Anda di halaman 1dari 14

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN

KEJANG DEMAM

Makalah

Ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Anak

KELOMPOK XII :

Asep Gunawan Rika Nurhasanah

Bobi Tri A Ruhama A’yunindina

Hasna Fitria Sindi Ramadhanti

Neng Sinta Purwanti Tri Renaldi Sobandi

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SUKABUMI

Kampus 1: Jl. Karamat No. 36 Tlp. (0266)210215 Kota Sukabumi

2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini tepat waktu.

Adapun makalah tentang “Konsep Keperawatan pada Anak dengan


Kejang Demam” ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya
dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat mempelancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan terimakasih kepada semua pihak
yang telah membantu makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada
kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena
itu mohon kritik dan sarannya tentang makalah ini.

Sukabumi, 05 Juni 2018

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..............................................................................................................1

DAFTAR ISI .............................................................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................4

A. Latar Belakang ..............................................................................................................4

B. Rumusan Masalah.........................................................................................................5

C. Tujuan ............................................................................................................................5

BAB II PEMBAHASAN ..........................................................................................................6

A. Pengertian Kejang Demam ..........................................................................................6

B. Etiologi ...........................................................................................................................6

C. Patofisiologi....................................................................................................................6

D. Klasifikasi Kejang Demam ...........................................................................................8

E. Manifestasi Klinis ..........................................................................................................8

F. Pemeriksaan Diagnostik ............................................. Error! Bookmark not defined.

G. Penatalaksanaan Terapeutik .................................. Error! Bookmark not defined.

D. Penatalaksanaan Perawatan ...................................... Error! Bookmark not defined.

1. Pengkajian ................................................................ Error! Bookmark not defined.

2. Diagnosa Keperawatan ........................................... Error! Bookmark not defined.

3. Intervensi Keperawatan.......................................... Error! Bookmark not defined.

BAB III PENUTUP ................................................................ Error! Bookmark not defined.

A. Kesimpulan .................................................................. Error! Bookmark not defined.

B. Saran ............................................................................ Error! Bookmark not defined.

DAFTAR PUSTAKA ............................................................. Error! Bookmark not defined.

2
3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
kejang demam adalah bangkitan kejang pada bayi dan anak,biasanya
terjadi antara umur 3 tahun atau 5 tahun, berhubungan dengan demam tapi
tidak terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu. Anak
yang pernah kejang tanpa demam dan bayi yang berumur kurang dari 4
minggu tidak termasuk dalam kejang demam. Kejang demam harus
dibedakan dengan epilepsi yaitu yang ditandai dengan kejang berulang
tanpa demam.
Sebagian besar kejang demam sudah berhenti pada saat anak diibawa
kerumah sakit. Akan tetapi, jika kejang terus berlanjut,terapi terdiri atas
pengendalian kejang dengan pemberian diazepam (valium) dan penurunan
suhu dengan pemberian asetaminofen. Pada anak-anak yang mengalami
demam kejang biasa , terapi profilaksis antileptik tidak dianjurkan.
Intervensi yang paling sering adalah penyuluhan kepada orang tua dan
dukungan emosional (American Academy of Pediactric, 1999). Sedikit
resiko defisit neorologi,epilepsi, retardasi mental,atau perubahan perilaku
pernah terlihat sebagai lanjutan serangan kejam demam.
Orang tua memerlukan informasi yang menenangkan mereka bahwa
kejang demam merupakan keaadaan yang sifatnya tidak berbahaya
(hampir 95% anak-anak dengan kejang demam tidak akan mengalami
epilepsi atau kerusakan neurologik). Orang tua harus diinformasikan
bahwa anak mereka tidak akan meninggal dunia pada saat mengalami
kejang demam. Mereka juga memerlukan penyuluhan mengenai cara
melindungi anak terhadap ancaman bahaya dan mengamati dengan tepat
apa yang terjadi pada anak selama kejadian tersebut. Upaya menurunkan
suhu tubuh dengan asetaminofen atau menggunakan diazepam untuk
mencegah serangan kejang tidak bermanfaat pada sebagian besar anak
(Uhari dkk, 1995). Mandi air hangat tidak efektif untuk menurunkan suhu

4
tubuh yang signifikan, efek menggigil akan lebih meningkatkan haluaran
metabolik,dan upaya mendingkan tubuh anak mengganggu kenyamanan
anak.

B. Rumusan Masalah
Adapun hal yang perlu diketahui dalam pembuatan makalah ini adalah
sebagai berikut.

1. Apa yang dimaksud dengan kejang demam?


2. Bagaimana tanda dan gejala pada kejang demam?
3. Bagaimana peran perawat dalam menangani pasien kejang
demam?

C. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan
informasi tentang asuhan keperawatan pada anak dengan kejang demam
yang diantaranya adalah mengetahui apa yang dimaksud dengan kejang
demam, tanda dan gejala, serta peran perawat dalam menangani pasien
kejang demam itu sendiri.

5
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kejang Demam
Kejang demam merupakan gangguan transein pada anak-anak yang
terjadi bersamaan dengan demam. Keaadaan ini merupakan salah satu
gangguan neurologik yang paling sering dijumpai pada masa kanak-kanak
dan menyerang sekitar 4% anak. Kebanyakan serangan kejang demam
terjadi setelah usia 6 bulan dan biasanya sebelum usia 3 tahun dengan
peningkatan frekuensi serangan pada anak-anak yang berusia kurang dari
18 bulan. Kejang demam jarang terjadi setelah usia 5 tahun. Anak laki-laki
lebih sering dibandingkan anak perempuan,dan terdapat peningkatan
kerentanan keluarga yang menunjukan kemungkian adanya predisposisi
genetik. Sebagaian berlangsung kurang dari 5 menit ( farwell dkk, 1994 ).
Sekitar 30% sampai 40% anak-anak akan mengalami satu kali
kekambuhan.
Penyebab kejang demam masih belum dapat dipastikan. Pada bagian
besar anak,tinginya suhu tubuh,bukan kecepatan kenaikan suhu,menjadi
faktor pencetus serangan kejang demam. Biasanya suhu kejang demam
lebih dari 38,8o C dan terjadi pada saat suhu tubuh naik dan bukan pada
saat suhu tubuh naik dan bukan pada setelah terjadinya kenaikan suhu
yang lama. Kadang-kadang kejadian ini menajdi petunjuk awal terjadinya
sakit yang dramatis. Kejang demam biasanya menyertai infeksi saluran
nafas atau infeksi gastrointestinal.walaupun vaksin pertusis tidak
menyebabkan kejang demam,imunisasi ini merupakan faktor pencetus
serangan awal kejang demam pada anak – anak yang mudah menderita
kejang demam (Cherry dkk,1993).

B. Etiologi
Demam merupakan faktor pencetus terjadinya kejang demam pada
anak. Demam sering disebabkan oleh berbagai penyakit infeksi seperti
infeksi saluran pernafasan akut,otitis media akut,gastroenteritis,bronkotis,

6
infeksi saluran kemih dan lain-lain, setiap anak memiliki ambang kejang
yang berbeda, kejang tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi. Pada anak
dengan ambang kejang yang rendah, serangan kejang telah terjadi pada
suhu 38oC bahkan kurang. Sedangkan pada anak dengan ambang kejang
tinggi, serangan kejang baru terjadi pada suhu 40oC bahkan lebih.

C. Patofisiologi
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau otak diperlukan
energi yang didapat dari metabolisme. Untuk metabolisme otak yang
terpenting adalah glukosa dan melaui suatu proses oksidasi. Dalam proses
tersebut diperlukan oksiden yang disediakan melalui perantaraan paru-
paru.oksigen dari paru-paru ini diteruskan ke otak melalui sistem
kardivaskular. Suatu sel,khususnya sel otak atau neuron dalam hal
ini,dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari membran permukaan
dalam dan membran permukaan luar. Membran permukaan dalam bersifat
lipoid, sedangkan membran permukaan luar bersifat ionik. Dalam keadaan
normal membran sel neuron dapat dengan mudah dilalui ion kalium (K+)
dan sangat sulit dilaui oleh ion natrium (Na+) dan elektrolit lainnya,kecuali
oleh ion klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K+ dalam neuron tinggi dan
knosenttrasi Na+ rendah,sedangkan di luar neuron terdapat keadaan
sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan
diluar neuron, maka terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial
membran neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini
diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-ATP pase yang terdapat pada
permukaan sel. Keseimbangan potensial membran tadi dapat beubah
karena adanya : perubahan konsentrasi ion diluar ekstraseluker.
Rangsangan yang datang mendadak seperti rangsangan
mekanis,kimiawi,atau aliran listrik dari sekitarnya, dan perubahan
patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan.

Pada keadaan demam kenaikan suhu 1o C akan mengakibatkan


kenaikan metabolisme basal 10-15% dan meningkatnya kebutuhan oksigen

7
sebesar 20%. Pada seorang anak usia 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65%
dari seluruh sirkulasi tubuh ,dibandingkan dengan orang dewasa yang
hanya 15%. Jadi kenaikan suhu tubuh pada seorang anak dapat mengubah
keseimbangan membrans sel neuron dan dalam waktu singkat terjadi
difusi ion kallium dan ion Natrium melaui membran tersebut sehingga
mengakibatkan terjadinya lepas muatan listrik. Lepasnya muatan listrik ini
demikian besar sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun ke mebran
sel lain yang ada didekatnya dengan perantaraan neurotransmitter sehingga
terjadi kejang.

D. Klasifikasi Kejang Demam


Kejang demam dapat di golongkan menjadi dua yaitu:
1. Kejang demam sederhana (KDS)
Jika kejang berlangsung kurang dari 15 menit bersifat umum
(kejang seluruh tubuh) dan tidak berulang dalam 24 jam
2. Kejang demam kompleks (KDK)
Jika kejang berlangsung lebih dari 15 menit atau fokal dan atau
multiple lebih dari 2x kejang dalam 24 jam

E. Manifestasi Klinis
Kejang demam berlangsung singkat, berupa serangan kejang klonik atau
tonik klonik bilateral. Seringkali kejang berhenti sendiri. Setelah kejang
berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah
beberapa detik atau menit anak terbangun dan sadar kembali tanpa defisit
neurologis. Adapun tanda- tanda kejang demam meliputi :
a. Demam yang biasanya di atas (38,9 º C)
b. Jenis kejang (menyentak atau kaku otot)
c. Gerakan mata abnormal (mata dapat berputar-putar atau ke atas)
d. Suara pernapasan yang kasar terdengar selama kejang
b. Penurunan kesadaran
c. Kehilangan kontrol kandung kemih atau pergerakan usus
d. Muntah

8
e. Dapat menyebabkan mengantuk atau kebingungan setelah kejang
dalam waktu yang singkat (Lyons, 2012)
F. Pemeriksaan Diagnostik
Beberapa pemeriksaan penunjang yang diperlukan dalam mengevaluasi
kejang demam, diantaranya sebagai berikut :
a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan ini tidak dikerjakan secara rutin pada kejang
demam, tetapi dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi
penyebab demam, atau keadaan lain misalnya gastroenteritis dehidrasi
disertai demam. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dikerjakan
misalnya darah perifer, elektrolit, gula darah dan urinalisis (Saharso et
al., 2009). Selain itu, glukosa darah harus diukur jika kejang lebih lama
dari 15 menit dalam durasi atau yang sedang berlangsung ketika pasien
dinilai (Farrell dan Goldman, 2011).
b. Pungsi lumbal
Pemeriksaan cairan serebrospinal dengan pungsi lumbal
dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis, terutama
pada pasein kejang demam pertama. Pungsi lumbal sangat dianjurkan
untuk bayi kurang dari 12 bulan, bayi antara 12 - 18 bulan dianjurkan
untuk dilakukan dan bayi > 18 bulan tidak rutin dilakukan pungsi
lumbal. Pada kasus kejang demam hasil pemeriksaan ini tidak berhasil
(Pusponegoro dkk, 2006).
c. Elektroensefalografi (EEG)
Pemeriksaan ini tidak direkomendasikan setelah kejang
demam sederhana namun mungkin berguna untuk mengevaluasi pasien
kejang yang kompleks atau dengan faktor risiko lain untuk epilepsi.
EEG pada kejang demam dapat memperlihatkan gelombang lambat di
daerah belakang yang bilateral, sering asimetris dan kadang-kadang
unilateral (Jonston, 2007).

d. Pencitraan (CT-Scan atau MRI kepala)

9
Foto X-ray kepala dan pencitraan seperti computed
tomography scan (CT-scan) atau magnetic resonance imaging (MRI)
jarang sekali dikerjakan dan dilakukan jika ada indikasi seperti
kelainan neurologis fokal yang menetap (hemiparesis) atau
kemungkinan adanya lesi struktural di otak (mikrosefali, spastisitas),
terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial (kesadaran menurun,
muntah berulang, UUB membonjol, paresis nervus VI, edema papil)
(Saharso et al., 2009).

10
BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN.M

DENGAN GANGGUAN NEUROLOGI KDK HARI KE- 1

DI RUANG ADE IRMA SURYANI RSUD SEKARWANGI

KAB SUKABUMI

I. PENGKAJIAN
A. Identitas Klien
1. Nama : An. M
2. Tempat tanggal lahir/usia : Sukabumi, 04 Desember 2016, 1 th
5 bulan
3. Jenis Kelamin : Laki-laki
4. Agama : Islam
5. Pendidikan : Belum Sekolah
6. Alamat : Kp. Lembur Tegal Rt 01/05 kec.
Caringin
7. Tanggal Masuk : 04 Mei 2018
8. Tanggal Pengkajian : 05 Mei 2018
9. Diagnosa Medik : Kejang Demam komplek
B. Identitas Orang Tua
1. Ayah
a. Nama : Tn S
b. Usia : 45 th
c. Pendidikan : SMU
d. Pekerjaan : Wiraswasta
e. Agama : Islam

11
f. Alamat : Kp. Lembur Tegal Rt 01/05 kec.
Caringin Kab. Sukabumi
2. Ibu
a. Nama : Ny. S
b. Usia : 40 th
c. Pendidikan : SMU
d. Pekerjaan : IRT
e. Agama : Islam
f. Alamat : Kp. Lembur Tegal Rt 01/05 Kec.
Caringin
C. Identitas saudara kandung
Ibu klien mengatakan anak tunggal

II. RIWAYAT KESEHATAN


a. Alasan Masuk Rs
+3 hari sebelum masuk Rs ibu klien mengatakan bahwa badan klien
panas di sertai kejang, klien sudah di berikan obat dari optik, namun
panasnya hanya turun sesaat. Setelah minum obat penurun panas, dan
kemudian panasnya naik di sertai kejang pada tanggal 04 mei 2018.
Akhirnya klien di bawa ke RSUD Sekarwangi oleh keluarganya melalui
IGD dari pemeriksaan dokter IGD, klien di anjurkan untuk rawat inap
dan mendapatkan perawatan khusus.
b. Keluhan Utama
Ibu klien mengatakan klien panas.
c. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada saat dilakukan pengkajian tanggal 05 mei 2018, ibu klien
mengatakan badan klien panas di sertai kejang, panas badan klien di
rasakan terus menurus setiap hari dan semakin meningkat panas dan
terjadi kejangnya pada saat malam hari, panas badan klien menurun
pada siang namun tidak mencapai suhu normal.
d. Riwayat Kesehatan Masa Lalu

12
Ibu klien mengatakan, klien sebelumnya pernah mengalami panas badan
dan sembuh setelah berobat ke bidan terdekat.
1. Riwayat Prenatal Care
Waktu hamil ibu klien sering memeriksakan kehamilannya ke bidan.
2. Riwayat Persalinan
Ibu klien melahirkan klien di bidan praktek mandiri secara normal,
matur, tidak ada gangguan.
3. Riwayat Post Natal
Ibu klien di rawat 1 hari di bidan Praktek Mandiri

13

Anda mungkin juga menyukai