Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Histologi merupakan salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang struktur
jaringan secara detail dengan menggunakan mikroskop pada sediaan jaringan yang
dipotong tipis. Histologi dapat juga disebut ilmu anatomi mikroskopis. Histologi sangat
berguna dalam mempelajari fungsi fisiologi sel-sel dalam tubuh baik manusia, hewan
dan tumbuhan.Sistem urogenital adalah gabungan dua sistem, yaitu urianaria dan
genitalia.Sistem urinaria, secara garis besar terbagi atas : ginjal dan saluran (ureter,
vesica urinaria dan uretra). Pangkal saluran (ureter) mengalami pelebaran (pelvis) dan
berhubungan dengan ginjal pada darah yang disebut hillus.Pada hillus ini keluar-masuk
arteri, vena, ureter, syaraf, dan pembuluh limp (Agarwal, 1975).
Sistem urogenital terdiri dari sistem urinaria dan sistem reproduksi. Sistem
urinaria terdiri atas sepasang ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra. Sistem reproduksi
pria terdiri dari sepasang tetstis, saluran reproduksi berupa vas deferens, epididimis, vas
everen dan uretra tunggal. Pada pria dilengkapi penis sebagai organ kopulatoris dan
kelenjar asesoris. Sedangkan sisem reproduksi wanita terdiri dari sepasang ovarium,
saluran reproduksi berupa sepasang tuba falopii serta uterus dan vagina tunggal. Pada
wanita juga terdapat organ genitalia eksternae dan kelenjar mammae (Susilowati, 2003).
Pada uretra terdapat dua buah sfingter yaitu sfingter uretra eksternal dan internal
di mana sfingter uretra interna bekerja di bawah sadar sedangkan sfingter uretra eksterna
tidak. Maka ketika proses miksi, sfingter uretra interna inilah yang berfungsi untuk
menahan keluarnya urin. Uretra terdiri atas uretra posterior dan uretra anterior. Uretra
posterior pada pria terdiri atas uretra pars prostatika yang dilingkupi oleh kelenjar
prostat dan uretra pars membranasea. Pada uretra anterior dibungkus oleh korpus
spongiosum penis, terdiri atas pars bulbosa, pars pendularis, fossa navikularis dan
meatus uretra eksternal (Purnomo, 2008).
Pada bagian inferior di depan rectum dan membungkus uretra posterior terdapat
suatu kelenjar yang dinamakan kelenjar prostat. Di bagian skrotum pada pria terdapat

1
sebuah organ genitalia terdapat testis yang dibungkus oleh jaringan tunika albugenia.
Epididimis pada organ genitalia pria terdiri atas caput, corpus dan cauda epididimis.
Sedangkan deferens berbentuk tabung kecil bermula dari kauda epidimis dan berakhir
pada duktus ejakulatorius di uretra posterior. Di dasar buli-buli dan di sebelah cranial
kelenjar prostat terdapat vesikula seminalis. Penis terdiri atas tiga buah corpora
berbentuk silindris yaitu 2 buah corpora cavernosa dan sebuah corpus spongiosum dan
di bagian proksimal terpisah menjadi dua sebagai crus penis. Setiap crus penis
dibungkus oleh ishio-kavernosus yang kemudian menempel pada rami osis ischii.
(Tenser, 1998).
Pada perkembangan sistem Genitalia berasal dari genital ridege yang terdiri atas
sel-sel germinatif primitive, epitel germinal, serta jaringan rete dari mesonefros. Pada
awalnya gonad bersifat bipotensi atau indiferen sehingga tidak bisa dibedakan antara
ovarium dan testis. Genital ridge tersusun atas gamet (sel induk benih), sel interstitial
yang bersal dari mesenkim mesoderm, dan epitel mesoderm yang merupakan pelapis
genital ridge yang berbentuk sex cord. Genital ridge terbagi atas korteks yang pada
jantan mengalami degenerasi sedangkan pada betina korteks berkembang dan
mengandung sel germinal betina (oogonium) membentuk ovarium (Darmawan, 2006).
Saluran genital pada jantan terbentuk dari duktus mesonefros yang bagian
anterior menjadi duktus epididimis dan bagian posterior sampai di kloaka menjadi vas
deferens. Sedangkan kelenjar prostata dan kelenjar cowperi (glandula bulbo urethralis)
berasal dari divertikulum endoderm uretra yang dibungkus oleh jaringan pengikat dan
otot dari mesenkim disekitarnya. Untuk kelenjar vesikula seminalis berasal dari
divertikulum duktus mesonefros (Santoso, 2007).
Saluran genital betina berasal dari duktus mulleri yang berasal dari
perkembangan ductus paramesonephridicus. Kemudian menjadi saluran sendiri yang
membentuk oviduk, uterus dan vagina dengan dilapisi oleh jaringan pengikat dan sel
mesenkim disekitarnya. Duktus mulleri mempunyai ostium di ujung anterior untuk
menampung ovum pada saat ovulasi, disebut ostium tubae abdominal. Pada euteria,
sebagian vagina berasal dari endoderm yang berdelaminasi dari kloaka (Junqueira,
1980). Sistem genitalia di bedakan atas dua bagian yaitu genitalia maskulin dengan

2
genitalia feminin. Sistem genitalia maskulin terdiri atas testis, saluran, kelenjar dan
bagian eksterna. Sistem genitalia feminin terdiri atas ovarium, uterus dan vagina. Secara
histologis umum, organ genitalia terdiri dari tunika mukosa, tunika submukosa, tunika
muskularis, dan tunika adventitia. Hanya saja pada organ genitalia lapisan terluarnya
terdiri dari tubulus vasculosa dan tubulus albugenia(Darmawan, 2006).
Maka dari itu sistem urogenitalia merupakan salah satu sistem terpenting tubuh,
dimana tubuh kita dapat tumbuh dan berkembang juga dipengaruhi dari proses kerja
organ-organ sistem urogenitalia. Selain itu, kurangnya pengetahuan praktikan tentang
struktur jaringan yang ada pada sistem urogenitalia itu sendiri juga melatar belakangi
diadakannya praktikum tentang histologi urogenitalia ini
1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum kali ini yaitu untuk mengetahui, memahami dan
mengidentifikasi histologi organ sistem urinaria dan sistem genitalia.

3
II. TINJAUAN PUSTAKA

Sistem urogenitalia terdiri dari organ urinaria yang terdiri atas ginjal beserta salurannya,
ureter, buli-buli dan uretra. Sedangkan organ reproduksi pada pria terdiri atas testis,
epididimis, vas deferens, vesikula seminalis, prostat dan penis. Kecuali testis,
epididimis, vas deferens dan uretra, histologi urogenitalia terletak di rongga
retroperitoneal dan terlindung oleh organ lain yang melindunginya (Purnomo, 2008).
Sistem urinaria terdiri atas ginjal dan beberapa saruran seperti ureter, uretra dan
kandung kemih. Ginjal merupakan organ penting dalam tubuh dan berfungsi untuk
membuang sampah istology dan racun tubuh dalam bentuk urin atau air seni, yang
kemudian dikeluarkan dari tubuh. Ginjal, bagian dari system urinasi berfungsi
membersihkan sisa kotoran dari air, garam dan sisa makanan dari tubuh. Darah yang
mengalir bersikulasi melalui ginjal, telah melalui miliaran proses filterasi melalui organ
ini. Hasilnya adalah keringat dan urin. Di dalam ginjal terdapat dua system penting
yang berfungsi mengatur tekanan darah, yaitu system dan angiotensin. Ginjal memiliki
karkteristik berbentuk seperti kacang merah dan memiliki dua extremitas, dua batas dan
dua permukaan. Extremitas cranial dan caudal dihubungkan dengan batas lateral yang
cembung dan batas medial yang lupus. Batas medial dapat diidentiikasi dengan bentukan
oval, hillus renalis, yang terbuka ke sinus renalis. Pada hillus renalis terdapat ureter,
arteri dan vena renalis, pembuluh limfe, dan syaraf. Pada struktur ini arteri renalis
berada paling dorsal, dan vena renalis paling ventral (Tenser, 1998).
Organ-organ reproduksi pada manusia berbeda antara laki laki dan wanita. Alat
reproduksi perempuan yang terlihat dari luar Cuma bibir kemaluan dan liang senggama
yang ditutupi bulu kelamin. Alat reproduksi perempuan masuk hingga bagian dalam
tubuh perempuan. Alat reproduksi perempuan terdiri dari beberapa bagian utama, yaitu
uterus, tempat janin tumbuh dan berkembang. Setiap bulan, rahim menyiapkan diri
dengan melapisi dindingnya dengan lapisan khusus untuk menerima bayi. Kalau tidak
jadi hamil, maka lapisan khusus itu runtuh berupa darah haid. Kalau perempuan hamil,
lapisan khusus tidak diruntuhkan lagi, tetapi dipakai untuk menghidupi janin sehingga

4
perempuan tidak haid saat hamil. Serviks/Mulut Rahim, serviks memisahkan rahim
dengan liang senggama. Bermanfaat menjaga agar kotoran dan kuman tidak mudah
masuk kedalam rahim. Juga, ia bermanfaat untuk menyangga kepala bayi saat
perempuan hamil. Ovarium, proses pembentukan ovum (oogenesis) terjadi di dalam
ovarium. Di dalam ovarium terdapat banyak sel induk telur (oogonium) yang bersifat
diploid (2n). Oogonium akan tumbuh menjadi oosit primer (oosit I) melalui pembelahan
mitosis. Oosit primer akan membelah secara meiosis menghasilkan satu oosit sekunder
(oosit II) dan satu badan kutub I (badan kutub primer). Vagina, vagina bentuknya
memanjang seperti tabung. Saat berhubungan seks, penis masuk ke dalam liang vagina.
Darah haid juga keluar melalui vagina. Bayi juga keluar lewat vagina pada saat
perempuan melahirkan. Dalam vagina terdapat jamur dan kuman-kuman yang tidak
mengganggu tubuh kalau keseimbangan hidupnya tidak terganggu (Junquiera, 1980).
Alat reproduksi laki-laki yang dapat dilihat dari luar adalah penis dan scrotum.
Alat reproduksi laki-laki terdiri dari beberapa bagian utama diantaranya penis, penis
adalah bagian penting dari alat reproduksi laki-laki, terdiri dari dua bagaian utama yaitu
kepala penis dan batang penis. Kepala penis sama pekanya dengan kelentit pada
perempuan. Batang penis terdiri dari kelenjar spons yang dapat terisi darah sehingga
penis menjadi keras. Scrotum, scrotum adalah tempat testis. Di dalam testis inilah
sperma dibuat. Testis dikelilingi oleh selaput berserat albuginea, yang banyak encloses
profil dari seminiferous tubules dalam sperma yang dibuat oleh mitosis dan meiosis.
Antara seminiferous tubules adalah interstisial sel-sel Leydig (yang memproduksi
testosterone) dan kapal darah. wilayah yang berkerut dengan dibulatkan spermatogonia
yang mengalami mitosis menjadi dasar spermatocytes (rintik nuclei), dan kemudian
menjadi spermatocytes sekunder oleh proses pertama meiotic divisi. Sekunder
spermatocytes membagi lagi (kedua meiotic divisi) untuk menjadi spermatids (dengan
lebih kecil, gelap nuclei), yang mentransformasikan menjadi spermatozoa matang.
Semua ini terjadi tahap-tahap ke arah lumen. Spermatozoa dewasa memiliki tongkat
tipis seperti nuclei yang bebas dalam lumen (Rezkini, 2009).

5
Pada uretra terdapat dua buah sfingter yaitu sfingter uretra eksterna dan interna di
mana sfingter uretra interna bekerja di bawah sadar sedangkan sfingter uretra eksterna
tidak. Maka ketika proses miksi, sfingter uretra interna inilah yang berfungsi untuk
menahan keluarnya urin. Uretra terdiri atas uretra posterior dan uretra anterior. Uretra
posterior pada pria terdiri atas uretra pars prostatika yang dilingkupi oleh kelenjar
prostat dan uretra pars membranasea. Pada uretra anterior dibungkus oleh korpus
spongiosum penis, terdiri atas pars bulbosa, pars pendularis, fossa navikularis dan
meatus uretra eksterna (Setchell, 1978).
Ureter merupakan saluran muscular yang mengalirkan urine dari pelvis ginjal
menuju ke vesica urinaria. Masing-masing ureter bergerak kearah kaudal dan
menumpahkan isinya ke vesica urinaria, di dekat bagian leher yang disebut trigone dan
terbentuklah suatu katup untuk mencegah arus balik urine ke ginjal (Darmawan, 2006).
Ureter merupakan pipa fibromuscular, yang ramping dan datar yang membawa urine
dari ginjal ke vesica urinaria. Ureter dimulai di pelvis renalis, yang menerima urine dari
papila renalis. Ureter terletak di dorsal dari pembuluh spermatic interna pada jantan dan
arteri-vena utero-ovarian pada betina (Eroschenko, 2005).
Perjalanan urin yang keluar dari ginjal akan menuju kantong kemih melalui
saluran yang disebut ureter . Jika sudah terkumpul cukup penuh maka ada mekanisme
reflek untuk mengeluarkan urin. Mekanisme itu disebut miksi, atau perasaan ingin
kencing, dan keluar melalui uretra. Uretra pria dan wanita berbeda, pada pria uretra lebih
panjang, dan saluran itu juga merupakan saluran keluarnya sperma. Sedangkan uretra
wanita lebih pendek, dan hanya untuk saluran urine saja. Oleh karena itu, perbedaan ini
juga menimbulkan isto khas penyakit infeksi saluran kencing pada wanita lebih sering
terjadi, tetapi kasus batu ginjal lebih banyak pada pria, karena saluran yang panjang dan
sempit. Ureter merupakan saluran muscular yang mengalirkan urine dari pelvis ginjal
menuju ke vesica urinaria. Masing-masing ureter bergerak kearah kaudal dan
menumpahkan isinya ke vesica urinaria, di dekat bagian leher yang disebut trigone dan
terbentuklah suatu katup untuk mencegah arus balik urine ke ginjal (Purnomo, 2008).
Ureter adalah saluran tunggal yang menyalurkan urine dari pelvis renalis menuju
vesika urinaria (kantong air seni). Mukosa membentuk lipatan memanjang dengan

6
epithel peralihan, lapisan sel lebih tebal dari pelvis renalis. Tunika propria terdiri atas
jaringan ikat dimana pada kuda terdapat kelenjar tubulo-alveolar yang bersifat mukous,
dengan lumen agak luas. Tunika muskularis tampak lebih tebal dari pelvis renalis, terdiri
dari lapis dalam yang longitudinal dan lapis luar sirkuler, sebagian lapis luar ada yang
longitudinal khususnya bagian yang paling luar. Dekat permukaan pada vesika urinaria
hanya lapis longitudinal yang nampak jelas (Delmann,1992).
Dinding ureter terdiri atas beberapa lapis, yakni tunika mukosa, lapisan dari
dalam ke luar sebagai berikut, epithelium transisional pada kaliks dua sampai empat
lapis, pada ureter empat sampai lima lapis, pada vesica urinaria 6-8 lapis. Tunika
submukosa tidak jelas. Lamina propria beberapa lapisan. Luar jaringan ikat padat tanpa
istolo, mengandung serabut istolo dan sedikit istol limfatiki kecil, dalam jaringan ikat
longgar. Kedua-dua lapisan ini menyebabkan tunika mukosa ureter dan vesika urinaria
dalam keadaan kosong membentuk lipatan membujur. Selanjutnya tunika muskularis
yang terdiri dari otot polos sangat longgar dan saling dipisahkan oleh jaringan ikat
longgar dan anyaman serabut. Otot membentuk tiga lapisan, stratum internum, stratum
sirkulare dan stratum eksternum. Dan terakhir tunika adventisia yaitu jaringan ikat
longgar. Setelah dari ureter urine ditampung dalam kantong yang disebut vesica urinaria,
yang merupakan kantong penampung urine dari kedua ginjal urine ditampung kemudian
dibuang secara istolog (Solichatun, 2006).
Tunika adventisia terdiri atas jaringan ikat yang mengandung pembuluh darah,
pembuluh limfe dan saraf, ganglia sering terdapat didekatnya. Selama urine melalui
ureter komposisi pokok tidak berubah, hanya ditambah lendir saja Dinding ureter terdiri
atas beberapa lapis yakni: Tunika mukosa: lapisan dari dalam ke luar sebagai berikut :
a). Epithelium transisional : pada kaliks dua sampai empat lapis, pada ureter empat
sampai limalapis,pada vesica urinaria 6-8lapis. b).Tunika submukosa tidak jelas , c).
Lamina propria beberapa lapisan Luar jaringan ikat padat tanpa papila, mengandung
serabut elastis dan sedikit noduli limfatiki kecil,dalam jaringan ikat longgar. Kedua-dua
lapisan ini menyebabkan tunika mukosa ureter dan vesika urinaria dalam keadaan
kosong membentuk lipatan membujur. Kemdian tunika muskularis : otot polos sangat
longgar dan saling dipisahkan oleh jaringan ikat longgar dan anyaman serabut elastis.

7
Otot membentuk tiga lapisan : stratum longitudinale internum, stratum sirkulare dan
stratum longitudinale eksternum. Kemudian tunika adventisia : jaringan ikat longgar
(Dellmann, 1992).
Menurut (Saktiono, 1989), Vesica Urinaria, Merupakan kantong penampung
urine dari kedua ginjal urine ditampung kemudian dibuang secara periodik. Struktur
histologinya adalah: 1). Mukosa, memiliki epithel peralihan (transisional) yang terdiri
atas lima sampai sepuluh lapis sel pada yang kendor, apabila teregang (penuh urine)
lapisan nya menjadi tiga atau empat lapis sel, 2). Propria mukosa terdiri atas jaringan
ikat, pembuluh darah, saraf dan jarang terlihat limfonodulus atau kelenjar. Pada sapi
tampak otot polos tersusun longitudinal, mirip muskularis mukosa, 3). Sub mukosa
terdapat dibawahnya, terdiri atas jaringan ikat yang lebih longgar, 4). Tunika muskularis
cukup tebal, tersusun oleh lapisan otot longitudinal dan sirkuler (luar), lapis paling luar
sering tersusun secara memanjang, lapisan otot tidak tampak adanya pemisah yang jelas,
sehingga sering tampak saling menjalin. Berkas otot polos di daerah trigonum vesike
membentuk bangunan melingkar, mengelilingi muara ostium urethrae intertinum.
Lingkaran otot itu disebut m.sphinter internus, 5). Lapisan paling luar atau tunika
serosa, berupa jaringat ikat longgar (jaringan areoler),sedikit pembuluh darah dan saraf.
Uterus memiliki kesamaan antara beberapa ternak lainnya, yaitu berbetuk
bicornua (dua tanduk). Pada hewan yang tak bunting uterus berada 25-40 cm ke deapan
dari lubang vulva, tepat di depan cervix. Corpus Uteri bergaris tengah transversal 9-12
cm berukuran panjang 2-5 cm dan bagian depan terbagi atas 2 tanduk. Karena tanduk
uterus terletak sangat berdekatan sepanjang 10-15 cm dan tumbuh bersama, maka
seakan-akan corpus uteri tampak lebih panjang dari pada kenyataannya. Kadang-kadang
tanduk uterus memanjang masuk ke dalam cerviks, sehingga tidak terdapat corpus uteri.
Pada tempat dimana kedua tanduk memisahkan diri garis tengahnya 3-4 cm, Dari tempat
pemisahan panjang tanduk uterus biasanya 20-35 cm, membuat panjang seluruh uterus
menjadi 30-55 cm. Panjang uterus beragam sesuai dengan umur hewan dan faktor lain
(Gunarso, 1979).
Vagina merupakan perpanjangan dari cervix sampai ketempat sambungan uretra
dengan saluran alat kelamin adalah bagian yang berdinding tipis. Vagina merupakan

8
bagian dari organ repoduksi merupakan organ kopulasi pertemuan antara organ
reproduksi jantan dan betina. Sel epitel berada dinding vagina yang berada dekat Serviks
terdiri dari lapisan jajaran sel sel penghasil lendir dan sel epitel tipis (Glenn, 1991).
Vagina adalah bagian saluran peranakan yang terletak di dalam pelvis di antara
uterus (arah kranial) dan vulva (kaudal). Vagina juga berperan sebagai selaput yang
menerima penis hewan jantan pada saat kopulasi. Membran mukosa dari vagina adalah
epitel squamosa berstrata yang tak berkelenjar. Pada bagian vagina sapi tersebut
permukaannya tidak mengalami kornifikasi, kemungkinan karena rendahnya tingkat
sirkulasi estrogen (Gyuton, 2007).

9
BAB III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum Histologi Urogenital dilaksanakan pada hari Kamis, 9 November 2018 di


Laboratorium Teaching II, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Universitas Andalas.

3.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum Histologi Urogenital ini adalah mikroskop dan
preparat permanen histologi urogenital yaitu preparat ginjal, ureter, vesica urinaria,
ovarium, uterus, vagina, tuba fallopi, testis, penis, dan epididimis.

3.3 Cara Kerja


Adapun cara kerja pada praktikum kali ini adalah pertama sediakan mikroskop dan
preparat permanen histologi urogenital. Diamati preparat dan diidentifikasi bagian-
bagian histologi dibawah mikroskop. Kemudian dicatat hasil dan digambarkan pada
buku gambar.

10
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari praktikum kali ini didapatkan hasil :


4.1 Histologi Urinaria
4.1.1 Histologi ginal

d
c

b
a

Gambar 1. Histologi ginjal Gambar 2. Histologi ginjal


Perbesaran (40x) berdasarkan Literatur
(Sumber : Doc. Pribadi) (Sumber : Ferion, 1981)
Keterangan : (a) Pelvis renalis (b) Medulla (c) glomerullus (d) Korteks
Berdasarkan gambar 1, dapat dilihat bahwa histologi ginjal yang idapatkan yaitu Pelvis
renalis, medulla, glomerulus, dan korteks. Korteks adalah sebuah lapisan sekunder
ginjal yang cenderung lebih tebal dari kebanyakan jaringan dalam organ yang lainnya.
Korteks terdiri dari beberapa bagian yaitu glomerulus. Glomerulus berbentuk bulat dan
dibangun oleh kapiler darah.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Ramon (1997) bahwa sesuai struktural dan
fungsional ginjal terdiri dari kumpulan nefron. Tiap – tiap nefron terdiri atas komponen
vaskuler dan tubuler. Komponen vaskuler terdiri atas pembuluh – pembuluh darah yaitu
glomerolus dan kapiler peritubuler yang mengitari tubuli. Dalam komponen tubuler
terdapat kapsul Bowman, serta tubulus – tubulus, yaitu tubulus kontortus proksimal,
tubulus kontortus distal, tubulus pengumpul dan lengkung Henle. Kapsula Bowman
terdiri atas lapisan parietal (luar) berbentuk gepeng dan lapis visceral. Kapsula bowman
bersama glomerolus disebut korpuskel renal, bagian tubulus yang keluar dari korpuskel
renal disabut dengan tubulus kontortus proksimal karena jalannya yang berbelok –

11
belok, kemudian menjadi saluran yang lurus yang semula tebal kemudian menjadi tipis
disebut ansa Henle atau loop of Henle, karena membuat lengkungan tajam berbalik
kembali ke korpuskel renal asal, kemudian berlanjut sebagai tubulus kontortus distal.
Korteks yang bertugas melaksanakan penyaringan darah yang disebut nefron. Pada
tempat penyarinagn darah ini banyak mengandung kapiler – kapiler darah yang tersusun
bergumpal – gumpal disebut glomerolus. Tiap glomerolus dikelilingi oleh simpai
bownman, dan gabungan antara glomerolus dengan simpai bownman disebut
badanmalphigiPenyaringan darah terjadi pada badan malphigi, yaitu diantara
glomerolus dan simpai bownman. Zat – zat yang terlarut dalam darah akan masuk
kedalam simpai bownman.
4.1.2 Histologi Ureter

d
e
Gambar 3. Histologi Ureter (100 x) Gambar 4. Histologi Ureter
Sumber : Doc.pribadi berdasarkan literatur
(Sumber : Atlas diFiore, 2012)
Ket: (a) Lumen (b) epitel (c) lamina propria (d) adventitia (e) Sel adiposa

Berdasarkan gambar 3 dapat dilihat bahwa histologi ureter terdiri dari Lumen , epitel ,
lamina propria, adventitia dan sel adiposa. Hal ini sesuai dengan pernyatan Dellman dan
Brown (1992) bahwa Ureter meninggalkan ginjal di daerah hillus dan memasuki
kandung kemih (vesika urinaria), menembus tunika muskularis dengan posisi miring.
Saat ureter menembus kandung kemih, terdapat semacam katup mukosa yang akan
menutup lubang ureter bila kandung kemih penuh. Katup ini merupakan mekanisme
penyelamat untuk menghindari aliran kembali.Dinding ureter terdiri dari 3 lapisan
Selaput lendir peralihan, tunika muskularis dan serosa atau adventisia

12
Selaput lendir membentuk lipatan memanjang, lumennya berbentuk bintang pada
sayatan melintang. Selaput lendir peralihan terdiri dari lima sampai 6 lapis sel epitel
peralihan. Tebalnya tergantung pada jenis hewannya. Ureter pada kuda, keledai, dan
bagal (mule) mempunyai kelenjar tubuloalveolar barcabang yang bersifat mukous dalam
lamina propria-sub mukosa, tersebar mulai dari pelvis renalis sampai sepertiga bagian
atas pada ureter. Sekretnya memberikan konsistensi mukous dan serabut yang khas pada
kemih spesies ini. Tunika muskularis terdiri dari 3 lapis, lapis dalam dan lapis luar
tersusun memanjang, dan lapis tengah tersusun melingkar. Jaringan ikat longgar sering
memisah berkas-berkas otot polos, terutama pada lapis memanjang. Susunan tersebut
bersifat mengulir yang mendorong gerakan peristaltik mengalirkan kemih menuju
kandung kemih. Lapis ureter paling luar bisa serosa atau adventisia, tergantung keadaan
serta pertautan dengan peritoneum, jumlah sel lemak periureter, dan daerah
potongannya. Adventisia terdiri dari jaringan ikat longgar dengan serabut kolagen dan
elastik mengandung pembuluh darah dan sel-sel lemak disekitar tepi (Genneser, 1994).
4.1.3 Histologi Vesica Urinaria

d
c
b
a

Gambar 5. Histologi vesica urinaria Gambar 6. Histologi vesica urinaria


(100 x) berdasarkan literatur
(Sumber : Doc. Pribadi) (Sumber : Atlas diFiore, 2012)
Keterangan: (a) Mukosa (b) Lamina propria (c)otot (d) serosa

Berdasarkan gambar 5 , dapat dilihat bahwa didapatkan histologi vesica urinaria yang
teridiri dari Mukosa, Lamina propria, otot dan serosa Hal ini sesuai dengan pernyataan
Yatim (1991) bahwa secara histologis lapisan penyusun dinding kantong kemih terdapat
3 lapis. Lapisan dari ddalam ke luar yaitu tunika mukosa, tunika muskularis, dan tunika

13
adventisia. Tunika Mukosa merupakan lapisan paling dalam yang berbatasan secara
langsug dengan lumen. Penyusun lapisan ini berupa sel epitel berlapis banyak yang
lebih tebal dari ueter dan lamina propia yang terdiri atas jaringan ikat areolar dan
mengandung banyak serabut elastin. Waktu kantung kemih kososng, sel epitel penyusun
tunika mukosa ini berbentuk batang atau kubus.waktu terisi penuh, bentuknyapun
menggepeng dan lumennyapun meluas. Melihat kondisi seperti ini maka sel epitelnya
disebut dengan epitel transisional. Tebal epitel transisional ini bervariasi, dari 3 sampai
dengan 14 lapis sel, tergantung pada spesies serta derajat pemekarannya (Dellmann &
Brown, 1992).
Tunika Muskularis merupakan lapisan yang berupa berkas otot polos yang terdiri
atas 3 lapis . lapisan terdalam tersusun secara longitudinal,kemudian sirkuler, dan yang
paling luar sirkuler (Tenzer. Dkk, 2001). Tunika muskularis merupakan lapisan yang
paling tebal dari lapisan yang lainnya. Di antara ketiga lapisan otot polos tersebut yang
paling tebal adalah lapisan otot sirkuler. Menurut menurut Dellmann dan Brown (1992)
dalam bukunya yang berjudul “Text Book Of Veterinary Histology” dikatakan bahwa
bentuk atau pola susunan dari 3 lapisan muskularis ini merupakan susunan yang penting.
Pola dari lapisan ini saling menjalin membentuk jalinan yang cukup kuat sehingga otot
pada daerah kantong kemih ini disebut dengan otot Detrusor. Pada daerah hubungan
ureter dengan kantung kemih, lapisan longitudinal otot ureter membentuk jalinan dengan
lapisan yang sama pada kantung kemih. Keadaan ini membentuk sfingter yang
fungsional, yaitu mencegah aliran kembali dari kemih. Tunika Adventisia merupakan
lapisan paling luar dari lapisan penyusun kantung kemih. Bagian ini berupa jaringan ikat
yang bagian luarnya diselaputi oleh mesotel. Di sebelah luar dari tunika adventisia
merupakan tunika serosa dan peritoneal yang diselubungi oleh jaringat ikat longgar.

14
4.2 Histologi genitalia
4.2.1 Histologi genitalia betina
4.2.1.1 Histologi Ovarium

c
b

a
e
d
f

Gambar 7. Histologi Ovarium (40 Gambar 8. Histologi Ovarium


x) berdasarkan literatur
(Sumber : Doc. Pribadi) (Sumber : Atlas diFiore, 2012)
Keterangan : (a) Medula (b) korpus luteum (c) folikel sekunder (d) Folikel primer (e)
korteks (f) folikel tersier
Berdasarkan gambar 7 , dapat dilihat bahwa histologi Ovarium terdiri dari Medula ,
korpus luleum, folikel sekunder, Folikel primer, korteks dan folikel tersier. diketahui
bahwa pada preparat histologi bagian-bagian seperti bulatan-bulatan yang disebut
folikel primer. Folikel de gruff yaitu bagian bulatan yang berisikan korpus lateum.
Kemudian ada bagian yang melengkung disebut bagian medulla.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Genneser (2007) bahwa ovarium merupakan
tempat dihasilkannya sel telur atau ovum. Ovarium ditutupi oleh epitel selapis kuboid
atau epitel germinativum yang berlanjut dengan mesotel dan menutupi selapis simpai
jaringan ikat padat, yaitu tunika albugenia. Ovarium terdiri atas korteks dan medula.
Korteks ovarium berisi stroma jaringan ikat yang mengandung banyak sel dan banyak
folikel ovarim. Medula merupakan bagian terdalam ovarium yang mengandung jaringan
ikat longgar dan pembuluh darah. Tidak ada batas yang jelas antara korteks dan medula.
Folikel atretik merupakan folikel ovarium yang mengalami degenertif. Sel-sel folikel
dan oosit folikel atretik mati dan dibersihkan oleh fagositik. Folikel atretik dapat
dialami oleh folikel pada berbagai tahap perkembangan, termasuk folikel yang hampir

15
matang. Korpus albikans merupakan parut jaringan ikat padat dari fibroblas. Fibroblas
terbentuk akibat sisa dari korpus luteum yang meregenerasi dan sisa dari regresi
fagositosis oleh makrofag.
4.2.2.2 Histologi Uterus
a

b
c

Gambar 9. Histologi Uterus (40x) Gambar 10. Histologi Uterus


(Sumber : Doc.Kelompok 4B berdasarkan Literatur
(Sumber :
www.atlashistologi.com)
Keterangan : a) lamina propia, b) endometrium, c) lumen, d) myometrium, d)
perimetrium
Berdasarkan gambar 9 , dapat dilihat bahwa histologi uterus yang didapatkan yaitu
lumen, epitelium, endometrium dan perimetrium. Uterus merupakan organ berbentuk
buah pir dengan dinding otot yang tebal. Uterus terdiri atas tiga lapisan, yaitu
perimetrium, miometrium dan endometrium. Lumen adalah rongga utereus. Perimetrium
terdapat di bagian luar dari uterus. Bagian paling dalam uterus yaitu endometrium
(mukosa).
Hal ini sesuai dengan pernyataan Eroschenko (2010) bahwa uterus merupakan
organ berbentuk buah pir dengan dinding otot yang tebal. Uterus terdiri atas tiga
lapisan, yaitu perimetrium, miometrium dan endometrium. Perimetrium merupakan
jaringan ikat yang tersambung dengan daerah paling luar uterus berupa adventisia atau
serosa. Miometrium merupakan lapisan yang berada diantara perimetrium dan
endometrium. Miometrium merupakan lapisan otot polos yang tebal dengan banyak
pembuluh darah. Endometrium merupakan lapisan mukosa yang dilapisi oleh epitel

16
selapis silindris. Lapisan endometrium dibagi menjadi dua zona, yaitu stratum
fungsional dan stratum basal.
Stratum fungsional mengandung lamina propria yang berspons dan memiliki
sedikit sel, serta mengandung epitel permukaan (epitel selapis silindris). Stratum
fungsional akan mengalami perubahan drastis selama siklus haid. Stratum fungsional
adalah lapisan yang meluruh pada fase menstruasi. Stratum basal merupakan lapisan
yang berdekatan dengan miometrium. Stratum basal mengandung lamina propria
dengan banyak kelenjar uterus dan memiliki lebih banyak sel. Startum fungsionale
mengandung banyak arteri spiralis yang menyuplai darah pada endometrium selama
pelepasan stratum fungsional secara periodik (Campbell, 2010).
4.2.1.3 Histologi Vagina

b
a
Gambar 11. Histologi Vagina (400 Gambar 12. Histologi Vagina
x) berdasarkan Literatur
(Sumber : Doc. Pribadi) (Sumber : Atlas diFiore, 2012)
Keterangan : (a) adventitia (b) otot (c) medula (d) Lamina propria (e) mukosa
Berdasarkan gambar 10, dapat dilihat dan bahwa histologi vagina yang didapatkan pada
saat praktikum yaitu adventitia, otot, medula, Lamina propria adventitia. Hal ini sesuai
dengan perrnyataan Eka et al (2014) bahwa vagina merupakan organ reproduksi betina
yangg paling luar. Berupa tabung Fibro muskuler yang pada permukaaannya dilapisi
oleh membran mukosa. Pada keadaan biasa, dinding mukosa depan dan belakang saling
berhimpitan, nantinya baru akan terbuka pada saat bersenggama atau persalinan.
Dinding vagina terdiri dari mukosa, lapisan muskularis, dan adventitia. Mukosa vagina
mempunyai lipatan-lipatan transversal yang idsebut rugae. Mukosa terbagi menjadi

17
bberapa bagian yaitu epitel dan lamina propria. Epitel pada vagina adalah berlapis pipih
tanpa tanduk, sesuai dengan daerahnya yang rawan trauma. Lamina propria terdiri dari
jaringan ikat padat dengan banyak serabut elastis, pembuluh darah, ujung sarf sensorik
khusus serta serabut saraf. Vagina tidak memiliki kelenjar dalam proprianya, sehingga
cairan pelumas pada saat bersenggama diperoleh dan kelenjar serviks. Lapisan
muskularis terdiri dari dua lapisan jalinan berkas otot polos yang tersusun longitudinal
dan sirkular. Adventitia terdiri dari jaringan ikat longgar dan mengandung pembuluh
darah, sarf dan ganglion otonom.
4.2.1.4 Histologi Tuba fallopi

c
b

Gambar 13. Histologi Tuba fallopi Gambar 14. Histologi Tuba fallopi
(100 x) berdasarkan Literatur
]
(Sumber : Doc. Kelompok 4B) (Sumber :
www.atlashistologi.com)
Keterangan : a) epitelium, b) tunica muskular, c) lumen.
Berdasarkan gambar 12 dapat dilihat bahwa histologi tuba falopi terdiri dari Lumen,
epitel, dan lamina. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mescher (2011) bahwa Tuba
fallopii atau tuba uterina atau oviduk adalah saluran yang menghubungkan ovarium dan
uterus. Tuba fallopii merupakan tempat pembuahan sel telur (ovum) oleh sperma. Tuba
fallopii yang terlihat pada gambar merupakan bagian ismus, yaitu bagian tuba fallopii
yang terdekat dengan uterus. Ismus tuba fallopii memiliki mukosa yang berlipat pendek.
Muskularis tuba fallopii terdiri atas lapisan otot polos longitudinal (dalam) dan sirkular
(luar). Bagian paling luar tuba fallopii dilingkupi oleh peritoneum. Mukosa tuba fallopii
terdiri atas epitel selapis silindris. Di bawah epitel terdapat jaringan ikat lamina propria.

18
4.2 Histologi genitalia Jantan
4.2.2.1 Histologi Testis

b
c

d
Gambar 15. Histologi Testis (100 Gambar 16. Histologi Testis
x) berdasarkan Literatur
(Sumber : Doc. Kelompok 4B) (Sumber : Atlas diFiore, 2012)

Keterangan : a) leyding cells, b) spermatid, c) spermatongium, d) seminiferous tubule

Berdasarkan gambar 15 , dapat dilihat bahwa histologi testis yang didapatkan yaitu
Spermatogonium, spermatosit, sel-sel bersilia, spermatozoa. Spermatozoa ( sperma)
yang normal memiliki kepala dan ekor. Pada tubulus seminiferus testis terdapat sel-sel
induk spermatozoa atau spermatogonium. Selain itu juga terdapat sel Sertoli yang
berfungsi memberi makan spermatozoa juga sel Leydig yang terdapat di antara tubulus
seminiferus. Sel Leydig berfungsi menghasilkan testosteron.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Bevelander (1988) bahwa testis yang
dikelilingi oleh selaput berserat albuginea, yang banyak encloses profil dari
seminiferous tubules dalam sperma yang dibuat oleh mitosis dan meiosis. Antara
seminiferous tubules adalah interstisial sel-sel Leydig (yang memproduksi testosterone)
dan kapal darah. wilayah yang berkerut dengan dibulatkan spermatogonia yang
mengalami mitosis menjadi dasar spermatocytes (rintik nuclei), dan kemudian menjadi
spermatocytes sekunder oleh proses pertama meiotic divisi. Sekunder spermatocytes
membagi lagi (kedua meiotic divisi) untuk menjadi spermatids (dengan lebih kecil,
gelap nuclei), yang mentransformasikan menjadi spermatozoa matang. Semua ini terjadi
tahap-tahap ke arah lumen. Spermatozoa dewasa memiliki tongkat tipis seperti nuclei

19
yang bebas dalam lumen. Sertoli dinding tabung kecil, dan memelihara sel-sel yang
berkembang di antara banyak hal lainnya
Dari kapsulnya terdapat trabekula yang memanjang masuk ke dalam kumpulan
jaringan penyambung sentral, mediastinum, yang mengandung bagian-bagian proksimal
dari sistem saluran. Dengan demikian parenkim testis terbagi dalam banyak
lobullapiramidal, yang berisi lilitan-lilitan tubula seminifera yang padat berhimpit dan
suatu stroma jaringan penyambung intersitial (Gunarso, 1979).
4.2.2.2 Histologi penis

a
b
c

d
e

Gambar 17. Histologi Penis (100 Gambar 18. Histologi Penis


x) berdasarkan Literatur
(Sumber : Doc. Kelompok 4B) (Sumber : Atlas diFiore, 2012)

Keterangan: a) epidermis, b) dermis, c) tunika albunginea, d) deep arteries, e) median


septum.
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan dapat dilihat bawha histologi penis
terdiri atas epidermis, dermuis, tunika albunginea, deep arteries, median septum. Pada
daerah dorsal terdapat sepasang korpora covernosa, dibawahnya terdapat satu korpus
spongiosum yang mengelilingi uretra dan pada bagian ujung membentuk kerucut (gland
penis). Setiap korpus covernosum dibungkus oleh jaringan ikat padat (tunica albugenia)
yang terdiri dari serat kolagen.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Junqueira dan Jose (1997) bahwa penis
merupakan saluran keluarnya urin dan cairan semen, serta berfungsi sebagai alat
kopulasi. Penis tersusun atas tiga bangunan erektil silindris yang terdiri atas satu pasang
korpus kavernosum, dan satu korpus spongiosum. Korpus spongiosum penis

20
membungkus lumen uretra. Di antara korpus spogiosum terdapat kelenjar Littre. Korpus
spongiosum dilingkupi oleh lapisan otot polos sirkuar dan longotudinal. Di sebelah
lapisan otot polos terdapat selubung fibrosa yaitu tunika albuginea sebagai lapisan
terluar dari korpus spongiosum penis. Komponen anatomi utama dari penis adalah
korpus, glans dan preputium.Korpus terdiri dari korpora kavernosa (jaringan rongga
vaskular yang dibungkus oleh tunika albuginea) dan di bagian inferior terdapat korpus
spongiosum sepanjang uretra penis. Seluruh struktur ini dibungkus oleh kulit, lapisan
otot polos yang dikenal sebagai dartos, serta lapisan elastik yang disebut Buck fascia
yang memisahkan penis menjadi dorsal (korpora kavernosa) dan ventral (korpus
spongiosum)
4.2.2.3 Histologi Epididimis

c
\
Gambar 19. Histologi Epididimis Gambar 20. Histologi Epididimis
(100 x) berdasarkan literatur
(Sumber : Doc. Pribadi) (Sumber : Atlas diFiore, 2012)

Keterangan: (a) Vas deferens (b) epitelium (c) Bassal cells


Berdasarkan gambar 19 , dapat dilihat bahwa didapatkan histologi epididimis t yaitu
vas deferens dan epitelium. Hal ini sesuai pernyataan Frandson (1992) bahwa
Epididimis merupakan pipa panjang dan berkelak-kelok yang menghubungkan vasa
eferensia pada testis dengan ductus deferens (vas deferens). Epididimis berperan
sebagai tempat untuk pemasakan spermatozoa sampai pada saat spermotozoa
dikeluarkan dengan ejakulasi. Spermatozoa bergerak dari tubulus seminiferus lewat
ductus deferens menuju ke kepala epididymis. Spermatozoa belum masak ketika

21
meninggalkan testikel dan harus mengalami periode pemasakan di dalam epididymis
sebelum mampu membuahi ovum (Blakely dan David,1998). Menurut Wahyuni (2012)
Epididymis merupakan saluran spermatozoa yang panjang dan berbelit, terbagi atas
kaput, korpus, dan kauda epididimidis, melekat erat pada testis dan dipisahkan oleh
tunika albugeni. Organ tersebut berperan penting pada proses absorpsi cairan yang
berasal dari tubuli seminiferi testis, pematangan, penyimpanan dan penyaluran
spermatozoa ke duktus deferens sebelum bergabung dengan plasma semen dan
diejakulasikan ke dalam saluran reproduksi betina.

22
BAB V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Histologi ginjal yang idapatkan yaitu Pelvis renalis, medulla, glomerulus, dan
korteks.
2. Histologi testis yang didapatkan yaitu Spermatogonium, spermatosit, sel-sel
bersilia, spermatozoa.
3. Histologi uterus yang didapatkan yaitu lumen, epitelium, endometrium dan
perimetrium. Uterus merupakan organ berbentuk buah pir dengan dinding otot yang
tebal.
4. Histologi Ovarium terdiri dari Medula , korpus luteum, folikel sekunder, Folikel
primer, korteks dan folikel tersier.
5. Histologi epididimis t yaitu vas deferens dan epitelium.
6. Histologi vesica urinaria yang teridiri dari Mukosa, Lamina propria, otot dan
serosa.
7. Histologi tuba falopi terdiri dari Lumen, epitel, dan lamina.
8. Histologi ureter terdiri dari Lumen , epitel , lamina propria, adventitia dan sel
adiposa.
9. Histologi penis terdiri dari Uretra, dermis dan Corpus covernosa.
10. Histologi vagina yang didapatkan pada saat praktikum yaitu adventitia, otot,
medula, Lamina propria adventitia.
5.2 Saran
Diharapkan praktikan lebih berhati-hati dalam mengamati preparat agar mendapatkan
hasil yang jelas dan bisa diidentifikasi.

23
DAFTAR PUSTAKA

Agarwal, dkk. 1975. Histologi. India: Banaras Hindu University.


Bevelander,G. 1988. Dasar-dasar Histologi. Jakarta: Erlangga.
Campbell, Neils A., dan Jene B. Recce. 2010. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 3. Jakarta:
Erlangga.
Dellmann,D. 1992. Histologi Veteriner.Jakarta: Universitas Indonesia.
Dr. Eka Pramyrtha Hestianah, drh. M.Kes. PA.Vet (K), Chairul Anwar, drh. M.S.
PA.Vet (K), Suryo Kuncorojakti drh. M.Vet., dan Lita Rakhma Yustinasari drh.
M.Vet. Buku Ajar Histologi Veteriner Jilid 2. Departemen Anatomi Veteriner.
Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga : Surabaya.
Eroschenko, Victor P. 2010. diFiore Atlas Histologi dengan Korelasi Fungsi Edisi ke
11. Oleh Braham U. Pendith. Jakarta:EGC.
Geneser, Finn. 1994. Buku Teks Histologi Jilid 2. Jakarta: Binarupa Aksara.
Geneser, Finn. 2007. Atlas Berwarna Histologi. Jakarta: Binarupa Aksara
Junquiera, LC dan Jose Carneiro.1980. Basic Histologi. California : Lange Medical
Publications.
Ramon, dkk. 1997. Dasar-dasar Histologi. Surabaya: UNS
Saktiono.1989.Biologi.Jakarta:Erlangga.
Setchell, B. 1978. The Mammalian Testis. London: Academic Press.
Susilowati, dkk. 2003. Petunjuk Praktikum Biologi Umum. Malang: UM
Solichatun, dkk. 2006. Biologi umum. Surakarta: UNS
Tenser, Amy. 1998. Struktur Hewan Bagian II. Malang : IKIP Malang.
Zuana, S. 2001. Sistem Reproduksi. Bandung: ITB

24