Anda di halaman 1dari 24

Laporan Kasus

SKIZOFRENIA PARANOID

Oleh:
Dwi Rizky Kurniati
(712016078)

Pembimbing:
dr. Abdullah Sahab, Sp. Kj., MARS

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN JIWA


RUMAH SAKIT DR. ERNALDI BAHAR
PROVINSI SUMATERA SELATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2018
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kasus berjudul

SKIZOFRENIA PARANOID

Dipersiapkan dan disusun oleh:


Dwi Rizky Kurniati
(712016078)

Pembimbing:
dr. Abdullah Sahab, Sp. Kj., MARS

Telah diterima dan disahkan sebagai salah satu syarat dalam mengikuti kegiatan
Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Rumah Sakit
DR. Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera Selatan, Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Palembang periode 03 Desember 2018 - 30 Desember 2018.

Palembang, Desember 2018


Dosen Pembimbing

dr. Abdullah Sahab, Sp. Kj., MARS

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul
“Skizofrenia Paranoid” sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Kepaniteraan
Klinik Senior di Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa Rumah Sakit DR. Ernaldi
Bahar Provinsi Sumatera Selatan. Shalawat dan salam selalu tercurah kepada
Rasullullah Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan pengikutnya
sampai akhir zaman.
Dalam penyelesaian laporan kasus ini, penulis mendapat bantuan, bimbingan
dan arahan, maka dari itu kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih
kepada:
1. dr. Abdullah Sahab, Sp. Kj., MARS selaku dosen pembimbing.
2. Orang tua yang telah banyak membantu dengan doa yang tulus dan
memberikan bantuan moral maupun spiritual.
3. Rekan Tim sejawat seperjuangan dan semua pihak yang turut membantu
dalam menyelesaikan laporan kasus ini.
Semoga Allah SWT memberikan balasan pahala atas segala amal yang telah
diberikan dan semoga laporan kasus ini dapat bermanfaat bagi semua dan
perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran. Semoga selalu dalam lindungan
Allah SWT. Aamiin.

Palembang, Desember 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul...............................................................................................
Halaman Pengesahan.....................................................................................i
Kata Pengantar...............................................................................................ii
Daftar Isi........................................................................................................iii
BAB I. Laporan Kasus...................................................................................1
BAB II. Diskusi.............................................................................................13
Daftar Pustaka................................................................................................17
Lembar Follow Up.........................................................................................18
Lampiran .......................................................................................................20

iii
BAB I
LAPORAN KASUS

I. IDENTIFIKASI PENDERITA
Nama : Tn. A
Usia : 36 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status Perkawinan : Cerai Mati
Suku / Bangsa : Palembang / Indonesia
Pendidikan : Tamat SMA
Pekerjaan : Tani
Agama : Islam
Alamat : Pali
Datang ke RS : Selasa, 11 Desember 2018, Pukul 14.15 WIB
Cara ke RS : Diantar keluarga menggunakan mobil
Tempat Pemeriksaan : Instalasi Gawat Darurat RS. Dr. Ernaldi Bahar Palembang.

II. RIWAYAT PSIKIATRI


Riwayat psikiatri diperoleh dari:
1. Autoanamnesis dengan penderita pada Selasa, 11 Desember 2018, Pukul
14.30 WIB
2. Alloanamnesis dengan Ayah kandung penderita pada Selasa, 11 Desember
2018, Pukul 14.15 WIB

A. Sebab Utama
Pasien mengancam mau membunuh orang disekitar.

B. Riwayat Perjalanan Penyakit


Pasien dibawa ke IGD Rumah Sakit Ernaldi Bahar karena mengancam
mau membunuh orang disekitar tanpa sebab. Sejak ± 2 minggu yang lalu
setelah pasien tidak tidur karena ada acara keluarga, menurut keluarganya
pasien mulai gelisah lagi, sering berbicara sendiri, marah-marah tanpa sebab

1
dan mengancam mau membunuh orang disekitarnya. Pasien mengaku sering
marah karena merasa orang lain membicarakannya. Pasien mengatakan sering
mendengar bisikan suara laki-laki (suara paman pasien yang telah meninggal)
yang mengajak pasien pergi dan kadang menyuruh pasien membunuh orang
disekitarnya, pasien juga mengatakan dapat melihat terdapat pocong,
kuntilanak, dan setan disamping anjing yang menggonggong, dan pasien
mengaku memiliki kekuatan dan kehebatan yang terdapat pada cincin batu
yang didapatkannya dari kiyai. Pasien mengaku susah untuk memulai tidur.
Makan, mandi, BAB dan BAK seperti biasa. Pasien masih mengkonsumsi obat
3 macam (Chlorpromazine 1x100 mg, Haloperidol 2x5 mg, Trihexylphenidyl
2x2 mg), tapi keluhan masih dirasakan.

III. RIWAYAT PENYAKIT SEBELUMNYA


A. Riwayat Gangguan Psikiatrik Sebelumnya
2 tahun yang lalu pasien pernah dirawat di RS ERBA karena telah
membunuh istrinya dengan cara memasukkan kepala istrinya kedalam bak
mandi dan kemudian leher istrinya digorok menggunakan senjata tajam..
Pasien mengaku ada yang mengendalikan tangannya untuk membunuh
istrinya. Pasien dirawat sekitar 1 bulan. Setelah itu pasien rutin kontrol ke
psikiatri.
5 tahun yang lalu pasien dirawat di ERBA karena menurut keluarganya
pasien putus obat sehingga pasien sering marah, membanting barang-barang
dirumah, dan memukul orang disekitar karena merasa orang-orang
membicarakannya.
13 tahun yang lalu pasien dirawat di RS ERBA karena menrut
keluarganya pasien putus obat sehingga jadi sering marah tanpa sebab dan
mengancam akan membakar rumah.
14 tahun yang lalu pasien dirawat di RS ERBA karena menurut keluarga
pasien sering mengamuk dengan memukulkan tangannya ke udara sambil
berbicara sendiri karena melihat terdapat bayangan hitam dan mendengar
bisikan-bisikan, mengaku memiliki ilmu kebathinan. tidak bisa tidur dan
sering merenung.

2
B. Riwayat Kondisi Medis Umum
1. Riwayat trauma kapitis (-)
2. Riwayat astma (-)
3. Riwayat alergi (-)
4. Riwayat DM (-)
5. Riwayat hipertensi (-)
6. Riwayat kejang (-)
7. Riwayat alkohol (-)
8. Riwayat NAPZA (-)
9. Riwayat merokok (+)

C. Penggunaan Zat Psikoaktif


Pasein mengaku tidak pernah memakai zat psikoaktif apapun.

IV. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI


A. Riwayat Premorbid
1. Bayi : Menurut keluarga, pasien lahir cukup bulan, lahir spontan,
langsung menangis, ditolong bidan.
2. Anak : Menurut keluarga, pendiam dan bergaul biasa.
3. Remaja : Menurut keluarga, pendiam dan bergaul biasa.
4. Dewasa : Keluhan sekarang.

B. Situasi Hidup Sekarang


Pasien saat ini masih bekerja sebagai petani, pasien tinggal dengan kedua
orangtuanya dan pamannya.

3
C. Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga dengan gejala penyakit yang sama ada, paman (adik
ayah) pasien.

Keterangan:

: Pasien

: Meninggal

D. Riwayat Pendidikan
Pasien tamat sekolah hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Tidak ada
riwayat tidak naik kelas.

E. Riwayat Pekerjaan
Pasien bekerja sebagai petani.

F. Riwayat Pernikahan
Pasien pernah menikah, dikaruniai 2 orang anak.

G. Agama
Pasien beragama Islam

4
H. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien tinggal dengan kedua orangtua dan pamannya. Penghasilan
keluarga pasien perbulan ± Rp. 1.500.000,- dari pasien dan orang tua pasien
yang bekerja sebagai petani.

I. Riwayat Pelanggaran Hukum


Pasien pernah melakukan tindak kriminal yaitu membunuh istrinya pada
tahun 2016.

V. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL


A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Pasien berjenis kelamin laki-laki, berusia 36 tahun, agak gemuk,
pada saat wawancara pasien baju kemeja dasar warna biru dan celana
dasar panjang warna biru. Perawatan diri bersih, penampilan cukup rapi,
pasien tampak lebih tua dari usianya.

2. Perilaku dan aktivitas psikomotor


Pasien tampak tenang, perhatian baik.

3. Sikap terhadap pemeriksa


Kontak dengan pemeriksa ada, pasien kooperatif terhadap pemeriksa.

B. Mood dan Afek


1. Mood : Distimik
2. Afek : Sesuai

C. Pembicaraan
1. Spontanitas : Spontan
2. Kualitas : Baik
3. Kuantitas : Baik

5
D. Gangguan Persepsi
1. Halusinasi dan ilusi :
- Halusinasi auditorik ada → suara yang mengajak pasien pergi dan
kadang menyuruh pasien membunuh orang disekitarnya,
- Halusinasi visual ada → pocong, kuntilanak, dan setan disamping
anjing yang menggonggong
2. Depersonalisasi dan derealisasi tidak ada.

E. Pikiran
1. Proses dan bentuk pikiran :
a) Kontinuitas : Kontinu
b) Hendaya berbahasa : Tidak ada
2. Isi Pikiran
a) Bentuk fikir : Koheren
b) Gangguan isi pikiran : Waham rujukan, Waham grandiosa.

F. Kesadaran dan Kognisi


1. Tingkat kesadaran : Compos Mentis
2. Orientasi :
a) Waktu : Baik
b) Tempat : Baik
c) Orang : Baik
3. Daya Ingat : Baik
4. Konsentrasi dan Perhatian : Baik
5. Kemampuan membaca dan menulis : Pasien dapat membaca
6. Kemampuan visuospasial : Pasien dapat menjelaskan
perjalanan dari rumah ke RS.
Ernaldi Bahar.
7. Kemampuan menolong diri sendiri : Baik, pasien makan, minum dan
mandi bisa sendiri.

6
G. Pengendalian Impuls
Baik dan tidak terdapat gerakan involunter.

H. Daya Nilai
1. Penilaian realita : RTA terganggu
2. Tilikan : Derajat 2, pasien sedikit menyadari bahwa dirinya
Sakit dan butuh bantuan namun dalam waktu yang
bersamaan juga menyangkal bahwa ia sakit.

VI. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT


Pemeriksaan dilakukan pada hari Selasa, 11 Desember 2018
A. Status Internus
1. Kesadaran : Compos Mentis
2. Tanda Vital :TD:142/91 mmHg, N:120x/menit, RR:20x/menit, T: 37,4oC
3. Kepala : Normocephali, Konjungtiva palpebra anemis (-),
Sklera ikterik (-), mulut kering (-), mata cekung (-).
4. Thorax : BJ I dan II Normal, Gallop (-), Murmur (-), Vesikuler
normal (+), Wheezing (-/-), Ronkhi (-/-).
5. Abdomen : Cembung, lemas, nyeri tekan epigastrium (-), BU (+)
Normal, Pembesaran hepar dan lien (-).
6. Ekstremitas : hangat, edema (-), sianosis (-), CRT < 2 detik.

B. Status Neurologikus
1. GCS : 15
E : membuka mata spontan (4)
V : bicara spontan (5)
M : gerakan sesuai perintah (6)
2. Fungsi sensorik tidak terganggu.
3. Fungsi motorik tidak terganggu.
4. Ekstrapiramidal sindrom tidak ditemukan gejala.
5. Refleks fisiologis normal.
6. Refleks patologis tidak ditemukan.

7
VII. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
1. Pasien dibawa ke IGD Rumah Sakit Ernaldi Bahar oleh keluarganya karena
karena mengancam mau membunuh orang disekitar tanpa sebab.

2. Pasien mengaku sering marah karena merasa orang lain membicarakannya.


(waham rujukan)

3. Pasien sering berbicara sendiri. (perilaku halusinatorik)

4. Pasien mengatakan mendengar bisikan suara laki-laki (suara paman pasien


yang telah meninggal) yang mengajak pasien pergi dan kadang menyuruh
pasien membunuh orang disekitarnya. (halusinasi auditorik)

5. Pasien mengaku dapat melihat terdapat pocong, kuntilanak, dan setan


disamping anjing yang menggonggong. (halusinasi visual)

6. Pasien mengaku memiliki kekuatan dan kehebatan yang terdapat pada cincin
batu yang didapatkannya dari kiyai. (waham grandiosa)

7. Pasien tidak memiliki masalah pada kesadaran, daya ingat, fungsi kognitif
dan orientasi, memori serta pengetahuan umum pasien baik.
8. Mood distimik dan afek sesuai.
9. Pasien tidak pernah mengkonsumsi zat psikoaktif.
10. Di keluarga pasien ada yang memiliki keluhan serupa, yaitu paman pasien.
(faktor genetik)
11. Ada gangguan aktivitas tidur pada malam hari.
12. Pasien lahir cukup bulan, lahir spontan, langsung menangis, ditolong bidan.
13. Pasien merupakan pribadi periang dan banyak teman.
14. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit fisik.
15. Pasien tinggal bersama kedua orangtua dan pamannya. Penghasilan berasal
dari orangtua dan pasien yang bekerja sebagai petani. Pasien berobat
menggunakan jaminan kesehatan BPJS.
16. Keluarga pasien saat ini mendukung kesembuhan pasien, terutama kakak
pasien.

8
VIII. FORMULASI DIAGNOSTIK
Aksis I:

¡ Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang telah dilakukan tidak


terdapat penyakit yang disebabkan oleh disfungsi otak. Hal ini dapat
dinilai dari tingkat kesadaran, daya ingat atau daya konsentrasi, serta
orientasi (jangka pendek, panjang dan segera) yang masih baik, sehingga
pasien ini bukan pasien Gangguan Mental Organik (F.0)

¡ Dari anamnesis diketahui bahwa pasien merokok, tidak pernah


mengkonsumsi zat-zat terlarang atau NAPZA. Oleh karena itu dapat
disimpulkan bahwa pasien ini bukan pasien Gangguan Mental dan
Perilaku Akibat Zat Psikoaktif atau Alkohol (F.1)

¡ Pada pasien ini ditemukan adanya gangguan dalam menilai realita berupa
adanya halusinasi dan waham, maka pasien ini menderita gangguan
psikotik (F.2)

¡ Pasien mengalami halusinasi auditori, halusinasi visual dan terdapat


waham. Halusinasi dan waham yang dialami pasien sudah terjadi sejak ±
14 tahun uang lalu, sehingga termasuk kedalam skizofrenia (F.20)

¡ Halusinasi auditori dan waham yang menonjol sehingga memenuhi


kriteria umum skizofrenia paranoid (F.20.0)

Aksis II:

Pada pasien untuk diagnosis multiaksial aksis II, berdasarkan anamnesis


pasien memiliki ciri kepribadian berupa kepekaan berlebihan penolakan,
kecenderungan untuk menyimpan dendam, dan kecurigaan yang mendalam
dengan menyalahartikan tindakan orang lain yang netral atau bersahabat sebagai
suatu sikap permusuhan atau penghinaan. Berdasarkan PPDGJ III ditegakkan
diagnosa axis II adalah Gangguan kepribadian paranoid.

9
Aksis III:

Pada diagnosis multiaksial aksis III tidak ditemukan adanya gangguan kondisi
medik umum yang menyertai penderita. Maka aksis III tidak ada diagnosis.

Aksis IV:

Pada penderita untuk aksis IV saat ini stressor tidak jelas.

Aksis V:

Pada aksis V didapatkan Global Assessment of Functioning (GAF) Scale saat


datang ke Rumah Sakit yaitu 50 beberapa disabilitas dalam hubungan dengan
realita dan komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa fungsi.

IX. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL

Aksis I : F20.0 Skizofrenia Paranoid

Aksis II : Ciri Kepribadian Paranoid

Aksis III : Tidak ada diagnosis

Aksis IV : Stressor tidak jelas

Aksis V : GAF 50

10
X. DAFTAR MASALAH
A. Organobiologik
Ditemukan faktor genetik gangguan kejiwaan, yaitu paman pasien.

B. Psikologik
Pasien mengalami halusinasi auditorik, halusinasi visual, waham curiga, dan
kebesaran.

C. Lingkungan dan Sosial Ekonomi


Pasien tinggal dengan kedua orangtua dan pamannya.

XI. PROGNOSIS
A. Quo ad Vitam : dubia ad bonam
B. Quo ad Functionam : dubia ad bonam
C. Quo ad Sanationam : dubia ad bonam

XII. RENCANA PENATALAKSANAAN


A. Psikofarmaka
- Chlorpromazine 1 x 100 mg
- Resperidon 2 x 2mg
- Trihexylphenidyl 2x2 mg

B. Psikoterapi
1. Terhadap pasien
a. Memberikan psikoterapi edukatif, yaitu memberikan informasi dan
edukasi tentang penyakit yang diderita, faktor risiko, gejala, faktor
penyebab, cara pengobatan, efek samping obat prognosis, dan risiko
kekambuhan.
b. Memberikan psikoterapi suportif, yaitu memberikan intervensi langsung
dan dukungan untuk meningkatkan rasa percaya diri individu, perbaikan
fungsi sosial, dan pencapaian kualitas hidup yang baik.

2. Terhadap keluarga

11
a. Informasi dan edukasi mengenai penyakit yang diderita pasien, gejala,
kemungkinan penyebab, dampak, faktor- faktor pemicu kekambuhan dan
prognosis sehingga keluarga dapat memberikan dukungan kepada pasien.
b. Meminta keluarga untuk mendukung pasien, mengajak pasien
berinteraksi dan beraktivitas serta membantu hubungan sosial pasien
ketika pasien sudah kembali ke rumah.
c. Meminta keluarga untuk selalu mengingatkan pasien untuk kontrol rutin
dan mengawasi pasien dalam minum obat.
d. Menginformasikan bahwa penyakit ini bersifat jangka panjang sehingga
dibutuhkan kesabaran dan perhatian keluarga secara penuh.

12
BAB II
DISKUSI

Pada kondisi Tn. AA, laki-laki, 36 tahun dibawa ke RS Ernaldi Bahar karena
sejak ± 2 minggu yang lalu pasien gelisah, sering berbicara sendiri, marah-marah
tanpa sebab dan mengancam mau membunuh orang disekitarnya. Pasien juga
mengalami halusinasi auditori, halusinasi visual, waham curiga dan waham
grandiosa. Pasien mengaku susah untuk memulai tidur. Pasien masih
mengkonsumsi obat 3 macam (Chlorpromazine 1x100 mg, Haloperidol 2x5 mg,
Trihexylphenidyl 2x2 mg), tapi keluhan masih dirasakan. Selama wawancara,
pasien menjawab pertanyaan dan bersikap kooperatif, saat di wawancara ada
kontak mata, kontak verbal dan kontak fisik, mood distimik, afek sesuai, proses
dan bentuk pikiran koheren.
Skiofrenia ditandai dengan penyimpangan yang fundamental dan
karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar atau
tumpul. Diagnosis skizofrenia dapat ditegakkan dengan gejala yang khas telah
berlangsung dalam kurun waktu satu bulan atau lebih dan harus ada perubahan
yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari
beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai
hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam dri
sendiri, dan penarikan diri secara sosial.1

Diagnosis gangguan skizofrenia dapat ditegakan berdasarkan PPDGJ III


(Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa III) dan DSM-5.2
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut amat jelas (dan biasanya dua gejala
atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam / jelas):
a. “thought echo” : isi pikirannya sendiri yang berulang / bergema dalam
kepalanya
“thought insertion or withdrawal” : isi pikiran yang asing dari luar masuk
kedalam pikirannya (insertion), atau isi pikirannya diambil keluar oleh
sesuatu (withdrawal).

13
“thought broadcasting” : isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain /
umum mengetahuinya.
b. “delusion of control” : waham dirinya dikendalikan oleh kekuatan tertentu
“delusion of influence” : waham dirinya dipengaruhi oleh kekuatan dari luar
“delusion of pasivity” : waham dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap
suatu kekuatan dari luar
“delusion of perception” : pegalaman inderawi yang tak wajar yang
bermakna, sifat mistik dan mukjizat.
c. Halusinasi auditorik : suara berkomentar terus menerus / mendiskusikan
perihal pasien sendiri.
d. Waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak
wajar, misal: perihal keyakinan agama dan politik, mampu mengendalikan
cuaca, berkomunikasi dengan makhluk asing.
Atau paling sediki dua gejala dibawah ini harus ada secara jelas:
e. Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa aja, apabila disertai baik oleh
waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa
kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai ide-ide berlebihan (over-
valued issue) yang menetap, atau apaila terjadi setiap hari selama berminggu-
minggu atau berbulan-bulan terus menerus.
f. Arus pikiran yang terputus (break) atau mengalami sisipan (interpolation),
yang berkaibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan atau
neologisme.
g. Perilaku katatonik, keadaan gaduh gelisah (ex-citement), posisi tubuh tertentu
(posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme dan stupor.
h. Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, respon
emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan
penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; akan
tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau
medikasi neuroleptika.
i. Adanya gejala-gejala khas tersebut telah berlangsung satu bulan atau lebih
(tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal)

14
j. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam keseluruhan
(overall quality) dari beberapa aspek perilaku probadi (personal behavior),
bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat
sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude) dan penarikan
diri secara sosial.2
Pada gangguan skizofrenia paranoid, diagnosis dapat ditegakan berdasarkan
PPDGJ III, F20.0 sebagai berikut:2
1. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia.
2. Tambahan : halusinasi dan / atau waham harus menonjol:
a) Suara-suara yang mengancam pasien atau memberi perintah atau
halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi peluit,
mendengung atau tertawa.
b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa atau sifat seksual :
halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol.
c) Waham dikendalikan, dipengaruhi atau dellusion of passivity dan
keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam adalah yang paling
khas.
d) Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, gejala
katatonik tidak menonjol.2
Pada pasien ini dari keluhan halusinasi auditorik, halusinasi visual, waham
curiga dan waham kebesaran tersebut dapat disimpulkan bahwa pasien memenuhi
kriteria gejala-gejala skizofrenia paranoid. Oleh karena itu pasien ini termasuk
dalam diagnosis skizofrenia paranoid.
Pengobatan dengan gangguan skizofrenia diobati dengan antipsikotik. Obat
antipsikotik dibagi dalam dua kelompok, berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu
dopamine receptor antagonist atau antipsikotika generasi I (tipikal) dan
serotonin-dopamine antagonist atau antipsikotika generai II (atipikal). Obat APG-
I berguna terutama untuk mengontrol gejala-gejala positif. APG-II bermanfaat
baik untuk gejala positif maupun negatif. 1 Namun, obat-obat ini hanya mengatasi
gejala gangguan dan tidak menyembuhkan skizofrenia.3
Pada pasien ini diberikan terapi resperidon 2 x 2mg, Chlorpromazine 1 x
100mg, dan Trihexyphenidyl 2x2 mg.

15
Pada terapi psikofarmaka pasien diberikan terapi antipsikotik golongan
atipikal berupa Risperidone 2 x 2 mg. Pemilihan risperidon sebagai terapi
psikofarmaka pada pasien ini karena risperidon merupakan golongan antipsikotik
atipikal dimana obat ini merupakan antagonis serotonin (terutama 5 HT 2
reseptor) dan dopamin (D2) yang memiliki efek untuk menurunkan gejala
negative dan positif pada sindrom psikosis. Selain itu, obat anti psikotik golongan
atipikal memiliki efek samping EPS yang ringan bahkan tidak ada. Efek samping
EPS diantaranya parkinsonisme (rigiditas, bradikinesia, tremor) dalam bentuk
ringan dapat terlihat seperti penurunan gerakan spontan, ekspresi wajah topeng,
pembicaraan tidak spontan dan kesulitan dalam memulai aktivitas atau disebut
dengan akinesia, selain itu Distonia Akut yaitu spasme otot yang menetap atau
intermiten, otot yang sering menetap spasme yaitu otot badan, leher dan kepala,
serta menyebabkan involunter. Efek samping EPS yang lain adalah Akatisia, ini
yang paling membuat penderitaan.4 Pemberian antipsikosis dimulai dengan dosis
awal yang sesuai dengan dosis anjuran, dinaikkan setiap 2 – 3 hari sampai
mencapai dosis efektif kemudian dievaluasi setiap 2 minggu dan bila perlu
dinaikkan sampai dosis optimal. Risperidon tersedia dalam bentuk sediaan tablet
dan cairan. Dosis awal yang dianjurkan adalah 2mg/hari dan besoknya dapat
dinaikkan menjadi 4mg/hari.
Chlorpromazine merupakan antagonis reseptor dopamine. Antagonis
reseptor dopamine dianggap lebih efektif pada terapi gejala positif skizofrenia
(cth., halusinasi, waham, dan agitasi) dibandingkan terapi gejala negatif (cth.,
penarikan diri secara emosional dan ambivalensi) atau disosiasi negatif. Pada
umumnya juga diyakini bahwa gejala paranoid lebih efektif diterapi dibandingkan
gejala nonparanoid.3 Pada pasien ini didapatkan gejala positif berupa halusinasi
auditori, halusinasi visual, waham curiga dan waham grandiosa.
Dosis APG-I dapat menimbulkan sindrom immobilitas yaitu tonus otot
meningkat dan menimbulkan efek samping EPS. Efek samping EPS diantaranya
parkinsonisme (rigiditas, bradikinesia, tremor) dalam bentuk ringan dapat terlihat
seperti penurunan gerakan spontan, ekspresi wajah topeng, pembicaraan tidak
spontan dan kesulitan dalam memulai aktivitas atau disebut dengan akinesia,
selain itu Distonia Akut yaitu spasme otot yang menetap atau intermiten, otot

16
yang sering menetap spasme yaitu otot badan, leher dan kepala, serta
menyebabkan involunter. Sebagai profilaksis EPS, antikolinergik seperti
Trihexylphenidyl (THP) dapat diberikan.1
Selain menggunakan terapi psikofarmaka, pasien juga ditunjang dengan
psikoterapi. Dalam hal ini diberikan melalui edukasi terhadap penderita agar
memahami tentang penyakit yang diderita, faktor risiko, gejala, faktor penyebab
(stresor), cara pengobatan, prognosis dan risiko kekambuhan agar pasien tetap taat
minum obat dan segera datang ke dokter bila gejala serupa muncul dikemudian
hari. Dijelaskan juga bahwa pengobatan berlangsung lama, adanya efek samping
obat dan pengaturan dosis hanya boleh diatur oleh dokter.

Hal lain yang dilakukan adalah dengan intervensi langsung dan dukungan
untuk meningkatkan rasa percaya diri individu, perbaikan fungsi sosial dan
pencapaian kualitas hidup yang baik sehingga memotivasi penderita agar dapat
menjalankan fungsi sosialnya dengan baik. Keluarga penderita juga diberikan
terapi keluarga dalam bentuk psikoedukasi berupa penyampaian informasi kepada
keluarga mengenai penyebab penyebab penyakit yang dialami penderita serta
pengobatannya sehingga keluarga dapat memahami dan menerima kondisi
penderita untuk minum obat dan kontrol secara teratur serta mengenali gejala-
gejala kekambuhan secara dini.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2012. Buku Ajar Psikiatri.


Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2. Maslim, R. 2013. Buku saku Diagnpasienis Gangguan Jiwa Rujukan
Ringkas dari PPDGJ-III dan DSM-V. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran
Jiwa FK Unika Atma Jaya.
3. Kaplan, B.J., Sadock, V.A. 2012, Kaplan & Sadock’s Buku ajar psikiatri
klinis edisi ke 2.EGC.

18
TABEL FOLLOW UP

12 Desember 2018 S : Bisikan (+) berkurang, dapat dikendalikan.


O : kooperatif, halusinasi auditori (+)
Asoka TD: 110/70, N: 84x/menit, RR : 19x/menit
A: F20.0 Skizofrenia paranoid

P:
- Injeksi Lodomer 2x1 amp (im) 5 hari
- Chlorpromazine 100 mg  ½ tab - ½ tab -
1tab
- Trihexylphenidyl 2x2 mg  1tab – 0tab –
1tab

13 Desember 2018 S : Tidur malam cukup. Bisikan (+) berkurang, dapat


Merpati
dikendalikan.
O : Tampak tenang, kooperatif, halusinasi auditori (-)
TD: 120/80, N: 92x/menit, RR : 20x/menit
A: F20.0 Skizofrenia paranoid
P:
- Injeksi Lodomer 2x1 amp (im) 5 hari
- Chlorpromazine 100 mg  ½ tab - ½ tab -
1tab
- Trihexylphenidyl 2x2 mg  1tab – 0tab –
1tab

14 Desember 2018 S : Tidur malam cukup


Merpati O : Tampak tenang, kooperatif, halusinasi auditori (-)
TD: 120/70, N: 88x/menit, RR : 20x/menit
A: F20.0 Skizofrenia paranoid
P:
- Injeksi Lodomer 2x1 amp (im) 5 hari
- Chlorpromazine 100 mg  ½ tab - ½ tab -
1tab
- Trihexylphenidyl 2x2 mg  1tab – 0tab –
1tab

19
15 Desember 2018 S : Tidak ada keluhan.
Merpati O : Tampak tenang, kooperatif, halusinasi auditori (-)
TD: 110/90, N: 80x/menit, RR : 20x/menit
A: F20.0 Skizofrenia paranoid
P:
- Injeksi Lodomer 2x1 amp (im) 5 hari
- Chlorpromazine 100 mg  ½ tab - ½ tab -
1tab
- Trihexylphenidyl 2x2 mg  1tab – 0tab –
1tab

20