Anda di halaman 1dari 34

CRITICAL BOOK REPORT

FILSAFAT PENDIDIKAN

Prof.Dr.Muhmidayeli,M.Ag. (2013)

NAMA : BINUR YUNI ARTHA PARDOSI

NIM :1181171010

KELAS : PLS REG B

M.KULIAH :FILSAFAT PENDIDIKAN

DOSEN PENGAMPU :Drs.Rosdiana M.Pd. Peny Husna H.S.Pd, M.Pd

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
SEPTEMBER 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,karena atas berkat dan
Rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan tugas kuliah ini yaitu “CRITICAL BOOK REPORT”
dalam mata kuliah Filsafat Pendidikan
Saya berterimakasih kepada Ibu Drs.Rosdiana M.Pd. Peny Husna H.S.Pd, M.Pd yang sudah
membimbing saya dalam menyelesaikan tugas ini,kepada semua yang sudah memberikan
saran dan kritik,dan semua yang sudah membantu saya dalam menyelesaikan tugas ini.Saya
mengharapkan agar tugas ini tidak hanya agar terpenuhinya tugas kuliah, tetapi juga dapat
bermanfaat bagi semua pembacanya,dan semoga juga dapat menambah pengetahuan bagi
saya dan pembaca.
Saya sadar bahwa saya masih dalam proses belajar, dan makalah ini pun tidak luput
dari kesalahan.saya mohon maaf jika ada terdapat kesalahan pada penulisan dan tata bahasa
dalam makalah ini, dan saya mohon kritik dan saran membangun untuk makalah yang saya
buat ini.

Medan, 24 September 2018

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................

DAFTAR ISI..................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN..............................................................................

1.1 LATAR BELAKANG..............................................................................

1.2 TUJUAN DAN MANFAAT...................................................................

BAB II PEMBAHASAN...............................................................................

2.1 IDENTITAS BUKU................................................................................


IDENTITAS BUKU 1........................................................................
IDENTITAS BUKU 2........................................................................
2.2 RINGKASAN....................................................................................
RINGKASAN BUKU 1.....................................................................
RINGKASAN BUKU 2............................................................./.......

BAB III KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU...............................

3.1 KELEBIHAN BUKU..............................................................................


KELEBIHAN BUKU 1.....................................................................
KELEBIHAN BUKU 2.....................................................................
3.2 KEKURANGAN BUKU.......................................................................
KEKURANGAN BUKU 1..............................................................
KEKURANGAN BUKU 2..............................................................

BAB IV PENUTUP.......................................................................................

4.1 KESIMPULAN.......................................................................................
4.2 SARAN...................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pendidikan adalah produk dari sistem sosial mayarakat yang menjadi unsur
kebudayaan.Karena itu,format pendidikan seperti yang dewasa ini bukanlah sesuatu yang
sekali jadi.Sebagai makhluk hidup,manusia juga senantiasa memiliki kesadaran diri dan
kemampuan belajar.Bagaimanapun,rangkaian perjalanan waktu pada usia kanak-kanak dari
manusia,seseorang belajar menguasai pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk
mempertahankan hidup.
Filsafat adalah cara pandang dan perspektif atas kenyataan,apa yang dipahami sebagai
fakikat,kenyataan,kebenaran,kebaikan dan keindahan.Filsafat menangani keseluruhan
pengalaman manusia dan meliputi seluruh aspek kehidupan manusia dan meliputi seluruh
aspek kehidupan manusia.Suatu bentuk kajian terhadap hakikat kenyataan dengan
mengajukan pertanyaan dan berusaha memberikan jawaban yang akan menciptakan
kebermaknaan hidup seseorang.Untuk melakukan filsafat,maka harus diciptakan kesadaran
yang sangat tinggi dari fenomena dan peristiwa dalam dunia masa kini dalam kesadaran diri
sepenuhnya.Sebagai cara dan tujuan bagai pandangan pendidikan,maka filsafat disini
memberikan seseorang kemampuan untuk menjaga berbagai masalah yang muncul dari
keseluruhan proses pendidikan.
Pendidikan sebagai proses atau upaya memanusiakan manusia pada dasarnya adalah
upaya mengembangkan kemampuan potensi individu sehingga bia hidup optimal baik
sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat serta memiliki nilai-nilai moral dan
sosial sebagai pedoman hidupnya.Pendidikan tidak jauh dari roda filsafat,karena hal itu
terjadi maka tidak semua persoalan pendidikan akan dapat dipecahkan dengan renungan
sederhana dan pengamatan sepintas.Dengan menguasai filsafat pendidikan tersebut
diharapkan para ahli dan praktisi pendidikan akan sukses dalam menjalankan tanggung jawab
dan profesi pendidikan.
1.2 Rumusan masalah

Adapun penulisan masalah dalam critical book review ini dapat dijjabarkan sebagai
berikut:

1. Bagaimana review maupun ringkasan buku tersebut?


2. Bagaimana kelebihan dan kekurangan buku tersebut?

1.3 Tujuan Dan Manfaat


Adapun tujuan dari cbr ini adalah;
1).Mengkritik 2 buku untuk menambah ilmu dalam Filsafat Pendidikan
2).Untuk menambah wawasan tentang Filsafat Pendidikan khususnya Filsafat Pendidikan
Pancasila
3).Untuk mempelajari Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Manusia

manfaatnya adalah;
1).Memperbaiki diri menggunakan teori-teori Filsafat Pendidikan Pancasila
2).Mengetahui bahwa dalam kehidupan sehari-hari Filsafat Pendidikan Pancasila dapat
menjadi acuan untuk membangun bangsa Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 IDENTITAS BUKU


Identitas buku yang akan di review adalah sebagai berikut.
IDENTITAS BUKU 1 (UTAMA)
Judul buku Filsafat Pendidikan
Penulis Prof.Dr.Muhmidayeli,M.Ag.
Penerbit/kota terbit PT Refika Aditama/Bandung
Cetakan September 0013 cetakan kedua
Tebal 200 halaman
ISBN 979-518-830-5
Bahasa Indonesia
Tahun 2013

IDENTITAS BUKU 2 (PEMBANDING)

Judul buku Filsafat Pendidikan


Penulis Dr. Edward
Purba,MA,Prof.Dr.Yusnaldi,MS
Penerbit UNIMED PRESS
Kota terbit Medan
Tahun terbit 2016
Tebal buku 130 halaman
ISBN 978-602-7938-38-0

Buku Utama buku Pembanding


2.2 RINGKASAN ISI BUKU

Ringkasan Isi Buku Utama (Filsafat Pendidikan Prof. Dr. Muhmidayeli, M.Ag)

BAB I

MENGENAL KAWASAN FILSAFAT

A. Pengertian dan Ruang Lingkup Filsafat


Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani Kuno yang diadopsi oleh orang Arab dengan
mengalami sedikit perubahan bunyi, yaitu falsafat dan oleh orang Indonesia disebut dengan
filsafat. Dalam bahasa Yunani istilah filsafatdikenal dengan philosopia yang berasal dari dua
unsur kata, yaitu philo yang berarti cinta dan kata Sophia yang berarti kearifan, hikmah,
kebijaksanaan, keputusan ataupun pengetahuan yang benar. Dengan itu filsafat secara harfiah
berarti cinta akan kebenaran dan atau kebijaksanaan.

Sulit ditemukan kesepakatan para ahli mengenai makna dan hakikat filsafat, namun
paling tidak dapat ditemukan pemahaman umum, bahwa aktivitas filsafat selalu selalu
ditandai dengan adanya upaya berpikir kritis, sungguh-sungguh dan berhati-hati melalui
sistem dan tata cara tersendiri dalam mencari dan memahami berbagai realitas dengan
sedalam-dalamnya dan menyeluruh menuju suatu kesimpulan yang baik dan komprehensif.

Dapat disimpulkan, bahwa filsafat bukanlah pemikiran dan bukan pula ajaran, tetapi lebih
pada aktivitas berpikir sistematis menurut alur berpikir filsafat menuju terbangunnya suatu
pemikiran atau pemahaman yang tegas dan murni tentang realitas. Dan karenanya pula, maka
aktivitas filsafat banyak bergerak pada wilayah proses tempuh seseorang dalam memperoleh
kebenaran dan bukan pada penekanan ajaran, dogma ataupun pemikiran. Di sinilah kemudian
filasafat lebih terkonsentrasi pada wilayah metodologi atau proses pelahiran suatu kebenaran.

Nilai Kebenaran suatu pemikiran filsafat selalu dilihat dari aspek bagaimana ia
memperoleh kebenaran tersebut. Artinya, bahwa filsafat mengajarkan bagaimana subjeknya
dapat meraih nilai kebenaran dari keseluruhan realitas menurut tata cara yang benar-benar
dapat dipertanggungjawabkan secara menyeluruh, baik dari segi isi maupun dari cara
memperolehnya.
2. Ruang Lingkup

Berdasarkan objek kajiannya, kajian filsafat biasanya dibagi kedalam tiga bidang
permasalahan, yaitu :

1. Metafisika

2. Epistemologi

3. Aksiologi

B. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan

Filsafat dengan karakteristiknya seperti telah dibahas di atas, menjadikan dirinya sebagai
ilmu pengetahuan, kendatipun keduanya adalah dua tata cara manusia untuk memperoleh
kebenaran. Bahan filsafat tidaklah sama seperti bahan-bahan yang ada pada ilmu
pengetahuan. Bahan pada filsafat bersifat universal, sedangkan ilmu terbatas hanya pada
bidang-bidang tertentu, sifatnya parsial. Filsafat diarahkan pada keseluruhan capaian hakikat-
hakikat dalam keseluruhan kemungkinan-kemungkinan yang menunjukkan pada sesuatu yang
menjadi focus kajian, sedangkan ilmu pengetahuan pun akan berbeda.

Hal lain membedakan dunia filasafat dari ilmu pengetahuan adalah aktivitasnya. Filsafat
memulai kerjanya dengan langkah yang tidak memberikan kepemihakan. Seorang filsuf
mestilah membebaskan diri dari berbagai penerimaan pendirian tertentu sebagai suatu yang
benar. Dan di sinilah makna universalitasnya. Lain halnya dengan pengetahuan yang
memiliki nilai kebenaran yang bersifat parsial, maka dalam aktivitas pencariannya, ia mesti
mengabaikan aspek-aspek yang lain, kendatipun ilmuwan menyadari bahwa hubungan
interdependensi antar-realitas itu tidak dapat dielakkan.

Pengetahuan dan Kebenaran

John Locke (1632-1704 M), seorang filsuf Inggris, menyebutkan bahwa pengetahuan
adalah bukti nyata realitas manusia dalam mengisi kehidupannya, dan karenanya mestilah
pula mendapat tempat teratas dalam keseluruhannya problematika dunia filsafat. Pengetahuan
pada hakikatnyaakan selalu bersifat relasional, yaitu adanya hubungan interpendensi antara
subjek dan objek. Dengan mengetahui, subjek akan menjadi manunggal dengan objek.
Kemanunggalan bukanlah dalam bentuk yang ekstrinsik di mana ada jarak yang membatasi
hubungan keduanya. Hubungan sungguh-sungguh mendalam, sifatnya instrinsik di mana
hubungannya tidak sekadar pertemuan antara subjek dan objek, tetapi benar-benar menyatu
dalam suatu kesatuan yang tidak terlepaskan.

Sedangkan kebenaran secara bahasa sehari-hari selalu dipertentangkan dengan


kebohongan atau dusta; Sesuatu yang memiliki celah salah, keliru dan ketidakvalidan. Dalam
konteks filsafat, istilah kebenaran lebih lazim dipertentangkan dengan kekeliruan atau
kekhilafan. Di antara keduanya adalah asumsi-asumsi dan atau praduga-praduga yang
kendatipun berada antara benar dan keliru, namun eksistensinya selalu diperlukan untuk
menghantarkan seseorang pemikir atau filsuf menuju pada titik terang yang bernilai benar
dan oleh karenanya bermakna bagi terwujudnya kebenaran.

Dalam konteks kajian filsafat pengetahuan, paling tidak ada enam teori kebenaran, yaitu :

1. Teori korespondensi;
2. Teori konsistensi;
3. Teori pragmatism;
4. Teori relativisme;
5. Teori Empirisme;
6. Teori relijius;

C. Sistematika Berpikir Filsafat

Berpikir secara sederhana adalah upaya yang dilakukan seseorang dalam menghubungkan
berbagai fakta dalam keseluruhan realitas, baik dalam bentuk ide, konsep, ataupun berbagai
pengalaman indrawi kita, sehingga muncul gagasan, pikiran dan atau idea yang jelas tentang
sesuatu persoalan. Bagaimana berpikir dapat menghantarkan kita pada suatu titik yang akan
menjadi pengetahuan kita? Bagaimana kita dapat meyakini bahwa apa yang telah menjadi
kesimpulan dan keputusan kita tempuh agar kita dapat membangun pemikiran yang benar-
benar dapat meyakini kita?

Ada tiga hal yang berhubungan langsung dengan sistematika berpikir filsafat, yaitu
bagaimana seseorang itu berupaya membentuk dan membangun suatu ide, pengertian dan
atau konsep; bagaimana prosedur yang dapat ditempuh seseorang dalam membuat keputusan;
dan bagaimana pula system yang dapat dipedomani dalam upaya penuturan dan atau
pengungkapan apa yang tengah subjek pikirkan. Ketiga aktivitas ini dapat dipisahkan satu
sama lainnya dalam kegiatan filsafat. Ketiga dimensi ini berkenaan langsung dengan logika.
Sedemikian rupa sehingga aktivitas selalu diidentikkan secara nyata dengan bahasa.
BAB II

PENGERTIAN, KEGUNAAN, DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT PENDIDIKAN

A. Pengertian
Filsafat pendidikan adalah pelaksanaan pandangan filsafat dan kaidah-kaidah filsafat
dalam bidang pengalaman kemanusiaan yang disebut dengan pendidikan (Menurut Omar
Muhammad al-Toumy al-Syaibany), Sedangkan menurut M. Arifin M.Ed. mengemukan,
bahwa filsafat pendidikan adalah upaya memikirkan permasalahan pendidikan. Serta menurut
Ali Khalil Abu al-Ainain, filsafat pendidikan adalah upaya berpikir filosofis tentang realitas
kependidikan dalam segala lini, sehingga melahirkan teori-teori pendidikan yang berguna
bagi kemajuan aktivitas pendidikan itu sendiri.

Dari ketiga pengertian diatas menitik beratkan filsafat dalam upaya menerapkan kaidah-
kaidah berpikir filsafat dalam ragam pencarian solusi berbagai ragam problem kependidikan
yang akan melahirkan pemikiran utuh tentang pendidikan yang tentunya merupakan langkah
penting dalam menemukan teori-teori tentang pendidikan. Hal ini sangat penting untuk
menentukan arah gerak semua aktivitas pendidikan.

B. Kegunaan Filsafat Pendidikan


Kecenderungan pola pendidikan yang ditempuh oleh suatu lembaga ataupun suatu
kelompok masyarakat sangat tergantung pada cara pandangnya dalam memandang manusia
ideal, cara berada manusia dalam melakukan proses humanitas dan yang terpenting lagi cara
pandangnya dalam memandang eksistensi pendidikan dalam system dan polanya memberikan
pelayanan kepada seluruh masyarakat untuk mengembangkan diri dan kemampuan berpikir
filosofis yang diarahkan untuk menjawab berbagai persoalan kependidikan.

Jadi, filsafat pendidikan sebagai suatu upaya berpikir logis, kritis, radikal, sistematis,
metodis, utuh, dan menyeluruh tentang persoalan-persoalan yang berkenaan dengan
permasalahan pendidikan dan aspek-aspek penting yang terkait dengannya. Sedemikian rupa
sehingga berbagai upaya edukasi yang dilakukan dalam gerak langkah proses pendidikan
benar-benar berdaya guna dan berhasil guna dalam mencapai tujuan dan atau sasaran-sasaran
yang telah dirumuskan. Upaya filsafat pendidikan merupakan sesuatu yang tidak dapat
dilepaskan dari keseluruhan proses kependidikan, baik dalam pencarian orientasi, aplikasi
maupun evaluasi dan pengembangan. Pendidikan dan filsafat merupakan dua mata uang yang
menyatu dalam satu unit yang mengikat.
C. Objek dan Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan

Realitas-realitas kependidikan yang menjadi objek kajian filsafat pendidikan antara lain
menyangkut hal-hal yang berkenaan dengan :

1. Hakikat manusia ideal sebagai acuan pokok bagi pengembangan dan penyempurnaan.
2. Pendidikan dan nilai-nilai yang dianut sebagai suatu landasan berpikir dan berbuat dalam
tatanan hidup suatu masyarakat.
3. Hakikat tujuan kependidikan sebagai arah bangun pengembangan pola dunia pendidikan.
4. Hakikat pendidikan dan anak didik sebagai subjek-subjek yang terlihat langsung dalam
pelaksanaan proses edukasi.
5. Hakikat pengetahuan dan nilai sebagai aspek penting yang dikembangkan dalam aktivitas
pendidikan.
6. Hakikat kurikulum sebagai tahapan-tahapan yang akan dilalui dalam proses kependidikan
menuju peraihan tujuan-tujuan.
7. Hakikat metode dan strategi pembelajaran yang memungkinkan penumbuhkembangan
potensi subjek didik.
8. Alternatif-alternatif yang mungkin dilalui dalam pengembangan sumber daya manusia
baik menyangkut prinsip-prinsip, metode maupun alat-alat pendukung peraihan tujuan.
9. Keterkaitan dunia pendidikan dengan lembaga-lembaga lain dalam lingkup masyarakat,
seperti pendidikan dan dunia politik, pendidikan dan sistem pemerintahan, pendidikan,
tata hukum dan adat dalam masyarakat.
10. Keterkaitan dunia kependidikan dengan perubahan-perubahan taraf hidup dalam
masyarakat.
11. Aliran-aliran filsafat yang tumbuh dan berkembang dalam memecahkan berbagai ragam
problem kependidikan.
12. Keterkaitan pendidikan sebagai suatu lembaga dengan ideologi yang dianut dan yang
berkembang dalam suatu masyarakat.
BAB III

MANUSIA DAN PENDIDIKAN

A. Hakikat dan Kedudukan Manusia di Dunia


1. Hakikat Manusia

Jika dilihat bagaimana manusia berada di dunia selalu berkenaan dengan hokum tiga
tahap, yaitu tahap estetis, etis, dan relijius. Pada tahap pertama, seseorang itu
mengekspresikan dirinya dalam pengembangan aspek naluri insaniyah yang cenderung pada
peraihan kesenangan dan kenikmatan yang semata-mata mengandalkan penilaian dari hasil
pengamatan indrawi yang terikat pada tendensi ruang dan waktu. Pada tahap kedua manusia
telah mengarahkan pola hidupnya pada upaya pencarian nilai-nilai yang baik dan yang
terbaik bagi dirinya, masyarakat, dan alam semesta. Dalam konteks ini, manusia telah
memosisikan dirinya sebagai pencari dan penentu nilai, sehingga ia pun hidup dengan
tanggungjawab. Pada tahap ketiga (tahap relijius), manusia telah mampu melihat dengan
mempertimbangkan dan memutuskan bahwa dirinya bisa berbuat atas dasar hukum-hukum
Tuhan yang teratur dan abadi. Pada tahap ini, manusia menyadari bahwa ada ketentuan tetap
yang telah diatur Tuhan untuk manusia, sehingga manusia dapat menentukan dan
memutuskan secara arif dan bertanggung jawab hal-hal yang dihadapinya di dunia. Dalam
konteks ini manusia telah menempatkan rasionya, alam jagad raya, dan Tuhan sebagai hal
yang tidak bisa dipisahkan.

2. Tugas dan Fungsi Manusia

Manusia memiliki fungsi sebagai mu’abbid, khalifah fi al-ardh, dan ‘immaraf fi al-ardh
akan terjelma dalam sejauhmana manusia mampu menjelmakan sifat-sifat Ilahiah ke dalam
dirinya yang akan terwujud dalam bentuk tindakan moral. Dengan demikian, moralitas adalah
lambang humanitas tertinggi dan karenanya mesti senantiasa dipelihara dan diaktualisasikan
dalam tindakan-tindakan senyatanya. Mengingat moralitas sarat dengan kebaikan dan
kebajikan itu, meniscayakan seseorang untuk tetap teguh menjalankan semua perintah dan
menjauhkan segala larangan agama. Pendeknya kepatuhan terhadap agama adalah lambang
humanitas tertinggi, sehingga dapat pula dikatakan perealisasian nilai-nilai keagamaan tidak
lain adalah perealisasian jati diri manusia sejati.
B. Eksistensi Pendidikan dalam Pengembangan Fitrah Manusia
1. Hakikat Pendidikan

Islam meyakini bahwa proses pendidikan mesti dilakukan bersama-sama yang dengan
kesadaran masing-masing itulah tumbuh rasa tanggungjawab untuk menciptakan suasana
edukasi yang benar-benar efektif dan efisien bagi pengembangan manusia. Oleh karena itu
pulalah dapat dikatakan bahwa dalam melakukan kegiatan pendidikan, mestilah dengan
jalinan kerja antara berbagai unsur, seperti pemerintah sebagai pengambil kebijakan,
masyarakat sebagai pengguna jasa pendidikan, dan lembaga pendidikan sebagai pelaku
pendidikan.

2. Urgensi Pendidikan Berdimensi Moral bagi Manusia

Sebagai ujung tombak bangunan peradaban manusia, pendidikan sekolah berhadapan


dengan kebutuhan-kebutuhan pembangunan manusia dalam berbagai aspeknya.
Pembangunan kualitas sumber daya manusia banyak bertumpu pada kualitas pendidikan
sekolah. Persoalannya adalah bahwa dalam penyelenggaraannya tidaklah berdiri sendiri,
karena ada banyak varian yang bergelayut di atasnya, baik dari subjek, maupun dari varian
yang berada di luar dirinya. Pengendalian kesemuanya tergantung pada keikutsertaan semua
pihak dalam jalinan kerjasama yang harmonis.

Kesadaran akan eksistensi pendidikan seperti inilah, maka para pakar kependidikan selalu
mengadakan pembaharuan-pembaharuan di bidang pendidikan agar segala aktivitas yang
dilakukan di dalamnya benar-benar dapat menjawab persoalan-persoalan yang berkembang di
tengah-tengah masyarakat.

Jadi dapat dikatakan, bahwa lembaga pendidikan merupakan hal yang strategis untuk
mengembangkan suatu masyarakat kea rah yang lebih baik, sehingga tidaklah berlebihan jika
dikatakan bahwa kemajuan modernitas suatu bangsa dan Negara ditentukan oleh kualitas
pendidikan. Karena posisinya yang centre of excellence dalam membangun peradaban suatu
masyarakat, maka adalah suatu kemestian untuk menjadikan lembaga pendidikan sebagai
lembaga rekayasa masyarakat ke arah yang lebih baik.
BAB IV

PENGETAHUAN DAN NILAI

A. Epistemologi dan Pendidikan

Epistemologi merupakan sesuatu yang amat penting dalam pengambangan humanitas


manusia. Hal ini mengingat bahwa dunia ini sarat dengan berbagai aliran dan ideology yang
secara niscaya tentu berlandaskan pada bagaimana pola caranya memandang realitas, baik
hakikat maupun strategi dan system yang digunakan yang kesemua ini tidak lain tentu
berdasarkan pada landasan epistemology. Dari sudut pandang guru, suatu perbedaan yang
paling penting yang dibuat dalam epistemology ini adalah bagaimana membedakan antara
tipe-tipe pengetahuan yang berbeda-beda baik dalam hakikat maupun prosedur. Dalam
bahasan ini, akan diungkap tipe-tipe pengetahuan ini dan kemudian melihat umum lagi
aliran-aliran epistemology yang ada dalam filsafat.

1. Tipe-tipe Pengetahuan

Tipe-tipe pengetahuan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pengetahuan Wahyu
2. Pengetahuan Intuitif
3. Pengetahuan Rasional
4. Pengetahuan Empiris
5. Pengetahuan Otoritatif

2. Epistemologi Idealisme tentang Pendidikan

Plato sebagai tokoh penting dalam idealism mengarahkan perhatiannya pada empat fakta
utama, yaitu :

1. Ajarannya yang berkenaan dengan jiwa dan segala unsur yang menyangkut kesemua
varian personality manusia.
2. Ajaran pokoknya tentang masyarakat.
3. Ajaran filsafat tentang hubungan individu dan masyarakat.
4. Pendasaran pendidikan pada hal-hal sebelumnya.
Epistemologi idealism ini meniscayakan kurikulum yang digunakan dalam pendidikan
pun lebih berfokus pada isi yang secara objektif menyediakan beragam pengalaman belajar
sebanyak-banyak pada subjek didik untuk mampu menggerakkan jiwanya pada ragam realitas
yang akan memperkukuh cara berpikir dan analisisnya terhadap keseluruhan realitas
pengalamannya. Pribadi idealism adalah pribadi yang peka terhadap realitas di sekitarnya,
sehingga tidak satupun kejadian yang dilihat dan didengarnya luput dari pikirannya.
Sedemikian rupa sehingga memunculkan kepribadian yang cermat dan tangkas dalam
mencerna keseluruhan realitas yang terbangun dari ruang ideanya.

3. Epistemologi Realisme tentang Pendidikan

Beberapa tokoh aliran tersebut diantaranya: Aristoteles, John Amos Comenius, Francis
Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, dan John Stuart Mill.

Epistemologi realism tentang pendidikan seperti dikemukakan di depan meniscayakan


bahwa setiap proses pembelajaran mesti didekati dengan pendekatan induktif, bukan
deduktif. Pendekatan ini baginya adalah cara yang relevan untuk menanamkan pengetahuan
dan nilai ke dalam diri subjek didik. Baginya, hal ini sejalan dengan watak manusia dalam
memperoleh pengetahuan yang memang bersentuhan dengan sendi-sendi dunia yang secara
nyata berhubungan satu dengan yang lainnya. Relisme percaya, bahwa manusia mengenal
dunia dari bagian-bagiannya yang bersifat materi teridentifikasi dalam kategori-kategori yang
terukur dan nyata.

4. Epistemologi Pragmatisme tentang Pendidikan

Kaum pragmatisme meyakini bahwa pikiran manusia bersifat aktif dan berhubungan
langsung dengan upaya penyelidikan dan penemuan. Menurut kaum ini, seorang anak selalu
belajar secara alamiah karena memang ia adalah makhluk yang secara natural selalu ingin
tahu tentang sesuatu. Ia senantiasa akan mempelajari apa pun yang ia rasakan dan atau apa
yang ia pikirkan. Oleh karena itu, guru harus menghidupkan spirit inquiri ini agar tampil
realitas pembelajaran. Tugas penting guru adalah menolong para subjek didiknya agar
mempelajari apa yang ia rasakan dan merangsang jiwa ingin tahunya selalu tumbuh, seperti
sains, sastra, sejarah, dan lain sebagainya. Kaum pragmatism meyakini bahwa subjek didik
harus belajar dari keingintahuan, sementara guru merangsang keingintahuan itu tampil dalam
proses inquiry.
5. Epistemologi Islam tentang Pendidikan

Pendidikan menempati posisi penting dalam pemanusiaan, tidak saja karena eksistensinya
sebagai pembentukan kepribadian, tetapi juga karena berkenaan dengan misi kemanusiaan
sebagai subjek yang memiliki tanggung jawab atas peradaban dan pengembangan serta
pembangunan dunia seperti tercermin dalam fungsinya sebagai khalifah dan ‘immarah di
muka bumi.

Mengingat pendidikan berkenaan dengan misi sedemikian, maka segala upaya


kependidikan mesti pula diarahkan untuk perealisasian misi humanitas tersebut. Bahkan
Islam menekankan bahwa strategi edukasi apa pun yang dilakukan seseorang atau
sekelompok orang hendaklah dibangun di atas nilai-nilai luhur manusia dalam kaitannya
dengan dirinya, alam, dan Tuhan.

B. Nilai dan Pendidikan

Kendatipun nilai berada pada wilayah pikiran manusia, tetapi eksistensinya dibutuhkan
manusia untuk menjadi standar bagi sebuah perilaku yang diinginkan. Oleh karena itu, karena
pendidikan erat kaitannya dengan perubahan perilaku manusia kearah kesempurnaan dan
kebaikan meniscayakan dirinya bersentuhan dengan persoalana nilai. Berikut dikemukakan
hubungan pendidikan dan nilai dalam konteks aliran-aliran filsafat yang ada sebagai bahan
pertimbangan dan analisis setiap pendidik dan calon pendidik untuk membangun arah dan
orientasi pembelajaran yang dilakukan di sekolah.

1. Nilai dan Pendidikan Menurut Aliran Idealisme

Plato sebagai tokoh utama idealism meyakini, bahwa nilai-nilai kebaikan dan kebijakan
bukanlah sesuatu yang dapat diajarkan seperti mengajarkan pengetahuan sains tetapi lebih
pada pembiasaan-pembiasaan dan penyontohan-penyontohan antar individu dalam
masyarakat. Oleh karenanya membangun individu yang bernilai, mestilah dengan mengikut
sertakan keterlibatan secara keseluruhan aspek terkait dengan pembentukannya. Pendidikan
nilai mesti dimulai dengan membangun tatanan dan system yang sarat nilai.
2. Nilai dan Pendidikan Menurut Aliran Realisme

Berbeda dengan aliran realism relijius, kelompok realism saintifik justru mengajarkan
bahwa sesuatu yang benar dan yang salah adalah produksi akal manusia dalam memahami
realitas, bukan dari prinsip-prinsip penelitian ilmiah yang telah menunjukkan
kemanfaatannya kepada manusia sebagai makhluk yang paling tinggi. Penyakit adalah
sesuatu yang tidak diharapkan dan disukai semua orang, karena sifatnya baik. Kita mesti
meningkatkan dengan ukuran meningkatnya konstitusi genetic kita dan menundukkan hal-hal
yang tidak diinginkan dengan upaya meningkatkan lingkungan di mana kita hidup. Jadi,
dapat dipahami bahwa nilai moral selalu muncul dari upaya penyelidikan seseorang akan
nilai kebenarannya dan karenanya dapat dibuktikan secara alamiah.

3. Nilai dan Pendidikan Menurut Aliran Pragmatisme

Pertanyaan tentang apa dasar moral kelompok pragmatis, Willian James membentangkan
doktrinnya, kelompok pragmatis sesungguhnya tidak memiliki praanggapan apa pun, tidak
ada dogma yang menghalangi, tidak ada aturan-aturan rigid. Orang pragmatis itu benar-benar
ramah. Dia akan mengajukan hipotesis-hipotesis dia akan memperhatikan bukti-bukti. Satu-
satunya pengujian kebenaran yang mungkin yang dimilikinya adalah sesuatu karya yang
terbaik. Apa yang cocok dari setiap bagian kehidupan yang terbaik, dan kumpulan-kumpulan
pengalaman, tak satupun yang dihilangkan. Anda lihat bagaimana demokrasinya orang
pragmatis. Sikapnya beragam dan fleksibel, sumbernya kaya dan tidak akan habis dan
kesimpulannya sama simpatiknya dengan kesimpulan yang sesungguhnya.

4. Nilai dan Pendidikan dalam Islam

Dalam nilai ini, terlihat bahwa kesadaran adalah kata kunci bagi perealisasian nilai-nilai,
dan oleh karena itu, maka dalam pembelajaran Islam, penanaman nilai mestilah pula dengan
menumbuhkan kesadaran kepada subjek didik bahwa suatu nilai berguna bagi realitas
kehidupannya, terutama dalam kaitan dirinya dengan alam dan Tuhan. Ini berarti, bahwa
pendidikan erat kaitannya dengan penyadaran akan nilai-nilai, sehingga nilai-nilai
kemanusiaan itu benar-benar dapat diwujudkandalam alam realitas manusia.
C. Etika dan Pendidikan

Semua guru dapat berharap bahwa subjek didiknya:

1. Mengetahui apa yang benar dan apa yang salah;


2. Mengetahui kenapa berbuat demikian;
3. Memiliki ide tentang apa yang harus ia lakukan tentang hal-hal yang sudah diketahuinya.

Jika subjek didik berupaya untuk berperilaku benar, guru akan memberikan reward yang
lebih atas usaha subjek didiknya.

D. Estetika dan Pendidikan

Ketika aktivitas kependidikan dalam keseluruhan aspeknya bernilai estetis, tentu akan
melahirkan suasana yang tidak menjenuhkan dan menegangkan yang akan memunculkan
kecemasan-kecemasan yang tentu dan pendidikan merupakan sesuatu yang tidak dapat
dipisahkan begitu saja, tidak saja karena aktivitasnya yang membutuhkan nilai estetis, tetapi
juga mengingat entitasnya yang memang juga akan membangun nilai-nilai estetis dalam diri
subjek didik.
BAB V

TEORI-TEORI PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

A. Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Pendidikan

Untuk melihat berbagai pandangan menyangkut pengembangan sumber daya manusia ini,
maka berikut bahasan diarahkan untuk mengetengahkan berbagai pemikiran aliran-aliran
filsafat yang berbicara tentang persoalan pengembangan sumber daya manusia yang pada
akhirnya akan dikemukakan dialogis antar-aliran dan pemikiran, sehingga dapat memberikan
gambaran utuh tentang teori-teori pengembangan yang ditawarkan secara komprehensif dan
terpadu.

A. Teori Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Konteks Islam

Firman Allah SWT dalam al-Quran surat an-Nahl ayat 78 memberi petunjuk betapa
pentingnya proses panjang untuk mengisi kemanusiaan. Ayat di atas memberikan
pemahaman bahwa manusia tidak akan dapat menjadi manusia utuh yang memiliki ilmu
pengetahuan yang berguna bagi kemudahan kehidupannya, jika ia belum mampu
memaksimalkan fungsi instrumen-instrumen jasmani dan ruhaninya. Hanya dengan cara
demikian seseorang menjadi lebih baik dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan sebagai lambing
dirinya. Hal yang sedemikian itu memerlukan pengondisian yang terarah dan tertata rapi,
sehingga dua potensi manusia itu dapat membentuk pemikirannya yang selanjutnya menjadi
sikap diri yang menunjuk pada jati diri manusia itu sendiri. Upaya pengaturan kondisi inilah
yang disebut dengan pendidikan.

B. Teori Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Aliran-aliran Filsafat

Diantaranya adalah :

1. Idealisme;
2. Rasionalisme;
3. Realisme;
4. Eksistensialisme;
5. Eksperimentalisme
6. Dialog Antar-Aliran
BAB VI

ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN

A. Pengantar

Lahirnya aliran-aliran dalam filsafat pendidikan pun selalu didasarkan atas keinginan
menciptakan manusia-manusia ideal melalui jalur pendidikan. Oleh karena itu pula berbagai
pemikiran kependidikan pun akan selalu mengacu pada cara pandang seseorang atau
sekelompok orang dala menilik eksistensi manusia dalam memperoleh pengalaman-
pengalaman yang ada pada gilirannya akan membentuk peradaban dan kebudayaan manusia
itu sendiri. Dan oleh karena itu, corak dan model yang ditawarkannya pun memiliki
hubungan signifikan dengan cara pandang aliran dalam memandang realitas manusia, baik
hakikat maupun eksistensinya di dunia dalam kaitannya dengan dirinya, alam, dan Tuhan.

B. Progresivisme

Progrerisme secara bahasa dapat diartikan sebagai aliran yang menginginkan


kemajuan-kemajuan secara cepat.

1. Progresivisme dalam Pengertian dan Sejarah

Dalam aktivitas gerakan perubahan sosial, progrevisme muncul pada tahun 1930-an.
Aliran ini memperlihatkan diri melalui upaya kerjasama John L.Childs, George Counts, dan
Boyd H. Bode, namun kemudian untuk beberapa waktu asosiasi pendidikan progresif ini pun
terpaksa dibubarkan. Kegiatannya terlihat kembali terutama setelah bermunculan karya-karya
tokoh kontemporer lainnya seperti George Axtelle, William O.Stanley, Ernest Bayles,
Lawrence G. Thomas, dan Fredirick C. Neff. Oleh karena itu wajar jika kemudian banyak
buku-bukufilsafat pendidikan yang menempatkan tokoh-tokohterakhir ini sebagai tokoh
progrevisme.
2. Landasan Filosofis Progresivisme

Aliran ini bersikap anti pada sikap otoritarianisme dan absolutisme dala segala bentuknya.
Hal ini mengingat bahwa baginya sikap ini sangat tidak menghargai kemampuan dasar
manusia yang secara natural akan selalu mampu menghadapi dan memecahkan berbagai
kesulitan hidup.

Progresivisme berpendapat bahwa akal manusia bersifat aktif dan selalu ingin mencari
tahu dan meneliti, sehingga ia tidak mudah menerima begitu saja suatu pandangan atau
pendapat sebelum ia benar-benar membuktikan kebenarannya secar empiris. Ilmu
pengetahuan lahir berdasarkan pada pembuktian-pembuktian eksperimentasi di dunia
empiris.

3. Pandangan Progresivisme tentang Pendidikan

Progresivisme menempatkan pengajaran bahasa asing kuno dan modern sebagai suatu
yang dibutuhkan bagi subjek didik sekolah tingkat menengah pertama, sebab hanya dengan
cara demikian para subjek didik akan dapat mengenal dunia secara baik dan luas. Sedangkan
pada tingkat lanjutan atas, subjek didik perlu diberikan kelompok pengetahuan logika,
retorika, sastra, dan ilmu pasti; dan pengetahuan yang akan mengenalkan tokoh-tokoh besar
sepanjang perjalanan sejarah dunia. Hal ini sangat dibutuhkan subjek didik untuk
meningkatkan kecerdasan akal hanya dapat dicapai dengan kelompok ilmu pertama dan
untuk mengenal isi hakiki dari peradaban manusia hanya dengan cara yang kedua.

C. Perenialisme
1. Perenialisme dalam Pengertian dan Sejarah

Dalam perjalan sejarahnya, perenialisme berkembang dalam sua sayap yang berbeda,
yaitu dari golongan teologis yang ingin menegakkan supremasi ajaran agama, dan dari
kelompok yang sekuler yang berpegang teguh dengan ajaran filsafat plato dan Aristoteles.
2. Landasan Filosofis Perenialisme

Aristoteles sebagai salah satu tokoh yang menjadi rujukan aliran ini menekankan, bahwa
melatih dan membiasakan diri merupakan hal yang mendasar bagi pengembangan kualitas
manusia. Oleh karena itu, kesadaran disiplin mesti ditanamkan sejak dini.

3. Pandangan Perenialisme tentang Pendidikan

Pada tingkat perguruan tinggi, aliran ini menekankan bahwa materi pembelajaran
mestilah bersendikan filsafat metafisika, karena filsafat ini pada dasarnya adalah cinta
intelektual dari Tuhan. Dan hanya dengan cara demikian, dunia akademi ditopang oleh sendi-
sendi yang kuat dalam menghadapi realitas kehidupannya dalam masyarakat.

D. Esensialisme

1. Esensialisme dalam Pengertian dan Sejarah

Esensialisme pertama kali muncul sebagai reaksi atas simbolisme mutlak dan dogmatism
abad pertengahan. Aliran ini beranggapan, bahwa manusia perlu kembali kepada kebudayaan
lama, yaitu kebudayaan yang telah ada semenjak peradaban manusia yang pertama.

2. Pandangan Filosofis Esensialisme

Immanuel Kant seorang tokoh idealism modern mengemukakan bahwa asas dasar
tindakan moral atas hokum moral adalah apa yang disebutnya sebagai categorical-imperative,
yaitu rasa kewajiban atas tugas tanpa syarat dan predikat seperti taat atau loyal terhadap suatu
norma. Dalam hokum moral, setiap manusia harus melakukan sesuatu yang oleh semua orang
wajib melakukannya di mana dan kapan pun, sebab kebaikan senantiasa bersifat universal.

3. Pandangan Esensialisme tentang Pendidikan


Menurut esensialisme adalah melalui metode tradisional, yaitu mental discipline method,
suatu metode yang menggunakan pendekatan psikologi pendidikan yang mengutamakan
latihan-latihan berpikir logis, teratur, ajek, sistematis, menyeluruh menuju latihan penarikan
kesimpulan yang baik dan komprehensif.
E. Rekonstruksionisme
1. Rekonstruksionalisme dalam Pengertian dan Sejarah
Aliran ini pada prinsipnya sependapat dengan aliran perenialisme dalam mengungkap
krisis kebudayaan modern. Menurut Syam, kedua aliran tersebut memandang bahwa keadaan
sekarang merupakan zaman yang kebudayaannya terganggu oleh kehancuran, kebingungan
dan kesimpangsiuran. Bila aliran perenialisme memilih cara dan jalan pemecahan masalah
dengan kembali kepada budaya abad pertengahan, maka rekonstruksionisme berupaya
membina suatu consensus yang paling luas dan paling mungkin tentang tujuan pertama dan
tertinggi dalam kehidupan manusia.

2. Landasan Filosofis Rekonstruksionisme

Aliran ini juga berpendapat bahwa dasar suatu kebenaran dapat dibuktikan dengan self-
evidenve, yakni bukti yang ada pada dirinya sendiri, realitas dan eksistensinya.
Pemahamannya bahwa pengetahuan yang benar buktinya ada di dalam pengetahuan itu
sendiri, kajian tentang kebenaran itu, diperlukan suatu pemikiran dan metode yang diperlukan
untuk menuntut agar sampai pada pemikiran yang hakiki.

3. Pandangan Rekonstruksionisme tentang Pendidikan

Aliran ini yakin bahwa pendidikan tidak lain adalah tanggung jawab sosial. Hal ini
mengingat eksistensi pendidikan dalam keseluruhan realitasnya diarahkan untuk
pengembangan dan atau perubahan masyarakat. Rekonstruksionisme tidak saja
berkonsentrasi tentang hal-hal yang berkenaan dengan hakikat manusia, tetapi juga terhadap
teori belajar yang dikaitkan dengan pembentukan kepribadian subjek didik yang berorientasi
pada masa depan.

1. Dialog Antar-Aliran
Berbagai pemikiran yang ditampilkan oleh masing-masing aliran filsafat di atas bangunan
epistemology masing-masing. Dengan demikian mereka akan memiliki kemandirian dalam
pengambilan sikap berdasarkan cara-cara yang logis dan dapat dipertanggungjawabkan
secara ilmiah. Berbagai ragam ilmu pengetahuan dan teknologi adalah bukti nyata bagi
fungsionalitas kemampuan manusia dalam memecahkan problem-problem kehidupannya, dan
sekaligus akan menjadi modal bagi pengembangan kearah pengetahuan dan teknologi baru
yang adalah juga akan menjadi langkah kemajuan-kemajuan selanjutnya tanpa henti.
BAB 7

PENDIDIKAN DAN POLITIK NEGARA

A. Posisi Lembaga Pendidikan dalam Sistem Politik Negara

Ketertundukkan institusi pendidikan pada system politik meliputi beberapa hal, yakni :

1. Sebagai agen utama untuk sosialisasi politik bagi generasi muda dalam pengembangan
politik suatu Negara.
2. Sebagai agen yang menentukan bagi ketersediaan pelaku politik.
3. Sebagai pemasok utama bagi penumbuhkembangan integrasi politik dan kesadaran
politik.
4. Sebagai agen bagi pengembangan ideologi politik kelompok yang berkuasa dan atau
pemilik wewenang.
5. Sebagai agen aktivitas aktualisasi misi dan visi suatu golongan atau lebih yang berada
pada level dominasi.

B. Dialektika Sistem Politik dan Ideologi Pendidikan Suatu Bangsa

Pengaruh system politik dalam pendidikan, sangat potensial dalam membangun corak dan
model pengembangan system. Dengan kata lain, hubungan antara dua institusi sosial ini
saling memberikan pengaruh. Tipe system politik merupakan hal yang penting dalam
menentukan hakikat proses sekolah. Perbedaan-perbedaan dalam pendidikan umpamanya,
antara rezim kapitalis dan sosialis, negeri-negeri yang sedang berkembang dan terbelakang
dan masyarakat pedesaan atau perkotaan, pada dasarnya merupakan pengaruh dari system
politik yang ada dalam negeri mereka.

Apa pun yang dilakukan oleh dunia pendidikan selalu merujuk pada tatanan yang
dibangun oleh dunia politik pendidikan melalui putusan-putusan politik yang dibangun oleh
dunia politik melalui putusan-putusan politik yang terjelma dalam rumusan undang-undang
pendidikan. Rumusan-rumusan ini dalam banyak variannya sangat tergantung pada system
berpikir dan tata kerja orang-orang yang bergabung di dalam memikirkan dunia pendidikan
ke depan.
RINGKASAN ISI BUKU PEMBANDING (Dr. Edward
Purba,MA,Prof.Dr.Yusnaldi,MS)

BAB I

PENGERTIAN FILSAFAT DAN FILSAFAT PENDIDIKAN

A. Pengertian Filsafat

Dengan demikian pengertian filsafat dapat ditinjau dari dua segi,yakni :

a. Pengertian secara Etimologi

b. Pengertian Terminology

Berikut ini akan dikemukakan beberapa pengertian yang dikemukakan para ahli
(Surajiyo,2008,3-4)

a. Piato g. Hasbullah Bakry

b. Aristoteles h. N.Driyarkara

c. Al Faribi i. Notonagoro

d. Rena Descartes j. Poedjawijatna

e. Immanuel Kant k. Harol Titus (Jalauddin dan Idi, 1997)

f. Langeveld l.Ali Mudhofir (Surajiyo, 2008,4-6)

Dapat diambil kesimpulan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang ada secara
mendalam sampai pada hakikatnya dengan menggunakan akal atau pikiran.Filsafaty adalah
usaha untuk mengetahui segala sesuatu,ada (being).Jadi filsafat membahas lapisan yang
terakhir dari segala sesuatu atau membahas masalah-masalah yang paling dasar.

1) Tujuan dan Ciri-ciri Pikiran Kefilsafatan

a. Tujuan

b. Ciri-ciri pikiran kefilsafatan


2) Alasan Berfilsafat

a. Keheranan

b. Kesangsian

c. Kesadaran akan keterbatasan

3) Peranan filsafat

a. Pendobrak

b. Pembebas

c. Pembimbing

B. Pengertian Filsafat Pendidikan

Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses,dimana pendidikan merupakan usaha


sadar dan penuh tanggung jawab dari orang dewasa dalam membimbing,memimpin,dan
mengarahkan peserta didik dengan berbagai problem atau persoalan dan pertanyaan yang
mungkin timbul dalam pelaksanaannya.

Masalah-masalah pendidikan akan berkaitan dengan masalah filsafat umum,seperti:

a. Hakikat kehidupan yang baik

b. Hakikat manusia

c. Hakikat masyarakat

d. Hakikat realitas akhir.


BAB II

FILSAFAT PENDIDIKAN

A. Filsafat Pendidikan Sebagai Sistem

Ontologi berasal deari bahasa yunani “onto” yang berarti sesutu yang
sungguh-sungguh ada,dan ‘logos’ yang berarti teori atau ilmu.Ontologi mempelajari
keberadaan dalam bentuk yang paling abstrak (Surajiyo, 2008,158). Epistemologi pendidikan
dimaksudkan mencari sumber-sumber pengetahuan dan kebenaran dalam praktek
pelaksanaan pendidikan.

Landasan aksiologis dalam praktek pelaksanaan pendidikan didasarkan pada nilai-


nilai dasar yang terkandung dalam pembukaan Undang-undang Dasar 45.Filsafat pendidikan
terwujud dengan menarik garis linier antara filsafat dan pendidikan.Selain pendekatan
linier,filsafat pendidikan dapat disusun dengan berpangkal kepada pendekatan tertentu dari
pada pendidikan itu sendiri.

B. Substansi Filsafat Pendidikan

Kedudukan filsafat pendidikan dalam jajaran ilmu pendidikan adalah sebagai bagian
dari fundasi-fundasi pendidikan.Pancasila dan Undang-Undangt Dasar 1945 dan undang-
undang pendidikan merupakan dasar atau landasan terhadap pelaksanaan pendidikan.

Roh dan jiwa Undang-Undang dasar 1945 harus mendasari landasan praktis dan
praktik pendidikan.

C. Hubungan Filsafat dengan Filsafat Pendidikan

Menurut Jhon Dewey,filsafat merupakan teori umum,sebagai landasan semua


pemikiran umum mengenai pendidikan.Dalam kaitan filsafat dengan filsafat
pendidikan,Hasan Langgulung (dalam Jalaluddin, 1997, 22).
BAB III

ALIRAN-ALIRAN FILAFAT PENDIDIKAN

A. Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan

Filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat,yang berarti bahwa filsafat


pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil
kajian dari filsafat.Aliran filsafat pendidikan yang didasarkan pada empat aliran pokok
tentang realita dan fenomena yakni :

1. Filsafat Pendidikan Idealisme

Idealisme berpendirian,bahwa kenyataan tersusun atas gagasan-gagasan (ide-ide) atau


spirit.Segala benda yang nampak berhubungan dengan kejiwaan dan segala aktivitas
kejiwaan.

2. Filsafat Pendidikan Realisme

Realisme dalam berbagai bentuk menurut Kattsoff (1996:126) menarik garis pemisah
yang tajam antara yang mengetahui dan yang diketahui,dan pada umunya cenderung ke arah
dualisme atau monisme materialistik.

3. Filsafat Pendidikan Materialisme

Suatu aliran filsafat yang berisikan tentang ajaran kebendaan,dimana benda


merupakan sumber segalanya,sedangkan yang dikatakan materialisme menurut
(Poerwadarminta, 1984: 638).

4. Filsafat Pendidikan Pragmatisme

Filsafat ini dipandang sebagai filsafat Amerika asli,kenyataan yang sebenarnya adalah
berpangkalan pada filsafat empirisme Inggris,yang berpendapat bahwa sumber pengetahuan
manusia adalah apa yang manusia alami.Tokoh yang terkenal dalam filsafat ini adalah
Charles Sandre Pierce (1839)-1914),William James (1842-1910).
BAB IV

FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA

A. Pandangan Filsafat Pancasila tentang Manusia,Masyarakat,Pendidikan,dan Nilai

Pancasila merupakan dasar dari pembentukan negara Indonesia.Pancasila sebagai


ideology bangsa Indonesia telah terbukti,sejak masa penjajahan sampai dewasa ini,

Ø Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Manusia

Ø Pandagan Filsafat Pancasila Tentang Masyarakat

Ø Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Pendidikan

Ø Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Nilai

B. Pandangan Filsafat Pendidikan Pancasila Terhadap Sistem Pendidikan Nasional

Tatacara bernegara di Indonesia di atur dalam UUD 1945 yang selama ini belum
pernah mengalami amandemen,kecuali setelah bergulir reformasi tahun 1998.Kendatipun
amandemen keempat telah rampung bulan Agustus 2002,namun pembukaan UUD 1945
masih tetap,tidak di Amandemen.
BAB V

HAKEKAT ILMU PENDIDIKAN

A. Hakekat Pendidikan

1. Pengertian Pendidikan

Menurut bahasa Belanda,pendidikan berasal dari kata Ofvooden yang artinya


memberi makan.Menurut pemahaman mereka sesuatu yang diberi makan akan tumbuh dan
berkembang.Dalam bahasa Inggris,pendidikan adalah Education yang artinya adalah the
process of training and developping the knoeledge,skill,mind,character,etc,by formal
(Neufeld and Guralnik.1996).

2. Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan yang merupakan suatu pernyataan yang jelas merupakan dasar
utama bagi pemilihan metode,bahan atau materi pendidikan,dan pemilihan alat-alat untuk
menilai apakah pendidikan itu telah terlaksana dengan baik atau telah berhasil.Robert F.
Mager (dalam M. Ngalim Purwanto.2000:38).

3. Pilar Pendidikan

Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran aagar peserta didik secara aktif.UNESCO mengemukakan bahwa pendidikan
disokong empat pilar pendidikan yakni: Learning to know,Learning to Do,Learning to Be,dan
Learning to live Together.

B.Pendidikan Karakter

Pengembangan dan pembentukan karakter diyakini perlu dan penting untuk dilakukan
oleh lembaga pendidikan,keluarga sekolah,dan masyarakat.

1. Pengertian Karakter

2. Pendidikan karakter

C.Hakekat Manusia

· Latar Belakang

· Ekstensi Manusia

· Pengembangan Dimensi-Dimensi Manusia Dalam proses pendidikan


BAB III

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU

3.1 KELEBIHAN ISI BUKU

KELEBIHAN BUKU UTAMA (Filsafat Pendidikan Prof.Dr.Muhmidayeli,M.Ag)


Kehadiran buku ini sangat penting artinya untuk kalangan pengkaji filsafat pendidikan
dan akademis maupun masyarakat, dapat dijadikan referensi bagi pengembang kurikulum dan
praktisi pendidikan. Dari segi penulisan buku ini,buku ini menggunakan bahasa-bahasa yang
baik cover buku ini di desain bervariasi dan menarik, sehingga menambah kesan daya tarik
bagi pembacanya. Buku ini juga mampu memberikan peta bagi penelusur lebih mendalam
melalui berbagai pendekatan yang ditawarkan.

KELEBIHAN BUKU PEMBANDING ( Filsafat Pendidikan Dr. Edward


Purba,MA,Prof.Dr.Yusnaldi,MS)

Keuggulan dari buku Edward Purba ini adalah mampu memberikan informasi tentang
nilai, sumber nilai dan bagaimana manusia dapat memperoleh nilai tersebut karena
pendidikan pada prinsipnya tidak dapat dipisahkan dari nilai.

3.2 KEKURANGAN ISI BUKU


KEKURANGANBUKU UTAMA (Filsafat Pendidikan Prof.Dr.Muhmidayeli,M.Ag)

Idealnya pendidikan yang seharusnya dilaksanakan di Indonesia tidak disajikan di


buku ini.Buku ini masih sama seperti buku-buku filsafat pendidikan lainnya dalam
penyajiannya menggunakan alur berfikir datar-datar saja.

KEKURANGAN BUKU PEMBANDING ( Filsafat Pendidikan Dr. Edward


Purba,MA,Prof.Dr.Yusnaldi,MS)

Kelemahan dalam buku Pembanding ini kurangnya memberikan pemahaman bagi


pembaca khususnya para pemula sehingga pesan yang diutarakan oleh pengarang tidak
tersampaikan pada pembaca.
BAB IV

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Filsafat bukanlah pemikiran dan bukan pula ajaran, tetapi lebih pada aktivitas berpikir
sistematis menurut alur berpikir filsafat menuju terbangunnya suatu pemikiran atau
pemahaman yang tegas dan murni tentang realitas. Dan karenanya pula, maka aktivitas
filsafat banyak bergerak pada wilayah proses tempuh seseorang dalam memperoleh
kebenaran dan bukan pada penekanan ajaran, dogma ataupun pemikiran. Di sinilah kemudian
filasafat lebih terkonsentrasi pada wilayah metodologi atau proses pelahiran suatu kebenaran.

Nilai Kebenaran suatu pemikiran filsafat selalu dilihat dari aspek bagaimana ia
memperoleh kebenaran tersebut. Artinya, bahwa filsafat mengajarkan bagaimana subjeknya
dapat meraih nilai kebenaran dari keseluruhan realitas menurut tata cara yang benar-benar
dapat dipertanggungjawabkan secara menyeluruh, baik dari segi isi maupun dari cara
memperolehnya.

Kecenderungan pola pendidikan yang ditempuh oleh suatu lembaga ataupun suatu
kelompok masyarakat sangat tergantung pada cara pandangnya dalam memandang manusia
ideal, cara berada manusia dalam melakukan proses humanitas dan yang terpenting lagi cara
pandangnya dalam memandang eksistensi pendidikan dalam system dan polanya memberikan
pelayanan kepada seluruh masyarakat untuk mengembangkan diri dan kemampuan berpikir
filosofis yang diarahkan untuk menjawab berbagai persoalan kependidikan.

Lahirnya aliran-aliran dalam filsafat pendidikan pun selalu didasarkan atas keinginan
menciptakan manusia-manusia ideal melalui jalur pendidikan. Oleh karena itu pula berbagai
pemikiran kependidikan pun akan selalu mengacu pada cara pandang seseorang atau
sekelompok orang dala menilik eksistensi manusia dalam memperoleh pengalaman-
pengalaman yang ada pada gilirannya akan membentuk peradaban dan kebudayaan manusia
itu sendiri. Dan oleh karena itu, corak dan model yang ditawarkannya pun memiliki
hubungan signifikan dengan cara pandang aliran dalam memandang realitas manusia, baik
hakikat maupun eksistensinya di dunia dalam kaitannya dengan dirinya, alam, dan Tuhan.
4.2 SARAN

Pendidikan adalah tugas bersama manusia dalam merealisasikan misi kemanusiaan. Oleh
sebab itu pendidikan mesti diatur berdasarkan hubungan intersubjektif dan interrelasional,
sehingga semua komponen benar-benar berjalan secara fungsional struktural dalam kerangka
yang jelas dan terarah pada peraihan tujuan-tujuan yang diinginkan. Pendeknya pendidikan
adalah usaha sadar bersama yang secara fungsional struktural melaksanakan tugas-tugasnya
menuju terciptanya manusia-manusia ideal, yakni manusia yang memiliki kepribadian
moralis.

Sedemikian berartinya pendidikan bagi pemanusiaan manusia, maka sudah semstinya


pendidikan ditata dan dipersiapkan sebaik-baiknya sehingga cita-cita luhurnya
“pemanusiaan” dapat diwujudkan. Perbaikan-perbaikan dalam kehidupan sebagai bukti nyata
adanya aktivitas pendidikan akan hanya merupakan sebutan saja jika pengupayaannya tidak
ditata dengan terencana, sistematis, dan terpadu.

Kebenaran secara bahasa sehari-hari selalu dipertentangkan dengan kebohongan atau


dusta; Sesuatu yang memiliki celah salah, keliru dan ketidakvalidan. Dalam konteks filsafat,
istilah kebenaran lebih lazim dipertentangkan dengan kekeliruan atau kekhilafan. Namun
yang utama dari itu semua bagaimana pelaksanaan di kehidupan sehari-hari kita hendaknya
selalu berada dalam jalur yang benar apalagi kita sebagai pendidik yang senantiasa selalu
menjadi pusat perhatian dari peserta didik, sehinggan filsafat pendidikan ini harus selalu
diingat dan bagaimana menjalankan dalam keseharian baik diwaktu pembelajaran maupun di
luar pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA

Muhmidayeli.2013.Filsafat Pendidikan.Bandung.PT Refika Aditama

Purba Edward.2016.Filsafat Pendidikan.Medan.Unimed Press