Anda di halaman 1dari 4

I.

SIGNALEMEN

No slide : Spesies : Anjing Lokal


Tanggal diterima : Jenis kelamin : Jantan
Pengirim : Koming Nama hewan : Jebe
Alamat : Gatot Subroto BB/Umur : 5kg/5bulan
Pemilik : Febri Pemeriksa : Eka Mahardhika R, S.KH
Alamat : Gatot Subroto Veterinarian : Dr. drh.IBK Ardana, M.Kes

II. ANAMNESA
Spesimen darah berasal dari anjing lokal bernama Jebe berumur 5 bulan dan berat 5
Kg. Menurut pemilik anjing ini menunjukkan gejala sakit 1 minggu dan belum mendapatkan
pengobatan dari dokter hewan. Anjing ini juga sebelumnya belum pernah divaksinasi.
Keadaan umum dan gejala klinis yang teramati antara lain: lemas, lesu, kurus, bulu kusam
dan leleran mata.

III. HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Hematologi Hasil Nilai Normal Keterangan

Hemoglobin 7,7 gr/dl 12 – 18 gr/dl Anemia

Total Eritrosit 3,11 x 106/µl 5,5 – 8,5 x 106/µl Anemia

Total Leukosit 6,4 x 103/µl 6 – 17 x 103/µl Normal

PCV 19,2 % 37 – 55 % Anemia

MCV 62 fl 60 – 77 fl Normal

MCH 24,8 pg 19,5 – 24,8 pg Normal

MCHC 40,1 % 32 – 36 % Meningkat

Neutrofil 85,1 % 60 – 70 % Neutrofilia

Limfosit 11,6 % 12 – 30 % Normal

Monosit 3,3 % 3 – 10 % Normal

Eosinofil 2% 2 – 10 % Normal

Basofil - Jarang -

IV. INTERPRETASI
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel darah dapat diketahui
bahwa anjing mengalami anemia normositik hiperkromik dan neutrofilia. Penyebab
terjadinya anemia terbagi atas tiga, yaitu hemoragi, hemolitik, dan aplastic atau hypoplastik.
Menurut morfologinya anemia dapat digolongkan menjadi tiga yaitu: makrositik, normositik
dan mikrositik, sedangkan berdasakan etiologinya anemia dapat dibedakan menjadi dua yitu:
anemia regeneratif yang disebabkan oleh kehilangan darah berlebihan atau karena destruksi
darah dan anemia non-regeneratif yang timbul akibatbeberapa sebab seperti nutrisi, penyakit
ginjal kronis, infeksi atau depresi sum-sum tulang. Pathogenesis beberapa jenis anemia
terkadang lebih dari satu atau beberapa jenis anemia menunjukkan bermacam-macam
morfologi. Pada kasus ini anemia kemungkinan terjadi akibat masalah nutrisi, yaitu
rendahnya penyerapan zat-zat makanan karena hewan tidak mau makan.

Anjing juga mengalami neutrofilia. Biasanya disebabkan karena infeksi bakteri,


keracunan bahan kimia dan logam berat, gangguan metabolic seperti uremia, nekrosa
jaringan, kehilangan darah dan kelainan mieloploriferatif. Dalam kasus ini neutrofilia
kemungkinan terjadi akibat infeksi bakteri yang akut.
I. SIGNALEMEN

No slide : Spesies : Anjing


Tanggal diterima : 17 Maret 2012 Jenis kelamin : Jantan
Pengirim : I Gd Hendi S. Nama hewan : Brondy
Alamat : Br. Titih, Kapal BB/Umur : 4kg/6bulan
Pemilik : Putu Suardika Pemeriksa : I Gede Hendi Saputra, S.KH
Alamat : Br. Uma, Kapal Veterinarian : Drh. Siswanto, M.Kes

II. ANAMNESA
Spesimen darah berasal dari anjing berumur 6 bulan dan berat 4 Kg, milik Putu
Suardika dengan alamat Br. Uma, Kapal. Menurut pemilik anjing ini belum pernah di
vaksinasi serta belum pernah diberikan obat cacing. Pemeliharaan anjing tersebut tanpa diikat
ataupun dikandangkan. Anjing tersebut bebas berkeliaran di sekitar pekarangan rumah.
Anjing tidak mau makan dan tampak lesu.

III. HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Hematologi Hasil Nilai Normal Keterangan

Hemoglobin 9 gr/dl 12 – 18 gr/dl Anemia

Total Eritrosit 3,56 x 106/µl 5,5 – 8,5 x 106/µl Anemia

Total Leukosit 19 x 103/µl 6 – 17 x 103/µl Leukositosis

PCV 20,2 % 37 – 55 % Anemia


MCV 57,4 fl 60 – 77 fl Menurun (Mikrositik)

MCH 17,58 pg 19,5 – 24,8 pg Menurun

MCHC 29, 43 % 32 – 36 % Menurun (Hipokromik)

Neutrofil 51 % 60 – 70 % Menurun (Neutropenia)

Limfosit 42 % 12 – 30 % Meningkat (Limfositosis)

Monosit 6% 3 – 10 % Normal

Eosinofil 16 % 2 – 10 % Meningkat (Eosinofilia)

Basofil - Jarang -

IV. INTERPRETASI

Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel darah dapat diketahui


bahwa anjing mengalami anemia mikrositik hipokromik, leukositosis, neutropenia,
eosinophilia, dan limfositosis.

Anemia mikrositik hipokromik dapat disebabkan karena defisiensi Fe dalam saluran


pencernaan seperti akibat infeksi parasit cacing dan protozoa pada saluran gastrointestinal.

Leukositosis dapat terjadi secara fisiologik maupun patologik. Leukositosis fisiologik


dijumpai pada kerja fisik yang berat, gangguan emosi, kejang, takhikardi paroksimal, dan
partus. Leukositosis umumnya terjadi akibat infeksi umum misalnya: septicemia,
pasteurellosis, salmonellosis. Infeksi lokal misalnya oleh bacterium atau bakteri nanah dan
lainnya. Leukositosis juga dapat terjadi pada keracunan metabolic (uremia), diabetes mellitus,
bahan kimia maupun obat-obatan dan racun ular yang menyebabkan kenaikan leukosit.

Neutropenia secara klinis dapat terlihat pada keadaan endotoksemia, infeksi virus,
infeksi bakteri dan pemberian obat yang menyebabkan supresi sum sum tulang. Pada kasus
ini terjadi neutropenia akibat infeksi virus.

Limfositosis pada kasus ini kemungkinan disebabkan karena infeksi virus di dalam
tubuh sehingga merangsang pertahanan tubuh dengan melepas sel limfosit.

Pada kasus ini eosinophilia disebabkan karena adanya infestasi parasite cacing yang
juga dapat menyebabkan masalah pada saluran pencernaan ditandai dengan terjadinya diare
yang berisi telur cacing pada pemeriksaan feses