Anda di halaman 1dari 26

Laporan Kasus

PSIKOSIS AKUT LIR-SKIZOFRENIA

Oleh:

AMELIA MAHMUDAH

(712016059)

Pembimbing:

dr. Abdullah Shahab, Sp. KJ, MARS

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN JIWA


RUMAH SAKIT DR. ERNALDI BAHAR
PROVINSI SUMATERA SELATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2018
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kasus berjudul

PSIKOSIS AKUT LIR-SKIZOFRENIA

Dipersiapkan dan disusun oleh:

Amelia Mahmudah
(712016059)

Pembimbing:
dr. Abdullah Shahab, Sp. KJ, MARS

Telah diterima dan disahkan sebagai salah satu syarat dalam mengikuti kegiatan
Ujian Akhir Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa
Rumah Sakit Dr. Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera Selatan, Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Palembang periode 3 Desember 2018 – 30 Desember
2018.

Palembang, Desember 2018


Dosen Pembimbing

dr. Abdullah Shahab, Sp. KJ, MARS

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul
“Psikosis Akut Lir-Skizofrenia” sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Ujian
Akhir Kepaniteraan Klinik Senior di Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa Rumah
Sakit Dr. Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera Selatan. Shalawat dan salam selalu
tercurah kepada Rasullullah Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan
pengikutnya sampai akhir zaman.
Dalam penyelesaian laporan kasus ini, penulis mendapat bantuan,
bimbingan dan arahan, maka dari itu kesempatan ini penulis menyampaikan
terima kasih kepada:
1. dr. Abdullah Shahab, Sp. KJ, MARS, selaku dosen pembimbing.
2. Orang tua yang telah banyak membantu dengan doa yang tulus dan
memberikan bantuan moral maupun spiritual.
3. Rekan Tim sejawat seperjuangan dan semua pihak yang turut membantu
dalam menyelesaikan laporan kasus ini.
Semoga Allah SWT memberikan balasan pahala atas segala amal yang telah
diberikan dan semoga laporan kasus ini dapat bermanfaat bagi semua dan
perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran. Semoga selalu dalam lindungan
Allah SWT. Aamiin.

Palembang, Desember 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul...............................................................................................

Halaman Pengesahan .................................................................................... i

Kata Pengantar .............................................................................................. ii

Daftar Isi........................................................................................................ iii

BAB I. Laporan Kasus .................................................................................. 1

BAB II. Diskusi ............................................................................................. 14

Daftar Pustaka ............................................................................................... 19

Lembar Follow Up ........................................................................................ 20

iii
BAB I
LAPORAN KASUS

I. IDENTIFIKASI PENDERITA
Nama : Tn. S
Usia : 24 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status Perkawinan : Belum menikah
Suku / Bangsa : Melayu / Indonesia
Pendidikan : Tidak Tamat SD
Pekerjaan : Tidak Bekerja
Agama : Islam
Alamat :13 Ulu, Sebrang Ulu II, Palembang
Datang ke RS : Rabu, 19 Desember 2018, Pukul 15:10 WIB
Cara ke RS : Diantar keluarga menggunakan mobil
Tempat Pemeriksaan : Instalasi Gawat Darurat RS. Dr. Ernaldi Bahar Palembang.

II. RIWAYAT PSIKIATRI


Riwayat psikiatri diperoleh dari:
1. Autoanamnesis dengan penderita pada Rabu, 19 Desember 2018, Pukul 15:45
WIB.
2. Alloanamnesis dengan ibu kandung penderita pada Rabu, 19 Desember 2018,
Pukul 15:15 WIB.

A. Sebab Utama
Pasien mengamuk

B. Riwayat Perjalanan Penyakit


a) Alloanamnesis
Pasien datang ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Ernaldi Bahar
dibawa keluarga karena mengamuk dan mengancam mengambil senjata tajam
1
serta melempar barang. Keluarga mengatakan pasien mulai mudah marah
apabila kehendaknya tidak dituruti. Pasien sering mengira ada orang yang
menjelekkan dirinya. Keluarga juga mengatakan pasien sering berbicara sendiri,
pasien sering keluyuran dan mandi di sungai. Keluarga mengatakan pasien
terkadang melakukan gerakan seperti superhero. Pasien tidur tidak teratur,
sekitar 1-2 jam. Pasien mandi, BAB dan BAK masih di kamar mandi. Pasien
tidak ada niat untuk bunuh diri.
±3 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS) pasien mengamuk dan
mengancam mengambil senjata tajam karena terganggu dengan orang yang
tidak bisa dilihat oleh orang lain. Pasien juga tidak bisa diam, pasien sering
mondar mandir dan kadang sampai keluar rumah tetapi pasien tetap pulang
kerumah. Pasien juga terlihat semakin gelisah. Pasien melempar barang yang
ada didekatnya jika sedang marah. Pasien juga mudah marah tanpa sebab yang
jelas. Pasien terkadang melakukan gerakan seperti seorang superhero. Pasien
hanya tidur 1-2 jam.
± 1 minggu yang lalu keluarga mengatakan pasien terlihat sangat gelisah
dan sering mondar mandir serta terkadang pergi keluar rumah. Pasien juga
sering berbicara sendiri. Keluarga mengatakan bahwa pasien masih sering
mandi kesungai. Pasien juga sering marah kepada orang tua karena sering
melarang pasien keluar rumah. Pasien melempar barang, piring atau gelas
jika pasien sedang marah. Pasien tidur hanya 1-2 jam dan sering bangun pada
malam hari dan tidak tidur lagi, terkadang pasien tidak tidur sama sekali.
± 2 minggu yang lalu pasien mulai terlihat gelisah dan berbicara sendiri.
Keluarga mengatakan pasien sering marah-marah kepada orang lain yang tidak
terlihat oleh keluarganya. Pasien menjadi mudah marah jika kehendaknya tidak
dituruti dan mudah tersinggung dengan orang lain. Pasien berkata pada ibunya
jika ada orang yang menjelekkan dan membencinya. Pasien terlihat mondar
mandir, pergi keluar rumah dan mandi kesungai. Pasien bisa tidur tetapi sering
bangun pada malam hari dan tidak tidur lagi. Keluarga mengatakan bahwa
pasien bekerja sebagai buruh di pasar 16, tetapi dalam 1 bulan ini pasien tidak
mau bekerja dan tidak mau keluar rumah. Pasien hanya bermain games mobile

2
legent di hp. Pasien menjadi lebih pendiam dan mengurangi interaksi dengan
orang lain.

b) Autoanamnesis
Pasien mengatakan bahwa ada orang yang membencinya dan
menjelekkannya. Pasien mengatakan sering mendengar bisikan yang
mengomentari apa yang dilakukannya, bisikan tersebut sering mengomentari
permainan yang dilakukan pasien sehingga membuat pasien kesal dan marah.
Pasien mengatakan bahwa bisikan tersebut terkadang membuatnya kesal dan
melempar barang yang ada didekatnya karena merasa emosi. Pasien juga
merasa akhir-akhir ini mudah emosi. Pasien juga mengatakan sering mandi
kesungai karena pasien adalah pemimpin dari buaya dan binatang lainnya dan
pasien mengatakan bahwa binatang itu tunduk kepadanya. Pasien merasa
dirinya adalah superhero.

III. RIWAYAT PENYAKIT SEBELUMNYA


A. Riwayat Gangguan Psikiatrik Sebelumnya
Tidak ada

B. Riwayat Kondisi Medis Umum


1. Riwayat trauma kapitis tidak ada
2. Riwayat kejang tidak ada
3. Riwayat demam tinggi tidak ada
4. Riwayat asma tidak ada
5. Riwayat diabetes mellitus tidak ada
6. Riwayat stroke tidak ada
7. Riwayat alergi tidak ada
8. Riwayat hiper/hipotiroid tidak ada

C. Penggunaan Zat Psikoaktif


- Pasien tidak pernah menggunakan zat psikoaktif

3
- Pasien tidak pernah mengkonsumsi minuman beralkohol.

D. Timeline Perjalanan Penyakit Pasien

Sejak 7 Desember 2018 13 Desember 2018 16 Desember 2018 19 Desember 2018


MRS dr.Ernaldi Bahar

- Pasien terlihat gelisah dan - Pasien terlihat - Pasien mengamuk - Pasien terlihat
mondar mandir semakin gelisah dan dan mengancam semakin gelisah dan
- berbicara sendiri mondar mandir mengambil senjata mondar mandir
- Pasien merasa dirinya tajam
adalah pemimpin binatang - Pasien sering keluar - mengamuk
rumah - tidak bisa diam
yang ada disungai (waham -keluar rumah
keluar rumah
kebesaran) -Sering berbicara
- pasien merasa ada yang sendiri -Sering berbicara - berbicara sendiri
membencinya dan sendiri
-Pasien sering marah - tidak tidur tidur
menjelekkan nya (waham
rujukan) pada orangtuanya - marah tanpa sebab
- Pasien mendengar suara dan melempar barang
- pasien melempar yang ada didekatnya
yang mengomentari piring gelas
permainan yang -merasa dirinya
dilakukannya (Halusinasi - Pasien sering mandi superhero (waham
Auditorik) ke sungai dan merasa kebesaran)
- pasien melihat buaya dirinya adalah
disungai (Halusinasi Visual) pemimpin binatang - gangguan tidur
yang ada disungai
- 1 bulan terkhir pasien
menjadi lebih pendiam dan -gangguan tidur
mengurangi interaksi
dengan orang lain

IV. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI


A. Riwayat Premorbid
1. Bayi : Pasien lahir normal spontan, cukup bulan, ditolong oleh
bidan.
2. Anak : Menurut keluarga, pasien tidak pernah mengalami kejang
demam tinggi. Pasien termasuk anak yang pendiam
3. Remaja : Menurut keluarga, pasien pendiam, pemalu, jarang bermain
keluar rumah, pasien tidak memiliki teman dekat

4
4. Dewasa : Menurut keluarga, pasien pendiam, pemalu, pasien juga tidak
memiliki teman dekat, pasien sering menghabiskan waktu
dengan bermain games

B. Situasi Hidup Sekarang


Pasien pernah bekerja sebagai buruh di pasar 16, tetapi 1 bulan terakhir
pasien tidak bekerja, tidak keluar rumah dan banyak menghabiskan waktu
dengan bermain games. Pasien tinggal dengan ayah, ibu dan 4 orang adik
kandungnya, kehidupan ekonomi pasien menengah kebawah

C. Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga dengan gejala penyakit yang sama disangkal.

Keterangan:
: Pasien bernama Tn. S usia 24 Tahun

D. Riwayat Pendidikan
Keluarga pasien mengatakan, pasien hanya sekolah sampai SD kelas 4
dan setelah itu pasien tidak sekolah lagi.

E. Riwayat Pekerjaan
Pasien pernah bekerja sebagai buruh tetapi beberapa bulan terakhir pasien
tidak bekerja lagi.

F. Riwayat Pernikahan
Pasien belum pernah menikah

5
G. Agama
Pasien beragama Islam

H. Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien tinggal dengan ayah, ibu dan 4 adik kandungnya. Dengan status
ekonomi menegah kebawah. Penghasilan berasal dari ayah dan ibu sebagai
pedagang keliling.

I. Riwayat Pelanggaran Hukum


Pasien belum pernah berurusan dengan pihak berwajib.

V. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL


A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Pasien berjenis kelamin laki-laki, berusia 24 tahun, pada saat datang
ke IGD pasien menggunakan baju kaos pendek berwarna hitam dan
kuning, celana panjang berwarna biru, serta menggunakan topi berwarna
abu-abu. Perawatan diri bersih, penampilan sesuai.
2. Perilaku dan aktivitas psikomotor
Pasien gelisah, perhatian baik
3. Sikap terhadap pemeriksa
Kontak dengan pemeriksa ada, pasien awal pemeriksaan pasien
kurang kooperatif terhadap pemeriksa tetapi selanjutnya pasien
kooperatif.

B. Mood dan Afek


1. Mood : Distimik
2. Afek : Serasi

C. Pembicaraan
1. Spontanitas : Spontan

6
2. Kualitas : Baik
3. Kuantitas : Kurang

D. Gangguan Persepsi
1. Halusinasi dan ilusi :
- Halusinasi auditorik ada → suara yang mengomentari tentang
permainan bola yang dilakukan pasien,
dan suara buaya dan binatang disungai
yang takut kepadanya.
- Halusinasi visual ada  saat pasien disungai, pasien melihat buaya
2. Depersonalisasi dan derealisasi tidak ada.

E. Pikiran
1. Proses dan bentuk pikiran : asosiasi longgar
a) Kontinuitas : kontinu
b) Hendaya berbahasa : tidak ada
2. Isi Pikiran
a) Bentuk fikir : Koheren
b) Gangguan isi pikiran :
i. Waham kebesaran (delusion of Grandiosty): pasien merasa
dirinya superhero dan merasa dirinya adalah pemimpin dari
bintang yang ada di sungai
ii. Waham rujukan ada : Pasien mengatakan pada ibunya jika ada
orang yang menjelekkan dan membencinya

F. Kesadaran dan Kognisi


1. Tingkat kesadaran : Compos Mentis
2. Orientasi :
a) Waktu : Baik
b) Tempat : Baik
c) Orang : Baik
3. Daya Ingat : Baik

7
4. Konsentrasi dan Perhatian : Baik
5. Kemampuan membaca dan menulis : Pasien dapat membaca
6. Kemampuan visuospasial : Pasien dapat menjelaskan
perjalanan dari rumah ke IGD.
7. Kemampuan menolong diri sendiri : Baik. Pasien bisa makan, minum
dan mandi dengan mandiri

G. Pengendalian Impuls
Pada saat dilakukan tanya jawab pasien tampak gelisah dan tidak terdapat
gerakan involunter

H. Daya Nilai
1. Penilaian realita : RTA terganggu
2. Tilikan : Derajat 1, pasien menyangkal ataupun sama sekali
tidak merasa sakit

VI. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT


Pemeriksaan dilakukan pada hari Rabu, 19 Desember 2018
A. Status Internus
1. Kesadaran : Compos Mentis Terganggu
2. Tanda Vital : TD: 145/80 mmHg, N: 111 x/menit, RR: 20 x/menit,
T: 36,9 oC
3. Kepala : Normocephali, Konjungtiva palpebra anemis (-),
Sklera ikterik (-), mulut kering (-), mata cekung (-).
4. Thorax : tampak hipertrofi scar di thorax anterior, multiple, dengan
ukuran 1-3 cm x 2-3,5 cm dengan tinggi 0,2-0.3 cm
BJ I dan II Normal, Gallop (-), Murmur (-), Vesikuler
normal (+), Wheezing (-), Ronkhi (-).
5. Abdomen : datar, lemas, nyeri tekan epigastrium (-), BU (+) normal
Pembesaran hepar dan lien (-).
6. Ekstremitas : hangat, edema (-), sianosis (-), CRT < 2 detik.

8
B. Status Neurologikus
1. GCS : 15
E : membuka mata spontan (4)
V : bicara spontan (5)
M : gerakan sesuai perintah (6)
2. Fungsi sensorik tidak terganggu.
3. Fungsi Motorik tidak terganggu.
4. Refleks fisiologis normal.
5. Refleks patologis tidak ditemukan.
6. Tidak ditemukan gejala Ekstrapiramidal sindrom.

VII. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


1. Pasien datang ke IGD RS Ernaldi Bahar diantar keluarganya pada tanggal 19
Desember 2018. Pasien datang karena mengamuk.
2. Pasien mengatakan bahwa ada orang yang membencinya dan menjelekkannya
(waham rujukan)
3. Pasien mengatakan sering mendengar bisikan yang mengomentari apa yang
dilakukannya, bisikan tersebut sering mengomentari permainan yang
dilakukan pasien (halusinasi auditorik)
4. Pasien berbicara sendiri dan marah kepada orang yang tidak bisa dilihat
keluarganya (perilaku halusinatorik)
5. Pasien juga mengatakan sering mandi kesungai merasa sebagai pemimpin
dari buaya dan binatang lainnya dan binatang itu tunduk kepadanya (waham
kebesaran)
6. Pasien merasa dirinya dalah superhero (waham kebesaran)
7. Pasien tidak memiliki masalah pada kesadaran, daya ingat, fungsi kognitif
dan orientasi, memori serta pengetahuan umum pasien baik.
8. Mood distimik dan afek serasi.
9. Pasien tidak pernah mengkonsumsi zat psikoaktif.
10. Pada riwayat keluarga pasien tidak ada yang memiliki keluhan serupa.
11. Ada gangguan aktivitas tidur pada malam hari.

9
12. Pasien lahir normal spontan, cukup bulan, ditolong oleh bidan, tidak pernah
mengalami kejang dan demam tinggi.
13. Pasien termasuk anak yang pendiam, pemalu, jarang bermain keluar rumah,
pasien tidak memiliki teman dekat dan pasien sering menghabiskan waktu
dengan bermain games
14. Pasienmemiliki riwayat penyakit fisik, pada pemeriksaan didapatkan kelainan
kulit berupa hipertrofi scar di daerah dada
15. Pasien tinggal bersama ibu, ayah dan 4 adik kandung. Penghasilan berasal
dari profesi ayah dan ibu sebagai pedagang keliling.
16. Keluarga pasien saat ini mendukung kesembuhan pasien, terutama ayah dan
ibu pasien.

VIII. FORMULASI DIAGNOSTIK


Aksis I:
 Bedasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang telah dilakukan, tidak
terdapat penyakit yang menyebabkan disfungsi otak. Hal ini dapat dinilai
dari tingkat kesadaran, daya ingat atau daya konsentrasi, serta orientasi
yang masih baik, sehingga pasien ini bukan penderita Gangguan Mental
Organik (F.0).
 Dari anamnesis diketahui bahwa pasien tidak mempunyai riwayat
penggunaan zat-zat terlarang atau Napza. Dengan demikian, pasien ini
bukan penderita Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Zat Psikoaktif
atau Alkohol (F.1)
 Pada pasien ini ditemukan adanya gangguan dalam menilai realita berupa
adanya halusinasi dan waham, maka pasien ini menderita gangguan
psikotik (F.2)
 Halusinasi dan waham yang dialami pasien sudah terjadi sekitar 2
minggu yang lalu, sehingga termasuk kedalam psikosik akut (F.23)
 Gejala yang memenuhi kriteria skizofrenia sudah ada. Onset gejala
sekitar 2 minggu. Halusinasi dan waham yang menonjol tetapi tidak
berubah jenis dan intensitasnya dari hari ke hari atau dalam hari yang

10
sama sehingga memenuhi kriteria umum untuk psikosik aku
lir-skizofrenia (F.23.2)

Aksis II:
Pada pasien untuk diagnosis multiaksial aksis II, pasien memiliki ciri
kepribadian yang hampir selalu memilih aktivitas yang dilakukan sendiri, tidak
mempunyai teman dekat, sedikit keinginan untuk menjalin hubungan termasuk
ciri kepribadian skizoid.

Aksis III:
Pada diagnosis multiaksial aksis III tidak ditemukan adanya gangguan kondisi
medik umum yang menyertai penderita. Maka aksis III tidak ada diagnosis.

Aksis IV:
Pada penderita untuk aksis IV saat ini yaitu masalah berkaitan dengan
ligkungan sosial

Aksis V:
Pada aksis V didapatkan Global Assessment of Functioning (GAF) Scale saat
datang ke Rumah Sakit yaitu 50-41 gejala berat, disabilitas berat.

IX. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL


Aksis I : F23.3 Psikosis Lir Skizofrenia
Aksis II : Ciri Kepribadian Skizoid
Aksis III : Tidak ada diagnosis
Aksis IV : Masalah dengan lingkungan sosial
Aksis V : GAF 50

X. DAFTAR MASALAH
A. Organobiologik
Tidak ditemukan faktor genetik gangguan kejiwaan.
B. Psikologik

11
Pasien mengalami halusinasi auditorik, halusinasi visual dan waham
kebesaran.
C. Lingkungan dan Sosial Ekonomi
Pasien tinggal dengan ayah ibu dan 4 adik kandungnya. Ekonomi pasien
tergolong menengah ke bawah.

XI. PROGNOSIS
A. Quo ad Vitam : dubia ad bonam
B. Quo ad Functionam : dubia ad bonam
C. Quo ad Sanationam : dubia ad bonam

XII. RENCANA PENATALAKSANAAN


A. Psikofarmaka
- Resperidon 2 x 2mg

B. Psikoterapi
1. Terhadap Penderita
- Memberikan psikoterapi edukatif, yaitu memberikan informasi dan
edukasi tentang penyakit yang diderita, faktor risiko, gejala, faktor
penyebab (stressor), cara pengobatan, prognosis dan risiko
kekambuhan agar pasien tetap taat minum obat dan segera datang ke
dokter bila gejala serupa muncul dikemudian hari serta danya efek
samping obat.
- Memberikan psikoterapi suportif, yaitu memberikan intervensi
langsung dan dukungan untuk meningkatkan rasa percaya diri
individu, perbaikan fungsi sosial.
2. Terhadap Keluarga
- Informasi dan edukasi mengenai penyakit yang diderita pasien.
- Meminta keluarga untuk mendukung pasien, mengajak pasien
berinteraksi dan beraktivitas serta membantu hubungan sosial pasien
ketika pasien sudah kembali ke rumah.

12
- Meminta keluarga untuk selalu mengingatkan pasien untuk kontol
rutin dan minum obat secara teratur.
- Menjelaskan kepada keluarga jika perjalanan penyakit pasien bisa
saja menjadi panjang dan perlu menghindari stressor penyebab..

13
BAB II
DISKUSI

Pada kasus ini, pasien berinisal Tn.S, seorang laki-laki berusia 24 tahun.
Dari hasil autoanamnesis dan alloanamnesis di dapati bahwa pasien mengalami
perubahan perilaku yang dimulai sejak ± 2 minggu yang lalu (sekitar tanggal &
desember 2018) dengan stressor yang tidak dapat ditentukan. Pasien dibawa ke
IGD RS Ernaldi Bahar karena mengamuk. Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan
pada pasien, pasien didiagnosis psikotik akut lir-Skizofrenia.
Psikosis merupakan ketidakmampuan untuk membedakan kenyataan dan
khayalan, ujian realitas terganggu disertasi pembentukan realitas baru. Waham
dan halusinasi termasuk kedalam gejala psikotik.1 Urutan prioritas yang dipakai
dalam mennetukan psikotikk akut yang dipakai ialah onset yang akut (2 minggu)
sebagai ciri khas yang menentukan seluruh kelompok, adanya sindrom yang khas,
atau adanya stress akut yang terkait. Onset akut didefinisikan sebagai suatu
perubahan dari tanpa gejala psikotik ke keadaan psikotik yang jelas yang terjadi
dalam kurun waktu 2 mingu atau kurang.sindrom yang khas dapat disebut juga
polimorfik yaituadanya keadaan yang beraneka ragam dan berubah cepat. Stress
akut yang terkait tersebut berarti bahwa gejala psikotik yang pertama terjadi
dalam waktu 2 minggu sesudah satu kejadian atau lebih yang dianggap menekan
bagi kebanyakan orang.
Pada pedoman diagnostic tidak ada gangguan pada kelompok ini yang
memenuhi kriteria untuk episode manik (F30) dan depresif (F32), walapun
perubahan emosional dan gejala afektif dapat menonjol. Gangguan ini juga harus
dipastikan bukan karena penyebab organuk seperti trauma kapitis, delirium atau
dimensia. Demikian juga tidak boleh terdapat intoksikasi yang jelas karena
obat-obatan dan alcohol. Penting untuk dinilai bahwa kriteria 2 minggu tidak
diajukan sebagai jangka waktu terjadinya kepaahan dan gangguan yang maksimal,
tetapi sebagai jangka waktu gejala psikotik menjadi nyata dan mengganggu
sedeikitnya beberapa aspek kehidupan dan pekerjaan. Periode prodromal berupa
anxietas, depresi, penarikan diri secara social tidak memenuhhi untuk dimasukkan
kedalam kurun waktu tersebut.2

14
Gangguan psikotik akut lir-skizofrenia adalah suatu gangguan psikotik akut
yang secara komparatif bersifat cukup stabil dan memenuhi kriteria untuk
skizofrenia (F20) tetapi hanya berlangsung kurang dari satu bulan. Suatu derajat
variasi dan istabilitas emosional mungkin ada tetapi tidak separah pada polimorfik
(F23.0). Pedoman diagnosis berdasarkan PPDGJ III (Pedoman Penggolongan
Diagnostik Gangguan Jiwa III) adalah:
a. Onset gejala psikotik harus akut (dua minggu atau kurang, dari suatu
keadaan nonpsikotik menjadi keadaan psikotik yang jelas)
b. Fejala-gejala yang memenuhi kriterio skizofrenia (F20) harus sudah ada
untuk sebagian besar waktu sejak berkembangnya gambaran klinis
psikotik yang jelas
c. Kriteria untuk psikosis polimorfik akut tidak terpenuhi.
Apabila gejala-gejala skizofrenia menetap untuk waktu lebih dari satu bulan
lamanya, maka diagnosis harus diubah menjadi skizofrenia (F20).
Sedangkan diagnosis skizofrenia dapat ditegakkan apabila terdapat gejala,
harus ada sedikitnya satu gejala berikut amat jelas (dan biasanya dua gejala atau
lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam / jelas):3
A. “thought echo” : isi pikirannya sendiri yang berulang / bergema dalam
kepalanya
“thought insertion or withdrawal” : isi pikiran yang asing dari luar masuk
kedalam pikirannya (insertion), atau isi pikirannya diambil keluar oleh
sesuatu (withdrawal).
“thought broadcasting” : isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain /
umum mengetahuinya.
B. “delusion of control” : waham dirinya dikendalikan oleh kekuatan tertentu
“delusion of influence” : waham dirinya dipengaruhi oleh kekuatan dari luar
“delusion of pasivity” : waham dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap
suatu kekuatan dari luar
“delusion of perception” : pegalaman inderawi yang tak wajar yang
bermakna, sifat mistik dan mukjizat.
C. Halusinasi auditorik : suara berkomentar terus menerus / mendiskusikan
perihal pasien sendiri.

15
D. Waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak
wajar, misal: perihal keyakinan agama dan politik, mampu mengendalikan
cuaca, berkomunikasi dengan makhluk asing.
Atau paling sediki dua gejala dibawah ini harus ada secara jelas:
E. Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa aja, apabila disertai baik oleh
waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa
kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai ide-ide berlebihan (over-valued
issue) yang menetap, atau apaila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu
atau berbulan-bulan terus menerus.
F. Arus pikiran yang terputus (break) atau mengalami sisipan (interpolation),
yang berkaibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan atau
neologisme.
G. Perilaku katatonik, keadaan gaduh gelisah (ex-citement), posisi tubuh tertentu
(posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme dan stupor.
H. Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, respon
emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan
penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; akan
tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau
medikasi neuroleptika.
Adanya gejala-gejala khas tersebut telah berlangsung satu bulan atau
lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal).
Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam
keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku probadi (personal
behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak
berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude) dan
penarikan diri secara sosial.3
Pada pasien ini ditemukan gejala-gejala berupa halusinasi auditorik dan
waham kebesaran yang menonjol, yang merupakan gejala pada skizofrenia dan
memenuhi kriteria untuk skizofrenia. Gejala psikotik yang dialami pasien terjadi
dalam kurun waktu sekitar 2 minggu yang mendukung diagsosis psikotik akut.
Halusinasi dan waham yang terjadi pada pasien ini tidak berubah dalam jenis dan
intensitasnya dari hari kehari atau dalam hari yang sama dan tidak terdapat

16
keadaan emosional yang beraneka ragam2 hal ini mejadikan diagnosis psikotik
polimorfik dapat disingkirkan. Oleh karena itu pasien ini termasuk dalam
diagnosis psikotik akut lir-skizofenia.
Pengobatan dengan gangguan psikosis diobati dengan antipsikotik. Obat
antipsikotik dibagi dalam dua kelompok, berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu
dopamine receptor antagonist atau antipsikotika generasi I (tipikal) dan
serotonin-dopamine antagonist atau antipsikotika generai II (atipikal). Pada terapi
psikofarmaka pasien diberikan terapi antipsikotik golongan atipikal berupa
Risperidone 2 x 2 mg. Pemilihan risperidon sebagai terapi psikofarmaka pada
pasien ini karena risperidon merupakan golongan antipsikotik atipikal dimana
obat ini merupakan antagonis serotonin (terutama 5 HT 2 reseptor) dan dopamin
(D2) yang memiliki efek untuk menurunkan gejala negative dan positif pada
sindrom psikosis. Selain itu, obat anti psikotik golongan atipikal memiliki efek
samping EPS yang ringan bahkan tidak ada. Efek samping EPS diantaranya
parkinsonisme (rigiditas, bradikinesia, tremor) dalam bentuk ringan dapat terlihat
seperti penurunan gerakan spontan, ekspresi wajah topeng, pembicaraan tidak
spontan dan kesulitan dalam memulai aktivitas atau disebut dengan akinesia,
selain itu Distonia Akut yaitu spasme otot yang menetap atau intermiten, otot
yang sering menetap spasme yaitu otot badan, leher dan kepala, serta
menyebabkan involunter. Efek samping EPS yang lain adalah Akatisia, ini yang
paling membuat penderitaan.4 Pemberian antipsikosis dimulai dengan dosis awal
yang sesuai dengan dosis anjuran, dinaikkan setiap 2 – 3 hari sampai mencapai
dosis efektif kemudian dievaluasi setiap 2 minggu dan bila perlu dinaikkan
sampai dosis optimal. Risperidon tersedia dalam bentuk sediaan tablet dan cairan.
Dosis awal yang dianjurkan adalah 2mg/hari dan besoknya dapat dinaikkan
menjadi 4mg/hari.
Selain terapi psikofarmaka, pasien juga diberikan terapi berupa psikoterapi
baik terhadap pasien maupun keluarga pasien. Terapi terhadap pasien meliputi
terapi edukatif berupa pemberian informasi dan edukasi mengenai penyakit
termasuk faktor risiko, gejala, faktor penyebab, cara pengobatan dan prognosis
pasien.5 Pasien juga diberikan terapi suportif berupa intervensi secara langsung
yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan sosial pasien dengan cara

17
meningkatkan rasa percaya diri dalam komunikasi dan interaksi serta
pembelajaran agar tercapai kualitas hidup yang baik. Pasien juga diajarkan
bagaimana cara merespon halusinasi yang dialami pasien yang bertujuan untuk
memperbaiki persepsi dan proses berpikir pasien. Tujuan dari psikoterapi suportif
adalah memperkuat mekanisme defense yang ada, memperluas mekanisme
pengendalian dan perbaikan ke suatu keadaan yang lebih adaptif.4

Terapi lain yang diberikan adalah terapi psikoedukasi terhadap keluarga,


dimana keluarga berperan penting dalam kehidupan sehari-hari pasien meliputi
terapi informasi dan edukasi mengenai penyakit yang dialami pasien, gejala gejala
yang ada pada pasien, kemungkinan penyebab, dampak, serta faktor pemicu
kekambuhan penyakit sehingga keluarga dapat lebih waspada dan disiplin dalam
pemantauan dan penatalaksanaan terhadap pasien dan lebih waspada jika suatu
waktu terdapat gejala kekambuhan, serta keluarga dapat memberikan dukungan
secara psikis terhadap pasien dengan interaksi dan aktivitas serta membantu
memperbaiki hubungan sosial pasien jika pasien sudah kembali kerumah. Selain
itu keluarga juga diberikan informasi bahwa penyakit yang dialami pasien bersifat
jangka panjang, sehingga dibutuhkan kesabaran, dan perhatian serta selalu
mengingatkan pasien untuk kontrol rutin ke dokter. Keluarga juga diharapkan
menjadi pengawas minum obat bagi pasien.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan, B.J., Sadock, V.A. 2012. Kaplan & Sadock’s Buju Ajar Psikiatri
Klinis edisi ke-2. ECG.
2. Dapartemen Kesehatan RI. 1993. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa di Indonesia III. Jakarta: Direktorat Jendral Pelayanan Medik.
3. Maslim, R. 2013. Buku saku diagnosis gangguan jiwa rujukan ringkas dari
PPDGJ-III dan DSM-V. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika
Atma Jaya.
4. Elvira, S.D., Hadisukanto, G. 2014. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan
Penerbit FKUI.
5. Yani, Fitri. 2015. Kelainan mental gangguan psikotik. Lampung. Jurnal
Unila.

19
TABEL FOLLOW UP
Kamis, 20 Desember S: Pasien masih gelisah. Pasien masih mengatakan
2018 mendengar bisikan yang mengomentari apa yang dia
Bangsal Bangau lakukan (Halusinasi auditorik), Pasein masih merasa ada
yang ingin mncelakainya dan masih merasa dirinnya.
Pasien juga masih merasa dirinya adalah superhero.
Tidur tidak nyenyak, nafsu makan baik.

O: KU baik, afek sesuai, mood distimik, kontak (+)


TD: 120/80 mmHg, N: 102x/menit, RR:22x/menit,
T:36,5 C

A: F23.2 Psikotik akut Lir Skizofrenia

P: Risperidon 2x2 mg
THP 2 x 2 mg
CPZ 1 x 100 mg (kp)
Jumat , 21 Juni 2018 S: Pasien masih gelisah. Pasien masih mengatakan
Bangsal Bangau mendengar bisikan. Pasien juga masih merasa dirinya
adalah superhero. Sudah bisa tidur, nafsu makan baik.

O: KU baik, afek sesuai, mood distimik, kontak (+)


TD: 120/80 mmHg, N:92x/menit, RR:20x/menit, T:36,7
C

A: F23.2 Psikotik akut Lir Skizofrenia

P: Risperidon 2x2 mg
THP 2 x 2 mg
CPZ 1 x 100 mg (kp)
Sabtu, 22 Desember S: pasien masih gelisah. Pasien masih mengatakan
2018 mendengar bisikan. Pasien juga masih merasa dirinya

20
Bangsal Bangau adalah superhero. Sudah bisa tidur, nafsu makan baik.

O: KU baik, afek sesuai, mood distimik, kontak (+)


TD: 110/80 mmHg, N:90x/menit, RR:20x/menit, T:36,5
C

A: F23.2 Psikotik akut Lir Skizofrenia

P: Risperidon 2x2 mg
THP 2 x 2 mg
CPZ 1 x 100 mg (kp)
Selasa, 25 Desember S: Pasien masih mengatakan mendengar bisikan tetapi
2018 tidak sering. Pasien juga masih merasa dirinya adalah
Bangsal Bangau superhero. Sudah bisa tidur, nafsu makan baik.

O: KU baik, pasien terlihat diam, afek sesuai, mood


distimik, kontak (+)
TD: 120/70 mmHg, N:88x/menit, RR:20x/menit, T:36,3
C

A: F23.2 Psikotik akut Lir Skizofrenia

P: Risperidon 2x2 mg
THP 2 x 2 mg
CPZ 1 x 100 mg (kp)
Rabu, 26 Desember S: Pasien masih mengatakan mendengar bisikan tetapi
2018 jarang. Sudah bisa tidur, nafsu makan baik.
Bangsal Bangau
O: KU baik, pasien terlihat tenang, afek sesuai, mood
distimik, kontak (+)
TD: 120/80 mmHg, N:90x/menit, RR:22x/menit, T:36,8
C

21
A: F23.2 Psikotik akut Lir Skizofrenia

P: Risperidon 2x2 mg
THP 2 x 2 mg
CPZ 1 x 100 mg (kp)

22