Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM JARINGAN EPITEL

LAPORAN PRAKTIKUM
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Struktur Perkembangan Hewan I yang dibina oleh Ibu Sofia Erry Rahayu, S.Pd, M.Si

Disusun oleh:

Kelompok 1 Offering C

1. Caroline Denselina Koirewoa (180341600134)


2. Fahrinda Naila Amalia (180341617514)
3. Laurenz Mega Ayu Kusuma (180341617531)
4. Siti Widyawati (180341617501)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
S1 PENDIDIKAN BIOLOGI
FEBRUARI 2019
Jaringan Epitel

A. Tujuan :
1. Mempelajari ciri-ciri jaringan epitel

2. Mempelajari struktur histologis macam-macam jaringan epitel

B.Teori Dasar
Jaringan (tissue) adalah kumpulan sel-sel dengan struktur dan fungsi yang
sama. Jenis jaringan yang berbeda memiliki struktur berbeda yang sesuai dengan
fungsinya. Suatu jaringan disatukan oleh suatu matriks ekstraseluler lengket yang
melapisi sel-sel itu atau menenun mereka bersama-sama menjadi suatu anyaman
serat. Sesungguhnya istilah Jaringan (tissue) berasal dari bahasa Latin yang berarti
“tenunan”. Kita dapat mengelompokkan jaringan ke dalam empat kategori utama
yaitu jaringan epithelium, jaringan ikat, jaringan saraf, dan jaringan otot. Keempat
macam jaringan tersebut ditemukan pada semua hewan kecuali hewan yang paling
sederhana (Campbell, 2002).
Jaringan epitel adalah jaringan yang melapisi permukaan tubuh, organ tubuh
atau permukaan saluran tubuh hewan. Bentuk jaringan epitel berupa lembaran selapis
atau beberapa lapis. Jaringan epitel terdiri atas sel-sel yang bentuknya sama, yang
berkumpul dengan sangat erat dengan bahan ekstraseluler atau matriks yang sangat
sedikit. Jaringan epitel adalah salah satu dari empat jaringan dasar yaitu jaringan otot,
jaringan ikat dan jaringan saraf. Jaringan epitel terdiri dari sel-sel polihedral yang
berkumpul dengan erat dengan sangat sedikitzat intersel. Pelekatan diantara sel-sel ini
kuat. Jadi, terbentuk lapisan-lapisan yang menutupi permukaan tubuh dan melapisi
rongga-rongganya (Umar, 2011: 59).

Sel-sel epitel tersusun rapat dan saling berlekatan secara kuat.Susunan seperti
demikian membuat jaringan epitel mennjadi kuat menahan tekanan dan tarikan. Gaya
tarik menarik antara sel epitel ini disebabkan oleh adanya daya pengikat glikoprotein
membran plasma dan adanya ion kalsium (Tenzer, 1993).
Lapisan sel epithelium bertumpu pada suatu membran dasar yang biasa
disebut membran basalis (Nasir, 1994). Lapisan basalis merupakan lapisan tipis yang
terdapat pada bagian basal jaringan epitel. Lamina basalis berfungsi untuk
menyalurkan nutisi juga untuk melekatkan jaringn epitel dengan jaringan pengikat
lain di bawahnya. Juncquera’s (tanpa tahun) menjelaskan bahwa lapisan basalis
merupakan lapisan ekstra sel yang berada diantara jaringan epitel dengan jaringan
ikat. Pada lapisan ini ada sejumlah serat syaraf yang dapat masuk. Pada jaringan
epitel yang tidak terdapat jaringan ikat intervening maka lapisan basalis akan menjadi
lebih tebal. Contohnya pada alveolus dan glomerulus (Tenzer, 1993).
Jaringan epitel mempunyai fungsi utama, yaitu: menutupi dan melapisi
permukaan (misal kulit), absorbsi (misal usus), sekresi (misal sel epitelkelenjar),
sensoris (misal neuroepitel), dan kontraktil (misal sel mioepitel) (Yusminah, 2007:
76).

Jaringan epitel menjalankan berbagai fungsi. Dalam setiap kasus fungsi ini
mencerminkan kenyataan bahwa epitel selalu terdapat di perbatasan antar massa sel
dan rongga atau ruang. Epitelium kulit melindungi jaringan dibawahnya terhadap
kerusakan karena gesekan mekanis, radiasi ultraviolet dan serangan bakteri. Jaringan
epitel adalah salah satu dari empat jaringan dasar. Dahulu istilah epitel dipergunakan
untuk menyebut selaput jernih yang berada diatas tonjolan anyaman di penyambung
merah bibir (thele bibir). Istilah kini dipergunakan untuk semua jaringan. Epitel juga
berfungsi dalam mengangk ut bahan-bahan dari dan kejaringan dan rongga yang
dipisahkannya. Epitel kolumnar pada saluran pencernaan mengeluarkan enzim-enzim
cerna ke dalam intestine dan juga menyerap produk akahir pencernaan makanan dari
padanya. Semua kelenjar pencernaan pada tubuh dilapisi oleh ephitelium. Epitelium
juga melapisi tabung air dan rongga paru-paru. Epitelium ini mengeluarkan mucus
untuk melindungi dirinya terhadap kekeringan dan untuk menangkap partikl-partikel
debu yang terhirup. Banyak diantara sel-selnya mempunyai silia dipermukaan
“bebas” yang mengatur mucus dengan bawaan bahan asing kembali keatas sampai
leher. Sel-sel kelamin harus dilepaskan dari tubuh agar berfungsi dalam reproduksi
seksual. Jadi kitapun tahu sel-sel tersebut bersal dari epithelium, dalam hal ini
epithelium germinal (Kimball,1992).

Pada epitel bagian permukaannya mengalami modifikasi khusus sesuai


dengan fungsinya sebagi berikut :

1. Mickrovilli
Merupakan tonjolan berdiameter 0,08 mikro meter dengan panjang 1
mikrometer. Fungsi untuk memperluas permukaan sel untuk absorbsi zat. Misalnya
pada jonjot usus halus (Tenzer, 1993). Sedangkan menurut Eroschenko (2008),
mikrovilli adalah tonjolan non motil kecil yang melapisi semua sel absorbtif misalnya
pada tubulus kontortus proksimal ginjal ( tubulus proximalis pars contorta)
2. Silia
Menurut Eroschenko (2008) dan Tenzer (1993) silia merupakan tonjolan sel
motil dengan diameter 0,2 mikrometer dan panjang 0,8 mikrometer. Fungsinya untuk
pergerakan atau transport zat. Misalnya silia pada tuba falopi yang membantu
pergerakan zigot setelah terjadi pembuahan.
3. Stereosilia Stereosilia
Merupakan mikrovilliyan, nonmotil, besar dan panjang serta berfungsi untuk
memperluas permukaan sel dalam absorbsi. misalnya pada epididimis dan duktulus
deferens (Tenzer, 1993;Eroschenko, 2008). Pada epididimis dan duktus deferens
dilapisi oleh epitel bertingkat semu dengan stereosilia yang bersungsi utama untuk
mengabsorbsi cairan yang dihasilkan oleh sel-sel testis.
4. Flagela
Merupakan tonjolan sel berdiameter 0,6 mikrometer dengn panjang 30
mikrometer berfungsi untuk pergerakan dan membercepan sikulasi zat. Misalnya
pada sel spermatozoid.
5. Interdigitasi
Menurut Tenzer (1993) interdigitasi merupakan cekungan kecil berbentuk
seperti jari. Berfungsi untuk memperkuat perlekatan sel dalam satu jaringan misalnya
terdapat apda sel-sel absorptif saluran kemih.

Menurut struktur dan fungsinya, jaringan epitel dapat dibagi menjadi dua
golongan utama, yaitu epitel penutup dan epitel kelenjar. Disamping itu, terdapat dua
macam epitel khusus, yaitu epitel persyarafan dan epitel pergerakan (Tenzer
dkk,2014).

Jaringan epitel penutup merupakan jaringan epitel yang sel-selnya tersusun


seperti lapisan yang menutupi permukaan luar atau melapisi rongga-rongga tubuh.
Jaringan ini dapat dibagi lagimenurut jumlah lapisan sel dan bentuk sel-sel dalam
lapisan permukaan. Epitel sederhana hanya mengandung satu lapisan sel, epitel
berlapis mengandung lebih dari satu lapisan sel. Disamping itu terdapat epitel
berlapis semu, yaitu epitel yang tersusun atas selapis sel dengan ketinggian sel yang
tidak sama, tidak semua sel mencapai permukaan, tetapi semuanya melekat pada
lamina basalis. Pada kandung kemih misalnya, terdapat epitel berlapis transisional,
tersusun atas sel-sel yang agak membulat. Ketika kandung kemih merenggang karena
terisi urin, sel-sel tersebut akan berubah bentuk menjadi agak pipih (Tenzer
dkk,2014).

Menurut (Syamsul Huda, 1998) Berdasarkan lapisan penyusunnya, jaringan


epitel penutup dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu sebagai berikut:
1. Epitel Pipih Selapis
Jaringan epitel pipih selapis disusun oleh selapis sel yang berbentuk pipih.
Sel-selnya tersusun sangat rapat. Terdapat pada jaringan epitelium pembuluh limfe,
pembuluh darah kapiler dan ginjal. Berfungsi dalam proses filtrasi dan sekresi.

2. Epitel Pipih Berlapis Banyak


Jaringan epitel pipih berlapis banyak disusun oleh lebih dari satu sel yang
berbentuk pipih. Sel-selnya tersusun sangat rapat. Terdapat pada jaringan epitelium
rongga mulut dan vagina. Berfungsi sebagai pelindung.
3. Epitel Silindris Selapis
Jaringan epitel silindris selapis disusun oleh selapis sel yang
berbentuk silindris. Terdapat pada epitelium kelenjar pencernaan, kantung
empedu,lambung dan usus. Berfungsi untuk penyerapan nutrisi di usus dan sekresi.
4. Epitel Silindris Berlapis Banyak
Jaringan epitel silindris berlapis banyak disusun oleh lebih dari satu lapis sel
berbentuk silindria. Terdapat pada jaringan epitelium laring, trakea, dan kelenjar
ludah. Berfungsi dalam sekresi dan sebagai pelindung.
5. Epitel Silindris Bersilia
Epitel silindris bersilia berbentuk silindris banyak lapis dengan silia.Terletak
pada rongga hidung. Berfungsi sebagai proteksi dan sekresi.
6. Epitel Kubus Selapis
Jaringan epitel kubus selapis disusun oleh selapis sel yang berbentuk kubus.
Terdapat pada epithelium permukaan ovarium, dan kelenjar tiroid.Berfungsi dalam
sekresi dan sebagai pelindung.
7. Epitel Kubus Berlapis Banyak
Jaringan epitel kubus berlapis banyak disusun oleh lebih dari satu lapis sel
yang berbentuk kubus. Terdapat pada epitelium folikel ovarium, testis, dan kelenjar
keringat. Berfungsi dalam sekresi dan absorpsi.
8. Epitel Transisi
Jaringan epitel transisi disusun oleh berlapis-lapis sel. Jaringan ini tidak dapat
dikelompokkan, Terdapat pada epitelium ureter, uretra, dan kantung kemih (Tenzer
dkk,2014).
Jaringan Epitel Kelenjar (Glandular epithelia) Jaringan epitel kelenjar
dibentuk oleh sel-sel khusus, menghasilkan sekret atau getahan cair yang berbeda
dengan darah dan cairan antar sel, yaitu enzim, hormon, mucin atau lemak. Menurut
mekanisme pengeluaran sekret, kelenjar dibedakan menjadi:
1. Kelenjar merokrin: hanya sekret yang dilepaskan dari sel, tanpa ada bagian
sitoplasma yang rusak atau lepas. Misalnya: sel gada (sel goblet), pankreas.
2. Kelenjar holokrin: seluruh sel yang mati akan ikut dilepaskan bersama dengan
sekretnya. Misalnya: kelenjar minyak (Tenzer dkk,2014).
Semua kelenjar eksokrin di dalam tubuh tersusun atas sel-sel epitel. Hal yang
sama terdapat pada kelenjar endokrin kecuali pada pars nervosa hipofisis dan medulla
adrenal yang keduanya terdiri atas jaringan saraf termodifikasi. Kelenjar eksokrin
dapat berupa uniseluler misalnya sel Goblet pada epitel saluran pernafasan bagian
atas atau pada usus halus.(Muhammadiah, 2010).
Kelenjar yang mempunyai saluran pengeluaran (duktus) untuk menyalurkan
hasil sekresinya, disebut kelenjar eksokrin. Kelenjar yang tidak mempunyai saluran
pengeluaran disebut kelenjar endokrin, sekresinya dilepaskan langsung ke dalam
pembuluh darah. Beberapa organ dapat berfungsi sebagai kelenjar eksokrin dan
endokrin sekaligus, misalnya hati dan pankreas. Kelenjar eksokrin terdiri atas bagian
yang mengandung sel-sel penghasil sekret, dan duktus kelenjar atas saluran
pengeluaran untuk menyalurkan hasil sekresinya keluar dari kelenjar tersebut (Tenzer
dkk,2014).
Kelenjar Endokrin Kelenjar endokrin disebut juga kelenjar buntu karena tidak
mempunyai saluran pengeluaran. Kelenjar endokrin dapat digolongkan menjadi
kelenjar yang menghasilkan hormon polipeptida atau protein (kelenjar hipofisis,
tiroid, paratiroid dan pankreas) dan kelenjar hormon yang menghasilkan hormon
steroid (kelenjar adrenal dan gonad) (Tenzer dkk,2014).

Menurut mekanisme pengeluaran sekret,kelenjar dibedakan menjadi:


a.Jaringan Epitel Persyarafan (Neuroepitel)
Merupakan jaringan epitel yang sel-selnya termodifikasi dan berperan khusus
untuk persyarafan, yaitu sebgai sel indra. Misalnya terdapat pada puting kecap lidah.
b.Jaringan Epitel Pergerakan (Mioepitel)
Disebut mioepitel, karena sel-sel kelenjar ini dapat berkontraksi seperti sel
otot. Sel mioepitel terletak di antara lamina basalisdan bagian basal sel sekresi.
Selnya menekan kelenjar agar sekretnya dapat keluar ke permukaan, misalnya
terdapat pada kelenjar keringat, kelenjar susu, dan kelenjar ludah (Tenzer dkk,2014).

C. Alat dan Bahan


1. Alat :
 Mikroskop
2.Bahan :
 Penampang melintang ginjal
 Penampang melintang epididymis kauda
 Penampang melintang duodenum
 Penampang melintang trakea
 Penampang melintang esophagus

D. Prosedur
a. Pengamatan pada penampang melintang ginjal
Dilakukan observasi dengan mengamati preparat histologis di bawah mikroskop pada
perbesaran 10 X 10 dan 40 X 10

Dicari kapsula Bowman, diamati tipe epitel penyusunnya

Dicari tubulus konvoluta proksimal dan distal, lrngkung Henle, dan duktus koiligen
dan diamati tipe epitel penyusunnya masing-masing

Dibuat gambar sesuai pengamatan

b. Pengamatan pada penampang melintang epididymis kuda


Dilakukan observasi dengan mengamati preparat histologis di bawah mikroskop pada
perbesaran 10 X 10 dan 40 X 10
Diperhatikan penampang melintang sebuah tubulus epididymis dan diamati tipe epitel
penyusunnya

Dibuat gambar sesuai pengamatan

c. Pengamatan pada penampang melintang duodenum


Dilakukan observasi dengan mengamati preparat histologis di bawah mikroskop pada
perbesaran 10 X 10 dan 40 X 10

Diperhatikan jaringan epitel yang menyusun jonjot (villi) duodenum dan diamati tipe
epitel penyusunnya dan ditentukan tipe epitelnya

Diperhatikan kelenjar Liberkuhn yang terdapat pada tunika mukosa dan Diamati
bentuk dan tipe sel penyusunnya

Dibuat gambar sesuai pengamatan

d. Pengamatan pada penampang melintang trakea


Dilakukan observasi dengan mengamati preparat histologis di bawah mikroskop pada
perbesaran 10 X 10 dan 40 X 10

Diperhatikan jaringan epitel pada tunika mukosa (lapisan terdalam/terdekat dengan


lumen)

Diamati bentuk sel daan bentuk inti serta susunan selnya dan ditentukan tipe jaringan
epitel tersebut
Diperhatikan struktur yang terdapat pada permukaan sel epitel, dan ditentukan tipe
strukturnya

Dibuat gambar sesuai pengamatan

e. Pengamatan pada penampang melintang esophagus


Dilakukan observasi dengan mengamati preparat histologis di bawah mikroskop pada
perbesaran 10 X 10 dan 40 X 10

Diamati bentul sel,bentuk inti, dan susunan selnya. Ditentukan tipe jaringan epitel
tersebut

Dibuat gambar sesuai pengamatan


E. Hasil Pengamatan
N Gambar pengamatan Keterangan Gambar Literature
o
1. 1. Epitel Kubus
Selapis
1 2. Nukleus
3. Rongga
4. Lamina Basalis

Ginjal
4 3
Perbesaran 40x10
Sumber:
http://staff.uny.ac.id/sites/default/file
s/Prak-HMA-08.pdf

2. 1 1. Lamina Basalis
2 2. Epitel Silindris
Semu
3 3. Nukleus

Sumber :
Epididimis Kauda http://atlashistologi.com/histologi/ep
Perbesaran 40x10 ididimis.html

3.
1
2

4
1. Lamina Basalis
2. Nukleus
3. Epitel silindris
Duodenum selapis
Perbesaran 40x10 4. lumen

Sumber :
https://abisjatuhbangunlagi.wordpres
s.com/tag/jaringan-tulang/

4. 1. Nukleus
2. Epitel pipih
1
berlapis semu
bersilia
2 3. Lamina Basalis

Sumber :
Trakea http://atlashistologi.com/histologi/tra
Perbesaran 40x10 kea.html

5.
1

2
1. Lamina Basalis
2. Nukleus
3 3. Epitel pipih
berlapis
4. Cilia

4
Esofagus Sumber :
Perbesaran 40x10 http://herlina.lecture.ub.ac.id/files/2
012/10/Jar.Epitel.2016.pdf

F. Analisis dan Pembahasan


Pada praktikum jaringan epitel akan diamati ciri-ciri dan struktur histologi
preparat melintang pada ginjal,epididimis kauda, duodenum, trakea, dan esofagus.
Pada preparat melintang ginjal dengan perbesaran 40x10 dapat ditemukan bagian-
bagian strukturnya yaitu terdapat jaringan epitel, nukleus, rongga, dan lamina basalis.
Jaringan epitel pada ginjal merupakan jaringan epitel kubus selapis.
Pada preparat melintang epididimis kauda dengan perbesaran 40x10 dapat
ditemukan bagian-bagian strukturnya yaitu terdapat lamina basalis, jaringan epitel,
dan nukleus. Jaringan epitel pada epididimis kauda merupakan jaringan epitel
silindris semu.
Pada preparat melintang duodenum dengan perbesaran40x10 dapat ditemukan
bagian-bagian strukturnya yaitu lamina basalis, bukleus, jaringan epitel, dan lumen.
Jaringan epitel pada duodenum merupakan jaringan epitel silindris selapis.
Pada preparat melintang trakea dengan perbesaran 40x10 dapat ditemukan
bagian-bagian strukturnya yaitu nukleus, jaringan epitel, dan lamina basalis. Jaringan
epitel pada trakea merupakan jaringan epitel pipih berlapis semu bersilia.
Pada preparat melintang esofagus dengan perbesaran 40x10 dapat ditemukan
bagian-bagian strukturnya yaitu lamina basalis, nukleus, jaringan epitel, dan silia.
Jaringan epitel pada esofagus merupakan jaringan epitel pipih berlapis.

PEMBAHASAN BELUM

G.Kesimpulan
Jadi pada jaringan epitel terdapat karasteritik atau ciri khusus.Yang pertama
adalah pada jaringan epitel sel-selnya berikatan sangat erat karena kohesi oleh adanya
daya pengikat glikoprotein membrane plasma dan adanya ion kalsium, sehingga
karena ikatannya yang sangat rapat jaringan epitel dapat menutupi permukaan tubuh
atau organ tubuh dan melapisi organ-organnya.Kedua adalah jaringan epitel memiliki
berbagai bentuk dan ukuran sel,antara lain bentuknya adalah pipih (squamous),kubus
(cuboidal),silindris (batang), dan bentuk-bentuk antara. Ketiga adalah adanya lamina
basalis yang berfungsi sebagai pelekat dan pengait jaringan epitel ke jaringan
pengikat dibawahnya dan sebagai penyalur nutrisi.Kemudian umunya sel epitel
memiliki kekhususan pada permukaan selnya yang disesuakan dengan fungsinya,
seperti,mikrovill, silia, stereo silia, flagella, dan interdigitasi.
Epitel pada ginjal yaitu kubus selapis. Struktur penampang melintang ginjal
pada pengamatan ada epitel, inti, lamina basalis, dan rongga. Epitel pada epididimis
kauda adalah silindris semu. Struktur penampang melintang epididimis kauda saat
pengamatan yaitu epitel, inti, dan lamina basalis. Epitel pada duodenum adalah
silindris selapis. Struktur penampang melintang duodenum saat pengamatan yaitu
epitel, inti, lamina basalis, dan lumer. Epitel pada trakea adalah pipih berlapis semu
bersilia. Struktur penampang melintang trakea saat pengamatan yaitu epitel, inti, dan
lamina basalis. Epitel pada esofagus adalah pipih berlapis. Struktur penampang
melintang esophagus saat pengamatan yaitu epitel, inti, lamina basalis, dan silia.

H.Jawaban Evaluasi
1. Sel-sel epitel tersusun rapat dan saling berlekatan secara kuat. Susunan seperti
demikian membuat jaringan epitel menjadi kuat menahan tekanan dan tarikan. Gaya
tarik menarik antara sel epitel ini disebabkan oleh adanya daya pengikat glikoprotein
membran plasma dan adanya ion kalsium (Tanzer, 1993).
2.Jaringan epitel paling sesuai untuk menutupi permukaan tubuh karena jaringan pada
epitel rapat, fleksibel sesuai bentuk organ (menyesuakan bentuk organ), dan tidak
mudah ditembus (Tanzer, 1993).
3. Jaringan paling sesuai untuk melapisi rongga suatu saluran adalah jaringan epitel
karena jaringannya fleksibelitas dengan bentuk organ. Pada kandung kemih
misalnya, terdapat epitel berlapis transisional, tersusun atas sel-sel yang agak
membulat. Ketika kandung kemih merenggang karena terisi urin, sel-sel tersebut akan
berubah bentuk menjadi agak pipih (Tanzer, 1993).
4. Cara jaringan epitel memperoleh nutrisi meski jaringan tersebut tidak ditembus
oleh pembuluh darah adalah dengan cara difusi. Karena lapisan epitiel itu hanya
selapis seperti kapiler darah hanya selapis jadi mudah untuk menukar atau
difusi.Contoh lain pada pertukaran O2 di alveoulus. Lalu dengan cara lain yaitu
dengan bantuan lamina basalis untuk menyalurkan nutrisi.

Daftar Rujukan

Campbell, Reece, dan Mitchell, 2002. Biologi. Jakarta: Erlangga.


Eroschenko, Victor P, 2008. diFiore’s Atlas of Histology with functional Correlation.
Alih bahasa: Atlas Histologi diFiore dengan korelasi fungsi oleh Brahm U.
Pendit. Jakarta: GEC.
Hala, Yusminah, 2007. Biologi Umum 2. Makassar : UIN Alauddin Press.
http://atlashistologi.com/histologi/epididimis.html diakses pada tanggal (1 Februari)
http://atlashistologi.com/histologi/trakea.html diakses pada tanggal (1 Februari)
http://herlina.lecture.ub.ac.id/files/2012/10/Jar.Epitel.2016.pdf diakses pada tanggal
(1 Februari)
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/Prak-HMA-08.pdf diakses pada tanggal (1
Februari)
https://abisjatuhbangunlagi.wordpress.com/tag/jaringan-tulang/ diakses pada tanggal
(1 Februari)
Huda, Syamsuri, 2013. Jaringan Epitel . http://unair.ac.id/syamsul.huda.pdf.
Kimball, John. W, 1992. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Muhammadiah, Asia, dan Hilda, 2010. Penuntun Praktikum Struktur Hewan.
Makassar : Jurusan Biologi. FMIPA UNM.
Nasir, M., Sugiyanto, J., dan Situmorang, J, 1994. Penuntun Praktikum Biologi
Umum. Yogyakarta: Depdikbud.
Tenzer, Amy,1993. Struktur Hewan Bagian 1. Malang : Institut Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Malang.
Tenzer, Lestari, Gofur, dkk, 2014. Struktur Perkembangan Hewan (SPH 1) Bagian 1.
Malang : Jurusan Biologi, FMIPA Universitas Negeri Malang.
Umar, Zulkarnaim,2011. Buku Daras Struktur Hewan.Makassar: UIN
Alauddin Press.