Anda di halaman 1dari 41

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
rahmat dan karunia-Nya yang telah dilimpahkan kepada penyusun selama
menempuh pendidikan dan dalam menyusun makalah yang berjudul Askep
Agregat Dalam Komunitas : Kesehatan Anak dan Remaja
Penyusunan makalah ini dalam rangka memenuhi salah satu prasyarat dari
mata kuliah Keperawatan Komunitas Program Studi S1 Non Reguler
Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan (STIK) Muhammadiyah
Pontianak.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi mahasiswa/i keperawatan dalam meningkatkan mutu pelayanan
kesehatan di masyarakat.

Kubu Raya, Maret 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 2
C. Tujuan Penulisan .......................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 4
A. Kesehatan Anak ........................................................................................... 4
1. Definisi ..................................................................................................... 4
2. Program Pokok Usaha Kesehatan Anak Disekolah.................................. 4
B. Kesehatan Remaja ....................................................................................... 9
1. Definisi ..................................................................................................... 9
2. Kesehatan Reproduksi Remaja ............................................................... 10
3. Perkembangan Seksual Remaja .............................................................. 11
4. Remaja dan Perilaku Seksual ................................................................. 13
5. Remaja dan Penyakit Menular................................................................ 14
6. Remaja dan Kehamilan .......................................................................... 16
C. Permasalahan yang Timbul pada Anak dan Remaja .................................. 17
D. Sikap Perawat dalam Menghadapi Masalah pada Anak dan Remaja ........ 22
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN ................................................................ 28
1. Asuhan Keperawatan Komunitas pada Anak ............................................. 28
2. Asuhan Keperawatan Komunitas pada Remaja ......................................... 34
BAB IV PENUTUP .............................................................................................. 38
A. Kesimpulan ................................................................................................ 38
B. Saran ........................................................................................................... 38
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 39

ii
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan
manusia. Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa
kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologi, perubahan
psikologi, dan perubahan sosial. Di sebagian masyarakat dan budaya masa
remaja pada umumnya di mulai pada usia 10-13 tahun dan berakhir pada
usia 18-22 tahun. World Health Organization (WHO) remaja merupakan
individu yang sedang mengalami masa peralihan yang secara berangsur-
angsur mencapai kematangan seksual, mengalami perubahan jiwa dari
jiwa kanak-kanak menjadi dewasa, dan mengalami perubahan keadaan
ekonomi dari ketergantungan menjadi relatif mandiri.
Dalam siklus kehidupan, masa remaja merupakan masa keemasan.
Pada masa ini terjadi banyak perubahan dan masalah, yang jika tidak cepat
di tangani akan menjadi masalah yang berkepanjangan dan berdampak
serius. Salah satu masalah remaja yang memerlukan perhatian adalah
masalah kesehatan, dimana kesehatan merupakan elemen penting manusia
untuk dapat hidup produktif. Remaja yang sehat adalah remaja yang
produktif sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Remaja adalah harapan bangsa, sehingga berlebihan jika dikatakan
bahwa masa depan bangsa yang akan datang akan ditentukan pada keadaan
remaja saat ini masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-
anak ke masa dewasa. Masa ini sering disebut dengan masa pubertas.
Namun demikian, menurut beberapa ahli, selain istilah pubertas digunakan
juga istilah adolesens ( dalam bahasa inggris adolescence ).
2

Remaja mempunyai kebutuhan nutrisi yang spesial, karena pada saat


tersebut terjadi perubahan yang pesat dan terjadi perubahan kematangan
fisiologis sehubungan dengan timbulnya pubertas. Perubahan pada masa
remaja akan memengaruhi kebutuhan , absropsi serta penggunaan zat
gizi hal ini di sertai dengan pembesaran organ dan jaringan organ tubuh
yang pesat. Perubahan hormon yang menyertai pubertas juga
menyebabkan banyak perubahan fisiologis yang memengaruhi kebutuhan
gizi pada remaja.
Selama ini perhatian masyarakat tertuju pada upaya peningkatan fisik
dan kurang memeperhatikan non fisik, yang juga merupakan faktor
penentu dalam keberhasilan seseorang remaja di kemudian hari. Faktor
mental emosional yang tidak di perhatikan menyebabkan seorang remaja
hanya sehat fisiknya, namun secara pisikologi rentan terhadap stres dan
tekanan hidup. Remaja yang demikian akan mudah mengalami masalah
mental emosional dan perilaku, seperti kesulitan belajar, kecemasan,
kenakalan remaja, dan ketergantungan NAPZA.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksuddengan kelompok khusus anak dan remaja ?
2. Apa saja masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak dan remaja?
3. Apa saja upaya peningkatan kesehatan yang dapat diberikan kepada
anak dan remaja yang mengalami masalah ?
4. Asuhan keperawatan seperti apa yang dapat diberikan pada kelompok
anak dan remaja yang mengalami masalah ?
3

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Agar mahasiswa /mahasiswi memperoleh informasi dan gambaran
tentang Asuhan Keperawatan Komunitas Pada Anak dan Remaja.
2. Tujuan khusus
a. Mampu menjelaskan konsep teori tentang kelompok khusus anak
dan remaja.
b. Mengetahui apasaja masalah kesehatan yang sering terjadi pada
anak dan remaja.
c. Mengetahui tindakan apa saja yang dapat dilakukan peningkatan
kesehatan yang dapat diberikan kepada anak dan remaja yang
mengalami masalah.
d. Dapat melakukan asuhan keperawatan yang tepat terhadap anak
dan remaja yang mengalami masalah.
4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kesehatan Anak
1. Definisi
Anak adalah seorang individu yang berada dalam satu rentang
perubahan perkembangan yang dimulai sejak bayi sampai remaja.
Masa anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang
dimulai sejak bayi (0-1 tahun), usia toddler (1-3 tahun), usia sekolah
(5-11 tahun), hingga remaja (11-18 tahun). (Maretha Vega Jelita,
2014)
Dalam proses berkembang anak mempunyai ciri fisik, kognitif,
konsep diri, pola koping, dan perilaku sosial. Pertumbuhan dan
perkembangan anak dimulai dari usia bayi dengan pemetaan hasil
pengukuran yang dapat dilihat dari grafik pertumbuhan standar dari
lahir sampai usia 3 tahun dan dari usia 3 sampai 18 tahun. Usia toddler
adalah individu yang menginjak usia diatas satu tahun lebih atau
masyarakat sering menyebutnya anak yang berusia dibawah lima
tahun atau Balita (Maretha Vega Jelita, 2014).
2. Program Pokok Usaha Kesehatan Anak Disekolah
Anak usia sekolah merupakan kelompok resiko yaitu suatu kondisi
yang dihubungkan dengan peningkatan kemungkinan adanya kejadian
penyakit. Hal ini tidak berarti bahwa jika faktor resiko tersebut ada
pasti akan menyebabkan penyakit, tetapi dapat berakibat potensial
terjadinya sakit atau kondisi yang membahayakan kesehatan secara
optimal dari populasi. Anak usia sekolah merupakan populasi resiko
karena anak banyak menghabiskan waktu diluar rumah, aktivitas fisik
5

anak semakin meningkat, pada usia ini anak akan mencari jati dirinya,
dan anak masih membutuhkan peran orang tua untuk membantu
memenuhi kebutuhan. Adapun progam usaha kesehatan anak yang
dapat dilakukan disekolah yaitu :
a. Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan adalah usaha sadar untuk menyiapkan
anak usia sekolah agar dapat tumbuh kembang sesuai, selaras,
seimbang dan sehat baik fisik, mental, sosial, maupun lingkungan
melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau yang diperlukan
bagi peranannya saat ini maupun dimasa mendatang.
Adapun tujuan pendidikan kesehatan meliputi :
1) Anak memiliki pengetahuan tentang ilmu keehatan termasuk
cara hidup sehat dan teratur.
2) Memiliki nilai dan sikap yang positif terhadap prinsip hidup
sehat.
3) Memiliki keterampilan dalam melaksanakan hal yang
berkaitan dengan pemeliharaan, pertolongan, dan perawatan
kesehatan.
4) Kebiasaan dalam hidup sehari-hari yang sesuai dengan syarat
kesehatan.
5) Mengerti dan menerapkan prinsip-prinsip mengutamakan
pencegahan penyakit dalam kaitannya dengan kesehatan dan
keselamatan dalam kehidupan sehari-hari.
6) Dapat memiliki daya tangkal terhadap pengaruh buruk dari
luar.
6

7) Memiliki tingkat kesegaran jasmani dan derajat kesehatan


yang optimal serta mempunyai daya tahan tubuh yang baik
terhadap penyakit.
Pelaksanaan pendidikan kesehatan diberikan melalui kegiatan
kurikuler dan ekstrakulikuler. Pelaksanaan pendidikan melalui
kegiatan kulikuler adalah pelaksanaan pendidikan kesehatan pada
jam pelajaran sesuai dengan garis-garis besar program pengajaran
melalui mata ajar sains dan ilmu pengetahuan sosial.
Pelaksanaannya dilakukan melalui peningkatan pengetahuan ,
penanaman nilai, dan sikap positif terhadap prnsip hidup sehat dan
peningkatan ketrampilan dan melaksanakan hal yang berkaitan
dengan pemeliharaan, pertolongan, dan perawatan kesehatan.
Materi pendidikan kesehatan disekolah dasar yang masuk dalam
sains pada KBK adallah kebersihan dan kesehatan pribadi,
makanan bergizi, pendidikan kesehatan reproduksi dan pengukuran
tingkat kesegaran jasmani.
b. Pelayanan Kesehatan
Penekanan utama adalah upaya peningkatan (promotif),
pencegahan (preventif), pengobatan (kkuratif), dan pemulihan
(rehabilitatif) yang dilakukan secara serasi dan terpadu terhadap
peserta didik pada khususnya dan warga sekolah pada umumnya
dibawah koordinasi guru pembina UKS dengan bimbingan teknis
dan pengawasan puskesmas setempat.
Tujuan pelayanan kesehatan yaitu meliputi :
1) Meningkatkan kemampuan dan ketampilan melakukan tindakan
hidup sehat dalam rangka membentuk perilaku hidup sehat.
7

2) Meningkatkan daya tahan tubuh anak terhadap penyakit dan


mencegah terjadinya penyakit, kelainan dan cacat.
3) Mengehentikan proses penyakit dan pencegahan komplikasi
akibat penyakit atau kelainan pengembalian fungsi, dan
peningkatan kemampuan peserta didik yang cedera atau cacat
agar dapat berfungsi optimal.
4) Meningkatkan pembinaan kesehatan baik fisik, mental, sosial,
maupun lingkungan.
c. Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat
Program pembinaan lingkungan sekolah sehat mencakup
pembinaan lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, masyarakat
sekitar, dan unsur-unsur penunjang.
1) Program pembinaan lingkungan sekolah :
Lingkungan fisik sekolah :
a) Penyediaan dan pemeliharaan tempat penampungan air
bersih
b) Pengadaan dan pemeliharaan air limbah
c) Pemeliharaan tempat pembuangan sampah
d) Pemeliharaan kamar mandi, WC, dll
e) Pemeliharaan kebersihan dan kerapihan ruangan kelas,
ruang perpustakaan, ruang laboratorium, dan tempat ibadah
f) Pemeliharaan kebersihan dan keindahan halaman dan
kebun sekolah (termasuk penghijauan)
g) Pengadaan dan pemeliharaan warung atau kantin sekolah
2) Pembinaan Lingkungan Keluarga
a) Kunjungan rumah dilakukan oleh pelaksana UKS
8

b) Ceramah kesehatan yang dapat diselenggarakan di sekolah


bekerjasama dengan dewan sekolah atau dipadukan dengan
kegiatan di masyarakat dengan koordinasi LKMD.
3) Pembinaan Masyarakat Sekitar
a) Pembinaan dilakukan dengan cara pendekatan
kemasyarakatan, dapat dilakukan oleh kepala sekolah atau
madrasah, guru, ataupun pembina UKS.
b) Penyelenggaraan penyuluhan tentang kesehatan dan
pentingnya arti pembinaan lingkungan sekolah sebagai
lingkungan belajar yang sehat.
c) Penyuluhan masa baik secara tatap muka maupun melalui
media cetak dan audio visual
d) Menyelenggarakan proyek panduan disekolah atau
madrasah dan pondok pesantren.
d. Peran Perawat Kesehatan Sekolah
Sebagai pelaksana asuhan keperawatan disekolah, perawat
mempuntai peran :
1) Mengkaji masalah kesehatan dan keperawatan peserta didik
dengan melakukan pengumpulan data, analisis data, serta
perumusan dan prioritas masalah.
2) Menyusun rencana kegiatan UKS bersama Tim Pembina
Usaha Kesehatan di Sekolah (TPUKS).
3) Melaksanakan kegiatan UKS sesuai dengan rencana kegiatan
yang disusun.
4) Menilai dan memantau hasil kegiatan UKS.
5) Mencatat dan melaporkan sesuai dengan prosedur yang
ditetapkan.
9

Fungsi perawat sekolah meliputi :


1) Memberikan pelayanan serta meningkatkan kesehatan individu
dan memberikan pendidikan kesehatan kepada semua populasi
yang ada disekolah.
2) Memberikan kontribusi untuk mempertahankan dan
memperbaikai lingkungan fisik dan sosial sekolah.
3) Menghubungkan program kesehatan sekolah dengan program
kesehatan masyarakat yang lain.

B. Kesehatan Remaja
1. Definisi
Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-
kanak ke dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO (2007) adalah
12 sampai 24 tahun. Namun, jika usia remaja seseorang sudah
menikah, maka ia tergolong dalam dewasa dan bukan lagi remaja.
Sebaliknya, jika usia sudah bukan lagi remaja tetapi masih tergantung
pada orang tua (tidak mandiri), maka tetap dimasukkan ke dalam
kelompok remaja.
Remaja merupakan tahapan seseorang dimana ia berada di antara
fase anak dan dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik, perilaku,
kognitif, biologis, dan emosi. Untuk mendeskripsikan remaja dari
waktu ke waktu memang berubah sesuai perkembangan zaman.
Kebanyakan orang menggolongkan remaja dari usia 12-24 tahun dan
beberapa literatur yang menyebutkan 15-24 tahun. Hal yang
terpenting adalah seseorang mengalami perubahan pesat dalam
hidupnya di berbagai aspek.
10

2. Kesehatan Reproduksi Remaja


Secara sederhana, reproduksi berasal dari kata re yang berarti
kembali dan production yang berarti membuat atau menghasilkan, jadi
reproduksi (reproduction) mempunyai arti suatu proses kehidupan
manusia dalam menghasilkan keturunan demi kelestarian hidup.
Kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental, dan
sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan fungsi,
peran, dan sistem reproduksi (ICPD, 1994).
Cakupan pelayanan kesehatan reproduksi adalah sebagai berikut :
a. Konseling dan informasi Keluarga Berencana KB)
b. Pelayanan kehamilan dan persalinan, termasuk pelayanan aborsi
yang aman serta pelayanan bayi baru lahir dan neonatal
c. Pengobatan infeksi saluran reproduksi (ISR) dan penyakit menular
seksual (PMS), termasuk pencegahan kemandulan
d. Konseling dan pelayanan kesehatan reproduksi remaja (KRR)
e. Konseling, informasi, dan edukasi (KIE) mengenai kesehatan
reproduksi
Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang
menyangkut sistem, fungsi, dan proses reproduksi yang dimiliki
oleh remaja. Pengertian sehat di sini tidak semata-mata berarti
bebas penyakit atau bebas dari kecatatan, namun juga sehat secara
mental dan sosial budaya. Remaja perlu mengetahui kesehatan
reproduksi agar memiliki informasi yang benar mengenal proses
reproduksi serta berbagai faktor ada di sekitarnya. Dengan
informasi yang benar, diharapkan remaja memiliki sikap dan
tingkah laku yang bertanggung jawab mengenal proses reproduksi.
Pengetahuan dasar yang perlu diberikan kepada remaja agar
11

mereka mempunyai kesehatan reproduksi yang baik adalah sebagai


berikut :
a. Pengenalan mengenai sistem, proses, dan fungsi alat
reproduksi (aspek tumbuh kembang remaja)
b. Perlunya remaja mendewasakan usia menikah serta bagaimana
merencanakan kehamilan agar sesuai dengan keinginan dirinya
dan pasangan
c. Penyakit menular seksual dan HIV/AIDS serta dampaknya
terhadap kondisi kesehatan reproduksi
d. Bahaya narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) juga
minuman keras (miras) pada kesehatan reproduksi
e. Pengaruh sosial dan media terhadap perilaku seksual
f. Kekerasan seksual dan bagaimana menghindarinya

3. Perkembangan Seksual Remaja


Masa remaja adalah suatu tahap antara masa kanak-kanan dengan
dewasa. Istilah ini menumpuk pada masa awal pubertas sampai
tercapainya kematangan, biasanya mulai usia 14 tahun pada pria dan
usia 12 tahun pada wanita. Transisi ke masa dewasa bervariasi antara
satu budaya dengan budaya yang lain, namun secara umum
didefinisikan sebagai waktu di mana individu mulai bertindak terlepas
dari orang tua mereka. Perubahan dramatis dalam bentuk dan ciri-ciri
fisik berhubungan erat dengan mulainya pubertas.
Aktivitas kelenjar pituitari pada masa ini berakibat dalam sekresi
hormon yang meningkat dengan efek fisiologis yang tersebar luas.
Hormon pertumbuhan memproduksi dorongan pertumbuhan yang
cepat, yang membawa tubuh mendekati tinggi dan berat dewasanya
12

dalam rentang waktu sekitar dua tahun. Dorongan pertumbuhan terjadi


lebih awal pada wanita daripada pria, juga menandakan bahwa wanita
lebih dahulu matang secara seksual daripada pria. Pencapaian
kematangan seksual ditandai dengan datangnya menstruasi (pada
wanita) atau reproduksi semen yang biasanya timbul dalam bentuk
mimpi basah (pada pria). Datangnya menstruasi dan mimpi basah
pertama tidak sama setiap orang. Banyak faktor yang menyebabkan
perbedaan tersebut. Salah satunya adalah karena gizi.
Saat ini usia mendapatkan menstruasi pertama pada wanita adalah
8 atau 9 tahun. Namun, pada umumnya sekitar 12 tahun. Menstruasi
terjadi karena sel telur yang diproduksi ovarium tidak dibuahi oleh sel
sperma dalam uterus. Sel uterus tersebut menempel pada dinding
uterus dan membentuk lapisan yang banyak mengandung pembuluh
darah, kemudian menipis dan luruh keluar melalui mulut uterus dan
vagina dalam bentuk darah, yang biasanya terjadi antara 3 sampai 7
hari, jarak antara 1 siklus haid dengan siklus berikutnya tidak sama
pada setiap wanita, adakalanya 21 hari atau bisa juga 35 hari.
Pria memproduksi sperma setiap harinya. Sperma tidak harus
selalu dikeluarkan, sperma yang tidak dikeluarkan akan diserap
kembali oleh tubuh atau dikeluarkan melalui keringat, urine, dan
feses. Sperma bisa dikeluarkan melalui proses yang disebut ejakulasi,
yaitu keluarnya sperma melalui penis. Ejakulasi bisa terjadi secara
alami dan tidak disadari oleh remaja pria melalui mimpi basah.
Hormon utama yang mengatur perubahan-perubahan ini adalah
androgen (pada pria) dan ekstrogen (pada wanita). Hormon-hormon
tersebut juga mempengaruhi pertumbuhan seksual sekunder seperti
13

rambut pada wajah, tubuh, dan kelamin, suara yang mendalam (pada
pria), serta pembesaran payudara dan pinggul (pada wanita).
Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas bertanggung
jawab atas munculnya dorongan seksual. Pemuasan dorongan seksual
masih dipersulit dengan banyak tabu sosial, sekaligus juga kekurangan
pengetahuan yang benar tentang seksualitas. Namun, sejak tahun
1960-an, aktivitas seksual telah meningkat di antara remaja. Studi
akhir menunjukkan bahwa hampir 50% remaja di bawah usia 15 tahun
dan 75% remaja dibawah usia 19 tahun telah melakukan hubungan
seksual. Terlepas dari keterlibatan mereka dalam aktivitas seksual,
beberapa remaja tidak tertarik pada atau tidak tahu tentang metode
Keluarga Berencana atau gejala-gejala penyakit menular seksual
(PMS). Akibatnya, angka kelahiran tidak sah dan timbulnya penyakit
menular seksual kian meningkat.

4. Remaja dan Perilaku Seksual


Perilaku seksual adalah perilaku yang muncul karena adanya
dorongan seksual. Bentuk perilaku seksual bermacam-macam mulai
dari bergandengan tangan, berpelukan, bercumbu, sampai
berhubungan seksual. Perilaku seksual aman adalah perilaku seksual
tanpa mengakibatkan terjadinya pertukaran cairan vagina dengan
cairan sperma misalnya dengan bergandengan tangan, berpelukan, dan
berciuman.
Masturbasi adalah menyentuh , menggosok, dan meraba bagian
tubuh sendiri yang peka sehingga menimbulkan rasa menyenangkan
untuk mendapatkan kepuasan seksual (orgasme) baik tanpa
menggunakan alat maupun menggunakan alat. Biasanya masturbasi
14

dilakukan pada bagian tubuh yang sensitif, namun tidak sama pada
masing-masing orang seperti puting payudara, paha bagian dalam, alat
kelamin (bagi wanita terletak pada klitoris dan sekitar vagina
sedangkan bagi pria terletak pada sekitar kepala dan leher penis).
Hubungan seksual yaitu masuknya penis ke dalam vagina. Bila
terjadi ejakulasi (pengeluaran cairan semen yang di dalamnya terdapat
jutaan sperma) dengan posisi alat kelamin pria berada dalam vagina
memudahkan pertemuan sperma dan sel telur yang menyebabkan
terjadinya pembuahan dan kehamilan.

5. Remaja dan Penyakit Menular


Penyakit menular seksual (PMS) adalah penyakit yang ditularkan
dari seseorang kepada orang lain melalui hubungan seksual.
Seseorang beresiko tinggi terkena PMS bila melakukan hubungan
seksual dengan berganti-ganti pasangan baik melalui vagina, oral,
maupun anal. Bila tidak diobati dengan benar, penyakit ini dapat
berakibat serius bagi kesehatan reproduksi, seperti terjadinya
kemandulan, kebutaan pada bayi yang baru lahir, serta kematian.
Karena bentuk dan letak alat kelamin pria bera da di luar tubuh, gejala
lebih mudah dikenali, dilihat, dan dirasakan. Sedangkan, pada wanita
yang alat kelaminnya berada di dalam tubuh, PMS sering kali muncul
tanpa gejala sehingga sering tidak disadari.
Gejala – gejala PMS pada pria adalah sebagai berikut :
a. Terdapat bintil-bintil berisi cairan pada alat kelamin (penis)
b. Adanya lecet atau borok pada penis
c. Adanya luka tetapi tidak sakit pada penis
d. Keras dan berwarna merah pada penis
15

e. Adanya kutil atau tumbuh daging seperti jengger ayam pada penis
f. Rasa gatal yang hebat sepanjang penis
g. Rasa sakit yang hebat pada saat buang air kecil
h. Pada urine terdapat nanah atau darah yang berbau busuk

Gejala-gejala PMS pada wanita adalah sebagai berikut :


a. Rasa sakit atau nyeri pada saat buang air kecil atau berhubungan
seksual
b. Rasa nyeri pada perut bagian bawah
c. Pengeluaran lendir pada alat kelamin (vagina)
d. Keputihan berwarna putih susu, bergumpal disertai rasa gatal dan
kemerahan pada alat kelamin dan sekitarnya
e. Keputihan yang berbusa, kehijauan, berbau busuk dan gatal
f. Timbul bercak-bercak darah setelah berhubungan seksual
g. Terdapat bintil-bintil berisi cairan di sekitar alat kelamin
h. Terdapat lecet atau borok pada alat kelamin
Cara yang paling ampuh untuk mencengah penularan PMS adalah
tidak melakukan hubungan seksual (bagi remaja yang belum
menikah), serta pada pasangan (bagi pasangan yang sudah menikah)
hindari hubungan seksual yang beresiko, selalu menggunakan
kondom, dan selalu menjaga kebersihan alat kelamin.
Banyak penyakit yang dapat digolongkan sebagi PMS. Di
indonesia yang banyak ditemukan saat ini adalah gonorhoe (GO), raja
singa (sifilis), herpes kelamin dan kutil kelamin. Kebanyakan PMS
dapat diobati, namun ada beberapa yang tidak bisa diobati secara
tuntas seperti HIV/AIDS dan herpes kelamin. Jika sudah terkena
PMS, satu-satunya cara adalah berobat ke dokter atau tenaga
16

kesehatan, jangan mengobati diri sendiri. Selain diri sendiri, pasangan


juga harus diobati agar tidak saling menularkan kembali.
6. Remaja dan Kehamilan
Kesiapan seorang wanita untuk hamil dan melahirkan (mempunyai
anak) ditentukan oleh kesiapan dalam tiga hal, yaitu kesiapan fisik,
mental (emosi dan psikologi) dan sosio ekonomi. Secara umum,
seorang wanita dikatakan siap secara fisik jika telah menyelesaikan
pertumbuhan tubuhnya, yaitu sekitar usia 20 tahun. Sehingga usia 20
tahun bisa dijadikan pedoman kesiapan fisik.
Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) adalah suatu kehamilan
yang karena suatu sebab maka keberadaannya tidak diinginkan oleh
salah satu atau kedua calon orang tua bayi tersebut. Kehamilan yang
tidak diinginkan disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya sebagi
berikut :
a. Pengetahuan yang kurang lengkap dan tidak benar mengenai proses
terjadinya kehamilan dan metode-metode pencegahan kehamilan
b. Akibat terjadinya tindak pemerkosaan
c. Kegagalan alat kontrasepsi
Beberapa kerugian KTD pada remaja adalah sebagai berikut :
a. Remaja wanita atau calon ibu merasa tidak ingin dan tidak siap
untuk hamil maka ia bisa saja tidak mengurus kehamilannya
dengan baik.
b. Sulit mengharapkan adanya perasaan kasih sayang yang tulus dari
ibu yang mengalami KTD terhadap bayi yang dilahirkannya nanti.
c. Mengakhiri kehamilannya atau sering disebut dengan aborsi.
17

C. Permasalahan yang Timbul pada Anak dan Remaja


a. Masa Anak
Pada umumnya orang berpendapat bahwa masa kanak-kanak
merupakan masa yangterpanjang dalam rentang kehidupan saat
dimana individu relatif tidak berdaya dantergantung pada orang lain.
Pada saat ini, secara luas diketahui bahwa masa kanak-kanakharus
dibagi lagi menjadi dua periode, yakni periode awal yang berlangsung
dari umur duasampai enam tahun dan periode akhir dari enam sampai
tiba saatnya anak yang matang secara seksual.
Masa bayi sering membawa masalah bagi orangtua dan umumnya
berkisar pada masalah perawatan fisik bayi. Dengan datangnya
masa kanakkanak, sering terjadi masalah perilaku yang lebih menyulit
kan daripada masalah perawatan fisik masa bayi. Masalah perilaku itu
sering terjadi di awal masa kanak anak dikarenakan anakanak muda se
dang dalam proses pengembangan kepribadian yang unik dan
menuntut kebebasan yang pada umumnya kurang berhasil.
Anak yang lebih muda seringkali bandel, keras kepala,
melawandan marah tanpa alasan serta merasa cemburu. Pada
perkembangan fisik, pertumbuhan selama awal masa kanak-
kanak berlangsunglambat dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan
masa bayi. Nafsu makan kanak-kanaktidak sebesar seperti pada masa
bayi. Hal ini disebabkan karena tingkat pertumbuhan telahmenurun
dan sebagian karena sekarang ia telah mengembangkan jenis makanan
yang disukai dan dan tidak disukai.
Dalam perkembangan berkomunikasi, biasanya anak-anak
mengalami masalah,dimana mutu pembicaraan anak yang buruk/isi
pembicaraan anak bersifat merendahkan danketidakberhasilan anak-
18

anak untuk mendengarkan lebih banyak menyebabkan kegagalanuntuk


mengerti. Sehingga pembicaraan mereka tidak terjalin baik.
Di akhir masa kanak-kanak (late childbood) berlangsung dari
usia enam tahun sampai saatnya individu menjadi matang secara
seksual. Di masa akhir kanak-kanak ini, dalam kemajuan berbicara, ia
mulai terdorong untuk memperbaiki kemampuannya dalam berbicara,
yakni dengan memperbaiki ucapan yang salah serta memperbaiki tata
bahasa. Anak dapat berbicara mengenai apa saja, tetapi
pokok pembicaraan yang digemari bila bercakapcakap dengan temann
ya menjadi pengalaman sendiri. Namun kalau anak berbicara tentang
dirinya sendiri, biasanya terjadi dalam bentukbualan.
Anak membual tentang segala hal yang berhubungan dengann
diri sendiri seperti kehebatannya dalam keterampilan dan berprestasi.
Dan pada masa ini, biasanya anak lebihsuka mengkritik dan
menertawakan orang. Pada saat menyampaikan kritikan, anak
lebihsering mengungkapkan dalam bentuk makian atau hal lain yang
bersifat merendahkan. Karena sebenarnya anak lebih banyak
menonjolkan kelebihan dan kurang beranimenunjukkan kelemahan
dirinya sendiri
b. Remaja
Istilah adolescense atau remaja berasal dari kata
latin“adolescere”(kata bendanya adolescentia yang berarti remaja)
yang berarti tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolescense mempunyai
arti yang lebih luas mencakup kematangan mental, emosional, sosial
dan fisik.Bagi sebagian besar anak muda, usia antara dua belas dan
enam belas tahun merupakan tahun kehidupan yang penuh kejadian
sepanjang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan..
19

Tak dapat disangkal, selama kehidupan janin dan tahun pertama at


au keduasetelah kelahiran, perkembangan berlangsung semakin cepat
dan lingkungan yang baiksemakin lebih menentukan. Tetapi yang
bersangkutan sendiri bukanlah remaja yangmemperhatikan
perkembangan atau kurangnya perkembangan dengan kagum, senang
atautakut. Semua perkembangan itu menimbulkan perlunya
penyesuaian mental dan perlunyamembentuk sikap, nilai dan minat
baru. Pada masa ini, remaja lebih banyak bersikap negatif atau sikap
menolak. Biasanyaterhadap segala sesuatu, remaja bersikap serba
ragu, tidak pasti, tidak senang, tidak setuju.Remaja sering murung,
sedih tetapi ia sendiri tidak mengerti apa sebabnya dan seringmelamun
tidak menentu dan kadang berputus asa.ya seperti seks bebas,
merokok, penyalahgunaan narkotika, pencurian dan lain-lain.
Masalah lain yang muncul pada remaja:
1. Menurunnya Pelaksanaan ibadah pada remaja
Sebagian remaja mengalami penurunan pengalaman agama
dibandingkan pada masaanak-anak. Mereka mungkin sudah terbias
atau pernah shalat pada masa anak-anak kemudiantidak
melaksanakan shalat pada masa remaja. Sebagian remaja bahkan
marah ketikadiingatkan untuk melaksanakan ibadah dengan alasan
malas, bosan dan sebagainya.
2. Penyalahgunaan Narkoba
Berdasarkan data Badan Narkotika Nasioanl (BNN), jumlah kasus
penyalahgunaan Narloba di Indonesia dari tahun 19982003 adalah
20.301 orang, dimana 70% diantaranya berusia antara 15-19 tahun.
20

3. Seks Bebas
Adikusuma dalam penelitiannya tentang Sikap Remaja
terhadap Seks Bebas di Kota Negara Bali menemukan 88,33%
responden mengatakan ingin melakukann seks bebas tetapitakut
resiko dan 26,66% menyatakan cara terbaik memenuhi keinginan
seksual adalahhubungan seks. Sebuah survei yang dilakukan di 33
provinsi pada pertengahan tahun 2008Direktur Remaja dan
Perlindungan Hak-Hak Reproduksi BKKBN melaporkan bahwa
63%remaja di Indonesia usia sekolah SMP dan SMA sudah
melakukan hubungan seksual di luarPada masa remaja terjadi
perubahan fisik dan phikis yang selalu mendatangkankonflik pada
diri remaja, sehingga banyak remaja yang gamang melewati masa
remajanya. Orangtua, guru dan masyarakat perlu memahami
permasalahan remaja sehingga dapatmembantu mereka
menemukan solusi melewati masa remaja dengan sukses.
Permasalahan yang sering dialami pada perkembangan
remaja biasanya mencakup budi pekerti remaja, dimana remaja
terlibat dalam perbuatan/akhlak tercela dalam kehidupansehari-
hari, meliputi:
a) Rendahnya Keimanan Remaja terhadap Allah.
Sebagian besar remaja mengalami kemunduran kepercayaan
terhadap Allah, hal iniditandai dengan semakin beraninya
remaja melanggar larangan Allah secara terang-teranganseperti
tidak shalat, tidak puasa dan lain-lain. Rendahnya keimanan
remaja menjadi penyebab permasalahan akhlak remaja lainnya
seperti seks bebas, merokok, penyalahgunaan
narkotika, pencurian dan lain-lain.
21

b) Menurunnya Pelaksanaan ibadah pada remaja


Sebagian remaja mengalami penurunan pengalaman agama
dibandingkan pada masaanak-anak. Mereka mungkin sudah
terbias atau pernah shalat pada masa anak-anak kemudiantidak
melaksanakan shalat pada masa remaja. Sebagian remaja
bahkan marah ketikadiingatkan untuk melaksanakan ibadah
dengan alasan malas, bosan dan sebagainya.
c) Penyalahgunaan Narkoba
Berdasarkan Data Badan Narkotika Nasional (BNN), jumlah
kasus penyalahgunaan Narkoba di Indonesia dari tahun 1998-
2003 adalah 20.301 orang, dimana 70% diantaranya berusia
antara 15-19 tahun.
d) Seks Bebas
Adikusuma dalam penelitiannya tentang Sikap Remaja
terhadap Seks Bebas di Kota Negara Bali menemukan 88,33%
responden mengatakan ingin melakukann seks bebas
tetapitakut resiko dan 26,66% menyatakan cara terbaik
memenuhi keinginan seksual adalah hubungan seks. Sebuah
survei yang dilakukan di 33 provinsi pada pertengahan tahun
2008 Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi
BKKBN melaporkan bahwa 63% remaja di Indonesia usia
sekolah SMP dan SMA sudah melakukan hubungan seksual di
luar nikah dan 21% diantaranya melakukan aborsi. Secara
umum survei itu mengindikasikan bahwa pergaulan remaja di
Indonesia semakin mengkhawatirkan.
e) Merokok
22

Di masa modern ini, merokok merupakan suatu


pemandangan yang sangat tidak asing. Kebiasaan merokok
dianggap dapat memberikan kenikmatan bagi si
perokok,walaupun merokok dapat menimbulkan dampak buruk
bagi perokok dan orang-orang yangada disekitarnya. Beberapa
motivasi yang melatar belakangi seseorang meroko adalah
untuk mendapatkkan pengakuan (anticioatory beliefs),untuk
menghilangkan kekecewaan (reliefing beliefs)dan menganggap
perbuatannya tersebut tidak melanggar norma permisi
vekbeliefs/fasilitative)
f) Bolos Sekolah
Para remaja bolos sekolah untuk menonton konser artis/aktor
kesayangannya, untuk jalan-jalan di mall atau untuk kegiatan
hura-hura lainnya.

D. Sikap Perawat dalam Menghadapi Masalah pada Anak dan Remaja


1) Anak
Perawat hadir secara utuh (fisik dan psikologis) pada waktu
berkomunikasi dengan klien. Perawat tidak cukup mengetahui teknik
komunikasi dan isi komunikasi, tetapi yang sangat penting adalah sikap
dan penampilan komunikasi. Kehadiran fisik, menurut Evans (1975,
dikutip dalam Kozier dan E.B, 1993 : 372) mengidentifikasi 4 sikap dan
cara untuk menghadirkan diri secara fisik, yaitu :
1. Berhadapan : arti dari posisi ini yaitu “saya siap untuk anda”
Mempertahankan kontak mata: berarti mengahargai klien dan
menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.
23

2. Membungkuk ke arah klien : posisi ini menunjukkan keinginan


atau mendengar sesuatu
3. Tetap rileks: dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan
dan relaksasi dalam merespon klien.
Masa anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang
dimulai dari bayi (0-1 th), usia bermain/toddler (1-2,5 th), pra sekolah
(2,5-5 th), usia sekolah (5-11 th) hingga remaja (11-18 th). Rentang ini
berbeda antara satu anak dengan yang lain karena latar belakang yang
berbeda. Keluarga merupakan unsur penting dalam perawatan anak.
Kehidupan anak dapat ditentukan oleh lingkungan keluarga, untuk itu
keperawatan anak harus mengenal keluarga sebagai tempat tinggal atau
sebagai konstanta tetap dalam kehidupan anak (Wong, Perry &
Hockenberry, 2002)
Beberapa cara yang dapat digunakan dalam berkomunikasi dengan
anak antara lain:
1. Melalui orang lain atau pihak ketiga
Cara komunikasi ini pertama dilakukan oleh anak dalam
menumbuhkan kepercayaan diri anak, dengan menghindari secara
langsung berkomunikasi dan melibatkan orang tua yang duduk di
sampingnya
2. Bercerita
Melalui cara ini pesan yang ingin disampaikan kepada anak akan
mudah diterima, tetapi cerita yang disampaikan hendaknya sesuai
dengan pesan yang ingin disampaikan, yang dapat diekspresikan
melalui tulisan dan gambar.
3. Memfasilitasi
24

Dalam memfasilitasi, kita harus mampu mengekspresikan perasaan


dan tidak boleh dominan tetapi anak harus diberikan respon terhadap
pesan yang disampaikan melalui mendengarkan dengan penuh
perhatian dan jangan merefleksikan ungkapan negative yang
menunjukkan kesan yang jelek buat anak.
4. Meminta untuk menyebutkan keinginan
Hal ini penting untuk mengetahui keluhan anak dan keinginan
tersebut dapat menunjukkan perasaan dan fikiran pada saat itu
5. Pilihan Pro dan Kontra
Penting untuk menentukan atau mengetahui perasaan dan fikiran
anak, dengan mengajukan pada situasi yang menunjukkan pilihan
positif dan negative sesuai pendapat anak
6. Penggunaan Skala
Penggunaan skala atau peringkat dalam mengungkapkan perasaan
sakit pada anak, seperti penggunaan perasaan nyeri, cemas, sedih
dan lain-lain, dengan menganjurkan anak untuk mengekspresikan
sakitnya.
7. Menulis
Melalui ini anak mengekspresikan dirinya baik pada keadaan sedih,
marah atau lainnya dan biasanya banyak dilakukan pada anak yang
jengkel, marah dan diam. Dilakukan jika anak sudah mempunyai
kemampuan untuk menulis.
8. Menggambar
Seperti halnya menulis, dapat digunakan untuk mengekspresikan,
perasaan jengkel marah bisanya dapat diungkapkan melalui gambar
dan anak akan mengungkapkannya apabila gambar yang ditulisnya
ditanya tentang maksudnya.
25

9. Bermain
Sebagai alat yang efektif pada anak dalam membantu
berkomunikasi. Melalui ini hubungan interpersonal antara anak,
perawat dan orang sekitarnya dapat terjalin dan pesan-pesan dapat
disampaikan.
Strategi menanggapi respon anak:
1. Bertanya
Bertanya merupakan teknik yang dapat mendorong anak untuk
mengungkapkan perasaan dan pikirannya.
2. Mendengarkan
Mendengarkan merupakan dasar utama dalam komunikasi
therapeutik.
3. Mengulang
Mengulang yaitu kembali pikiran utama yang telah diekspresikan
oleh anak.
4. Klasifikasi
Klasifikasi adalah meyakinkan kembali ide-ide pikiran anak yang
tidak jelas atau meminta anak untuk menjelaskan arti dari
ungkapannya.
5. Refleksi
Refleksi adalah mengarahkan kembali ide, perasaan, pertanyaan, dan
isi pembicaraan kembali kepada anak.
6. Memfokuskan.
Memfokuskan anak bicara pada topik yamg telah dipilih dan yang
penting.Menjaga pembicaraan tetap menuju tujuan yang lebih
spesifik, jelas dan realitas.
7. Diam
26

Cara yang sulit, biasanya dilakukan setelah mengajukan pertanyaan,


tujuannya memberi kesempatan berfikir dan memotivasi anak untuk
bicara. Pada anak yang menarik diri teknik diam berarti perawat
menerima anak.
8. Membagi persepsi
Meminta pendapat anak tentang hal yang perawat rasakan dan
pikirkan, dengan cara ini perawat dapat meminta umpan balik dan
memberi informasi.
9. Mengidentifikasi tema
Latar belakang masalah yang dihadapi anak muncul selama
percakapan,gunanya untuk meningkatkan pengertian dan
mengeksplorasi masalah yang penting.
2) Remaja
Dalam kesehatan remaja, perawat komunitas memiliki sikap-sikap yang
harus dilaksanakan:
a. Sikap sebagai pendidik pada kelompok remaja tentang faktor-
faktor resiko yang dapat mengancam kesehatan mereka;
b. Sikap sebagai konselor yang mau mendengar keluhan para remaja
secara obyektif, memberi umpan balik dan informasi serta
membantu melalui proses pemecahan masalah dan
mengidentifikasi sumber yang dimiliki;
c. Sebagai tempat bertanya kelompok remaja untuk memecahkan
berbagai permasalahan dalam bidang kesehatan/keperawatan yang
dihadapi sehari-hari;
d. Sebagai penghubung antara kelompok masyarakat khususnya
kalangan remaja dengan partisipasi orang tua dan unit pelayanan
serta instansi terkait dalam tahap pemecahan masalah remaja;
27

e. Memberi motivasi pada remaja yang mempunyai masalah dalam


rangka meningkatkan peran serta kelompok remaja dalam setiap
upaya pelayanan kesehatan.
28

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

1. Asuhan Keperawatan Komunitas pada Anak


Proses keperawatan komunitas pada kelompok khusus anak usia sekolah
Berikut 5 tahapan proses keperawatan yang dapat dilaksanakan oleh perawat
komunitas :
a. Pengkajian
Berikut yang dapat saudara kaji adalah :
1) Core ( kelompok anak usia sekolah ) : demografi kelompok anak usia
sekolah ( nama anak usia sekolah, umur anak usia sekolah, jenis
kelamin anak usia sekolah, urutan anak dalam keluarga, nama orang
tua , pekerjaan orang tua, pendidikan orang tua, suku, alamat).
Riwayat kesehatan : riwayat penyakit yang pernah diderita, riwayat
imunisasi, riwayat tumbuh kembang.
Riwayat sekolah : visi misi sekolah, nilai dan keyakinan sekolah dalam
kesehatan. Pemeriksaan fisik anak usia sekolah mulai dari kepala
sampai kaki ( semua sistem dilakukan pemeriksaan fisik)
2) Pengkajian delapan subsistem :
a) Lingkungan fisik sekolah : apakah lingkungan fisiknya aman untuk
belajar dan bermain anak usia sekolah ? adakah sumber air bersih ?
toilet yang cukup dan bersih ? bagaimana penghijauan disekolah ?
Apakah lingkungan sekolah dekat tempat yang mengancam
keselamatan : dekat pusat perbelanjaan, bioskop, sungai, tempat
pembuangan limbah/sampah, polusi udara/suara, dan jalan raya`.
29

b) Pendidikan : apakah kurikulum yang ada juga mengajarkan nilai-


nilai dasar kesehatan ? bagaimana cara guru melatih perilaku hidup
bersih dan sehat pada anak usia sekolah.
c) Keamanan dan transportasi : anak sekolah menggunakan
transportasi jenis apabila kesekolah? Adakah fasilitas transportasi
yang tersedia yang dapat digunakan oleh siswa utuk kebutuhan
emergency ? Bagaimana cara / sistem sekolah melindungi
keamanan anak usia sekolah dari bahaya fisik , psikologis, maupun
sosial ?
d) Politik dan pemerintahan : adakah kebijakan pemerintah
pusat//daerah/lokal yang mendukung pemeliharaan kesehatan anak
usia sekolah ? Bagaimana penerapannya disekolah?
e) Pelayanan kesehatan : adakah fasilitas pelayanan kesehatann yang
tersedia untuk anak usia sekolah, misalnya : ruang UKS,
dokter/perawat sekolah yang siaga disekolah, atau sistem rujukan
ke dokter praktek/puskesmas/klinik/ rumah sakit terdekat dengan
sekolah. Bagaimana pelayanan yang diberikan seperti :
pemantauan tumbuh kembang secara rutin, program imunisasi anak
usia sekolah, pendidikan kesehatan oleh tenaga tenaga kesehatan.
f) Pelayanan sosial : adakah fasilitas sosial yang dapat dimanfaatkan
untuk anak usia sekolah , misalnya layanan konsling oleh guru,
kelompok belajar, kelompok seni anak, dan lain – lain.
g) Komunikasi : media komunikasi yang dapat digunakan untuk
memfasilitasi perkembangan kelompok anak usia sekolah seperti :
mading, koran, buletin, majalah sekolah / anak-anak ,radio, TV,
telpon. Bagaimana cara anak sekolah dan keluarganya menerima
30

informasi tentang perkembangan belajar dan kondisi tumbuh


kembang anak ?
h) Ekonomi : bagaimana rata-rata pendapatan orang tua siswa ?
bagaimana sekolah membiayai ppelaksanaan proses belajar
mengajar disekolah apakah sepenuhnya dibantu pemerintah /
swadaya masyarakat.
i) Rekreasi : adakah tempat rekreasi yang bisa digunakan oleh anak
usia sekolah, seperti lapangan olahraga, dan taman bermain ?
apakah aman untuk digunakan dan cukup dengan jumlah murid
yang ada.
b. Diagnosis Keperawatan Komunitas
Berikut masalah keperawatan komunitas pada kelompok khusus anak usia
sekolah yang dapat saudara rumuskan menjadi diagnosis keperawatan
seperti :
1) Risiko gangguan tumbuh kembang pada anak usia sekolah
2) Risiko peningkatan kejadian cidera pada anak usia sekolah
Saudara dapat merumuskan diagnosa lain sesuai dengan kondisi masalah
kesehatan komuniitas yang ditemukan.
c. Perencanaan
Saudara dapat menggunakan pendekatan tiga level pencegahan dalam
membuat perencanaan keperawatan yaitu :
1) Pencegahan primer ( primary prevention)
a) Program promosi kesehatan
(1) Pendidikan kesehatan tentang : manfaat makanan sehat dan
cara memilih jajanan sehat, kesehatan gigi dan mulut anak usia
sekolah, kebersiahan diri ( rambut, kulit, kuku, pakaian,
sepatu), cara mencuci tangan yang baik, kebutuhan latihan fisik
31

anak usia sekolah, cara belajar yang baik dan konsentrasi, dan
lain-lain sesuai kebutuhan anak sekolah.
(2) Melakukan pemeriksaaan kesehatan secara berkala (perawat
dapat meminta bantuan guru dan kader kesehatan sekolah
untuk melakukan pengukuran TB/BB setiap 4 bulan dan
mencatatnya di KMS anak sekolah ). Mengingat banyak
sekolah yang ada diwilayah binaan perawat, maka sebaiknya
perawat sudah membuat jadual kunjungan tenaga kesehatan
seecara berkala minimal 6 bulan sekali untuk tiap sekolah.
(3) Memberikan layanan konseling tumbuh kembang anak usia
sekolah atau masalah kesehatan
(4) Membentuk kelompok swabantu anak usia sekolah sebagai
support bagi anak sekolah, orang tua atau keluarga yang
memiliki anak usia sekolah..
b) Program proteksi kesehatan
(1) Pelayanan imunisasi : pemberian immunisasi untuk anak SD
kelas 1 pemberian DT dan SD Kelas VI (Wanita) pemmberian
TT
(2) Program pencegahan kecelakaan pada anak usia sekolah seperti
memfasilitasi zebra cross untuk penyebrangan ; menyediakan
petugas yang membantu anak sekolah menyebrang ;
menganjurkan anak menggunakan pelindung lutut/helm jika
bersepeda; menganjurkan sekolah untuk menjadga kebersiahan
lantai agar tidaklicin ( membuat tanda peringatan biila sedang
dibersihkan ); menganjurkan sekolah untuk dapat
memperhatikan keselamatan anak seperti : tangga dibuat tidak
curam, lapangan bermain tidak berbatu, menganjurkan kluarga
32

untuk meningkatkan pengawasan pada anak usia sekolah


khususnya anakk usia sekolah yang tinggaldidekat jalan, sungai
atuu tempat yang berbahaya; pemantauan yang ketat terhadap
jajanan yang dijual disekolah.
(3) Perlindungan caries pada anak usia sekolah : Flouridasi
(4) Perlindungan anak usia sekolah dari child abuse dari orang
dewasa disekitarnya : meningkatkan kepedulian masyarakat
terhadap keselamatan dan kesehatan anak usia sekolah,
termasuk sikap guru yang mendidik bukan menghukum,,
membuat sistem pelaporan dan sangsi yang jelas apabila
menemukan anak usia sekolah yang mengalami tindakan
kekerasan baik fisik, emosional, atau seksual dari orang lain,
unntuk segera diproses secara hukum yang berlaku di indonsia.
2) Pencegahan sekunder (secondary prevention)
a) Deteksi dini dan pengobatannya, sebagai deteksi tumbuh kembang
anak disekolah,, atau penyakit untuk egera ditegakkan diagnosis
dan pengobatan sejak dini
b) Perawatan emergency, misalnya diberikan pada anggota anak usia
sekolah yang mengalami kecelakaan disekolah, atau lalu lintas.
c) Perawatan akut dan kritis, diberikan pada anak usia sekolah yang
mengalami sakit akut seperti diare, demam, dan lain-lain.
Perawatan juga diberikan pada anak usia sekolah dengan penyakit
kritis
d) Diagnosis dan terapi, perawat komunitas dapat menegakkan
diagnosis keperawatan dan segera memberikan terapi
keperawatannya.
33

e) Melakukan rujukan untuk segera mendapatkan perawatan lebih


lanjut
3) Pencegahan tertier (tertiary prevention)
a) Memberikan dukungan pada upaya pemulihan anak usia sekolah
setelah sakit dengan memelihara kondisi kesehatan agar tumbuh
kembangnya optimal
b) Memberikan konseling perawatan lanjut pada kelompok anak usia
sekolah pada masa pemulihan
d. Implementasi
Saudara dapat menggunakan empat strategi dalam melaksanakan
perencanaan yang telah disusun sebelumnya, yaitu melalui :
1) Pemberdayaan komunitas sekolah : hal ini penting dilakuakan agar
komunitas sekolah peduli terhadap massalah kesehatan anak usia
sekolah. Pemberdayaan disesuaikan dengan kemampuan yang ada di
komunitas, misalnya : sekolah mendirikan kantin sehat dan jujur, yang
menjual, jajanan yang sehat (bebas pewarna / pemanis buatan, bebas
pengawet, serta memperhatikan masa kadaluarsanya) dan siswa
dibiasakan untuk jujur mengambil dan membayar sendiri di kotak yang
telah disediakan.
2) Proses kelompok
Perawat komunitas juga dapat menggunakan pendekatan kelompok,
agar implementasi dapat mencapai tujian yang diharapkan. Kelompok
yang terdiri dari anak sekolah yang mempunyai masalah yang sama,
kelompok ini akan sangat bermanfaat membantu keluarga menemukan
solusi masalah kesehatan. Contoh dibentuknya kelompok swabantu
anak usia sekolah yang mengalami gangguan konsentrasi belajar,
kelompok ini dengan difasilitasi oleh guru dan perawat komunitas
34

akan mencoba mengenali penyebab dan mencarikan solusi, serta


melatih konsentrasi anak. Anjuran untuk latihan berenang cukup
efektif uuntuk membantu anak belajar konsentarsi.
3) Pendidikan kesehatan
Pendidikan kesehatan seperti kesehatan diawal akan sangat membantu
anak sekolah meningkatkan pengetahuannya unntuk merubah perilaku
hidup lebih sehat.
4) Kemitraan
Kemitraan perlu dibentuk agar ada jejaring kerja, contoh : bermitra
dengan pedagang kantin agar dapat menyediakan makanan yang murah
dan sehat. Bermitra dengan perusahaan / percetakan buku yang dapat
memberikan buku murah bagi anak. Tentu masih banyak lagi
kemitraan yang dapat saudara bangun dalam rangka meningkatkan
kesehatan anak usia sekolah`
e. Evaluasi
Perawat komunitas bersama komunnitas dapat mengevaluasi semua
implementasi yang telah dilakukan dengan merujuk pada tujuan yang telah
ditetapkan yaitu mencapai kesehatan anak usia sekolah yang optimal.

2. Asuhan Keperawatan Komunitas pada Remaja


Berikut 5 tahapan proses keperawatan yang dapat dilaksanakan oleh perawat
komunitas:
a. Pengkajian
1) Core: jumlah remaja, riwayat atau perkembangan remaja, kebiasaan,
perilaku yang ditampilkan, nilai, keyakinan, dan agama.
2) Lingkungan fisik: bagaimana kondisi jalan, bangunan, fasilitas umum
seperti tempat pembelanjaan, sekolah, taman.
35

3) Pelayanan kesehatan dan sosial: bagaimana yankes dan sosial khusus


remaja, seperti ada klinik konsultasi untuk remaja atau adanya kelompok
sosial remaja? Jarak?
4) Ekonomi: bagaimana perekonomian di wilayah tersebut, apakah remaja
dilibatkan bekerja?
5) Transportasi dan keamanan:
Apakah wilayah tempat remaja tinggal termasuk wilayah dengan
mobilitas yang tinggi? Fasilitas transportasi yang dpat digunakan?
Kebiasaan remaja menggunakan alat transportasi? Sistem keamanan
terdapat pengaruh luar?
6) Politik dan pemerintahan:
Bagaimana dukungan pemerintah setempat terhadap perkembangan
remaja? Jenis dukungannya? Apakah ada instruksi/ SK yang mengatur/
melindungi hak dan kewajiban remaja? Bagaimana strategi pemerintah
setempat dalam membina remaja?
7) Komunikasi:
Bagaimana cara remaja berkomunikasi dengan remaja lain atau keluarga?
Media yang digunakan?
8) Pendidikan:
Sekolah yang disekitar remaja tinggal, kegiatan yang dilakukan diluar
sekolah? peran sekolah?
9) Rekreasi:
Tempat rekreasi yang sering digunakan remaja? Frekuensi? Orang yang
mendampingi? Tempat rekreasi yang ada didekat wilayah tempat tinggal
remaja.
b. Diagnosa Keperawatan
36

Berikut ini contoh diagnose keperawatan pada kelompok khusus remaja,


dapat dikembangkan dari masalah keperawatan yang ada dan merujuk pada
panduan penulisan diagnosa keperawatan menurut NANDA.
1) Risiko terjadinya perilaku maladaptive akibat gangguan perkembangan
remaja: penyalahgunaa NAPZA pada remaja di desa Rotan Kecamatan
JAti berhubungan dengan kurangnya kemampuan remaja dalam
melakukan upaya pencegahan penyalahgunaan NAPZA sekunder
terhadap pengaruh lingkungan dan teman sebaya yang tidak terapeutik
2) Risiko terjadinya penurunan kemampuan dalam mengatasi masalah pada
remaja di wilayah Kelurahan Cibadak Kecamatan Ragunan berhubungan
dengan tidak efektifnya koping remaja dalam mengatasi masalah atau
stress yang dialaminya.
c. Intervensi Keperawatan
1) Upaya Pencehagan Primer
a) Pendidikan kesehatan pada orang tua dan remaja
b) Melatih remaja dan keluarga tentang teknik komunikasi, cara
menyelesaikan masalah
c) Memberikan dukungan remaja: bentuk kelompok swabantu remaja
2) Upaya pencegahan sekunder:
Deteksi dini, tindakan perawatan segera yang dilanjutkan dengan
pembinaan atau layanan konsultasi remaja, program PKPR si puskesmas.
3) Upaya pencegahan tersier:
Melakukan rehabilitasi, pembinaan ;anjutan atau melakukan rujukan.
d. Implementasi Keperawatan
Implementasi dilakukan berdasarkan intervensi yang telah disusun dengan
menggunakan empat pendekatan yaitu:
1) Proses kelompok:
37

Kegiatan dilakukan dengan melibatkan orang lain, seperti keluarga atau


sesama kelompok, contoh: membentuk kelompok peduli remaja.
2) Pendidikan Kesehatan
Peningkatan pendidikan pada masyarakat yaitu melalui penyebara
informasi kesehatan melalui berbagai saluran media.
3) Kemitraan
Hubungan kerjasama antara dua pihak atau lebih, berdasarkan
kesetaraan, keterbukaan, dan saling menguntungkan untuk mencapai
tujuan bersama berdasarkan atas kesepakatan, prinsip dan peran masing-
masing (Departemen Kesehtan RI, 2003), misalnya bermitra dengan
BNN, KPAN, Kemendikbud, Kemenag, dan lain-lain.
4) Pemberdayaan masyarakat, melibatkan masyarakat untuk berperan aktif
dalam mengatasi masalah remaja.
Contoh: pertemuan warga dapat dijadikan media untuk membahas dan
mengatasi masalah remaja.
e. Evaluasi
Perawat komunitas bersama komunitas yang dapat mengevaluasi semua
implementasi yang telah dilakukan dengan merujuk pada tujuan yang telah
ditetapkan yaitu mencapai kesehatan remaja yang optimal. Contoh evaluasi
yang dapat dilaporkan adalah: .... % pengetahuan remaja tentang masalah
kesehatan meningkat; .... % sikap remaja meningkat; .... % keterampilan
remaja dalam mengatasi masalahnya meningkat; kelompok swabantu remaja
terbentuk; adanya komitmen masyarakat untuk melanjutkan intervensi
secara mandiri.
38

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dalam perkembangan remaja sangat rentang terhadap pengaruh
lingkungan. lingkungan osial budaya yang tidak positif merupakan faktor
resiko bagi remaja untuk terjebak dalam perilaku tidak sehat misalnya
merokok, minum-minuman keras penggunaan narkoba seks
pranikah tawuran tindakan kriminal semua perilaku remaja yang dianggap
menyimpang ini sangat beresiko terhadap kesehatan dan keselamatan
meraka bukan hanya masalah dari fisik biologis mereka melainkan dari
lingkungan oleh sebab itu banyak remaja yang tidak mampu mengatasi
masalahnya tersebut.

B. Saran
Dalam menghadai perkembangan zaman seperti ini kita sebagai remaja
harus mampu mengendalikan dan menjauh kan diri dari lingkungan yang
dapat merusak kesehatan baik dari fisik maupun biologis. Peran perawat yaitu
mampu memberikan konseling atau pengetahuan yang baik kepada remaja.
39

DAFTAR PUSTAKA

Chairani, Reni/ 2015. Modul keperawatan komunitas I Asuhan keperawatan


komunitas pada kelompok khusus.
https://www.slideshare.net/pjj_kemenkes/kb-2-47932732. diakses pada 09
maret 2019.

Effendy Ferry, Makhfudli. (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan


Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Elizabeth T Anderson, J.M. (2007). Keperawatan Komunitas Teori dan Praktik.


Jakarta: EGC.

https://www.academia.edu/36633731/ASUHAN_KEPERAWATAN_KOMUNIT
AS_PADA_KELOMPOK_ANAK_USIA_SEKOLAH_6_12_TAHUN.
diakses pada 09 maret 2019.

Wahit Iqbal Mubarak, Nurul Chayatin. 2009. Ilmu Keperawatan komunitas I.


Jakarta: Salemba Medika.

Widyanto Faisalado Candra, S.Kep,. Ns. 2014. Keperawatan Komunitas dengan


Pendekatan Praktis. Yogyakarta: Nuha Medika.