Anda di halaman 1dari 5

Nama : Juminar Sapartini

NIM : SNR172120020

JUDUL : FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KEPATUHAN PENDERITA GANGGUAN JIWA MINUM
OBAT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ALIANYANG
PONTIANAK TAHUN 2018

A. Latar Belakang

Kesehatan jiwa menjadi masalah kesehatan yang sangat penting di

Negara Indonesia karena kurangnya dukungan keluarga, sosial, dan lingkungan.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes tahun 2013,

prevalensi gangguan mental dan emosional yang ditujukan dengan gejala-gejala

depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun keatas mencapai sekitar 14 juta orang

atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia. Prevelensi gangguan jiwa berat

mencapai 400 ribu orang atau sebanyak 1,7/ 1000 penduduk (Kemenkes RI,

2016).

Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) adalah sindrom pola perilaku

seseorang yang secara khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan (distress)

atau hendaya (impairment) di dalam satu atau lebih fungsi yang penting dari

manusia, yaitu fungsi psikologik, perilaku, biologik dan gangguan itu tidak

hanya terletak di dalam hubungan antara orang itu tetapi juga dengan masyarakat

(Yususf dkk, 2015).

Menurut (Maslim 2002 dalam Yusuf, dkk 2015), gangguan jiwa

merupakan deskripsi sindrom dengan variasi penyebab. Pada umumnya ditandai

adanya penyimpangan yang fundamental, karakteristik dari pikiran dan persepsi,

serta adanya afek yang tidak wajar atau tumpul. Faktor penyebab terjadinya

1
2

gangguan jiwa adalah krisis ekonomi, keturunan, usia jenis kelamin, keadaan

fisik, keadaan psikologi, keluarga, adat istiadat, pengetahuan, kepercayaan,

pekerjaan merupakan pemicu munculnya stres, depresi dan berbagai gangguan

kesehatan jiwa pada manusia.

Pengetahuan adalah suatu yang diketahui oleh seseorang melalui

pengenalan sumber informasi, ide yang diperoleh sebelumnya baik secara baik

formal maupun informal. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang

sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior).

Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek

positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini yang akan menentukan sikap

seseorang, semakin banyak aspek positif dan objek yang diketahui, maka akan

menimbulkan sikap makin positif terhadap objek tertentu (Notoatmodjo, 2010).

Menurut Wawan dan Dewi (2010) sikap (attitude) merupakan konsep

paling penting dalam psikologi sosial yang membahas unsur sikap baik sebagai

individu maupun kelompok. Sikap kaitannya dengan efek dan perannya dalam

pembentukan karakter dan sistem hubungan antar kelompok serta pilihan-pilihan

yang ditentukan lingkungan berdasarkan pengaruhnya terhadap perubahan.

Menurut Notoatmodjo (2014) komponen sikap terdiri atas tiga

komponen yang saling menunjang yaitu komponen kognitif, komponen efektif,

komponen konatif. Sikap menurut Notoatmodjo (2014) terdiri dari berbagai

tingkatan sikap yakni menerima (receiving), merespon (responding),

menghargai (valuing), bertanggung jawab (responsible). Sikap keluarga

merupakan hal yang sangat penting untuk membantu pasien bersosialisasi


3

kembali, menciptakan kondisi lingkungan suportif, menghargai pasien secara

pribadi dan membantu pemecahan masalah pasien.

Menurut Salvicion dan Celis (2005) dalam Dion dan Sinta (2013)

keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena

hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidupnya

dalam satu rumah tangga, berinteraksi dalam satu sama lain dan didalam

perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu

kebudayaan.

Menurut Jhonson & Leny (2010) ada delapan tugas pokok keluarga

sebagai berikut pemeliharan fisik keluarga dan para anggotanya, pemeliharaan

sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga, pembagian tugas masing-masing

anggotanya sesuai dengan kedudukannya masing-masing, sosialisasi antara

anggota keluarga, pengaturan jumlah anggota keluarga, pemeliharaan ketertiban

anggota keluarga, membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya.

Pengetahuan keluarga yang baik cenderung akan memberikan sikap

positif kepada pasien gangguan jiwa dalam meningkatkan motivasi dan

tanggung jawabnya dalam menjalani pengobatan dan melaksanakan perawatan

secara mandiri. Keluarga akan mempunyai sikap menerima pasien yang

mengalami gangguan jiwa, memberikan respon positif kepada pasien,

menghargai pasien sebagai anggota keluarga dan menumbuhkan sikap tanggung

jawab pada pasien sehingga terciptalah suatu perilaku keluarga yang positif,

khususnya terkait dengan bentuk perawatan yang diberikan keluarga pada

anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa (Notoatmodjo, 2014).


4

Keluarga memiliki peran penting dalam mengontrol pemberian obat dan

perawatan pada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa sehingga

pengetahuan, pendidikan dan sikap keluarga perlu untuk dipersiapkan guna

terbentuknya implementasi perawatan yang baik dan sehat. Selain itu faktor

pekerjaan dan kesempatan untuk meluangkan waktu bagi penderita gangguan

jiwa juga menentukan dalam pengobatan dan perawatan di rumah.

B. Fenomena Masalah

Penderita gangguan jiwa di wilayah kerja puskesmas Alianyang

berdasarkan survei pendahuluan dan informasi dari pemegang program CMHN

menunjukkan dari 48 penderita ganngguan jiwa terdapat 27 orang (56%) yang

rutin meminta rujukan untuk mendapatkan pengobatan. Peran keluarga sangat

penting dalam mengontrol pengobatan penderita gangguan jiwa dirumah.

Ketidak patuhan penderita gangguan jiwa dalam mengkonsumsi

pengobatan dapat berdampak pada kemampuan penderita gangguan jiwa dalam

mengontrol penyakitnya atau perawatan psikiatrik yang sedang dijalaninya di

rumah. Untuk itu peneliti tertarik untuk meneliti tentang faktor-faktor yang

berhubungan dengan kepatuhan penderita gangguan jiwa minum obat di

wilayah kerja puskesmas Alianyang

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan

kepatuhan penderita gangguan jiwa minum obat.

2. Tujuan Khusus:
5

a. Hubungan faktor pengetahuan dengan kepatuhan penderita gangguan jiwa

minum obat

b. Hubungan faktor sikap keluarga dengan kepatuhan penderita gangguan

jiwa minum obat

c. Hubungan karakteristik pendidikan keluarga dengan kepatuhan penderita

gangguan jiwa minum obat.

d. Hubungan karakteristik pekerjaan keluarga dengan kepatuhan penderita

gangguan jiwa minum obat