Anda di halaman 1dari 7

HAKIKAT DAN SEJARAH PENGENDALIAN HAYATI

MAKALAH

Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Pengendalian Hayati


yang Dibina oleh Dr.Drs.Fatchur Rohman,M.Si

Disusun oleh:
Kelompok 1 / Offering GHIL
Anggy Ningtyas (160342606237)
Dwi Anggreini Putri (160342606287)
Dyah Ayu Pitaloka (160342606236)
Redha Frida Yani (160342601707)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Januari 2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pengendalian hayati adalah pengendalian serangga hama dengan cara


biologi, yaitu dengan memanfaatkan musuh-musuh alaminya (agen pengendali
biologi), seperti predator, parasit dan patogen. Pengendalian hayati adalah suatu
teknik pengelolaan hama dengan sengaja dengan memanfaatkan/memanipulasikan
musuh alami untuk kepentingan pengendalian, biasanya pengendalian hayati akan
dilakukan perbanyakan musuh alami yang dilakukan dilaboratorium. Sedangkan
Pengendalian alami merupakan Proses pengendalian yang berjalan sendiri tanpa
campur tangan manusia, tidak ada proses perbanyakan musuh alami. Pengendalian
hayati dalam pengertian ekologi didifinisikan sebagai pengaturan populasi
organisme dengan musuh-musuh alam hingga kepadatan populasi organisme
tersebut berada dibawah rata-ratanya dibandingkan bila tanpa pengendalian.
Dengan munculnya berbagai macam dan jenis hama dan penyakit yang
menyerang tanaman budidaya yang berdampak terhadap produksi nilai
ekonomisnya, muncullah pemikiran dan inisiatif untuk mengendalikan serangan
tersebut. Berdasarkan pemikiran inilah mulai muncul konsep perlindungan
tanaman, dan hingga kini terus berkembang sehingga dapat menciptakan suatu
solusi pengendalian hama dan penyakit yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan
tidak membahayakan terhadap petani maupun lingkungan hidup serta tidak
mengganggu keanekaragaman hayatinya.
Pengandalian hama dan penyakit tanaman merupakan bagian dari sistem
budidaya tanaman yang bertujuan untuk membatasi kehilangan hasil akibat
serangan OPT menjadi seminimal mungkin, sehingga diperoleh kwalitas dan
kwantitas produksi yang baik.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana hakikat dari pengendalian hayati?
2. Bagaimana sejarah dari pengendalian hayati ?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui hakikat pengendalian hayati
2. Untuk mengetahui sejarah dari pengendalian hayati
BAB II

ISI

A. Hakekat Pengendalian Hayati

Menurut Buchori (2014) pengendalian hayati pada dasarnya merupakan


suatu bentuk pemanfaatan organisme (predator, parasitoid dan patogen) untuk
menekan kepadatan populasi organisme lainnya. Tidak seperti teknik pengendalian
hama lainnya (pengendalian kimia) yang bertumpu pada proses eradikasi,
pengendalian hayati lebih fokus pada penekanan populasi hama agar tetap pada
kepadatan yang rendah sehingga dapat tercipta keseimbangan ekosistem. Visi dari
pengendalian hayati adalah pecapaian keseimbangan ekosistem melalui
pemanfaatan keberadaan musuh alami untuk menekan populasi serangga hama.
Pengendalian hayati umum diterapkan untuk mengatasi hama-hama lokal
maupun hama eksotik. Jika hama yang menyerang tanaman adalah hama eksotik,
yaitu hama baru yang masuk ke dalam suatu negara, maka umumnya musuh alami
yang digunakan harus dicari dari negara asal hama tersebut. Inilah yang dikenal
dengan Pengendalian Hayati Klasik (Price et al. 2011). Hingga saat ini, Indonesia
juga telah menerapkan pengendalian hayati klasik sebagai solusi utama dalam
menghadapi permasalahan spesies invasif, misalnya untuk mengatasi hama kutu
loncat, hama ulat kubis, mengatasi gulma enceng gondok, dan gulma kirinyu.
Sedangkan menurut Sunarno (2002) pengendalian hayati adalah
pengendalian serangga hama dengan cara biologi, yaitu dengan memanfaatkan
musuh-musuh alaminya (agen pengendali biologi), seperti predator, parasit dan
patogen. Pengendalian hayati adalah suatu teknik pengelolaan hama dengan
sengaja dengan memanfaatkan/memanipulasikan musuh alami untuk kepentingan
pengendalian, biasanya pengendalian hayati akan dilakukan perbanyakan musuh
alami yang dilakukan dilaboratorium. Sedangkan Pengendalian alami merupakan
Proses pengendalian yang berjalan sendiri tanpa campur tangan manusia, tidak
ada proses perbanyakan musuh alami. Pengendalian hayati dalam pengertian
ekologi didefinisikan sebagai pengaturan populasi organisme dengan
musuh-musuh alam hingga kepadatan populasi organisme tersebut berada
dibawah rata-ratanya dibandingkan bila tanpa pengendalian.
B. Sejarah Pengandalian Hayati
Menurut Norris (2003) tercatat pada 1000 M orang dahulu telah
melakukan pengendalian hama. Mereka menggunakan bahan sulfur sebagai
fumigant. Pada tahun 1800-an, esktrak tembakau dan asap juga nikotin digunakan
untuk mengendalikan hama. Di tahun 1867, paris green, sebuah bahan insektisida
berbabasis asresnik yang digunakan untuk mengendalikan hama kumbang
colarado pada tanaman kentang di Amerika serikat. Bubuk bourdeoux , campuran
copper sulphate dan hydrate lime yang digunakan sebagai pengendalian fungi
pathogen pada tanaman anggur dan berbagai tanaman buah. Pada masa itu
sebenarnya manusia lebih banyak menggunakan cara pengendalian cultural untuk
mengendalikan hama, seperti rotasi tanaman, membiarkan lahan bera pada saat
tertentu, menanam tanaman perangkap atau memusnahkan sisa tanaman yang
dapat menguntungkan kehidupan hama. Semua itu dilakukan dengan tujuan untuk
memanipulasi lingkungan tanaman agar pengendalian hama secara alami dapat
terjadi.

Akan tetapi, pada perang dunia I dan II telah mengubah pola pengendalian
hama karena semakin banyaknya pabrik yang mampu memproduksi bahan kimia
sintetsis dalam skala besar. Pada tahun 1939, DDT dan 2,4 D menarik perhatian
banyak orang karenadapat digunakan sebagai senajata untuk memerangi
seranggga hama dan gulma. Sejak saat itulah penggunaan peptisida semakin
intensif. Norris (2003) mengungkapkan bahwa pada tahun 1980 hingga 2000 telah
terjadi kenaikan penggunaan peptisida hingga 2,5 kali lipat. Pestisida yang
digunakan mencapai 2,5 juta ton setera dengan $ 20 miliar AS.

Pada beberapa kasus terbukti bahwa aplikasi pestisida ternyata malah


menjadikan problem organism pengganggu menjadi lebih besar. Kenyataannya
tidak semua seranngga pada pertanaman menyebabkan kerusakan, bahkan ada
serangga yang justru merupakan pemangsa organism pengganggu itu.serangga ini
disebut sebagai musuh alami. Tanpa adanya musuh alami maka serangga hama
yang survive dari penyemprotan pestisida akan dapat berkembang lebih cepat dan
pest level serangga hama tersebut akan dapat berkembang lebih cepat
dibandingkan saat sebelum disemprotkan. Kadang-kadang pestisida tidak dapat
mengendalikan populasi hama oleh karena beberapa alasan.
Dalam buku Silent Spring oleh Carson (1962) membuka mata dunia tentang
seriusnya pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh DDT. Buku tersebut
merupakan tangis kelahiran bayi dari gerakan peduli lingkungan. Hasil penelitian
menunjukkan berbagai jenis pestisida merusak kelestarian lingkungan biotik dan
abiotik di daerah beriklim sedang maupun tropik. Hal ini lah yang menjadi alasan
utama mengapa diperlukannya pengembangan sebuah alternative pengendalian.
Usaha pengendalian hayati pertama yang tercatat adalah pada tahun 900, dimana
petani jeruk di China menempatkan semut angkarang (Oecophylla smaragdina)
untuk melindungi pohon jeruk mereka dari serangan serangga.mereka juga
memasang bambu diantara pohon jeruk sehingga semut mampu berkolonisasi
(Oka, 1995).

Sejarah pengendalian hayati di Inonesia pada masa pendudukan belanda


terjadi serangan kutu putih dikendalikan dengan parasit lokal. Bila ada daerah
yang terserang maka akan diintroduksikan kutu putih yang terparasit dari tempat
lain. Augementasi Lalat tachnid asli jatiroto dan parasitoid telur Trichogramma
australicum untuk mengendalikan penggerek batang tebuh. Pada tahun 1920 , van
der goot mengintroksi kumbang coccinelid, cryptolaemus montrouzier untuk
mengendalikan kutu coccidae pada lamtoro Ferissia vergata (kutu dompalan pada
tanaman kopi). Pada tahun 1928, hampir 2000 kumbang di introduksikan ke toraja
untuk mengendalikan kutu kopi . Pada tahun 1931 adanya introduksi Ichnemonid
diadegna fenetralis dari eropa untuk mengendalikan Plutella Xylostella , hama
tanaman kubis. Pada tahun 1938 dilakukan introduksi Cryptognatha nodiceps dari
daerah tropis Amerika untuk mengendalikan Aspidiotus destructor pada tanaman
kelapa (Purnomo, 2010).

DAFTAR RUJUKAN

Buchori, D. 2014. Pengendalian Hayati Dan Konservasi Serangga Untuk


Pembangunan Insonesia Hijau. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Norris, R.F. 2003. Concepts in Integrated Pest Management. New Jersey: Pearson
Education, Inc.

Oka, I.N. 1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia.


Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada

Purnomo, H. 2010. Pengantar Pengendalian Hayati. Yogyakarta: C.V andi


Offset.

Sunarno. 2002. Model Budidaya tanaman Sehat ( Budidaya Tanaman Sayuran


Secara Sehat Melalui Penerapan PHT). Jakarta: Dirjen Perlindungan
Tanaman.

Price P.W., Denno R.F., Eubanks M.D., Finke D.L., & Kaplan I. 2011. Insect
Ecology: Behavior, Populations and Communities. New York (US):
Cambridge University Press.