Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

Tahu merupakan makanan tradisional yang tingkat konsumsinya di Indonesia


sangat tinggi. Bahan baku yang digunakan untuk membuat tahu adalah kedelai.
Diperkirakan Konsumsi kedelai Indonesia mencapai 2,35 juta ton pada tahun 2009
menjadi 2,71 juta ton pada tahun 2015 dan 3,35 juta ton pada tahun 2025 dan menurut
Sarwono (1989) menyatakan bahwa lebih dari separuh konsumsi kedelai Indonesia
digunakan untuk diolah menjadi tahu atau tempe. Oleh sebab itu potensi limbah industry
pengolahan tahu atau tempe diperkirakan mencapai 51 juta ton BOD5 tiap tahun.
Pada industry tahu air banyak digunakan untuk bahan pencuci dan merebus
kedelai. Oleh karena itu limbah yang dihasilkan juga cukup besar. Industri tahu juga
umumnya merupakan industry rumah tangga sehingga tidak sedikit yang membuang
limbahnya langsung ke sungai tanpa pengolahan terlebih dahulu. Oleh karenanya, perlu
dilakukan pengolahan limbah terpadu dengan membuat Instalasi Pengolahan Air
Limbah tahu untuk menampung limbah buangan sisa produksi yang kemusian dapat
diolah hingga tidak melebihi baku mutu yang telah ditentukan.
Karakteristik buangan industry tahu berupa kimia dan fisika. Karakteristik fisika
meliputi padatan total, suhu, warna, dan bau. Karakteristik kimia meliputi bahan organic,
bahan anorganik, dan gas. Suhu buangan industry tahu dapat berasal dari proses
pemasakkan kedelai. Suhu limbah cair tahu umumnya lebih tinggi dari air bakunya. Gas-
gas yang biasa ditemukan dalam limbah adalah gas nitrogen (N2), oksigen (O2),
hydrogen sulfide (H2S), ammonia (NH), karbondioksida (CO2) dan metana. Sedangkan
senyawa-senyawa organic air buangan dapat berupa protein, karbohidrat, lemak, dan
minyak. Untuk menentukan besarnya kandungan bahan organic digunakan beberapa
teknik pengujian seperti BOD5 dan COD. Uji BOD merupakan parameter yang sering
digunakan untuk mengetahui tingkat pencemaran bahan organic.
Pada industry tahu di Dusun Ciroyom Purwokerto, Kabupaten Banyumas untuk 5
pengrajin industry tahu menghasilkan 300 kg kedelai/hari. Dari 300 kg kedele/hari yang
digunakan, menghasilkan limbah cair sebanyak 1.290 liter/hari. Nilai BOD nya adalah
sebesar 3300 mg/l, COD sebesar 5300 mg/l, TSS 629 mg/l, pH 3,56, dan DO sebesar
2,2 mg/l.
Jika ditinjau dari Kep-51/MENLH/10/1995 tentang baku mutu limbah cair bagi
kegiatan industry mampunyai kadar maksimun yaitu BOD sebesar 150 mg/l, COD 275
mg/l, TSS 100 mg/l, maka industry tahu di Dusun Ciroyom Purwokerto, Kabupaten
Banyumas memerlukan pengolahan limbah. Pengolahan limbah yang dapat dilakukan
adalah pengolahan untuk menurunkan nilai BOD nya.
Banyak cara untuk mengolah limbah organic antara lain dengan sistem aerobic
yaitu: lumpur aktif, Tricling filter, Rotating Biological Contractor (RBC), fluidized bed, dan
lain-lain. Dari salah satu cara diatas, pengolahan yang akan dibahas dalam artikel ini
adalah mengenai pengelolaan limbah organic menggunakan tricling filter.
Pengolahan limbah dengan proses tricling filter adalah proses pengolahan
dengan cara menyebarkan air limbah ke dalam suatu tumpukan atau unggun media
yang terdiri dari bahan batu pecah (kerikil), bahan keramik, sisa tanur (slag), medium
dari bahan plastic atau lainnya. Dengan cara demikian maka pada permukaan medium
akan tumbuh lapisan biologis (biofilm) seperti lender yang akan menguraikan senyawa
polutan yang ada di dalam air limbah.
Penggunaan metode tricling filter dalam mengurangi kadar BOD dalam limbah
tahu di Dusun Ciroyom Purwokerto, Kabupaten Banyumas merupakan pemilihan
metode yang tepat melihat karakteristik limbah tahu dan kadar BOD yang dihasilkan
oleh industri tahu tersebut.
BAB II
DATA ANALISIS

A. Karakteristik Limbah Tahu


Air limbah yang digunakan dalam penelitian ini adalah air limbah tahu yang
berasal dari Dusun Ciroyom Purwokerto, Kabupaten Banyumas Karakteristik awal
limbah dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1: Katakteristik air Limbah Tahu
Parameter Konsentrasi ( mg/l ) Baku Mutu *)
BOD 3300 150
COD 5300 300
TSS 629 4000
pH 3.56 6,0-9,0
DO 2.2 -
*) Baku mutu : Kep-51/MENLH/10/1995

Karakteristik limbah tahu secara umum adalah sebagai berikut:


1. Temperatur
Temperatur air limbah industri tahu biasanya lebih tinggi dari temperatur
normal di badan air. Hal ini dikarenakan dalam proses pembuatan tahu selalu
dalam temperatur panas baik pada saat penggumpalan atau pada saat
menyaring yaitu pada suhu 60-80 0C.Pencucian yang menggunaka air dingin
selama proses berjalan tidak mampu menurunkan suhu limbah tersebut. Limbah
panas yang dikeluarkan adalah sisa air susu tahu yang tidak tergumpal menjadi
tahu, biasanya berwarna kuning muda dan apabila terendam dalam satu hari
akan berasa asam (kecut).
2. Warna
Warna air limbah transparan sampai kuning muda dan disertai adanya
suspensi warna putih. Zat terlarut dan tersuspensi yang mengalami penguraian
biologi maupun kimia akan berubah warna. Hal ini merupakan proses yang
paling merugikan, karena adanya proses dimana kadar oksigen di dalam air
limbah menjadi nol maka air limbah berubah menjadi warna hitam dan busuk.

3. Bau
Bau air limbah industri tahu dikarenakan proses pemecahan protein oleh
mikroba alam. Bau sungai atau saluran menyengat atau apabila di saluran
tersebut sudah berubah anaerob. Bau tersebut adalah terpecahnya penyusun
dari protein dan karbohidrat sehingga timbul bau busuk dari gas H2S
4. Kekeruhan
Padatan yang terlarut dan tersuspensi dalam air limbah industri tahu
menyebabkan air keruh. Zat yang menyebabkan air keruh adalah zat organik
yang tersuspensi dari tahu atau kedelai yang tercecer atau zat orgaik terlarut
yang sudah terpecah sehingga air limbah berubah seperti emulsi keruh
5. Biological Oxygen Demand ( BOD)
Padatan yang terdapat dalam air limbah terdiri dari zat organik dan zat
anorganik. Zat organik tersebut misalnya protein, karbohidrat dan lemak. Protein
dan karbohidrat biasanya lebih mudah terpecah secara proses biologi
menghasilkan amoniak, sulfide dan asam-asam lainnya, sedangkan lemak lebih
stabil terhadap kerusakan biologi, namun apabila ada asam mineral dapat
menguraikan asam lemak menjadi glyserol. Pada limbah tahu adanya lemak
ditandai banyaknya zat-zat terapung berbentuk skum.
6. Chemical Oxygen Demand (COD)
Parameter ini dalam air limbah menunjukkan juga zat organik terutama
zat organik non biodegradasi selain itu zat dapat dioksidasi oleh bahan kimia
dalam asam, misalnya SO3 (Sulfit), NO2 (nitrit) kadar tinggi dan zat-zat reduktor
lainnya. Besarnya angka COD biasanya lebih besar dari BOD, biasanya 2
sampai 3 kali besarnya BOD.

B. Skema Sistem
Limbah cair industri pangan merupakan salah satu sumber pencemaran
lingkungan. Jumlah dan karakteristik air limbah industri bervariasi menurut jenis
industrinya. Contohnya adalah industri tahu . Industri tahu mengandung banyak
bahan organik dan padatan terlarut. Dusun Ciroyom Purwokerto, Kabupaten
Banyumas adalah salah satu desa penghasil tahu di Indonesia. Desa ini
menghasilkan 300 kg kedelai/hari (untuk 5 pengrajin industri tahu). Dari 300 kg
kedele/hari yang digunakan, menghasilkan limbah cair sebanyak 1.290 liter/hari.
Sumber limbah cair pabrik tahu berasal dari proses merendam kedelai serta
proses akhir pemisahan jonjot-jonjot tahu. Oleh karena itu limbah cair industri
tahu, masih mengandung zat-zat organik misalnya protein, karbohidrat dan
lemak. Pada umumnya penanganan limbah cair dari industri ini cukup ditangani
dengan sistem bilogis. Tujuan dasar pengolahan limbah cair adalah untuk
menghilangkan sebagian besar padatan tersuspensi dan bahan terlarut, kadang-
kadang juga untuk penyisihan unsur hara (nutrien) berupa nitrogen dan fosfor

Primary Treatment: Secondary


Pretreatment : Tertiary Treatment:
-netralisasi treatment:
-equalisasi -sedimentasi akhir
-sedimentasi awal -trickling filter

Sludge treatment

Pengolahan air limbah tersebut dapat dibagi menjadi 5 (lima) tahap:


1. Pengolahan Tahap Awal (Pretreatment)
Tahap pengolahan ini melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk
menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dalam aliran air limbah.
Proses pengolahan yang berlangsung pada tahap ini ialah equalisasi. Fungsi
bak equalisasi adalah untuk menghomogenkan air limbah agar kualitas air
limbah yang masuk ke IPAL tidak fluktuatif. Selain itu juga bak ini berfungsi
sebagai bak penampung limbah dan bak kontrol aliran.
2. Pengolahan Tahap Pertama (Primary Treatment)
Pada dasarnya, pengolahan tahap pertama ini masih memiliki tujuan
yang sama dengan pengolahan awal. Letak perbedaannya ialah pada proses
yang berlangsung. Proses yang terjadi pada pengolahan tahap pertama ialah
netralisation dan sedimentasi awal. Netralisasi dilakukan untuk menyamakan
pH. Karena pH dalam limbah masih terlalu asam, maka pH akan diubah
sesuai standar baku mutu yaitu 6-9. Sedangkan sedimentasi awal digunakan
untuk mengurangi padatan tersuspensi sebelum limbah diproses lebih lanjut.
3. Pengolahan Tahap Kedua (Secondary Treatment)
Pengolahan tahap kedua dirancang untuk menghilangkan zat-zat
terlarut dari air limbah yang tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa.
Karena kandungan BOD yang besar maka pengolahan limbah tahu lebih
cocok bila menggunakan pengolahan secara biologi (aerob/anaerob).
Pengolahan secara aerob dipilih karena BOD yang dihasilkan tidak melebihi
4000 mg/L. Sehingga proses aerob dianggap lebih ekonomis dari pada proses
anaerob.
4. Pengolahan Tahap Ketiga (Tertiary Treatment)
Proses yang terlibat dalam pengolahan air limbah tahap ketiga ialah
sedimentasi akhir alasan
5. Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment)
Lumpur yang terbentuk sebagai hasil keempat tahap pengolahan
sebelumnya kemudian diolah kembali melalui proses digestion or wet
combustion, pressure filtration, vacuum filtration, centrifugation,
lagooning or drying bed, incineration, atau landfill. Tentuin pake apa

C. Trickling Filter
1. Pengertian Trickling Filter
Trickling filter adalah salah satu pengolahan air limbah biologis yang
dapat menurunkan kandungan senyawa organik dan dapat menurunkan kadar
BOD. Trickling filter merupakan salah satu aplikasi pengolahan air limbah
dengan memanfaatkan teknologi biofilm. Trickling filter ini terdiri dari bak dengan
media fermiabel untuk pertumbuhan mikroorganisme. Kegunaan dari trickling
filter adalah untuk mengolah air limbah dengan mekanisme air yang jatuh
mengalir perlahan-lahan melalui lapisan media untuk kemudian tersaring.
Sistem pengolahan pada trickling fiter terdiri dari suatu bak atau bejana
dengan media permiabel untuk pertumbuhan mikroorganisme. Bentuk bejana
biasanya bundar luas dengan diameter 6-60 m, dindingnya biasanya terbuat dari
beton atau bahan lain tetapi tidak perlu kedap air. Di sepanjang dinding diberi
ventilasi dengan maksud agar terjadi pertukaran udara secara baik sehingga
proses biologis aerobik dapat berlangsung dengan baik. Pada beberapa trickling
filter, media disusun tanpa dinding jadi tidak diperlukan ventilasi tetapi konstruksi
seperti ini kurang baik.
Air limbah dialirkan ke bak trickling filter melalui pipa berlubang yang
berputar. Dengan cara ini maka terdapat zona basah dan kering secara
bergantian sehingga terjadi transfer oksigen ke dalam air limbah. Pada saat
kontak dengan media trickling filter, air limbah akan kontak dengan
mikroorganisme yang menempel pada permukaan media, dan mikroorganisme
inilah yang akan menguraikan senyawa polutan yang ada di dalam air limbah.
Air limbah yang masuk ke dalam bak trickling filter selanjutnya akan keluar
melalui pipa under-drain yang ada di dasar bak dan keluar melalui saluran
efluen. Dari saluran efluen dialirkan ke bak pengendapan akhir dan air limpasan
dari bak pengendapan akhir adalah merupakan air olahan. Lumpur yang
mengendap di dalam bak pengendapan akhir selanjutnya disirkulasikan ke inlet
bak pengendapan awal. Gambar penampang bak trickling filter dapat
ditunjukkan seperti pada Gambar 6.2. dan 6.3.

2. Media Trickling Filter


Bahan untuk media trickling filter harus kuat, keras, tahan tekanan, tahan
lama, tidak mudah berubah dan mempunyai luas permukaan per unit volume yang
tinggi. Bahan yang biasa digunakan adalah kerikil, batu kali, antrasit, batu bara dan
sebagainya. Diameter media trickling filter biasanya antara 2,5-7,5 cm. Sebaiknya
dihindari penggunaan media dengan diameter terlalu kecil karena akan memperbesar
kemungkinan penyumbatan. Makin luas permukaan media, maka makin banyak pula
mikroorganisme yang hidup diatasnya. Ketebalan media trickling filter minimun 1
meter dan maksimum 3-4 meter. Makin tinggi ketebalan media, maka akan makin
besar pula total luas permukaan yang ditumbuhi mikroorganisme sehingga makin
banyak pula mikroorganisme yang tumbuh menempel diatasnya.
3. Faktor-faktor yang berpengaruh pada efisiensi penggunaan trickling filter
Agar fungsi trickling filter dapat berjalan secara baik, diperlukan
persyaratan-persyaratan, meliputi :
a. Persyaratan abiotis, yaitu
1) Jenis media
Bahan untuk media trickling filter harus kuat, keras, tahan tekanan,
tahan lama, tidak mudah berubah dan mempunyai luas permukaan per unit
volume yang tinggi. Bahan yang biasa digunakan adalah kerikil, batu kali,
antrasit, batu bara dan sebagainya. Akhir-akhir ini telah digunakan media
plastik yang dirancang sedemikian rupa sehingga menghasilkan panas yang
tinggi.
2) Ketebalan media
Ketebalan media trickling filter minimun 1 meter dan maksimum 3-4
meter. Makin tinggi ketebalan media, maka akan makin besar pula total luas
permukaan yang ditumbuhi mikroorganisme sehingga makin banyak pula
mikroorganisme yang tumbuh menempel diatasnya.
3) Lama waktu tinggal
Diperlukan lama waktu tinggal yang disebut dengan masa
pengkondisian atau pendewasaan agar mikroorganisme yang tumbuh
diatasnya permukaan media telah tumbuh cukup memadai untuk
terselenggaranya proses yang diharapkan. Masa pengkondisian atau
pendewasaan yang diperlukan berkisar antara 2-6 minggu. Lama waktu
tinggal ini dimaksudkan agar mikroorganisme dapat menguraikan bahan-
bahan organik dan tumbuh dipermukaan media trickling filter membentuk
lapisan biofilm atau lapisan berlendir. Penelitian yang dilakukan oleh Arum
Siwiendrayanti (2004), pertumbuhan mikroorganisme pada media batu kali
mulai terbentuk lapisan biofilm pada hari ke-3 masa pengkondisian.
4) pH
Pertumbuhan mikroorganisme khususnya bakteri, dipengaruhi oleh
nilai pH. Agar pertumbuhan baik, diusahakan nilai pH mendekati keadaan
netral. Nilai pH antara 4 - 9,5 dengan nilai pH yang optimum 6,5-7,5
merupakan lingkungan yang sesuai.
5) Karakteristik air buangan
Air buangan yang diolah dengan trickling filter terlebih dahulu
diendapkan, karena pengendapan dimasudkan untuk mencegah
penyumbatan pada distributor dan media filter.

6) Temperatur
Suhu mempengaruhi kecepatan reaksi dari suatu proses biologis.
7) Aerasi
Agar aerasi berlangsung dengan baik, media trickling filter harus
disusun sedemikian rupa sehingga memungkinkan masuknya udara ke dalam
sistem trickling filter tersebut. Keterbatasan udara dalam hal ini adalah
oksigen sangat berpengaruh terhadap proses penguraian oleh
mikroorganisme. Aerasi juga dapat dilakukan dengan distributor berputar. Air
limbah dikeluarkan di atas penyaringan menetes oleh saringan distributor
berputar sehingga aerasi cairan berlangsung sebelum kontak dengan media.
8) Diameter media
Diameter media trickling filter biasanya antara 2,5 – 7,5 cm. Sebaiknya
dihindari penggunaan media dengan diameter terlalu kecil karena akan
memperbesar kemungkinan penyumbatan. Makin luas permukaan media,
maka makin banyak pula mikroorganisme yang hidup diatasnya.

4. Masalah Yang Sering Terjadi Pada Proses Trickling Filter


Masalah yang sering timbul pada pengoperasian trickling filter adalah sering
timbul lalat dan bau yang berasal dari reaktor. Sering terjadi pengelupasan lapisan
biofilm dalam jumlah yang besar. Pengelupasan lapisan biofilm ini disebabkan karena
perubahan beban hidrolik atau beban organik secara mendadak sehingga lapisan
biofilm bagian dalam kurang oksigen dan suasana berubah menjadi asam karena
menerima beban asam organik sehingga daya adhesiv dari biofilm berkurang
sehingga terjadi pengelupasan. Cara mengatasi gangguan tersebut yakni dengan
cara menurunkan debit air limbah yang masuk ke dalam reaktor atau dengan cara
melakukan aerasi di dalam bak ekualisasi untuk menaikkan kensentrasi oksigen
terlarut.
DAFTAR PUSTAKA
Atman. STRATEGI PENINGKATAN PRODUKSI KEDELAI DI INDONESIA. Jurnal
Ilmiah Tambua, Vol. VIII, No.1, Januari-April 2009: 39-45 hlm.