Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

KERATITIS NUMULARIS

Disusun Oleh :
Rini Risnawati Tardi, S. Ked.
030.13.168

Pembimbing:
Dr.I Gede Eka Yudiasa, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA

RUMAH SAKIT ANGKATAN LAUT DR. MINTOHARDJO

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

PERIODE 14 FEBRUARI-24 MARET 2019


LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KASUS
KERATITIS

Diajukan untuk
Untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu Syarat
Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Penyakit Mata
di RSAL dr. Mintohardjo

Telah disetujui dan dipresentasikan pada : Maret 2019

Disusun oleh :
Rini Risnawati Tardi, S.Ked.
030.13.168

Jakarta, Maret 2019...............


Dosen Pembimbing

Dr.I Gede Eka Yudiasa, Sp.M

LAPORAN KASUS MATA


I. IDENTITAS

Nama penderita : Tn. R


Umur : 13 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Jakarta
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Siswi
Status : Menikah
Tanggal ke poli : 14 Maret 2019
No. RM : 213619
II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 14 Maret 2019 pukul 10.00
WIB di bangsal Poliklinik Mata di RSAL dr. Mintohardjo.

Keluhan Utama : Penglihatan berkabut.

Riwayat Penyakit Sekarang :


Seorang pasien berusia 14 tahun datang ke poliklinik mata RSAL dr.Mintoharjo
dengan keluhan penglihatan berkabut pada mata sebelah kiri sejak 1 bulan yang lalu.
Menurut pasien, keluhan dimulai sejak pasien mulai menggunakan motor untuk alat
transportasi ke sekolah dan tidak menggukanan pelindung kepala maupun kacamata,
matanya seperti ada sesuatu yang masuk, dan pasien mulai mengkucek untuk berusaha
mengeluarkan sesuatu yang masuk tersebut. Setelah itu pasien merasa sakit pada mata
kirinya, pasien juga mengeluhkan mata berwarna merah, mata terasa mengganjal dan
berair. 3 minggu yang lalu pasien mengaku mulai timbul silau pada mata kirinya bila
melihat arah cahaya misalnya saat menonton TV. Pasien juga mengeluh bahwa mata
sering berair, pandangan buram dan penglihatan berkabut. Selama waktu 1 bulan tersebut
pasien mengobati dengan membeli obat tetes mata sendiri, seperti Insto, Rhoto dan cendo
xitrol. Sehingga pada saat pasien datang keluhan mata merah sudah tidak didapatkan lagi,
dan hanya tersisa mata buram sebagian. Keluarnya sekret dari mata, nyeri mata disangkal.
Riwayat penggunaan lensa kontak dan riwayat teman yang mengalami keluhan yang
sama disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini seblumnya dan tidak ada riwayat
hipertensi, diabetes mellitus, dan penyakit saluran pernapasan. Riwayat alergi disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga:


Riwayat penyakit yang sama dikeluarga disangkal.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Status Generalis
 Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
 Kesadaran : Compos mentis
 Tanda Vital
o Tekanan darah : 110/70 mmHg
o Nadi : 70 kali/menit
o Suhu : 36,8C
o Pernapasan : 19 kali/menit
 Antropometri
o Berat Badan : 42 kg
o Tinggi Badan : 142 cm
o BMI : 25,2

 Pemeriksaan thorax dan abdomen: dalam batas normal

Pemeriksaan Oftalmologi

OD OS
Visus dasar 6/6 6/6
Pergerakan
bola mata

Versi : Baik Versi : Baik


Duksi : Baik Duksi : Baik
Pemeriksaan Eksternal
Supercilia Normal Normal
Cilia Trikiasis (-) Trikiasis (-)
Palpebra Hiperemis (-), edema (-) Hiperemis (-), edema (-)
superior
Palpebra Hiperemis (-), edema (-) Hiperemis (-), edema (-)
inferior
Aparatus Sumbatan (-) Sumbatan (-)
lakrimalis
Conj. Papil (-), Folikel (-) hiperemis (-) Papil (-), Folikel (-) hiperemis (-)
Tarsalis
superior
Conj. Papil (-), Folikel (-) hiperemis (-) Papil (-), Folikel (-) hiperemis (-)
Tarsalis
inferior
Conj. Bulbi Hiperemis (-), Injeksi siliar (-), Hiperemis (-), Injeksi siliar (-),
Injeksi konjungtiva (-) Injeksi konjungtiva (-)
Kornea Jernih, infiltrate (+) Jernih
COA Sedang Sedang
Pupil
 Bentuk Bulat Bulat
 Diamete 3 mm 3 mm
r (+) (+)
 Reflex
cahaya

Iris
 Warna Coklat Coklat
 Kripta Kripta jelas Kripta jelas
 Sinekia
(-) (-)
Lensa Jernih Jernih
Pemeriksaan Slitlamp
Palpebra Hiperemis (-), edema (-) Hiperemis (-), edema (-)
superior
Palpebra Hiperemis (-), edema (-) Hiperemis (-), edema (-)
inferior

Cilia Trikiasis (-) Trikiasis (-)


Aparatus Sumbatan (-) Sumbatan (-)
lakrimalis

Conj. Papil (-), Folikel (-) hiperemis (-) Papil (-), Folikel (-) hiperemis (-)
Tarsalis
superior

Conj. Papil (-), Folikel (-) hiperemis (-) Papil (-), Folikel (-) hiperemis (-)
Tarsalis
inferior

Conj. Hiperemis (-), Injeksi siliar (-), Hiperemis (-), Injeksi siliar (-),
Bulbi Injeksi konjungtiva (-) Injeksi konjungtiva (-)
Kornea Jernih Infiltrat multiple bulat berbatas
tegas diameter + 0.5mm

COA Sedang Sedang


Iris
 Warna Coklat Coklat
 Kripta Kripta jelas Kripta jelas
 Sinekia
(-) (-)

Lensa Jernih Jernih


Tonometri

Digital Normal Normal


Schiots Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Visus
VOD : 6/6
VOS : 6/7
Pemeriksaan laboratorium
Tidak dilakukan pemeriksaan
Pemeriksaan Funduskopi
Tidak dilakukan pemeriksaan.
IV. RESUME

Berdasarkan autoanamnesis dan pemeriksaan yang dilakukan pada pasien Nn. S


(14th) datang ke Poli Mata RS TNI AL DR Mintoharjo dengan keluhan penglihatan
kabur dan berembun sejak 1 bulan yang lalu. Pasien juga mengeluh mata kirinya
seperti ada yang mengganjal, sering berair, serta terasa silau bila terkena cahaya. Dari
pemeriksaan visus yang diperoleh VOD 6/6 dan VOS 6/75. Dan pada pemeriksaan
eksternal didapatkan gambaran infiltrate pada kornea mata kanan. Hasil ini juga
ditemukan pada saat pemeriksaan dengan menggunakan slit lamp dimana terdapat
nfiltrat multiple bulat berbatas tegas diameter + 0.5mm pada mata sebelah kiri.

V. DIAGNOSIS
1. Diagnosa Kerja
 Keratitis numularis oculus sinistra

2. Diagnosa banding

 Keratitis pungtata superfisial


 Keratitis dendritik
 Uveitis akut

VI. TATALAKSANA
1. Famciclovir 3x500 mg atau Acyclovir 5x800 mg selama 7-10 hari.
2. Edukasi untuk tidak mengucek mata, menjaga higenitas mata dan tangan. Dan
menggunakan pelindung kepala (helm) pada saat menggunan sepeda motor.

VII. PROGNOSIS
 Ad vitam : bonam
 Ad sanationam : dubia ad bonam
 Ad functionam : bonam

BAB II
2.2 Keratitis
2.2.1 Definisi
Keratitis adalah suatu kondisi dimana kornea bagian depan mata mengalami
inflamasi. Kondisi ini sering ditandai dengan rasa nyeri,kemudian berkembang
menjadi photofobia atau rasa silau bila terkena cahaya dan dapat terjadi gangguan
penglihatan.2,3,5
Keratitis dapat terjadi pada setiap kelompok usia dan tidak dipengaruhi oleh
jenis kelamin.
Gambar 3. Keratitis 8

2.2.2 Etiologi
Penyebab keratitis bermacam-macam, seperti infeksi bakteri, virus maupun
jamur (virus herpes simpleks merupakan penyebab tersering), kekeringan kornea,
pajanan cahaya yang terlalu terang, benda asing, reaksi alergi terhadap kosmetik,
debu, polusi atau bahan iritan lainnya, kekurangan vitamin A dan penggunaan lensa
kontak yang kurang baik.2

2.2.3 Gejala dan Tanda Keratitis


a. Gejala keratitis 1,2,4
 Mata terasa sakit
 Gangguan penglihatan
 Trias keratitis (lakrimasi, fotofobia dan blefarospasme)
b. Tanda keratitis 1,2,4
 Infiltrat (berisi infiltrat sel radang, kejernihan kornea berkurang, terjadi
supurasi dan ulkus)
 Neovaskularisasi (superfisial bentuk bercabang-cabang, profunda berbentuk
lurus seperti sisir)
 Injeksi perikornea dilimbus kornea
 Kongesti jaringan yang lebih dalam (iridosiklitis yang dapat disertai hipopion)

2.2.4 Stadium Perjalanan Keratitis


Stadium infiltrasi. Infiltrasi epitel stroma, sel epitel rusak, edema, nekrosis
lokal. Hanya stadium 1 yang terjadi pada keratitis, sedangkan stadium 2 dan 3 terjadi
pada keratitis lanjut seperti pada ulkus kornea. Gejala objektif pada stadium ini
selalu ada dengan batas kabur, disertai tanda radang, warna keabu-abuan dan injeksi
perikorneal.9
Stadium regresi. Ulkus disertai infiltrasi di sekitarnya, vaskularisasi
meningkat dengan tes flouresensi positif.9
Stadium sikatrik. Pada stadium ini terjadi epitelisasi, ulkus menutup, terdapat
jaringan sikatrik dengan warna kornea kabur. Tanpa disertai tanda keratitis, batas
jelas, tanpa tanda radang, warna keputihan dan tanpa injeksi perikorneal.9

2.3. Patofisiologi
Karena kornea avaskular, maka pertahanan sewaktu peradangan tidak dapat
segera datang. Maka badan kornea, sel-sel yang terdapat di dalam stroma segera
bekerja sebagai makrofag baru kemudian disusul oleh pembuluh darah yang terdapat
di limbus dan tampak sebagi Injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrat,
yang tampak sebagai bercak bewarna kelabu, keruh, dan permukaan yang licin.
Kemudian dapat terjadi kerusakan epitel kornea dan timbul ulkus yang dapat
menyebar ke permukaan dalam stroma. Pada peradangan yang hebat, toksin dari
kornea dapat menyebar ke iris dan badan siliar dengan melalui membran descemet
dan endotel kornea. Baru demikian iris dan Badan siliar meradang dan timbullah
kekeruhan dicairan COA, disusul dengan terbentuknya hipopion. Bila peradangan
terus mendalam, tetapi tidak mengenai membran descemet dapat timbul tonjolan
membran descement yang disebut mata lalat atau descementocele. Pada peradangan
dipermukaan kornea, penyembuhan dapat berlangsung tanpa pembentukan jaringan
parut. Pada peradangan yang lebih dalam, penyembuhan berakhir dengan
terbentuknya jaringan parut yang dapat berupa nebula, makula, atau leukoma. Bila
ulkusnya lebih mendalam lagi dapat timbul perforasi yang dapat mengakibatkan
endoftalmitis, panoftalmitis, dan berakhir dengan ptisis bulbi.2

2.4. Klasifikasi Keratitis


Keratitis diklasifikasikan menurut lapisan kornea yang terkena yaitu keratitis
superfisialis apabila mengenal lapisan epitel atau Bowman dan keratitis profunda atau
interstisialis (atau disebut juga keratitis parenkimatosa) yang mengenai lapisan stroma.
Pada keratitis epitelial dan keratitis stromal, tes fluoresin (+), sedangkan pada keratitis
subepitelial dan keratitis profunda, tes fluoresin (-).
Menurut tempatnya, keratitis diklasifikasikan sebagai berikut:1
I. Keratitis Superfisial
1. Keratitis epitelial
a. Keratitis punctata superfisialis
b. Herpes simpleks
c. Herpes zoster
2. Keratitis subepitelial
a. Keratitis nummularis
b. Keratitis disiformis
3.Keratitis stromal
a. Keratitis neuroparalitik
b. Keratitis et lagoftalmus

II. Keratitis Profunda


1. Keratitis interstisial
2. Keratitis sklerotikans
3. Keratitis disiformis

2.5. Keratitis Superfisial


Keratitis superfisial dapat dibagi menjadi keratitis superfisial nonulseratif dan
keratitis superfisial ulseratif.

2.5.1 Keratitis Superfisial nonulseratif

a. Keratitis Pungtata Superfisial dari Fuchs


Merupakan suatu peradangan akut, yang mengenai satu, kadang-kadang dua
mata, mulai dengan konjungitivitis kataral, disertai dengan infeksi dari traktus
respiratorius bagian atas. Disusul dengan pembentukan infiltrat yang berupa titik-
titik pada kedua permukaan membran Bowman. Infiltrat tersebut dapat besar atau
kecil dan dapat timbul hingga berratus-ratus. Infiltrat ini di dapatkan di bagian
superfisial dari stroma, sedang epitel di atasnya tetap licin sehingga tes fluoresin (-)
oleh karena letaknya di subepitelial. 1

Gambar 5. Keratitis pungtata superfisial


Penyebabnya adalah infeksi virus, bakteri, parasit, neurotropik, dan nutrisial.

b. Keratitis Numularis atau Keratitis Dimmer

Gambar 6. Keratitis Numularis


Keratitis numularis disebut juga keratitis sawahica atau keratitis punctata
tropica. Keratitis numularis diduga diakibatkan oleh virus. Diduga virus yang masuk
ke dalam epitel kornea melalui luka setelah trauma. Replikasi virus pada sel epitel
diikuti penyebaran toksin pada stroma kornea sehingga menimbulkan kekeruhan atau
infiltrat berbentuk bulat seperti mata uang. Pada kornea terdapat infiltrat bulat-bulat
subepitelial dan di tengahnya lebih jernih, seperti halo. Tes fluoresinnya (-).1,2,3,7
Untuk melihat adanya defek pada epitel kornea dapat dilakukan uji fluoresin.
Caranya, kertas fluoresin dibasahi terlebih dahulu dengan garam fisiologis kemudian
diletakkan pada saccus konjungtiva inferior setelah terlebih dahulu penderita diberi
anestesi lokal. Penderita diminta menutup matanya selama 20 detik, kemudian kertas
diangkat. Defek kornea akan terlihat berwarna hijau dan disebut sebagai uji fluoresin
positif.1

c. Keratitis Disiformis dari Westhoff

Gambar 7. Keratitis disiformis


Disebut juga sebagai keratitis sawah,
karena merupakan peradangan kornea
yang banyak di negeri persawahan basah. Penyebabnya adalah virus yang berasal
dari sayuran dan binatang. Pada anamnesa umumnya ada riwayat trauma dari lumpur
sawah. Pada mata tanda radang tidak jelas, mungkin terdapat injeksi silier. Apabila
disertai dengan infeksi sekunder, mungkin timbul tanda-tanda konjungtivitis. Pada
kornea tampak infiltrat yang bulat-bulat, di tengahnya lebih padat dari pada di tepi
dan terletak subepitelial. Tes Fluoresin (-). Terletak terutama dibagian tengah kornea.
Umumnya menyerang orang-orang berumur 15-30 tahun.1,3

d. Keratokonjungtivitis Epidemika
Keratokonjungtivitis epidemika umumnya bilateral. Awalnya sering pada satu
mata saja, dan biasanya mata pertama lebih parah. Kekeruhan subepitel bulat.
Sensasi kornea normal. Nodus preaurikuler yang nyeri tekan adalah khas. Edema
palpebra, kemosis, dan hiperemia konjungtiva menandai fase akut. Folikel dan
perdarahan konjungtiva sering muncul dalam 48 jam. Dapat membentuk
pseudomembran dan mungkin diikuti parut datar atau pembentukan simbelfaron. 2,4
Konjungtivitis berlangsung paling lama 3-4 minggu. Kekeruhan subepitel
terutama terdapat di pusat kornea, bukan di tepi, dan menetap berbulan-bulan namun
tidak meninggalkan jaringan parut ketika sembuh. Keratokonjungtivitis epidemika
pada orang dewasa terbatas pada bagian luar mata. Namun, pada anak-anak mungkin
terdapat gejala sistemik infeksi virus seperti demam, sakit tenggorokan, otitis media,
dan diare. Keratokonjungtivitis epidemika disebabkan oleh adenovirus tipe 8, 19, 29,
dan 37 (subgroub D dari adenovirus manusia). Virus-virus ini dapat diisolasi dalam
biakan sel dan diidentifikasi dengan tes netralisasi. Kerokan konjungtiva
menampakkan reaksi radang mononuklear primer; bila terbentuk pseudomembran,
juga terdapat banyak neutrofil. 2,4
Transmisi nosokomial selama pemeriksaan mata sangat sering terjadi melalui
jari-jari tangan dokter, alat-alat pemeriksaan mata yang kurang steril, atau pemakaian
larutan yang terkontaminasi. Larutan mata, terutama anastetika topikal, mungkin
terkontaminasi saat ujung penetes obat menyedot materi terinfeksi dari konjungtiva
atau silia. Virus itu dapat bertahan dalam larutan itu, yang menjadi sumber
penyebaran. 2,4

Kontaminasi botol larutan dapat dihindari dengan memakai penetes steril pribadi
atau memakai tetes mata dengan kemasan unit-dose. Cuci tangan secara teratur di
antara pemeriksaan dan pembersihan serta sterilisasi alat-alat yang menyentuh mata
khususnya tonometer. Tonometer aplanasi harus dibersihkan dengan alkohol atau
hipoklorit, kemudian dibilas dengan air steril dan dikeringkan dengan hati-hati. 4

2.6.1 2.5.2. Keratitis Superfisial Ulseratif


a. Keratitis Pungtata Superfisial Ulserativa

Penyakit ini didahului oleh konjungtivitis kataral, akibat stafilokok ataupun


pneumokok. Tes fluoresin (+).4

b. Keratokonjungtivitis Flikten
Gambar 8. Keratokonjungtivitis flikten

Merupakan radang kornea dan konjungtiva akibat dari reaksi imun yang
mungkin sel mediated pada jaringan yang sudah sensitif terhadap antigen. Pada mata
terdapat flikten yaitu berupa benjolan berbatas tegas berwarna putih keabuan yang
terdapat pada lapisan superfisial kornea dan menonjol di atas permukaan kornea. 2,5
Bentuk keratitis dengan gambaran bermacam-macam, dengan ditemukannya
infiltrat dan neovaskularisasi pada kornea. Gambaran karakteristiknya adalah dengan
terbentuknya papul dan pustula pada kornea ataupun konjungtiva. Pada mata terdapat
flikten pada kornea berupa benjolan berbatas tegas berwarna putih keabuan, dengan
atau tanpa neovaskularisasi yang menuju kearah benjolan tersebut. Biasanya bersifat
bilateral yang dimulai dari daerah limbus.
Pada gambaran klinis akan terlihat suatu keadaan sebagai hiperemia
konjungtiva, kurangnya air mata, menebalnya epitel kornea, perasaan panas disertai
gatal dan tajam penglihatan yang berkurang. Pada limbus di dapatkan benjolan putih
kemerahan dikelilingi daerah konjungtiva yang hyperemia. Bila terjadi penyembuhan
akan terjadi jaringan parut dengan noevaskularisasi pada kornea.
Pada anak-anak keratitis flikten disertai gizi buruk dapat berkembang menjadi
tukak kornea karena infeksi sekunder. Tukak flikten sering ditemukan berbentuk
sebagai benjolan abu-abu, yang pada kornea terlihat sebagai:

- Ulkus fasikular, berbentuk ulkus yang menjalar melintas kornea dengan pembuluh
darah jelas dibelakangnya.
- Flikten multipel di sekitar limbus
- Ulkus cincin, yang merupakan gabungan ulkus.

c. Keratitis Herpetika
Keratitis herpes simpleks merupakan radang kornea yang disebabkan oleh
infeksi virus herpes simpleks tipe 1 maupun tipe 2. Kelainan mata akibat infeksi
herpes simpleks dapat bersifat primer dan kambuhan. lnfeksi primer ditandai oleh
adanya demam, malaise, limfadenopati preaurikuler, konjungtivitis folikutans,
bleparitis, dan 2/3 kasus terjadi keratitis epitelial. Kebanyakan kasus bersifat
unilateral, walaupun dapat terjadi bilateral khususnya pada pasien-pasien atopi.
Berat ringannya gejala-gejala iritasi tidak sebanding dengan luasnya lesi
epitel, berhubung adanya hipestesi atau insensibilitas kornea. Dalam hal ini harus
diwaspadai terhadap keratitis lain yang juga disertai hipestesi kornea, misalnya pada:
herpes zoster oftalmikus, keratitis akibat pemaparan dan mata kering, pengguna lensa
kontak, keratopati bulosa, dan keratitis kronik. Gejala spesifik pada keratitis herpes
simpleks ringan adalah tidak adanya fotofobia.
Infeksi herpes simpleks laten terjadi setelah 2-3 minggu paska infeksi primer
dengan mekanisme yang tidak jelas. Virus menjadi inaktif dalam neuron sensorik atau
ganglion otonom. Dalam hal ini ganglion servikalis superior, ganglion nervus
trigeminus, dan ganglion siliaris berperan sebagai penyimpan virus. Namun akhir-
akhir ini dibuktikan bahwa jaringan kornea sendiri berperan sebagai tempat
berlindung virus herpes simpleks.6

Gambar 9. Keratitis dendritik


Keratitis
superfisial dapat
berupa pungtata,
dendritik, dan
geografik.
Keratitis
dendritika
merupakan
proses
kelanjutan dari keratitis pungtata yang diakibatkan oleh perbanyakan virus dan
menyebar sambil menimbulkañ kematian sel serta membentuk defek dengan
gambaran bercabang. Keratitis dendritika dapat berkembang menjadi keratitis
geografika, hal ini terjadi akibat bentukan ulkus bercabang yang melebar dan
bentuknya menjadi ovoid. Dengan demikian gambaran ulkus menjadi seperti peta
geografi dengan kaki cabang mengelilingi ulkus.
Keratitis herpes simpleks bentuk dendrit harus dibedakan dengan keratitis
herpes zoster, pada herpes zoster bukan suatu ulserasi tetapi suatu hipertropi epitel
yang dikelilingi mucus plaques; selain itu, bentuk dendriform lebih kecil.
Keratitis epitelial dapat berkembang menjadi ulkus metaherpetik, dalam hal ini
terjadi perobekan membrana basalis. Ulkus metaherpetik bersifat steril, deepitelisasi
meluas sampai stroma. Ulkus ini berbentuk bulat atau lonjong dengan ukuran
beberapa milimeter dan bersifat tunggal. Pada kasus ini dapat dijumpai adanya edema
stroma yang berat disertai lipatan membrana descemet. Reaksi iritasi konjungtiva
bersifat ringan akibat adanya hipestesia. Reflek lakrimasi berkurang, sehingga
produksi tear film menjadi relatif tidak cukup. Ulkus metaherpetik dapat menetap
dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan. Untuk penyembuhannya memerlukan
waktu sekurang-kurangnya 6 minggu.
Klasifikasi Diagnosis:
Hogan dkk. (1964) membuat klasifikasi diagnosis keratitis herpes simpleks
sebagai berikut:
1. Superfisial, dibedakan atas bentuk dendritika, dendritika dan stroma, geografika.
2. Profunda, dibedakan atas stroma dan disciform, stroma dan penyembuhan, stroma
dan ulserasi.
3. Uveitis, dibedakan atas kerato uveitis dan uveitis; dalam hal ini keratouveitis
dibedakan atas bentuk ulserasi dan non ulserasi.
Klasifikasi tersebut ternyata kurang sempurna, karena bentuk keratitis pungtata
yang merupakan awal keratitis dendnitik tidak dimasukkan. Selain itu, pada beberapa
kasus yang berat ternyata dijumpai glaukoma sekunder yang diakibatkan oleh radang
jaringan trabekulum.
Untuk membuat diagnosis, sekarang ini dianut kiasifikasi yang dibuat oleh
Pavan-Langston (1983) sebagai berikut:
1. Ulserasi epitelial, dibedakan atas bentuk pungtata, dendritika, dendrogeografika,
geografika.
2. Ulserasi trophik atau meta herpetika.
3. Stroma, dibedakan atas bentuk keratitis disciform, keratitis interstitialis.
4. Uveitis anterior dan trabekulitis.

Klasifikasi menurut Pavan-Langston inipun belum sempurna, mengingat


sangat jarang ditemukan kasus uveitis anterior maupun trabekulitis yang berdiri
sendiri tanpa melibatkan adanya keratitis.

d. Keratokonjungtivitis Sika

Gambar 10. Keratokonjungtivitis sika


Keratokonjungtivitis sika adalah suatu keadaan keringnya permukaan kornea
dan konjungtiva. Kelainan ini terjadi pada penyakit yang mengakibatkan :
1. Defisiensi komponen lemak air mata. Misalnya: blefaritis menahun, distikiasis dan
akibat pembedahan kelopak mata.
2. Defisiensi kelenjar air mata: sindrom Sjogren, sindrom Riley Day, alakrimia
congenital, aplasi congenital saraf trigeminus, sarkoidosis limfoma kelenjar air mata,
obat-obat diuretik kimia, atropin dan usia tua.
3. Defisiensi komponen musin: benign ocular pemphigoid, defisiensi vitamin A, trauma
kimia, sindrom Stevens Johnson, penyakit-penyakit yang mengakibatkan cacatnya
konjungtiva.
4. Akibat penguapan yang berlebihan seperti pada keratitis neroparalitik, hidup di gurun
pasir, keratitis lagoftalmus.
5. Karena parut pada kornea atau menghilangnya mikrovili kornea.
Pada keratokonjungtivitis sika terdapat rasa gatal pada mata. Pada mata
didapatkan sekresi mukus yang berlebihan. Sukar menggerakkan kelopak mata. Mata
kering karena dengan erosi kornea.
Pada pemeriksaan lama celah didapatkan miniskus air mata pada tepi kelopak
mata bawah hilang, edema konjungtiva bulbi, filamen (benang-benang) melekat di
kornea.1
2.6. Penatalaksanaan
2.6.2 Keratitis Superfisial nonulseratif
a. Keratitis Pungtata Superfisial dari Fuchs
Pengobatan yang dapat diberikan pada keratitis pungtata superfisial dari Fuchs
adalah pengobatan lokal, yaitu salep antibiotik atau sulfa untuk mencegah terjadinya
infeksi sekunder, dan dapat dikombinasi dengan kortikosteroid.1

b. Keratitis Numularis atau Keratitis Dimmer


Tidak ada pengobatan yang spesifik terhadap penyakit ini. Obat-obatan hanya
diberikan untuk mencegah infeksi sekunder. Untuk terapi lokal diberikan sulfas
atropine 1% 3 kali sehari satu tetes, disertai salep antibiotika yang dapat dikombinasi
dengan kortikosteroid dengan pengelolaan yang seksama. Mata ditutup dengan
perban.1

c. Keratitis Disiformis dari Westhoff


Untuk keratitis Disiformis dari Westhoff dapat diberikan salep mata antibiotik
yang dapat dikombinasikan dengan kortikosteroid. Pada keratitis ini, biasanya
perjalanan penyakit lama hingga berbulan-bulan.3

d. Keratokonjungtivitis Epidemika
Pengobatan pada keadaan akut sebaiknya diberikan kompres dingin dan
pengobatan penunjang lainnya. Lebih baik diobati secara konservatif. Bila terjadi
kekeruhan pada kornea yang menyebabkan penurunan visus yang berat dapat
diberikan steroid tetes mata 3 kali sehari.2 Antibiotik sebaiknya diberikan apabila
terdapat superinfeksi bakteri.
2.6.2. Keratitis Superfisial Ulseratif
a. Keratitis Pungtata Superfisial Ulserativa
Salep antibiotika atau sulfa yang sesuai dengan kumannya yang didapatkan
atau memakai obat antibiotika yang berspektrum luas.

b. Keratokonjungtivitis Flikten
Pengobatan keratokonjungtivitis flikten adalah dengan memberi steroid lokal
maupun sistemik. Flikten kornea dapat menghilang tanpa bekas namun apabila telah
terjadi ulkus akibat infeksi sekunder dapat terjadi parut kornea. Dalam keadaan yang
berat dapat terjadi perforasi kornea.

c. Keratitis Herpetika
Pengobatan kadang-kadang tidak diperlukan karena dapat sembuh spontan
atau dapat sembuh dengan melakukan debridement. Dapat juga dengan memberikan
obat antivirus topikal dan antibiotika topikal. Antivirus seperti IDU 0.1% diberikan
setiap 1 jam atau asiklovir.
Sebagian besar para pakar menganjurkan melakukan debridement sebelumnya.
Debridement epitel kornea selain berperan untuk pengambilan spesimen diagnostik,
juga untuk menghilangkan sawar epitelial sehingga antiviral lebih mudah menembus.
Dalam hal ini juga untuk mengurangi subepithelial "ghost" opacity yang sering
mengikuti keratitis dendritik. Diharapkan debridement juga mampu mengurangi
kandungan virus epithelial sehingga reaksi radang akan cepat berkurang.

d. Keratokonjungtivitis Sika
Pengobatan harus langsung bertujuan untuk mempertahankan lapisan air mata
dengan menggantinya dengan air mata buatan. Pada keratokonjungtivitis yang
berhubungan dengan Sjogren sindrom pemberian kortikosteroid dosis rendah dan
topikal siklosporin menunjukkan keefektifan.

2.7. Prognosis
Prognosis pada setiap kasus tergantung pada beberapa faktor, termasuk luas
dan dalamnya lapisan kornea yang terlibat, ada atau tidaknya perluasan ke jaringan
orbita lain, status kesehatan pasien (contohnya immunocompromised), virulensi
patogen,ada atau tidaknya vaskularisasi dan deposit kolagen pada jaringan tersebut,
waktu penegakkan diagnosis klinis yang dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan
penunjang seperti kultur pathogen di laboratorium. Pasien dengan infeksi ringan dan
diagnosis mikrobiologi yang lebih awal memiliki prognosis yang baik; bagaimana
pun, kontrol dan eradikasi infeksi yang meluas didalam sklera atau struktur
intraokular sangat sulit. Diagnosis awal dan terapi tepat dapat membantu mengurangi
kejadian hilangnya penglihatan. Imunitas tubuh merupakan hal yang penting dalam
kasus ini karena diketahui reaksi imunologik tubuh pasien sendiri yang memberikan
respon terhadap virus ataupun bakteri. Pada keratitis superfisialis pungtata
penyembuhan biasanya berlangsung baik meskipun tanpa pengobatan

BAB III
ANALISIS KASUS

Diagnosa keratitis nummular ditegakan berdasarkan anamnesa,


pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada pasien diagnosa lebih
didukung dari anemnesa, pemeriksaan slit lamp. Pada anamnesis, pada awal pasien
pertama kali terkena serangan (kurang lebih 1 bulan yang lalu) terdapat gambaran
khas keratitis seperti mata merah, visus turun, rasa mengganjal, pandangan buram
dan penglihatan berkabut. Namun seiring berjalannya waktu gambaran klinis
tersebut hilang karena penyakit sudah memasuki stadium resolusi, dan diduga juga
etiologi dari penyakit pasien adalah virus maka penyakit bisa sembuh sendiri (self-
limiting disease).
Yang menjadi dasar penegakan diagnosis keratitis adalah pemeriksaan slit
yang didapatkan kornea sedikit keruh. Dan ditambah, terlihat adanya bintik-bintik
bulat pada kornea, yang dimana itu adalah gambaran khas pada keratitis numularis.
Menurut literature, keratitis numularis disebabkan oleh virus herpes zoster. Oleh
karena itu, sesuai etiologinya tatalaksana pada kasus ini adalah Famciclovir 3x500
mg atau Acyclovir 5x800 mg selama 7-10 hari. Dan karena sehari-hari pasien
menggunakan motor untuk transportasi pergi ke sekolah dan biasanya tidak
menggunakan helm atau kacamata maka edukasi diberikan agar pasien harus
menggunakan helm dan kacamata setiap menggunakan motor. Dan karena terjadi
peradangan di mata pasien harus menjaga kebersihan tangan dan mata dengan cara
mencuci tangan dan tidak mengucek-ngucek mata karena ditakutkan akan terjadi
infeksi berkepanjangan atau infeksi sekunder.
Prognosis pada keratitis nummular biasanya bersifat ad bonam, namun ada
bebebrapa literature yang megatakan bahwa biasanya keratitis yabg disebabkan
virus biasanya akan terjadi lagi jika system imun pejamu turun. dan akan
mengakibatkan ulkus yang lebih luas dan dalam sehingga akan menggangu
kosmetik dari mata atau yabg paling parah bisa menimbulkan jaringan parut yang
menetap.
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S, Mailangkay HHB, Taim H, Saman RR, Simarmata M, Widodo PS, editor.
Ilmu penyakit mata. 2nd ed. Jakarta: Sagung Seto; 2002. P. 113-31.
2. Biswell D.2010. Kornea. Dalam: Riordan-Eva P, Witcher JP, editor. Vaughan &
Ausbury oftalmologi Umum ed 17. Jakarta: EGC.
3. Berson FG. Basic opthalmology. 6th ed. 1993. San Fransisco: American Academy
of Ophtalmology;.
4. Ilyas S. Ilmu penyakit mata. 2007. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
5. Hollwich F. Oftalmologi: Cedera Mata. Jakarta; Binarupa Aksara.
6. Kanski JJ, Bowling B. Clinical ophtalmology: a systemic approach. 7th ed. 2011.
Amsterdam: Elsevier Saunders;.
7. American Academy of Ophthalmology, 2011. Fundamentals and Principles of
Ophthalmology. San Fransisco: Basic and Clinical Science Course.
8. Susetio B. Penatalaksanaan infeksi jamur pada mata dalam Cermin dunia
kedokteran. 1993. Jakarta: Binarupa Aksara.
9. Holland, Edward J., and Gary S. Schwartz. "Classification of herpes simplex virus
keratitis." Cornea 18.2 2010: 144-154.
10. Kaye, Stephen, and Anshoo Choudhary. "Herpes simplex keratitis." Progress in
retinal and eye research 25.4 2006: 355-380.
11. Whitcher JP, Riordan-Eva P. Vaughan and Asbury ‘s general ophthalmology.2007.
17th ed. New York: McGraw-Hill.