Anda di halaman 1dari 52

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN :

INFEKSI SALURAN KEMIH

DI SUSUN OLEH :

KELOMPOK 9

DINA SULASTRI VAN AERT SNR172120057


SATRIAWIN SNR172120049

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN NON REGULER


SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN
MUHAMMADIYAH PONTIANAK
TAHUN AJARAN 2017 / 2018
Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
rahmat dan karunia-Nya yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga penulis
dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Infeksi Saluran Kemih”
makalah ini dibuat untuk memenuhi mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah II.

Dalam makalah ini penulis banyak memperoleh bantuan dan bimbingan


dari beberapa pihak, untuk itu ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada:
1. Bapak Supriadi, S.Kp,MhS selaku dosen pengampu mata kuliah
Keperawatan Medikal Bedah II.
2. Teman-teman yang selalu membantu dalam pembuatan makalah ini
sekaligus membantu untuk mendapatkan referensi tambahan untuk
memperlengkap makalah yang telah penulis buat.
Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan. Hal ini disebabkan keterbatasan penulis dalam segi ilmu,
pengalaman, dan referensi penulis dalam penulisan makalah ini. Untuk itu, kritik
dan saran yang konstruktif dari berbagai pihak sangat diharapkan bagi penulis.
Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam menambah wahana
pengetahuan bagi kita semua.

Pontianak, September 2018

Penulis

ii
Daftar Isi

Kata Pengantar ........................................................................................................ ii


Daftar Isi................................................................................................................. iii
Bab I ........................................................................................................................ 1
Pendahuluan ............................................................................................................ 1
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Tujuan .......................................................................................................... 3
C. Manfaat ........................................................................................................ 3
Bab II....................................................................................................................... 4
Tinjauan Pustaka ..................................................................................................... 4
A. Konsep Dasar Medik .................................................................................... 4
1. Pengertian ................................................................................................. 4
2. Klasifikasi ................................................................................................. 4
3. Anatomi fisiologi ...................................................................................... 6
4. Etiologi ................................................................................................... 12
5. Patofisiologi............................................................................................ 13
6. Manifestasi klinis ................................................................................... 18
7. Pemeriksaan penunjang .......................................................................... 19
8. Penatalaksanaan ...................................................................................... 20
9. Komplikasi ............................................................................................. 21
10. Perencanaan pulang ............................................................................ 22
B. Konsep Dasar Keperawatan ....................................................................... 23
1. Pengkajian .............................................................................................. 23
2. Diagnosa keperawatan ............................................................................ 26
3. Intervensi keperawatan ........................................................................... 26
Pain Management ............................................................................................... 26
4. Implementasi keperawatan ..................................................................... 33

iii
5. Evaluasi keperawatan ............................................................................. 34
Bab III ................................................................................................................... 35
Studi kasus ............................................................................................................ 35
A. Kasus .......................................................................................................... 35
B. Keluhan utama ........................................................................................... 35
C. Pengkajian .................................................................................................. 35
D. Analisa data ................................................................................................ 42
E. Diagnosa keperawatan ............................................................................... 43
F. Intervensi dan implementasi ...................................................................... 44
Bab IV ................................................................................................................... 45
Penutup.................................................................................................................. 45
A. Kesimpulan ................................................................................................ 45
B. Saran ........................................................................................................... 45
Daftar Pustaka ....................................................................................................... 46

iv
v
Bab I

Pendahuluan

A. Latar Belakang
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah sebuah kondisi medis umum
yang mengakibatkan angka morbiditas dan mortalitas yang signifikan. 50-
60% dari wanita akan mengalami ISK setidaknya satu kali dalam hidup
mereka. Mencapai 10% dari wanita post-menopause mengalami sekali ISK
setiap tahun. Pria mempunyai insidensi ISK yang jauh lebih rendah (5 per
10.000 per tahun).
Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan suatu infeksi yang
disebabkan oleh pertumbuhan mikroorganisme di dalam saluran kemih
manusia. Saluran kemih manusia merupakan organ-organ yang bekerja
untuk mengumpul dan menyimpan urine serta organ yang mengeluarkan
urine dari tubuh yaitu ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra. Menurut
National Kidney and Urologic Disease Information Clearinghouse
(NKUDIC). ISK merupakan penyakit infeksi kedua tersering setelah
infeksi saluran pernafasan dan sebanyak 8,3 juta kasus dilaporkan per
tahun. ISK dapat menyerang pasien dari segala usia mulai bayi baru lahir
hingga orang tua.
Saluran kemih terdiri dari uretra, kandung kemih, ureter dan ginjal.
Normalnya saluran kemih diatas uretra adalah steril. Berbagai mekanisme
pertahanan mekanik dan psikologi yang membantu menjaga sterilitas dan
pencegahan terhadap infeksi saluran kemih. Namun, jika terjadi infeksi di
saluran kemih maka urine dapat mengandung bakteri (Price & Wilson,
2006).
Infeksi saluran kemih dapat terjadi pada pria maupun wanita dari
semua umur. Wanita lebih sering menderita infeksi daripada pria. Angka
kejadian bakteriuria pada wanita meningkat sesuai dengan bertambahnya

1
2

usia dan aktifitas seksual. Wanita yang tidak menikah angka kejadian ISK
lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang sudah menikah (Tessy,
2001). Data penelitian epidemiologi klinik melaporkan hampir 25-35%
semua perempuan dewasa pernah mengalami ISK selama hidupnya
(Sukandar, 2014). Sebanyak 50-60% dari wanita akan mengalami ISK
setidaknya satu kali dalam hidup mereka. Wanita post menopause yang
mengalami sekali ISK setiap tahun mencapai 10%. Pria mempunyai
insidensi ISK yang jauh lebih rendah yaitu 5 per 10.00 per tahun
(Schollum, 2009).
Angka kunjungan rawat jalan pasien infeksi saluran kemih di
rumah sakit Amerika Serikat mencapai lebih dari 8 juta pertahun dan
menghabiskan biaya USD 500 milyar tiap tahunnya. Menurut Soewondo
(2007), pasien rawat inap yang mengalami infeksi saluran kemih pada
beberapa rumah sakit di Amerika Serikat dan Eropa menempati urutan
pertama (42%), disusul infeksi luka operasi (24%) dan infeksi saluran
naoas (11%) (Sepalanita, 2012). Sekitar 50% pasien di rumah sakit dengan
kateter permanen mengalami ISK dalam 1 minggu setelah kateter
dipasang. 90% infeksi saluran kemih lebih banyak terjadi pada wanita
daripada pria karena uretra wanita lebih pendek dan sangat dekat dengan
vagina dan anus (Baradero, dkk, 2009).
Manajemen ISK membutuhkan diagnosis dini dan pengobatan
antibiotika dengan segera untuk memperkecil keparahan gangguan ginjal
yang terjadi. Antibiotika yang dipilih adalah antibiotika yang secara efektif
menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal
terhadap flora fekal dan vagina. Selain itu harus memiliki sifat-sifat dapat
diabsorpsi dengan baik, ditoleransi oleh pasien, dapat mencapai kadar
yang tinggi dalam urin, serta memiliki spektrum terbatas untuk mikroba
yang diketahui atau dicurigai. Pemilihan antibiotika sangat penting dalam
mengobati ISK karena kekeliruan pemilihan antibiotika dapat untuk
meningkatkan toksisitas dan resistensi bakteri penyebab ISK.
3

B. Tujuan
Berdasarkan latar belakang diatas, tujuan dari penulisan makalah dengan
pembahasan mengenai Infeksi Saluran Kemih adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui definisi dari infeksi saluran kemih.
2. Mengetahui jenis infeksi saluran kemih.
3. Mengetahui anatomi fisiologi infeksi saluran kemih.
4. Mengetahui etiologi infeksi saluran kemih.
5. Mengetahui patofisiologi infeksi saluran kemih.
6. Mengetahui komplikasi infeksi saluran kemih.
7. Mengetahui tanda dan gejala infeksi saluran kemih.
8. Mengetahui cara pengobatan infeksi saluran kemih.
9. Mengetahui pemeriksaan penunjang infeksi saluran kemih.
10. Mengetahui penatalaksanaan infeksi saluran kemih.
11. Mengetahui komplikasi infeksi saluran kemih.
12. Mengetahui perencanaan pulan infeksi saluran kemih.
13. Mengetahui konsep ASKEP untuk pasien dengan infeksi saluran
kemih.

C. Manfaat
1. Bagi pembaca

Memberikan pengetahuan dan informasi mengenai pemeliharaan


kesehatan manusia terutama pada wanita dengan komplikasi infeksi
saluran kemih saat post partum dan infeksi post partum sehingga dapat
meningkatkan pemeliharaan kesehatan, serta dapat mengurangi angka
kejadian ISK maupun infeksi post partum.

2. Bagi penyusun

Memberikan informasi sekaligus pemahaman yang lebih terhadap


penyusun sehingga nantinya dapat menerapkan dalam praktik klinik
tentang konsep keperawatan mengenai infeksi saluran kemih.
Bab II

Tinjauan Pustaka

A. Konsep Dasar Medik

1. Pengertian
Infeksi saluran kemih merupakan suatu istilah umum yang dipakai
untuk mengatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih,
sebagian besar infeksi saluran kemih disebabkan oleh bakteri, tetapi virus
dan jamur juga jadi penyebab terjadinya infeksi (Samad,2012).
Infeksi saluran kemih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria,
kira-kira 50% dari seluruh wanita pernah menderita ISK selama hidupnya,
bahkan wanita sering mengalami ISK berulang yang dapat mengganggu
kehidupannya (Nicoleti, 2010).
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi akibat berkembang biaknya
mikroorganisme di dalam saluran kemih, yang dalam keadaan normal air
kemih tidak mengandung bakteri, virus atau mikroorganisme lain. Infeksi
saluran kemih dapat terjadi baik di pria maupun wanita dari semua umur,
dan dari kedua jenis kelamin ternyata wanita lebih sering menderita infeksi
daripada pria (Sudoyo Aru, dkk 2009).
Infeksi saluran kemih dibagi menjadi ISK bagian bawah (bakteriuria
asimtomatik, sistitis akut), dan ISK bagian atas (pielonefritis). ISK tidak
bergejala (bakteriuria asimtomatik) dan ISK bergejala (sistitis akut dan
pielonefritis).

2. Klasifikasi
Jenis ISK, antara lain :
a. Kandung kemih (sistitis)
b. Uretra (uretritis)
c. Prostat (prostatitis)

4
5

d. Ginjal (pielonefritis)

Klasifikasi menurut letaknya :


a. ISK bawah
1. Perempuan (sistitis : presentasi klinis infeksi kandung kemih
disertai bakteriuria bermakna).
2. Sindrom uretra akut (SUA) : presentasi klinis sistitis tanpa
ditemukan mikroorganisme (steril), sering dinamakan sistitis
bakterialis.
b. ISK atas
1. Pielonefritis akut (PNA) : proses infeksi parenkim ginjal yang
disebabkan infeksi bakteri.
2. Pielonefritis kronis (PNK) : kemungkinan akibat lanjut dari infeksi
bakteri berkepanjangan atau infeksi sejak masa kecil.
ISK pada usia lanjut, dibedakan menjadi :
a. ISK uncomplicated (simple) merupakan ISK sederhana yang terjadi
pada penderita dengan saluran kencing tak baik, anatomic maupun
fungsional normal. ISK ini pada usia lanjut terutama mengenai
penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial
kandung kemih.
b. ISK complicated, sering menimbulkan banyak masalah karena sering
kali kuman penyebab sulit diberantas, kuman penyebab sering resisten
terhadap beberapa macam antibiotika, sering terjadi bakterimia, sepsis
dan shock. ISK ini terjadi bila terdapat keadaan-keadaan sebagai berikut
:
1. Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflex vesiko
uretral obstruksi, atoni kandung kemih, paraplegia, kateter kandung
kencing menetap dan prostatitis.
2. Kelainan faal ginjal : GGA maupun GGK.
3. Gangguan daya tahan tubuh.
6

4. Infeksi yang disebabkan karena organism virulen seperti prosteus


spp yang memproduksi urease.

3. Anatomi fisiologi

a. Ginjal

Ginjal adalah sepasang organ yang terletak dibagian belakang dari


kavum abdominalis di belakang peritoneum pada kedua sisi
vertebralumbalis III dan terbungkus oleh kapsul renalis. Bentuknya
seperti biji buah kacang merah, jumlahnya ada 2 buah kiri dan kanan.
Letak ginjal kiri sedikit lebih tinggi dari pada ginjal kanan. Pada
bagian yang melengkung (concave), tempat keluar pembuluh darah
renal dan ureter. Pada orang dewasa berat ginjal kurang lebih 200
gram. Dan pada umumnya ginjal laki-laki lebih panjang dari pada
ginjal wanita. Satuan struktural dan fungsional ginjal yang terkecil di
sebut nefron. Tiap-tiap nefron terdiri atas komponen vaskuler dan
tubuler. Komponen vaskuler terdiri atas pembuluh-pembuluh darah
yaitu glomerulus (berbentuk mangkok) dan kapiler peritubuler yang
mengitari tubuli. Dalam komponen tubuler terdapat kapsul Bowman,
serta tubulus-tubulus yaitu tubulus kontortus proksimal, tubulus
kontortus distal, tubulus pengumpul dan lengkung Henle (Loop of
7

Henle) yang terdapat pada medulla. Kapsula bowman terdiri atas


lapisan parietal (luar) berbentuk gepeng dan lapisan visceral (langsung
membungkus kapiler glomerulus). Kapsula bowman bersama
glomerolus disebut korpuskel renal, bagian tubulus yang keluar dari
korpuskel renal disebut dengan tubulus kontortus proksimal karena
jalannya yang berbelok-belok, kemudian menjadi saluran yang lurus
yang semula tebal kemudian menjadi tipis disebut ansa Henle atau
loop of henle karena membuat lengkungan tajam berbalik kembali ke
korpuskel renal asal kemudian berlanjut sebagai tubulus kontortus
distal.

b. Ureter

Terdiri dari 2 saluran pipa untuk mengalirkan urine dari ginjal ke


kandung kemih (vesika urinaria), panjangnya sekitar 25 cm dengan
penampang kurang lebih 0,5 cm. ureter sebagian terletak dalam
rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis. Lapisan
dinding ureter terdiri dari 3 lapisan :

1. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)

2. Lapisan tengah otot polos (smooth muscle)

3. Lapisan sebelah dalam (lapisan mukosa)

Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan-gerakan peristaltic


tiap 5 menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam
kandung kemih (vesika urinaria). Gerakan peristaltic mendorong urin
melalui ureter yang dieskresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam
bentuk pancaran, melalui osteum ureteralis masuk ke dalam kandung
kemih.

Ureter berjalan hamper vertikel ke bawah sepanjang fasia muskulus


psoas dan dilapisi oleh peritoneum. Penyempitan ureter terjadi pada
tempat ureter meninggalkan pelvis renalis.
8

c. Vesika urinaria (kandung kemih)

Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon


karet, terletak di belakang simfisis pubis di dalam rongga panggul.
Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang
kuat dan berhubungan dengan ligamentum vesika umbikalis medius.

Bagian vesika urinaria terdiri dari :

1. Fundus, yaitu bagian yang menghadap kea rah belakang dan


bawah, bagian ini terpisah dari rectum oleh spatium rectovesikale.

2. Korpus, yaitu bagian antara vertex dan fundus.

3. Vertex, bagian yang maju ke arah muka dan berhubungan dengan


ligamentum vesika umbilikalis.

Dinding kandung kemih terdiri dari beberapa lapisan yaitu


peritoneum (lapisan sebelah luar), tunika muskularis, tunika
submukosa dan lapian mukosa (lapisan bagian dalam).

d. Uretra

Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung


kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar dari tubuh. Pada
laki-laki uretra berjalan berkelok-kelok melalui tengah-tengah prostat
kemudian menembus lapisan fibrosa kebagian penis (panjangnya
sekitar 20 cm).

Uretra pada laki-laki terdiri dari :

1. Uretra prostatika

2. Uretra membranosa
9

3. Uretra kavernosa

Lapisan uretra laki-laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling


dalam) dan lapisan submukosa. Uretra pada wanita terletak dibelakang
simfisis pubis, berjalan miring sedikit kea rah atas, panjangnya sekitar
3-4 cm. lapisan uretra pada wanita terdiri dari Tunika muskularis
(sebelah luar), lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena-vena
dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam). Muara uretra pada wanita
terletak di sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagina) dan uretra di
sini hanya sebagai saluran ekskresi.

Fungsi sistem saluran kemih :

Fungsi utama sistem perkemihan dilakukan oleh ginjal :

a. Ginjal mengeluarkan sisa nitrogen, misalnya ureum, asam urat,


kreatinin dan ammonium.

b. Mempertahankan volume darah dengan mengatur jumlah air yang


dikeluarkan.

c. Memonitor komposisi darah dengan pengeluaran elektrolit, sodium


(Na) paling banyak selain potassium (K), bikarbonat dan kalsium.

d. Memonitor pH darah dengan mengatur pengeluaran ion misalnya


hydrogen.

e. Ginjal juga memproduksi enzim “renin” yang dapat membantu


mempertahankan tekanan darah.

f. Ginjal memproduksi hormone erythropoietin yang merangsang


produksi sel darah merah.

Mekanisme pembentukan urine :

Dari sekitar 1200 ml darah yang melalui glomerolus setiap menit


terbentuk 120-125 ml filtrate (cairan yang telah melewati celah filtasi).
10

Setiap harinya dapat terbentuk 150-180 liter filtrate. Namun dari jumlah
ini hanya sekitar 1% (1,5 L) yang akhirnya keluar sebagai kemih dan
sebagian diserap kembali.

a. Penyaringan (filtrasi)

Filtrasi darah terjadi di glomerulus, dimana jaringan kapiler dengan


struktur spesifik dibuat untuk menahan komponen selular dan medium
molecular protein besar ke dalam vascular system, menekan cairan
yang identik dengan plasma di elektrolitnya dan komposis air. Cairan
ini disebut filtrate glomerular. Tumpukan glomerulus tersusun dari
jaringan kapiler. Pada mamalia, arteri renalis mengirim darah ke
arteriol afferent dan melanjut diri sebagai arteriol eferen yang
meninggalkan glomrerulus. Tumpukan glomerulus dibungkus di
dalam lapisan sel epithelium yang disebut kapsula bowman. Area
antara glomerulus dan kapsula bowman disebut bowman space dan
merupakan bagian yang mengumpulkan filtrate glomerular dan
menyalurkan ke segmen pertama dari tubulus proksimal. Struktur
kapiler glomerular terdiri atas 3 lapisan yaitu endothelium capiler,
membrane dasar, epithelium visceral. Endothelium kapiler terdiri satu
lapisan sel yang perpanjangan sitoplasmik yang ditembus oleh jendela
atau fenestrate (Guyton, 1996).
b. Penyerapan (absorbs)
Tubulus proksimal bertanggung jawab terhadap reabsorbsi bagian
terbesar dari filtered solute. Kecepatan dan kemampuan reabsorbsi dan
sekresi dari tubulus renal tidak sama. Pada umumnya pada tubulus
proksimal bertanggung jawab untuk mereabsorbsi ultrafiltrate lebih
luas dari tubulus yang lain. Paling tidak 60% kandungan yang tersaring
di reabsorbsi sebelum cairan meninggalkan tubulus proksimal.
c. Penyerapan kembali (reabsorbsi)
Volume urine manusia hanya1% dari filtrasi glomerulus. Oleh
karena itu, 99% filtrat glomerulus akan diabsorbsi secara aktif pada
11

tubulus kontortus proksimal dan terjadi penambahan zat-zat sisa serta


urea pada tubulus kontortus distal. Substansi yang masih berguna
seperti glukosa dan asam amino di kembalikan ke darah. Sisa sampah
kelebihan garam dan bahan lain pada filtrate dikeluarkan dalam urin.
Tiap hari tubulus ginjal mereabsorbsi lebih dari 178 liter air, 1200 g
garam, dan 150 g glukosa. Sebagian besar dari zat-zat ini di reabsorbsi
beberapa kali. Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan
menghasilkan urin sekunder yang komposisinya sangat berbeda
dengan urin primer. Pada urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan
tidak akan di temukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa
metabolism yang bersifat racun bertambah, misalnya ureum dari 0,03%
dalam urin primer dapat mencapai 2% dalam urin sekunder.
Meresapnya zat pada tubulus ini melalui peristiwa osmosis. Reabsorbsi
air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal.
d. Augmentasi
Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa urea yang mulai
terjadi di tubulus kontortus distal. Komposisi urin yang dikeluarkan
lewat ureter adalah 96% air, 1,5% garam, 2,5% urea dan sisa substansi
lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi member warna dan bau
pada urin. Zat sisa metabolisme adalah hasil katabolisme zat makanan
yang bermolekul kompleks. Zat sisa ini sudah tidak berguna lagi bagi
tubuh. Sisa metabolisme antara lain CO2, H2O, NHS, zat warna
empedu dan asam urat. Karbon dioksida dan air merupakan sisa
oksidasi atau sisa oksidasi atau sisa pembakaran zat makanan yang
berasal dari karbohidral, lemak, dan protein. Semua senyawa tersebut
tidak berbahaya bila kadar tidak berlebihan. Walaupun CO2 berupa zat
sisa namun sebagian masih dapat dipakai sebagai dapat (penjaga
kestabilan PH) dalam darah. Demikian juga H20 dapat digunakan
untuk berbagai kebutuhan, misalnya sebagai pelarut. Ammonia (NH3),
hasil pembongkaran/pemecahan protein, merupakan zat yang beracun
bagi sel. Oleh karena itu, zat ini harus dikeluarkan dari tubuh. Namun
12

demikian, jika untuk sementara disimpan dalam tubuh zat tersebut


akan dirombak menjadi zat yang kurang beracun, yaitu dalam bentuk
urea. Zat warna empedu adalah sisa hasil perombakan sel darah merah
yang dilaksanakan oleh hati dan disimpan pada kantong empedu. Zat
ini yang akan dioksidasi jadi urobilinogen yang berguna memberi
memberi warna warna pada tinja dan urin. Asam urat merupakan sisa
metabolisme yang mengandung nitrogen (sama dengan ammonia)an
mempunyai daya racun lebih rendah dibandingkan ammonia, karena
daya larutnya didalam air rendah.

4. Etiologi
Bakteri yang terdapat dalam urin (uropatogen) umumnya dapat
diisolasi pada bakteriuria asimtomatik, sistitis dan pielonefritis.
Escherichia coli merupakan bakteri patogen utama pada 65% sampai 80%
kasus, bakteri lainnya Klebsiella pneumoniae, Proteus mirabilis,
Enterobacter species, Staphylocooccus saprophyticus dan Streptoccus
grup B.
ISK terjadi tergantung banyak faktor seperti : usia, gender, prevalensi
bakteriuria, dan faktor predisposisi yang menyebabkan perubahan struktur
saluran kemih termasuk ginjal. Berikut menurut jenis mikroorganisme dan
usia : (Basuki, 2000)
a. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain :
1. Escherichia coli : 90% penyebab ISK uncomplicated (simple)
2. Pseudomonas, proteus, klebsiella : penyebab ISK complicated
3. Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci dan lain-lain
b. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain :
1. Sisa urine dalam kandung kemih yang meningkat akibat
pengosongan kandung kemih yang kurang efektif
2. Mobilitas menurun
3. Nutrisi yang sering kurang baik
4. Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral
5. Adanya hambatan pada aliran urine
13

6. Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat

5. Patofisiologi
Bakteri masuk ke saluran kemih manusia dapat melalui beberapa cara
yaitu:
a. Penyebaran endogen yaitu kontak langsung dari tempat infeksi terdekat
b. Hematogen
c. Limfogen
d. Eksogen sebagai akibat pemakaian alat berupa kateter atau sistoskopi
a. Infeksi Hematogen (desending)
Infeksi hematogen kebanyakan terjadi pada pasien dengan daya tahan
tubuh rendah, karena menderita suatu penyakit kronik, atau pada pasien
yang sementara mendapat pengobatan imunosupresif. Penyebaran
hematogen dapat juga terjadi akibat adanya fokus infeksi di salah satu
tempat. Ginjal yang normal biasanya mempunyai daya tahan terhadap
infeksi E.coli karena itu jarang terjadi infeksi hematogen E.coli. Ada
beberapa tindakan yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal yang
dapat meningkatkan kepekaan ginjal sehingga mempermudah
penyebaran hematogen. Hal ini dapat terjadi pada keadaan sebagai
berikut :
1) Adanya bendungan total aliran urin
2) Adanya bendungan internal baik karena jaringan parut maupun
terdapatnya presipitasi obat intratubular, misalnya sulfonamide
3) Terdapat faktor vaskular misalnya kontriksi pembuluh darah
4) Pemakaian obat analgetik atau estrogen
5) Penyakit ginjal polikistik
6) Penderita diabetes melitus
b. Infeksi Asending
1) Kolonisasi uretra dan daerah introitus vagina
Saluran kemih yang normal umumnya tidak mengandung
mikroorganisme kecuali pada bagian distal uretra yang biasanya
juga dihuni oleh bakteri normal kulit seperti basil difteroid,
14

streptekokus. Di samping bakteri normal flora kulit, pada wanita,


daerah 1/3 bagian distal uretra ini disertai jaringan periuretral dan
vestibula vaginalis yang juga banyak dihuni oleh bakteri yang
berasal dari usus karena letak usus tidak jauh dari tempat tersebut.
Pada wanita, kuman penghuni terbanyak pada daerah tersebut adalah
E.coli di samping enterobacter dan S.fecalis. Kolonisasi E.coli pada
wanita didaerah tersebut diduga karena :
a) Adanya perubahan flora normal di daerah perineum.
b) Berkurangnya antibodi lokal.
c) Bertambahnya daya lekat organisme pada sel epitel wanita.
c. Masuknya mikroorganisme dalam kandung kemih
Proses masuknya mikroorganisme ke dalam kandung kemih belum
diketahui dengan jelas. Beberapa faktor yang mempengaruhi masuknya
mikroorganisme ke dalam kandung kemih adalah :
a. Faktor anatomi
Kenyataan bahwa infeksi saluran kemih lebih banyak terjadi pada
wanita daripada laki-laki disebabkan karena :
a. Uretra wanita lebih pendek dan terletak lebih dekat anus.
b. Uretra laki-laki bermuara saluran kelenjar prostat dan sekret
prostat merupakan antibakteri yang kuat.
b. Faktor tekanan urin pada waktu miksi
Mikroorganisme naik ke kandung kemih pada waktu miksi karena
tekanan urin. Selama miksi terjadi refluks ke dalam kandung kemih
setelah pengeluarann urin.
c. Faktor lain, misalnya:
a. Perubahan hormonal pada saat menstruasi.
b. Kebersihan alat kelamin bagian luar.
c. Adanya bahan antibakteri dalam urin.
d. Pemakaian obat kontrasepsi oral.
15

d. Multiplikasi bakteri dalam kandung kemih dan pertahanan kandung


kemih.
Dalam keadaan normal, mikroorganisme yang masuk ke dalam
kandung kemih akan cepat menghilang, sehingga tidak sempat
berkembang biak dalam urin. Pertahanan yang normal dari kandung
kemih ini tergantung tiga faktor yaitu :
1. Eradikasi organisme yang disebabkan oleh efek pembilasan dan
pengenceran urin.
2. Efek antibakteri dari urin, karena urin mengandung asam organik
yang bersifat bakteriostatik. Selain itu, urin juga mempunyai tekanan
osmotik yang tinggi dan pH yang rendah.
3. Mekanisme pertahanan mukosa kandung kemih yang intrinsik
Mekanisme pertahanan mukosa ini diduga ada hubungannya dengan
mukopolisakarida dan glikosa minoglikan yang terdapat pada
permukaan mukosa, asam organik yang bersifat bakteriostatik yang
dihasilkan bersifat lokal, serta enzim dan lisozim. Selain itu, adanya
sel fagosit berupa sel neutrofil dan sel mukosa saluran kemih itu
sendiri, juga IgG dan IgA yang terdapat pada permukaan mukosa.
Terjadinya infeksi sangat tergantung pada keseimbangan antara
kecepatan proliferasi bakteri dan daya tahan mukosa kandung
kemih.Eradikasi bakteri dari kandung kemih menjadi terhambat jika
terdapat hal sebagai berikut : adanya urin sisa, miksi yang tidak kuat,
benda asing atau batu dalam kandung kemih, tekanan kandung
kemih yang tinggi atau inflamasi sebelumya pada kandung kemih.
e. Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal
Hal ini disebabkan oleh refluks vesikoureter dan menyebarnya infeksi
dari pelvis ke korteks karena refluks internal. Refluks vesikoureter
adalah keadaan patologis karena tidak berfungsinya valvula
vesikoureter sehingga aliran urin naik dari kandung kemih ke ginjal.
Tidak berfungsinya valvula vesikoureter ini disebabkan karena :
16

1. Memendeknya bagian intravesikel ureter yang biasa terjadi secara


kongenital.
2. Edema mukosa ureter akibat infeksi.
3. Tumor pada kandung kemih.
4. Penebalan dinding kandung kemih.
17

Akumulasi etiologi
dan faktor resiko
(infeksi
mikroorganisme,
Penggunaan steroid
dalam jangka
panjang, usia lanjut, Makanan Jaringan parut
anomaly saluran terkontaminasi total tersumbat
kemih, cidera uretra, mikroorganisme
riwayat isk) masuk lewat mulut

Obstruksi saluran
kemih yang
lambung bermuara ke vesika
urinarius

Hidup Tidak Hidup

Usus terutama pleg Resiko infeksi Peningkatan tekanan


player VU

Kuman mengeluarkan Mati Penebalan dinding


edotoksin VU

Bakteremia primer Difagosit Kontraksi otot VU

Procesia pada kulit


Tidak Difagosit dan tidak hipertermi Kesulitan Berkemih

Bakteremia sekunder Pembuluh darah kapiler Retensi urine

Hipotalamus Ureter Reinteraksi


Abdominal
18

Menekan Iritasi Ureteral Obstruksi


Termoreguler

Hipertermi Oliguria Mual muntah


Menekan termoreguler

Peradangan Gangguan Eliminasi Kekurangan


Urine Volume Cairan

Peningkatan Defresi Saraf Perifer


frekuensi/dorongan
kontraksi uretral
Nyeri

6. Manifestasi klinis
Menurut (Price dan Wilson, 2002) dalam (Huda, 2016) :

a. Rasa ingin buang air kecil lagi, meski sudah dicoba untuk berkemih
namun tidak ada air kemih yang keluar.

b. Sering BAK dan kesakitan saat BAK, urine berwarna putih, coklat atau
kemerahan dan baunya sangat menyengat.

c. Warna air seni kental/pekat seperti air teh, kadang kemerahan bila ada
darah.

d. Nyeri pada pinggang.

e. Demam atau menggigil yang dapat menandakan infeksi telah mencapai


ginjal (diiringi rasa nyeri di sisi bawah belakang rusuk, mual atau
muntah).

f. Peradangan kronis pada kandung kemih yang berlanjut dan tidak


sembuh-sembuh dapat menjadi memicu terjadinya kanker kandung
kemih.

g. Pada neonatus usia 2 bulan, gejalanya dapat menyerupai infeksi atau


sepsis berupa demam, apatis, berat badan tidak naik, muntah, mencret,
anoreksia, problem minum dan sianosis.
19

h. Pada bayi gejalanya berupa demam, berat badan sukar naik atau
anoreksia.

i. Pada anak besar gejalanya lebih khas seperti sakit waktu BAK,
frekuensi BAK meningkat, nyeri perut atau pinggang, mengompol dan
bau kencing yang menyengat.

7. Pemeriksaan penunjang
a. Urinalisis
Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting
adanya ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang
pandang besar (LPB) sediment air kemih.
b. Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment
air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik
berupa kerusakan glomerulus atau pun urolitiasis.
c. Bakteriologis
a. Mikroskopis.
b. Biakanbakteri.
d. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik.
e. USG.
f. Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin
dari urin tamping aliran tengah atau dari specimen dalam kateter
dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi.
g. Metodetes
1. Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit
(tes Griess untuk pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif:
maka pasien mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess
positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal
menjadi nitrit.
2. Tes Penyakit Menular Seksual (PMS):
Uretritia akut akibat organism menular secara seksual (misal,
klamidia trakomatis, neisseria gonorrhoeae, herpes simplek).
20

3. Tes- tes tambahan:


Urogramintravena (IVU). Pielografi (IVP), msistografi, dan
ultra sonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah
infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa
renal atau abses, hodronerosis atau hiperplasie prostate. Urogram IV
atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat
dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang
resisten.

8. Penatalaksanaan
a. Non farmakologi

1. Mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan


Nyeri dan ketidaknyamanan dapat dikurangi dengan ketika anti
mikrobia dimulai. Agen anti spamodicme bantu dalam mengurangi
iritabilitas kandung kemih dan nyeri. Aspirin, pemanasan perineum
dan mandi rendam panas membantu mengurangi ketidaknyamanan
dan spasme.
2. Mengurangi frekuensi (berkemih), urgency dan hesitancy
Pasien didorong untuk minum dengan bebas sejumlah cairan
(air adalah pilihan terbaik) untuk mendukung aliran darah renal dan
untuk membilas bakteri dari traktur urinarius. Hidari cairan yang
dapat mengiritasi kandung kemih (misal ; kopi, teh, cola, alkohol).
3. Pendidikan pasien
Pasien harus menerima perincian instruksi berikut :
a) Mengurangi konsentrasi pathogen pada orifisium vagina
(khusus pada wanita) melalui tindakan hygiene.
b) Minum dengan bebas sejumlah cairan dalam sehari untuk
membilas keluar bakteri dan hindari untuk minum kopi, teh,
cola dan alkohol.
c) Berkemih setiap 2-3 jam dalam sehari dan kosongkan kandung
kemih dengan sempurna hal ini mencegah distensi kandung
21

kemih yang berlebihan dan gangguan terhadap suplai darah ke


dinding kandung kemih yang merupakan predisposisi systitis.
d) Jika bakteri tetap muncul dalam urin, terapi anti mikrobia
jangka panjang diperlukan untuk mencegah kolonisasi area
periuretral dan kekambuhan infeksi.
e) Konsul ketenaga kesehatan secara teratur untuk tindak lanjut,
kekambuhan gejala atau infeksi non responsive terhadap
penanganan.
b. Farmakologi
1. Antibiotic sesuai kultur, bila hasil kultur belum ada dapat diberikan
antibiotic antara lain cefotaxime, ceftriaxon, kotrimoxsazol,
trimetroprim, fluoroquinolon, amoksisiklin, doksisiklin,
aminoglikosid.
2. Bila ada tanda-tanda urosepsos dapat diberikan impinemen atau
kombinasi penisilin dengan aminoglikosida.
3. Untuk ibu hamil dapat diberikan amoksisilin, nitrofurantoin atau
sefalosporin.

9. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada infeksi saluran kemih ini
adalah karena adanya proses reflux atau mikroorganisme yang di dapat
secara asendens, yaitu menyebabkan :
a. Pyelonefritis
Infeksi yang naik dari ureter ke ginjal, tubulus reflux
urethrovesikal dan jaringan intestinal yang terjadi pada satu atau kedua
ginjal.
b. Gagal Ginjal
Terjadi dalam waktu yang lama dan bila infeksi sering berulang
atau tidak diobati dengan tuntas sehingga menyebabkan kerusakan
ginjal baik secara akut dan kronik.
22

10. Perencanaan pulang


a. Perbanyak minum air putih (8-10 gelas/hari).

b. Mengkonsumsi vit C secara teratur karena dapat mengurangi jumlah


bakteri dalam urine.

c. Hindari konsumsi minuman beralkohol, makanan yang berempah dan


kopi karena semua makanan ini dapat mengiritasi kandung kemih.

d. Berikan kompres hangat dengan bantal elektrik khusus atau botol berisi
air panas pada bagian abdomen untuk mengurangi rasa tegang pada
kandung kemih.

e. Segera buang air kecil jika keinginan itu timbul.

f. Cucilah alat kelamin sebelum dan sesudah berhubungan intim.

g. Jalani hidup bersih dengan mencuci bagian anus dan genetalia


sekurang-kurangnya sehari.

h. Jika menggunakan kateter lakukan pergantian atau cek ke dokter


dengan teratur.

i. Untuk wanita :

a. Kenali faktor penyebab atau gejala-gejala yang menimbulkan ISK.

b. Basuh bagian kemaluan dari arah depan ke belakang(anus) agar


bakteri tidak bermigrasi dari anus ke vagina atau uretra.

c. Cuci setelah melakukan senggama diikuti dengan terapi antimikroba


takaran tunggal (misal trimetroprim 200 mg).

d. Jika hamil segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan


perawatan sesegera mungkin.

e. Ganti pembalut.
23

f. Hindari pemakaian celana ketat.

g. Hindari penggunaan parfum, deodorant atau produk kebersihan


wanita lainnya pada bagian kelamin karena dapat berpotensi
mengiritasi uretra.

B. Konsep Dasar Keperawatan

1. Pengkajian
Dalam melakukan pengkajian pada klien ISK menggunakan pendekatan
bersifat menyeluruh yaitu :
Data biologis meliputi :
a. Identitas klien.
b. Identitas penanggung.
Riwayat kesehatan :
1. Riwayat infeksi saluran kemih.
2. Riwayat pernah menderita batu ginjal.
3. Riwayat penyakit DM, jantung.
c. Pengkajian fisik :
1. Kesadaran : kesadaran menurun.
2. Tanda – tanda vital :
a. Tekanan darah : meningkat
b. Nadi : meningkat
c. Pernapasan : meningkat
d. Suhu : meningkat
3. Pemeriksaan fisik head to toe
No. Bagian Tubuh Pemeriksaan Fisik
1. Rambut Keadaan kepala klien ISK biasanya baik
(tergantung klien): distibusi rambut merata,
warna rambut normal (hitam), rambut tidak
bercabang, rambut bersih. pada saat di
palpasi keadaan rambut klien ISK biasanya
lembut, tidak berminyak, rambut halus.
24

2. Mata Keadaan mata penderita ISK biasanya


normal. Mata simetris, tidak udema di
sekitar mata, sklera tidak ikterik,
konjungtiva anemis, pandangan tidak kabur.
3. Hidung Normal, simetris tidak ada pembengkakan
,tidak ada secret, hidung bersih.
4. Telinga Normal, telinga simetris kiri dan kanan,
bentuk daun teling normal, tidak terdapat
serumen,kebersihan telinga baik.
6. Mulut Mukosa bibir kering, keadaan dalam mulut
bersih(lidah,gigi,gusi).
7. Leher Biasanya pada klien ISK Normal
I : Leher simetris,tidak ada penonjolan
JVP,terlihat pulsasi.
Pa: Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid,
tidak ada pembesaran nodus limfa.
Thoraks
7. I : Dada simetris kiri dan kanan, pergerakan
 Paru dada sama, pernapasan cepat dan dangkal,
tidak ada penonjolan rusuk.
Pa : Normal.tulang rusuk lengkap, tidak ada
nyeri tekan dan nyeri lepas serta edema atau
massa.tractil fremitus positif kiri dan kanan.
Pe: Suara dullness pada daerah payudara,
dan suara resonan pada intercosta.
Au: Normal, tidak terdengar suara tambahan
pada pernapasan (ronchi,wheezing).
9.  Jantung Biasanya klien dengan ISK normal. Yaitu
tidak ada terjadi gangguan pada jantung
klien (kecuali klien memilki riwayat sakit
jantung). Teraba pulsasi pada daerah jantung
25

klien pada intercosta 2 dan pada intercosta 3-


5 tidak teraba, pada garis mid klavikula
teraba vibrasi lembut ketukan jantung. Suara
jantung S1 dan s2 terdengar dan seimbang
pada intercosta ke 3 dan pada intercosta ke 5
bunyi s1 lebih dominan dari pada s2
10. Abdomen I : Perut rata, tidak ada pembesaran hepar
yang di tandai dengan perut buncit, tidak ada
pembuluh darah yang menonjol pada
abdomen, tidak ada selulit.
Pa : Ada nyeri tekan pada abdomen bagian
bawah akibat penekanan oleh infeksi.
Pe : Bunyi yang di hasilkan timpani.
Au : Bising usus terdengar.
11. Ekstermitas Kekuatan ekstremitas atas dan ekstremitas
bawah baik, dapat melakukan pergerakan
sesuai perintah, tidak ada nyeri tekan atau
lepas pada ekstremitas, tidak ada bunyi
krepitus pasa ekstremitas.

d.Riwayat psikososial :
1. Usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan.
2. Persepsi terhadap kondisi penyakit.
3. Mekanisme koping dan system pendukung.
e. Pengkajian pengetahuan klien dan keluarga

1. Pemahaman tentang penyebab/perjalanan penyakit.

2. Pemahaman tentang pencegahan, perawatan dan terapi medis.


26

2. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung
kemih dan struktur traktus urinarius lain.

b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan


aktif ditandai dengan mual, muntah.

c. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan laju metabolism dan


proses penyakit.

d. Retensi urine berhubungan dengan peningkatan tekanan ureter,


sumbatan pada kandung kemih.

e. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi mekanik


pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain.

f. Resiko infeksi yang berhubungan dengan adanya bakteri pada saluran


kemih.

3. Intervensi keperawatan
Diagnosa Tujuan dan Rencana Rasional
Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
Nyeri akut Setelah dilakukan Pain
berhubungan askep selama Management
dengan 3x24 jam,  Lakukan  Mengetahui tingkat
inflamasi dan diharapkan nyeri pengkajian pengalaman nyeri
infeksi uretra, berkurang, dengan nyeri secara klien dan tindakan
kandung kemih kriteria hasil : komprehensif keperawatan yang
dan struktur  Mampu termasuk akan dilakukan untuk
traktus mengontrol lokasi, mengurangi nyeri
urinarius lain nyeri (tau karakteristik,
penyebab durasi,
nyeri, mampu frekuensi,
menggunakan kualitas dan
27

tehnik faktor
nonfarmakolog presipitasi
i untuk (PQRST)
mengurangi  Observasi  Reaksi terhadap nyeri
nyeri, mencari reaksi biasanya ditunjukkan
bantuan) nonverbal dari dengan reaksi non
 Melaporkan ketidaknyaman verbal tanpa disengaja.
bahwa nyeri an
berkurang  Gunakan  Mengetahui
dengan teknik pengalaman nyeri
menggunakan komunikasi
manajemen terapeutik
nyeri untuk
 Mampu mengetahui
mengenali pengalaman
nyeri (skala, nyeri pasien
intensitas,  Ajarkan  Penanganan nyeri
frekuensi dan tentang teknik tidak selamanya
tanda nyeri) non diberikan obat. Nafas
farmakologi dalam dapat membantu
 Menyatakan mengurangi tingkat
rasa nyaman nyeri
setelah nyeri  Evaluasi  Mengetahui
berkurang keefektifan keefektifan control
kontrol nyeri nyeri
 Tanda vital  Motivasi untuk  Mengurangi rasa nyeri
dalam rentang meningkatkan Menentukan intervensi
normal asupan nutrisi keperawatan sesuai
TD : 120-150 yang bergizi. skala nyeri.
/80 – 90  Tingkatkan  Mengidentifikasi
28

mmHg istirahat penyimpangan dan


RR : 20 – 26 kemajuan berdasarkan
x/mnt involusi uteri.
N : 90- 120 x  Kaji kontraksi  Mengurangi
mnt uterus, proses ketegangan pada luka
T : 36,5 C –
o
involusi uteri.
38,5 o C  Kolaborasi  Untuk memberikan
dokter tentang terapi yang tepat
pemberian kepada pasien
analgesik
Kekurangan Setelah dilakukan Fluid 
volume cairan askep selama management 
berhubungan 3x24 jam, Pasien  Observasi  Mengidentifikasi
dengan dapat Tanda-tanda penyimpangan
kehilangan mendemostrasikan vital setiap 4 indikasi kemajuan
cairan aktif status cairan jam. atau penyimpangan
ditandai membaik, dengan dari hasil yang
dengan mual, kriteria hasil: tak diharapkan.
muntah ada manifestasi  Observasi  Memenuhi
dehidrasi, resolusi warna urine. kebutuhan cairan
oedema, haluaran tubuh klien
urine di atas 30  Status umum
 Menjaga status
ml/jam, kulit setiap 8 jam. balance cairan klien
kenyal/turgor kulit  Pertahankan
 Memenuhi
baik. catatan intake kebutuhan cairan
dan output tubuh klien
yang akurat
 Monitor status  Memenuhi
hidrasi kebutuhan cairan
(kelembaban tubuh klien
29

membran
mukosa, nadi
adekuat,
tekanan darah
ortostatik), jika
diperlukan
 Monitor  Temuan-temuan ini
masukan menandakan
makanan / hipovolemia dan
cairan dan perlunya
hitung intake peningkatan cairan.
kalori harian
 Lakukan terapi  Mencegah pasien
IV jatuh ke dalam
kondisi kelebihan
cairan yang beresiko
terjadinya oedem
paru.
 Berikan cairan  Mengidentifikasi
keseimbangan cairan
pasien secara adekuat
dan teratur.
 Dorong
masukan oral
 Beritahu
dokter bila:
haluaran urine
< 30 ml/jam,
haus,
takikardia,
30

gelisah, TD di
bawah rentang
normal, urine
gelap atau
encer gelap.
 Konsultasi
dokter bila
manifestasi
kelebihan
cairan terjadi.
 Pantau: cairan
masuk dan
cairan keluar
setiap 8 jam.

Hipertermi Setelah dilakukan Fever treatment


berhubungan askep selama  Kaji tanda-  Mengetahui
dengan 3x24 jam, tanda vital perkembangan
peningkatan hipertermia pasien pasien
laju teratasi dengan  Berikan  Agar suhu tubuh
metabolism kriteria hasil: suhu pengobatan pasien menurun
dan proses tubuh dalam untuk
penyakit rentang normal, mengatasi
nadi dan RR dan demam
rentang normal.  Berikan  Agar suhu tubuh
kompres pada pasien menurun
pasien di
bagian lipat
paha dan
aksila
31

 Kolaborasi  Agar kebutuhan


pemberian cairan pasien
cairan terpenuhi serta agar
intravena pasien tidak lemah
 Kolaborasi  Agar pasien
dengan Dokter mendapatkan
untuk kesembuhan
pengobatan terhadap
yang lebih penyakitnya
lanjut
Retensi urine Setelah dilakukan  Memantau
berhubungan askep selama keseimbangan
dengan 3x24 jam, retensi cairan pasien
peningkatan urine teratasi  Mengevaluasi
tekanan ureter, dengan kriteria keefektifan
sumbatan pada hasil: bak lancar, obat
kandung kemih nadi dan RR dan  Memasang
rentang normal. kateter ke
dalam kandung
kemih untuk
sementara
waktu
 Memelihara
pola eleminasi
urine yang
optimum
Gangguan  Ukur dan cata  Untuk mengetahui
Setelah dilakukan
eleminasi urine urine setiap adanya perubahan
tindakan
berhubungan kali berkemih warna dan untuk
keperawatan
32

dengan selama 3 x 24 jam mengetahui


obstruksi klien dapat input/output
mekanik pada mempertahankan  Anjurkan untuk  Untuk mencegah
kandung kemih pola eliminasi berkemih terjadinya
ataupun secara adekuat. setiap 2-3 jam penumpukan urine
struktur traktus dalam kandung
urinarius lain kemih
 Palpasi  Untuk memudahkan
kandung kemih klien dalam
tiap 4 jam berkemih
 Bantu klien ke  Untuk memudahkan
kamar kecil, klien berkemih
memakai
pispot atau
urinal
Resiko infeksi  Kaji suhu  Tanda vital
Setelah dilakukan
yang tubuh pasien menandakan adanya
tindakan
berhubungan setiap 4 jam perubahan di dalam
keperawatan
dengan adanya dan lapor jika tubuh
selama 3x24 jam
bakteri pada suhu di atas
pasien
saluran kemih 38,5 0C
memperlihatkan
 Catat  Untuk mengetahui
tidak adanya
karakteristik atau
tanda-tanda
urine mengidentifikasi
infeksi
indikasi kemajuan
atau penyimpangan
dari hasil yang
diharapkan
 Anjurkan  Untuk mencegah
pasien untuk stasis urine
33

minum 2-3 liter


jika tidak ada
kontra indikasi
 Monitor  Mengetahui
pemeriksaan seberapa jauh efek
ulang urine pengobatan terhadap
kultur dan keadaan penderita
sensivitas
untuk
menentukan
respon terapi
 Anjurkan  Untuk mencegah
pasien untuk adanya distensi
mengosongkan kandung kemih
kandung kemih
secara komplit
setiap kali
berkemih
 Berikan  Untuk menjaga
perawatan kebersihan dan
perineal, menghindari bakteri
pertahankan yang membuat
agar tetap infeksi uretra
bersih dan
kering

4. Implementasi keperawatan

Pada tahap ini untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas-


aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan pasien. Agar
implementasi / pelaksanaan perencanaan ini dapat tepat waktu dan efektif
maka perlu mengidentifikasi prioritas perawatan, memantau dan mencatat
34

respon pasien terhadap setiap intervensi yang dilaksanakan serta


mendokumentasikan pelaksanaan perawatan ( Doenges E Marilyn, dkk.
2000 ).Tahap ini untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas-aktivitas
yang telah dicatat dalam rencana perawatan pasien. Agar implementasi/
pelaksanaan perencanaan ini dapat tepat waktu dan efektif maka perlu
mengidentifikasi prioritas perawatan, memantau dan mencatat respon
pasien terhadap setiap intervensi yang dilaksanakan serta
mendokumentasikan pelaksanaan perawatan (Doenges E Marilyn, dkk,
2000)

5. Evaluasi keperawatan

Pada tahap ini yang perlu dievaluasi pada klien dengan ISK adalah,
mengacu pada tujuan yang hendak dicapai yakni apakah terdapat :
a. Nyeri yang menetap atau bertambah.
b. Perubahan warna urine.
c. Pola berkemih berubah, berkemih sering dan sedikit-sedikit, perasaan
ingin kencing menetes setelah berkemih.
Bab III

Studi kasus

A. Kasus
Pasien datang ke IGD dengan keluhan nyeri pada saat BAK dan
pada daerah selangkangan (perineum). Awalnya klien mengalami demam,
pusing dan nyeri di daerah saluran kencing saat BAK maupun tidak.
Sebelumnya klien memeriksakan diri ke perawat/mantri terdekat dan
mantri tersebut memberikan diagnosa thypus dan diberikan obat-obatan.
Pasien merasa keluhannya tidak berkurang, pasien memeriksakan diri ke
IGD rumah sakit terdekat pada tanggal 1 september 2018 jam 21.00.
Riwayat kesehatan masa lalu pasien pernah dirawat pada 2 tahun terakhir
karena menderita penyakit malaria. Klien juga memiliki riwayat penyakit
hipertensi namun tidak pernah memiliki riwayat penyakit seperti DM.
klien juga tidak pernah mendapatkan tindakan operasi maupun kecelakaan
lalu lintas.

B. Keluhan utama
Klien mengatakan keluhan nyeri pada saat BAK dan pada daerah
selangkangan dan klien sebelumnya mengalami demam, pusing dan nyeri
di daerah saluran kencing saat BAK maupun tidak

C. Pengkajian
1. Data subjektif

a. Identitas pasien

Nama : Tn. I

Umur : 50 tahun

35
36

Agama : Islam

Pendidikan : SD

Status perkawinan : Kawin

Diagnosa medis : Infeksi saluran kemih (ISK)

Tanggal masuk rumah sakit : 1 september 2018

Tanggal pengkajian : 3 september 2018

No registrasi : 18 96 54

Alamat : Jl Komplek Bumi Berkat Sui Kecil RT 003 RW 001


Jakarta

Penanggung jawab : Ny A

b. Keluhan utama

Klien mengeluh nyeri pada saat BAK dan pada daerah


selangkangan (perineum).

c. Riwayat penyakit

Mulanya klien mengalami demam, pusing, dan nyeri di


daerah saluran kencing saat BAK maupun tidak. Kemudian klien
memeriksakan diri ke perawat atau mantri terdekat dan mantra
tersebut memberikan diagnosa thypus dan diberikan obat-obatan.
Merasa keluhannya tidak berkurang, klien memeriksakan diri ke
IGD rumah sakit terdekat pada tanggal 1 september 2018 jam
21.00 dan hingga saat ini di rawat dirumah sakit.

d. Riwayat kesehatan yang lalu

Tahun 2016 klien pernah dirawat karena mnderita penyakit


malaria. Klien juga memiliki riwayat penyakit hipertensi namun
37

tidak pernah memiliki riwayat penyakit seperti DM. klien juga


tidak pernah mendapatkan tindakan oprasi maupun kecelakaan lalu
lintas.

e. Riwayat kesehatan keluarga

Menurut penuturan klien diantara keluarga klien tidak ada


yang menderita penyakit yang sama dengan klien. Namun, ibunda
klien memiliki riwayat penyakit hipertensi dan tidak memiliki
penyakit DM, jantung ataupun asma.

f. Data psikososial

Klien dapat berorientasi dengan baik terhadap perawat dan


dokter. Klien juga berupaya cepat pulih dan selama di rumah sakit
klien ditunggui istri klien.

g. Pola kebiasaan sehari-hari

Pola kebiasaan Sebelum masuk RS Sewaktu di Rs


NUTRISI
 Makan
Frekuensi 3 kali/hari 3 kali/hari (1/2 porsi
Menu Nasi, ikan, sayur nasi)
 Minum Nasi, ikan, sayur
Jenis The manis, air putih Teh manis, air putih
Jumlah ±1,5 L ±1,5 L
ELIMINASI
 BAK
Frekuensi 4-5 kali/hari 1-2 kali/hari
Warna Kuning jernih Kuning keruh
 BAB
Frekuensi 1 kali/hari 1 kali/hari
38

ISTIRAHAT DAN
TIDUR
 Tidur siang 8 jam/hari 5 jam/hari
 Tidur malam
PERSONAL
HYGIENE
 Mandi 2 kali sehari 2 kali sehari
AKTIVITAS DAN
LATIHAN
 Mandi Mandiri Mandiri
 Berpakaian Mandiri Mandiri
 Mobilitas Mandiri Mandiri

 Toileting Mandiri(BAB) Mandiri(BAB)


Mandiri(BAK) Mandiri(BAK)
SPIRITUAL
 Shalat Bisa mandiri Tidak bisa sholat
 Puasa Bisa pada bulan Tidak bisa puasa
Ramadhan
2. Data objektif

a. Keadaan umum : Compos mentis.

b. Kesadaran : GCS 4-5-6.

c. Tanda-tanda vital : Tekanan darah : 130/90 mmHg

Pernapasan : 25 kali/menit

Nadi : 76 kali/menit

Suhu : 38 oC

d. Tinggi badan : 165 cm.

Berat badan : Turun kurang lebih 3 kg (dari 63 kg menjadi 60 kg).


39

e. Skala nyeri : 3 dari 0-5/sedang.

f. Head to toe :

1) Kepala

Keadaan kepala bersih, bentuk kepala simetris, distribusi


rambut merata, rambut hitam, tidak ada massa atau lesi.

2) Mata

Konjungtiva tidak anemis, pupil sama besarnya antara kiri


dan kanan, kornea bening, sclera tidak ikterik, kemampuan
penglihatan baik, lensa mata tidak keruh, namun terdapat
kantong mata di bawah mata yang berwarna agak kehitaman
dan tatapan terlihat lemah dan sayu.

3) Hidung

Tidak terdapat peradangan, bentuk simetris, fungsi


penciuman baik, serta dapat membedakan bau minyak angin
dan parfum.

4) Mulut

Bentuk simetris, mukosa bibir lembab, mulut bersih, bibir


tidak sianosis, lidah bersih, tidak terdapat caries gigi, indera
pengecapan baik, dan dapat berkomunikasi dengan baik.

5) Telinga

Simetris, fungsi pendengaran baik, serumen minimal, dan


tidak terdapat nyeri.
40

6) Leher

Simetris, leher tampak bersih, tidak ada tanda kemerahan,


tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid, tidak terdapat distensi
vena jugularis.

7) Thoraks

Simetris, pola pernafasan eupnea (normal), bunyi jantung


S1-S2 tunggal regular.

8) Abdomen

Keadaan abdomen simetris, tidak terdapat benjolan dan


nyeri tekan.

9) Kulit

Warna sawo matang, turgor kulit baik, tidak terdapat edema


atau lesi.

10) Genetalia

Terdapat nyeri tekan di daerah perineum (selangkangan)


dan saluran kencing dengan skala nyeri 3 daro 0-5/sedang.

11) Ekstremitas atas dan bawah

Tampak simetris, akral dingin, tidak terdapat massa.

Skala otot :

Keterangan :

5 : Gerakan normal penuh menentang gravitasi dengan


penahan penuh.

4 : Gerakan normal penuh menentang gravitasi dengan sedikit


penahanan.
41

3 : Gerakan normal menentang gravitasi.

2 : Gerakan otot penuh menentang gravitasi dengan sokongan.

1 : Tidak ada gerakan, teraba kontraksi otot.

0 : Paralisis total.

g. Data penunjang dan terapi

1. Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 1 september 2018

a. Urine

MAKROSKOPIS HASIL NILAI


NORMAL
Warna Kuning tua Tidak berwarna,
kuning muda
Kejernihan Keruh Jernih
BJ 1,020 D03-1,00
pH 6,5 5-7
Glucose - -
Protein + -
Blood + -
Leukosit 10-25/lbp 0-2/lbp
Eritrosit 1-4/lbp 0-2/lbp
b. Darah lengkap

DARAH HASIL NILAI NORMAL


LENGKAP
Hb 15,2 gr/dl 12-18gr/dl
Leukosit 17.800/mm3 4.000-10.000/mm3
Trombosit 280.000/mm3 100.000-
400.000/mm3
42

LED 44% 36-55%


2. Terapi (pengobatan)

a. Obat suntik :

1) Ceftriaxone 1x1 vial/IV

2) Ranitidine 2x1 ampul/IV

D. Analisa data
No. Data subjektif dan data Etiologi Masalah
objektif Keperawatan

1. DS : Inflamasi dan Nyeri akut


Klien mengeluh nyeri pada infeksi uretra,
daerah selangkangan dan kandung kemih
nyeri saat BAK. dan struktur
DO : traktus urinarius
- Klien tampak meringis. lain
- Skala nyeri 3 dari 0-
5/sedang.
- Tanda-tanda vital :
TD : 130/90 mmHg
Pernafasan : 25x/menit
Nadi : 75x/menit
Suhu : 38oC
2. DS : Peningkatan laju Hipertermi
Klien mengatakan tidak dapat metabolism dan
tidur nyenyak karena proses penyakit
mengigil, pusing dan nyeri.
DO :
- Klien tampak menggigil.
- Tatapan terlihat pucat dan
sayu.
43

- Klien tampak pucat dan


terdapat kehitaman di
daerah bawah mata.
- Tanda-tanda vital :
TD : 100/80 mmHg
Pernafasan : 20x/menit
Nadi : 80x/menit
Suhu : 38,5oC
3. DS : Obstruksi Gangguan
Klien mengatakan nyeri saat mekanik pada eliminasi urine
BAK dan nyeri di daerah kandung kemih
saluran kencing saat BAK ataupun struktur
maupun tidak BAK. traktus urinarius
DO : lain
- Klien tampak meringis.
- Klien tampak bolak balik
ke wc dan tidak bisa BAK.
- Klien BAK 1-3 kali sehari.

E. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung
kemih dan struktur traktus urinarius lain yang ditandai oleh klien
mengeluh nyeri pada daerah selangkangan dan nyeri saat BAK dengan
skala nyeri 3 dari 0-5/sedang.

2. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan laju metabolism dan


proses penyakit yang ditandai oleh klien mengatakan tidak dapat tidur
nyenyak karena mengigil, pusing, nyeri, menggigil dan suhu tubuh
38oC.

3. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi mekanik


pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain yang
44

ditandai oleh klien mengatakan nyeri saat BAK dan nyeri di daerah
saluran kencing saat BAK maupun tidak BAK serta BAK 1-2 x sehari.

F. Intervensi dan implementasi


Implementasi yang dilakukan oleh perawat adalah sebagai berikut :

1. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung


kemih dan struktur traktus urinarius lain yang ditandai oleh klien
mengeluh nyeri pada daerah selangkangan dan nyeri saat BAK dengan
skala nyeri 3 dari 0-5/sedang :

a. Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif.

Mengetahui tingkat pengalaman nyeri klien dan tindakan


keperawatan yang akan dilakukan untuk mengurangi nyeri.

b. Mengobservasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan.

Mengetahui reaksi terhadap nyeri yang biasa ditunjukkan dengan


reaksi non verbal tanpa disengaja.

c. Mengajarkan teknik non farmakologi(teknik nafas dalam)

Memberikan penjelasan bahwa penanganan nyeri tidak selamanya


menggunakan obat.

d. Berkolaborasi dengan dokter tentang pemberian analgesic.

Untuk memberikan terapi yang tepat kepada pasien.

2. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan laju metabolism dan


proses penyakit yang ditandai oleh klien mengatakan tidak dapat tidur
nyenyak karena mengigil, pusing, nyeri, menggigil dan suhu tubuh
38oC :

a. Mengkaji tanda-tanda vital pasien.

Mengetahui perkembangan keadaan pasien.


45

b. Memberikan pengobatan untuk mengatasi demam.

Agar suhu tubuh pasien menurun.

c. Memberikan kompres pada pasien di bagian lipatan paha dan


aksila.

Agar suhu tubuh pasien menurun.

d. Berkolaborasi pemberian cairan intravena.

Agar kebutuhan cairan pasien terpenuhi serta agar pasien tidak


lemah.

e. Berkolaborasi dengan dokter untuk pengobatan yang lebih lanjut.

Agar pasien mendapatkan kesembuhan terhadap penyakitnya.

3. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi mekanik


pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain yang
ditandai oleh klien mengatakan nyeri saat BAK dan nyeri di daerah
saluran kencing saat BAK maupun tidak BAK serta BAK 1-2 x sehari :

a. Mengukur dan catat urine setiap kali berkemih.

Mengetahui adanya perubahan warna dan untuk mengetahui


input/output pasien.

b. Membantu pasien ke kamar kecil.

Mengetahui apakah pasien bisa BAK atau tidak serta memudahkan


pasien untuk berkemih.

c. Mempalpasi kandung kemih tiap 4 jam.

Mengetahui tingkat nyeri pasien.


Bab IV

Penutup

A. Kesimpulan
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi akibat berkembang biaknya
mikroorganisme di dalam saluran kemih, yang dalam keadaan normal air
kemih tidak mengandung bakteri, virus atau mikroorganisme lain. Infeksi
saluran kemih dapat terjadi baik di pria maupun wanita dari semua umur,
dan dari kedua jenis kelamin ternyata wanita lebih sering menderita infeksi
daripada pria (Sudoyo Aru, dkk 2009).
Sebelum infeksi ini terjadi, maka sebaiknya berawal dari kebiasaan
yang sehat. Mulai dari setiap merasakan ingin buang air kecil jangan di
nanti-nanti, tapi harus segera buang air. Jangan sampai bakteri berkumpul
dan lebih banyak lagi bersarang di saluran kemih. Dan bakteri itu akan
lebih cepat menyebar keseluruh saluran yang menyebabkan rasa sakit pada
saat buang air kecil.

B. Saran
Penulis berharap kepada pembaca khususnya kami sendiri agar
dapat meningkatkan lagi ilmu pengetahuan yang dimiliki di bidang
keperawatan medical bedah khususnya yang terkait dengan infeksi saluran
kemih.

45
Daftar Pustaka

Brunner & Suddath.2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.

Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2016). Asuhan Keperawatan Praktis Berdasarkan


Penerapan Diagnosa Nanda, Nic, Noc dalam Berbagai Kasus Edisi Revisi
Jilid 2. Jogjakarta: Penerbit Mediaction.

Samad, Roni. 2012. Hubungan Pemasangan Kateter dengan Angka Kejadian


Infeksi Saluran Kemih pada Pasien di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam
Rsudza Banda Aceh Tahun 2012. Diakses pada tanggal 8 September 2018

Sarpini, d. R. (2014). Anatomi dan Fisiologi Tubuh Manusia Untuk Paramedis .


Jakarta: In media.

Tessy, Agus dkk. 2003. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI.

Wilkinson, M. J. (2016). Diagnosis Keperawatan : Diagnosis NANDA I,


Intervensi NIC, hasil NOC. Jakarta: EGC.

46