesi meliputi :
a. Identitas pasien
b. Riwayat kesehatan pasien dan riwayat alergi
c. Pemeriksaan fisik pasien meliputi : Tanda-tanda vital pasien,
d. Pemeriksaan sistem pernapasan (breathing), system kardiovaskuler
(bleeding),sistem persyarafan (brain), system perkemihan dan
eliminasi (bowel), sistem tulang, otot dan integument (bone).
e. Pemeriksaan penunjang berupa laboratorium, rontgen, CTscan, USG,
dll.
f. Kelengkapan berkas informed consent.
Analisa Data
Data hasil pengkajian dikumpulkan dan dianalisa sehingga dapat menilai
klasifikasi ASA pasien. Data yang telah di analisa digunakan untuk
menentukan diagnosa keperawatan, tujuan, perencanaan/implementasi
dan evaluasi pre anestesi.
Diagnosa, Tujuan, Perencanaan/implementasi dan Evaluasi Pre
Anestesi
a. Dx : Cemas b/d kurang pengetahuan masalah pembiusan
Tujuan : Cemas berkurang/hilang. Kriteria hasil :
 Pasien menyatakan tahu tentang proses kerja obat
anestesi/pembiusan.
 Pasien menyatakan siap dilakukan pembiusan.
 Pasien mengkomunikasikan perasaan negatif secara tepat.
 Pasien taampak tenang dan kooperatif.
 Tanda-tanda vital normal.
Rencana tindakan :
 Kaji tingkat kecemasan.
 Orientasikan dengan tim anestesi/kamar operasi.
 Jelaskan jenis prosedur tindakan anestesi yang akan dilakukan.
 Beri dorongan pasien untuk mengungkapkan perasaan.
 Dampingi pasien untuk mengurangi rasa cemas.
 Ajarkan tehnik relaksasi napas dalam.
 Kolaborasi untuk memberikan obat penenang.
Evaluasi :
 Pasien mengatakan paham akan tindakan pembiusan atau
anestesi.
 Pasien mengatakan siap dilakukan prosedur anestesi dan
operasi.
 Pasien lebih tenang.
 Ekspresi wajah cerah.
 Pasien kooperatif ditandai tanda-tanda vital dalam batas normal.

2. Intra Anestesi
Pengkajian Intra Anestesi dilakukan sejak pasien. Pengkajian Intra
anestesi meliputi :
a. Persiapan pasien, alat anestesi dan obat-obat anestesi.
b. Pelaksanaan anestesi
c. Monitoring respon dan hemodinamik pasien yang kontinu setiap 5
menit sampai 10 menit.
Analisa Data
Data yang telah di analisa digunakan untuk menentukan diagnosa
keperawatan, tujuan, perencanaan/implementasi dan evaluasi intra
anestesi.
Diagnosa, Tujuan, Perencanaan/implementasi dan Evaluasi intra
anestesi
a. Dx : Pola napas tidak efektif b/d disfungsi neuromuscular dampak
sekunder dari obat pelumpuh otot pernapasan dan obat general
anestesi.
Tujan : Pola napas pasien menadi efektif/normal.
Kriteria hasil :
 Frekuensi napas normal.
 Irama napas sesuai yang diharapkan.
 Ekspansi dada simetris.
 Jalan napas pasien lancar tidak didapatkan adanya sumbatan.
 Tidak menggunakan obat tambahan.
 Tidak terjadi sianosis, saturai O2 96-100%.
Rencana tindakan:
 Bersihkan secret pada jalan napas.
 Jaga patensi jalan napas.
 Pasang dan beri suplai oksigen yang adekuat.
 Monitor perfusi jaringan perifer.
 Monitor ritme, irama dan usaha respirasi.
 Monitor pola napas dan tanda-tanda hipoventiasi.

Evaluasi :
 Pola napas efektif dan tidak ada tanda-tanda sianosis.
 Napas spontan, irama dan ritme teratur.

b. Dx : Resiko aspirasi b/d penurunan tingkat kesadaran


Tidak akan terjadi aspirasi
Kriteria hasil :
 Pasien mampu menelan.
 Bunyi paru bersih.
 Tonus otot yang adekuat.
Rencana tindakan:
 Atur posisi pasien.
 Pantau tanda-tanda aspirasi
 Pantau tingkat kesadaran : reflek batuk, reflek muntah,
kemampuan menelan.
 Pantau bersihan jalan napas dan status paru.
 Kolaborasi dengan dokter.
Evaluasi :
 Tidak ada muntah.
 Mampu menelan.
 Napas normal tidak ada suara paru tambahan.
c. Dx : Resiko kecelakaan cedera b/d efek anestesi umum.
Tujuan : Pasien aman selama dan setelah pembedahan.
Kriteria hasil :
 Selama operasi pasien tidak bangun/tenang.
 Pasien sadar setelah anestesi selesai.
 Kemampuan untuk melakukan gerakan yang bertujuan.
 Kemampuan untuk bergerak atau berkomunikasi.
 Pasien aman tidak jatuh
Rencana tindakan:
 Atur posisi pasien, tingkatkan keamanan bila perlu gunakan tali
pengikat.
 Jaga posisi pasien imobile.
 Atur tmeja operasi atau tubuh pasien untuk meningkatkan fungsi
fisiologis dan psikologis.
 Cegah resiko injuri jatuh.
 Pasang pengaman tempat tidur ketika melakukan transportasi
pasien.
 Pantau penggunaan obat anestesi dan efek yang timbul.
Evaluasi :
 Pasien aman selama dan setelah pembiusan.
 Pasien nyaman selama pembiusan, tanda-tanda vital stabil.
 Pasien aman tidak jatuh.
 Skor aldert pasien ≥ 9 untuk bisa dipindahkan ke ruang rawat.
3. Post Anestesi
Pengkajian Post Anestesi dilakukan sejak pasien selesai dilakukan
tindakan pembedahan dan pasien akan dipindahkan ke ruang pemulihan.
Pengkajian Post anestesi meliputi :
a. Keadaan umum pasien dan tanda-tanda vital.
b. Status respirasi dan bersihan jalan napas.
c. Penilaian pasien dengan skala Aldert (untuk anestesi general) dan
skala Bromage (untuk anestesi regional)
d. Instruksi post operasi.
Analisa Data
Data yang telah di analisa digunakan untuk menentukan diagnosa
keperawatan, tujuan, perencanaan/implementasi dan evaluasi intra
anestesi.
Diagnosa, Tujuan, Perencanaan dan Evaluasi Post Anestesi
a) Dx : Gangguan rasa nyaman mual muntah b/d pengaruh sekunder
obat anestesi
Tujuan : Mual muntah berkurang.
Kriteria hasil :
 Pasien menyatakan mual berkurang.
 Pasien tidak muntah.
 Pasien menyatakan bebas dari mual dan pusing.
 Hemodinamik stabil dan akral kulit hangat.
Rencana tindakan:
 Atur posisi pasien dan tingkatkan keseimbangan cairan.
 Pantau tanda vital dan gejala mual muntah.
 Pantau turgor kulit.
 Pantau masukan dan keluaran cairan.
 Kolaborasi dengan dokter.
Evaluasi :
 Perasaan pasien lega, tidak pusing dan terbebas dari rasa mual.
 Akral kulit hangat tidak pucat/sianosis.
 Nadi teratur dan kuat
 Status hemodinamik stabil.
b) Dx: Nyeri akut b/d agen cidera fisik (operasi)
Tujuan : Nyeri berkurang atau hilang
Kriteria hasil :
a) Pasien menyatakan nyeri berkurang atau hilang.
b) Pasien mampu istirahat.
c) Ekspresi wajah tenang dan nyaman.
Rencana tindakan:
 Kaji drajat, lokasi, durasi, frekuensi dan karakteristik nyeri.
 Gunakan tehnik komunikasi terapeutik.
 Ajarkan tehnik relaksasi.
 Kolaborasi dengan dokter.
Evaluasi :
 Rasa nyeri berkurang atau hilang.
 Hemodinamik normal.
 Pasien bisa istirahat dan ekspresi wajah tenang.
d) Dx : Bersihan jalan napas tidak efektif b/d mukus banyak, sekresi
tertahan efek dari general anestesi.
Tujuan : bersihan jalan napas pasien efektif.
Kriteria hasil :
 Pola napas normal : frekuensi dan kedalaman, irama.
 Suara napas bersih.
 Tidak sianosis.
Rencana tindakan:
 Atur posisi pasien.
 Pantau tanda-tanda ketidak efektifan dan pola napas.
 Ajarkan dan anjurkan batuk efektif.
 Pantau respirasi dan status oksigenasi.
 Buka jalan napas dan bersihkan sekresi.
 Beri oksigenasi dan ajarkan napas dalam.
 Auskultasi suara napas dan pantau status oksigenasi dan
hemodinamik.
Evaluasi :
 Jalan napas efektif.
 Napas pasien spontan dan teratur.
 Tidak ada tanda-tanda sianosis.
 Status hemodinamik pasien stabil.

BAB III
PROSES KEPERAWATAN ANESTESIOLOGI

A. Pengkajian
Hari/tanggal : Rabu, 12 Desember 2018
Jam : 09.25 WIB
Tempat : OK 11 IBS RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto
Metode : Wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumen
Sumber data : Klien, keluarga, tim kesehatan, status kesehatan klien
Oleh : Afi, Erina, Nelya
Rencana tindakan : Septoplasty dan Etmoidektomi

1. Identitas
a. Pasien
Nama : Tn. S
Umur : 65 tahun
Agama : Islam
Status Perkawinan : Kawin
Alamat : Klirong, Kebumen
Pendidikan : SMA
Pekerjaan :-
Diagnosa medis : Rinosinusitis Kronis, Deviasi Nasal
Berat Badan : 55 kg
Tinggi Badan : 160 cm
No. Rekam Medis : 0206xxx
Dokter Bedah : dr. Bagus Condro P., Sp. THT – KL
Dokter Anestesi : dr. Hermin Prihatini, Sp.An., KIC.
b. Penanggungjawab
Nama : Tn. A
Umur : 30 tahun
Alamat : Klirong, Kebumen
Pekerjaan : PNS
Hub dengan Pasien : Anak kandung

PENGKAJIAN PRE ANESTESI

1. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Pasien mengatakan merasa takut akan dilakukan tindakan
operasi dan ini merupakan operasi yang kedua kalinya. Sehari
sebelum operasi pasien sudah merasa cemas.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Tanggal 28 Agustus 2018 pasien mengatakan hidung terasa
mampat, nafas terengah-engah dan bernafas seperti tidak lapang,
kemudian pasien periksa di RSUD Kebumen dan diagnosis
sinusitis / polip hidung, pasien rawat jalan dengan terapi obat tetes
hidung dan antibiotik. Pasien mengalami pengobatan selama 3 bulan,
namun tak kunjung membaik, kemudian pasien dirujuk ke poli THT
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto pada bulan 08
Desember 2018. Dari hasil pemeriksaan oleh dokter spesialis THT
dan bacaan hasil CT-Scan (dilakukan di RSUD Kebumen)
didapatkan diagnosis medis Rinosinusitis Kronis dan Deviasi Nasal
dan akan direncanakan operasi septoplasty dan etmoidektomi pada
tanggal 12 Desember 2018. Instruksi dari dokter spesialis THT
adalah mulai rawat inap tanggal 11 Desember 2018, diit TKTP,
hindari dingin, hindari mengorek telinga/hidung dan hindari
kemasukan air.
Tanggal 11 Desember 2018 pasien rawat inap di ruang
Teratai RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Pasien
mengatakan memiliki penyakit asma, didapatkan sekitar 9 tahun
yang lalu dan tidak mengkonsumsi obat secara rutin, pasien
mengatakan alergi terhadap udara dingin. Tanggal 12 Desember
2018 pukul 09.25 WIB pasien tiba di ruang penerimaan Instalasi
Bedah Sentral Lantai III RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo
Purwokerto.

c. Riwayat Kesehatan Terdahulu


Pasien mengatakan sekitar 1,5 tahun yang lalu pernah
menjalani operasi di prostat karena prostat yang membesar di RSUD
Kebumen. Dan pasien memiliki riwayat penyakit asma namun jarang
kambuh dan kambuh nya musiman, biasanya jika cuaca hujan atau
berhawa dingin.
Pasien dan keluarga mengatakan pasien tidak memiliki
penyakit yang butuh perawatan khusus seperti DM, hipertensi,
gangguan jantung maupun penyakit keganasan.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Pasien dan keluarga mengatakan didalam keluarga nya
terdapat riwayat penyakit asma yang berasal dari orangtua pasien.
Yang saat ini menderita asma adalah pasien dan kedua adiknya.
Pasien dan keluarga mengatakan didalam keluarganya tidak
ada yang memiliki penyakit yang butuh perawatan khusus seperti
DM, hipertensi, gangguan jantung maupun penyakit keganasan.
e. Penyakit Penyerta
Pasien dan keluarga mengatakan pasien memiliki penyakit
asma, tetapi jarang kambuh, biasanya kambuh 1 tahun 2 – 3 kali,
pencetus kambuhnya asma adalah hawa dingin dan jika kondisi
badan tidak fit. Gejala saat asma kambuh adalah batuk yang tak
kunjung membaik (seharian) dan diikuti sesak nafas. Biasanya
digunakan untuk istrahat asma membaik. Jika kambuh
mengkonsumsi obat seretide hisap pagi dan sore.
Terakhir kambuh setengah tahun yang lalu, penanganan nya
dengan konsumsi obat seretide dan menggunakan inhaler.

2. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum: Baik
b. Kesadaran : Compos mentis (E4,V5,M6)
c. Berat Badan : 55 kg
d. Tanda Vital :
TD: 140/90 mmHg
N: 97 x/mnt
RR :16 x/mnt
Suhu : 36,8 o C
e. Alergi : hawa dingin
f. Obat yang dikonsumsi : seretide 2 x 250 mcg
g. Pemeriksaan Head to Toe
1) Kepala
Bentuk kepala mesochepal, tidak ada lesi di daerah kepala, kulit
rambut bersih
2) Mata
Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, palpebra tidak
ada oedema, tidak menggunakan lensa kontak
3) Telinga
Telinga tidak ada serumen, weber : tidak ada lateralisasi,
swabach : sama dengan pemeriksa.
4) Hidung
Terdapat deviasi tulang hidung, terdapat oedema konka, tidak
ada hiperemis, terdapat nyeri tekan
5) Mulut
Pengkajian kesulitan intubasi : Mallampati 1, mulut bersih, tidak
ada sariawan, bibir tidak sianosis, mukosa bibir kering, tidak
menggunakan gigi palsu, tidak ada kawat gigi
6) Wajah
Warna kulit putih, tidak ada deformitas dan krepitasi pada tulang
wajah, tidak ada lesi
7) Leher
Leher simetris, tidak ada deviasi trachea, tidak ada perbesaran
kelenjar getah bening, orofaring tidak hiperemis

8) Dada (Paru-paru)
Inspeksi : bentuk dada normochest, ekspansi dada simetris, tidak
ada lesi di dada, tidak ada retraksi dada, tipe pernafasan
thorakoabdominal
Palpasi : taktil fremitus normal
Perkusi : timbul suara sonor
Auskultasi : suara nafas vesikuler, tidak ada suara nafas
tambahan
9) Dada (Jantung)
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : letak ictus cordis pada spatium intercostal IV medial
linea midklavikula sinistra, kekuatan ictus cordis tidak kuat
angkat
Perkusi : batas jantung normal
 Kanan atas : SIC II Linea para sternalis dextra
 Kanan bawah : SIC IV linea parasternalis sinistra
 Kiri atas : SIC II linea para sternalis sinistra
 Kiri bawah : SIC IV linea medio clavicularis sinistra
Auskultasi : BJ I – II normal, bunyi jantung reguler
10) Abdomen
Inspeksi : tidak ada lesi, bentuk abdomen rata (tidak buncit)
Auskultasi : bising usus 12 kali permenit
Perkusi : timbul suara timpani di semua kuadran
Palpasi : otot perut supel di keempat kuadran, hepar tak teraba,
tidak ada nyeri tekan disemua kuadran
11) Urogenetalia
Daerah urogenitalia tidak distensi
Genetalia bersih, tidak ada lesi, tidak terpasang kateter.
12) Ekstremitas
a) Atas
Pada tangan kanan terpasang infuse RL 40 tpm, CRT < 2
detik, kuku tidak sianosis, akral hangat

b) Bawah
CRT < 2 detik, kuku tidak sianosis, akral hangat
c) Kekuatan otot

5 5
Kanan Kiri
5 5
3. Pemeriksaan Psikologis
Pasien mengatakan takut dan cemas mau dilakukan tindakan
operasi walaupun dahulu mempunyai riwayat operasi di prostat. Pasien
nampak berdzikir di ruang penerimaan. Pasien menanyakan saat operasi
sadar atau tidak dan sakit atau tidak.
4. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
1) Darah rutin

Satua
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
n
Hematologi
Hemoglobin 13,1 g/dL 11,2 – 17,3
Leukosit 8670 u/L 3900 – 10000
Hematokrit 40 % 40 – 52
Eritrosit 10^6 /
4,5 4,4 - 5,9
uL
Trombosit 356.000 /uL 150.000 – 440.000
Index Eritrosit
MCV 87,8 fL 80 – 100
MCH pg/cel
29,1 26 – 34
l
MCHC 33,2 % 32 – 36
Hitung Jenis Leukosit
Basofil 0,7 % 0–1
Eosinofil 2,2 % 2–4
Batang 0,2 % 3–5
Segmen 57,7 % 50 – 70
Limfosit 31,7 % 25 – 40
Monosit 7,5 % 2–8
Faktor Pembeku Darah
PTT 10,3 Det 9,9 – 11,8
APTT 32,7 Det 26,4 – 37,5
Faal Hati
SGOT 15 u/L 15 – 37
SGPT 22 u/L 16 – 63
Faal Ginjal
Ureum darah 16,50 mg/dL 14,90 – 38,52
Creatinin darah 1,00 mg/dL 0,70 – 1,30
Karbohidrat
Glukosa sewaktu 116 mg/dL <= 200

Hbs Ag Non Non reaktif


reaktif
HIV Non
Non reaktif
reaktif

2) Analisa Gas Darah

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal


Ph 7,44 7,35 – 7,45
pO2 85,4 mmHg 80 – 100
pCO2 35,9 mmHg 35 – 45
HCO3 mmol/
25,5 21 – 29
L
BE mmol/
1,3 -2 - +2
L
Saturasi 97 % 95 – 100

b. Radiologi
1) CT - Scan
Tanggal : 26 – 08 – 2018
Jenis pemeriksaan : CT Scan 16 slice
Hasil :
 Fossa rosenmullery dan torus tubarius bilateral tampak
simetris
 Tampak lesi hipodens di cavum nasi densitas 28 – 40 HU
dan sedikit di sinus etmoidalis
 Tampak gambaran concha bullosa dextra
 Tak tampak lesi di sinus maxillaries bilateral frontalis dan
sphenoidalis
 Tampak deviasi septum nasi
 Tak tampak osteodestriksi
Kesan :
 Massa di cavum nasi sampai sinus ethmoidalis DD/ massa
inflamsi rhinitis kronis
 Concha bullosa dextra
 Tak tampak gambaran massa di nasopharyng
2) Rontgen Thorax
Tanggal : 11 Desember 2018
Hasil : CTR dalam batas normal
c. EKG
Tanggal : 11 Desemner 2018
Hasil : sinus rhytm
5. Kebutuhan Cairan
a. Monitoring cairan
Kebutuhan cairan pasien selama operasi yang harus terpenuhi :
1) Rumus maintenance (M): 2cc/kgBB
2 cc x 55 kg : 110 cc
2) Rumus pengganti puasa (PP): Lama puasa (jam) x maintenance
8 x 110 cc = 880 cc
3) Rumus stress operasi (SO): Jenis operasi (b/s/k) x BB
6 x 55 kg (operasi sedang) = 330 cc
b. Prinsip pemberian cairan durante operasi
1) Kebutuhan jam ke - I : M + ½ PP + SO = 110 cc + 440 cc + 330
cc = 880 cc
2) Kebutuhan jam ke – II : M + ¼ PP + SO = 110 cc + 220 cc +
330 cc =660 cc
6. Kesimpulan : status fisik ASA II
7. Rencana Anestesi : General Anestesi dengan teknik intubasi ETT kinkin
8. Persiapan penatalaksanaan anestesi
a. Persiapan Mesin
1) Menyambungkan mesin ke sumber listrik
2) Mengecek sumber gas apakah sudah terpasang dan tidak ada
kebocoran
3) Mengecek vaporizer dan pastikan terisi volatil agent
(isoflurance dan sevoflurance)
4) Memastikan bag mask, circuit dan konektor sesuai tempatnya
5) Mengecek kondisi canester (sodalyme) berwarna abu-abu
(belum berubah warna)
6) Mengecek apakah ada kebocoan mesin
7) Menyiapkan monitor lengkap dengan manset dan finger sensor
8) Menyiapkan lembar durantee anestesi dan balance cairan
b. Persiapan Alat
1) S (Scope) : Laryngoscope dan stesoscope
2) T (Tube) : ETT kinkin No 7, 7,5
3) A (Aiway) : OPA
4) T (Tape) : Plester ± 20 cm 2 lembar
5) I (Introducer) : Mandring dan stilet
6) C (Conector)
7) S (Suction) : Kanul dan selang suction
c. Persiapan Obat
1) Obat Premedikasi
Ondancetron 4 mg (1 ampul : 4mg/2ml)
Dexamethason 5 mg
2) Obat Induksi
Fentanyl 50 mcg (1 ampul : 100mcg/2ml)
Propofol 70 mg (1 ampul : 200 mg/20ml)
3) Obat Antiperdarahan
Asam tranexamat 500 mg (1 ampul : 500mg/5ml)
Phytomenadione 4 mg (1 ampul : 2mg/1ml)
4) Obat Muscle Relaxant
Rucoronium 30 mg ( 1 ampul : 50mg/5ml)
5) Obat Emergency
Sulfas atropine : 1 ampul (0,25 mg/1ml)
Neostigmin : 2 ampul (12,5mg/5ml)
Adrenaline : 1 ampul (1mg/1ml)
Ephedrine : 1 ampul (50mg/1ml)
Dexamethason : 2 ampul (5mg/1ml)
Aminophylin : 1 ampul (240mg/10ml)
6) Obat Analgetik
Tramadol 1 ampul (100mg/2ml)
d. Persiapan Cairan
1) Kristaloid : RL 2 plabot, asering 1 plabot
2) Koloid : Terastrach 1 plabot
e. Persiapan Pasien
1) Pasien tiba di IBS jam 09.25 WIB
2) Serah terima dengan petugas ruangan, periksa status pasien
termasuk informed consent dan obat-obatan yang telah diberikan
di ruang perawatan
3) Mengecek ulang identitas pasien (nama, alamat dan tanggal
lahir) dan menanyakan ulang jam berapa mulai puasa, riwayat
penyakit dan alergi serta berat badan saat ini
4) Memasang monitor tanda vital
TD: 140/90 mmHg, N: 97 x/mnt, RR :16 x/mnt, Suhu : 36,8 o C,
SaO2 : 100 %
5) Memeriksa kelancaran tetesan infuse
6) Lapor dokter anestesi hasil observasi, dari kolaborasi dengan
dokter pasien dipindahkan ke meja operasi dan diberikan
premedikasi
PENGKAJIAN INTRA ANESTESI

1. Jenis Pembedahan : Septoplasty dan Etmoidektomi (FESS)


2. Jenis Anestesi : General anestesi
3. Teknik Anestesi : Intubasi (ETT Oral)
4. Ukuran ETT : 7,5
5. Mulai Anestesi : Pukul 09.45WIB
6. Mulai Operasi : Pukul 10.00 WIB
7. Posisi : Supine
8. Premedikasi : Ondancetron 4mg / IV, dexamethason 5 mg / IV ,fentanyl
50 mcg / IV
9. Induksi : Propofol 70 mg/IV
10. Pelumpuh otot : Rucoronium 30 mg / IV
11. Medikasi tambahan :
a. Asam tranexamat 500 mg / IV pukul 10.15 WIB
b. Phytomenadione 20 mg / IV pukul 10.15 WIB
c. Tramadol 100 mg / IV pukul 11.15 WIB
d. Dexamethason 5 mg / IV pukul 11.40 WIB
12. Maintanance : Sevoflurane 2 vol%, N20:O2 50:50 (2 lt : 2 lt)
13. Respirasi : Spontan
14. Akral teraba dingin
15. Monitoring selama anestesi
Jam TD N SaO RR Tindakan
(x/mnt (x/mnt)
(mmHg 2
) (%)
)
Ondancetron 4 mg
Dexamethason 5 mg
09.45 140/70 97 100 16 Fentanyl 50 mcg
Propofol 70 mg
Rucoronium 30 mg
Intubasi ETT no 7,5
09.50 140/63 80 100 0 (oral)
Pasang kateter no 18
09.55 137/72 73 100 16
10.00 132 / 74 72 100 16
10.05 130/70 70 100 16
Ganti infuse dari RL
10.10 122/72 70 100 16 (100ml) ke terastrach
(500ml)
Asam tranexamat 500
mg
10.15 110/64 72 100 16
Phytomenadione 20
mg
10.20 127/70 69 100 16
10.25 118/72 72 100 16
10.30 109/64 64 100 16
10.35 108/71 63 100 16
10.40 104/66 66 100 16
Ganti infuse dari
terastrach ke
10.45 102/66 62 100 16
asering(500ml)
Urin output : 110cc
10.50 100/62 60 100 16
10.55 101/65 61 100 16
11.00 101/65 58 100 16
11.05 99/67 54 100 16
11.10 98/61 58 100 16
11.15 102/60 55 100 16
11.20 98/56 56 100 16
Ganti infuse dari
11.25 99/62 58 100 16 asering ke RL
(500ml)
11.30 97/62 60 100 16
11.35 97/60 60 100 16
Pengakhiran anestesi :
suction, ekstubasi
11.40 112/72 62 100 16
ETT oral
Dexamethason 5 mg
11.45 114/73 72 100 18 Urin output : 200 cc
16. Cairan Durante Operasi :
Kristaoid : RL 600 cc, Asering 500 cc,
Koloid : Terastrach 500 cc
17. Perdarahan : 80 cc
18. Urin output : 200 cc
19. Pemantauan Tekanan Darah dan HR (Terlampir)
20. Selesai operasi : 11.30 WIB
21. Pengakhiran anestesi
a. Pengakhiran anestesi pukul 11.40 WIB, pasien nafas spontan 16
kali permenit dan diberikan dexamethason 5 mg
b. Monitor tanda vital : TD = 114/73 mmHg, N = 72 x / menit,
SaO2 = 100 %, RR = 18 x / menit
c. Pasien dipindahkan ke recovery room dan dilakukan monitoring
selama 30 menit.

PENGKAJIAN POST ANESTESI

1. Pasien masuk ruang recovery room pukul 11.45 WIB


2. Kesadaran : alert respon, E4V5M6
3. Pasien tenang, tidak gelisah
4. Posisi pasien pasca anestesi : posisi recovery
5. Pasien tidak mengalami PONV
6. Monitoring hemodinamik
TD N SaO RR
Jam (mmHg (x/menit 2 (x/menit Tindakan
) ) (%) )
Pasien tiba di RR,
memasang manset,
finger sensor, O2
11.45 114/73 72 100 18 melalui kanul nasal
3 lpm
Pasien mampu
berkomunikasi
11.50 118/76 82 100 20
11.55 122/74 82 100 20
12.00 121/72 80 100 20
12.05 120/81 82 100 20
12.10 121/82 81 100 20
Pasien dipindah ke
12.15 118/78 74 100 20
ruang perawatan

Catatan post operasi :


Monitor vital sign setiap 30 menit pada 3 jam pertama.

7. Aldrete Skor
Jam
No Kriteria Skor 12.1
11.45 12.00
5
1 Aktivitas motorik :
Mampu menggerakkan 2  
empat ekstremitas
Mampu menggerakkan dua
1 
Ekstremitas
Tidak mampu
0
menggerakkan ekstremitas
2 Respirasi : 2   
Mampu napas dalam, batuk
dan tangis kuat
Sesak atau pernapasan
1
Terbatas
Henti napas 0
3 Tekana darah :
Berubah sampai 20% dari 2   
Prabedah
Berubah 20%-50% dari
1
Prabedah
Berbubah > 50% dari
0
Prabedah
4 Kesadaran :
2 
Sadar baik dan orientasi baik
Sadar setelah dipanggil 1  
Tak ada tanggapan terhadap
0
Rangsangan
5 Warna kulit :
2   
Kemerahan
Pucat agak suram 1
Sianosis 0
Total 8 9 10

ANALISIS DATA
Tgl /
No Data Masalah Etiologi
Jam
Pre Anestesi
1 12-12- DS: Cemas Kurang
2018 Pasien mengatakan takut pengetahuan
09.25
dan cemas mau dilakukan tentang
tindakan operasi walaupun pembiusan
dahulu mempunyai
riwayat operasi di prostat.
Pasien nampak berdzikir
di ruang penerimaan.
Pasien menanyakan saat
operasi sadar atau tidak
dan sakit atau tidak.
DO:
TD: 140/90 mmHg,
N: 97 x/mnt,
RR :16 x/mnt,
Suhu : 36,8 o C,
SaO2 : 100 %
Intra Anestesi
2 12-12- DS: - Pola nafas Disfungsi
DO:
2018 tidak efektif neuromuscula
 Tanda vital : TD =
09.50
r dampak
140/63 mmHg, N = 80
sekunder obat
x/menit, SaO2 = 100%
 Pasien apnea pelumpuh otot
 Pemberian obat musle pernafasan
relaxant (rucoronium
30mg IV)

3 12-12- DS: - Resiko syok Dampak


DO:
2018 kardiogenik sekunder dari
 Selama durantee anestesi
11.00
obat anestesi
nadi antara 58 – 60 x
umum
/menit
 Tekanan darah antara
100 – 90 / 70-60 mmHg
durantee anestesi
 Akral dingin
4 12-12- DS: - Bersihan Hipersekresi,
DO:
2018 jalan nafas sekresi
 Terdengar suara gurgling
11.40
 Terdapat banyak mukus tidak efektif tertahan efek
di mulut pasien dari general
 Adanya riwayat penyakit anestesi
asma
Post Anestesi
5 12-12- DS: - Resiko Efek anestesi
DO :
2018 cedera umum
 Pasien bergerak tak
11.45
terkontrol (mulai sadar
atau bangun)
 Kesadaran pasien :
respon panggil

B. Diagnosis Keperawatan
Pre Anestesi
1. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang pembiusan
ditandai dengan pasien mengatakan takut dan cemas mau dilakukan
tindakan operasi walaupun dahulu mempunyai riwayat operasi di prostat.
Pasien nampak berdzikir di ruang penerimaan. Pasien menanyakan saat
operasi sadar atau tidak dan sakit atau tidak, TD: 140/90 mmHg, N: 97
x/mnt, RR :16 x/mnt, Suhu : 36,8 o C, SaO2 : 100 %.
Intra Anestesi
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan disfungsi neuromuscular
dampak sekunder obat pelumpuh otot pernafasan ditandai dengan tanda
vital : TD = 140/63 mmHg, N = 80 x/menit, SaO2 = 100%, pasien apnea,
pemberian obat musle relaxant (rucoronium 30mg IV).
3. Resiko syok kardiogenik berhubungan dengan dampak sekunder dari
obat anestesi umum ditandai dengan selama durantee anestesi nadi antara
58 – 60 x /menit, tekanan darah antara 100 – 90 / 70-60 mmHg dan akral
dingin.
4. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi,
sekresi tertahan efek dari general anestesi ditandai dengan terdengar
suara gurgling, terdapat banyak mukus di mulut pasien, dan adanya
riwayat penyakit asma
Post Anestesi
5. Resiko cedera berhubungan dengan efek anestesi umum ditandai dengan
pasien bergerak tak terkontrol (mulai sadar atau bangun) dan kesadaran
pasien : respon panggil
C. Perencanaan Keperawatan
Hari, tanggal : Rabu, 12 Desember 2018

No Diagnosis Tujuan Intervensi Rasional


Pre Anestesi
1 Jam 09.30 WIB Setelah dilakukan tindakan a. Kaji tingkat kecemasan a. Mengetahui tingkat kecemasan
Cemas keperawatan selama 15 menit pasien dan dapat menentukan
berhubungan di ruang persiapan, cemas tindakan keperawatan selanjutnya
b. Pengenalan akan tim dan
dengan kurang berkurang/hilang dengan b. Orientasikan dengan tim
lingkungan operasi mampu
pengetahuan kriteria : kamar operasi
mengurangi kecemasan pasien
tentang  Pasien mampu
karena akan saling menjalin
pembiusan menyebutkan jenis
c. Jelasakan jenis tindakan komunikasi
pembiusan yang dilakukan
c. Pengetahuan yang cukup tentang
 Pasien menyatakan siap anestesi yang akan
tindakan pembiusan mengurangi
untuk dilakukan dilakukan
d. Damping pasien dalam kecemasan pasien
pembiusan
d. Pendampingan kepada pasien
 Pasien tampak tenang dan mengurangi rasa cemas
meningkatkan rasa nyaman dan
kooperatif
e. Ajarkan teknik relaksasi
 Tanda-tanda vital dalam aman
nafas dalam e. Teknik relaksasi nafas dalam
batas normal (TD 140-90 /
Nelya
mampu menenangkan fikiran dan
80-60, N : 60-100 kpm,
membuat pasien tidak cemas
RR : 10 – 20 kpm) Nelya
Intra Anestesi
2 Jam 09.50 Selama dilakukan tindakan a. Jaga patensi jalan nafas a. Mempertahankan keadekuatan
Pola nafas tidak keperawatan intra anestesi, supplay oksigen
b. Pasang ETT kingking
b. ETT mampu menjaga patensi jalan
efektif pasien menunjukkan pola nafas
c. Pasang dan beri suplai nafas
berhubungan efektif dengan kriteria :
c. Memenuhi kebutuhan oksigen
oksigen yang adekuat
dengan disfungsi  Irama nafas teratur
d. Monitor perfunsi jaringa paru-paru
 Frekuensi nafas normal
neuromuscular d. Keadekuatan supplay oksigen ke
perifer
(10 – 20 x/menit)
dampak sekunder e. Monitor ritme, irama dan jaringan perifer
 Jalan nafas pasien lancar
e. Ritme, irama dan usaha respirasi
obat pelumpuh  Auskultasi bunyi paru : usaha respirasi
f. Monitor tidal volume merupakan keadekuatan pernafasan
otot pernafasan vesikuler
Nelya f. Menegtahui ketercapaian tidal
 Tidak terjadi sianosis,
volume dan untuk menentukan
saturasi : 96-100 %
intervensi keperawatan selanjutnya
Nelya
3 Jam 11.05 WIB Setelah dilakukan tindakan a. Monitor tekanan darah a. Mengetahui perubahan
Resiko syok keperawatan selama intra dan nadi haemodinamik
b. Monitor adanya sianosis b. Sianosis merupakan tanda
kardiogenik anestesi, pompa jantung dan
kekurangan oksigen
berhubungan sirulasi efektif dengan criteria : c. Monitor status
c. Status pernafasan yang adekuat
dengan dampak  Tekanan darah sistolik dan pernafasan
menunjukkan masukan oksigen yang
sekunder dari diastolic dalam batas normal
d. Berikan oksigen (3-5 cukup
obat anestesi (sistol : 140 – 90 mmHg, lpm) d. Memenuhi kebutuhan oksigen
e. Berikan cairan sesuai
umum diastolic : 60-90 mmHg)
e. Keadaan normovolemik, tekanan
 Denyut jantung normal : 60 kebutuhan
f. Kolaborasi pemberian darah dan nadi dalam batas normal
– 100 x / menit
f. Obat vasopresor dapat meningkatkan
 Denyut nadi perifer kuat dan obat vasopresor jika
tekanan darah dan nadi
teratur dibutuhkan
Afi
Afi
4 Jam 11.40 WIB Setelah dilakukan tindakan a. Atur posisi pasien a. Posisi ekstensi dapat mempatenkan
Bersihan jalan keperawatan selama intra dengan kepala ekstensi jalan nafas sehingga tidak terjadi
nafas tidak efektif anestesi, bersihan jalan nafas sianosis
b. Buka jalan nafas
b. Memudahkan pasien untuk
berhubungan menjadi efektif dengan
mengambil nafas ruangan sehingga
dengan kriteria :
pasien tidak gelisah
hipersekresi,  Pola nafas normal : c. Pantau tanda-tanda
c. Adanya mucus didalam saluran
sekresi tertahan frekuensi, kedalaman, ketidakefektifan jalan
pernafasan dapat mengganggu
efek dari general irama nafas
jalannya nafas pasien sehingga
 Jalan nafas paten
anestesi
 Suara nafas bersih d. Bersihakan sekresi menyebabkan desaturasi
 Tidak sianosis d. Tindakan suction dapat
mukus
mengurangi jumlah mucus dalam
saluran pernafasa sehingga jalan
e. Ingatkan pasien untuk
nafas menjadi paten
nafas dalam
e. Nafas dalam mampu
Afi memaksimalkan ekspansi dadi
sehingga oksigen dapat
terdistribusikan ke seluruh jaringan
tubuh
Afi
Post Anestesi
5 Jam 11.45 WIB Setelah dilakukan tindakan a. Tingkatkan keamanan a. Dengan meningkatkan keamanan
Resiko cedera keperawatan selama post pasien pasien dapat mencegah kejadian
berhubungan ansetesi, pasien aman dengan yang tidak diinginkan
b. Jaga posisi imobil
b. Pasien imobil mampu mengurangi
dengan efek kriteria:
kejadian cedera pada pasien karena
anestesi umum  Pasien sadar setelah
dalam kondisi tidak bisa bergerak
anestesi selesai (AS >= 8) c. Cegah resiko jatuh
 Kemampuan pasien untuk dan selalu dalam pengawasan
(memasang pengaman
c. Memasang pengaman tempat tidur
melakukan gerakan yang
tempat tidur)
supaya jika pasien gelisah tidak
bertujuan / tidak gelisah d. Pantau penggunaan obat
 Kemampuan pasien untuk terjadi jatuh
anestesi dan efek yang
d. Obat-obatan anestesi menimbulkan
berkomunikasi
timbul
 Pasien aman tidak jatuh efek gelisah sehingga perlu
e. Ajak pasien untuk
pengawasan ketat
berkomunikasi
e. Komunikasi mampu membangitkan
Erina
orientasi pasien
Erina
D. Implentasi dan Evaluasi
Tanggal : Rabu, 12 Desember 2018

Diagnosis
Waktu Implementasi Evaluasi
Keperawatan
Pre Anestesi
Cemas 09.25 a. Mengkaji tingkat kecemasan Jam 09.45 WIB
09.25 b. Menjelasakan jenis tindakan S :
berhubungan
Pasien mampu menyebutkan jenis pembiusan dan
anestesi yang akan dilakukan
dengan kurang 09.25
c. Mendamping pasien dalam mengatakan lebih tenang sehingga siap untuk
pengetahuan
09.30 mengurangi rasa cemas menjalani operasi
tentang d. Mengajarkan teknik relaksasi O :
TD : 134/74 mmHg, N : 82 kpm, SaO2 : 100%,
pembiusan nafas dalam
Nelya pasien nampak kooperatif
A : cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan
tentang pembiusan teratasi, pasien siap dilakukan
pembiusan
P:
 Pindahkan pasien dari ruang penerimaan ke
meja operasi
 Lanjutkan intervensi pendampingan pasien di
meja operasi
Nelya
Intra Anestesi
Pola nafas tidak 09.50 a. Menjaga patensi jalan nafas Jam 11.45 WIB
09.50 b. Memasang ETT kingking S:-
efektif
09.50 c. Memasang dan beri suplai O :
berhubungan Pasien terintubasi dengan ETT kingking no 7,5
oksigen yang adekuat
09.50 –
dengan disfungsi d. Memonitor perfusi jaringan dengan isi cuff 20 mmHg, O2 2 lpm, nafas spontan
11.45
neuromuscular perifer teratur, tidak ada sianonis, CRT < 2 detik, monitoring
e. Memonitor ritme, irama dan
dampak sekunder tanda-tanda vital terlampir
usaha respirasi A : gangguan pola nafas teratasi
obat pelumpuh
f. Memonitor tidal volume P:
otot pernafasan Nelya  Lanjutkan intervensi jaga patensi jalan nafas
sampai pasien tiba di recovery room
Nelya
Resiko syok 09.45 – a. Memonitor tekanan darah dan Jam 11.45 WIB
S:-
kardiogenik 11.45 nadi
O:
b. Memonitor adanya sianosis
berhubungan Tidak ada sianosis, nafas spontan, O2 2 lpm, cairan
c. Memonitor status pernafasan
dengan dampak d. Memberikan cairan sesuai kristaloid masuk 1100 cc dan koloid 500 cc,
sekunder dari kebutuhan monitoring haemodinamik terlampir
Afi A: resiko syok kardiogenik teratasi
obat anestesi
P:
umum  Monitoring hemodinamik
Afi
Bersihan jalan 11.40 – a. Mengatur posisi pasien dengan Jam 12.00 WIB (di RR)
S:
nafas tidak 11.45 kepala ekstensi
Pasien mengatakan mau melakukan nafas dalam
b. Membuka jalan nafas
efektif O : mulut bersih, tidak ada mukus, jalan nafas paten,
c. Memantau tanda-tanda
berhubungan pasien, pasien mampu membuka mata dan
ketidakefektifan jalan nafas
dengan d. Membersihakan sekresi mukus berkomunikasi, monitoring haemodinamik terlampir
11.55
e. Meningatkan pasien untuk nafas A : bersihan jalan nafas tidak efektif teratasi
hipersekresi,
P:
11.40 dalam
sekresi tertahan  Monitoring jalan nafas dan adanya sekresi yang
f. Memberikan dexamethason 5mg
efek dari general tertahan
melalui IV
Afi
anestesi Afi

Post Anestesi
Resiko cedera 11.45 – a. Meningkatkan keamanan pasien Jam 12.15 WIB
b. Menjaga posisi imobil S:
berhubungan 12.15
c. Memasang pengaman tempat Pasien bertanya apakah operasi nya sudah dilakukan
dengan efek
tidur atau belum
anestesi umum d. Memantau penggunaan obat O :
Pasien mampu berkomunikasi, dapat berorientasi
anestesi dan efek yang timbul
e. Mengajak pasien untuk tempat dan orang, pasien mampu melakukan gerakan
berkomunikasi yang bertujuan, aldrete skor 10, monitoring
Erina
haemodinamik di RR terlampir
A : resiko cedera karena efek anestesi umum teratasi
sebagian
P:
 Pertahankan pengaman tempat tidur tepasang
 Jalin komunikasi dengan pasien
 Pindahkan pasien ke ruangan
Erina
ANALISIS JURNAL

Menururt jurnal (Astuti W, Mahmud, Bambang S, 2014) yang berjudul


“Anestesi pada Ovum Pick Up (OPU)” berisi tentang laporan kasus seorang
perempuan 37 tahun terdiagnosa infertil primer. Prosedur yang akan dilakukan
adalah Ovum Pick Up (OPU). Status fisik ASA II karena asma.Dilakukan anestesi
dengan GA TIVA. Premedikasi yang diberikan untuk menanggulangi penyakit
penyerta asma adalah pemberian dexamethasone 10mg / IV dikarenakan
dexamethasone mampu menstabilkan sel mast (menstabilkan adanya reaksi
hipersensitivitas dari obat-obatan anestesi yang mampu mencetuskan asma) dan di
jurnal tersebut dikatakan pentingnya kunjungan pre anestesi untuk mengevaluasi
kesiapaan kondisi fisik dan psikis pasien operasi dengan asma.

Pada kasus Tn.S dengan diagnosis medis Rinosinusitis Kronis dan adanya
riwayat asma yang didapatkan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto,
prosedur yang dilakukan hampir sama dengan penanganan asma pada jurnal
tersebut, dengan melakukan kunjungan pre anestesi dan didapatkan data objektif
kondisi Tn.S dan seputar kekambuhan asmanya. Premedikasi yang diberikan
dexamethasone 5 mg/ IV dan pada saat ekstubasi juga diberikan dexamethasone 5
mg /IV sebagai upaya menurunkan reaksi hipersentivitas dan reaksi
bronkospasme laring.
KESIMPULAN

Dari kasus Tn. S dengan diagnosis medis Rinosinusitis Kronis dan Deviasi
Nasal yang dilakukan tindakan septoplasty dan etmoidektomi (tindakan FESS /
Functional Endoscopic Sinus Surgery) dengan teknik anestesi umum didapatkan 5
masalah keperawatan yaitu :

Pre Anestesi
1. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang pembiusan ditandai
dengan pasien mengatakan takut dan cemas mau dilakukan tindakan operasi
walaupun dahulu mempunyai riwayat operasi di prostat. Pasien nampak
berdzikir di ruang penerimaan. Pasien menanyakan saat operasi sadar atau
tidak dan sakit atau tidak, TD: 140/90 mmHg, N: 97 x/mnt, RR :16 x/mnt,
Suhu : 36,8 o C, SaO2 : 100 %.
Intra Anestesi
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan disfungsi neuromuscular
dampak sekunder obat pelumpuh otot pernafasan ditandai dengan tanda vital :
TD = 140/63 mmHg, N = 80 x/menit, SaO2 = 100%, pasien apnea,
pemberian obat musle relaxant (rucoronium 30mg IV).
3. Resiko syok kardiogenik berhubungan dengan dampak sekunder dari obat
anestesi umum ditandai dengan selama durantee anestesi nadi antara 58 – 60
x /menit, tekanan darah antara 100 – 90 / 70-60 mmHg dan akral dingin.
4. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi, sekresi
tertahan efek dari general anestesi ditandai dengan terdengar suara gurgling,
terdapat banyak mukus di mulut pasien, dan adanya riwayat penyakit asma
Post Anestesi
5. Resiko cedera berhubungan dengan efek anestesi umum ditandai dengan
pasien bergerak tak terkontrol (mulai sadar atau bangun) dan kesadaran
pasien : respon panggil

Dari kelima masalah keperawatan tersebut masalah 1 – 4 sudah teratasi, dan


masalah ke 5 masih memerlukan pengawasan yang ketat hingga 3 jam setelah
keluar dari recovery room karena obat-obatan anestesi belum semuanya
tereksresikan.
Pasien operasi dengan penyakit penyerta asma memerlukan perhatian
khusus terutama dalam rangka kekambuhan asma selama pelayanan peri anestesi.
Kunjungan pre anestesi penting dilakukan sebagai upaya preventif dan pemberian
premedikasi mampu menekan kekambuhan asma intra dan post anestesi.
Premedikasi yang diberikan pada kasus ini adalah dexamethasone 5 mg IV
dikarenakan jenis asma pasien adalah asma intermitten (jarang kambuh) dan juga
disediakan obat-obatan emergency yaitu aminophyline. Pemilihan obat-obatan
yang antihistamin realese juga penting diperhatikan pada pasien asma.

Pemilihan teknik anestesi menggunakan teknik intubasi ETT kinkin


dikarenakan tindakan yang dilakukan operator berupa FESS yang berada di area
hidung (wajah) sehingga tidak memungkinkan untuk tidak dilakukan manipulasi
jalan nafas. Memanipulasi jalan nafas dipilih dengan pertimbangan prosedur
operatif berada di hidung dan kondisi pasien dalam keadaan tidak kambuh
dibuktikan tidak adanya serangan (batuk-batuk, sesak nafas, suara wheezing) serta
pasien sudah diterapi dengan seretide 2 x 250 mcg hisap pagi dan sore.

Endotrakeal tube yang dipilih adalah jenis kinkin dikarenakan operasi


hanya berada diseputar hidung dan tidak sampai ke arah nasopharing (berdasarkan
hasil CT scan, tidak ada massa di nasopharing), jadi tidak ada tindakan diseputar
mulut. Dengan ETT kinkin diharapkan sudah cukup mampu mempertahankan
patensi jalan nafas pasien.

DAFTAR PUSTAKA
Astuti W, Mahmud, Bambang S, (2014). Anestesi pada Ovum Pick Up (OPU).
UGM : Jurnal Komplikasi Anestesi Volume 2 Nomor 1 (diunduh tanggal 13
Desember 2018 melalui http://anestesi.fk.ugm.ac.id/jka.ugm/download-file-
312101.pdf)

Bubun J, Azis A, Akil A, Perkasa F. (2009). Hubungan gejala dan tanda


rinosinusitis kronik dengan gambaran CT scan berdasarkan skor Lund-
Mackay. Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin. Makassar: 2-10

Budiman, B.J. & Rosalinda, R. (2014). Bedah sinus endoskopi fungsional revisi
pada rinosinusitis kronis. Repository Universitas Andalas, diakses pada
tanggal 16 Desember 2018 melalui http://
repository.unand.ac.id/id/eprint/18398.

Majid, A., Judha, M., Istianah, U. (2011). Keperawatan Perioperatif, Yogyakarta :


Gosyen Publishing,

Mangku, G. dan Senapathi, I.G.A. (2010). Buku Ajar Ilmu Anastesi dan
Reanimasi. Indeks Jakarta, Jakarta. 42-45, 60-63.

Mangunkusumo. (2012). Sinus paranasal, dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit


Telinga hidung Tenggorok Kepala dan Leher, edisi keenam. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Morgan, G Edward, S Mikhail. (2009). Clinical Anesthesiology. New York: MC


Graw Hill

PERHATI. (2006). Functional Endscopic Sinus Surgery di Indonesia. HTA


Indonesia, Departemen Kesehatan, Jakarta P. 1-52

Smeltzer, Suzanne C. dan Bare, Brenda G. (2011). Buku Ajar Keperawatan


Medikal Bedah Brunner dan Suddarth (Ed.8, Vol. 1,2) Alih bahasa oleh
Agung Waluyo. EGC : Jakarta