Anda di halaman 1dari 21

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. 2

BAB I ............................................................................................................................ 3

PENDAHULUAN ........................................................................................................ 3

A. Latar Belakang ................................................................................................... 3

B. Rumusan Masalah .............................................................................................. 4

BAB II ........................................................................................................................... 5

PEMBAHASAN ........................................................................................................... 5

A. Kehilangan (loss) ............................................................................................... 5

B. Kematian ( death ) ............................................................................................ 12

C. Berduka ............................................................................................................ 13

BAB III ....................................................................................................................... 19

PENUTUP ................................................................................................................... 19

A. Kesimpulan ...................................................................................................... 19

B. Saran ................................................................................................................. 19

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 20


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
rahmat dan karunia-Nya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga penulis
dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Berbagai Budaya Terkait Konsep
Kematian, Kehilangan Dan Berduka” makalah ini dibuat untuk memenuhi mata
kuliah Psikososial Dan Budaya Keperawatan.
Dalam makalah ini penulis banyak memperoleh bantuan dan bimbingan dari
beberapa pihak, untuk itu ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada:
1. Ibu Ns Desti Dwi Ariani, MMRselaku dosen pengampu mata kuliah
Psikososial Dan Budaya Keperawatan.
2. Teman-teman yang selalu membantu dalam pembuatan makalah ini sekaligus
membantu untuk mendapatkan referensi tambahan untuk memperlengkap
makalah yang telah penulis buat.
Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan. Hal ini disebabkan keterbatasan penulis dalam segi ilmu, pengalaman,
dan referensi penulis dalam penulisan makalah ini. Untuk itu, kritik dan saran yang
konstruktif dari berbagai pihak sangat diharapkan bagi penulis. Harapan penulis
semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam menambah wahana pengetahuan bagi
kita semua.

Kubu Raya, Oktober 2018

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehilangan adalah suatu keadaan ketika individu berpisah dengan
sesuatu yang sebelumnya ada atau dimiliki, baik sebagian atau keseluruhan
(Riyadi dan Purwanto, 2009). Menangis, memanggil nama orang yang sudah
meninggal secara terus-menerus, marah, sedih dan kecewa merupakan
beberapa respon yang tampak saat seseorang mengalami peristiwa kehilangan,
terutama akibat kematian orang yang dicintai. Keadaan seperti inilah yang
menurut Puri, Laking, dan Treasaden (2011) disebut sebagai proses berduka,
yang merupakan suatu proses psikologis dan emosional yang dapat
diekspresikan secara internal maupun eksternal setelah kehilangan. Individu
yang berduka membutuhkan waktu untuk menerima suatu peristiwa
kehilangan, dan proses berduka merupakan suatu proses yang sangat
individual. Fase akut berduka biasanya berlangsung 6-8 minggu dan
penyelesaian respon kehilangan atau berduka secara menyeluruh memerlukan
waktu 1 bulan sampai 3 tahun (Keliat, Helena, dan Farida, 2011). Rotter
(2009) mengatakan bahwa proses berduka memiliki karakteristik yang unik,
membutuhkan waktu, dapat difasilitasi tetapi tidak dapat dipaksakan, tetapi
pada umumnya mengikuti tahap yang dapat diprediksi. Proses berduka
merupakan suatu proses yang unik dan berbeda pada setiap individu. Tidak
ada yang dapat memastikan kapan seseorang dapat melewati semua tahapan
dalam proses berduka, yang dapat dilakukan adalah memfasilitasi sehingga
proses berduka yang dialami individu dapat sampai pada suatu tahap
penerimaan. Sanders dalam Bobak, Lowdermilk, dan Jeasen (2005)
mengatakan bahwa intensitas dan durasi respon berduka bergantung pada
banyak hal dan salah satunya adalah usia.
Indriana (2012) mengatakan bahwa perbedaan usia antara orang tua
dan anak-anak memengaruhi pola pikir mereka tentang kematian, dengan
perkembangan anak, maka merekapun lebih matang menghadapi kematian.
Seiring dengan meningkatnya usia seseorang maka seharusnya mereka akan
lebih banyak memiliki pengalaman langsung mengenai kematian ketika
teman-teman atau kerabat mereka menderita sakit dan meninggal, sehingga
peristiwa kematian seharusnya tidak lagi menjadi suatu peristiwa yang tidak
bisa untuk mereka hadap.

B. Rumusan Masalah
1. Untuk mengetahui Konsep kehilangan
2. Untuk mengetahui Konsep kematian
3. Untuk mengetahui konsep berduka dan respon berduka
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kehilangan (loss)
1. Definisi kehilangan
Kehilangan adalah suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu
yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian
atau keseluruhan. Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah
dialami oleh setiap individu selama rentang kehidupan, sejak lahir
individu sudah mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya
kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda (Yosep, 2011).
Kehilangan adalah situasi aktual atau potensial ketika sesuatu
(orang atau objek) yang dihargai telah berubah, tidak ada lagi, atau
menghilang. Seseorang dapat kehilangan citra tubuh, orang terdekat,
perasaan sejahtera, pekerjaan, barang milik pribadi, keyakinan, atau sense
of self baik sebagian ataupun keseluruhan. Peristiwa kehilangan dapat
terjadi secara tiba-tiba atau bertahap sebagai sebuah pengalaman
traumatik. Kehilangan sendiri dianggap sebagai kondisi krisis, baik krisis
situasional ataupun krisis perkembangan (Mubarak & Chayatin, 2007)
Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami
suatu kekurangan atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada
atau pernah dimiliki. Kehilangan merupakan suatu keadaan individu
berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada menjadi tidak ada, baik
sebagian ataupun seluruhnya.
2. Tipe Kehilangan
Potter dan Perry (2005) menyatakan kehilangan dapat dikelompokkan dalam
5 kategori: kehilangan objek eksternal, kehilangan lingkungan yang telah
dikenal, kehilangan orang terdekat, kehilangan aspek diri, dan kehilangan
hidup.
a. Kehilangan objek eksternal

Kehilangan benda eksternal mencakup segala kepemilikan yang telah

menjadi usang, berpindah tempat, dicuri, atau rusak karena bencana alam.

Bagi seorang anak benda tersebut mungkin berupa boneka atau selimut,

bagi seorang dewasa mungkin berupa perhiasan atau suatu aksesoris

pakaian. Kedalaman berduka yang dirasakan seseorang tehadap benda

yang hilang tergantung pada nilai yang dimiliki orang tersebut terhadap

benda yang dimilikinya, dan kegunaan dari benda tersebut.

b. Kehilangan lingkungan yang telah dikenal

Kehilangan yang berkaitan dengan perpisahan dari lingkungan yang telah

di kenal mencakup meninggalkan lingkungan yang telah dikenal selama

periode tertentu atau kepindahan secara permanen. Contohnya, termasuk

pindah ke kota baru, mendapat pekerjaan baru, atau perawatan di rumah

sakit. Kehilangan melalui perpisahan dari lingkungan yang telah di kenal

dan dapat terjadi melalui situasi maturasional, misalnya ketika seorang

lansia pindah ke rumah perawatan, atau situasi situasional, contohnya

kehilangan rumah akibat bencana alam atau mengalami cedera atau

penyakit.
Perawatan dalam suatu institusi mengakibatkan isolasi dari kejadian rutin.

Peraturan rumah sakit menimbulkan suatu lingkungan yang sering

bersifat impersonal dan demoralisasi. Kesepian akibat lingkungan yang

tidak dikenal dapat mengancam harga diri dan membuat berduka menjadi

lebih sulit.

c. Kehilangan orang terdekat

Orang terdekat mencakup orang tua, pasangan, anak-anak, saudara

sekandung, guru, pendeta, teman, tetangga, dan rekan kerja. Artis atau

atlet yang telah terkenal mungkin menjadi orang terdekat bagi orang

muda. Riset telah menunjukkan bahwa banyak hewan peliharaan

sebagai orang terdekat. Kehilangan dapat terjadi akibat perpisahan,

pindah, melarikan diri, promosi di tempat kerja, dan kematian.

d. Kehilangan aspek diri

Kehilangan aspek dalam diri dapat mencakup bagian tubuh, fungsi

fisiologis, atau psikologis. Kehilangan bagian tubuh dapat mencakup

anggota gerak, mata, rambut, gigi, atau payudara. Kehilangan fungsi

fisiologis mencakup kehilangan kontrol kandung kemih atau usus,

mobilitas, kekuatan, atau fungsi sensoris. Kehilangan fungsi psikologis

termasuk kehilangan ingatan, rasa humor, harga diri, percaya diri,

kekuatan, respek atau cinta. Kehilangan aspek diri ini dapat terjadi

akibat
penyakit, cedera, atau perubahan perkembangan atau situasi.

Kehilangan seperti ini, dapat menurunkan kesejahteraan individu.

Orang tersebut tidak hanya mengalami kedukaan akibat kehilangan

tetapi juga dapat mengalami perubahan permanen dalam citra tubuh

dan konsep diri.

e. Kehilangan hidup

Sesorang yang menghadapi kematian menjalani hidup, merasakan,

berpikir, dan merespon terhadap kejadian dan orang sekitarnya sampai

terjadinya kematian. Perhatian utama sering bukan pada kematian itu

sendiri tetapi mengenai nyeri dan kehilangan kontrol. Meskipun

sebagian besar orang takut tentang kematian dan gelisah mengenai

kematian, masalah yang sama tidak akan pentingnya bagi setiap orang.

Setiap orang berespon secara berbeda-beda terhadap kematian. orang

yang telah hidup sendiri dan menderita penyakit kronis lama dapat

mengalami kematian sebagai suatu perbedaan. Sebagian menganggap

kematian sebagai jalan masuk ke dalam kehidupan setelah kematian

yang akan mempersatukannya dengan orang yang kita cintai di surga.

Sedangkan orang lain takut perpisahan, dilalaikan, kesepian, atau

cedera. Ketakutan terhadap kematian sering menjadikan individu lebih

bergantung. Maslow (1954 dalam Videback, 2008) tindakan manusia

dimotivasi
oleh hierarki kebutuhan, yang dimulai dengan kebutuhan fisiologis,

(makanan, udara, air, dan tidur), kemudian kebutuhan keselamatan

(tempat yang aman untuk tinggal dan bekerja), kemudian kebutuhan

keamanan dan memiliki.Apabila kebutuhan tersebut terpenuhi,

individu dimotivasi oleh kebutuhan harga diri yang menimbulkan rasa

percaya diri dan adekuat. Kebutuhan yang terakhir ialah aktualisasi

diri, suatu upaya untuk mencapai potensi diri secara keseluruhan.

Apabila kebutuhan manusia tersebut tidak terpenuhi atau diabaikan

karena suatu alasan, individu mengalami suatu kehilangan. Beberapa

contoh kehilangan yang relevan dengan kebutuhan spesifik manusia

yang diindentifikasi dalam hierarki Maslow antara lain:

1) Kehilangan fisiologis: kehilangan pertukaran udara yang adekuat,

kehilangan fungsi pankreas yang adekuat, kehilangan suatu

ekstremitas, dan gejala atau kondisi somatik lain yang

menandakan kehilangan fisiologis.

2) Kehilangan keselamatan: kehilangan lingkungan yang aman,

seperti kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan publik, dapat

menjadi titik awal proses duka cita yang panjang misalnya,

sindrom stres pasca trauma. Terungkapnya rahasia dalam

hubungan profesional dapat dianggap sebagai suatu kehilangan

keselamatan psikologis sekunder akibat hilangnya rasa percaya

antara klien dan pemberi perawatan.


3) Kehilangan keamanan dan rasa memiliki: kehilangan terjadi ketika

hubungan berubah akibat kelahiran, perkawinan, perceraian, sakit,

dan kematian. Ketika makna suatu hubungan berubah, peran

dalam keluarga atau kelompok dapat hilang. Kehilangan seseorang

yang dicintai mempengaruhi kebutuhan untuk mencintai dan

dicintai.

4) Kehilangan harga diri: kebutuhan harga diri terancam atau

dianggap sebagai kehilangan setiap kali terjadi perubahan cara

menghargai individu dalam pekerjaan dan perubahan hubungan.

Rasa harga diri individu dapat tertantang atau dialami sebagai

suatu kehilangan ketika persepsi tentang diri sendiri berubah.

Kehilangan fungsi peran sehingga kehilangan persepsi dan harga

diri karena keterkaitannya dengan peran tertentu, dapat terjadi

bersamaan dengan kematian seseorang yang dicintai.

5) Kehilangan aktualisasi diri: Tujuan pribadi dan potensi individu

dapat terancam atau hilang seketika krisis internal atau eksternal

menghambat upaya pencapaian tujuan dan potensi tersebut.

Perubahan tujuan atau arah akan menimbulkan periode duka cita

yang pasti ketika individu berhenti berpikir kreatif untuk

memperoleh arah dan gagasan baru. Contoh kehilangan yang

terkait dengan aktualisasi diri mencakup gagalnya rencana

menyelesaikan pendidikan, kehilangan harapan untuk menikah


dan berkeluarga, atau seseorang kehilangan penglihatan atau

pendengaran ketika mengejar tujuan menjadi artis atau komposer.

f. Faktor presdisposisi yang mempengaruhi reaksi kehilangan


Faktor predisposisi yang mempengaruhi reaksi kehilangan adalah
genetik, kesehatan fisik, kesehatan jiwa, pengalaman masa lalu
(Suliswati, 2005).
1) Genetik
Individu yang dilahirkan dan dibesarkan di dalam keluarga yang
mempunyai riwayat depresi biasanya sulit mengembangkan sikap
optimistik dalam menghadapi suatu permasalahan, termasuk
menghadapi kehilangan.
2) Kesehatan fisik
Individu dengan keadaan fisik sehat, cara hidup yang teratur,
cenderung mempunyai kemampuan mengatasi stres yang lebih
tinggi dibandingkan dengan individu yang sedang mengalami
gangguan fisik.
3) Kesehatan jiwa/mental
Individu yang mengalami gangguan jiwa terutama mempunyai
riwayat depresi, yang ditandai dengan perasaan tidak berdaya,
pesimistik, selalu dibayangi oleh masa depan yang suram,
biasanya sangat peka terhadap situasi kehilangan.
4) Pengalaman kehilangan di masa lalu
Kehilangan atau perpisahan dengan orang yang bermakna di masa
kanak-kanak akan mempengaruhi kemampuan individu dalam
menghadapi kehilangan di masa dewasa.
g. Dampak kehilangan
Uliyah dan Hidayat (2011) mengatakan bahwa kehilangan pada
seseorang dapat memiliki berbagai dampak, diantaranya pada masa
anak-anak, kehilangan dapat mengancam kemampuan untuk
berkembang, kadang- kadang akan timbul regresi serta merasa takut
untuk ditinggalkan atau dibiarkan kesepian. Pada masa remaja atau
dewasa muda, kehilangan dapat terjadi disintegrasi dalam keluarga,
dan pada masa dewasa tua, kehilangan khususnya kematian pasangan
hidup dapat menjadi pukulan yang sangat berat dan menghilangkan
semangat hidup orang yang ditinggalkan.

B. Kematian ( death )
Kematian adalah berhentinya fungsi sirkulasi dan pernapasan yang tidak
dapat dikembalikan atau berhentinya semua fungsi otak seluruhnya yang
ireversibel, termasuk batang otak.
Secara klinis merupakan kondisi terhentinya respirasi, nadi dan tekanan
darah serta hilangnya respon terhadap stimulus eksternal, ditandai dengan :
1. Aktivitas listrik otak atau fungsi jantung terhenti
2. Paru secara menetap atau terhentinya kerja otak secara menetap.
Perubahan tubuh setelah kematian
1. Kaku ( Rigor mortis, dapat terjadi sekitar 2 – 4 jam setelah kematian
2. Dingin ( Algor mortis ) suhu turun perlahan-lahan
3. Post morten decomposition yaitu terjadi rigor mortis pada daerah yang
tertekan serta melunakkan jaringan yang dapat menimbulkan banyak
bakteri.
C. Berduka
Merupakan reaksi emosional terhadap kehilangan. Hal ini diwujudkan
dalam berbagai cara yang unik pada masing-masing orang dan didasarkan
pada pengalaman pribadi, ekspektasi budaya dan keyakinan spiritual yang
dianutnya. Sedangkan istilah kehilangan ( bereavement) mencakup berduka
dan berkabung ( mourning), yaitu perasaan didalam dan reaksi keluar orang
ditinggalkan. Berkabung adalah periode penerimaan terhadap kehilangan dan
berduka. Hal ini terjadi dalam masa kehilangan dan sering dipengaruhi oleh
kebudayaan dan kebiasaan.

Jenis berduka antara lain sebagai berikut:

1. Berduka normal, terdiri atas perasaan , perilaku, dan reaksi yang


normal terhadap kehilangan (kesedihan, kemarahan, menangis,
kesepian, dan menarik diri dari aktivitas untuk sementara).
2. Berduka antisipatif, Proses melepaskan diri yang muncul sebelum
kehilangan atau kematian yang sesungguhnya terjadi. Misalnya ketika
menerima diagnosis terminal, seseorang akan memulai proses
perpisahan dan menyelesaikan berbagai urusan di dunia sebelum
ajalnya tiba.
3. Berduka yang rumit, dialami oleh seseorang yang sulit untuk maju ke
tahap berikutnya, yaitu tahap kedukaan normal. Masa berkabung
seolah-olah tidak kunjung berakhir dan dapat mengancam hubungan
orang yang bersangkutan dengan orang lain.
4. Berduka tertutup, yaitu kedukaan akibat kehilangan yang tidak dapat
diakui secara terbuka, (kehilangan pasangan karena AIDS, anak
mengalami kematian orang tua, atau ibu yang kehilangan anaknya di
kandungan atau ketika bersalin).
Respons berduka seseorang terhadap kehilangan dapat melalui tahap-tahap berikut
(Kubler-Rose, dalam Potter & Perry, 1997).
1. Mengingkari ( Denial
Indriana (2012) mengatakan bahwa penyangkalan merupakan tahap
pertama dari Kubler-Ross’s Stage of dying dimana pada tahap ini seseorang
menyangkal bahwa kematian itu akan benar-benar datang. Penyangkalan,
bagaimanapun hanya merupakan defence yang bersifat sementara, dan
biasanya digantikan oleh bertambahnya kesadaran ketika seseorang itu
dihadapkan pada hal-hal seperti pertimbangan keuangan, permasalahan yang
belum selesai, dan perasaan khawatir mengenai keluarga yang ditinggalkan.
Teori ini menggambarkan bahwa penyangkalan merupakan sebuah
fase dimana seseorang yang mengalami peristiwa kematian orang yang ia
cintai merasa kaget dan tidak percaya dengan peristiwa yang terjadi dalam
hidupnya. Keadaan ini menurut asumsi peneliti dapat terjadi akibat peristiwa
kematian yang dialami terjadi secara tiba-tiba dan siapa orang yang meninggal
tersebut bagi orang yang ditinggalkan untuk selama-lamanya. Pendapat ini
sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Rando dalam Rotter (2009)
yang mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi kehilangan
dimana seseorang akan sulit menerima suatu peristiwa kehilangan diantaranya
adalah arti kehilangan, serta sifat kehilangan yang tiba-tiba (tidak dapat
diramalkan) dan tidak diharapkan.
2. Marah ( Anger )
Indriana (2012) mengatakan bahwa marah merupakan tahap kedua dari
Kubler-Ross’s Stage of dying , yaitu suatu tahapan dimana seseorang yang
menghadapi suatu peristiwa kematian merasa bahwa penyangkalan tidak
mungkin lagi diteruskan, dan orang tersebut menjadi sulit untuk dirawat,
karena kemarahan akan diarahkan dan diproyeksikan kepada para tenaga
medis, perawat, anggota keluarga, bahkan Tuhan. Peneliti beranggapan bahwa
seseorang yang berada pada tahapan ini akan mengekspresikan bentuk
kemarahannya dan ketidakpuasannya melalui berbagai macam kata-kata dan
tindakan kepada siapa saja dan apa saja yang dianggapnya sebagai pihak yang
bertanggung jawab baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap
meninggalnya orang yang ia cintai.
Pendapat ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Riyadi
dan Purwanto (2009) yang mengatakan bahwa seseorang yang berada
ditahapan marah akan memunculkan ekspresi seperti bicara kasar, agresif, dan
akan berkata seperti “Saya benci dengan dia karena...” dan “Ini terjadi karena
dokter tidak sungguh-sungguh dalam pengobatannya”. Seluruh informan
meluapkan dan memproyeksikan kemarahannya atas peristiwa yang terjadi
kepada diri sendiri, orang lain maupun apa saja yang dianggap menjadi
penyebab suatu peristiwa kematian orang yang ia cintai. Mereka beranggapan
bahwa orang lain yang berada disekitarnya termasuk diri mereka sendiri tidak
lebih penting dari orang yang mereka cintai yang sudah meninggal dunia dan
tidak pantas lagi untuk dipedulikan.Peneliberpendapat bahwa kejadian yang
terjadi sebelum peristiwa kematian orang yang dicintai terjadi merupakan
suatu hal yang sangat mempengaruhi bagaimana pandangan dan perilaku yang
ditampilkan seseorang yang ditinggalkan terhadap kejadian tersebut.
Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh
Kusumawati dan Hartono (2010) yang mengatakan bahwa persepsi individu
terhadap kejadian, arti kejadian tersebut pada individu, pengaruh kejadian
terhadap masa depan individu, mekanisme koping yang dimiliki individu dan
kehilangan orang yang dicintai merupakan beberapa faktor yang dapat
menyebabkan seseorang mengalami suatu masalah dalam dirinya, yang jika
berlangsung terus menerus akan mengakibatkan timbulnya rasa marah yang
dianggap menyebabkan masalah itu timbul.
Santrock (2007) yang mengatakan bahwa ketika berada pada tahap
marah dalam suatu proses berduka, individu akan menyadari bahwa ia tidak
dapat senantiasa menyangkal, oleh karena itu, orang tersebut akan sangat sulit
untuk diperhatikan karena perasaan marah yang dirasakan. Tawar-menawar
Tawar-menawar merupakan suatu tahap dalam proses berduka dimana
seseorang mengembangkan harapan bahwa kematian dapat saja diundur atau
ditunda. Secara psikologis, orang itu berkata “iya, aku, tapi…”.Penambahan
waktu hidup dalam hari, minggu atau bulan menjadi harapannya dan orang itu
berjanji untuk mengabdikan hidupnya kepada Tuhan atau untuk melayani
sesama (Indriana, 2012). Pendapat ini menunjukan bahwa seseorang yang
berada pada tahap tawar-menawar secara sadar telah menyadari bahwa orang
yang ia cintai sudah benar-benar pergi meninggalkannya untuk selama-
lamanya, namun seseorang yang berada pada tahapan ini, dengan berbagai
alasan beranggapan bahwa kematian yang sudah terjadi itu merupakan suatu
kejadian yang belum seharusnya terjadi pada saat itu, oleh karena itu kematian
orang yang ia cintai tersebut masih bisa dirundingkan dan dipindahkan ke
waktu yang lain.
Jahoda (2010) yang mengatakan bahwa sikap yang baik terhadap diri
sendiri, yaitu tidak merasakan harga diri yang rendah, tidak memiliki perasaan
yang negatif tentang kondisi diri dan selalu optimis dengan kemampuan diri
merupakan sikap yang harus tetap dimiliki oleh seseorang dalam menjalani
kehidupannya terutama dalam menghadapi pengalaman yang buruk.
Potter dan Perry (2005) mengatakan bahwa ciri lain dari proses tawar-
menawar adalah orang akan mencoba membuat kesepakatan secara halus atau
terang-terangan seolah kehilangan yang sudah terjadi dapat dicegah.
3. Tahap tawar-menawar
Terjadi penundaan kesadaran atas kenyataan terjadinya kehilangan dan
dapat mencoba untuk membuat kesepakatan secara halus atau terangterangan
seolah-olah kehilangan tersebut dapat dicegah. Individu mungkin berupaya
untuk melakukan tawar-menawar dengan memohon kemurahan Tuhan Yang
Maha Esa.
4. Depresi
Depresi merupakan tahap keempat dari Kubler-Ross’s Stage of dying , yaitu
suatu tahapan dimana seseorang yang menghadapi suatu peristiwa kematian
menghabiskan banyak waktu untuk menangis dan berduka, dan orang yang
berada pada tahap ini dapat berkata “saya sangat sedih, mengapa peduli
dengan yang lainnya?”, “saya akan mati…”, “apa keuntungannya?”, “saya
merindukan orang yang saya cintai”, dan “mengapa saya harus hidup?”
(Santrock, 2007).Keadaan seperti ini secara tidak langsung menggambarkan
bahwa depresi dapat terjadi akibat adanya suatu pengalaman yang
menyakitkan bagi seseorang sehingga orang tersebut mengungkapkan
perasaannya melalui kata-kata yang menggambarkan adanya suatu bentuk rasa
keputusasaan, kerinduan, dan kesedihan yang mendalam terhadap sesuatu.
Pendapat ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Lubis (2009)
yang mengatakan bahwa depresi merupakan suatu keadaan akibat pengalaman
yang menyakitkan, dimana individu yang mengalami depresi akan
menunjukan gejala seperti sedih yang berkepanjangan, perasaan tidak ada
harapan lagi, sensitif, hilang rasa percaya diri dan munculnya pikiran tentang
kematian yang berulang. Semua informan memiliki pandangan bahwa dirinya
sudah tidak berarti lagi sejak orang yang mereka cintai meninggal
dunia.Keadaan seperti ini dapat terjadi karena adanya hubungan dan interaksi
yang baik dalam keluarga yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
Kusumawati dan Hartono (2010) mengatakan bahwa hubungan dalam
keluarga yang mendukung dan interaksi yang berlangsung sepanjang proses
tumbuh kembang akan mempengaruhi sikap dan perilaku individu untuk
menanggapi,berhubungan serta berpikir tentang diri dan lingkungan dalam
konteks hubungan personal yang luas pada saat menghadapi suatu peristiwa
perpisahan atau kehilangan. Chaplin (2002) mengatakan bahwa depresi yang
bersifat negatif merupakan perasaan-perasaan, emosi, atau suasana hati yang
dirasakan negatif seperti perasaan sedih ( blues ), tertekan ( depressed ),
kesepian ( lonely ), putus asa dan menangis ( cry sad ). Pernyataan yang
dikemukakan oleh Baier dan Buechsel (2012) bahwa gejala proses depresi
saat menghadapi suatu peristiwa kematian adalah mengalami penurunan
mood, sedih dan menangis setiap hari, merasa putus asa, merasa bersalah yang
luar biasa, dan mulai percaya bahwa setelah peristiwa itu dirinya tidak akan
pernah merasa bahagia lagi. Hawari (2011) yang mengatakan bahwa depresi
terjadi dalam rentang waktu tertentu. Sebuah episode depresi pada umumnya
berlangsung 6 hingga 9 bulan, namun pada beberapa orang dapat berlangsung
dalam rentang waktu 2 tahun bahkan lebih. Depresi memiliki episode yang
berulang dan dapat terjadi beberapa kali.
5. Tahap penerimaan
Merupakan tahap yang berkaitan dengan reorganisasi perasaan kehilangan.
Pikiran yang selalu berpusat kepada objek yang hilang akan mulai berkurang
atau hilang. Individu telah menerima kenyataan kehilangan yang dialaminya
dan memulai memandang kedepan.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kehilangan adalah suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu
yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian
atau keseluruhan. Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami
oleh setiap individu selama rentang kehidupan, sejak lahir individu sudah
mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali
walaupun dalam bentuk yang berbeda (Yosep, 2011).
Kematian adalah berhentinya fungsi sirkulasi dan pernapasan yang tidak
dapat dikembalikan atau berhentinya semua fungsi otak seluruhnya yang
ireversibel, termasuk batang otak.
Berduka merupakan reaksi emosional terhadap kehilangan. Hal ini
diwujudkan dalam berbagai cara yang unik pada masing-masing orang dan
didasarkan pada pengalaman pribadi, ekspektasi budaya dan keyakinan
spiritual yang dianutnya

B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

Azizah, L. M. (2011). Keperawatan Lanjut Usia . Yogyakarta; Graha Ilmu

Baier, M & Ruth, B. (2012). A Model to Help Bereaved Individuals


Understand the Grief Process . Academic Journal Vol.16 (no.1), 28-14

Bobak., Lowdermilk., & Jeasen. (2005). Buku ajar keperawatan maternitas .


Diterjemahkan oleh: Wijayarini . Jakarta; EGC.

Chaplin, J. P. (2006). Kamus Lengkap Psikologi . Diterjemahkan oleh Kartini.


Jakarta; Raja Grafindo Persada

Hartono, Y & Kusumawati, F. (2010). Buku Ajar Keperawatan Jiwa . Jakarta;


Salemba Medika

Indriana, Y. (2012). Gerontologi dan Progeria . Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Keliat, B.A., Novy H.C.D., & Pipin, F. (2011). Manajemen Keperawatan


Psikososial dan Kader Kesehatan Jiwa . Jakarta; EGC

Lubis, N. L. (2009). Depresi: Tinjauan Psikologis . Jakarta; Prenada Media


Grup

Maryam, S. (2008). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya . Jakarta;


Salemba Medika

Nasir, A & Abdul, M. (2011). Dasar-Dasar Keperawatan Jiwa: Pengantar


dan Teori . Jakarta; Salemba Medika

Puri, B.K., P.J. Laking, & I.H. Treasaden. (2011). Buku Ajar Psikiatri .Edisi
2. Diterjemahkan oleh: W. M. Roan dan Huriawati Hartanto. Jakarta;
EGC
Potter & Perry (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,
Proses, dan Praktik . Diterjemahkan oleh Agung Waluyo. Jakarta: ECG

Riyadi, S & Teguh, P. (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa . Yogyakarta;


GRAHA ILMU

Rotter, J.C. (2009). Family Grief and Mourning. The Family Journal Vol.8
(no 3), 275.,

Santrock, J. W. (2007). Psikologi Abnormal . Edisi 5. Diterjemahkan oleh Tim


Fakultas Psikologi UI. Jakarta; Erlangga

Sunaryo. (2004). Psikologi untuk Keperawatan . Jakarta: EGC

Suseno, T. A. (2004). Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia: Kehilangan,


Kematian dan Berduka dan Proses Keperawatan . Jakarta; Sagung
Seto

Stanley, M & Patricia G.B. ( 2007). Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Edisi 2
Diterjemahkan oleh: Nety J. dan Sari K. Jakarta; EGC

Stuart & Sundeen. (2005). Buku Saku Keperawatan Jiwa . Diterjemahkan oleh
Achir Yani S. Hamid. Jakarta;EC

Johnson R Taylor W, 2005, Buku Ajar Praktik Kebidanan, EGC. Jakarta.

RS PGI Tjikini, 1996, Pedoman Perawatan Ruangan, Jakarta

Stevens, P.J.M. 1999, Ilmu Keperawatan, Jilid 2 / P.J.M. Stevens,F. Bordui,


J.A.G. van der Weyde: alih bahasa, J.A. Tomasowa; editor edisi
bahasa Indonesia, Monica Ester.-Ed.2.- EGC, Jakarta