Anda di halaman 1dari 24

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kornea
Kornea merupakan bagian selaput mata yang tembus cahaya, bersifat avaskular,
transparan, berukuran 11-12 mm horizontal dan 10-11 mm vertikal, tebal 0,6-1 mm.
Indeks bias kornea 1,375 dengan kekuatan pembiasan 80%. Sifat kornea yang dapat
ditembus cahaya ini disebabkan oleh struktur kornea yang uniform, avaskuler dan
diturgesens atau keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea yang dipertahankan oleh
pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel.
Endotel lebih penting daripada epitel dalam mencegah dehidrasi, dan cedera kimiawi
atau fisik pada endotel jauh lebih berat daripada cedera pada epitel. Kerusakan sel-sel
endotel jauh menyebabkan sifat transparan hilang dan edema kornea, sedangkan
kerusakan epitel hanya menyebabkan edema lokal sesaat karena akan menghilang
seiring dengan regenerasi epitel.

Gambar 1. Anatomi Kornea

Batas antara sclera dan kornea disebut limbus kornea. Kornea merupakan lensa
cembung dengan kekuatan refraksi sebesar + 43 dioptri. Jika kornea oedem karena
suatu sebab, maka kornea juga bertindak sebagai prisma yang dapat menguraikan
sinar sehingga penderita akan melihat halo.
Kornea bersifat avaskuler, maka sumber-sumber nutrisi kornea berasal dari
pembuluh-pembuluh darah limbus, humor aquaeus dan air mata. Kornea superfisial
juga mendapatkan oksigen sebagian besar dari atmosfer. Kornea dipersarafi oleh
banyak serat saraf sensorik yang didapat dari percabangan pertama (oftalmika) dari
nervus kranialis V yang berjalan masuk kedalam stroma kornea, menembus membran
bowman dan melepaskan selubung schwannya. Bulbus Krause untuk sensasi dingin
ditemukan didaerah limbus.
Kornea merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan
terdiri atas lima lapisan dari anterior ke posterior yaitu: lapisan epitel (yang
bersambung dengan lapisan epitel konjungtiva bulbaris), membran bowman, stroma,
membran descemet dan lapisan endotel.

Gambar 2. Histologi Kornea

1. Epitel
Terdiri dari sel epitel squamos yang bertingkat, terdiri atas 5 lapis sel
epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; sel poligonal dan sel
gepeng. Tebal lapisan epitel kira-kira 5 % (0,05 mm) dari total seluruh
lapisan kornea. Epitel dan film air mata merupakan lapisan permukaan
dari media penglihatan. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel
muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke
depan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal di
sampingnya dan sel poligonal di depannya melalui desmosom dan
makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan
glukosa melalui barrier. Sel basal menghasilkan membran basal yang
melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan
erosi rekuren. Sedangkan epitel berasal dari ektoderem permukaan.
Epitel memiliki daya regenerasi.
2. Membran Bowman
Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen
yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan
stroma. Lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi. Kerusakan pada
lapisan ini akan berakhir dengan terbentuknya jaringan parut.
3. Stroma
Stroma merupakan lapisan yang paling tebal dari kornea, mencakup
sekitar 90% dari ketebalan kornea. Bersifat water soluble substance.
Terdiri atas jaringan kolagen yang tersusun atas lamel-lamel, pada
permukaannya terlihat anyaman yang teratur sedang dibagian perifer serat
kolagen bercabang. Stroma bersifat higroskopis yang menarik air, kadar
air diatur oleh fungsi pompa sel endotel dan penguapan oleh sel epitel.
Terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama yang kadang-
kadang sampai 15 bulan.
4. Membran Descemet
Merupakan membran aselular yang tipis, kenyal, kuat dan bening, terletak
dibawah stroma dan pelindung atau barrier infeksi dan masuknya
pembuluh darah. Membran ini sangat elastis dan berkembang terus
seumur hidup, mempunyai tebal 40m.
5. Endotel
Berasal dari mesotelium, terdiri atas satu lapis sel berbentuk heksagonal,
tebal antara 20-40 mm melekat erat pada membran descemet melalui taut.
Endotel dari kornea ini dibasahi oleh aqueous humor. Lapisan endotel
berbeda dengan lapisan epitel karena tidak mempunyai daya
regenerasi, sebaliknya endotel mengkompensasi sel-sel yang mati dengan
mengurangi kepadatan seluruh endotel dan memberikan dampak pada
regulasi cairan, jika endotel tidak lagi dapat menjaga keseimbangan cairan
yang tepat akibat gangguan sistem pompa endotel, stroma bengkak karena
kelebihan cairan (edema kornea) dan kemudian hilangnya transparansi
(kekeruhan) akan terjadi. Permeabilitas dari kornea ditentukan oleh epitel
dan endotel yang merupakan membrane semipermeabel, kedua lapisan ini
mempertahankan kejernihan daripada kornea, jika terdapat kerusakan pada
lapisan ini maka akan terjadi edema kornea dan kekeruhan pada kornea.

Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan “jendela” yang


dilalui berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan oleh
strukturnya yang uniform, avaskuler dan deturgesensi. Deturgesensi atau
keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea, dipertahankan oleh “pompa”
bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. Dalam
mekanisme dehidrasi ini, endotel jauh lebih penting daripada epitel, dan
kerusakan kimiawi atau fisis pada endotel berdampak jauh lebih parah
daripada kerusakan pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan
edema kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya, kerusakan pada
epitel hanya menyebabkan edema stroma kornea lokal sesaat yang akan
meghilang bila sel-sel epitel telah beregenerasi. Penguapan air dari lapisan air
mata prekorneal menghasilkan hipertonisitas ringan lapisan air mata tersebut,
yang mungkin merupakan faktor lain dalam menarik air dari stroma kornea
superfisial dan membantu mempertahankan keadaan dehidrasi.2
Penetrasi kornea utuh oleh obat bersifat bifasik. Substansi larut-lemak
dapat melalui epitel utuh dan substansi larut-air dapat melalui stroma yang
utuh. Karenanya agar dapat melalui kornea, obat harus larut-lemak dan
larut-air sekaligus. Epitel adalah sawar yang efisien terhadap masuknya
mikroorganisme kedalam kornea. Namun sekali kornea ini cedera, stroma
yang avaskular dan membran bowman mudah terkena infeksi oleh berbagai
macam organisme, seperti bakteri, virus, amuba, dan jamur.2
Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui
cahaya, dalam perjalanan pembentukan bayangan di retina, karena jernih,
sebab susunan sel dan seratnya tertentu dan tidak ada pembuluh darah. Biasan
cahaya terutama terjadi di permukaan anterior dari kornea. Perubahan dalam
bentuk dan kejernihan kornea, segera mengganggu pembentukan bayangan
yang baik di retina. Oleh karenanya kelainan sekecil apapun di kornea, dapat
menimbulkan gangguan penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di
daerah pupil.

2.2 Keratitis
2.2.1 Definisi
Keratitis adalah infeksi pada kornea yang biasanya diklasifikasikan menurut
lapisan kornea yang terkena yaitu keratitis superfisialis apabila mengenal lapisan
epitel atau bowman dan keratitis profunda atau interstisialis (atau disebut juga
keratitis parenkimatosa) yang mengenai lapisan stroma.

2.2.2 Epidemiologi
Menurut Murillo Lopez (2006), Sekitar 25.000 orang Amerika terkena keratitis
bakteri per tahun. Kejadian keratitis bakteri bervariasi, dengan lebih sedikit pada
negara-negara industri yang secara signifikan lebih sedikit memiliki jumlah pengguna
lensa kontak. Insiden keratitis jamur bervariasi sesuai dengan lokasi geografis dan
berkisar dari 2% dari kasus keratitis di New York untuk 35% di Florida. Spesies
Fusarium merupakan penyebab paling umum infeksi jamur kornea di Amerika
Serikat bagian selatan (45-76% dari keratitis jamur), sedangkan spesies Candida dan
Aspergillus lebih umum di negara-negara utara. secara signifikan lebih sedikit yang
berkaitan dengan infeksi lensa kontak.

2.2.3 Etiologi
Keratitis dapat disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya:
1. Virus
2. Bakteri
3. Jamur
4. Paparan sinar ultraviolet seperti sinar matahari atau sunlamps. Hubungan ke
sumber cahaya yang kuat lainnya seperti pengelasan busur
5. Iritasi dari penggunaan berlebihan lensa kontak
6. Mata kering yang disebabkan oleh kelopak mata robek atau tidak cukupnya
pembentukan air mata
7. Adanya benda asing di mata
8. Reaksi terhadap obat tetes mata, kosmetik, polusi, atau partikel udara seperti
debu, serbuk sari, jamur, atau ragi
9. Efek samping obat tertentu

2.2.4 Patofisiologi
Epitel adalah sawar yang efisien terhadap masuknya mikroorganisme kedalam
kornea. Namun sekali kornea mengalami cedera, stroma yang avaskuler dan
membrane Bowman mudah terinfeksi oleh berbagai macam mikroorganisme seperti
amoeba, bakteri dan jamur. Streptococcus pneumonia (pneumokokus) adalah bakteri
pathogen kornea sejati, pathogen lain memerlukan inokulum yang berat atau hospes
yang lemah (misalnya pada pasien yang mengalami defisiensi imun) agar dapat
menimbulkan infeksi.
Kornea adalah struktur yang avaskuler oleh sebab itu pertahanan pada waktu
peradangan, tidak dapat segera ditangani seperti pada jaringan lainnya yang banyak
mengandung vaskularisasi. Sel-sel di stroma kornea pertama-tama akan bekerja
sebagai makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh darah yang ada
di limbus dan tampak sebagai injeksi pada kornea. Sesudah itu terjadilah infiltrasi
dari sel-sel lekosit, sel-sel polimorfonuklear, sel plasma yang mengakibatkan
timbulnya infiltrat, yang tampak sebagai bercak kelabu, keruh dan permukaan kornea
menjadi tidak licin.
Stadium Perjalanan Keratitis ;
Stadium infiltrasi. Infiltrasi epitel stroma, sel epitel rusak, edema, nekrosis
lokal. Hanya stadium 1 yang terjadi pada keratitis, sedangkan stadium 2 dan 3 terjadi
pada keratitis lanjut seperti pada ulkus kornea. Gejala objektif pada stadium ini selalu
ada dengan batas kabur, disertai tanda radang, warna keabu-abuan dan injeksi
perikorneal.
Stadium regresi. Ulkus disertai infiltrasi di sekitarnya, vaskularisasi meningkat
dengan tes flouresensi positif.
Stadium sikatrik. Pada stadium ini terjadi epitelisasi, ulkus menutup, terdapat
jaringan sikatrik dengan warna kornea kabur. Tanpa disertai tanda keratitis, batas
jelas, tanpa tanda radang, warna keputihan dan tanpa injeksi perikorneal.
Karena kornea avaskular, maka pertahanan sewaktu peradangan tidak dapat
segera datang. Maka badan kornea, sel-sel yang terdapat di dalam stroma segera
bekerja sebagai makrofag baru kemudian disusul oleh pembuluh darah yang terdapat
di limbus dan tampak sebagi injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrat,
yang tampak sebagai bercak bewarna kelabu, keruh, dan permukaan yang licin.
Kemudian dapat terjadi kerusakan epitel kornea dan timbul ulkus yang dapat
menyebar ke permukaan dalam stroma. Pada peradangan yang hebat, toksin dari
kornea dapat menyebar ke iris dan badan siliar dengan melalui membran descemet
dan endotel kornea. Baru demikian iris dan badan siliar meradang dan timbulah
kekeruhan dicairan COA, disusul dengan terbentuknya hipopion. Bila peradangan
terus mendalam, tetapi tidak mengenai membran descement dapat timbul tonjolan
membran descement yang disebut mata lalat atau descementocele. Pada peradangan
dipermukaan kornea, penyembuhan dapat berlangsung tanpa pembentukan jaringan
parut. Pada peradangan yang lebih dalam, penyembuhan berakhir dengan
terbentuknya jaringan parut yang dapat berupa nebula, makula, atau leukoma. Bila
ulkusnya lebih mendalam Lagi dapat timbul perforasi yang dapat mengakibatkan
endoftalmitis, panoftalmitis, dan berakhir dengan ptisis bulbi.

2.2.5 Klasifikasi
Keratitis dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal.
1. Berdasarkan lapisan yang terkena, keratitis dibagi menjadi:
a. Keratitis Pungtata (Keratitis Pungtata Superfisial dan Keratitis Pungtata
Subepitel)
b. Keratitis Marginal
c. Keratitis Interstisial
2. Berdasarkan penyebabnya, keratitis diklasifikasikan menjadi:
a. Keratitis Bakteri
b. Keratitis Jamur
c. Keratitis Virus Keratitis Herpetik
1) Keratitis Infeksi Herpes Zoster
2) Keratitis Infeksi Herpes Simplek
d. Keratitis Alergi
1) Keratokonjungtivitis
2) Keratokonjungtivitis epidemi
3) Tukak atau ulkus fliktenular
4) Keratitis fasikularis
5) Keratokonjungtivitis vernal
3. Berdasarkan bentuk klinisnya, keratitis diklasifikasikan menjadi:
a. Keratitis Flikten
b. Keratitis Sika
c. Keratitis Neuroparalitik
d. Keratitis Numularis
Klasifikasi keratitis berdasarkan lapisan kornea yang terkena, yaitu:
1. Keratitis Pungtata Superfisialis
Keratitis yang terkumpul di daerah Bowman, dengan infiltrat berbentuk
bercak-bercak halus. Keratitis pungtata superfisial memberikan gambaran
seperti infiltrat halus bertitik-titik pada permukaan kornea, dapat disebabkan
karena sindrom dry eyes, blefaritis, keratopati lagoftalmus, pemakaian lensa
kontak, trauma kimia ringan, sinar ultraviolet. Pasien akan mengeluh sakit,
silau, mata merah dan rasa kelilipan.

Gambar 3. Keratitis pungtata


2. Keratitis Marginal
Merupakan infiltrat yang tertimbun pada tepi kornea sejajar dengan
limbus. Penyakit infeksi lokal konjungtiva dapat menyebabkan keratitis
kataral atau keratitis marginal ini. Keratitis marginal kataral biasanya
terdapat pada pasien setengah umur dengan adanya blefarokonjungtivitis.
Bila tidak diobati dengan baik maka akan mengakibatkan tukak kornea.
Penderita mengeluh sakit seperti kelilipan, lakrimasi, fotofobia berat. Pada
mata akan terlihat blefarospasme satu mata, injeksi konjungtiva, infiltrat atau
ulkus memanjang, dangkal unilateral dapat tunggal atau multiple, sering
disertai neovaskularisasi dari arah limbus. Pemberian antibiotika yang sesuai
infeksi lokalnya dan steroid dosis ringan. Diberikan juga vitamin B dan C
dosis tinggi. Pada kelainan yang indolen dilakukan kauterisasi dengan listrik
ataupun AgNO3 di pembuluh darah / dilakukan flep konjungtiva yang kecil.
Gambar 4. Keratitis Marginal

3. Keratitis Interstitial
Keratitis interstitial adalah kondisi serius dimana masuknya pembuluh
darah ke dalam kornea dan dapat menyebabkan hilangnya transparansi
kornea. Keratitis interstitial dapat berlanjut menjadi kebutaan. Sifilis adalah
penyebab paling sering dari keratitis interstitial. Pasien mengeluh fotofobia,
lakrimasi dan menurunnya visus. Keluhan akan bertahan seumur hidup.
Seluruh kornea keruh sehingga iris sukar dilihat. Permukaan kornea seperti
permukaan kaca. Terdapat injeksi Siliar disertai serbukan pembuluh ke
dalam sehingga memberi gambaran merah kusam yang disebut “Salmon
Patch” dari Hutchinson. Seluruh kornea dapat berwarna merah cerah.

Gambar 5. Keratitis Interstitial


Klasifikasi keratitis berdasarkan penyebabnya, yaitu :
1. Keratitis Bakteri
a. Faktor Risiko
Setiap faktor atau agen yang menciptakan kerusakan pada epitel kornea
adalah potensi penyebab atau faktor risiko bakteri keratitis, beberapa faktor
risiko terjadinya keratitis bakteri diantaranya:
 Penggunaan lensa kontak
 Trauma
 Kontaminasi pengobatan mata
 Riwayat keratitis bakteri sebelumnya
 Riwayat operasi mata sebelumnya
 Gangguan mekanisme pertahanan tubuh
 Perubahan struktur permukaan kornea

b. Etiologi

Tabel 1. Etiologi Keratitis Bakteri

c. Manifestasi Klinis
Pasien keratitis biasanya mengeluh mata merah, berair, nyeri pada mata yang
terinfeksi, penglihatan silau, adanya sekret dan penglihatan menjadi kabur.
Pada pemeriksaan bola mata eksternal ditemukan hiperemis perikornea,
blefarospasme, edema kornea, infiltrasi kornea
Gambar 6. Keratitis ulseratif supuratif yang disebabkan oleh P.aeruginosa
d. Pemeriksaan Laboratorium
 Pemeriksaan kultur bakteri dilakukan dengan menggores ulkus kornea dan
bagian tepinya dengan menggunakan spatula steril kemudian ditanam di
media cokelat, darah dan agar Sabouraud, kemudian dilakukan pengecatan
dengan Gram.
 Biopsi kornea dilakukan jika kultur negatif dan tidak ada perbaikan secara
klinis dengan menggunakan blade kornea bila
ditemukan infiltrat dalam di stroma.
e. Terapi
Dapat diberikan inisial antibiotik spektrum luas sambil menunggu hasil kultur
bakteri. Berikut tabel pengobatan inisial antibiotik yang dapat diberikan:
Tabel 2. Terapi inisial untuk keratitis bakteri

2. Keratitis Fungi
a. Etiologi
Keratitis jamur dapat disebabkan oleh:
1) Jamur berfilamen (filamentous fungi)
Bersifat multiseluler dengan cabang-cabang hifa, terdiri dari:
 Jamur bersepta : Furasium sp, Acremonium sp, Aspergillus sp,
Cladosporium sp, Penicillium sp, Paecilomyces sp, Phialophora sp,
Curvularia sp, Altenaria sp.
 Jamur tidak bersepta : Mucor sp, Rhizopus sp, Absidia sp.
2) Jamur ragi (yeast) yaitu jamur uniseluler dengan pseudohifa dan tunas :
Candida albicans, Cryptococcus sp, Rodotolura sp.
3) Jamur difasik. Pada jaringan hidup membentuk ragi sedang media
pembiakan membentuk miselium : Blastomices sp, Coccidiodidies sp,
Histoplastoma sp, Sporothrix sp.
b. Patologi
Hifa jamur cenderung masuk stroma secara paralel ke lamella
kornea.Mungkin ada nekrosis koagulatif stroma kornea yang meluas dengan
edema serat kolagen dan keratosit. Reaksi inflamasi yang menyertai kurang
terlihat daripada keratitis bakterialis. Abses cincin steril mungkin ada yang
terpisah pusat ulkus. Mikroabses yang multipel dapat mengelilingi lesi utama.
Hifa berpotensi masuk ke membran descemet yang intak dan menyebar ke
kamera okuli anterior.
c. Manifestasi Klinis
Reaksi peradangan yang berat pada kornea yang timbul karena infeksi jamur
dalam bentuk mikotoksin, enzim-enzim proteolitik, dan antigen jamur yang
larut. Agen-agen ini dapat menyebabkan nekrosis pada lamella kornea,
peradangan akut , respon antigenik dengan formasi cincin imun, hipopion, dan
uveitis yang berat.
Ulkus kornea yang disebabkan oleh jamur berfilamen dapat menunjukkan
infiltrasi abu-abu sampai putih dengan permukaan kasar, dan bagian kornea
yang tidak meradang tampak elevasi keatas. Lesi satelit yang timbul terpisah
dengan lesi utama dan berhubungan dengan mikroabses stroma. Plak endotel
dapat terlihat paralel terhadap ulkus. Cincin imun dapat mengelilingi lesi
utama, yang merupakan reaksi antara antigen jamur dan respon antibodi
tubuh. Sebagai tambahan, hipopion dan sekret yang purulen dapat juga
timbul. Reaksi injeksi konjungtiva dan kamera okuli anterior dapat cukup
parah. Untuk menegakkan diagnosis klinik dapat dipakai pedoman berikut:
 Riwayat trauma terutama tumbuhan, pemakaian steroid topikal lama
 Lesi satelit
 Tepi ulkus sedikit menonjol dan kering, tepi yang ireguler dan tonjolan
seperti hifa di bawah endotel utuh
 Plak endotel & lesi kornea yang endolen
 Hypopyon, kadang-kadang rekuren
 Formasi cincin sekeliling ulkus
Gambar 7. Keratitis Fungi

d. Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan kerokan kornea
(sebaiknya dengan spatula Kimura) yaitu dari dasar dan tepi ulkus dengan
biomikroskop. Dapat dilakukan pewarnaan KOH, Gram, Giemsa atau
KOH + Tinta India.
 Biopsi jaringan kornea dan diwamai dengan Periodic Acid Schiff atau
Methenamine Silver.

e. Terapi
Obat-obat anti jamur yang dapat diberikan meliputi:
 Polyenes termasuk natamycin, nistatin, dan amfoterisin B.
 Azoles (imidazoles dan triazoles) termasuk ketoconazole, Miconazole,
flukonazol, itraconazole, econazole, dan clotrimazole.`

3. Keratitis Virus
a. Etiologi
Herpes Simpleks Virus (HSV) merupakan salah satu infeksi virus
tersering pada kornea. Virus herpes simpleks menempati manusia sebagai
host, merupakan parasit intraselular obligat, dapat ditemukan pada
mukosa, rongga hidung, rongga mulut, vagina dan mata. Penularan dapat
terjadi melalui kontak dengan cairan dan jaringan mata, rongga hidung,
mulut, alat kelamin yang mengandung virus.
b. Patofisiologi
Patofisiologi keratitis herpes simpleks dibagi dalam 2 bentuk:
 Pada epitelial: kerusakan terjadi akibat pembiakan virus intraepitelial
mengakibatkan kerusakan sel epitel dan membentuk tukak kornea
superfisial. Pada stromal: terjadi reaksi imunologik tubuh terhadap
virus yang menyerang yaitu reaksi antigen-antibodi yang menarik sel
radang ke dalam stroma. Sel radang ini mengeluarkan bahan
proteolitik untuk merusak virus tetapi juga akan merusak stroma di
sekitarnya.
c. Manifestasi Klinis
Pasien dengan HSV keratitis mengeluh nyeri, fotofobia, penglihatan
kabur, mata berair, mata merah, tajam penglihatan turun terutama jika
bagian pusat yang terkena. Infeksi primer herpes simpleks pada mata
biasanya berupa konjungtivitis folikularis akut disertai blefaritis vesikuler
yang ulseratif, serta pembengkakan kelenjar limfe regional. Kebanyakan
penderita juga disertai keratitis epitelial dan dapat mengenai stroma tetapi
jarang. Pada dasarnya infeksi primer ini dapat sembuh sendiri, akan tetapi
pada keadaan tertentu di mana daya tahan tubuh sangat lemah akan
menjadi parah dan menyerang stroma

Gambar 8. Keratitis Virus Herpes Simpleks


d. Pemeriksaan Penunjang
Usapan epitel dengan Giemsa multinuklear noda dapat menunjukkan sel-
sel raksasa, yang dihasilkan dari perpaduan dari sel-sel epitel kornea yang
terinfeksi dan virus intranuclear inklusi
e. Terapi
 Debridement
Cara efektif mengobati keratitis dendritik adalah debridement
epithelial, karena virus berlokasi didalam epithelial. Debridement juga
mengurangi beban antigenic virus pada stroma kornea. Epitel sehat
melekat erat pada kornea namun epitel yang terinfeksi mudah
dilepaskan. Debridement dilakukan dengan aplikator berujung kapas
khusus. Obat siklopegik seperti atropine 1% atau homatropin 5%
diteteskan kedalam sakus konjungtiva, dan ditutup dengan sedikit
tekanan. Pasien harus diperiksa setiap hari dan diganti penutupnya
sampai defek korneanya sembuh umumnya dalam 72 jam.
 Terapi Obat
 IDU (Idoxuridine) analog pirimidin (terdapat dalam larutan 1%
dan diberikan setiap jam, salep 0,5% diberikan setiap 4 jam)
 Vibrabin: sama dengan IDU tetapi hanya terdapat dalam bentuk
salep
 Trifluorotimetidin (TFT): sama dengan IDU, diberikan 1% setiap 4
jam
 Asiklovir (salep 3%), diberikan setiap 4 jam.
 Asiklovir oral dapat bermanfaat untuk herpes mata berat,
khususnya pada orang atopi yang rentan terhadap penyakit herpes
mata dan kulit agresif.
 Terapi Bedah
Keratoplasti penetrans mungkin diindikasikan untuk rehabilitasi
penglihatan pasien yang mempunyai parut kornea yang berat, namun
hendaknya dilakukan beberapa bulan setelah penyakit herpes non aktif.
4. Keratitis Alergi
a. Etiologi
Reaksi hipersensitivitas tipe I yang mengenai kedua mata, biasanya
penderita sering menunjukkan gejala alergi terhadap tepung sari rumput-
rumputan.
b. Manifestasi Klinis
 Bentuk palpebra: cobble stone (pertumbuhan papil yang besar), diliputi
sekret mukoid.
 Bentuk limbus: tantras dot (penonjolan berwarna abu-abu, seperti lilin)
Gatal
 Fotofobia
 Sensasi benda asing
 Mata berair dan blefarospasme
c. Terapi
 Biasanya sembuh sendiri tanpa diobati
 Steroid topikal dan sistemik
 Kompres dingin
Klasifikasi keratitis berdasarkan bentuk klinisnya, yaitu:
1. Keratitis Flikten/Skrofulosa/Eksemtosa
Flikten merupakan benjolan berdiameter 1-3 mm berwarna abu-abu pada
lapisan superfisial kornea. Epitel diatasnya mudah pecah dan membentuk ulkus.
Ulkus ini dapat sembuh atau tanpa meninggalkan sikatrik. Adapula ulkus yang
menjalar dari pinggir ke tengah, dengan pinggir meninggalkan sikatrik sedangkan
bagian tengah nya masih aktif, yang disebut wander phlyctaen. Keadaan ini
merupakan proses yang mudah sembuh, tetapi kemudian kambuh lagi di tempat
lain bila penyebabnya masih ada dan dapat menyebabkan kelainan kornea
berbentuk bercak-bercak sikatrik, menyerupai pulau-pulau yang disertai
‘geographic pattern’.
2. Keratitis Sika
Merupakan peradangan konjungtiva dan kornea akibat keringnya permukaan
kornea dan konjungtiva. Penyebab keringnya permukaan konjungtiva dan kornea,
yaitu:
a. Berkurangnya komponen lemak, seperti pada blefaritis
b. Berkurangnya airmata, seperti pada syndrome syrogen, setelah memakai obat
diuretik, atropin atau dijumapai pada usia tua.
c. Berkurangnya komponen musin, dijumpai pada keadaan avitaminosis A,
penyakit-penyakit yang menyebabkan cacatnya konjungtiva, seperti trauma
kimia, Sindrom Steven Johnson, trakoma.
d. Penguapan yang berlebihan seperti pada kehidupan gurun pasir, lagoftalmus,
keratitis neuroparalitika.
e. Adanya sikatrik pada kornea.

Gejala klinis yang sering timbul yaitu mengeluh mata terasa gatal, terasa
seperti ada pasir,fotopobi,visus menurun, secret lengket, mata terasa kering. Dari
hasil pemeriksaan didapatkan sekret mukus dengan tanda-tanda konjungtivitis
dengan xerosis konjuntiva, sehingga konjungtiva bulbi edema, hiperemi, menebal,
kering, tak mengkilat, warnanya mengkilat. Terdapat infiltrat-infiltrat kecil,letak
epiteleal,tes fluoresen (+). Terdapat juga benang-benang (filamen) yang
sebenarnya sekret yang menempel, karena itu, disebut juga keratitis filamentosa.

3. Keratitis Numularis
Diduga dari virus. Pada klinis, tanda-tanda radang tidak jelas, terdapat
infiltrat bulat-bulat subepitelial di kornea, dimana tengahnya lebih jernih, disebut
halo (diduga terjadi karena resorpsi dari infiltrat yang dimulai di tengah). Tes
fluoresen (-). Keratitis ini kalau sembuh meninggalkan sikatrik yang ringan.
2.2.6 Komplikasi
Komplikasi yang paling ditakuti dari keratitis adalah penipisan kornea dan
akhirnya perforasi kornea yang dapat mengakibatkan endophtalmitis sampai
hilangnya penglihatan (kebutaan). Beberapa komplikasi yang lain diantaranya:
 Gangguan refraksi
 Jaringan parut permanent
 Ulkus kornea
 Perforasi kornea
 Glaukoma sekunder

2.2.7 Prognosis
Keratitis dapat sembuh dengan baik jika ditangani dengan tepat dan jika tidak
diobati dengan baik dapat menimbulkan ulkus yang akan menjadi sikatriks dan dapat
mengakibatkan hilang penglihatan selamanya.
Prognosis visual tergantung pada beberapa faktor, tergantung dari:
 Virulensi organisme
 Luas dan lokasi keratitis
 Hasil vaskularisasi dan atau deposisi kolagen
2.3 Presbiopia
2.3.1 Definisi
Makin berkurangnya kemampuan akomodasi mata sesuai dengan makin
meningkatnya umur. Kelainan ini terjadi pada mata normal berupa gangguan
perubahan kecembungan lensa yang dapat berkurang akibat berkurangnya elastisitas
lensa, sehingga terjadi gangguan akomodasi. Terjadi kekakuan lensa seiring dengan
bertambahnya usia, sehingga kemampuan lensa untuk memfokuskan bayangan saat
melihat dekat. Hal tersebut menyebabkan pandangan kabur saat melihat dekat.

Gambar 9. Pembentukan Bayangan pada Penderita Presbiopia

2.3.2 Etiologi
Gangguan akomodasi pada usia lanjut dapat terjadi akibat:
a. Kelemahan otot akomodasi.
b. Lensa mata yang tidak kenyal atau berkurang elastisitasnya akibat
sklerosislensa.
Pada mekanisme akomodasi yang normal terjadi peningkatan daya
refraksi mata karena adanya perubahan keseimbangan antara elastisitas
matriks lensa dan kapsul sehingga lensa menjadi cembung. Dengan
meningkatnya umur, maka lensa menjadi lebih keras (sklerosis) dan
kehilangan elastisitasnya untuk menjadi cembung, sehingga kemampuan
melihat dekat makin berkurang.
2.3.4 Diagnosis
Pada pasien berusia lebih dari 40 tahun, gangguan akomodasi akan memberikan
keluhan setelah membaca yaitu berupa mata lelah, berair, dan sering terasa perih.
Karena daya akomodasi berkurang maka titik dekat mata makin menjauh dan pada
awalnya akan kesulitan pada waktu membaca dekat huruf dengan cetakan kecil.
Dalam upayanya untuk membaca lebih jelas, maka penderita cenderung menegakkan
punggungnya atau menjauhkan obyek yang dibacanya sehingga mencapai
titik dekatnya dengan demikian obyek dapat dibaca lebih jelas. Alat yang kita
gunakan untuk melakukan pemeriksaan, yaitu:
a. Kartu Snellen
b. Kartu baca dekat
c. Sebuah set lensa trial and error
d. Bingkai percobaan

Teknik pemeriksaan yang bisa kita lakukan, yaitu:


1. Pasien duduk dengan jarak 6 meter dari kartu snellen
2. Pasien diukur visus jauhnya dengan kartu snellen dengan mata satu per satu,
mulai dengan mata kanan dan menutup mata yang tidak diperiksa.
3. Lalu pasien diukur visus dekatnya, pasien duduk dan diberikan kartu baca
dekat (jaeger) pada jarak 30-40 cm (jarak baca).
4. Diberikan lensa positif dengan menggunakan dioptri yang sesuai dengan umur
pasien (1.0 D untuk usia 40 tahun, +1.5 D untuk usia 45 tahun, +2.0 D untuk
usia 50 tahun, +2.5 D untuk usia 55 tahun,+3.0 D untuk usia 60 tahun) dan
target yang bisa terbaca pasien, target terbaik yaitu pada J6.
5. Pemeriksaaan dilakukan satu per satu mulai dengan mata kanan dan menutup
mata yang tidak diperiksa.

Hubungan lensa adisi dan umur biasanya:


a. 40 tahun sampai 45 tahun 1.0 dioptri
b. 45 tahun sampai 50 tahun 1.5 dioptri
c. 50 tahun sampai 55 tahun 2.0 dioptri
d. 55 tahun sampai 60 tahun 2.5 dioptri
e. 60 tahun atau lebih 3.0 dioptri

III.4 Penatalaksanaan
Diberikan penambahan lensa sferis positif sesuai pedoman umur, contoh umur
40tahun (umur rata-rata) diberikan tambahan sferis + 1.00 D dan setiap 5 tahun
diatasnya ditambahkan lagi sferis + 0.50D. Lensa sferis (+) yang ditambahkan dapat
diberikan dalam berbagai cara:
a. Kacamata baca untuk melihat dekat saja
b. Kacamata bifokal sekaligus mengoreksi kelainan yang lain
c. Kacamata trifokus mengoreksi penglihatan jauh di segmen atas, penglihatan
sedang di segmen tengah, dan penglihatan dekat di segmen bawah
Kacamata progresif mengoreksi penglihatan dekat, sedang, dan jauh, tetapi
dengan perubahan daya lensa yang progresif dan bukan bertingkat.
DAFTAR PUSTAKA

1. American Academy of Ophthalmology. External Eye Disease and Cornea. San


Fransisco 2008-2009. p. 179-90
2. Roderick B. Kornea. In: Vaughan & Asbury. Oftalmologi Umum Edisi 17. Jakarta :
EGC. 2009. p. 125-49.
3. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata edisi–2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2002. p.113–116
4. Mansjoer, Arif M. 2001. Kapita Selekta edisi-3 jilid-1. Jakarta: Media Aesculapius
FKUI. Hal: 56
5. Thygeson P. "Superficial Punctate Keratitis". Journal of the American Medical
Association.1997. 144:1544-1549. Available at : http://webeye. ophth.uiowa.edu/
dept/service/cornea/cornea.htm (accessed: Juli 2011)
6. Reed, KK. 2007. Thygeson's SPK photos. Nova Southeastern University College of
Optometry 3200 South University Drive Ft. Lauderdale, Florida. Available at:
http://www.fechter.com/Thygesons.htm. (accessed: Juli 2011)