Anda di halaman 1dari 6

Nama : Djody Virgiawan Ramadhan

NRP : 03411740000016
EGBM B
Resume Koreksi Pengolahan Data pada Metode Grafiti dan Metode Magnetik

A. Metode Grafiti
Pengolahanan data metode gravitasi secara umum dipisahkan menjadi dua macam, yaitu
proses dasar dan proses lanjutan. Proses dasar mencakup seluruh proses berawal dari nilai
pembacaan alat di lapangan sampai diperoleh nilai anomali bouguer di setiap titik pengamatan
yang diproses dengan menggunakan komputer dengan Microsoft Excel. Sedangkan proses
lanjutan merupakan proses untuk mempertajam kenampakan geologi pada daerah penyelidikan
yaitu pemodelan dengan menggunakan software Surfer 9 dan GRAV2DC. Dalam pengolahan
data gravitasi terdapat beberapa tahapan dengan pengaruh koreksi-koreksi untuk mendapatkan
nilai gravitasi yang sesuai disuatu titik pengukuran :

- Drift Correction

Gambar 1 : Grafik Drift Correction


Koreksi ini dilakukan untuk menghilangkan pengaruh perubahan kondisi alat (gravity
meter) terhadap nilai pembacaan. Koreksi apungan muncul karena gravity meter selama
digunakan untuk melakukan pengukuran akan mengalami goncangan, sehingga akan
menyebabkan bergesernya pembacaan titik nol pada alat tersebut. Koreksi ini dilakukan dengan
cara melakukan pengukuran dengan metode looping, yaitu dengan pembacaan ulang pada titik
ikat (base station) dalam satu kali looping, sehingga nilai penyimpangannya diketahui.
- Tidal Correction

Gambar 2 : Grafik Tidal Correction


Perubahan harga gravitasi suatu tempat terhadap waktu juga disebabkan oleh pasang
surut bumi padat akibat tarikan benda-benda angkasa khususnya matahari dan bulan. Perubahan
tersebut bersifat periodik sesuai dengan posisi relatif bumi - bulan - matahari. Koreksi pasang
surut ini adalah untuk menghilangkan gaya tarik yang dialami bumi akibat bulan dan matahari,
sehingga di permukaan bumi akan mengalami gaya tarik naik turun. Hal ini akan menyebabkan
perubahan nilai medan gravitasi di permukaan bumi secara periodik. Koreksi pasang surut juga
tergantung dari kedudukan bulan dan matahari terhadap bumi. Pada saat posisi bulan tepat di atas
pengukuran, maka akan ada tarikan yang sangat kuat dari bulan. Sehingga, berpengaruh
terhadapa hasil pengukuran.

- Latitude Correction
Disebut juga koreksi lintang yang digunakan untuk mengkoreksi gayaberat di setiap
lintang geografis karena gayaberat tersebut berbeda yang disebabkan oleh adanya gaya
sentrifugal dan bentuk ellips bumi. Dari koreksi ini akan diperoleh anomali medan gayaberat.
Medan anomali tersebut merupakan selisih antara medan gayaberat observasi dengan medan
gravitasi teoritis (gravitasi normal).
gφ= 978, 031.8 (1 + 0,005 302 4 Sin2 φ – 0,000 000 59 Sin2 2φ)

Koreksi ini untuk menghilangkan efek gravitasi yang disebabkan oleh mantel dan inti bumi.
Karena dalam eksplorasi, kita lebih konsen ke lapisan kerak bumi.

- Elevation Correction
Koreksi ketinggian digunakan untuk menghilang perbedaan gravitasi yang dipengaruhi
oleh perbedaan ketinggian dari setiap titik pengukuran terhadap geoid. Koreksi ketinggian ini
dibagi mejadi 2:

1. Free Air Correction


Koreksi udara bebas merupakan koreksi akibat perbedaan ketinggian sebesar h dengan
mengabaikan adanya massa yang terletak diantara titik pengukuran dengan geoid referensi.
Koreksi ini dilakukan untuk mendapatkan anomali medan gayaberat di topografi. Untuk
mendapat anomali medan gravitasi di topografi maka medan gravitasi teoritis dan medan
gravirasi observasi harus sama-sama berada di topografi, sehingga koreksi ini perlu dilakukan.

Gambar 3 : Free Air Correction


2. Bougue Correction
Koreksi Bougue merupakan koreksi yang dilakukan untuk menghilangkan perbedaan
ketinggian dengan tidak mengabaikan massa di bawahnya. Perbedaan ketinggian tersebut akan
mengakibatkan adanya pengaruh massa di bawah permukaan yang mempengaruhi besarnya
percepatan gayaberat di titik pengukuran.

- Terrain Correction
Koreksi medan atau topografi dilakukan untuk mengkoreksi adanya pengaruh bukit dan
lembah di skitar titik pengukuran. Karena adanya tarikan massa dari bukit menyebabkan pegas
menyimpang ke atas dari keadaan normalnya. Sehingga nilai gravitasi yang terbaca menjadi
berkurang. Sama halnya dengan terdapat nya massa kosong yaitu lembah yang menyebabkan
pegas menyimpang ke atas dari posisi normalnya. Sehingga nilai gravitasi yang terbaca pun
menjadi berkurang. Oleh karena itu, pada korekasi terrain ini nilainya ditambahkan.
gt = gobs - gn + 0.3086h - 0.04192ρh + TC (mgal)

Gambar 4 : Terrain Correction


Bouguer Anomali
gB = gobs - gn ± 0.3086h ± 0.04192 ρh (mgal)

B. Metode Magnetik
Untuk memperoleh nilai anomali medan magnetik yang diinginkan, maka dilakukan
koreksi terhadap data medan magnetik total hasil pengukuran pada setiap titik lokasi atau stasiun
pengukuran, yang mencakup koreksi harian, IGRF dan topografi.

1. Koreksi Harian (Diurnal Correction)


Koreksi harian merupakan penyimpangan nilai medan magnetik bumi akibat adanya
perbedaan waktu dan efek radiasi matahari dalam satu hari. Waktu yang dimaksudkan harus
mengacu atau sesuai dengan waktu pengukuran data medan magnetik di setiap titik lokasi
(stasiun pengukuran) yang akan dikoreksi. Apabila nilai variasi harian negatif, maka koreksi
harian dilakukan dengan cara menambahkan nilai variasi harian yang terekan pada waktu
tertentu terhadap data medan magnetik yang akan dikoreksi. Sebaliknya apabila variasi harian
bernilai positif, maka koreksinya dilakukan dengan cara mengurangkan nilai variasi harian yang
terekan pada waktu tertentu terhadap data medan magnetic. yang akan dikoreksi, datap dituliskan
dalam persamaan:
ΔH = Htotal ± Δhharian.........................(2.1)
2. Koreksi IGRF
Data hasil pengukuran medan magnetik pada dasarnya adalah konstribusi dari tiga
komponen dasar, yaitu medan magnetik utama bumi, medan magnetik luar dan medan anomali.
Nilai medan magnetik utama tidak lain adalah niali IGRF. Jika nilai medan magnetik utama
dihilangkan dengan koreksi harian, maka kontribusi medan magnetik utama dihilangkan dengan
koreksi IGRF. Koreksi IGRFdapat dilakukan dengan cara mengurangkan nilai IGRF terhadap
nilai medan magnetik total yang telah terkoreksi harian pada setiap titik pengukuran pada posisi
geografis yang sesuai. Persamaan koreksinya (setelah dikoreksi harian) dapat dituliskan sebagai
berikut :
ΔH = Htotal ± ΔHharian ± H0
Dimana : H0 = IGRF

3. Koreksi Topografi
Koreksi topografi dilakukan jika pengaruh topografi dalam survei megnetik sangat kuat.
Koreksi topografi dalam survei geomagnetik tidak mempunyai aturan yang jelas. Salah satu
metode untuk menentukan nilai koreksinya adalah dengan membangun suatu model topografi
menggunakan pemodelan beberapa prisma segiempat (Suryanto, 1988). Ketika melakukan
pemodelan, nilai suseptibilitas magnetik (k) batuan topografi harus diketahui, sehingga model
topografi yang dibuat, menghasilkan nilai anomali medan magnetik (ΔHtop) sesuai dengan fakta.
Selanjutnya persamaan koreksinya (setelah dilakukan koreski harian dan IGRF) dapat dituliskan
sebagai:
ΔH = Htotal ± ΔHharian – H0 – Δhtop
Setelah semua koreksi dikenakan pada data-data medan magnetik yang terukur
dilapangan, maka diperoleh data anomali medan magnetik total di topogafi. Untuk mengetahui
pola anomali yang diperoleh, yang akan digunakan sebagai dasar dalam pendugaan model
struktur geologi bawah permukaan yang mungkin, maka data anomali harus disajikan dalam
bentuk peta kontur. Peta kontur terdiri dari garis-garis kontur yang menghubungkan titik-titik
yang memiliki nilai anomali sama, yang diukur dar suatu bidang pembanding tertentu.
Referensi:
Telford, et all. 1976. Applied Geophysics. New York: Cambridge University Press.
Sharma, Prem. V. 1997 Environmental an Engineering Geophysics. Cambridge University Press.

Burger, H. R., Sheehan, A. F., dan Jones, C. H. (1992) Introduction to Applied Geophysic
Exploring the Shallow Subsurface. W.W. Norton & Company, New York.
Santoso, D. (2002) Pengantar Teknik Geofisika. Penerbit: ITB, Bandung.

Blakely, R.J., 1995, Potensial Theory in Gravity and Magnetic Applications, Cambridge
University Press.

Mussett, Alan E., Khan, M. Aftab. Looking In to The Earth. Cambridge University Press, New
York.