Anda di halaman 1dari 20

Nama :

1. Djody Virgiawan Ramadhan (03411740000016)

2. Elizia da Costa Alves (03411740007005)

3. Raztra Athalla Ghiffari (03411740000047)

4. Norberto Soares Celestino (03411740007005)

Geostatistika C

Perhitungan Cadangan dan Geostastistik


Kemajuan dalam teknologi perangkat keras dan lunak komputer saat ini menjadikan
media digital sebagai media pilihan untuk penggambaran, pemetaan dan perhitungan cadangan.
Bila gambar dan peta tersimpan dan tersajikan secara digital menggunakan paket-paket program
terapan kelompok CAD ataupun GIS. maka hitungan panjang, luas dan volume dari satu gambar
ataupun peta bisa diperoleh dengan mudah menggunakan program-program yang disediakan.
Gambar yang dihitung luasnya bisa berupa gambar potongan, gambar kawasan yang dibatasi
oleh garis kontur. Tahapan perhitungan cadangan dalam analisis geostatistik secara umum
meliputi; pengamatan data lapangan, variografi, dan perhitungan variansi perkiraan dan variansi
krigging.

Geostatistik adalah ilmu yang mempelajaria aplikasi dan teori mengenai variabel
terregional (variabel berubah) pada berbagai fenomena gejala alam, terutama untuk menentukan
volume bahan galian. Landasan dari pembelajaran geostatistik adalah "The Theory of
Regionaliset variables" dimana data dari titik-titik sample mempunyai korelasi satu sama lain
sesuai dengan karakteristik penyebarab endapan mineral

Perhitungan Cadangan Dengan Geostatistik : Perhitungan Luas

Perhitungan Luas Cara Analitis

Bentuk Dasar Beraturan

1. Persegi empat; Bila panjang persegi empat P dan lebar L, maka luasnya LPE= P x L

2. Segitiga :

 Bila panjang satu sisi b dan tinggi segitiga pada sisi itu = h, maka luas segitiga LST = 1/2
bh.

 Bila sudut a diketahui dan sisi pengapitnya b dan c diketahui, maka luas segitiga LST =
1/2 bc sin a.
 Bila ketiga sisi segitiga masing-masing a, b, dan c diketahui, maka luas segitiga LST =
(s(s - a)(s-b)(s-c))¹/² dengan s = 1/2 (a+b+c).

3. Trapesium ; Bila kedua sisi sejajar trapesium b₁ dan b₂ serta tingginya h diketahui, maka luas
trapesium LTRP = 1/2(b₁ + b₂)h

Hasil bentukan dari bentuk dasar beraturan


1. Bentuk turunan trapesium :

 Cara offset dengan interval tidak tetap : A = 1/2(S₁ y₁ +S₂ y₂ + S₃y₃ + .... + Sn yn ) dengan
S₁ = d₁, S₂ = d₁ + d₂, S₃ = d₂ + d₃, S₄ = d₃ + d₄ dan S₅ = d₄

Gambar : Hitungan luas cara offset dengan interval tidak tetap

 Cara offset dengan interval tetap : A = d {(y₁ + y₂)/² + y₂ + y₃ + ... + yn-₁} dengan d
adalah interval yang sama. pada gambar diatas, d₁ = d₂ = d₃ = d₄ = d. cara offset A = l (h₁
+ h₂ + h₃ + ... + hn) = i S hi. dengan i = 1 ... n

Gambar. Hitungan luas cara offset pus

2. Bentuk turunan trapesium dan "parabola". Trapesium dan parabola sebagai bentuk
pendekatan bentuk yang dibatasi oleh lengkungan polynomial.

 Cara simpson 1/3. dua bagian dianggap satu set A = //3 ( y₀ + 4y₁ + y₂)
Gambar. Hitungan luas cara simpson 1/3

 Cara simpson 1/3 untuk offset ganda berulang A = //3 {y₀ + yn + 4(y₂ + y₄ + ... + yn-₁) +
2 (y₃ + y₅ + ... + yn-₂)}

3. Bentuk segi banyak cara koordinat

 Bila koordinat (X,Y) suatu segi banyak diketahui, maka luasnya adalah A = 1/2 S X (Y₊₁
- Y𝘪-₁) atau A = 1/2 S Y₁(Xı-₁ - Xi-₁)

Gambar. Hitungan luas cara koordinat

4. Bentuk tanah asli beraturan

Luas dihitung menggunakan rumus "typical" pada bentuk yang beraturan tersebut.

Contoh : Luas galian pada potongan yang ditunjukan pada gambar berikut adalah A = h(W +
r₁h)
Gambar. Luas galian pada bentuk tanah asli beraturan

5. Bentuk tanah asli tidak beraturan

Hitungan luas berdasarkan potongan lintang pada bentuk tanah asli tidak beraturan
menggunakan cara koordinat. Koordinat perpotongan typical cross section dengan tanah asli
harus dihitung.

Perhitungan Luas Cara Grafis

1. Cara kisi-kisi : bagian yang akan ditentukan luasnya "dirajah" dengan menempatkan kisi-
kisi transparan dengan ukuran tertentu di atasnya. Luas = jumlah kelipatan kisi-kisi satuan.

Gambar. Hitungan luas cara kisi-kisi

2. Cara lajur : bagian yang akan ditentukan luasnya " dirajah" dengan menempatkan lajur-lajur
transparan dengan ukuran tertentu diatasnya. Luas setiap lajur = dl, bila d adalah lebar lajur dan l
panjang lajur.
Gambar. Hitungan luas cara grafis lajur

Perhitungan Luas Cara Mekanis - Grafis

Luas gambar diukur dengan menelusuri batas tepinya menggunakan pelacak pada alat
planimeter. Luas kawasan yang diukur diperoleh dengan mengalikan bacaan manual luas
planimeter dikalikan dengan skala gambar pada planimeter digital. bacaan luas planimeter secara
digital direkam dan disajikan langsung oleh alat.

Perhitungan Cadangan : Volume

1. Cara Potongan melintang rata-rata : Bila A₁ dan A₂ merupakan luas dua buah penampang yang
berjaraj L, maka volume yang dibatasi oleh kedua penampang ini V = 1/2 (A₁ + A₂) L

Gambar. Volume cara potongan melintang rata-rata


2. Cara jarak rata-rata dari penampang : V = 1/2(L₁ + L₂) A₀

Gambar. Volume cara jarak rata-rata

3. Cara Prisma dan Piramida Kotak

 Cara prisma : V =h /6(A₁ + 4 Am + A₂)

Gambar. Volume cara prisma

 Cara piramida kotak V = h/3{A₁ +(A₁A₂)¹/² +A₂}


Gambar. Volume cara piramida kotak

4. Cara ketinggian sama

 Cara dasar ketinggian sama areal bujur sangkar, V = A/4(h₁ + 2 S h₂ + 3 S h₃ + 4 S


h₄) h₁ = ketinggian titik-titik yang digunakan i kali dalam hitungan volume.

Gambar. Volume cara dasar sama - bujur sangkar

 Contoh lihat XYZ. Titik-titik berurutan dari pojok kiri atas ke kanan terus ke bawah
masing-masing digunakan dalam hitungan bujur sangkar : 1, 2, 2, 2, 1; 2, 4, 4, 3, 1 dan 1,
2, 2, 1 kali. contoh hitungan (Volume tinggi sama basis bujur sangkar).

 Cara dasar ketinggian sama areal segitiga ; V = A/3(h₁ + 2S h₂ + 3S h₃ + 4S h₄ + 5S h₅ +


6S h₆ + 7S h₇ + 8S h₈) h₁= ketinggian titik-titik yang digunakan i kali dalam hitungan
volume. Pelaksanaan hitungan menggunakan cara sama dengan cara bujur sangkar.
Gambar. Volume cara dasar sama - segitiga

5. Cara garis kontur

Gambar. Volume cara kontur

⥤ Cara garis kontur dengan rumus prisma

V = h/3{A₀ + An + 4SA₂𝑟+₁ + 2SA₂𝑟 }

𝑟 pada 2𝑟+1 berselang 0 ⇐ 𝑟 ⇐ 1/2 (n-2)

𝑟 pada 2𝑟 berselang 0 ⇐ 𝑟 ⇐1/2 (n-2)

Untuk n =2 diperoleh 𝑟 = 0, sehingga V = h/3(A₀ + A₂ + 4A₁) = h/3(A₀ + 4A₁ + A₂)

Bila n adalah ganjil, bagian yang terakhir dihitung dengan cara piramida kotak atau cara
rerata luas penampang awal dan akhir.

⥤ Cara garis kontur rumus piramida kotak ;

V = h/3{A₀ + An 2SA𝑟 + S(A𝑟-₁ A𝑟) ¹/² }

r pada 2SAr berselang 1≤ r ≤ n - 1


r pada S (Ar - 1Ar)1/2 berselang 1≤ r ≤ n

Untuk n = 1 diperoleh V = h/3 {A₀ + A₁ + (A₀ A₁)₁/₂}

V = h/3 {A₀ + (A₀ A₁)1/2 + A₁}

Cara garis kontur dengan luas rata-rata ; V = h/2 {Ao + An + 2S Ar}

r bernilai 1 ≤ r ≤ n -1

Untuk n = 1 diperoleh V = h/2 ( A₀ + A₁)

Geostatistik (Statika Spasial)

Geostatistik merupakan cabang dari pada statistik terapan yang dibantu dengan deskripsi
matematik dan analisa (observasi) geologi. Pada dasarnya statistik dapat digunakan untuk
estimasi dan penelaahan variabel, faktor atau keadaan yang ada kaitanya dengan ilmu kebumian.

Variogram atau semivariogram merupakan alat utama dalam perhitungan melalui geostatistik,
selain itu dapat juga untuk mengukur variansi (mean squarred error) dalam estimasi nilai Z(x+h)
dengan Z(x), jika sampel pada posisi x+h nilainya sama dengan sampel pada posisi x, maka
kesalahan adalah Z(x) - Z(x+h), yang kuadrat rata-ratanya bernilai 2ɣ(h). Persamaan
Semivariogram eksperimental adalah :

Model variogram eksperimental yaitu variogram yang diperoleh dengan memasukan nilai
sampel dalam rumus variogram merupakan realisasi dari pada sifat-sifat spasial dari regionalized
variabel. Hal ini dilakukan agar variogram tersebut dapat digunakan untuk alat estimasi nilai
suatu dimensi yang lebih besar dari pada ukuran sampel sehingga perlu adanya model teoritis
yang cocok dengan realisasi sifat-sifat spasial berkaitan dengan regionalizad variabel yang
sedikit memperlihatkan keadaan statis.

Variogram yaitu representasi hubungan antar data secara spasial (ruang) pada suatu arah
tertentu. Dimana dapat dirumuskan dalam rumus umum dibawah ini :
Dimana :

𝜸(h) : Nilai variogram untuk arah tertentu dan jarak h

h : 1d, 2d, 3d, 4d, (d = jarak k antara conto)

z(x₁) : harga (data) pada titik x₁

z(x₁+h) : data pada titik yang berjarak h dari xi

N(h) : Jumlah pasangan data

Metode seperjarak (Invers Distance Method)

Metode matematik banyak diterapkan pada tahap awal evaluasi mineral deposit. Metode dan
teknik perhitungan dipengaruhi oleh kondisi geologi lokal, metode penambangan dan lain
sebagainya. Metode yang diterapkan, dalam praktek yang sebenarnya selalu sesuai dengan teori
yang diberikan. Salah satu metode perhitungan tersebut adalah metode Invers Distance.

Prinsip penaksiran metode Invers Distance adalah dilakukan teknik pembobotan titik data
yang didasarkan pada :

 Letak grid atau blok yang akan ditaksir terhadap letak data conto

 Kecenderungan Penyebaran data kualitas

 Orientasi setiap conto yang menunjukan hubungan letak ruang antar conto

Pemecahan masalah pada metode bijih ini dengan metode dengan didasari pada jarak sample
lainya pada satu blok. Umumnya pembobotan jarak dengan metode menurut sample yang
ditampilkan dengan cara penerapanya :

 Invers distance

 invers distance squared


 Invers distance cubed

➣ Rumus umum invers distance

Persamaan pembobotanya :

Faktor pembobotan :

➣ Invers distance squared

Persamaan pembobotanya
Faktor pembobotan

➣ Invers distance cubed

Persamaan pembobotanya

Faktor pembobotan
Perincianya adalah sebagai berikut :

➫ sudut perubah yang maksimum

➫Dimensi ruang sesuai dengan pola penyelidikan yaitu :

 Square

 Circle

 Rectangle

 Ellips

➫ Jika titik sample nyatanya terdapat pada tengah-tengah blok maka diperkirakan keadaan ini d
= 0, menyebabkan nilai d kecil yaitu 1m.

➫Hal yang mencirikan titik minimum dalam ruang maka diijinkan untuk melakukan interpolasi

➫Jika jumlah titik tersebut tidak cukup memadai maka penyelidikanya diperluas hingga
jumlahnya cukup memadai ruang tersebut. Contoh untuk perluasan bentuk rectangle dalam
perluasan 25% panjang dan lebar.

Pada metoda invers distance :

 Memperhitungkan adanya hubungan letak ruang (jarak)

 Merupakan kombinasi linear atau harga rata-rata tertimbang (weighting average) dari
titik-titik data yang ada disekitarnya.

 Pada titik data yang terdekat dengan titik yang ditaksir akan memberikan bobot yang
lebih besar dari pad titik data yang lebih jauh.

 Efek penghalusan (pemerataan) dilakukan dengan faktor pangkat

 Pada pangkat yang sangat besar akan menghasilkan pendekatan metode poligon.

 Pangkat semakin besar maka bobot (pengaruh) dari titik terdekat semakin besar pula.

Kelemahan

 Tidak ada hubungan antara jarak dan range a pada variogram

 Pada deposit irregular dengan range kecil akan diperlakukan sama dengan pada deposit
reguler dengan luas a.
 Jika titik referensi adalah lubang bor, kemudian faktor pembobotan tak berhingga, maka
metoda ini tidak dapat diterapkan.

 Metoda ini didasarkan pada estimasi titik dan tidak bergantung pada ukuran blok.

 Invers distance hanya memperhatikan jarak dan belum memperhatikan efek


pengelompokan data.

 Sehingga data dengan jarak yang sama namun mempunyai pola sebaran yang berbeda
masih akan memberikan hasil yang sama.

 Metoda ini belum memberikan korelasi ruang antara titik data dengan titik data yang lain.

Perhitungan Cadangan : Krigging

Krigging yaitu suatu teknik perhitungan untuk estimasi dari suatu variabel terregional
(regionalized variable) yang memakai pendekatan bahwa data yang dianalisis dianggap sebagai
suatu realisasi dari suatu variabel acak (random variable),dan keseluruhan variable acak dalam
daerah yang dianalisis tersebut akan membentuk suatu fungsi acak dengan menggunakan model
struktural variogram (Dr.Ir. Rukmana Nugraha Adhi, 1998).

Krigging adalah penaksiran geostatistik linier tak bias yang paling bagus untuk mengestimasi
kadar blok karena menghasilkan varians estimasi minimum → BLUE (Best Linier Unbiased
Estimator) (DR. Ir. Totok Darijanto, 2003). krigging diambil dari nama seorang pakar
geostatistik dari Afrika Selatan yaitu D.G Krige yang telah banyak memikirkan hal tersebut sejak
tahun 50an.

Secara sederhana krigging menghasilkan bobot sesuai dengan geometri dan sifat mineralisasi
yang dinyatakan dalam variogram. Bobot yang diperoleh dari persamaan krigging tidak ada
hubunganya secara langsung dengan kadar conto yang digunakan dalam penaksiran. Bobot ini
hanya tergantung pada konfigurasi conto disekitar blok serta model variogramnya.

Nilai estimasi (1) dan variabel estimasi krigging (2) yang ditentukan dengan metoda
geostatistik untuk suatu variabel terregional disetiap support V adalah sebagai berikut

a) Blok teratur
b) Blok tidak teratur

Gambar. Perhitungan metoda geostatistik dengan support suatu blok


Dan ai ditentukan dariperkalian matrik pada persamaan kriging (3,4,5,6) persamaan kriging (3)

Dari persamaan krigin tersebut, menjadi perkalian matrik sebagai berikut :


Perhitungan dengan metoda krigging ini kadang-kadang terlalu komplek untuk suatu
komoditi tertentu. Hal ini sangat bermanfaat jika dilakukan pada penentuan cadangan-cadangan
yang mineable dengan kadar-kadar diatas cut iff grade.

Sebagai contoh hubungan antara analisa conto dengan harga analisa blok bijih (harga
sebenarnya) yang tetpencar membentuk elips (gambar dibawah) kemudian tarik garis regresi
memalui titik 0 dan titik (Ž,ž), selanjutnya bagi elips tersebut dengan cut off grade zc = Zc = 5%
menjadi empat bagian

Gambar, Pencaran data antara conto vs kadar blok yang memperlihatkan kesalahan
penambangan

Daerah 1 Semua blok dengan kadar > cog yang sesuai dengan kadar conto > cog ditambang
Daerah 2 Semua blok dengan kadar < cog yang sesuai dengan kadar conto < cog ditambang
Daerah 3 Semua blok dengan kadar < cog yang sesuai dengan kadar conto > cog ditambang
Daerah 4 Semua blok dengan kadar > cog yang sesuai dengan kadar conto < cog ditambang

Jika garis regresi B _ B' yang menunjukan hubungan antara conto dan kadar blok diplot, maka
blok - blok dengan kadar 5% juga akan ditambang walaupun kadar conto kadar 3,5% (gambar
atas). Daerah 4 pada gambar 1 yang baik ditambang karena kesalahan informasi menjadi kecil,
sementara itu daerah 3 yang ditambang walaupun berkadar rendah menjadi lebih besar,
walaupun demikian secara keseluruhan daerah dengan blok-blok yang mempunyai kadar > cut
off grade (5%) dan ditambang menjadi lebih besar.
Berdasarkan analisis variogram, Mathero memberikan koreksiperkiraan kadar pada suatu blok
yang tidak hanya dipengaruhi oleh conto didalam blok saja, tetapi juga pada conto-conto
disekitarnya.

Gambar. Perubahan bentuk elips pencaran data akibet koreksi dengan metoda kriging

Memalui koreksi ini bentuk elips akan lebih kurus/sempit dengan batas-batasnya mendeteksi
garis regresi yang membentuk sudut 45⁰. Jumlah conto dan pasangan bloknya pada daerah 3dan
daerah 4 yang menyatakan kadar rendah ditambang atau kadar tinggi tidak ditambang akan
berkurang.

Metoda Perhitungan Cadangan Batubara


Metoda penampang (cross-section) masih sering dilakukan pada tahap awal. Penaksiran
secara manualini dipakai sebagai pembanding untuk mengecek hasil sebagai penaksiran
menggunakan komputer. Rumus yang dapat digunakan dalam perhitungan luas rata-rata (mean
area) dipakai untuk endapan yang mempunyai penampang yang uniform.

Rumus Mean area


V = L (S₁+S₂)
2
Dimana
S₁ : Luas penampang 1
S₂ : Luas penampang 2
L : Jarak antar penampang
V : Volume cadangan

Rumus Prismoidal

V = (S₁ +4M +S₂ )

6
Dimana
S₁ S₂ : Luas penampang 1&2
M : Luas penampang tengah
L : Jarak antar penampang S₁ dan S₂
V : Volume cadangan

Referensi :

1. Badan Standardisasi Nasional, 1998, Standar Klasifikasi Sumber Daya Mineral dan
Cadangan, SNI No. 13-4726-1998.

2. Badan Standardisasi Nasional, 1998, Standar Klasifikasi Sumber Daya dan Cadangan
Batubara, SNI No. 13-5014-1998.

3. Evans, A.M., Editor, 1995, Introduction to Mineral Exploration, Blackwell Science, Ltd.
4. Machali Muchsin, A., 1999, Klasifikasi Sumber Daya Mineral dan Cadangan. Naskah/
bahan kuliah disampaikan dalam Kursus Pembinaan dan Pengawasan Eksplorasi,
diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Tenaga Pertambangan (PPTP) Tanggal 26
Agustus sampai dengan 24 September 1999.

5. McKinstry, H.E., 1962, Mining Geology, Prentice Hall Inc., Modern Asia Edition.

6. Peters, W.C., 1978, Exploration and Mining Geology, John Wiley & Sons, New York.

7. Reedman, J.H., 1979, Techniques in Mineral Exploration, Applied Science Publisher,


London.

8. The Resources and Reserves Committee, 1999, Guide for Reporting Exploration
Information, Resources and Reserves, (Submitted to The Board of Directors of The Society
of Mining, Metallurgy and Exploration Inc.), 17 pp.

9. Dr. Ir. Totok Darijanto, “Diktat Kuliah Geostatistik”, Jurusan Teknik Pertambangan, ITB,
1999.

10. Dr. Ir. Totok Darijanto, Modul Diklat, “Penaksiran Sumberdaya Mineral”, 2003

11. Dr. Ir. Rukmana Nugraha Adhi, “Geostatistik”, Kursus Eksplorasi Batubara bagi Sarjana
Baru dan Mahasiswa Tingkat Akhir Jurusan Geologi dan Pertambangan, 1998

12. Anik Hilyah, “Makalah Perhitungan Cadangan dengan Invers Distance Method”, Bidang
Khusus Eksplorasi Sumber Daya Bumi, ITB, 2004

13. https://www.infogeosains.com/2018/07/metode-perhitungan-cadangan-dan-sumberdaya-
mineral.html