Anda di halaman 1dari 16

RANCANGAN

PERATURAN GUBERNUR LAMPUNG


NOMOR ...... TAHUN 2017
TENTANG
TATA CARA PEMBERIAN PERSETUJUAN SUBSTANSI
RENCANA RINCI TATA RUANG KABUPATEN/KOTA
RANCANGAN PERATURAN GUBERNUR LAMPUNG

NOMOR ....... TAHUN 2017

TENTANG

TATA CARA PEMBERIAN PERSETUJUAN SUBSTANSI RENCANA


RINCI TATA RUANG KABUPATEN/KOTA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

GUBERNUR LAMPUNG,

Menimbang: a. bahwa dalam rangka pembinaan dan percepatan


pencapaian kinerja pelayanan penataan ruang
daerah Kabupaten/Kota serta sinkronisasi Rencana
Rinci Tata Ruang Kabupaten/Kota terhadap sistem
tata ruang Nasional, Provinsi dan Wilayah, Gubernur
memberikan persetujuan substansi Rencana Rinci
Tata Ruang Kabupaten/Kota sesuai Peraturan
Menteri Agraria dan Tata Ruang Nomor 8 Tahun
2017 tentang Pedoman Pemberian Persetujuan
Substansi Dalam Rangka Penetapan Peraturan
Daerah Tentang Rencana Tata Ruang Provinsi dan
Rencana Tata Ruang Kabupaten/Kota;
b. bahwa dalam rangka pelaksanaan pelimpahan
wewenang pemberian persetujuan substansi
Rencana Rinci Tata Ruang Kabupaten/Kota di
Provinsi Lampung berdasarkan Surat Keputusan
Menteri Pekerjaan Umum Nomor
326/KPTS/M/2014;
c bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu
menetapkan Peraturan Gubernur Lampung tentang
Mekanisme Persetujuan Substansi Rencana Rinci
Tata Ruang Kabupaten/Kota.

Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1964 tentang


Pembentukan Daerah Tingkat I Lampung (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1964 Nomor 95,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 2688);
2. Undang – Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);

1|Hala ma n
3. Undang – Undang Nomor 27 tahun 2007 tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau – Pulau Kecil
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4739) sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014
tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 27
Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 2, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5490);
4. Undang – Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011
Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Nomor
5234);
5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4833);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5103);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang
Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat dalam
Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2010 Nomor 118, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5160);
9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8
Tahun 2013 tentang Ketelitian Peta Rencana Tata
Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2013 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5393);
10. Peraturan Daerah Provinsi Lampung Nomor 1 Tahun
2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Provinsi Lampung Tahun 2009 Sampai Dengan
Tahun 2029 (Lembaran Daerah Provinsi Lampung
Tahun 2010 Nomor 1, Tambahan Lembaran Daerah
Provinsi Lampung Nomor 346);
11. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
20/PRT/M/2011 tentang Pedoman Penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi
Kabupaten/Kota (Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2011 Nomor 953);

2|Hala ma n
12. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala
Badan Pertanahan Nasional Nomor 8 Tahun 2017
tentang Pedoman Pemberian Persetujuan Substansi
Dalam Rangka Penetapan Peraturan Daerahn
Tentang Rencana Tata Ruang Provinsi dan Rencana
Tata Ruang Kabupaten/Kota (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2017 Nomor 966).

3|Hala ma n
MEMUTUSKAN:

Menetapkan:PERATURAN GUBERNUR TENTANG PEMBERIAN


PERSETUJUAN SUBSTANSI RENCANA RINCI TATA RUANG
KABUPATEN/KOTA.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam peraturan daerah ini, yang dimaksudkan dengan:


1. Daerah adalah Provinsi Lampung.
2. Pemerintah Daerah adalah Gubernur dan Perangkat Daerah sebagai
Unsur Penyelenggara Pemerintah Daerah.
3. Gubernur adalah Gubernur Lampung.
4. Kabupaten/Kota adalah Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung.
5. Bupati/Walikota adalah Bupati/Walikota di Provinsi Lampung.
6. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota yang selanjutnya
disebut DPRD Kabupaten/Kota adalah Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung.
7. Dinas adalah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi
Lampung.
8. Kepala Dinas adalah Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan
Ruang Provinsi Lampung.
9. Biro Hukum adalah Biro Hukum Sekretariat Daerah Provinsi
Lampung.
10. Peraturan Daerah yang selanjutnya disebut Perda adalah Peraturan
Daerah tentang Rencana Rinci Tata Ruang Kabupaten/Kota di Provinsi
Lampung.
11. Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah, yang selanjutnya disebut
BKPRD Provinsi Lampung adalah badan bersifat ad-hoc yang dibentuk
untuk mendukung pelaksanaan Undang-Undang Nomor 26 Tahun
2007 tentang Penataan Ruang di Provinsi Lampung dan mempunyai
fungsi membantu pelaksanaan tugas Gubernur dalam koordinasi
penataan ruang di daerah.
12. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang
udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah,
tempat manusia, dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan
memelihara kelangsungan hidupnya.
13. Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang.
14. Rencana Rinci Tata Ruang yang selanjutnya disebut RRTR adalah
hasil penjabaran dan merupakan alat operasional rencana umum tata
ruang yang dapat berupa rencana tata ruang kawasan strategis
dan/atau rencana detail tata ruang yang penetapan kawasannya
tercakup di dalam rencana tata ruang wilayah.
15. Kawasan Strategis Kabupaten/Kota yang selanjutnya disingkat KSK
adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena
mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kabupaten/Kota
terhadap ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, serta pendayagunaan
sumber daya alam dan teknologi tinggi.

4|Hala ma n
16. Rencana Detail Tata Ruang yang selanjutnya disingkat RDTR adalah
rencana terperinci tentang tata ruang wlayah kabupaten/kota yang
dilengkapi dengan peraturan zonasi kabupaten/kota.
17. Rancangan Peraturan Daerah yang selanjutnya disebut Rancangan
Perda kabupaten/kota adalah rancangan peraturan daerah
kabupaten/kota tentang rencana rinci tata ruang.
18. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
19. Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses untuk menentukan
struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan
penetapan rencana tata ruang.
20. Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem
jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung
kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki
hubungan fungsional.
21. Pola Ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah
yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan fungsi budi
daya.
22. Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang
dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan
dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya.
23. Izin Pemanfaatan Ruang adalah izin yang dipersyaratkan dalam
kegiatan pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
24. Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan
tertib tata ruang.
25. Peraturan Zonasi adalah ketentuan yang mengatur tentang
persyaratan pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendaliannya dan
disusun untuk setiap blok/zona peruntukan yang penetapan zonanya
dalam rinci tata ruang.
26. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta
unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek
administratif dan/atau aspek fungsional.
27. Kawasan Budi Daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi
utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber
daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.
28. Kawasan Lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi
utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup
sumber daya alam dan sumber daya buatan.
29. Prasarana adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan hunian yang
memenuhi standar tertentu untuk kebutuhan bertempat tinggal yang
layak, sehat, aman, dan nyaman.
30. Jaringan adalah keterkaitan antara unsur yang satu dan unsur yang
lain.
31. Zona adalah kawasan atau area yang memiliki fungsi dan karakteristik
spesifik.
32. Subzona adalah suatu bagian dari zona yang memiliki fungsi dan
karakteristik tertentu yang merupakan pendetailan dari fungsi dan
karakteristik pada zona yang bersangkutan.
33. Masyarakat adalah orang perseorangan, kelompok orang termasuk
masyarakat hukum adat, korporasi, dan/atau pemangku kepentingan
nonpemerintahan lain dalam penataan ruang.
34. Peran masyarakat adalah partisipasi aktif dalam perencanaan tata
ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.

5|Hala ma n
BAB II
MAKSUD, TUJUAN DAN RUANG LINGKUP
Pasal 2

(1) Maksud penetapan peraturan Gubernur ini adalah tersedianya payung


hukum dan pedoman tata cara pemberian persetujuan substansi oleh
Gubernur terhadap RRTR Kabupaten/Kota.
(2) Peraturan Gubernur ini bertujuan agar RRTR Kabupaten/Kota yang
ditetapkan dalam Perda disusun sesuai dengan kaidah teknis bidang
penataan ruang sehingga terwujud suatu RRTR yang berkualitas serta
terpadu dan komplementer terhadap hierarki RTR di atasnya.

Pasal 3

(1) Ruang lingkup Peraturan Gubernur ini mengatur Tata Cara pemberian
Persetujuan Substansi pada rancangan Perda tentang RRTR.
(2) Rancangan Perda tentang RRTR sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
terdiri atas RTR KSK dan RDTR Kabupaten/Kota.
(3) Rancangan Perda tentang RRTR sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berlaku juga untuk RRTR yang direvisi.

BAB III
TATA CARA PEMBERIAN PERSETUJUAN SUBSTANSI

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 4
(1) Tata Cara pemberian persetujuan substansi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3 ayat (1) meliputi:
a. persiapan pemberian persetujuan substansi rancangan Perda
RRTR; dan
b. pelaksanaan pemberian persetujuan substansi rancangan Perda
RRTR.
(2) Tata Cara pemberian persetujuan substansi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) digambarkan dalam bagan alir sebagaimana termuat
dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Gubernur ini.

Bagian Kedua
Persiapan Pemberian Persetujuan Substansi
Pasal 5

(1) Persiapan pemberian persetujuan substansi sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a dilakukan dengan penetapan
Keputusan Gubernur tentang pelimpahan kewenangan
penandatanganan surat Rekomendasi Gubernur kepada Sekretaris
Daerah.
(2) Surat rekomendasi Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditandatangani oleh sekretaris daerah atas nama Gubernur yang wajib
dilampirkan dalam pengajuan persetujuan substansi rancangan Perda
RRTR.

6|Hala ma n
(3) Keputusan Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) termuat
dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Gubernur ini.
(4) Rekomendasi Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) termuat
dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Gubernur ini.

Bagian Ketiga
Pelaksanaan Pemberian Persetujuan Substansi
Pasal 6

Pelaksanaan pemberian persetujuan substansi sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 4 ayat (1) huruf b meliputi;
a. pengajuan rancangan Perda tentang RRTR;
b. evaluasi materi muatan teknis rancangan Perda tentang RRTR;
c. pembahasan BKPRD terkait rancangan Perda tentang RRTR;
d. penerbitan rekomendasi Gubernur; dan
e. pemberian persetujuan substansi rancangan Perda RRTR.

Paragraf 1
Pengajuan Rancangan Perda RRTR

Pasal 7

(1) Pengajuan rancangan Perda RRTR sebagaimana dimaksud dalam


pasal 6 huruf a merupakan rancangan Perda yang telah:
a. dibahas dalam Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah
Kabupaten/Kota;
b. dibahas antara Pemerintah Kabupaten/Kota dengan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota guna disepakati untuk
diajukan kepada Gubernur dalam rangka mendapatkan
rekomendasi Gubernur dan persetujuan substansi; dan
c. diperiksa secara mandiri oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
sesuai dengan hasil pembahasan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a dan huruf b serta peraturan perundang-undangan bidang
penataan ruang.
(2) Pemeriksaan mandiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
dibuktikan dengan surat pernyataan kepala daerah yang menyatakan
bertanggung jawab terhadap kualitas rancangan Perda tentang RTR.
(3) Dalam hal pengajuan persetujuan substansi rancangan Perda tentang
RRTR kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
mendapatkan rekomendasi Gubernur.
(4) Pemeriksaan mandiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
dituangkan dalam tabel pemeriksaan mandiri.
(5) Pemeriksaan mandiri sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disertai
dengan ringkasan penilaian mandiri yang dibuat oleh pemerintah
daerah.
(6) Tabel pemeriksaan mandiri sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan
tabel ringkasan penilaian mandiri sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) tercantum dalam Lampiran IV dan Lampiran V yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Gubernur ini.

7|Hala ma n
Pasal 8

(1) Rancangan Perda tentang RRTR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7


diajukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang selanjutnya
disebut pemohon kepada Gubernur dengan menyertakan dokumen
kelengkapan administrasi.
(2) Dokumen kelengkapan administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) meliputi;
a. Surat permohonan rekomendasi Gubernur dan persetujuan
substansi dari Bupati/Walikota sebagaimana termuat dalam
Lampiran VI yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Gubernur ini;
b. Berita acara pembahasan Badan Koordinasi Penataan Ruang
Daerah Kabupaten/Kota;
c. Berita acara kesepakatan pengajuan persetujuan substansi
antara pemerintah kabupaten/kota dengan DPRD
kabupaten/kota;
d. Surat penetapan deliniasi kawasan strategis/RDTR
kabupaten/kota oleh bupati/walikota atau pejabat eselon II yang
diberi kewenangan mengatasnamakan bupati/walikota;
e. Dokumen peraturan daerah tentang rencana tata ruang wilayah
kabupaten/kota (format softcopy dan hardcopy, untuk peta
format *shp);
f. Rancangan peraturan daerah tentang RRTR (format softcopy dan
hardcopy);
g. Naskah akademik (format softcopy dan hardcopy);
h. Materi teknis yang terdiri dari buku rencana dan fakta analisa
(format softcopy dan hardcopyi);
i. Album peta (dalam format *shp);
i. peta dasar;
ii. peta tematik; dan
iii. peta rencana
j. Surat pernyataan dari bupati/walikota bertanggung jawab
terhadap kualitas rancangan perda tentang RRTR;
k. Berita acara konsltasi publik (minimal 2 (dua) kali);
l. Berita acara dengan kabupaten/kota yang berbatasan (jika ada);
m. Berita acara dari Badan Informasi Geospatial (BIG) perihal
pernyataan peta dasar yang telah siap dilanjutkan untuk proses
persetujuan substansi; dan
n. Dokumen kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) yang sudah
divalidasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Pasal 9

(1) Dokumen kelengkapan administrasi sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 8 disampaikan melalui sekretariat BKPRD.
(2) Sekretariat BKPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melakukan
pemeriksaan terhadap kelengkapan dokumen administrasi.
(3) Apabila pemeriksaan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
telah memenuhi persyaratan maka dokumen kelengkapan
administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 disampaikan
kepada Kepala Bidang Penataan Ruang pada dinas yang
menyelenggarakan urusan bidang penataan ruang.

8|Hala ma n
(4) Dalam hal pemeriksaan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) tidak memenuhi persyaratan maka dokumen kelengkapan
administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dikembalikan
kepada pemohon untuk dilengkapi.

Paragraf 2
Evaluasi Materi Muatan Teknis
Rancangan Perda Tentang RRTR

Pasal 10

(1) Kepala Bidang Penataan Ruang menindaklanjuti dokumen


kelengkapan administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat
(3) dengan melakukan evaluasi materi rancangan Perda tentang RRTR.
(2) Evaluasi materi rancangan Perda tentang RRTR sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tahapan:
a. evaluasi dan klarifikasi materi rancangan Perda tentang RRTR; dan
b. perbaikan hasil evaluasi substansi rancangan Perda tentang RRTR.

Pasal 11

(1) Evaluasi materi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf
a dilakukan dengan memperhatikan paling sedikit substansi yang
memuat:
a. kebijakan strategis nasional dan provinsi;
b. ruang terbuka hijau publik (untuk kawasan perkotaan di kabupaten
dan kota);
c. peruntukan kawasan hutan;
d. lahan pertanian pangan berkelanjutan;
e. mitigasi bencana; dan
f. kesesuaian dengan pedoman penyusunan rencana rinci tata ruang.
(2) Klarifikasi materi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2)
huruf a dilakukan kepada pemohon berdasarkan hasil evaluasi materi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Evaluasi materi dan klarifikasi materi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan oleh Bidang Penataan Ruang paling
lama 7 (tujuh) hari kerja.
(4) Evaluasi materi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan
dalam tabel evaluasi rancangan Perda tentang RRTR.
(5) Tabel evaluasi rancangan Perda tentang RRTR sebagaimana dimaksud
pada ayat (4) tercantum dalam Lampiran VII yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dari Peraturan Gubernur ini.

Pasal 12

(1) Apabila pelaksanaan evaluasi dan klarifikasi materi telah sesuai


dengan muatan substansi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat
(1), rancangan Perda tentang RRTR ditindaklanjuti dengan
Pembahasan BKPRD Provinsi Lampung.

9|Hala ma n
(2) Dalam hal pelaksanaan evaluasi dan klarifikasi materi belum sesuai
dengan muatan substansi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat
(1), rancangan Perda tentang RRTR dikembalikan kepada pemohon
untuk diperbaiki.
(3) Pengembalian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuat secara
tertulis dan disertai dengan alasan pelaksanaan evaluasi dan
klarifikasi materi.
(4) Perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kembali
kepada Bidang Penataan Ruang paling lama 20 (dua puluh) hari kerja
sejak diterimanya penyampaian secara tertulis sebagaimana dimaksud
pada ayat (3).

Pasal 13

(1) Dalam hal Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota tidak dapat memenuhi


jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam pasal 12 ayat (4), proses
Persetujuan Substansi tidak dapat dilanjutkan.
(2) Dalam hal proses tidak dapat dilanjutkan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) Bidang Penataan Ruang menyampaikan surat
pengembalian disertai dokumen kelengkapan administrasi kepada
Kepala Daerah Kabupatan/Kota c.q. Kepala Badan atau Dinas yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah bidang penataan
ruang.
(3) Penyampaian surat pengembalian sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) paling lama 2 (dua) hari kerja setelah batas waktu pengembalian
perbaikan oleh daerah.
(4) Dalam hal terjadi pengembalian sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
Pemohon harus menindaklanjuti dengan melakukan pengajuan
kembali Persetujuan Substansi Rancangan Perda tentang RRTR
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8.
(5) Surat pengembalian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tercantum
dalam Lampiran VIII yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Gubernur ini.

Paragraf 3
Pembahasan BKPRD Provinsi Lampung Terkait Rancangan Perda
Tentang RRTR

Pasal 14

(1) Pembahasan BKPRD Provinsi Lampung terkait rancangan Perda


tentang RRTR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1)
dilakukan untuk memeriksa kesesuaian materi dan informasi spasial
rancangan Perda tentang RRTR terhadap peraturan perundang-
undangan bidang penataan ruang, kebijakan nasional, dan kebijakan
provinsi.
(2) Pembahasan BKPRD Provinsi Lampung sebagaimana dikamksud pada
ayat (1) dilaksanakan melalui tahapan:
a. Persiapan; dan
b. Pelaksanaan

10 | H a l a m a n
Pasal 15

(1) Persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) huruf a


dilaksanakan oleh Sekretariat BKPRD Provinsi Lampung yang
dilakukan dengan mengirimkan surat undangan beserta materi rapat
kepada anggota BKPRD Provinsi Lampung, dan atau
Kementerian/Lembaga jika diperlukan.
(2) Surat undangan beserta materi rapat sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dikirimkan paling lama 5 (lima) hari kerja sebelum
pelaksanaan Pembahasan BKPRD Provinsi Lampung.
(3) Materi rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. rancangan Perda RRTR;
b. album peta;
c. tabel pemeriksaan mandiri;
d. materi teknis berupa buku rencana dan fakta analisis; dan
e. dokumen kajian lingkungan hidup strategis.

Pasal 16

(1) Pelaksanaan Pembahasan BKPRD sebagaimana dimaksud dalam Pasal


14 ayat (2) huruf b dipimpin oleh Ketua BKPRD atau yang mewakili.
(2) Pelaksanaan pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling
lama 2 (dua) hari kerja.
(3) Hasil pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dituangkan
dalam Berita Acara Pelaksanaan Pembahasan sebagaimana tercantum
dalam Lampiran IX yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Gubernur ini.

Pasal 17

(1) Hasil Pembahasan BKPRD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16


ayat (3) ditindaklanjuti dengan perbaikan rancangan Perda tentang
RRTR.
(2) Perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh
pemohon paling lama 14 (empat belas) hari kerja.
(3) Pemohon menyerahkan kembali rancangan Perda tentang RRTR yang
telah dilakukan perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) untuk
ditindaklanjuti dengan proses pemberian rekomendasi Gubernur dan
pemberian persetujuan substansi.
(4) Dalam hal pemohon tidak dapat memenuhi jangka waktu sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), rancangan Perda tentang RRTR dinyatakan
tidak dapat diproses lebih lanjut.
(5) Dalam hal proses tidak dapat dilanjutkan sebagaimana dimaksud
pada ayat (4) Sekretariat BKPRD menyampaikan surat pengembalian
disertai dokumen kelengkapan kepada Kepala Daerah c.q. Kepala
Badan atau Dinas yang menyelenggarakan urusan pemerintahan
daerah bidang penataan ruang,
(6) Surat pengembalian sebagaimana dimaksud pada ayat (5)
disampaikan paling lama 2 (dua) hari kerja setelah batas waktu
penyempurnaan rancangan Perda tentang RRTR.
(7) Dalam hal terjadi pengembalian sebagaimana dimaksud pada ayat (5),
Pemohon harus menindaklanjuti dengan melakukan pengajuan
kembali Persetujuan Substansi Rancangan Perda tentang RRTR
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8.

11 | H a l a m a n
Paragraf 4
Pemberian Rekomendasi Gubernur

Pasal 18

(1) Kepala Bidang Penataan Ruang menyampaikan rancangan Perda


tentang RRTR sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 ayat (3) kepada
Sekretaris Daerah.
(2) Rancangan perda tentang RRTR sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilengkapi dengan:
a. tabel pemeriksaan mandiri;
b. tabel hasil evaluasi rancangan Perda tentang RRTR;
c. album peta;
d. berita acara Pembahasan BKPRD; dan
e. dokumen kelengkapan administrasi sebagaimana dimaksud dalam
pasal 8 ayat (2).
(3) Sekretaris daerah atas nama Gubernur menandatangani surat
rekomendasi Gubernur.
(4) Penerbitan surat rekomendasi Gubernur oleh sekretaris daerah
dilakukan paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak
penyampaian rancangan perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Paragraf 5
Penetapan Persetujuan Substansi Rancangan Perda Tentang RRTR

Pasal 19

(1) Proses penetapan Persetujuan Substansi terhadap rancangan Perda


tentang RRTR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3)
diberikan berdasarkan hasil Pembahasan BKPRD yang telah diperbaiki.
(2) Rancangan Perda tentang RRTR sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilengkapi dengan dokumen sebagaimana dimaksud dalam pasal 18
ayat (2) beserta surat rekomendasi Gubernur.
(3) Rancangan Perda beserta kelengkapan dokumen sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) disampaikan oleh Bidang Penataan Ruang
kepada Gubernur.
(4) Gubernur memberikan Persetujuan Substansi terhadap rancangan
Perda tentang RRTR berdasarkan hasil:
a. Surat rekomendasi Gubernur;
b. pelaksanaan evaluasi materi Rancangan Perda tentang RTR; dan
c. hasil pembahasan BKPRD.
(5) Persetujuan substansi sebagaimana dimaksud pada ayat (5)
ditandatangani oleh Gubernur dengan format sebagaimana tercantum
pada Lampiran X.
(6) Penerbitan surat persetujuan substansi oleh Gubernur dilakukan
paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak penyampaian
rekomendasi Gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

12 | H a l a m a n
BAB IV
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 20

Ketentuan yang mengatur tentang pelaksanaan pemberian persetujuan


substansi rancangan Perda RRTR yang telah ada sepanjang tidak
bertentangan dengan peraturan dinyatakan tetap berlaku.

BAB V
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 21

Lampiran-lampiran yang tercantum dalam Pasal 4 ayat (2), Pasal 5 ayat


(3), Pasal 5 ayat (4), Pasal 7 ayat (6), Pasal 8 ayat (2), Pasal 11 ayat (5),
Pasal 14 ayat (5), Pasal 16 ayat (3) dan Pasal 19 ayat (5) merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Gubernur ini.

Pasal 22

Peraturan Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.


Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Gubernur ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah
Provinsi Lampung.

Ditetapkan di Bandar Lampung


Pada tanggal, ....................... 201....

GUBERNUR LAMPUNG,

M.RIDHO FICARDO.

Diundangkan di Bandar Lampung


pada tanggal......................................2017
SEKRETARIS DAERAH
PROVINSI LAMPUNG,

SUTONO
BERITA DAERAH PROVINSI LAMPUNG TAHUN ........NOMOR .....

13 | H a l a m a n
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN GUBERNUR LAMPUNG
NOMOR ..... TAHUN 201.
TENTANG
MEKANISME PERSETUJUAN SUBSTANSI RENCANA RINCI TATA
RUANG KABUPATEN/KOTA

I. UMUM
Peraturan Gubernur Lampung tentang Mekanisme Persetujuan
Substansi Rencana Rinci Tata Ruang Kabupaten/Kota merupakan
peraturan pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010
tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang sebagaimana penyusunannya
diamanatkan dalam Pasal 58 ayat (2) dan Pasal 62 ayat (2) Peraturan
Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan
Ruang dapat didekonsentrasikan kepada Gubernur. Selain itu Peraturan
Gubernur ini juga merupakan turunan dari implementasi pelimpahan
wewenang dari menteri kepada Gubernur terkait pemberian persetujuan
substansi rancangan Perda RRTR sebagaimana diatur dalam Peraturan
Menteri Agraria dan Tata Ruang Nomor 8 Tahun 2017 dan Keputusan
Menteri Pekerjaan Umum Nomor 326/KPTS/M/2014.

Peraturan Gubernur Lampung tentang Mekanisme Persetujuan


Substansi Rencana Rinci Tata Ruang Kabupaten/Kota disusun dengan
dasar pada pemikiran bahwa dalam pelaksanaan pelimpahan kewenangan
pemberian persetujuan substansi RRTR kabupaten/kota di Provinsi
Lampung memerlukan legalitas terkait mekanisme pelaksanaan baik pada
tahap persiapan maupun pelaksanaannya.

Secara umum Peraturan Gubernur ini memuat materi-materi pokok


yang disusun secara sistematis sebagai berikut: Pelaksanaan, dan Tata
Cara pemberian, persetujuan substansi RRTR kabupaten/kota.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas
Pasal 2
Cukup jelas
Pasal 3
Cukup jelas
Pasal 4
Cukup jelas
Pasal 5
Cukup jelas
Pasal 6
Cukup jelas
Pasal 7
Cukup jelas
Pasal 8
Cukup jelas

14 | H a l a m a n
Pasal 9
Cukup jelas
Pasal 10
Ayat (1)
Dalam melakukan evaluasi rancangan peraturan
daerah tentang rencana rinci tata ruang
kabupaten/kota, Bidang Penataan Ruang dapat
dibantu oleh tenaga ahli sesuai dengan kualifikasi
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 11
Cukup jelas
Pasal 12
Cukup jelas
Pasal 13
Cukup jelas
Pasal 14
Ayat (1)
Pembahasan BKPRD Provinsi Lampung dapat
melibatkan Kementerian/Lembaga vertikal jika
diperlukan
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 15
Cukup jelas
Pasal 16
Cukup jelas
Pasal 17
Cukup jelas
Pasal 18
Cukup jelas
Pasal 19
Cukup jelas
Pasal 20
Cukup jelas
Pasal 21
Cukup jelas
Pasal 22
Cukup jelas

TAMBAHAN BERITA DAERAH PROVINSI LAMPUNG TAHUN ... NOMOR ...

15 | H a l a m a n