Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN AWAL PARAKTIKUM TEKNIK MESIN

IRIGASI DAN DRAINASE


“PERENCANAAN IRIGASI CINCIN”

AL AZHAR FAUZAN
J1B116015

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2019
BAB II
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

2.1 Objek 2 (Perencanaan Irigasi Cincin)


2.1.1 Latar Belakang
Lahan kering merupakan salah satu agroekosistem yang mempunyai potensi
besar untuk usaha pertanian, baik tanaman pangan, hortikultura (sayuran dan buah-
buahan) maupun tanaman tahunan. Lahan pertanian Indonesia meliputi 70.20 juta
ha, sekitar 61.53 juta ha diantaranya berupa lahan kering. Potensi lahan kering
belum sepenuhnya dioptimalkan pengelolaannya karena beberapa faktor seperti
keterbatasan air. Permasalahan ketersediaan air ini tentunya semakin berdampak
terhadap produktivitas lahan kering yang tidak memiliki infrastruktur irigasi dan
mengandalkan air hujan.
Untuk meningkatkan dan menjaga stabilitas produktivitas lahan, salah satu
yang bisa diupayakan adalah menjaga ketersediaan air untuk tanaman pada setiap
musim tanam. Hal ini membutuhkan upaya untuk menggunakan air seefisien
mungkin. Salah satu cara pemberian air secara efisien adalah dengan sistem irigasi
tetes dimana pemberian air pada tanaman secara langsung baik pada permukaan
tanah maupun di dalam tanah secara sinambung dengan debit yang kecil (Prastowo,
2010).
Sistem irigasi yang hemat air lainnya adalah irigasi kendi (pitcher irrigation)
yang telah dikembangkan sebagai upaya meningkatkan efisiensi penggunaan air
irigasi untuk tanaman hortikultura di Indonesia. Sistem pemberian air secara efisien
masih terus dikembangkan baik dari segi teknologi maupun sistem manajemen
penggunaan air. Selain penggunaan air yang efisien, juga mempertimbangkan
teknologi yang dihasilkan bisa diaplikasikan dan dikembangkan atau ditiru oleh
petani baik skala kecil maupun skala besar yang tentunya bahan dan komponen
yang digunakan bisa diperoleh di daerah setempat.
Oleh karena itu dibutuhkan teknologi sistem irigasi sederhana dan dapat
dirakit oleh petani sendiri. Berdasarkan permasalahan di atas, praktikum ini
mencoba untuk mempelajari teknik pembuatan irigasi cincin secara baik dan benar
lewat praktikum yang akan dilaksanakan dimana air dirembeskan oleh bahan porus
(kain) secara sircle-shape yang ditempatkan di bawah permukaan tanah (sub-
surface irrigation) di daerah perakaran tanaman. Rancangan emiter ini
menggunakan komponen lokal dan relatif murah sehingga diharapkan petani
dengan mudah membuat sendiri dan emiter ini juga mampu menjaga kelengasan
tanah pada rentan air tersedia bagi akar tanaman dengan meminimalisasi laju
evaporasi, aliran permukaan dan perkolasi. Sehingga diharapkan diperoleh
peningkatan bobot produk persatuan unit volume air yang dipergunakan, atau yang
dikenal sebagai produktivitas air secara fisik (Molden, 2007).
2.1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum ini ialah antara lain, untuk
melakukan pemasangan (instalasi) komponen jaringan irigasi cincin secara benar,
mengoperasikan jaringan irigasi cincin dan melakukan pengukuran dan perhitungan
pola pembasahan emitter dan debit.
2.1.3 Manfaat
Praktikum ini diharapkan mahasiswa dapat menerapkan ilmu yang
didapatkan dengan cara menjadi salah satu alternatif pengembangan sistem irigasi
di lahan kering dengan dapat mengetahui cara kerja dari irigasi curah, dan dapat
membuat pengembangan rancangan dengan baik.
2.1.4 Tinjauan Pustaka
A. Pengertian irigasi
Irigasi adalah pemberian air pada tanaman untuk memenuhi kebutuhan air
bagi pertumbuhannya. Irigasi merupakan kegiatan penyediaan dan pengaturan air
untuk memenuhi kepentingan pertanian dengan memanfaatkan air yang berasal dari
air permukaan dan tanah. Irigasi adalah sejumlah air yang pada umumnya diambil
dari sungai atau bendung yang dialirkan melalui system jaringan irigasi untuk
menjaga keseimbangan jumlah air didalam tanah (Setiawan, 2002).
Dari butir-butir pengertian tentang irigasi dan jaringan irigasi tersebut di atas
kemudian dapat disusun rumusan pengertian irigasi sebagai berikut: Irigasi
merupakan bentuk kegiatan penyediaan, pengambilan, pembagian, pemberian dan
penggunaan air untuk pertanian dengan menggunakan satu kesatuan saluran dan
bangunan berupa jaringan irigasi.
B. Jenis-jenis irigasi
Pemilihan sistem irigasi untuk suatu daerah tergantung dari keadaan
topografi, biaya, dan teknologi yang tersedia. Berikut ini terdapat empat jenis
sistem irigasi:
1. Irigasi gravitasi
Sistem irigasi ini memanfaatkan gaya gravitasi bumi untuk pengaliran airnya.
Dengan prinsip air mengalir dari tempat yang tinggi menuju tempat yang rendah
karena ada gravitasi. Jenis irigasi yang menggunakan sistem irgiasi seperti ini
adalah: irigasi genangan liar, irigasi genangan dari saluran, irigasi alur dan
gelombang.
2. Irigasi siraman
Pada sistem irigasi ini air dialirkan melalui jaringan pipa dan disemprotkan
ke permukaan tanah dengan kekuatan mesin pompa air. Sistem ini biasanya
digunakan apabila topografi daerah irigasi tidak memungkinkan untuk penggunaan
irigasi gravitasi. Ada dua macam sistem irigasi saluran, yaitu: pipa tetap dan pipa
bergerak.
3. Irigasi bawah permukaan
Pada sistem ini air dialirkan dibawah permukaan melalui saluran-saluran
yang ada di sisi-sisi petak sawah. Adanaya air ini mengakibatkan muka air tanah
pada petak sawah naik. Kemudian air tanah akan mencapai daerah penakaran secara
kapiler sehingga kebutuhan air akan dapat terpenuhi.
4. Irigasi tetesan
Air dialirkan melalui jaringan pipa dan diteteskan tepat di daerah penakaran
tanaman dengan menggunakan mesin pompa sebagai tenaga penggerak. Perbedaan
jenis sistem irigasi ini dengan sistem irigasi siraman adalah pipa tersier jalurnya
melalui pohon, tekanan yang dibutuhkan kecil (1 atm).
C. Klasifikasi jaringan irigasi
Berdasarkan cara pengaturan pengukuran aliran air dan lengkapnya fasilitas
jaringan irigasi dapat dibedakan ke dalam tiga tingkatan yakni:
1. Jaringan irigasi sederhana
Di dalam irigasi sederhana, pembagian air tidak diukur atau diatur, air lebih
akan mengalir ke saluran pembuang. Para petani pemakai air itu tergabung dalam
satu kelompok jaringan irigasi yang sama, sehingga tidak memerlukan keterlibatan
pemerintah di dalam organisasi jaringan irigasi semacam ini. Persediaan air
biasanya berlimpah dengan kemiringan berkisar antara sedang sampai curam. Oleh
karena itu hampir-hampir tidak diperlukan teknik yang sulit untuk sistem
pembagian airnya.
2. Jaringan irigasi semi teknis
Dalam banyak hal, perbedaan satu-satunya antara jaringan irigasi sederhana
dan jaringan semi teknis adalah bahwa jaringan semi teknis ini bendungnya terletak
di sungai lengkap dengan bangunan pengambilan dan bangunan pengukur di bagian
hilirnya. Mungkin juga dibangun beberapa bangunan permanen di jaringan saluran.
Sistem pembagian air biasanya serupa dengan jaringan sederhana. Adalah mungkin
bahwa pengambilan dipakai untuk melayani/mengairi daerah yang lebih luas dari
daerah layanan pada jaringan sederhana. Oleh karena itu biayanya ditanggung oleh
lebih banyak daerah layanan. Organisasinya akan lebih rumit jika bangunan
tetapnya berupa bangunan pengambilan dari sungai, karena diperlukan lebih
banyak keterlibatan dari pemerintah.
3. Jaringan irigasi teknis
Salah satu prinsip dalam perencanaan jaringan teknis adalah pemisahan
antara jaringan irigasi dan jaringan pembuang/pematus. Hal ini berarti bahwa baik
saluran irigasi maupun pembuang tetap bekerja sesuai dengan fungsinya masing-
masing, dari pangkal hingga ujung. Saluran irigasi mengalirkan air irigasi ke sawah-
sawah dan saluran pembuang mengalirkan air lebih dari sawah-sawah ke saluran
pembuang alamiah yang kemudian akan diteruskan ke laut.
D. Petak irigasi
1. Petak tersier
Petak tersier menerima air irigasi yang dialirkan dan diukur pada bangunan
sadap (off take) tersier. Bangunan sadap tersier mengalirkan airnya ke saluran
tersier. Petak tersier yang kelewat besar akan mengakibatkan pembagian air
menjadi tidak efisien. Faktor-faktor penting lainnya adalah jenis tanaman dan
topografi. Di daerah-daerah yang ditanami padi luas petak tersier idealnya
maksimum 50 ha, tapi dalam keadaan tertentu dapat ditolelir sampai seluas 75 ha,
disesuaikan dengan kondisi topografi dan kemudahan eksploitasi dengan tujuan
agar pelaksanaan Operasi dan Pemeliharaan lebih mudah. Petak tersier harus
mempunyai batas-batas yang jelas seperti misalnya parit, jalan, batas desa dan batas
perubahan bentuk medan (terrain fault).
Petak tersier dibagi menjadi petak-petak kuarter, masing- masing seluas
kurang lebih 8 - 15 ha. Apabila keadaan topografi memungkinkan, bentuk petak
tersier sebaiknya bujur sangkar atau segi empat untuk mempermudah pengaturan
tata letak dan memungkinkan pembagian air secara efisien. Petak tersier harus
terletak langsung berbatasan dengan saluran sekunder atau saluran primer.
Perkecualian kalau petak-petak tersier tidak secara langsung terletak di sepanjang
jaringan saluran irigasi utama yang dengan demikian, memerlukan saluran tersier
yang membatasi petak-petak tersier lainnya, hal ini harus dihindari. Panjang saluran
tersier sebaiknya kurang dari 1.500 m, tetapi dalam kenyataan kadang- kadang
panjang saluran ini mencapai 2.500 m. Panjang saluran kuarter lebih baik dibawah
500m, tetapi prakteknya kadang-kadang sampai 800m.
2. Petak sekunder
Petak sekunder terdiri dari beberapa petak tersier yang kesemuanya dilayani oleh
satu saluran sekunder. Biasanya petak sekunder menerima air dari bangunan bagi yang
terletak di saluran primer atau sekunder. Batas-batas petak sekunder pada umumnya
berupa tanda-tanda topografi yang jelas, seperti misalnya saluran pembuang. Luas
petak sekunder bisa berbeda-beda, tergantung pada situasi daerah. Saluran sekunder
sering terletak di punggung medan mengairi kedua sisi saluran hingga saluran
pembuang yang membatasinya. Saluran sekunder boleh juga direncana sebagai
saluran garis tinggi yang mengairi lereng- lereng medan yang lebih rendah saja.
3. Petak primer
Petak primer terdiri dari beberapa petak sekunder, yang mengambil air langsung
dari saluran primer. Petak primer dilayani oleh satu saluran primer yang mengambil
airnya langsung dari sumber air, biasanya sungai. Proyek-proyek irigasi tertentu
mempunyai dua saluran primer. Ini menghasilkan dua petak primer. Daerah di
sepanjang saluran primer sering tidak dapat dilayani dengan mudah dengan cara
menyadap air dari saluran sekunder. Apabila saluran primer melewati sepanjang
garis tinggi, daerah saluran primer yang berdekatan harus dilayani langsung dari
saluran primer.
E. Bangunan irigasi
Bangunan irigasi digunakan untuk keperluan dalam menunjang pengambilan
dan pengaturan air irigasi, sehingga air dapat mengalir dengan baik ke areal
persawahan.
1. Bangunan utama
Bangunan utama (head works) dapat didefinisikan sebagai kompleks
bangunan yang direncanakan dan disepanjang sungai atau aliran air untuk
membelokkan air ke dalam jaringan saluran agar dapat di pakai untuk keperluan
irigasi. Bangunan utama bisa mengurangi kandungan sedimen yang berlebihan,
serta mengukur banyaknya air yang masuk. Bangunan utama terdiri dari bendung
dengan peredam energi, satu atau dua pengambilan utama pintu bilas kolam olah
dan (jika diperlukan) kantong lumpur, tanggul banjir pekerjaan sungai dan
bangunan-bangunan pelengkap. Bangunan utama dapat diklasifikasi ke dalam
sejumlah kategori, bergantung kepada perencanaannya. Berikut ini terdapat beberapa
kategori antara lain:
1. Bendung atau Bendung gerak
2. Bendung karet
3. Pengambilan bebas
4. Pengambilan dari waduk
5. Stasiun pompa
2. Bangunan pembawa
Bangunan-bangunan pembawa membawa air dari ruas hulu ke ruas hilir
saluran. Aliran yang melalui bangunan ini bisa superkritis atau subkritis.
 Bangunan pembawa dengan aliran superkritis
Bangunan pembawa dengan aliran tempat di mana lereng medannya
maksimum saluran. Superkritis diperlukan di tempat lebih curam daripada
kemiringan maksimal saluran. (Jika di tempat dimana kemiringan medannya lebih
curam daripada kemiringan dasar saluran, maka bisa terjadi aliran superkritis yang
akan dapat merusak saluran. Untuk itu diperlukan bangunan peredam). Macam-
macam bangunan pembawa dengan aliran superkritis:
a. Bangunan Terjun
b. Got Miring
 Bangunan pembawa dengan aliran subkritis (Bangunan silang)
Macam-macam bangunan pembawa dengan aliran subkritis (bangunan silang):
a. Gorong-gorong
b. Talang
c. Sipon
d. Jembatan sipon
e. Flum (flume)
f. Saluran tertutup
g. Terowongan
3. Bangunan bagi dan sadap
Bangunan bagi dan sadap pada irigasi teknis dilengkapi dengan pintu dan alat
pengukur debit untuk memenuhi kebutuhan air irigasi sesuai jumlah dan pada waktu
tertentu. Untuk itu kriteria ini menetapkan agar diterapkan tetap memakai pintu dan
alat ukur debit dengan memenuhi tiga syarat proporsional.
a. Bangunan bagi terletak di saluran primer dan sekunder pada suatu titik cabang
dan berfungsi untuk membagi aliran antara dua saluran atau lebih.
b. Bangunan sadap tersier mengalirkan air dari saluran primer atau sekunder ke
saluran tersier penerima.
c. Bangunan bagi dan sadap mungkin digabung menjadi satu rangkaian
bangunan. Boks-boks bagi di saluran tersier membagi aliran untuk dua saluran
atau lebih (tersier, subtersier dan atau kuarter).
4. Bangunan pengatur dan pengukur
Aliran akan di ukur di hulu (udik) saluran primer, di cabang saluran jaringan
primer dan di bangunan sadap sekunder maupun tersier. Bangunan ukur dapat
dibedakan menjadi bangunan ukur aliran atas bebas (free overflow) dan bangunan
ukur alirah bawah (underflow). Beberapa dari bangunan pengukur dapat juga
dipakai untuk mengatur aliran air.
5. Bangunan lindung
Diperlukan untuk melindungi saluran baik dari dalam maupun dari luar. Dari
luar bangunan itu memberikan perlindungan terhadap limpasan air buangan yang
berlebihan dan dari dalam terhadap aliran saluran yang berlebihan akibat kesalahan
eksploitasi atau akibat masuknya air dan luar saluran. Bangunan lindung terdiri
dari:
a. Bangunan pembuang silang
b. Pelimpah (spillway) Bangunan penggelontor sedimen (sediment excluder)
c. Bangunan penguras (wasteway)
d. Saluran pembuang samping
e. Saluran gendong
6. Bangunan pelengkap
Tanggul-tanggul diperlukan untuk melindungi daerah irigasi terhadap banjir
yang berasal dari sungai atau saluran pembuang yang besar. Pada umumnya tanggul
diperlukan di sepanjang sungai di sebelah hulu bendung atau di sepanjang saluran
primer.
F. Sistem Irigasi Cincin
Pemberian air dengan sistem irigasi cincin merupakan penggabungan dua
prinsip kerja dari irigasi tetes dan irigasi kendi dimana sistem tetes mampu
menyediakan air sesuai kebutuhan tanaman di daerah perakaran sehingga
mengurangi kehilangan air irigasi berupa perkolasi dan limpasan (run-off) dan
sistem irigasi kendi memanfaatkan media porus untuk mengendalikan kelembaban
tanah. Sistem irigasi cincin mengalirkan air pada tanaman dengan debit yang kecil
di daerah perakaran tanaman dan menjaga kelembaban tanah dengan media yang
berbentuk cincin sebagai emitter. Dimensi dan luasan cincin tergantung pada luas
daerah perakaran tanaman.
Jenis material cincin yang digunakan memberikan peranan penting dalam
mengendalikan laju air irigasi ke dalam tanah, terutama pada karakteristik
konduktivitas hidrolikanya. Material yang digunakan adalah bahan yang porus,
dapat berupa bahan keramik seperti irigasi kendi ataupun dari bahan tekstil yang
dirancang khusus dengan tingkat permeabilitas tertentu agar mampu
mempertahankan tetesan air yang menyebar di seluruh permukaan cincin dan
mempertahankan kelembaban tanah (Setiawan, 2002).
G. Emitter
Emitter merupakan alat pengeluaran air yang disebut pemancar. Emitter
mengeluarkan dengan cara meneteskan air langsung ke tanah ke dekat tanaman.
Emitter mengeluarkan air hanya beberapa liter per jam. Dari emitter air keluar
menyebar secara menyamping dan tegak oleh gaya kapiler tanah yang diperbesar
pada arah gerakan vertikal oleh gravitasi. Daerah yang dibasahi emitter tergantung
pada jenis tanah, kelembaban tanah, permeabilitas tanah.
Emitter harus menghasilkan aliran yang relatif kecil dan menghasilkan debit
yang mendekati konstan. Penampang aliran perlu relatif kecil dan menghasilkan
debit yang mendekati konstan. Penampang aliran perlu relatif lebar untuk
mengurangi tersumbatnya emitter Emitter atau penetes merupakan komponen yang
menyalurkan air dari pipa lateral ke tanah sekitar tanaman secara sinambung dengan
debit yang rendah dan tekanan mendekati tekanan atmosfer.
Alat aplikasi ini bisa dibuat dari berbagai bahan seperti PVC, PE, keramik,
kuningan dan sebagainya. Alat aplikasiyang baik harus mempunyai karakteristik
debit yang rendah dan konstan, toleransi yang tinggi terhadap tekanan operasi, tidak
dipengaruhi oleh perubahan suhu, dan umur pemakaian cukup lama (Prastowo,
2010).
H. Kebutuhan Air Tanaman
Jumlah air yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh optimal ditentukan oleh
faktor iklim, jenis tanaman dan fase pertumbuhan. Kondisi areal penanaman seperti
sifat dan jenis tanah, keadaan topografi dan luas areal penanaman juga
mempengaruhi besar kebutuhan air tanaman (Doorenbos & Kassam, 1979).
Kebutuhan air tanaman adalah jumlah air yang digunakan tanaman untuk dapat
tumbuh normal atau evapotranspirasi. Besarnya evapotranspirasi tanaman (ETc)
diduga dengan menggunakan evapotranspirasi acuan (ETo) yang diperoleh dari
data iklim setempat. Besarnya evapotranspirasi tanaman ditentukan dengan
persamaan :

dimana kc adalah koefisien tanaman dan ETo adalah evapotranspirasi acuan.


Koefisien tanaman dapat dibedakan dalam 4 tingkatan:
1. Tingkatan awal (initial stage) dari tanggal tanam sampai permukaan tanah
ditutupi tanaman (Sc) sekitar 10 %
2. Tingkatan pertumbuhan tanaman (crop development stage) yaitu dari Sc = 10
% sampai Sc = 70 – 80 %
3. Tingkatan pertengahan (mid-season stage) yaitu dari Sc = 70 – 80 % sampai
tanaman dewasa
4. Tingkatan akhir (late season stage) yaitu dari tanaman dewasa sampai berbuah
atau panen.
Banyaknya air irigasi yang diberikan ditentukan berdasarkan kapasitas
memegang air dari tanah yang menunjukkan jumlah air tanah tersedia serta
penyerapan air oleh tanaman. Jumlah air tanah tersedia, yang merupakan selisih
antara kapasitas lapang dengan titik layu permanent.
I. Sifat Hidrolika Tanah
 Kadar Air Tanah
Jumlah air yang tersimpan dalam pori-pori tanah sering disebut dengan kadar
air tanah (soil moisture content). Dikenal dua istilah kadar air tanah, yaitu kadar air
volumetri (volumetric water content) dengan simbol θ dan kadar air tanah
gravimetri (gravimetric water content). Dalam pertanian khususnya, kadar air
volumetri lebih tepat digunakan karena menggambarkan volume air yang tersimpan
dalam pori-pori tanah (Setiawan et al., 2009).
 Retensi Air Tanah
Retensi air tanah merupakan salah satu sifat hidrolika tanah yang
menggambarkan kemampuan tanah menyimpan air dalam pori-porinya. Tanah
dikatakan jenuh air bila semua pori-porinya terisi air. Demikian sebaliknya, tanah
tersebut menjadi tidak jenuh (unsaturated) bila terdapat sejumlah udara dalam pori-
pori tersebut. Semakin sedikit jumlah air dalam pori-pori tanah semakin sulit air
tersebut dapat diserap akar tanaman. Tanaman akan memperoleh air bila
kemampuan menyerap air tersebut lebih besar dibandingkan hisapan air oleh
permukaan partikel tanah. Kemampuan tanaman menyerap air dalam kisaran pF =
2.54 (tanah pada saat kapasitas lapang) sampai pF= 4.2 (kondisi titik layu
permanen) (Setiawan et al., 2009).
Dimana :
Θ(h) = volumetric water content (cm3 / cm3)
Θr = residual volumetric water content (cm3/ cm3)
Θs = saturated volumetric water content (cm3 / cm3)
H = soil potential (cm)
α = air entry potensial (cm)
n,m = konstanta
J. Konduktivitas Hidrolik
Tanah Konduktivitas hidrolika tanah merupakan sifat yang menyatakan
kemampuan tanah untuk melewatkan air atau sering disebut sebagai permeabilitas
tanah dinyatakan dalam satuan jarak per satuan waktu, misalnya cm/jam atau
cm/menit. Konduktivitas hidrolika tanah adalah koefisien transport air yang sangat
dipengaruhi oleh kadar air tanah dan potencial metric, ukuran dan agihan pori tanah.
Hubungan antara konduktivitas hidrolik tanah tidak jenuh dengan data retensi air
tanah diperoleh dengan menggunakan model Mualem (van Genutchen, 1980;
Setiawan et al., 2009) yaitu :

Dimana Ks adalah konduktivitas hidrolik jenuh, Θ adalah derajat kejenuhan


efektif, λ adalah parameter empiric tak berdimensi yang secara rata-rata bernilai 0.5
dan m1 = 1-1/n
Setiawan dan Nakano (1993) juga telah mengembangkan persamaan yang
menyatakan hubungan antara konduktivitas hidrolik tidak jenuh dan kadar air tanah
sebagai berikut :
Dimana θ adalah kadar air tanah (cm3/cm3), a1 dan b1 adalah
parameterparameter empirik.
2.1.5 Metoda Praktikum
2.1.5.1 Alat dan Bahan
Alat dan Bahan yang digunakan dalam pratikum ini yaitu media tanam
dengan perbandingan tanah dan pupuk kandang 2:1, emitter dengan 5 jenis bahan
porus yang berbeda, pipa 3/4 “, selang bening untuk emitter cincin, kran air, drum
dan polybag 5 buah, stopwatch dan meteran, gelas ukur.
2.1.5.2 Prosedur Kerja
1. Konduktivitas Material Emitter Cincin
Pengukuran dilakukan dengan cara material cincin atau bahan kain
dimasukkan ke tabung/ring dengan diameter 5 cm. Tabung/ring diisi air sampai
batas atas penuh. Kemudian air yang menetes dari bahan kain atau material porus
emitter ditampung ke wadah penampung. Air yang tertampung dialirkan oleh
selang kecil ke gelas ukur kemudian mengukur penurunan muka air pada pipet ukur
pada waktu (t), catat data dalam tabel data. Pengukuran dilakukan dengan 5 kali
pengulangan. Hitung konduktivitas material emitter menggunakan persamaan
berikut:
K(θs) = 2,3 (a*I)/(A*t) * LOG h1/h2
Dimana:
K(θs) = Konduktivitas hidrolik jenuh (cm/detik)
a = Luas permukaan buret (cm2)
l = Tinggi/tebal sampel tanah (cm)
A = Luas permukaan sampel tanah (cm2)
t = Waktu (detik)
h1= Tinggi muka air awal pengukuran (t=0) (cm)
h2 = Tinggi muka air akhir pengukuran (t=t) (cm)
3. Debit Aliran
Pengukuran debit air dilakukan dengan menghitung penurunan air pada drum
yang dipasang selang untuk melihat ketinggian air yag berada didalam drum.
Sehingga ketinggian air diselang sama dengan ketinggian air di dalam drum.
Ketinggian air dicatat setiap hari pada jam 08.00 WIB. Menghitung debit air dapat
dilakukan dengan persamaan berikut:
Q = V/T
Keterangan:
Q = Debit air (m3/detik)
V = Volume (m3)
T = Waktu (detik)
DAFTAR PUSTAKA

Doorenbos, J., & A. K. 1979. Yield Respons to Water. FAO and Agriculture
Organisazion of The United Nation. Rome: FAO.
Genutchen, Van. 1980. A Close Form Equation for Predicting the Hydraulic
Conductivity of Unsaturated Soils. Soil Science (44), 892-898.
Molden, D.J. 2007. Water for Food Water for Life : A Comprehensive Assesment
of Water Management in Agriculture. International Water Management
Institute. Colombo.
Prastowo. 2010. Irigasi Tetes Teori dan Aplikasi. Bogor: IPB Press.
Setiawan, B. I., & M.Nakano. 1993. On Determinant of Unsaturated Hydraulic
Conductivity from Soil Moisture Profiles and Front Water Retention Curve.
Soil Science (156), 389-395.
Setiawan, B.I. 2002. Sistem Irigasi Kendi. Menuju Kemandirian Teknologi
Pertanian Unggul. Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Hal:36~37.
Setiawan, B. I., S. K. Saptomo., & C. Arif. 2009. Teknik Irigasi dan Drainase
Berwawasan Lingkungan. Bogor: IPB Press.