Anda di halaman 1dari 19

BAHAN DIELEKTRIK

MAKALAH
Untuk Memenuhi Mata Kuliah Pendahuluan Fisika Zat Padat

Dosen Pembimbing:
Misbah, M.Pd

Oleh:
Kelompok 10
Anggun Ulil Izzati A1C415005
Misnawati A1C415017
Nanda Mahjatia A1C415025

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberi hidayah,
kekuatan, kesehatan, dan ketabahan kepada kami sehingga penyusunan makalah
dengan judul Bahan Dielektrik ini dapat terselesaikan.

Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah
pendahuluan fisika zat padat dengan dosen pengasuh ibu Misbah, M.Pd. Makalah ini
dikembangkan dengan metode kepustakaan dan internet agar kita dapat mengetahui
bagaimana penjelasan tentang bahan dielektrik. Walaupun penulis telah menyusun
makalah ini dengan upaya yang sungguh-sungguh, karena berbagai keterbatasan
penulis, makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Kritik dan saran sangat
penulis harapkan dari pembaca.

Banjarmasin, Februari 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ................................................................................................. 1
1.2. Rumusan Masalah ............................................................................................ 1
1.3. Tujuan Penulisan .............................................................................................. 1
1.4. Manfaat Penulisan ............................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................... 3
2.1. Bahan Dielektrik .............................................................................................. 3
2.2. Polarisasi Dalam Dielektrik ............................................................................. 8
2.3. Deskripsi Molekuler Mengenai Dielektrium ................................................... 13
BAB III PENUTUP ....................................................................................................... 15
3.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 15
3.2 Saran ................................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 16
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Bahan dielektrik (isolator) dapat berbentuk padat, cair, dan gas. Suatu bahan
dielektrik berbeda dari suatu bahan konduktor dalam hal dimana padanya tak terdapat
elektron-elektron konduksi yang bebas bergerak diseluruh bahan atas pengaruh dari
suatu medan listrik (Hassan, A., 1970). Suatu material nonkonduktor, seperti kaca,
kertas, atau kayu, disebeut dielektrik. Ketika ruang di antara dua konduktor pada
suatu kapsitor diisi dengan dielektrik, kapsitansi naik sebanding dengan faktor k yang
merupakan karakteristik dielektrik dan disebut konstanta dielektrik. Hal ini
ditemukan secara eksperimental oleh Michael Faraday (Paul A Tipler, 1991).
Dielektrik dapat memperlemah medan listrik antara keping–keping suatu kapasitor
karena dengan hadirnya medan listrik, molekul-molekul dalam dielektrik akan
menghasilkan medan listrik tambahan yang arahnya berlawanan dengan medan listrik
luar (Paul A Tipler, 1991).

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan bahan dielektrik?
2. Bagaimana polarisasi dalam dielektrik?
3. Bagaimana deskripsi molekuler mengenai dielektrium?

1.3. Tujuan Penulisan


1. Menjelaskan yang dimaksud dengan bahan dielektrik.
2. Menjelaskan bagaimana polarisasi dalam dielektrik.
3. Menjelaskan bagaimana deskripsi molekuler mengenai dielektrium.

1.4. Manfaat Penulisan


Manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini yaitu penulis dan
pembaca dapat memahami materi Fisika Zat Padat yang berisi tentang bahan
dielektrik.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Bahan Dielektrik


Bahan dielektrik (isolator) dapat berbentuk padat, cair, dan gas. Suatu bahan
dielektrik berbeda dari suatu bahan konduktor dalam hal dimana padanya tak terdapat
elektron-elektron konduksi yang bebas bergerak diseluruh bahan atas pengaruh dari
suatu medan listrik. Suatu medan listrik tidak akan menghasilkan pergerakan muatan
di dalam bahan dielektrik. Sifat ini yang menyebabkan bahwa bahan dielektrik
merupakan isolator yang baik. Dalam bahan dielektrik, semua elektron-elektron
terikat dengan kuat pada intinya dan akibatnya terbentuk suatu struktur ragangan
benda padat, atau dalam hal suatu cairan atau gas, bagian-bagian positif dan
negatifnya terikat bersama-sama sehingga tiap aliran masa tidak merupakan
perpindahan netto dari muatan. Karena itu jika suatu dielektrik diberi muatan listrik,
muatan ini akan tinggal terlokalisir didaerah dimana muatan tadi ditempatkan,
sedangkan untuk suatu konduktor muatan itu akan segera memencar keseluruh
permukaan (Hassan, A. 1970).
Di dalam sebagian hesar kapasitor, terdapat lembar isolator, seperti kertas
atau plastik yang disebut dielektrikum yang diletakkan di antara pelat-pelatnya
(Gambar 1). Hal ini dilakukan untuk beberapa tujuan. Pertama, dielektrikum terputus
(memungkinkan muatan Iitrik mengalir) tidak secepat udara, sehingga voltase lebih
tinggi dapat diberikan tanpa adanya muatan yang melewati ruang antar pelat. Kedua,
dielektrikum memungkinkan pelat diletakkan lebih dekat satu sama lain tanpa
bersentuhan, sehingga memungkinkan naiknya kapasitansi karena d lebih kecil
dibanding pers. 1. Ketiga, secara eksperimental ditemukan bahwa dielektrikum
memenuhi ruang antara kedua konduktor tersebut, kapastansi akan naik sebesar faktor
K yang dikenal sebagai konstanta dielektrikum. Jadi, untuk kapasitor pelat sejajar,
Gambar 1. Sebuah kapasitor silindris, dibentangkan dari gulunganya untuk memperlihatkan
dielektrikum di antara pelat
Sumber: Giancoli, Douglas, C. 2014

𝐴
C = K𝜀0 𝑑′ (1)

Persamaan ini juga dapat dituliskan


𝐴
C = 𝜀 𝑑′ (2)

di mana 𝜀 = K𝜀0 , merupakan permitivitas material tersebut.


Nilai konstanta dielektrikum berbagai material diberikan pada Tabel 1. Pada
Tabel 1 juga ditunjukkan kekuatan dielektrikum, medan listrik maksinum sebelum
terjadinya tembus listrik (muatan mengalir).
Tabel 1. Konstanta Dielektrikum (pada 20℃)
Material Konstanta Dielektrikum Kekuatan Dielektrikum
Hampa udara 1,0000
Udara (1 atm) 1,0006 3 x 106
Parafin 2,2 10 x 106
Polistirena 2,6 24 x 106
Vinyl (plastik) 2-4 50 x 106
Kertas 3,7 15 x 106
Kuarsa 4,3 8 x 106
Minyak 4 12 x 106
Kaca, pyrex 5 14 x 106
Karet, neoprene 6,7 12 x 106
Porselen 6-8 5 x 106
Mika 7 150 x 106
Air (cair) 80
Stronsium titanat 300 8 x 106
(Giancoli, Douglas C. 2001)

Dielektrik dapat memperlemah medan listrik antara keping–keping suatu


kapasitor karena dengan hadirnya medan listrik, molekul-molekul dalam dielektrik
akan menghasilkan medan listrik tambahan yang arahnya berlawanan dengan medan
listrik luar. Jika molekul-molekul dalam dielektrik bersifat polar, dielektrik tersebut
memilik momen dipol permanen. Momen dipol secara normal tersebar secara acak
(Gambar 2).

Gambar 2. Dipol-dipol listrik yang tersebar secara acak di beri suatu dielektrik polar tanpa kehadiran
medan listrik luar
Sumber: Tipler, P. A. 1991

Dalam pengaruh medan listrik di antara keping-keping kapasitor, momen


dipol menerima suatu gaya torka yang memaksa momen dipol tersebut menyerahkan
diri dengan arah merah medan listrik (Gambar 3).
Gambar 3. Dalam pengaruh medan listrik luar, dipol-dipol menyearahkan dirinya sejajar dengan arah
medan listrik
Sumber: Tipler, P. A. 1991
Kemampuan momen dipol untuk menyearahkan diri dengan medan listrik
bergantung pada kuat medan dan temperatur. Pada temperatur tinggi, gerak termal
molekul-molekul yang bersifat acak, cenderung menghambat proses penyearahan.
Jika molekul-molekul dielektrik bersifat non-polar, maka dalam pengaruh suatu
medan listrik luar, molekul-molekul dielektrik akan menginduksi momen-momen
dipol yang induksi yang searah dengan medan listrik dikatak terpolarisasi oleh
medan, tidak peduli apakah polarisasi tersebut disebabkan oleh penyearahan momen-
momen dipol permanen dari suatu molekul-molekul polar atau akibat terjadinya
momen-momen dipol induksi dalam molekul-molekul non-polar. Pada kedua kasus,
dipol-dipol molekuler menghasilkan suatu medan listrik tambahan yang arahnya
berlawanan dengan medan awal, sehingga dapat melemahkan medan awal.
Pengaruh total dari polarisasi suatu dielektrik homogeny adalah hadirnya
muatan permukaan pada bidang batas antara dielektrik dan keping kapasitor seperti
ditunjukkan pada Gambar 4.
Gambar 4. Ketika suatu dielektrik diletakkan antara keping-keping kapasitor, medan lsitrik
dari kapasitor mempolarisasikan molekul-molekul dielektrik. Hasilnya adalah terdapat suatu muatan
terikat pada permukaan dielektrik yang menghasilkan medan listrik yang berlawanan dengan medan
listrik luar. Dengan demikian, medan listrik antara keping-keping kapasitor menjadi lebih lemah
dengan adanya dielektrik Sumber: Tipler, P. A. 1991

Muatan permukaan yang terikat pada dielektrik ini menghasilkan medan


listrik yang berlawanan dengan arah medan listrik yang disebabkan oleh muatan-
muatan bebas pada konduktor-konduktor. Akibatnya, medan listrik di antara keping
kapasitor menjadi lemah seperti diilustrasikan pada Gambar 5.

Gambar 5. Medan listrik antara keping-keping suatu kapasitor (a) tanpa dielektrik dan (b) dengan
dielektrik. Muatan permukaan pada dielektrik akan memperlemah medan listrik awal antara keping
Sumber: Tipler, P. A. 1991
Bahan dielektrik yang ditempatkan dalam suatu medan listrik eksternal 𝜀⃗0
mengalami perpindahan listrik

⃗⃗ = ∈0 𝜀⃗0
𝐷 (3)

dengan ∈o adalah permitivitas vakum. Disamping itu, bahan menjadi


terpolarisasi, sehingga sifat elektromekaniknya berubah melalui ungkapan

⃗⃗ = ∈0 𝜀⃗ + 𝑃⃗⃗
𝐷 (4)

dengan 𝜀⃗ adalah medan listrik dalam bahan. Gabungan kedua persamaan


(3) dan (4) di atas menghasilkan

1
𝜀⃗ = 𝜀⃗0 - ∈ 𝑃⃗⃗ (5)
0

Tampak bahwa polarisasi bahan menyebabkan terjadinya induksi medan.


Hal ini dijelaskan dalam Gambar 6 berikut.

Gambar 6 Medan 𝜀⃗′ melawan medan luar 𝜀⃗0 . resultan medan internal adalah 𝜀⃗

Polarisasi menyebabkan terjadinya muatan polarisasi pada permukaan


bahan, yakni muatan positip di sebelah kanan dan negatip di kiri. Muatan ini
menimbulkan medan listrik 𝜀⃗′ yang arahnya ke kiri melawan medan luar 𝜀⃗0.
Akibatnya medan internal resultan, yakni 𝜀⃗ lebih kecil daripada 𝜀⃗0.

Suseptibilitas listrik χ bahan didefinisikan oleh hubungan

𝑃⃗⃗ = ∈0 χ 𝜀⃗ (6)
Hubungan (4) berlaku untuk bahan dielektrik linier isotropik, misalnya bahan kubik
dan amorf. Substitusi polarisasi (4) ke dalam perpindahan listrik (6) di atas
menghasilkan

⃗⃗ = ∈0 𝜀⃗ + ∈0 χ 𝜀⃗ = ∈0 (1+ χ) 𝜀⃗ = ∈0 ∈𝑟 𝜀⃗ = ∈ 𝜀⃗
𝐷 (7)

Dengan: ∈ = permitivitas listrik (mutlak)

∈r = permitivitas listrik relatif (terhadap ∈o) = konstanta dielektrik


Konstanta dielektrik ∈r dan suseptibilitas listrik χ merupakan besaran karakteristik
makroskopis bahan (Parno, 2006).

2.2. Polarisasi Dalam Dielektrik


Peranan bahan dielektrik juga dijumpai dalam hukum Coulomb, dimana
gaya antara dua muatan titik bergantung pada sifat listrik dari medium dimana kedua
muatan itu terletak. Cavendish, dan kemudian Faraday menemukan bahwa kapasitas
suatu kapasitor berubah jika suatu bahan dielektrik ditempatkan diantara keping-
keping kapasitor itu. Jika Co adalah kapasitas kapasitor dalam hal dimana daerah
diantara keping-kepingnya kosong dan C adalah kapasitas jika suatu bahan dielektrik
ditempatkan di daerah itu, maka ternyata bahwa perbandingan antara C dan C o tak
bergantung pada bentuk atau ukuran dari kapasitor itu. Perbandingan itu hanya
bergantung pada bahan dielektrik yang dipergunakan dan didefinisikan sebagai
konstanta dielektrik relatif 𝜀𝑟 dari bahan itu. Dalam beberapa literatur 𝜀𝑟 ini juga
dinamakan permitivitas relatif dari bahan dielektrik. Jadi:

𝐶
𝜀𝑟 = 𝐶 (8)
𝑜

Pengaruh bahan dielektrik pada kapasitor, pada gaya antara benda-benda


bermuatan, dll merupakan manifestasi makroskopis dari gejala listrik mikroskopis,
yang terjadi dalam atom-atom atau molekul-molekul dielektrik jika bahan itu
diletakkan dalam medan lsitrik. Jika bahan dielektrik ditempatkan dalam medan
listrik, semua partikel elementer bermuatan dalam atom-atom atau molekul-molekul
akan mengalami pengaruh dari gejala elektrostatis. Oleh pengaruh gaya itu, elektron-
elektron dalam atom-atom atau molekul-molekul itu akan mengalami suatu gaya yang
arahnya berlawanan dengan medan, dan inti yang bermuatan positif akan mengalami
suatu gejala yang searah dengan medan. Hasil netto adalah pergeseran antara titik
pusat gravitasi dari muatan positif dan negatif dan kemudian membentuk suatu dipol
listrik yang sangat kecil. Jika pergeseran itu terjadi, kita katakan bahwa dielektrik itu
terpolarisir. Efek makroskopis dari polarisasi dalam semua bahan dielektrik isotop
adalah sama. Ditinjau dari segi struktur molekulernya, bahan dielektrik dapat dibagi
menjadi dua golongan, ayitu nonpolar dan polar.
Terdapat sekelompok bahan dielektrik pada mana pusat-pusat dari
muatannya berimpit sehingga molekul-molekulnya bersifat netral terhadap
sekelilingnya. Molekul semacam itu dinamakan molekul nonpolar. Untuk
menjelaskan proses polarisasi semacam dalam bahan semacam itu, marilah tinjau
suatu gas beratom satu.

Gambar 7. Skema dari elemen molekul nonpolar

Secara skema dari elemen semacam itu, yang terdiri atas inti bermuatan
positif, dengan muatannya sama dengan q = Ze, dan elektron-elektron yang
mengelilinginya dengan jumlah muatannya sama dengan –Ze, dimana Z adalah
bilangan atom dalam sistem periodik.
Jika tak mendapat medan listrik luar, pengaruh elektron-elektron tersebut pada
dunia luar sama dengan jika seluruh muatannya terletak ditempat dimana terletak inti
positif. Diruang diluar atom, medan yang ditimbulkan oleh inti positif dan elektron-
elektron akan saling menghapuskan, karena itu atom tersebut terhadap ruang
sekitarnya bersifat netral. Tetapi jika terdapat medan listrik, maka akan timbul
deformasi atom, karena oleh pengaruh gaya listrik, inti dan elektron-elektron itu akan
menduduki tempat kedudukan keseimbangan yang baru. Elektron-elektron itu akan
sedikit terdeformir dan titik pusat listriknya akan tergeser sejauh d terhadap inti
positif (lihat gambar 7). Inti positif dan elektron-elektron akan membentuk dipol
listrik dengan momen sebesar:

⃗⃗⃗⃗⃗ = 𝑞𝑑
𝑝⃗ = 𝑍𝑒𝑑 ⃗⃗⃗⃗⃗ (9)

Dimana sumbu dipolnya searah dengan medan lsitrik luar. Deformasi atom
yang dinyatakan oleh panjang dipol d, dan juga momen dipol 𝑝⃗ akan membesar jika
medan kerjanya semakin kuat. Percobaan menunjukkan bahwa momen dipol
berbanding lurus dengan kuat medan listrik. Pada dasarnya proses polarisasi pada
semua bahan dielektrik dengan molekul-molekul nonpolar adalah serupa. Atas
pengaruh medan listrik, molekul-molekul adakn menjadi dipol yang sumbunya searah
dengan arah medan listrik dan momen dipolnya berbanding lurus dengan kuat medan
listrik.
Besaran makroskopis yang dipakai untuk menjatahkan keadaan polarisasi dari
bahan dielekrtrik adalah vektor polarisasi, yang didefinisikan sebagai berikut:
⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗
∑𝑝
𝑃⃗⃗ = 𝑑𝑉 (10)

⃗⃗⃗⃗⃗⃗⃗
Dimana ∑ 𝑝 adalah jumlah vektor momen-momen dari semua dipol listrik
dalam elemen volume dV. Disini dV kita anggap cukup besar untuk memuat
sejumlah besar molekul dari bahan dielektrik itu. Jika bahan dielektrik terdiri atas
molekul-molekul nonpolar dan terpolarisir secara homogen, maka intensitas ektor
polarisasinya sama dengan:

𝑃 = 𝑁′𝑝 (11)
Dimana N’ adalah jumlah molekul dielektrik persatuan volume, dan p adalah
momen listrik dari satu dipol molekul. Karena momen molekul nonopolar berbanding
lurus dengan kuat medan, maka vektor polarisasi akan sama dengan:

𝑝⃗ = 𝛼𝐸⃗⃗ (12)

Dimana αdinamakan koefisien polarisasi dilektrik.

Terdapat golongan bahan dielektrik yang kedua, miasalnya HCI, SO2, NH3,
dan air, yang molekul-molekulnya mempunyai momen dipol tanpa adanya medan
listrik. Molekul-molekul semacam itu dinamakan molekul-molekul polar. Medan
listrik tidak menciptakan dipol-dipol tetapi hanya muatannya saja. Dalam hal tak
terdapat suatu medan listrik, disebabkan oleh gerak termis yang intensif dari molekul-
molekul sumbu dipol-dipol itu tidak teratur, sehingga meskipun tiap molekulnya
mempunyai momen, namun demikian momen rata-ratanya dari tiap satuan volume
akan sama denagn nol (lihat gambar 7). Suatu medan yang sangat kuat akan mampu
memutar molekul-molekul ini dan momen dipol persatuan volume P akan berbanding
lurus dengan medan. Dipol-dipol itu akan tergeser sehingga sumbu-sumbunya searah
dengan medan.

Gambar 8.

Percobaan-percobaan menunjukkan bahwa jika medan listriknya tidak terlalu


besar, vektor polarisasi pada bahan dielektrik dengan molekul-molekul polar
berbanding lurus dengan kuat medan:

𝑝⃗ = 𝛼′𝐸⃗⃗ (13)
Jika intensitas medannya membesar melampaui suatu batas tertentu,
hubungan linear itu akan terganggu.

Terdapat duatu perbedaan penting antara dipol yang diindusir (pada


dielektrik yang molekul-molekulnya nonpolar) dan dipol permanen (pada dielektrik
yang molekul-molekulnya polar). Dipol-dopil yang diindusir tak tergantung pada
temperatur, sedangkan orientasi dari dipol-dipol permanen akan ditentang oleh agitasi
temperatur dan dapat dibuktikan bahwa polarisasi yang dihasilkan dalam suatu medan
tertentu berbanding terbalik dengan temperatur absolut. Persamaan konstanta
polarisasi pada dielektrik polar adalah;

𝛽
𝛼′ = 𝛼 + 𝑇 (14)

Dimana T= temperatur absolut; α, β = konstanta-konstanta yang tak tergantung pada


temperatur (Hassan, A. 1970).

2.3. Deskripsi Molekuler Mengenai Dielektrium

Gambar 9. Pandangan molekuler mengenai efek dielektrik.

Sekarang mari kita teliti dari sudut pandang molekuler, mengapa kapasitansi
sebuah kapasitor akan bertambah bila dielektrium disisipkan di antara kedua pelatnya.
Kapasitor C0 yang pelat-pelatnya dipisahkan oleh udara mempunyai muatan +Q pada
satu pelat dan -Q pada pelat yang lain (Gambar 9a). Misalkan kapasitor diisolasi
(tidak dihubungkan ke baterai) sehingga muatan tidak bisa mengalir ke atau dari
pelat-pelat tersebut. Beda potensial antara kedua pelat, V0 dinyatakan dengan
Persamaan 15:
Q = C0 V0 (15)
Dimana indeks (0) menunjukkan situasi ketika di antara pelat-pelat tersebut
hanya berisi udara. Sekarang kita sisipkan dielektrikum di antara kedua pelat
(Gambar 9b). Karena adanya medan listrik di antara pelat-pelat kapasitor, maka
molekul- molekul akan cenderung menjadi terorientasi sebagaimana digambarkan
pada Gambar 9b. Jika molekul-molekul dielektrikum bersifat polar. Maka ujung
positif akan tertarik ke pelat negatif dan sebaliknya. Bahkan jika molekul-molckul
dielektrikum bukan polar, elektron-elektron di dalam molekul tersebut akan
cenderung bergerak sedikit menuju pelat kapasitor positif, sehingga efeknya tetap
sama. Efek neto dari pensejajaran dipol-dipol adalah muatan negatif neto pada tepi
luar dielektrikum yang menghadap pelat positif, dan muatan positif neto pada sisi
yang berlawanan sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 9c.
Beberapa garis medan listrik, kemudian, tidak menembus dielektrikum,
tetapi berakhir pada muatan-muatan yang diinduksi pada permukaan dielektrikum
seperti ditunjukkan pada Gambar 9c. Dengan demikian, medan listrik di dalam
dielektrikum lebih kecil dibandingkan di udara. Artinya, medan listrik di ruang antara
pelat-pelat kapasitor, misalkan terisi oleh dielektrikum, telah berkurang sebesar fakfor
K. Voltase yang melewati kapasitor berkurang sebesar faktor K karena V = Ed,
sehingga dengan Q = CV, kapasitansi C pasti bertambah sebesar faktor K untuk
menjaga Q tetap konstan. (Giancoli, D. C. 2014)
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Bahan dielektrik disebut juga dengan isolator. Suatu medan listrik tidak akan
menghasilkan pergerakan muatan di dalam bahan dielektrik. Dalam bahan dielektrik,
semua elektron-elektron terikat dengan kuat pada intinya dan akibatnya terbentuk
suatu struktur ragangan benda padat, atau dalam hal suatu cairan atau gas, bagian-
bagian positif dan negatifnya terikat bersama-sama sehingga tiap aliran masa tidak
merupakan perpindahan netto dari muatan.
Jika bahan dielektrik ditempatkan dalam medan listrik, semua partikel
elementer bermuatan dalam atom-atom atau molekul-molekul akan mengalami
pengaruh dari gejala elektrostatis. Oleh pengaruh gaya itu, elektron-elektron dalam
atom-atom atau molekul-molekul itu akan mengalami suatu gaya yang arahnya
berlawanan dengan medan, dan inti yang bermuatan positif akan mengalami suatu
gejala yang searah dengan medan.
Kapasitansi sebuah kapasitor akan bertambah bila dielektrium disisipkan di
antara kedua pelatnya. Medan listrik di dalam dielektrikum lebih kecil dibandingkan
di udara. Artinya, medan listrik di ruang antara pelat-pelat kapasitor, misalkan terisi
oleh dielektrikum, telah berkurang sebesar fakfor K.

3.2. Saran
Penulis menyadari bahwa masih jauh dari kata sempurna, kedepannya
penulis akan lebih fokus dan detail dalam menjelaskan tentang makalah di atas
dengan sumber-sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat
dipertanggungjawabkan.
DAFTAR PUSTAKA
Giancoli, D. C. (2001). Fisika Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Giancoli, D. C. (2014). Fisika Prinsip dan Aplikasi Edisi Ke 7 Jilid 2. Jakarta:


Erlangga.

Hassan, A. (1970). Elektromagnetika. Jakarta: Pradnja Paramita.

Parno. (2006). Fisika Zat Padat. Malang: Departemen Pendidikan Nasional


Universitas Negeri Malang.

Tipler, P. A. (1991). Fisika Untuk Sains dan Teknik. Jakarta: Erlangga.