Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN TEKNIK PRNGUKURAN

PRAKTIKUM R L C SERI

DISUSUN OLEH

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

PROGRAM STUDI SISTEM KELISTRIKAN

POLITEKNIK NEGERI MALANG

2017
1.1 TUJUAN PERCOBAAN
 Mengukur besar tegangan AC dengan menggunakan beban resistor , induktor ,
dan kapasitor.
 Menentukan nilai impedansi ( Z) komponen R L C dalam hubungan seri
 Mengetahui bentuk gelombang pada masing-masing tegangan
 Mengetahui pengaruh antara tegangan terhadap beban resistor , induktor , dan
kapasitor

 Mengetahui beda fasa tegangan


 Menganilis rangkaian RLC ditinjau dari arus, tegangan maupun sudut fasanya.

1.2 DASAR TEORI


Besar tegangan pada rangkaian seri berbeda namun besarnya arus pada rangkaian
seri besarnya sama. Besarnya tegangan pada suatu rangkaian dipengaruhi oleh arus
dan impedansi ( R L C) . Namun walaupun tegangan pada tiap tiap komponen berbeda
sigma tegangan sama dengan 0. Hal ini sesuai dengan hukum kirchoff 2 ΣE = 0.
Resistor merupakan salah satu komponen yang mempengaruhi besarnya tegangan .
semakin besar resistor maka arus semakin kecil dan tegangan juga mengecil nilainya
sesuai dengan hukum ohm yaitu V = IxR . Resistor dapat menimbulkan rugi arus berupa
panas yang mempengaruhi drop tegangan. Resistor tidak memiliki cos phi.
Induktor memiliki satuan Hendry (H) , induktor terdiri dari kumparan atau belitan
pada inti besi. Induktor bersifat induktif dan menghasilkan tegangan reaktif karena
terdapat cos phi. Pada induktor juga terjadi ggl hasil dari induktansi diri sehingga terjadi
perubahan sifat bahwa tegangan mendahului arus sebesar 90⁰ . Untuk dapat
menghitung reaktansi induktor dapat menggunakan rumus XL = Ѡ . L dengan
keterangan Ѡ = 2πf . Sehingga didapatkan nilai reaktansi induktor dalam satuan ohm.

Kapasitor memiliki satuan farad. Kapasitor pada tegangan AC bersifat arus


mendahului tegangan sebesar 90⁰, dan untuk menghitung reaktansi kapasitor dapat
menggunakan rumus Xc = 1 .
Ѡc
Sehingga secara umum untuk menghitung besarnya nilai impedansi total dapat
menggunakan rumus Z = √ R 2+( XC −XL)2 atau Z= √ R 2+( XL− XC )2 jika nilai XL
lebih besar dari XC . jika nilai XL lebih besar dari XC maka impedansi tersebut lebih
bersifat induktif , begitu juga sebaliknya jika XC lebih besar dari XL maka impedansi dari
suatu rangkaian lebih bersifat kapasitif.

Sementara beda fasa pada gelombang dapat diukur dengan osiloscope juga
menggunakan metode simultan dan lisoulus. Metode simultan dapat dihitung denagn
mengamati perbedaan fase pada gelombang yang terlihat pada layar osiloscope dengan
rumus θ = beda fasa (x) . 360⁰
Periode ( y)
Sementara metode lisoulus dapat dihitung dengan terlebih dahulu mengubah pengaturan
pada osiloscope menjadi bentuk gambar x dan y kemudian dihitung dengan rumus θ = sin A
B

1.3 Peralatan yang digunakan


 Osiloscope 1 buah
 Trafo 220V/ 6V 1 buah
 Resistor 820Ω dan 1200Ω 2 buah
 Induktor 1H( ballast) 1 buah
 Capacitor dekade 3µF dan 4µF 1 buah
 Probe 2 buah
 Kabel secukupnya

1.4 Rangkaian percobaan

1.5 Langkah percobaan


 Membuat konsep sebelum melakukan percobaan dengan ketentuan memilih
komponen R dan C agar sudutnya lebih dari 15⁰ , memilih R sesuai interval 12 ,
daya pada komponen tidak boleh melebihi 0,5 watt untuk yang menggunakan
kode warna dan tidak boleh lebih dari 5 watt untuk yang keramik.
 Siapkan peralatan dan cek kembali keadaan alat tersebut apakah sudah baik atau
belum.
 Hidupkan osiloskop dengan menghubungkan kabel suplai pada panel tegangan
220 VAC.
 Hubungkan kabel probe 1 ke chanel 1 (CH1) dan kabel probe 2 ke chanel 2 (CH2)
pada osiloskop dual trace.
 Kalibrasi terlebih dahulu chanel 1 dan chanel 2 osiloskop tersebut
 Susun rangkaian seperti gambar di bawah ini untuk dapat menghitung besar
tegangan sumber

Kemudian amati dan ukur tegangan yang terdapat pada layar osiloscope
 Setelah mengukur tegangan sumber pada rangkaian ukurlah tegangan pada R
( VR) seperti pada rangkaian ini

 Kemudian hitung juga tegangan pada induktor dan kapasitor seperti gambar
rangkaian di bawah ini

Rangkaian untuk mengukur VC

Rangkaian untuk mengukur VL


 Setelah mengetahui VS , VL , VR dan VC maka dapat menghitung arus dengan
rumus I = VS
Z
Setelah mengetahui nilai dari VS , VL, VC dan VR ,maka kita dapat menghitung
arus juga dengan rumus seperti di atas tadi.
 Kemudian setelah mengetahui tegangan , hitunglah beda fasa pada tegangan
yang tertera pada layar osiloscope , dengan metode simultan.
 Catat hasil setiap percobaan dan kembalikan alat alat .

1.6 DATA PERCOBAAN


TABEL BERDASARKAN PERHITUNGAN ( TEORI)

BEBAN Vs (V) VR (V) VL(V) Vc (V) Θ (⁰) I ( mA) Z (Ω)


R1 = 820 Ω
L1= 1 H
C1 = 3 µ F
R2 = 1200Ω
L2= 1 H
C2 = 4 µ F

TABEL BERDASARKAN PENGUKURAN

BEBAN Vs (V) VR (V) VL(V) Vc (V) Θ (⁰) I ( mA) Z (Ω)


R1 = 820 Ω
L1= 1 H
C1 = 3 µ F
R2 = 1200Ω
L2= 1 H
C2 = 4 µ F

1.7 ANALISA dan KESIMPULAN PERCOBAAN


Pertanyaan

1. Bandingkan hasil perhitungan dengan hasil pengukuran yang meliputi tegangan


masing-masing komponen R, L, C, sudut fasa  dan arus I, berikan komentarnya.
2. Gambar bentuk gelombang perbedaan fasa antara arus dan tegangan yang tampak
pada layar oscillocope.
3. Adakah pengaruhnya perubahan nilai kapasitansi kapasitor pada sudut fasa  ,
uraikan penjelasannya.
4. Buatlah vektor diagram tegangan dan arus dari hasil pengukuran dengan skala yang
benar.
5. Buatlah analisis dan kesimpulan dari hasil percobaan.

Anda mungkin juga menyukai