Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

HIPERTENSI

A. KONSEP DASAR MEDIS


1. PENGERTIAN
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten
dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya
diatas 90 mmHg(Somantri, 2008) atau suatu keadaan dimana terjadi
gangguan pada mekanisme pengaturan tekanan darah (Mansjoer,2008).
Hipertensi dikategorikan ringan apabila tekanan diastoliknya
antara 95 – 104 mmHg, hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya
antara 105 dan 114 mmHg, dan hipertensi berat bila tekanan diastoliknya
115 mmHg atau lebih. Pembagian ini berdasarkan peningkatan tekanan
diastolik karena dianggap lebih serius dari peningkatan sistolik(Paula,
2009).
Dikenal juga keadaan yang disebut krisis hipertensi. Keadaan ini
terbagi 2 jenis yaitu hipertensi emergency dan hipertensi
urgensi.Hipertensi emergency (darurat) ditandai dengan TD Diastolik >
120 mmHg yang disertai kerusakan berat dari organ sasaran yag
disebabkan oleh satu atau lebih penyakit/kondisi akut. Keterlambatan
pengobatanakanmenyebebabkan timbulnya sequele atau kematian. TD
harus diturunkansampai batas tertentu dalam satu sampai beberapa jam.
Penderita perlu dirawat di ruangan intensive care unit atau (ICU).
Sedangkan hipertensi urgensi (mendesak) ditandai dengan TD diastolik >
120 mmHg dan dengan tanpakerusakan/komplikasi minimum dari organ
sasaran. TD harus diturunkandalam 24 jam sampai batas yang aman
dengan memerlukan terapi parenteral (Morton, 2012).

2. PENYEBAB
Menurut Oman (2008), hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat
dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu :

1
a. Hipertensi essensial (hipertensi primer) yaitu hipertensi yang tidak
diketahui penyebabnya. Meskipun hipertensi primer belum diketahui
dengan pasti penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan
beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi.
Faktor tersebut adalah sebagai berikut :
1) Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki
kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika
orang tuanya adalah penderita hipertensi.
2) Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi
adalah :
a) Umur (jika umur bertambah maka TD meningkat)
b) Jenis kelamin (laki-laki lebih tinggi dari perempuan).
c) Ras (ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih)
3) Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi
adalah:
a) Konsumsi garam yang tinggi (melebihi dari 30 gr).
b) Kegemukan atau makan berlebihan.
c) Stress.
d) Merokok.
e) Minum alcohol.
f) Minum obat-obatan (ephedrine, prednison, epineprin)
b. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit
lain.
1) Ginjal :Glomerulonefritis, Pielonefritis, Nekrosis tubular akut,
Tumor.
2) Vascular :Aterosklerosis, Hiperplasia, Trombosis, Aneurisma,
Emboli kolestrol, Vaskulitis.
3) Kelainan endokrin : DM, Hipertiroidisme, Hipotiroidisme.

2
4) Saraf : Stroke, Ensepalitis, SGB.
5) Obat – obatan : Kontrasepsi oral, Kortikosteroid.
Hipertensi emergensi merupakan spektrum klinis dari hipertensi
dimana terjadi kondisi peningkatan tekanan darah yang tidak terkontrol
yang berakibat pada kerusakan organ target yang progresif. Berbagai
sistem organ yang menjadi organ target pada hipertensi emergensi ini
adalah sistem saraf yang dapat mengakibatkan hipertensi ensefalopati,
infark serebral, perdarahan subarakhnoid, perdarahan intrakranial; sistem
kardiovaskular yang dapat mengakibatkan infark miokard, disfungsi
ventrikel kiri akut, edema paru akut, diseksi aorta; dan sistem organ
lainnya seperti gagal ginjal akut, retinopati, eklamsia, dan anemia
hemolitik mikroangiopatik.

3. KLASIFIKASI
Menurut Oman (2008), secara klinis derajat hipertensi dapat
dikelompokkan sesuai dengan rekomendasi dari “The Sixth Report of The
Join National Committee, Prevention, Detection and Treatment of High
Blood Pressure “sebagai berikut :
No Kategori Sistolik(mmHg) Diastolik(mmHg)
1. Optimal <120 <80
2. Normal 120 – 129 80 – 84
3. High Normal 130 – 139 85 – 89
4. Hipertensi
Grade 1 (ringan) 140 – 159 90 – 99
Grade 2 (sedang) 160 – 179 100 – 109
Grade 3 (berat) 180 – 209 100 – 119
Grade 4 (sangat berat) >210 >120

3
4. MANIFESTASI KLINIK
Manifestasi klinis hipertensi emergency umumnya adalah
terdapat gangguan pada organ target yang diantaranya nyeri dada dan
sesak nafas pada gangguan jantung dan diseksi aorta, mata kabur dan
edema papilla mata, sakit kepala hebat, gangguan kesadaran dan
lateralisasi pada gangguan otak, gagal ginjal akut pada gangguan ginjal,
di samping sakit kepala dan nyeri tengkuk pada kenaikan tekanan darah
umumnya. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Gambaran klinis hipertensi emergency (Darurat)
Status
TD Funduskopi Jantung Ginjal Gastrointestinal
neurologi
>220/120 Perdarahan, Sakit kepala, Denyut Uremia Mual, muntah
mmHg eksudat, edema kacau, jelas, ,
papilla gangguan hipertropi, protein
kesadaran, dekompe- uriaolig
kejang. nsasi, uria

5. PATOFISIOLOGI
Bentuk manapun dari hipertensi yang menetap, baik primer
maupun sekunder, dapat dengan mendadak mengalami percepatan
kenaikan dengan tekanan diastolik meningkat cepat sampai di atas 130
mmHg dan menetap lebih dari 6 jam.Hal ini dapat menyebabkan nekrosis
arterial yang lama dan tersebar luas, serta hiperplasi intima arterial
interlobuler nefron-nefron.Perubahan patologis jelas terjadi terutama
pada retina, otak dan ginjal. Pada retina akan timbul perubahan eksudat,
perdarahan dan udem papil. Gejala retinopati dapat mendahului
penemuan klinis kelainan ginjal dan merupakan gejala paling terpercaya
dari hipertensi maligna.
Otak mempunyai suatu mekanisme otoregulasi terhadap kenaikan
ataupun penurunan tekanan darah.Batas perubahan pada orang normal
adalah sekitar 60-160 mmHg. Apabila tekanan darah melampaui tonus

4
pembuluh darah sehingga tidak mampu lagi menahan kenaikan tekanan
darah maka akan terjadi udem otak. Tekanan diastolik yang sangat tinggi
memungkinkan pecahnya pembuluh darah otak yang dapat
mengakibatkan kerusakan otak yang irreversible.
Pada jantung kenaikan tekanan darah yang cepat dan tinggi
akanmenyebabkan kenaikan afterload, sehingga terjadi payah jantung.
Sedangkan pada hipertensi kronis hal ini akan terjadi lebih lambat karena
ada mekanisme adaptasi. Penderita feokromositoma dengan krisis
hipertensi akan terjadi pengeluaran norefinefrin yang menetap atau
berkala.
Aliran darah ke otak pada penderita hipertensi kronis tidak
mengalami perubahan bila Mean Arterial Pressure (MAP) 120 mmHg –
160 mmHg, sedangkan pada penderita hipertensi baru dengan MAP
diantara 60 – 120 mmHg pada keadaan hiperkapnia, autoregulasi menjadi
lebih sempit dengan batas tertinggi 125 mmHg, sehingga perubahan yang
sedikit saja dari TD menyebabkan asidosis otak yang akan mempercepat
timbulnya oedema otak. Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa
terjadi melalui beberapa carayaitu :
a. Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi sehingga
mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya.
b. Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga
mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah
melalui arteri tersebut. Karena itu darah pada setiap denyut jantung
dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan
menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yang terjadi pada usia lanjut,
dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku karena
arteriosklerosis. Dengan cara yang sama, tekanan darah juga
meningkat pada saat terjadi vasokonstriksi, yaitu jika arteri kecil
(arteriola) untuk sementara waktu mengkerut karena perangsangan
saraf atau hormon di dalam darah.

5
c. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan
meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan
fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan
air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat,
sehingga tekanan darah juga meningkat. Sebaliknya, jika aktivitas
memompa jantung berkurang, arteri mengalami pelebaran, dan
banyak cairan keluar dari sirkulasi maka tekanan darah akan
menurun.

6
6. PATHWAY

Genetik Respon neurologi terhdp


stress

Stress lingkungan Kurang terpajang


informasi

Insulin
Kebiasaan hidup Obesitas meningkat Kurang
Pengetahuan

Merokok, Hipertensi primer


alkohol, konsumsi
garam berlebihan

Elastisitas dinding aorta Hipertrofi ventrikel kiri


menurun, katub jantung
menebal dan kaku,
Usia lanjut kemampuan memompa Terbatasnya aliran
darah menurun, hilangnya darah koroner
elastisitas pembuluh
darah, meningkatnya
Iskemia miokard
resistensi pembuluh darah
perifer.

Penurunan Curah Jantung


Saraf stroke, Hipertensi
ensephalitis, SGB sekunder

Kurangnya suplai oksigen


Ginjal:
Peningkatan ke jaringan
glomurulonefritis,
vaskuler serebral
piolenefritis, nekrosis
tubular akut, tumor Kelemahan umum
Vaskular: arteroklerosis, Nyeri
hiperplasia, trombosis,
aneurisma, emboli Intoleransi
kolesterol, vaskulitis Suplai darah ke
Aktivitas
otak menurun

Kelainan, DM,
hipertiroidisme, Resiko Ketidakefektifan
hipotiroidisme Perfusi Jaringan Otak
7
7. KOMPLIKASI
Meningkatnya tekanan darah seringkali merupakan satu-satunya
gejala pada hipertensi essensial.kadang-kadang hipertensi essensial
berjalan tanpa gejala dan baru timbul gejala setelah komplikasi pada
organ sasaran seperti pada ginjal, mata,otak, dan jantung.Gejala-gejala
seperti sakit kepala, mimisan, pusing, migrain sering ditemukan sebagai
gejala klinis hipertensi essensial.
Gejala akibat komplikasi hipertensi yang pernah dijumpai adalah:
gangguan penglihatan, gangguan saraf, gagal jantung,gangguan fungsi
ginjal, gangguan serebral (otak)yang mengakibatkan kejang dan
pendarahan pembuluh darah otak yang mengakibatkan kelumpuhan,
gangguan kesadaran hingga koma.Sebelum bertambah parah dan terjadi
komplikasi serius seperti gagal ginjal, serangan jantung, stroke, lakukan
pencegahan dan pengendalian hipertensi dengan merubah gaya hidup dan
pola makan. beberapa kasus hipertensi erat kaitannya dengan gaya hidup
tidak sehat. seperti kurang olahraga, stress, minum-minuman, beralkohol,
merokok, dan kurang istirahat. Kebiasaan makan juga perlu diwaspadai,
pembatasan asupan natrium (komponen utama garam)sangat disarankan
karena terbukti baik untuk kesehatan penderita hipertensi(Paula, 2009).
Menurut Alsagaff (2008), dalam perjalannya penyakit ini
termasuk penyakit kronis yang dapat menyebabkan berbagai macam
komplikasi antara lain:
a. Stroke.
b. Gagal jantung.
c. Gagal Ginjal.
d. Gangguan pada Mata.

8. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Somantri (2008), pemeriksaan penunjang untuk pasien
hipertensi emergencyyaitu :
a. Riwayat dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.

8
b. Pemeriksaan retina.
c. Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kerusakan organ seperti
ginjal dan jantung.
d. EKG untuk mengetahui hipertropi ventrikel kiri.
e. Urinalisa untuk mengetahui protein dalam urin, darah, glukosa.
f. Pemeriksaan; renogram, pielogram intravena arteriogram renal,
pemeriksaan fungsi.
g. Ginjal terpisah dan penentuan kadar urin.
h. Foto dada dan CT scan.

9. PENATALAKSANAAN
Tujuan pengobatan pada keadaan darurat hipertensi ialah
menurunkan tekanan darah secepat dan seaman mungkin yang
disesuaikan dengan keadaan klinis penderita.Pengobatan biasanya
diberikan secara parenteral dan memerlukan pemantauan yang ketat
terhadap penurunan tekanan darah untuk menghindari keadaan yang
merugikan atau munculnya masalah baru.
Obat yang ideal untuk keadaan ini adalah obat yang mempunyai
sifat bekerja cepat, mempunyai jangka waktu kerja yang pendek,
menurunkan tekanan darah dengan cara yang dapat diperhitungkan
sebelumnya, mempunyai efek yang tidak tergantung kepada sikap tubuh
dan efek samping minimal.
Penurunan tekanan darah harus dilakukan dengan segera namun
tidak terburu-buru. Penurunan tekanan darah yang terburu-buru dapat
menyebabkan iskemik pada otak dan ginjal. Tekanan darah harus
dikurangi 25% dalam waktu 1 menit sampai 2 jam dan diturunkan lagi ke
160/100 dalam 2 sampai 6 jam. Medikasi yang diberikan sebaiknya per
parenteral (Infus drip, bukan injeksi).
Daftar obat hipertensi parenteral yang dapat dipakai dapat dilihat
pada tabel di bawah ini :
Obat Hipertensi Parenteral

9
Efek/Lama
Obat Dosis Perhatian khusus
Kerja

Sodium 0,25- langsung/2-3 Mual, muntah, penggunaan jangka


nitroprusside 10 mg/kg/menit menit setelah panjang dapat menyebabkan
sebagai infus IV infus keracunan tiosianat,
methemoglobinemia, asidosis,
keracunan sianida.

Selang infus lapis perak

Nitrogliserin 500-100 mg 2-5 min /5- Sakit kepala, takikardia, muntah, ,


sebagai infus IV 10 min methemoglobinemia;
membutuhkan sistem pengiriman
khusus karena obat mengikat pipa
PVC

Nicardipine 5-15 mg/jam 1-5 min/15-30 Takikardi, mual, muntah, sakit


sebagai infus IV min kepala, peningkatan tekanan
intrakranial; hipotensi

Klonidin 150 ug, 6 amp 30-60 min/ 24 Ensepalopati dengan gangguan


per 250 cc jam koroner
Glukosa 5%
mikrodrip

5-15 1-5 min/ 15- Takikardi, mual, muntah, sakit


ug/kg/menit 30 min kepala, peningkatan tekanan
Diltiazem
sebagi infus IV intrakranial; hipotensi

Bila tidak ada, pengobatan oral dapat diberikan sambil merujuk


penderita ke Rumah Sakit. Pengobatan oral yang dapat diberikan

10
meliputi Nifedipinde 5-10 mg, Captorpil 12,5-25 mg, Clonidin 75-100
ug, Propanolol 10-40 mg.
Berbagai macam strategi pengobatan penyakit jantung hipertensi
menurut Oman (2008), yaitu :
a. Pengaturan Diet
Berbagai studi menunjukkan bahwa diet dan pola hidup sehat dan
atau dengan obat-obatan yang menurunkan gejala gagal jantung dan
bisa memperbaiki keadaan LVH. Beberapa diet yang dianjurkan,
yaitu :
1) Rendah garam,beberapa studi menunjukan bahwa diet rendah
garam dapat menurunkan tekanan darah pada pasien
hipertensi.Dengan pengurangan komsumsi garam dapat
mengurangi stimulasi system renin-angiotensin sehingga sangat
berpotensi sebagai anti hipertensi.Jumlah intake sodium yang
dianjurkan 50–100 mmol atau setara dengan 3-6 gram garam per
hari.
2) Diet tinggi potassium,dapat menurunkan tekanan darah tapi
mekanismenya belum jelas.Pemberian Potassium secara
intravena dapat menyebabkan vasodilatasiyang dipercaya
dimediasi oleh nitric oxide pada dinding vascular.
3) Diet kaya buah dan sayur.
4) Diet rendah kolesterol sebagai pencegah terjadinya jantung
koroner.
5) Tidak mengkomsumsi Alkohol.
b. Olahraga Teratur
Olahraga teratur seperti berjalan, lari, berenang, bersepeda
bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah dan dapat memperbaiki
keadaan jantung.Olaharaga isotonik dapat juga bisa meningkatkan
fungsi endotel, vasodilatasi perifer, dan mengurangi katekolamin
plasma.Olahraga teratur selama 30 menit sebanyak 3-4 kali dalam
satu minggu sangat dianjurkan untuk menurunkan tekanan darah.

11
c. Penurunan Berat Badan
Pada beberapa studi menunjukkan bahwa obesitas berhubungan
dengan kejadian hipertensi dan LVH.Jadi penurunan berat badan
adalah hal yang sangat efektif untuk menurunkan tekanan
darah.Penurunan berat badan (1kg/minggu) sangat
dianjurkan.Penurunan berat badan dengan menggunakan obat-obatan
perlu menjadi perhatian khusus karena umumnya obat penurun berat
badan yang terjual bebas mengandung simpatomimetik yang dapat
meningkatan tekanan darah, memperburuk angina atau gejala gagal
jantung dan terjadinya eksaserbasi aritmia.Menghindari obat-obatan
seperti NSAIDs, simpatomimetik, dan MAO yang dapat
meningkatkan tekanan darah atau menggunakannya dengan obat
antihipertensi.
d. Farmakoterapi
Pengobatan hipertensi atau penyakit jantung hipertensi dapat
menggunakan berbagai kelompok obat antihipertensi seperti
thiazide, beta-blocker dan kombinasi alpha dan beta blocker, calcium
channel blockers, ACE inhibitor, angiotensin receptor blocker dan
vasodilator seperti hydralazine.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN
Pengkajian primer
a. Airway
1) Kaji dan pertahankan jalan napas.
2) Lakukan head tilt, chin lift jika perlu.
3) Gunakan alat batu untuk jalan napas jika perlu.
4) Pertimbangkan untuk merujuk ke ahli anestesi untuk dilakukan
intubasi jika tidak dapat mempertahankan jalan napas.
b. Breathing

12
1) Kaji saturasi oksigen dengan menggunakan pulse oximeter,
untuk mempertahankan saturasi >92%.
2) Berikan oksigen dengan aliran tinggi melalui non re-breath
mask.
3) Pertimbangkan untuk mendapatkan pernapasan dengan
menggunakan bag-valve-mask ventilation.
4) Lakukan pemeriksaan gas darah arterial untuk mengkaji PaO2
dan PaCO2.
5) Kaji jumlah pernapasan.
6) Lakukan pemeriksan system pernapasan.
7) Dengarkan adanya bunyi pleura.
8) Lakukan pemeriksaan foto thorak.
c. Circulation
1) Kaji heart rate dan ritme, kemungkinan terdengan suara gallop.
2) Kaji peningkatan JVP.
3) Catat tekanan darah.
4) Pemeriksaan EKG.
d. Disability
1) Kaji tingkat kesadaran dengan menggunakan AVPU.
2) Penurunan kesadaran menunjukan tanda awal pasien masuk
kondisi ekstrim dan membutuhkan pertolongan medis segera
dan membutuhkan perawatan di ICU.
e. Exposure
1. Jika pasien stabil lakukan pemeriksaan riwayat kesehatan dan
pemeriksaan fisik lainnya.
2. Jangan lupa pemeriksaan untuk tanda DVT.
3. Terapi:
Pengkajian Sekunder
a. Riwayat penyakit sekarang
Lama menderita hipertensi, hal yang menimbulkan serangan, obat
yang pakai tiap hari dan saat serangan.

13
b. Riwayat penyakit sebelumnya
Riwayat makanan.
c. Riwayat perawatan keluarga
Adakah riwayat penyakit hipertensi pada keluarga.
d. Riwayat sosial ekonomi
Jenis pekerjaan, jenis makanan yang berhubungan dengan kenaikan
tekanan darah seperti sodium dan tingkat stressor.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan
afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular.
b. Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan tekanan
vaskuler serebral.
c. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak berhubungan dengan
hipertensi.
d. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum,
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
e. Kurang pengetahuanberhubungan dengan kurang terpajannya
informasi

3. INTERVENSI
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan
afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular.
Definisi : Ketidakadekuatan darah yang dipompa oleh jantung untuk
memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
NOC:
1) Cardiac pump effectiveness.
2) Circulation status.
3) Vital sign status.
Kriteria Hasil :

14
1) Tanda Vital dalamrentang normal(Tekanan darah,
Nadi,respirasi).
2) Dapat mentoleransiaktivitas, tidak adakelelahan.
3) Tidak ada edema paru,perifer, dan tidak ada asites.
4) Tidak ada penurunankesadaran.
5) AGD dalam batasnormal.
6) Tidak ada distensi venaleher.
7) Warna kulit normal.
Intervensi/NIC :
Cardiac Care
1) Evaluasi adanya nyeri dada (intensitas, lokasi, durasi).
2) Catat adanya distrimia jantung.
3) Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac putput.
4) Monitor status caediovaskuler.
5) Monitor status pernafasan yang menandakan gagal jantung.
6) Monitor balance cairan.
7) Monitor respon pasien terhadap efekpengobatan antiaritmia.
8) Atur periode latihan dan istirahat.
Vital SignMonitoring
1) Monitor TD, nadi, suhu, dan RR.
2) Monitor VS saat pasien berbaring, duduk atau berdiri.
3) Auskultasi TD pada kedua lengan danbandingkan.
4) Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selamadan setelah aktivitas.
5) Monitor jumlah, bunyi dan irama jantung.

b. Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan tekanan


vaskuler serebral
Definisi : Pengalaman sensori dan emosional yang tidak
menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan
yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal
keruisakan sedemikian rupa. Awitan yang tiba-tiba atau

15
lambat dari intensitas ringan sampai berat dengan akhir
yang dapat di antisipasi atau di prediksi dan berlangsung <
6 bulan atau > 6 bulan.
NOC :
1) Comfort level.
2) Pain control.
3) Pain level.
KriteriaHasil :
1) Mampu mengontrol nyeri(tahu penyebab nyeri,mampu
menggunakantehnik nonfarmakologiuntuk mengurangi
nyeri,mencari bantuan).
2) Melaporkan bahwa nyeriberkurang
denganmenggunakanmanajemen nyeri.
3) Mampu mengenali nyeri(skala, intensitas,frekuensi dan tanda
nyeri).
4) Menyatakan rasa nyamansetelah nyeri berkurang.
5) Tanda vital dalam rentangnormal.
6) Tidak mengalamigangguan tidur.
Intervensi/NIC :
1) Lakukan pengkajian nyeri secarakomprehensif termasuk
lokasi,karakteristik, durasi, frekuensi, kualitasdan faktor
presipitasi.
2) Observasi reaksi nonverbal dariketidaknyamanan.
3) Bantu pasien dan keluarga untuk mencaridan menemukan
dukungan.
4) Kontrol lingkungan yang dapatmempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan,pencahayaan dan kebisingan.
5) Kurangi faktor presipitasi nyeri.
6) Kaji tipe dan sumber nyeri untukmenentukan intervensi.
7) Ajarkan tentang teknik non farmakologi:napas dalam, relaksasi,
distraksi, kompreshangat/ dingin.

16
8) Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.
9) Tingkatkan istirahat.
10) Berikan informasi tentang nyeri sepertipenyebab nyeri, berapa
lama nyeri akanberkurang dan antisipasi ketidaknyamanandari
prosedur.
11) Monitor vital sign sebelum dan sesudahpemberian analgesik
pertama kali.
c. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak berhubungan dengan
hipertensi.
Definisi :Beresiko mengalami sirkulasi jaringan otak yang dapat
mengganggu kesehatan.
NOC:
1) Circulation status.
2) Tissue Prefusion :cerebral.
Kriteria Hasil :
1) Mendemostrasikan status sirkulasi yang ditandai dengan tekanan
systole dan diastoledalam rentang yangdiharapkan.
2) Tidakadaortostatik hipertensi.
3) Komunikasi jelas.
4) Menunjukkan konsentrasi danorientasi.
5) Tidak ada tanda-tanda peningkatan TIK.
Intervensi/NIC :
1) Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap
panas/dingin/tajam/tumpul.
2) Monitor adanya paratese.
3) Intruksikan keluarga untuk mengobservasi kulit jika ada lesi
atau laserasi.
4) Gunakan sarung tangan untuk proteksi.
5) Batasi gerakan pada kepala, leher dan punggung.
6) Monitoring kemampuan BAB.
7) Kolaborasi pemberian analgetik.

17
d. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum,
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
Definisi :Ketidakcukupan energi psikologis atau fisiologis untuk
melnjutkan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan
sehari-hari yang harus atau yang ingin dilakukan.
NOC :
1) Energy conservation.
2) Activity tolerance.
3) Self care.

Kriteria Hasil :
1) Berpartisifasi dalam aktifitas fisik tanpa disertai peningkatan
tekanan darah, nadi dan RR.
2) Mampu melakukan aktivitas sehari-hari (ADLs) secara mandiri.
3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal.
4) Level kelemahan.
5) Sirkulasi status baik.
6) Status respirasi : pertukaran gas dan ventilasi adekuat.
Intervensi/NIC :
1) Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu
dilakukan.
2) Bantu klien untuk memilih posisi nyaman untuk istirahat atau
tidur.
3) Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan.
4) Dorong klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuan.
5) Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase
akut sesuai indikasi.
e. Kurang pengetahuanberhubungan dengan kurang terpajannya
informasi

18
Definisi :Ketiadaan atau defisiensi informasi kognitif yang berkaitan
dengan topik tertentu
NOC :
1) Knowledge : disease process
2) Knowledge : health behavior.
Kriteria Hasil :
1) Klien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit,
kondisi, prognosis dan program pengobatan
2) Klien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang
dijelaskan secara benar
3) Klien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang
dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya.
Intervensi/NIC :
1) Identifikasi kemungkinan penyebab dengan cara yang tepat
2) Jelaskan patofisiologi/proses penyakit dengan cara yang tepat
3) Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit,
dengan cara yang tepat
4) Sediakan informasi pada klien tentang kondisinya dengan cara
yang tepat
5) Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan
untuk mencegah komplikasii di masa yang akan datang dan atau
proses pengontrolan penyakit
6) Dukung klien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second
opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan

19
DAFTAR PUSTAKA

Anggaraini, Ade Dian, et.al (2009). Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan
Kejadian Hipertensi Pada Pasien Yang Berobat di Poliklinik Dewasa Puskesmas
Bangkinang Periode Januari sampai Juni 2008. Diakses 20 Februari 2011
:Http://yayanakhyar.wordpress.com

Baike (2010). Hubungan genetik terhadap penyakit kardiovaskuler. Diakses 20


februari 2011 : http://baike.baidu.com/view/2130696.htm

Depkes RI (2011). Epidemologi Penyakit Hipertensi. Diakses 12 April 2011: http:


//www.depkes.org.

Dewi, Sofia dan Digi Familia (2010). Hidup Bahagia dengan Hipertensi. A+Plus
Books, Yogyakarta

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah (2010). The 4th Scientific Meeting on
Hypertension. Diakses 20 Desember 2010 : http://www.dinkesjatengprov.go.id

Elsanti, Salma (2009). Panduan Hidup Sehat : Bebas Kolesterol, Stroke,


Hipertensi, & Serangan Jantung. Araska, Yogyakarta.

Ganong, William F (2009). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC, Jakarta.

Hani, Sharon EF, 2010 Colgan R.Hypertensive Urgencies and Emergencies. Prim
Care Clin Office Pract.

Vaidya CK, Ouellette CK. 2009 Hypertensive Urgency and Emergency. Hospital
Physician

20