Anda di halaman 1dari 4

1

BIMBINGAN ANTISIPASI
DAN
PENCEGAHAN KECELAKAAN

PENGERTIAN
Bimbingan Antisipasi ( Anticipatory Guidance ) adalah bantuan
perawat terhadap orang tua dalam mempertahankan dan
meningkatkan kesehatan melalui upaya orang tua dalam
mempertahankan dan meningkatkan kesehatan melalui upaya
pertahanan nutrisi yang adekuat, pencegahan kecelakaan dan
supervise kesehatan ( Maslow, 1988).

KECENDRUNGAN KECELAKAAN  ANAK TODLER


1. Mengembangkan keterampilan motorik kasar  bergerak
terus, berlari, berjinjit, naik turun tangga, naik pagar atau
mainan serta bersepeda
2. Peningkatan kemampuan motorik halus  menggenggam,
membuka dan menutup botol, lemari, jendela dan pintu,
menggenggam dan melempar benda-benda kecil  belum tahu
bahaya
3. Mempunyai rasa ingin tahu yang besar, senang mencoba
sesuatu  belum tahu bahaya
4. Anak laki-laki cenderung berpotensi mengalami kecelakaan
 lebih aktif bergerak
5. Anak yang tidak dijaga  beresiko untuk mengalami
kecelakaan
6. Anak lapar dan lelah  kemampuan tenaga menurun + lemah _+
lesu  resiko kecelakaan lebih besar
7. Asing dengan lingkungan  tidak mengenal dengan baik
8. Belum berpengalaman dalam upaya melindungi diri dari
bahaya kecelakaan

BAHAYA UMUM YANG DAPAT MENYEBABKAN KECELAKAAN DI


RUMAH
1. Lantai rumah licin/ basah
2. Rumah dengan tangga yang curam dan tidak ada pegangan
3. Alat makan dan minum dari kaca
4. Penyimpanan obat dan zat berbahaya lainnya yang terbuka dan
dapat dijangkau oleh anak
2

5. Sumur yang terbuka


6. Parit di depan/ di samping rumah
7. Rumah di pinggir jalan raya
8. Kompor dan alat memasak yang letakknya dapat dijangkau oleh
anak
9. Kabel listrik yang berantakan dan terlalu panjang
10. Stop kontak yang tidak tertutup dan dapat dijangkau oleh
anak

UPAYA PENCEGAHAN TERHADAP KECELAKAAN DI RUMAH


1. Benda tajam untuk memasak atau berkebun dapat disimpan di
dalam laci
2. Benda-benda kecil harus disimpan didalam laci yang tertutup
rapat dan terkunci
3. Zat yang berbahaya agar disimpan dalam lemari terkunci atau
lemari khusus
4. Amankan kompor dan berikan penutup yang aman
5. Jaga lantai rumah selalu bersih dan kering
6. Pasang pintu dibagian bawah atau atas tangga dan jaga anak
apabila akan naik atau turun tangga
7. Sekring listrik harus tertutup dan atur kabel supaya tidak
terlalu panjang
8. Tutup dengan papan atau disemen jika ada parit
didepan/samping rumah
9. Ada pintu pagar yang harus dikunci rapat jika letak rumah
ditepi jalan raya
10. Buat selonsong dan tutup dengan papan/kayu/besi jika
menggunakan sumur
11. Jangan tinggalkan bayi yang tidur ditempat tidur tanpa
dipasang pengaman pada pinggir tempat tidur

TOILET TRAINNING
Toilet Training adalah latihan untuk berkemih dan defekasi
yang dimulai pada usia toddler  kemampuan spingter uretra
untuk mengontrol rasa berkemih dan spingter ani untuk
mengontrol rasa ingin defekasi mulai berkembang  anak mampu
berjalan
3

Tanda Kesiapan Anak Mampu Mengontrol Rasa Ingin Berkemih


dan Defekasi (Wong, 1997) :
1. Kesiapan Fisik
 Usia telah mencapai 18 – 24 bulan
 Dapat duduk atau jongkok kurang lebih 2 jam
 Ada gerakan usus yang reguler
 Kemampuan motorik kasar
 Kemampuan motorik halus

2. Kesiapan Mental
 Mengenal rasa yang datang tiba-tiba untuk berkemih dan
defekasi
 Komunikasi verbal dan nonverbal jika merasa berkemih dan
defekasi
 Keterampilan kognitif untuk mengikuti perintah dan meniru
perilaku orang lain

3. Kesiapan Psikologis
 Dapat duduk atau jongkok di toilet selama 5 – 10 menit tanpa
berdiri dulu
 Mempunyai rasa penasaran atau rasa ingin tahu terhadap
kebiasaan orang dewasa dalam buang air
 Merasa tidak betah dengan kondisi basah dan adanya benda
padat dicelana dan ingin diganti segera

4. Kesiapan orang tua


 Mengenal tingkat kesiapan anak untuk berkemih dan defekasi
 Ada keinginan meluangkan waktu yang diperlukan untuk
latihan berkemih dan defekasi pada anaknya
 Tidak mengalami konflik atau stress keluarga yang berarti

LATIHAN MENGONTROL BERKEMIH DAN DEFEKASI


Orang tua harus diajarkan bagaimana cara melatih untuk mengontrol
rasa ingin berkemih :
 Gunakan pot kecil yang bias diduduki anak apabila ada atau
langsung ketoilet pada jam tertentu secara regular  setiap 2 jam
 Duduki pada toilet atau pot yang bisa diduduki dengan cara
menapakkan kaki dengan kuat pada lantai  membantu untuk
mengedan  selama 5 – 10 menit
4