Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hiperplasia prostat benigna (Benign Prostatic Hyperplasia, BPH) adalah pembesaran
hipertrofi, kelenjar prostat. Kelenjar prostat membesar, meluas ke atas menuju kandung
kemih dan menghambat aliran keluar urine. Berkemih yang tidak lampias dan retensi urine
yang memicu statis urine dapat menyebabkan hidronefrosis, dan infeksi saluran kemih
(urinary tract disease, UTI). Penyebab gangguan ini tidak dipahami dengan baik, tetapi
bukti menunjukkan adanya pengaruh hormonal. BPH sering terjadi pada pria berusia lebih
dari 40 tahun.
Pembesaran kelenjar prostat mempunyai angka morbiditas yang bermakna pada
populasi pria lanjut usia. Gejalanya merupakan keluhan yang umum dalam bidang bedah
urologi. Hiperplasia prostat merupakan salah satu masalah kesehatan utama bagi pria diatas
usia 50 tahun dan berperan dalam penurunan kualitas hidup seseorang. Suatu penelitian
menyebutkan bahwa sepertiga dari pria berusia antara 50 dan 79 tahun mengalami
hiperplasia prostat. Adanya hiperplasia ini akan menyebabkan terjadinya obstruksi saluran
kemih dan untuk mengatasi obstruksi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara mulai dari
tindakan yang paling ringan yaitu secara konservatif (non operatif) sampai tindakan yang
paling berat yaitu operasi.
Dengan teknologi dan kemajuan ilmu yang semakin canggih dalam kehidupan ini
banyak membawa dampak negatif pada kehidupan masyarakat terhadap peningkatan
kualitas hidup, status kesehatan, umur dan harapan hidup. Dengan kondisi tersebut
merubah kondisi status penyakit infeksi yang dulu menjadi urutan pertama kini bergeser
pada penyakit degeneratif yang menjadi urutan pertama.
Di Indonesia pada usia lanjut, beberapa pria mengalami pembesaran prostat benigna.
Keadaan ini di alami oleh 50% pria yang berusia 60 tahun dan kurang lebih 80% pria yang
berusia 80 tahun.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana anatomi dan fisiologi dari prostat?
2. Apa yang dimaksud dengan BPH?
3. Apa penyebab dari BPH?
4. Apa saja Klasifikasi dari BPH ?

1
5. Apa saja manifestasi klinis dari BPH?
6. Bagaimana web of caution dari BPH?
7. Bagaimana mengukur besarnya hipertropi prostat?
8. Bagaimana penatalaksanaan dari BPH?
9. Apa saja komplikasi dari BPH?
10. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien BPH?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi dari prostat
2. Untuk mengetahui pengertian dari BPH
3. Untuk mengetahui penyebab dari BPH
4. Untuk mengetahui klasifikasi dari BPH
5. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari BPH
6. Untuk mengetahui web of caution dari BPH
7. Untuk mengetahui cara pengukuran besarnya hipertropi prostat
8. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari BPH
9. Untuk mengetahui komplikasi dari BPH
10. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien BPH

2
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Anatomi dan Fisiologi Prostat


2.1.1. Anatomi
Menurut Wibowo dan Paryana (2009). Kelenjar prostat terletak dibawah
kandung kemih, mengelilingi uretra posterior dan disebelah proksimalnya
berhubungan dengan buli-buli, sedangkan bagian distalnya kelenjar prostat ini
menempel pada diafragma urogenital yang sering disebut sebagai otot dasar panggul.
Gambar letak prostat terlihat di gambar 1.1

Prostat terdiri atas kelenjar majemuk, saluran-saluran, dan otot polos. Prostat
dibentuk oleh jaringan kelenjar dan jaringan fibromuskular. Prostat dibungkus oleh
capsula fibrosa dan bagian lebih luar oleh fascia prostatica yang tebal. Diantara
fascia prostatica dan capsula fibrosa terdapat bagian yang berisi anyaman vena yang
disebut plexus prostaticus. Fascia prostatica berasal dari fascia pelvic yang
melanjutkan diri ke fascia superior diaphragmatic urogenital, dan melekat pada os
pubis dengan diperkuat oleh ligamentum puboprostaticum. Bagian posterior fascia
prostatica membentuk lapisan lebar dan tebal yang disebut fascia Denonvilliers.
Fascia ini sudah dilepas dari fascia rectalis dibelakangnya. Hal ini penting bagi
tindakan operasi prostat. (Purnomo, 2011)
Kelenjar prostat merupakan suatu kelenjar yang terdiri dari 3050 kelenjar yang
terbagi atas empat lobus, lobus posterior, lobus lateral, lobus anterior, dan lobus
medial. Lobus posterior yang terletak di belakang uretra dan dibawah duktus

3
ejakulatorius, lobus lateral yang terletak dikanan uretra, lobus anterior atau isthmus
yang terletak di depan uretra dan menghubungkan lobus dekstra dan lobus sinistra,
bagian ini tidak mengandung kelenjar dan hanya berisi otot polos, selanjutnya lobus
medial yang terletak diantara uretra dan duktus ejakulatorius, banyak mengandung
kelenjar dan merupakan bagian yang menyebabkan terbentuknya uvula vesicae yang
menonjol kedalam vesica urinaria bila lobus medial ini membesar. Sebagai
akibatnya dapat terjadi bendungan aliran urin pada waktu berkemih (Wibowo dan
Paryana, 2009).
Kelenjar ini pada laki-laki dewasa kurang lebih sebesar buah walnut atau buah
kenari besar. Ukuran, panjangnya sekitar 4 - 6 cm, lebar 3 - 4 cm, dan tebalnya
kurang lebih 2 - 3 cm dengan berat sekitar 20 gram. Bagian- bagian prostat terdiri
dari 50 – 70 % jaringan kelenjar, 30 – 50 % adalah jaringan stroma (penyangga) dan
kapsul/muskuler. Bagian prostat terlihat di gambar 2.2.

Prostat merupakan inervasi otonomik simpatik dan parasimpatik dari pleksus


prostatikus atau pleksus pelvikus yang menerima masukan serabut parasimpatik dari
korda spinalis dan simpatik dari nervus hipogastrikus. Rangsangan parasimpatik
meningkatkan sekresi kelenjar pada epitel prostat, sedangkan rangsangan simpatik
menyebabkan pengeluaran cairan prostat kedalam uretra posterior, seperti pada saat
ejakulasi. System simpatik memberikan inervasi pada otot polos prostat, kapsula
prostat, dan leher buli-buli. Ditempat itu terdapat banyak reseptor adrenergic.

4
Rangsangan simpatik menyebabkan dipertahankan tonus otot tersebut. Pada usia
lanjut sebagian pria akan mengalami pembesaran kelenjar prostat akibat hiperplasi
jinak sehingga dapat menyumbat uretra posterior dan mengakibatkan terjadinya
obstruksi saluran kemih (Purnomo, 2011).
2.1.2. Fisiologi
Menurut Purnomo (2011) fisiologi prostat adalah suatu alat tubuh yang
tergantung kepada pengaruh endokrin. Pengetahuan mengenai sifat endokrin ini
masih belum pasti. Bagian yang peka terhadap estrogen adalah bagian tengah,
sedangkan bagian tepi peka terhadap androgen. Oleh karena itu pada orang tua
bagian tengahlah yang mengalami hiperplasi karena sekresi androgen berkurang
sehingga kadar estrogen relatif bertambah. Sel-sel kelenjar prostat dapat membentuk
enzim asam fosfatase yang paling aktif bekerja pada pH 5.
Kelenjar prostat mensekresi sedikit cairan yang berwarna putih susu dan bersifat
alkalis. Cairan ini mengandung asam sitrat, asam fosfatase, kalsium dan koagulase
serta fibrinolisis. Selama pengeluaran cairan prostat, kapsul kelenjar prostat akan
berkontraksi bersamaan dengan kontraksi vas deferen dan cairan prostat keluar
bercampur dengan semen yang lainnya. Cairan prostat merupakan 70% volume
cairan ejakulat dan berfungsi memberikan makanan spermatozon dan menjaga agar
spermatozon tidak cepat mati di dalam tubuh wanita, dimana sekret vagina sangat
asam (pH: 3,5-4). Cairan ini dialirkan melalui duktus skretorius dan bermuara di
uretra posterior untuk kemudian dikeluarkan bersama cairan semen yang lain pada
saat ejakulasi. Dengan demikian sperma dapat hidup lebih lama dan dapat
melanjutkan perjalanan menuju tuba uterina dan melakukan pembuahan, sperma
tidak dapat bergerak optimal sampai pH cairan sekitarnya meningkat 6 sampai 6,5
akibatnya mungkin bahwa cairan prostat menetralkan keasaman cairan dan lain
tersebut setelah ejakulasi dan sangat meningkatkan pergerakan dan fertilitas sperma
(Wibowo dan Paryana, 2009).

2.2 Pengertian BPH


BPH (Benigna Prostat Hyperplasi) adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat
yang dapat menyebabkan obstruksi dan ristriksi pada jalan urine (urethra). Hiperplasia
prostat benigna (Benign Prostatic Hyperplasia, BPH) adalah pembesaran hipertrofi,
kelenjar prostat. Kelenjar prostat membesar, meluas ke atas menuju kandung kemih dan
menghambat aliran keluar urine. Berkemih yang tidak lampias dan retensi urine yang

5
memicu statis urine dapat menyebabkan hidronefrosis, dan infeksi saluran kemih (urinary
tract disease, UTI). Penyebab gangguan ini tidak dipahami dengan baik, tetapi bukti
menunjukkan adanya pengaruh hormonal. BPH sering terjadi pada pria berusia lebih dari
40 tahun.

2.3 Etiologi BPH


Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti etiologi/penyebab terjadinya BPH,
namun beberapa hipotesis menyebutkan bahwa BPH erat kaitannya dengan peningkatan
kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses menua. Terdapat perubahan mikroskopik pada
prostat telah terjadi pada pria usia 30-40 tahun. Bila perubahan mikroskopik ini
berkembang, akan terjadi perubahan patologik anatomi yang ada pada pria usia 50 tahun,
dan angka kejadiannya sekitar 50%, untuk usia 80 tahun angka kejadianya sekitar 80%, dan
usia 90 tahun sekitar 100%. (Purnomo, 2011)
Etiologi yang belum jelas maka melahirkan beberapa hipotesa yang diduga menjadi
penyebab timbulnya Benigna Prostat, teori penyebab BPH menurut Purnomo (2011)
meliputi; Teori Dehidrotestosteron (DHT), teori hormon (ketidakseimbangan antara
estrogen dan testosteron), faktor interaksi stroma dan epitel-epitel, teori berkurangnya
kematian sel (apoptosis), teori sel stem.
1. Teori Dehidrotestosteron (DHT)
Dehidrotestosteron (DHT) adalah metabolit androgen yang sangat penting pada
pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat. Aksis hipofisis testis dan reduksi testosteron
menjadi dehidrotestosteron (DHT) dalam sel prostat merupakan factor terjadinya
penetrasi DHT kedalam inti sel yang dapat menyebabkan inskripsi pada RNA, sehingga
dapat menyebabkan terjadinya sintesis protein yang menstimulasi pertumbuhan sel
prostat. Pada berbagai penelitian dikatakan bahwa kadar DHT pada BPH tidak jauh
berbeda dengan kadarnya pada prostat normal, hanya saja pada BPH, aktivitas enzim
5alfa –reduktase dan jumlah reseptor androgen lebih banyak pada BPH. Hal ini
menyebabkan sel-sel prostat pada BPH lebih sensitive terhadap DHT sehingga replikasi
sel lebih banyak terjadi dibandingkan dengan prostat normal.
2. Teori hormone (ketidakseimbangan antara estrogen dan testosteron)
Pada usia yang semakin tua, terjadi penurunan kadar testosteron sedangkan kadar
estrogen relative tetap, sehingga terjadi perbandingan antara kadar estrogen dan
testosterone relative meningkat. Hormon estrogen didalam prostat memiliki peranan
dalam terjadinya poliferasi sel-sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan jumlah

6
reseptor androgen, dan menurunkan jumlah kematian sel-sel prostat (apoptosis).
Meskipun rangsangan terbentuknya sel-sel baru akibat rangsangan testosterone
meningkat, tetapi sel-sel prostat telah ada mempunyai umur yang lebih panjang
sehingga masa prostat jadi lebih besar.
3. Faktor interaksi Stroma dan epitel epitel.
Diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat secara tidak langsung dikontrol oleh
sel-sel stroma melalui suatu mediator yang disebut Growth factor. Setelah sel-sel
stroma mendapatkan stimulasi dari DHT dan estradiol, sel-sel stroma mensintesis suatu
growth factor yang selanjutnya mempengaruhi sel-sel stroma itu sendiri intrakrin dan
autokrin, serta mempengaruhi sel-sel epitel parakrin. Stimulasi itu menyebabkan
terjadinya poliferasi sel-sel epitel maupun sel stroma. Basic Fibroblast Growth Factor
(bFGF) dapat menstimulasi sel stroma dan ditemukan dengan konsentrasi yang lebih
besar pada pasien dengan pembesaran prostad jinak. bFGF dapat diakibatkan oleh
adanya mikrotrauma karena miksi, ejakulasi atau infeksi.
4. Teori berkurangnya kematian sel (apoptosis)
Progam kematian sel (apoptosis) pada sel prostat adalah mekanisme fisiologik untuk
mempertahankan homeostatis kelenjar prostat. Pada apoptosis terjadi kondensasi dan
fragmentasi sel, yang selanjutnya sel-sel yang mengalami apoptosis akan difagositosis
oleh sel-sel di sekitarnya, kemudian didegradasi oleh enzim lisosom. Pada jaringan
normal, terdapat keseimbangan antara laju poliferasi sel dengan kematian sel. Pada saat
terjadi pertumbuhan prostat sampai pada prostat dewasa, penambahan jumlah sel-sel
prostat baru dengan yang mati dalam keadaan seimbang. Berkurangnya jumlah sel-sel
prostat baru dengan prostat yang mengalami apoptosis menyebabkan jumlah sel-sel
prostat secara keseluruhan menjadi meningkat, sehingga terjadi pertambahan masa
prostat.
5. Teori sel stem
Sel-sel yang telah apoptosis selalu dapat diganti dengan sel-sel baru. Didalam kelenjar
prostat istilah ini dikenal dengan suatu sel stem, yaitu sel yang mempunyai kemampuan
berpoliferasi sangat ekstensif. Kehidupan sel ini sangat tergantung pada keberadaan
hormone androgen, sehingga jika hormone androgen kadarnya menurun, akan terjadi
apoptosis. Terjadinya poliferasi sel-sel BPH dipostulasikan sebagai ketidaktepatan
aktivitas sel stem sehingga terjadi produksi yang berlebihan sel stroma maupun sel
epitel.

7
2.4 Klasifikasi BPH
Derajat berat BPH menurut Sjamsuhidajat (2005) dibedakan menjadi 4 stadium:
1. Stadium I
Ada obstruktif tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan urine sampai habis.
2. Stadium II
Ada retensi urine tetapi kandung kemih mampu mengeluarkan urine walaupun tidak
sampai habis, masih tersisa kira-kira 60-150 cc. Ada rasa ridak enak BAK atau disuria
dan menjadi nocturia.
3. Stadium III
Setiap BAK urine tersisa kira-kira 150 cc.
4. Stadium IV
Retensi urine total, buli-buli penuh pasien tampak kesakitan, urine menetes secara
periodik (over flowin continent).

Pembagian berdasarkan tingkat keparahan penderita BPH dapat diukur dengan skor IPSS
(Internasional Prostate Symptom Score) untuk membantu diagnosis dan menentukan tingkat
beratnya penyakit.

8
Tabel. Tingkatan Keparahan BPH
No Keluhan pada bulan Tidak <1x <dari Kadang >dari Hampir
terakhir pernah dalam 5 setengah -kadang setengah Selalu
kali sekitar
(50%)
1 Seberapa sering anda 0 1 2 3 4 5
merasa tidak puas saat
selesai berkemih?
2 Seberapa sering 0 1 2 3 4 5
anda harus kencing dalam
waktu <2 jam setelah
selesai berkemih?
3 Seberapa sering 0 1 2 3 4 5
anda mendapatkan
kencing anda terputus-
putus?
4 Seberapa sering 0 1 2 3 4 5
anda mendapatkan bahwa
anda sulit menahan
kencing?
5 Seberapa sering pancaran 0 1 2 3 4 5
kencing anda lemah?
6 Seberapa sering anda 0 1 2 3 4 5
harus mengedan untuk
mulai berkemih?
7 Seberapa sering anda 0 1 2 3 4 5
harus bangun untuk
berkemih sejak mulai
tidur pada malam hari
hingga bangun di pagi
hari?
Total IPSS Score :
1. Ringan (Mild) : 0 – 7
2. Sedang (Moderate) : 8-19
3. Berat (Severe) : 20 – 35

2.5 Manifestasi Klinis


Obstruksi prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun keluhan
diluar saluran kemih. Menurut Purnomo (2011) dan tanda dan gejala dari BPH yaitu :
keluhan pada saluran kemih bagian bawah, gejala pada saluran kemih bagian atas, dan
gejala di luar saluran kemih.
1. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah
a. Gejala obstruksi meliputi : Retensi urin (urin tertahan dikandung kemih sehingga
urin tidak bisa keluar), hesitansi (sulit memulai miksi), pancaran miksi lemah,
Intermiten (kencing terputus-putus), dan miksi tidak puas (menetes setelah miksi).

9
b. Gejala iritasi meliputi : Frekuensi, nokturia, urgensi ( perasaan ingin miksi yang
sangat mendesak) dan disuria (nyeri pada saat miksi).
2. Gejala pada saluran kemih bagian atas
Keluhan akibat hiperplasi prostat pada saluran kemih bagian atas berupa adanya gejala
obstruksi, seperti nyeri pinggang, benjolan dipinggang (merupakan tanda dari
hidronefrosis), atau demam yang merupakan tanda infeksi atau urosepsis.
3. Gejala diluar saluran kemih
Pasien datang diawali dengan keluhan penyakit hernia inguinalis atau hemoroid.
Timbulnya penyakit ini dikarenakan sering mengejan pada saan miksi sehingga
mengakibatkan tekanan intraabdominal. Adapun gejala dan tanda lain yang tampak pada
pasien BPH, pada pemeriksaan prostat didapati membesar, kemerahan, dan tidak nyeri
tekan, keletihan, anoreksia, mual dan muntah, rasa tidak nyaman pada epigastrik, dan gagal
ginjal dapat terjadi dengan retensi kronis dan volume residual yang besar.

2.6 Resume Jurnal Benign Prostatic Hyperplasia


Kondisi urologi kronis, termasuk hiperplasia benign prostatic, infeksi saluran kemih
berulang, dan inkontinensia urin, yang umum pada orang dewasa yang lebih tua. Artikel
ini menyoroti kebutuhan perawatan urologi dan transisi dari orang tua, gangguan kognitif
laki-laki selama dan setelah rawat inap akut. Kolaborasi antara pasien, keluarga, perawat
praktek maju, penyedia perawatan primer, dan kantor rawat jalan urologi dijelaskan.
Pentingnya pengaturan tujuan bersama dan rencana terfokus untuk perawatan transisi
dibahas. Tujuan:
1. Jelaskan urologi dan perawatan transisi kebutuhan dari orang tua, gangguan kognitif
laki-laki selama dan setelah rawat inap akut seperti yang disajikan dalam studi kasus
ini.
2. Jelaskan pentingnya kolaborasi antara pasien, pengasuh, dan semua yang terlibat dalam
pemberian perawatan kesehatan.
3. Diskusikan manfaat pasien dari pengaturan tujuan bersama dan rencana terfokus
perawatan.

Di Amerika Serikat (AS), hampir 50% dari individu lebih dari 65 tahun hidup
dengan tiga atau lebih kondisi kesehatan kronis (Anderson & Horvath, 2002), dan bagi
banyak dari individu-individu, komorbiditas di lipatan kemungkinan efek samping selama
tinggal di rumah sakit akut dan transisi ke rumah postdischarge. gangguan kognitif (CI),

10
termasuk demensia dan delirium, merupakan salah satu penyakit penyerta yang paling
umum terlihat pada populasi dewasa yang lebih tua (Alzheimer Association, 2012), dan
kehadirannya senyawa beban kondisi kesehatan kronis dan akut lainnya, termasuk risiko
yang lebih besar untuk morbiditas, rehospitalizations dicegah, dan kelangsungan hidup
menurun (Feil, Marmon, & Unuizer, 2003;. Rudolph et al, 2010; Zuccala et al, 2003.).
kondisi urologi kronis, termasuk prostat jinak hiperplasia (BPH), berulang infeksi saluran
kemih (ISK), dan inkontinensia urin, juga umum pada orang dewasa yang lebih tua (Litwin
& Saigal, 2007), dan dapat mempersulit atau menjadi penyebab langsung dari penyakit akut
membutuhkan masuk rumah sakit.

Untuk mengatasi isu seputar populasi dan uji strategi semakin tua untuk mengurangi
efek samping dari perawatan di rumah sakit untuk gangguan kognitif orang dewasa yang
lebih tua, sebuah penelitian yang dilakukan dari praktek maju perawat (APN) yang
dipimpin, evidencebased Model transisi perawatan (TCM) (Naylor et al ., 1994, 1999,
2004). informasi tambahan mengenai desain penelitian dan hasil telah de jelaskan di tempat
lain (Bradway et al, 2012;. Naylor et al, 2007.). Pada artikel ini, contoh kasus berfokus pada
perawatan dan keperawatan urologi transisi kebutuhan individu lansia diikuti oleh APN
sebagai bagian dari penelitian (Naylor et al., 2010).

Seorang pria 83yearold dibawa ke gawat darurat (ED), dievaluasi, dan kemudian
dirawat di rumah sakit dengan diagnosis utama hematuria sekunder ke ISK akut. Dia dan
pengasuh utamanya (CG, pasangan) melaporkan satu hari dari memburuknya gejala urologi
(misalnya, frekuensi kencing, keraguan, disuria) dan tanda-tanda awal delirium di rumah
sebelum kunjungan ED. riwayat kesehatan masa lalu pasien termasuk demensia, de
pression, hipertensi, stroke, diabetes, BPH,

ISK berulang, dan keterbatasan dalam aktivitas sehari-hari (misalnya, mandi,


bantuan dengan saus). Ia mengambil lima resep obat setiap hari dan membantah
penggunaan obat overthecounter, alkohol, tembakau, atau penggunaan narkoba ilegal.
Sebelum rawat inap ini, pasien dan CG mencatat bahwa nya depresi / apatis menyebabkan
ketidakpatuhan dengan obat BPH ditentukan, dan pada gilirannya, ISK berulang
diperlakukan secara rawat jalan melalui kantor urologi pasien.

Kasus ini menyoroti perjalanan penyakit akut, rumah sakit, dan beberapa
perawatan transisi perlu untuk pasien dengan BPH dan ISK berulang. Banyak kondisi
komorbiditas, polifarmasi, keterbatasan dalam status fungsional dan kognisi,

11
ketidakpatuhan pengobatan, dan CG beban tempat pasien ini berisiko tinggi
mengembangkan komplikasi serius selama transisi hospitalhome. Selain itu, CI, termasuk
demensia, delirium, dan depresi seperti yang terlihat dalam kasus ini, rumit perawatan
pasien ini selama transisi dari satu pengaturan klinis yang lain. Merawat pasien, seperti
yang dijelaskan dalam hal ini, dapat berdampak negatif terhadap CGs keluarga serta tim
profesional perawatan kesehatan di dilibatkan dalam semua tahap perawatan mereka

12
2.7 Web of Caution

Perubahan usia (usia lanjut)

Ketidakseimbangan produksi hormon estrogen dan testosteron

Kadar testosteron Kadar esterogen meningkat


menurun
Mempengaruhi RNA dalam inti sel Hiperplasi sel stoma pada jaringan

Poliferasi sel prostat BPH

Pre Operasi Post Operasi

Pasien kurang informasi Obstruksi saluran kemih yang Resiko impotensi Insisi prostatektomi Pemasangan Kerusakan
kesehatan dan pengobatan bermuara ke vesika urinaria kateter threeway jaringan periuretral

Perubahan Terputusnya
Kurang pengetahuan Penebalan otot destrusor
ika urinaria disfungsi seksual kontinuitas jaringan Bekuan darah Kerusakan integritas
jaringan

Cemas Dekompensasi otot destrusor Penurunan Spasme urin


pertahanan tubuh Resiko perdarahan
Akumulasi urin di vesika
Nyeri akut

13
Sukar berkemih, Peregangan vesika urinaria Penumpukan urin yang
berkemih tidak lancar melebihi kapasitas lama di vesika urinaria Resiko infeksi

Retensi urin Pertumbuhan mikroorganisme

Spasme otot spincter Refluk urin ke ginjal

Nyeri akut Hidroureter, hidronefrosis

Gagal ginjal

14
2.8 Pengukuran Besarnya Hipertropi Prostat
Ada tiga cara pengukuran besarnya hipertropi prostat
1. Rectal grading, yaitu dengan rectal toucher diperkiraka berapa cm prostat yang
menonjol ke dalam lumen rektum yang dilakukan sebaiknya pada saat buli-buli kosong.
Gradasi ini adalah :
a. 0-1 cm : grade 0
b. 1-2 cm : grade 1
c. 2-3 cm : grade 2
d. 3-4 cm : grade 3
e. 4 cm : grade 4

Pada grade 3-4 batas prostat tidak teraba, prostat fibrotik, teraba lebih kecil dari normal.

2. Clinical grading, dalam hal ini urine menjadi patokan. Pagi hari setelah bangun pasien
di suruh kencing sampai selesai, kemudian di masukkan kateter kedalam buli-buli untuk
mengukur sisa urine.
a. Sisa urine 0 cc : normal
b. Sisa urine 0-50 cc : grade 1
c. Sisa urine 0-150 cc : grade 2
d. Sisa urine > 150 cc : grade 3
e. Tidak bisa kencing : grade 4
3. Intra ureal Grading, dengan alat perondoskope dengan diukur/ dilihat beberapa jauh
penonjolan lobus lateral ke dalam lumen urethra.
a. Grade I
Clinikcal grading sejak berbulan-bulan, bertahun-tahun, mengeluh kencing tidak
lancar, pancaran lemah, nokturia.
b. Grade II
Bila miksi terasa panas, sakit, disuria
c. Grade III
Gejala makin berat
d. Grade IV
Buli-buli penuh, disuria, overflow, inkontinence, bila overflow inkontinince
dibiarkan dengan adanya infeksi dapat terjadi urosepsis berat, pasien menggigil,
panas 40-41 celcius, kesadaran menurun.

15
2.9 Penatalaksanaan
1. Medis
Rencana terapi bergantung pada penyebab, tingkat keparahan obstruksi dan kondisi
pasien. Terapi mencakup :
a. Segera melakukan kateterisasi jika pasien tidak dapat berkemih (konsultasikan
dengan ahli urologi jika kateter biasa tidak dapat di masukkan). Kistostomi
subrapublik terkadang di perlukan.
b. Menunggu dengan penuh waspada untuk memantau perkembangan penyakit.
2. Farmakologis
a. Penyekat alfa-adrenelgik (misalnya; alfuzosin, terazosin), yang merelaksasi otot
polos leher kandung kemih dan prostat, dan penyekat 5- alfa-reduktase.
b. Manipulasi hormonal dengan agen antiandrogen (finasterida [proscar]) mengurangi
ukuran prostat dan mencegah pengubahan testosteron menjadi dehidrotestoseron
(DHT).
c. Penggunaan agen fitoterapeotik dan suplemen diet lain tidak di rekomendasikan
meskipun biasa di gunakan
3. Bedah
Pembedahan adalah tindakan pilihan, keputusan untuk dilakukan pembedahan
didasarkan pada beratnya obstruksi, adanya ISK, retensio urin berulang, hematuri,
tanda penurunan fungsi ginjal, ada batu saluran kemih dan perubahan fisiologi pada
prostat. Waktu penanganan untuk tiap pasien bervariasi tergantung pada beratnya gejala
dan komplikasi. Menurut Smeltzer dan Bare (2002) intervensi bedah yang dapat
dilakukan meliputi : pembedahan terbuka dan pembedahan endourologi.
a. Pembedahan terbuka, beberapa teknik operasi prostatektomi terbuka yang biasa
digunakan adalah :
1) Prostatektomi suprapubik
adalah salah satu metode mengangkat kelenjar melalui insisi abdomen. Insisi
dibuat dikedalam kandung kemih, dan kelenjar prostat diangat dari atas. Teknik
demikian dapat digunakan untuk kelenjar dengan segala ukuran, dan komplikasi
yang mungkin terjadi ialah pasien akan kehilangan darah yang cukup banyak
dibanding dengan metode lain, kerugian lain yang dapat terjadi adalah insisi
abdomen akan disertai bahaya dari semua prosedur bedah abdomen mayor.
2) Prostatektomi perineal

16
adalah suatu tindakan dengan mengangkat kelenjar melalui suatu insisi dalam
perineum. Teknik ini lebih praktis dan sangat berguna untuk biopsy terbuka.
Pada periode pasca operasi luka bedah mudah terkontaminasi karena insisi
dilakukan dekat dnegan rectum. Komplikasi yang mungkin terjadi dari tindakan
ini adalah inkontinensia, impotensi dan cedera rectal.
3) Prostatektomi retropubik
adalah tindakan lain yang dapat dilakukan, dengan cara insisi abdomen rendah
mendekati kelenjar prostat, yaitu antara arkus pubis dan kandung kemih tanpa
memasuki kandung kemih. Teknik ini sangat tepat untuk kelenjar prostat yang
terletak tinggi dalam pubis. Meskipun jumlah darah yang hilang lebih dapat
dikontrol dan letak pembedahan lebih mudah dilihat, akan tetapi infeksi dapat
terjadi diruang retropubik.
b. Pembedahan endourologi, pembedahan endourologi transurethral dapat dilakukan
dengan memakai tenaga elektrik diantaranya:
1) Transurethral Prostatic Resection (TURP)
Merupakan tindakan operasi yang paling banyak dilakukan, reseksi kelenjar
prostat dilakukan dengan transuretra menggunakan cairan irigan (pembilas)
agar daerah yang akan dioperasi tidak tertutup darah. Indikasi TURP ialah
gejala-gejala sedang sampai berat, volume prostat kurang dari 90 gr.Tindakan
ini dilaksanakan apabila pembesaran prostat terjadi dalam lobus medial yang
langsung mengelilingi uretra. Setelah TURP yang memakai kateter threeway.
Irigasi kandung kemih secara terus menerus dilaksanakan untuk mencegah
pembekuan darah. Manfaat pembedahan TURP antara lain tidak meninggalkan
atau bekas sayatan serta waktu operasi dan waktu tinggal dirumah sakit lebih
singkat.Komplikasi TURP adalah rasa tidak enak pada kandung kemih, spasme
kandung kemih yang terus menerus, adanya perdarahan, infeksi, fertilitas
(Baradero dkk, 2007).
2) Transurethral Incision of the Prostate (TUIP)
adalah prosedur lain dalam menangani BPH. Tindakan ini dilakukan apabila
volume prostat tidak terlalu besar atau prostat fibrotic. Indikasi dari penggunan
TUIP adalah keluhan sedang atau berat, dengan volume prostat normal/kecil
(30 gram atau kurang). Teknik yang dilakukan adalah dengan memasukan
instrument kedalam uretra. Satu atau dua buah insisi dibuat pada prostat dan
kapsul prostat untuk mengurangi tekanan prostat pada uretra dan mengurangi

17
konstriksi uretral. Komplikasi dari TUIP adalah pasien bisa mengalami
ejakulasi retrograde (0-37%) (Smeltzer dan Bare, 2002).
3) Terapi invasive minimal
Menurut Purnomo (2011) terapai invasive minimal dilakukan pada pasien
dengan resiko tinggi terhadap tindakan pembedahan. Terapi invasive minimal
diantaranya Transurethral Microvawe Thermotherapy (TUMT), Transuretral
Ballon Dilatation (TUBD), Transuretral Needle Ablation/Ablasi jarum
Transuretra (TUNA), Pemasangan stent uretra atau prostatcatt.
a) Transurethral Microvawe Thermotherapy (TUMT), jenis pengobatan ini
hanya dapat dilakukan di beberapa rumah sakit besar. Dilakukan dengan
cara pemanasan prostat menggunakan gelombang mikro yang disalurkan ke
kelenjar prostat melalui transducer yang diletakkan di uretra pars prostatika,
yang diharapkan jaringan prostat menjadi lembek. Alat yang dipakai antara
lain prostat.
b) Transuretral Ballon Dilatation (TUBD), pada tehnik ini dilakukan dilatasi
(pelebaran) saluran kemih yang berada di prostat dengan menggunakan
balon yang dimasukkan melalui kateter. Teknik ini efektif pada pasien
dengan prostat kecil, kurang dari 40 cm3. Meskipun dapat menghasilkan
perbaikan gejala sumbatan, namun efek ini hanya sementar, sehingga cara
ini sekarang jarang digunakan.
c) Transuretral Needle Ablation (TUNA), pada teknik ini memakai energy dari
frekuensi radio yang menimbulkan panas mencapai 100 derajat selsius,
sehingga menyebabkan nekrosis jaringan prostat. Pasien yang menjalani
TUNA sering kali mengeluh hematuri, disuria, dan kadang-kadang terjadi
retensi urine (Purnomo, 2011).
d) Pemasangan stent uretra atau prostatcatth yang dipasang pada uretra
prostatika untuk mengatasi obstruksi karena pembesaran prostat, selain itu
supaya uretra prostatika selalu terbuka, sehingga urin leluasa melewati
lumen uretra prostatika. Pemasangan alat ini ditujukan bagi pasien yang
tidak mungkin menjalani operasi karena resiko pembedahan yang cukup
tinggi.

18
2.10 Komplikasi
1. Urinary traktus
2. Retensi urin akut
3. Obstruksi dengan dilatasi uetra
4. Hydronefrosis dan gangguan fungsi ginjal

2.11Asuhan Keperawatan Teori


2.10.1. Pengkajian
Pengkajian fokus keperawatan yang perlu diperhatikan pada penderita BPH
merujuk pada teori menurut Smeltzer dan Bare, Tucker dan Canobbio (2008) ada
berbagai macam, meliputi :
a. Demografi
Kebanyakan menyerang pada pria berusia diatas 50 tahun. Ras kulit hitam
memiliki resiko lebih besar dibanding dengan ras kulit putih. Status sosial
ekonomi memiliki peranan penting dalam terbentuknya fasilitas kesehatan yang
baik. Pada pasien BPH keluhan keluhan yang ada adalah frekuensi, nokturia,
urgensi, disuria, pancaran melemah, rasa tidak puas sehabis miksi, hesistensi
(sulit memulai miksi), intermiten (kencing terputus-putus), dan waktu miksi
memanjang dan akhirnya menjadi retensi urine.
b. Riwayat penyakit dahulu
Kaji apakah memilki riwayat infeksi saluran kemih (ISK), adakah riwayat
mengalami kanker prostat. Apakah pasien pernah menjalani pembedahan
prostat.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Kaji adanya keturunan dari salah satu anggota keluarga yang menderita
penyakit BPH.
d. Pola kesehatan fungsional
1) Eliminasi
Pola eliminasi kaji tentang pola berkemih, termasuk frekuensinya, ragu
ragu, menetes, jumlah pasien harus bangun pada malam hari untuk berkemih
(nokturia), kekuatan system perkemihan. Tanyakan pada pasien apakah
mengedan untuk mulai atau mempertahankan aliran kemih. Pasien ditanya
tentang defikasi, apakah ada kesulitan seperti konstipasi akibat dari prostrusi
prostat kedalam rectum.

19
2) Pola nutrisi dan metabolisme
Kaji frekuensi makan, jenis makanan, makanan pantangan, jumlah minum
tiap hari, jenis minuman, kesulitan menelan atau keadaan yang mengganggu
nutrisi seperti anoreksia, mual, muntah, penurunan BB.
3) Pola tidur dan istirahat
Kaji lama tidur pasien, adanya waktu tidur yang berkurang karena frekuensi
miksi yang sering pada malam hari (nokturia).
4) Nyeri/kenyamanan
Nyeri supra pubis, panggul atau punggung, tajam, kuat, nyeri punggung
bawah
5) Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Pasien ditanya tentang kebiasaan merokok, penggunaan obatobatan,
penggunaan alkhohol.
6) Pola aktifitas
Tanyakan pada pasien aktifitasnya sehari – hari, aktifitas penggunaan waktu
senggang, kebiasaan berolah raga. Pekerjaan mengangkat beban berat.
Apakah ada perubahan sebelum sakit dan selama sakit. Pada umumnya
aktifitas sebelum operasi tidak mengalami gangguan, dimana pasien masih
mampu memenuhi kebutuhan sehari – hari sendiri.
7) Seksualitas
Kaji apakah ada masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan
seksual akibat adanya penurunan kekuatan ejakulasi dikarenakan oleh
pembesaran dan nyeri tekan pada prostat.
8) Pola persepsi dan konsep diri
Meliputi informasi tentang perasaan atau emosi yang dialami atau dirasakan
pasien sebelum pembedahan dan sesudah pembedahan pasien biasa cemas
karena kurangnya pengetahuan terhadap perawatan luka operasi.
e. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Purnomo (2011) dan Baradero dkk, pemeriksaan penunjang yang
dapat dilakukan pada penderita BPH meliputi :
1) Laboratorium
a) Analisis urin dan pemeriksaan mikroskopik urin penting dilakukan
untuk melihat adanya sel leukosit, bakteri dan infeksi. Pemeriksaan

20
kultur urin berguna untuk menegtahui kuman penyebab infeksi dan
sensitivitas kuman terhadap beberapa antimikroba.
b) Pemeriksaan faal ginjal, untuk mengetahui kemungkinan adanya
penyulit yang menegenai saluran kemih bagian atas. Elektrolit, kadar
ureum dan kreatinin darah merupakan informasi dasar dari fungsin
ginjal dan status metabolic.
c) Pemeriksaan prostate specific antigen (PSA) dilakukan sebagai dasar
penentuan perlunya biopsy atau sebagai deteksi dini keganasan. Bila
nilai PSA <4ng/ml tidak perlu dilakukan biopsy. Sedangkan bila nilai
PSA 4-10 ng/ml, hitunglah prostate specific antigen density (PSAD)
lebih besar sama dengan 0 , 15 maka sebaiknya dilakukan biopsy prostat,
demikian pula bila nila PSA > 10 ng/ml.
2) Radiologis/pencitraan
Menurut Purnomo (2011) pemeriksaan radiologis bertujuan untuk
memperkirakan volume BPH, menentukan derajat disfungsi bulibuli dan
volume residu urin serta untuk mencari kelainan patologi lain, baik yang
berhubungan maupun tidak berhubungan dengan BPH.
a) Foto polos abdomen, untuk mengetahui kemungkinan adanya batu opak
di saluran kemih, adanya batu/kalkulosa prostat, dan adanya bayangan
buli-buli yang penuh dengan urin sebagai tanda adanya retensi urin.
Dapat juga dilihat lesi osteoblastik sebagai tanda metastasis dari
keganasan prostat, serta osteoporosis akbibat kegagalan ginjal.
b) Pemeriksaan Pielografi intravena (IVP), untuk mengetahui
kemungkinan adanya kelainan pada ginjal maupun ureter yang berupa
hidroureter atau hidronefrosis. Dan memperkirakan besarnya kelenjar
prostat yang ditunjukkan dengan adanya indentasi prostat (pendesakan
buli-buli oleh kelenjar prostat) atau ureter dibagian distal yang
berbentuk seperti mata kail (hooked fish)/gambaran ureter berbelok-
belok di vesika, penyulit yang terjadi pada buli-buli yaitu adanya
trabekulasi, divertikel atau sakulasi buli-buli.
c) Pemeriksaan USG transektal, untuk mengetahui besar kelenjar prostat,
memeriksa masa ginjal, menentukan jumlah residual urine, menentukan
volum buli-buli, mengukur sisa urin dan batu ginjal, divertikulum atau

21
tumor buli-buli, dan mencari kelainan yang mungkin ada dalam buli-
buli.

2.10.2. Diagnosa
Diagnosa keperawatan pada penyakit BPH menurut Carpenito dan Tucker dan
Canobbio adalah :
1. Pre Operasi
a. Retensi urin akut/kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik,
pembesaran prostat, dekompensasi otot destrusor, ketidakmampuan
kandung kemih untuk berkontraksi dengan adekuat.
b. Nyeri akut berhubungan dengan peregangan dari terminal saraf, distensi
kandung kemih, infeksi urinaria, efek mengejan saat miksi sekunder dari
pembesaran prostat dan obstruksi uretra.
c. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, perubahan status kesehatan,
kekhawatiran tentang pengaruhnya pada ADL atau menghadapi prosedur
bedah.
2. Post Operasi
a. Nyeri akut berhubungan dengan spasme kandung kemih dan insisi sekunder
pada pembedahan
b. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama
pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih, peningkatan paparan
lingkungan

22
2.10.3. Intervensi
1. Pre Operasi
Tujuan dan Kriteria Hasil
Diagnosa Intervensi (NIC)
(NOC)
Setelah dilakukan tindakan 1. Kateterisasi urin
keperawatan 3x24 jam klien - Jelaskan prosedur dan
dapat menunjukkan bahwa rasionalisasi kateterisasi
retensi urine teratasi dengan - Pasang alat dengan tepat
skala 2 (jarang menunjukkan) - Pertahankan teknik aseptik
menjadi skala 4 (sering yang ketat
Retensi urin
menunjukkan) dengan kriteria - Dokumentasikan
akut/kronis b.d
hasil : perawatan termasuk
obstruksi
1. Eliminasi urin ukuran kateter, jenis dan
mekanik,
- Pola eliminasi jumlah pengisian bola
pembesaran
- Bau urin kateter
prostat,
- Jumlah urin - Ajarkan pasien dan
dekompensasi
- Warna urin keluarga mengenai
otot destrusor,
- Nyeri saat kencing perawatan kateter yang
ketidakmampu
- Ragu untuk berkemih tepat
an kandung
- Frekuensi berkemih 2. Monitor cairan
kemih untuk
- Keinginan mendesak - Tentukan jumlah dan jenis
berkontraksi
untuk berkemih intake/ asupan cairan serta
dengan
- Retensi urin kebiasaan eliminasi
adekuat
- Monitor asupan dan
pengeluaran
- Monitor warna, kuantitas,
berat jenis urin
- Berikan cairan dengan
tepat
Nyeri akut b.d Setelah dilakukan tindakan 1. Manajemen nyeri
peregangan keperawatan 3x24 jam klien - Lakukan pengkajian nyeri
dari terminal dapat mengontrol nyeri dengan komprehensif yang

23
saraf, distensi skala 2 (jarang menunjukkan) meliputi lokasi,
kandung menjadi skala 4 (sering karakteristik, onset/durasi,
kemih, infeksi menunjukan) dengan kriteria frekuensi, kualitas,
urinaria, efek hasil: intensitas atau beratnya
mengejan saat 1. Mengenali kapan nyeri nyeri dan faktor pencetus
miksi sekunder terjadi - Gali pengetahuan dan
dari 2. Menggunakan tindakan kepercayaan pasien
pembesaran pengurangan nyeri tanpa mengenai nyeri
prostat dan analgesik - Dorong pasien untuk
obstruksi 3. Menggunakan analgesik memonitor dan menangani
uretra yang direkomendasikan nyeri dengan tepat
2. Pemberian analgesik
- Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas dan
keparahan nyeri sebelum
mengobati pasien
- Cek perintah pengobatan
meliputi obat, dosisi, dan
frekuensi obat analgesik
yang diresepkan
- Cek adanya riwayat alergi
obat
3. Terapi relaksasi
- Gambarkan rasionalisasi
dan manfaat relaksasi serta
jenis relaksasi yang
tersedia misal musik,
meditasi, bernafas dengan
ritme, relaksasi rahang dan
relaksasi otot progresif
- Ciptakan lingkungan yang
tenang dan tanpa distraksi
dengan lampu yang redup

24
dan suhu lingkungan yang
nyaman
- Dorong pasien untuk
mengambil posisi yang
nyaman
- Dorong klien untuk
mengulang praktek teknik
relaksasi
- Evaluasi dan
dokumntasikan respon
terhadap terapi relaksasi
Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor tanda-tanda
keperawatan 3x24 jam klien vital
dapat mengontrol kecemasan - Monitor tekanan darah,
diri dari skala 2 (jarang nadi, suhu dan status
menunjukkan) menjadi skala 4 pernafasan dengan tepat
(sering menunjukkan) dengan 2. Pengurangan kecemasan
Ansietas b.d
kriteria hasil: - Gunakan pendekatan yang
krisis situasi,
1. Tingkat kecemasan tenang dan meyakinkan
perubahan
- Tidak dapat beristirahat - Nyatakan dengan jelas
status
- Distress harapan terhadap perilaku
kesehatan,
- Perasaan gelisah pasien
kekhawatiran
2. Penerimaan : status - Jelaskan semua prosedur
tentang
kesehatan termasuk sensasi yang
pengaruhnya
- Mengenali realita situasi akan dirasakan yang
pada ADL atau
kesehatan mungkin akan dialami
menghadapi
- Mempertahankan selama prosedur
prosedur bedah
hubungan - Berikan informasi faktual
- Menyesuaikan perubahan terkait diagnosis,
dalam status kesehatan perawatan dan prognosis
- Berada disisi klien untuk
meningkatkan rasa aman
dan mengurangi ketakutan

25
- Dorong keluarga untuk
mendampingi klien dengan
cara yang tepat
- Dukung penggunan
mekanisme koping yang
sesuai

2. Post Operasi
Tujuan dan Kriteria Hasil
Diagnosa Intervensi (NIC)
(NOC)
Setelah dilakukan tindakan 1. Manajemen nyeri
keperawatan 3x24 jam klien - Lakukan pengkajuan nyeri
dapat mengontrol nyeri dengan komprehensif yang
skala 2 (jarang menunjukkan) meliputi lokasi,
menjadi skala 4 (sering karakteristik, onset/durasi,
menunjukan) dengan kriteria frekuensi, kualitas,
hasil: intensitas atau beratnya
Nyeri akut b.d
1. Kontrol nyeri nyeri dan faktor pencetus
spasme
- Mengenali kapan nyeri - Gali pengetahuan dan
kandung
terjadi kepercayaan pasien
kemih dan
- Menggunakan jurnal harian mengenai nyeri
insisi sekunder
untuk memonitor gejala dari - Dorong pasien untuk
pada
waktu ke waktu memonitor dan
pembedahan
- Menggunakan tindakan menangani nyeri dengan
pengurangan nyeri tanpa tepat
analgesik 2. Pemberian analgesik
- Menggunakan analgesik - Tentukan lokasi,
yang direkomendasikan karakteristik, kualitas dan
keparahan nyeri sebelum
mengobati pasien

26
- Cek perintah pengobatan
meliputi obat, dosisi, dan
frekuensi obat analgesik
yang diresepkan
- Cek adanya riwayat alergi
obat
3. Terapi relaksasi
- Gambarkan rasionalisasi
dan manfaat relaksasi
serta jenis relaksasi yang
tersedia misal musik,
meditasi, bernafas dengan
ritme, relaksasi rahang
dan relaksasi otot
progresif
- Ciptakan lingkungan yang
tenang dan tanpa distraksi
dengan lampu yang redup
dan suhu lingkungan yang
nyaman
- Dorong pasien untuk
mengambil posisi yang
nyaman
- Dorong klien untuk
mengulang praktek teknik
relaksasi
- Evaluasi dan
dokumntasikan respon
terhadap terapi relaksasi
Resiko infeksi Setelah dilakukan tindakan 1. Kontrol infeksi
b.d prosedur keperawatan 3x24 jam klien - Ganti peralatan perawatan
invasif: alat dapat mengontrol risiko dari per pasien sesuai protokol
selama skala 2 (jarang menunjukkan) institusi

27
pembedahan, menjadi skala 4 (sering - Cuci tangan sebelum dan
kateter, irigasi menunjukkan) dengan kriteria sesudah kegiatan
kandung hasil: perawatan pasien
kemih 1. Mengidentifikasi faktor - Lakukan tindakan-
,peningkatan risiko tindakan pencegehan yang
paparan 2. Mengembangkan strategi bersifat iniversal
lingkungan pengendalian risiko yang - Pastikan teknik perawatan
efektif luka yang tepat
3. Memodifikasi gaya hidup - Gunakan kateterisasi
untuk mengurangi risiko intermitten untuk
4. Menghindari paparan mengurangi kejadian
ancaman kesehatan infeksi kandung kemih
5. Menggunakan pelayanan - Ajarkan pasien dan
kesehatan kongruen keluarga mengenai tanda
dengan kebutuhan dan gejala infeksi dan
6. Mengakui perubahan kapan harus melaporkan
status kesehatan - Ajarkan pasien dan
anggota keluarga
mengeneai bagaimana
menghindari infeksi
2. Perawatan luka
- Monitor karakteristik
luka, termasuk drainase,
warna, ukuran dan bau
- Bersihkan dengan normal
saline atau pembersih
yang tidak beracun
dengan tepat
- Pertahankan teknik
balutan steril ketika
melakukan perawatan
luka dengan tepat

28
- Periksa luka setiap kali
perubahan balutan
- Bandingkan dan catat
seiap perubahan luka
- Anjurkan pasien atau
anggota keluarga pada
prosedur perawatan luka
- Dokumentasikan lokasi
luka, ukuran dan tampilan

29
BAB III

APLIKASI TEORI

3.1 Kasus
Tn. D berusia 53 tahun di diagnosa medis oleh dokter Benigna Prostat Hiperplasia di
salah satu Rumah Sakit terpencil yang ada di boyolali. Pasien di rujuk pada tanggal 26
April 2016 dan dilakukan operasi TURP di RSU Banyudono Boyolali. Setelah itu pasien
di rawat di ruang dahlia dengan keluhan nyeri pada luka bekas operasi pada perut bagian
bawah dan nyeri saat BAK. Tn. D mengatakan nyeri seperti tertusuk-tusuk, skala nyeri 6,
nyeri terasa terus-menerus. Pada waktu dilakukan inspeksi terdapat luka pembedahan
daerah suprapubis, panjang luka ± 5 cm dan terdapat ± 5 jahitan, luka bersih, tidak ada pus,
tidak bengkak dan tampak kemerahan. TTV: TD: 140/90 mmHg, RR: 18 x/ menit, N: 86
x/ menit, S: 360 C. Pasien terpasang kateter threeway selama 6 – 24 jam setelah operasi.

3.2 Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada tanggal 27 April 2016. Jam 08.00 WIB diruang Dahlia RSU
Banyudono Boyolali. Pengkajian didapat melalui wawancara dengan klien, keluarga, dan
data status klien.
1. Identitas Klien
a. Nama : Tn.D
b. Umur : 53 tahun
c. Jenis kelamin : Laki-laki
d. Alamat :-
e. Status perkawinan : Kawin
f. Pendidikan : SLTP
g. Pekerjaan : Swasta
h. Suku : Jawa
i. No. RM : 070 xxx
j. Tanggal Masuk : 26 April 2016
k. Tanggal Pengkajian : 27 April 2016
l. Diagnosa Medis : Benigna Prostat Hiperplasia
2. Identitas Penanggung Jawab
a. Nama : Sdr. T
b. Umur : 29 Tahun

30
a. Jenis Kelamin : Laki-laki
b. Pendidikan : STM
c. Pekerjaan : Swasta
d. Hubungan dengan klien : Anak
e. Alamat :-
3. Riwayat Penyakit
a. Keluhan Utama
Klien mengatakan nyeri pada luka bekas operasi pada perut bagian bawah dan nyeri
saat BAK. Nyeri seperti tertusuk-tusuk, skala nyeri 6, nyeri terasa terus menerus.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien mengatakan ± 1 minggu yang lalu mengeluh nyeri pada saat BAK, dibawa
oleh keluarga ke rumah sakit terdekat dan didiagnosa oleh dokter Benigna Prostat
Hiperplasia. Pada tanggal 26 April 2016 dirujuk ke RSU Banyudono dan dilakukan
operasi TURP.
4. Pola fungsional
a. Eliminasi
Terpasang kateter pada tanggal 26 April 2016, keadaan kateter bersih, genetalia
bersih. Pasien biasa BAB 1 kali sehari dengan konsistensi lunak, warna kuning
kecoklatan.
b. Pola Nutrisi dan Metabolik
Sebelum di rawat di rumah sakit pasien makan 3 kali sehari dengan nasi, sayur dan
lauk. Biasanya 6-7 gelas sehari dan setelah di rumah sakit atau saat dikaji klien
mengatakan kalau makan yaitu makan 3 x sehari dengan bubur, sayur dan lauk
tetapi tidak dihabiskan dan minum hanya 3-4 gelas sehari.
c. Pola Tidur dan Istirahat
Pola tidur dan istirahat terganggu, tidur biasanya 7-8 jam, tetapi setelah di rumah
sakit tidur selama 4 jam.
d. Nyeri/Kenyamanan
Nyeri pada luka bekas operasi pada perut bagian bawah dan nyeri saat BAK, nyeri
seperti tertusuk-tusuk, skala nyeri 6, nyeri terasa terus-menerus.
e. Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Pasien tidak merokok, tidak menggunakan obat-obatan, tidak mengonsumsi
alkhohol.
f. Pola Aktivitas dan Latihan

31
Sebelum sakit : Klien mengatakan mampu melakukan aktivitas secara mandiri
seperti: makan, minum, mandi, berpakaian, toileting
Selama sakit : klien mengatakan aktivitas dibantu oleh keluarga dari makan,
minum, mandi, toileting, berpakaian , mobilitas, ROM
g. Seksualitas
Pasien merasa masih nyeri pada daerah kandung kemih sehingga pasien masih takut
untuk melakukan seksual.
h. Pola persepsi dan konsep diri
Pasien merasa cemas karena kurangnya pengetahuan terhadap perawatan luka
operasi.
5. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : Pasien dalam keadaan Composmentis (E :4 V :5 M :6).
b. TTV:
1) TD: 140/90 mmHg
2) RR: 18 x/ menit
3) N: 86 x/ menit
4) S: 360 C
c. Pemeriksaan Head to Toe
1) Kepala
Inspeksi : Kulit kepala sedikit kotor, bentuk kepala simetris
Palpasi : Tidak ada benjolan dan nyeri tekan, dan tidak ada deformitas.
Perkusi :-
Auskultasi :-
2) Rambut
Inspeksi : Pendek, rapi dan beruban
Palpasi : Tipis, kering.
Perkusi :-
Auskultasi :-
3) Wajah
Inspeksi : Simetris, tidak ada luka, tidak sianosis.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan pada wajah.
Perkusi :-
Auskultasi :-
4) Mata

32
Simetris, konjungtiva tidak anemis, isokor, reflek cahaya positif, kornea jernih.
5) Hidung
Inspeksi : Sedikit kotor, pernapasan cuping hidung tidak ada
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan ataupun benjolan
Perkusi :-
Auskultasi :-
6) Telinga
Inspeksi : Posisi sejajar dan tidak terjadi penurunan pendengaran
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan ataupun benjolan
Perkusi :-
Auskultasi :-
7) Mulut dan Faring
Mukosa bibir lembab, gigi dan gusi kotor, tidak ada nyeri telan.
8) Leher
Inspeksi : Simetris, kaku leher tidak ada
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan ataupun benjolan
Perkusi :-
Auskultasi : Tidak ada peningkatan JVP
9) Dada (Thoraks)
Inspeksi : Retraksi intercosta tidak ada, RR : 18x/menit, kulit dinding
dada baik
Palpasi : Gerak dada simetris, vocal fremitus seimbang pada kedua sisi
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Suara napas vesikuler di sebagian area paru, ronkhi (-),
wheezing (-)
10) Jantung
Inspeksi : Ictus cordis terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS 5 MCL sin bergeser 2cm
Perkusi : Redup, batas atas ICS 2 sinistra, batas bawah ICS 5 sinistra
Auskultasi : Irama jantung reguler, S1-S2 tunggal, tidak ada gallop, tidak
ada murmur
11) Abdomen

33
Inspeksi : terdapat luka pembedahan daerah suprapubis, panjang luka ±
5 cm dan terdapat ± 5 jahitan, luka bersih, tidak ada pus, tidak bengkak, tampak
warna kemerahan, tidak ada edema, terpasang drainase.
Palpasi : Tidak terdapat nyeri tekan, tidak teraba massa
Perkusi : Suara tympani
Auskultasi : Peristaltik 10x/ menit
12) Genetalia dan Anus
a. Pemeriksaan Genetelia :Terpasang kateter sejak tanggal 26 April 2016,
keadaan kateter bersih, genetalia bersih.
b. Pemeriksaan Anus : Colok dubur menunjukkan pembesaran prostat,
batas atas teraba, konsistensi kenyal, tidak ada nodul.

ANALISA DATA

No. Data Problem Etiologi

1. Ds : Nyeri akut agens cedera fisik


- Klien mengatakan nyeri pada (pembedahan)
luka bekas operasi pada perut
bagian bawah
- Nyeri saat BAK
- Nyeri seperti tertusuk-tusuk
- Nyeri terasa terus-menerus
Do :
- TTV
TD : 140/90 mmHg,
RR : 18 x/ menit,
N : 86 x/ menit,
S : 360 C
- Skala nyeri 6
- Luka pembedahan daerah
suprapubis,
- Panjang luka ± 5 cm dan
terdapat ± 5 jahitan.

34
3. Ds : Resiko infeksi Prosedur invasive
- Pasien mengatakan kalau trauma,
badannya terasa lemah dan pembedahan,
dalam kegiatan sehari-hari peningkatan
masih dibantu keluarga. paparan
Do : lingkungan
- TTV
TD: 140/90 mmHg,
RR: 18 x/ menit,
N: 86 x/ menit,
S: 360 C.
- Pasien tampak lemah
berbaring di tempat tidur
- Pasien terpasang threeway
kateter selama 6 – 24 jam
setelah operasi.

3.3 Diagnosis
1. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera fisik (pembedahan)
2. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasive trauma, pembedahan,
peningkatan paparan lingkungan.

3.4 Intervensi
No Diagnosa Tujuan dan kriteria hasil (NOC) Intervensi (NIC)
Setelah dilakukan tindakan 1. Pemberian Analgesik
keperawatan 3x24 jam klien dapat - Tentukan lokasi,
Nyeri akut mengontrol nyeri dari skala 2 (jarang karakteristik, kualitas
berhubungan dengan menunjukkan) menjadi skala 4 dan keparahan nyeri
1 agens cedera fisik (sering menunjukkan) dengan sebelum mengobati
(pembedahan) kriteria hasil : pasien
1. Mengenali kapan nyeri terjadi - Cek perintah
pengobatan meliputi
obat, dosisi, dan

35
2. Menggunakan tindakan frekuensi obat
pengurangan nyeri tanpa analgesik yang
analgesik diresepkan
3. Menggunakan analgesik yang - Cek adanya riwayat
direkomendasikan alergi obat
4. Melaporkan nyeri yang 2. Manajemen Nyeri
terkontrol - Lakukan pengkajuan
5. Skala 6 menurun menjadi skala nyeri komprehensif
2 yang meliputi lokasi,
karakteristik,
onset/durasi, frekuensi,
kualitas, intensitas atau
beratnya nyeri dan
faktor pencetus
- Gali pengetahuan dan
kepercayaan pasien
mengenai nyeri
- Dorong pasien untuk
memonitor dan
menangani nyeri
dengan tepat
3. Terapi relaksasi
- Gambarkan
rasionalisasi dan
manfaat relaksasi serta
jenis relaksasi yang
tersedia misal musik,
meditasi, bernafas
dengan ritme, relaksasi
rahang dan relaksasi
otot progresif
- Ciptakan lingkungan
yang tenang dan tanpa

36
distraksi dengan lampu
yang redup dan suhu
lingkungan yang
nyaman
- Dorong pasien untuk
mengambil posisi yang
nyaman
- Dorong klien untuk
mengulang praktek
teknik relaksasi
- Evaluasi dan
dokumentasikan respon
terhadap terapi
relaksasi
Setelah dilakukan tindakan 1. Kontrol infeksi
keperawatan 3x24 jam klien dapat - Ganti peralatan
mengontrol risiko dari skala 2 perawatan per pasien
(jarang menunjukkan) menjadi skala sesuai protokol institusi
4 (sering menunjukkan) dengan - Cuci tangan sebelum
kriteria hasil: dan sesudah kegiatan
Resiko infeksi 1. Mengidentifikasi faktor risiko perawatan pasien
berhubungan dengan 2. Mengembangkan strategi - Lakukan tindakan-
prosedur invasive pengendalian risiko yang efektif tindakan pencegehan
2 trauma, 3. Memodifikasi gaya hidup untuk yang bersifat iniversal
pembedahan, mengurangi risiko - Pastikan teknik
peningkatan paparan 4. Menghindari paparan ancaman perawatan luka yang
lingkungan kesehatan tepat
5. Menggunakan pelayanan - Gunakan kateterisasi
kesehatan kongruen dengan intermitten untuk
kebutuhan mengurangi kejadian
6. Mengakui perubahan status infeksi kandung kemih
kesehatan - Ajarkan pasien dan
keluarga mengenai

37
tanda dan gejala infeksi
dan kapan harus
melaporkan
- Ajarkan pasien dan
anggota keluarga
mengeneai bagaimana
menghindari infeksi
2. Perawatan luka
- Monitor karakteristik
luka, termasuk
drainase, warna, ukuran
dan bau
- Bersihkan dengan
normal saline atau
pembersih yang tidak
beracun dengan tepat
- Pertahankan teknik
balutan steril ketika
melakukan perawatan
luka dengan tepat
- Periksa luka setiap kali
perubahan balutan
- Bandingkan dan catat
seiap perubahan luka
- Anjurkan pasien atau
anggota keluarga pada
prosedur perawatan
luka
- Dokumentasikan lokasi
luka, ukuran dan
tampilan

38
3.5 Implementasi
No Diagnosa Implementasi
1. Pemberian Analgesik
- Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas dan keparahan
nyeri sebelum mengobati pasien
- Cek perintah pengobatan meliputi obat, dosisi, dan
frekuensi obat analgesik yang diresepkan
- Cek adanya riwayat alergi obat
2. Manajemen Nyeri
- Lakukan pengkajuan nyeri komprehensif yang meliputi
lokasi, karakteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas,
intensitas atau beratnya nyeri dan faktor pencetus
- Gali pengetahuan dan kepercayaan pasien mengenai
nyeri
Nyeri akut b.d agens - Dorong pasien untuk memonitor dan menangani nyeri
1.
cedera fisik (pembedahan) dengan tepat
3. Terapi relaksasi
- Gambarkan rasionalisasi dan manfaat relaksasi serta
jenis relaksasi yang tersedia misal musik, meditasi,
bernafas dengan ritme, relaksasi rahang dan relaksasi
otot progresif
- Ciptakan lingkungan yang tenang dan tanpa distraksi
dengan lampu yang redup dan suhu lingkungan yang
nyaman
- Dorong pasien untuk mengambil posisi yang nyaman
- Dorong klien untuk mengulang praktek teknik relaksasi
- Evaluasi dan dokumntasikan respon terhadap terapi
relaksasi
Resiko infeksi b.d 1. Kontrol infeksi
prosedur invasive trauma, - Ganti peralatan perawatan per pasien sesuai protokol
2.
pembedahan, peningkatan institusi
paparan lingkungan

39
- Cuci tangan sebelum dan sesudah kegiatan perawatan
pasien
- Lakukan tindakan-tindakan pencegehan yang bersifat
iniversal
- Pastikan teknik perawatan luka yang tepat
- Gunakan kateterisasi intermitten untuk mengurangi
kejadian infeksi kandung kemih
- Ajarkan pasien dan keluarga mengenai tanda dan gejala
infeksi dan kapan harus melaporkan
- Ajarkan pasien dan anggota keluarga mengeneai
bagaimana menghindari infeksi
2. Perawatan luka
- Monitor karakteristik luka, termasuk drainase, warna,
ukuran dan bau
- Bersihkan dengan normal saline atau pembersih yang
tidak beracun dengan tepat
- Pertahankan teknik balutan steril ketika melakukan
perawatan luka dengan tepat
- Periksa luka setiap kali perubahan balutan
- Bandingkan dan catat seiap perubahan luka
- Anjurkan pasien atau anggota keluarga pada prosedur
perawatan luka
- Dokumentasikan lokasi luka, ukuran dan tampilan

3.6 Evaluasi

No. Diagnosa Evaluasi Paraf


Keperawatan
S:
Nyeri akut b.d agens - Pasien mengatakan bahwa nyeri dapat
1. cedera fisik terkontrol
(pembedahan) - Pasien mengatakan nyeri biasanya
ketika BAK

40
- Pasien mengatakan menggunakan obat
analgesik yang disarankan dokter
- Pasien mengatakan juga menggunakan
teknik pengalihan nyeri non
farmakologi seperti : distraksi (Terapi
musik, menonton TV) dan Relaksasi.
O:
- Skala nyeri 6 menjadi skala nyeri 2
A:
- Masalah teratasi
P:
- Rencana keperawatan dihentikan
S:
- Pasien mengatakan dapat mengenali
faktor-faktor risiko penyakit
- Pasien mengatakan dapat menggunakan
strategi pengendalian risiko yang efektif
- Pasien mengatakan dapat memodifikasi
gaya hidup untuk mengurangi risiko
- Pasien mengatakan dapat menghindari
Resiko infeksi b.d
paparan ancaman kesehatan
prosedur invasive
- Mengakui perubahan status kesehatan
2. trauma, pembedahan,
O:
peningkatan paparan
- Pasien mampu memodifikasi gaya
lingkungan
hidupnya sendiri untuk mengurangi
risiko
- Pasien mempraktekkan kegiatan apa
yang telah diajarkan oleh perawat
A:
- Masalah teratasi
P:
- Rencana keperawatan dihentikan

41
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Menurut Wibowo dan Paryana (2009). Kelenjar prostat terletak dibawah kandung
kemih, mengelilingi uretra posterior dan disebelah proksimalnya berhubungan dengan buli-
buli, sedangkan bagian distalnya kelenjar prostat ini menempel pada diafragma urogenital
yang sering disebut sebagai otot dasar panggul. Fisiologi prostat adalah suatu alat tubuh
yang tergantung kepada pengaruh endokrin. Pengetahuan mengenai sifat endokrin ini
masih belum pasti. Bagian yang peka terhadap estrogen adalah bagian tengah, sedangkan
bagian tepi peka terhadap androgen. BPH (Benigna Prostat Hyperplasi) adalah pembesaran
progresif dari kelenjar prostat yang dapat menyebabkan obstruksi dan ristriksi pada jalan
urine (urethra).
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti etiologi/penyebab terjadinya BPH,
namun beberapa hipotesis menyebutkan bahwa BPH erat kaitannya dengan peningkatan
kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses menua. Terdapat perubahan mikroskopik pada
prostat telah terjadi pada pria usia 30-40 tahun. Bila perubahan mikroskopik ini
berkembang, akan terjadi perubahan patologik anatomi yang ada pada pria usia 50 tahun,
dan angka kejadiannya sekitar 50%, untuk usia 80 tahun angka kejadianya sekitar 80%, dan
usia 90 tahun sekitar 100%. (Purnomo, 2011)
Obstruksi prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun keluhan
diluar saluran kemih. Menurut Purnomo (2011) dan tanda dan gejala dari BPH yaitu :
keluhan pada saluran kemih bagian bawah, gejala pada saluran kemih bagian atas, dan
gejala di luar saluran kemih.
Penatalaksanaan medis pada BPH mencakup medis, farmakologi dan bedah. Dan
komplikasi dari BPH mencakup Urinary traktus, Retensi urin akut, Obstruksi dengan
dilatasi uetra, dan Hydronefrosis dan gangguan fungsi ginjal.

4.2 Saran
Dengan adanya makalah ini penulis berharap dapat menambah pengetahuan para pembaca
mengenai Keperawatan Medikal Bedah III tentang Gangguan Sistem Perkemihan BPH
(Benign Prostatic Hypertrophy). Kritik dan saran penulis harapkan bagi para pembaca
untuk kebaikan dan kesempurnaan makalah.

42
DAFTAR PUSTAKA

Purnomo, B. 2011. Dasar-dasar Urologi,. Jakarta: Sagung Seto

Wibowo, D dan Paryana, W. 2009. Anatomi Tubuh Manusia. Yogyakarta: Graha Ilmu

Brunner & Suddarth. 2013. Keperwatan Medikal Bedah Vol 1. Jakarta: EGC

Bradway, Christine dkk. 2013. Transitional Care for Patient With Benign Prostatic
Hyperplasia and Recurrent Urinary Tract Infections.

43