Anda di halaman 1dari 13

ADAPTASI FISIOLOGIS DAN PSIKOLOGIS IBU

POSTPARTUM

A. ADAPTASI FISIOLOGI IBU MASA NIFAS


SISTEM REPRODUKSI

1. Involusi uterus
Involusi uterus melibatkan reorganisasi dan penanggalan
decidua/endometriumdan pengelupasan lapisan pada tempat inplentasi
plasenta sebagai tanda penurunan ukuran dan berat serta perubahan
tempat uterus, warna jumlah lochia.
Proses involusi uterus adalah sebagai berikut:
a. Iskemia myometrium
Disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus menerus dari
uterus setelah pengeluaran plasenta membuat uterus relative anemi
dan menyebabkan serat otot atrofi
b. Autolysis
Autolysis merupakan proses pengancuran diri sendiri yang terjadi
didalam otot uterin
c. Efek oksitoksin
Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterin
sehingga akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan
berkurangnya suplai darah ke uterus. Peroses ini membantu untuk
mengurangi situs atau tempat inplantasi plasenta serta mengurangi
pendarahan.
2. Involusi tempat plasenta
Setelah persalinan, tempat plasenta merupakan tempat dengan permukaan
kasar, tidak rata dan kira-kira sebesar telapak tangan. Dengan cepat luka
ini mengecil, pada akhir minggu ke-2 hanya sebesar 3-4 cm dan pada
akhir nifas 1-2 cm. penyembuhan bekas plasenta khas sekali. Pada
permulaan nifas bekas plasenta mngandung banyak pembuluh darah besar
yang tersumbat oleh thrombus biasanya luka yang demikian sembuh
dengan menjadi parut, tetapi luka bekas plasenta tidak minggalkan parut.
Hal ini disebabkan karena luka ini sembuh dangan cara dilepaskan dari
dasarnya tetapi diikuti pertumbuhan endometrium baru dibawah
dipermukaan luka. Endometrium ini tumbuh dari pinggir luka dan juga
dari sisa-sisa kelenjar pada dasar luka.
3. Perubahahan ligament
Ligament-ligamen dan diafragma pelvis serta fasia yang meregang
sewaktu kehamilan dan partus, setelah janin lahir, berangsur-angsur
menciut kembali seperti sediakala. Tidak jarang liagamentum rotundum
menjadi kendor yang mengakibatkan letak uterus menjadi retroflexi.
Tidak jarang pila wanita mengeluh “kendungannya turun” setelah
melahirkan oleh karena ligament, fasia, jaringan penunjang alat genetalia
menjadi agak kendor.
4. Perubahan pada serviks
Serviks mengalami infolusi bersama-sama dengan uterus. Perubahan-
perubahan yang terdapat pada serviks postpartum adalah bentuk serviks
yang akan menganga seperti corong.
Beberapa hari setelah persalinan, ostium eksternum dapat dilalui oleh dua
jari, pinggir-pinggirnya tidak rata tetapi retak-retak karena robekkan
dalam persalinan
5. Lochia
Lochia adalah ekskresi cairan Rahim setelah masa nifas dan mempunyai
reaksi basah atau alkalis yang dapat membuat organisme berkembang
lebih cepat daari pada kondisi asam yang ada pada vagina normal.
Bila pengeluaran lochia tidak lancer maka disebut lochia stasis. Lochia
memiliki suatu karakteristik bau yang tidak sama dengan sekret
menstrual. Lochia disekresikan dengan jumlah banyak pada jam
postpartum yang selanjutnya akan berkurang sejumlah besar sebagai
lochia lubra, sejumlah kecil sebagai lochia serosa dan sejumlah lebih
sedikit lagi lochia alba.
6. Perubahan pada vulva, vagina dan perineum
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta perengangan yang sangat
besar slama proses melahirkan bayi dan beberapa hari pertama sesudah
proses tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam keadaan kendur.
Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya
terengang oleh tekanan kepalah bayi yang bergerak maju.
Ukuran vagina akan selalu lebih besar diabandingkan keadaan saat
sebelum persalinan pertama.
Perubahan sistem pencernaan
1. Nafsu makan
Ibu biasanya lapar segera setelah melahirkan,sehingga ia boleh
mengonsumsi makanan ringan. Ibu seringkali cepat lapar setelah
melahirkan dan siap makan pada 1-2jam post primordial,dan dapat di
toleransi dengan diet yang ringan. Kerap kali untuk pemulihan nafsu
makan,diperlukan waktu 3-4 hari sebelum faal usus kembali normal.
2. Motilitas
Secara khas,penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap
selama waktu yang singkat setelah bayi lahir.kelebihan analgesia dan
anastesia bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas ke
keadaan normal
3. Pengosongan usus
Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama 2-3 hari setelah ibu
melahirkan. Ibu seringkali sudah menduga nyeri saat defekasi karena
nyeri yang dirasakannya di perineum akibat episiotomy,laserasi atau
hemoroid. Kebiasaan buang air yang teratur perlu dicapai kembali setelah
tonus usus kembali normal.
Sistem pencernaan pada masa nifas membutuhkan waktu yang
berangsur-angsur untuk kembali normal.
Perubahan sistem urinaria
1. Keseimbangan cairan dan elektrolit
a. Mencapai hemostatis internal
70% dari air tubuh terletak dalam sel-sel dan dikenal sebagai cairan
intraselular. Kandungan air sisanya disebut cairan ekstraselular.
Cairan esktraselular dibagi antra plasma darah, dan cairan yang
langsung memberikan lingkungan segara untuk sel-sel yang disebut
cairan interstisial
b. Keseimbangan asam basah tubuh
Batas normal ph cairan tubuh adalah 7,35 – 7,40. Bila ph >7,4 disebut
alkalosis dan jika ph < 7,35 disebut asidosis.
c. Mengeluarkan sisa metabolisme, racun, dan zat tokin
Ginjal mengekskresi hasil akhir metabolisme protein yang
mengandung nitrogen terutama : urea, asam urat dan kreatinin.
2. Keseimbangan dan keselarasan berbagai proses didalam tubuh
a. Pengaturan tekanan darah
Menurunkan volume darah dan serum sodium (Na) akan
meningkatkan serum pottasium lalu merangsang pengeluaran renin
yang dalam aliran darah diubah menjadi angiotensin yang akan
mengekskresikan aldosteron sehingga mengakibakan terjadinya
tretensi.
b. perangsangan produksi sel darah merah
dalam pembentukan sel darah merah diperluhkan hormon eritropoietin
untuk merangsang sumsum tulang hormon ini hasilkan oleh ginjal.
3. sistem urinasius
fungsi ginjal kembali normal dalam waktu 1 bulan setelah wanita
melahirkan. Diperlukan kira-kira 2-8 minggu supaya hipotonia pada
kehamilan dan dilatasi ureter serta pelvis ginjal kembali ke keadaan
sebelum hamil.
4. Komponen urin
Glikosuria ginjal yang diinduksikan oleh kehamilan menghilang. Waltu
suria positif pada ibu menyusui merupakan keadaan yang normal.
Asetonuria biasa terjadi pada wanita yang tidak mengalami komplikasi
persalinan atau setelah suatu persalinan yang lama dan disertai dehidrasi.
5. Diuresis postpartum
Diuresis pasca postpartum, yang disebabkan oleh penurunan kadar
estrogen, hilangnya peningkatan tekanan vena pada tingkat bawa, dan
hilangnya peningkatan volume darah akibat kehamilan, merupakan
mekanisme tubuh untuk mengatasi kelebihan cairan.
6. Uretra dan kandung kemih
Kombinasi trauma akibat kelahiran,peningkatan kapasitas kandung kemih
setelah bayi lahir,dan efek konduksi anastesi menyebabkan keinginan
untuk berkemih menurun.
Penurunan berkemih, seiring diuresis pasca partum, bisa menyebabkan
distensi kandung kemih.
Dengan mengkosongkan kandung kemih secara adekuat, tonus kandung
kemih biasanya akan pulih kembali dalam 5-7 hari setelah bayi lahir.
Perubahan sistem muculoskeletal
a. dinding perut dan peritoneum
setelah persalinan,dinding perut longgar karena direnggang begitu
lama,tetapi biasanya pulih kembali dalam 6 minggu.
b. Kulit abdomen
Kulit abdomen yang melebar selama masa kehamilan tampak melonggar
dan mengendur sampai berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan
yang dinamakan strie.
c. Strie
Strie pada dinding abdomen tidak dapat menghilang sempurna melainkan
membentuk garis lurus yang samar.
d. Perubahan ligament
Ligament-ligamen dan diafragma pelvis serta fasia yang meregang
sewaktu kehamilan dan partus,setelah janin lahir,berangsur-angsur
menciut kembali seperti sediakala.
e. Simpisis pubis
Meskipun relative jarang,tetapi simpisis pubis yang terpisah ini
merupakan penyebab utama morbiditas maternal dan kadang-kadang
penyebab ketidakmampuan jangka panjang. hal ini biasanya ditandai oleh
nyeri tekan signifikan pada pubis disertai peningkatan nyeri saat bergerak
ditempat tidur atau saat berjalan.
Perbubahan sistem endokrin
a. Hormon plasenta
Hormone plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan. Human
chorionic gonadotropin (HCG) menurun dengan cepat dan menetap
sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke-7 postpartum dan sebagai
onset pemenuhan mamae pada hari ke-3 postpartum.
b. Hormon pituitarie
Prolactin darah meningkat dengan cepat,pada wanita tidak menyusui
menurun dalam waktu 2 minggu. FSH dan LH meningkat pada fase
konsentrasi folikuler pada minggu ke-3, dan LH tetap rendah hingga
ovulasi terjadi.
c. Hipotalamik Pituiary Ovarium
Untuk wanita yang menyusui dan tidak menyusui akan mempengaruhi
lamanya ia mendapatkan menstruasi.seringkali memstruasi pertama itu
bersifat anovulasi yang dikarenakan rendahnya kadar estrogen dan
progesterone.
Perubahan Tanda-tanda vital
a. Suhu badan
setelah persalinan mungkin naik 0,5oC hingga menjadi 37,2oC sampai
37,5 oC,tetapi tidak melebihi 38oC. hal ini sebagai akibat kerja keras
waktu melahirkan,kehilangan cairan dan kelelahan.
b. Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali/menit sehabis
melahirkan bisa terjadi bradikardia puer perial yang denyut nadinya
mencapai 40-50kali/menit. Denyut nadi yang melebihi 100kali/menit
abnormal kemungkinan mengindikasikan adanya infeksi yang disebabkan
adanya proses persalinan sulit atau pendarahan.
c. Tekanan darah
Biasanya tidak berubah,kemungkinan tekanan darah akan rendah
setel;ah ibu melahirkan karena ada pendarahan. Tekanan darah tinggi
pada postpartum dapat menandakan terjadinya preeklampsi postpartum
d. Pernapasan
Keadaan pernapasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan
denyut nadi. Bila suhu nadi tidak normal,pernapasan juga akan
mengikutinya,kecuali apabila ada gangguan khusus pada saluran napas.

Perubahan sistem kardiovaskular


Pada persalinan pervaginam kehilangan darah sekitar 300-400 cc. bila
kelahiran melalui seksio sesarea,maka kehilangan darah dapat dua kali
lipat. Perubahan terdiri dari volume darah (Blood volume) dan
hematokrit. Bila persalinan pervaginam hetokrit akan naik dan pada
seksio sesaria,hematokrit cenderung stabil dan kembali normal setelah 4-
6 minggu.
Setelah persalinan shunt akan hilang dengan tiba-tiba.volume darah
ibu relative akan bertambah. Keadaan ini akan menimbulkan beban pada
jantung,dapat menimbulkan decompensation cordia pada penderita vitum
cordia keadaan ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi dengan
timbulnya Haemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti
sediakala,umumnya hal ini terjadi pada hari 3-5 postpartum.

Perubahan sistem hematologi


Selama mkinggu-minggu terakhir kehamilan,kadar fibrinogen dan
plasma serta factor-faktor pembekuan darah meningkat. Pada hari
pertama postpartum kada kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit
menurun tetapi darah lebih mengental dengan peningkatan viskositas
sehingga meningkatkan factor pembekuan darah. Leokositosis yang
meningkat dimana jumlah sel darah putih dapat mencapai 15000 selama
persalinan akan tetap tinggi dalam beberapa hari pertama dari masa
postpartum.
Jumlah sel darah putih tersebut masih bisa naik lagi sampai 25000 atau
30000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami
persalinan lama. Jumlah homoglobine,hematokrit dan eritrosit akan
sangat bervariasi pada awal-awal masa postpartum sebagai akibat dari
volume darah,volume plasenta dan tingkat volume darah yang berubah-
ubah semua tingkatan ini akan dipengaruhi oleh status gizi dan hidrasi
wanita tersebut. Kira-kira selama kelahiran dan masa postpartum terjadi
kehilangan darah sekitar 200-500ml. penurunan volume dan peningkatan
sel darah pada kehamilan diasosiasikan dengan peningkatan hematokrit
dan hemoglobin dan pada hari ke 3-7 postpartum dan akan kembali
normal dalam 4-5 minggu post partum.
B. ADAPTASI PSIKOLOGIS IBU MASA NIFAS
Masa nifas merupakan masa yang paling kritis dalam kehidupan ibu
maupun bayi, diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan
terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24
jam pertama. Dalam memberikan pelayanan pada masa nifas, bidan
menggunakan asuhan yang berupa memantau keadaan fisik, psikologis,
spiritual, kesejahteraan sosial ibu/keluarga, memberikan pendidikan dan
penyuluhan secara terus menerus. Dengan pemantauan dan asuhan yang
dilakukan pada ibu dan bayi pada masa nifas diharapkan dapat mencegah
atau bahkan menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian
Bayi.
Perubahan psikologis mempunyaiperanan yang sangat penting. Pada
masa ini, ibu nifas menjadi sangat sensitive, sehingga diperlukan
pengertian dari keluarga-keluarga terdekat. Peran bidan sangat penting
dalam hal memberi pegarahan pada keluarga tentang kondisi ibu serta
pendekatan psikologis yang dilakukan bidan pada ibu nifas agar tidak
terjadi perubahan psikologis yang patologis.

Adaptasi masa nifas,wanita banyak mengalami perubahan selain fisik


yaitu antara lain wanita meningkat emosinya. Pada masa ini wanita
mengalami transisi menjadi orang tua. Fase yang dilalui oleh ibu
postpartum :
1. Taking in
merupakan fase ketergantungan yang berlangsung dari hari
pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat ini fokus
perhatian ibu terutama pada bayinya sendiri.
Yaitu terjadi fantasi,intropeksi,proyeksi,dan penolakan. Perhatian ibu
terutama terhadap kebutuhan dirinya,mungkin pasif dan
ketergantungan. Ciri-cirinya :
a. Terjadi pada 2-3 hari setelah melahirkan.
b. Bersifat pasif dan tergantung,segala energinya difokuskan pada
kekhawatiran tentang badannya.
c. Ibu mungkin bercerita tentang pengalamnya berulang-ulang.
d. Istirahat tidur dan tidak terganggu adalah sangat penting karena
kelelahan.
e. Kadang ibu tidak menginginkan kontak dengan bayinya,tetapi
bukan karena tidak menyayangi bayinya,ibu hanya sedang
mengenang pengalaman melahirkan.

2. Taking on/Taking hold


Pada fase taking hold, ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan
dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Selain itu perasaan
yang sangat sensitive sehingga mudah tersinggung jika komunikasinya
kurang hati-hati. Oleh karena itu ibu memerlukan dukungan karena sat
ini merupakan kesempatan yang baik untuk menerima berbagai
penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga tumbuh rasa
percaya diri.
a. Terjadi pada hari 3-10 hari setelah melahirkan.
b. Ibu menjadi khawatir akan kemampuannya merawat bayi dan
menerima tanggung jawabnya sebagai seorang ibu yang makin
besar.
c. Ibu memfokuskan dirinya dalam mengambil kembali control akan
fungsi tubuhnya sendiri (BAB,BAK,dll)
d. Ibu mempunyai perasaan sangat sensitive sehingga mudah
tersinggung dan gampang marah.
e. Ibu mencoba keterampilan merawat bayinya
Dukungan moral sangat diperlukan untuk menumbuhkan
kepercayaan diri ibu. Fase ini merupakan kesempatan yang baik
untuk memberikan berbagai penyuluhan dan pendidikan kesehatan
yang diperlukan ibu nifas.
3. Letting go
Fase ini merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran
barunya yang berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai
menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. Keinginan untuk
merawat diri dan bayinya meningkat pada fase ini.
a. Terjadi pada 10 hari setelah melahirkan/setelah ibu pulang dari RS.
b. Ibu mengambil tanggung jawab dalam merawat bayinya.
c. Ibu menyesuaikan diri dengan kebutuhan ketergantungan bayinya.
d. Berkurang otonomi diri.
e. Berkurang ketergantungannya pada orang lain.
f. Mulai terjadi postpartum blues.
Pendidikan pada fase taking on dapat dilanjutkan pada fase ini.
Dukungan suami dan keluarga dapat membantu merawat
bayi,mengerjakan urusan rumah tangga sehingga ibu tidak terlalu
terbebani. Ibu memerlukan istirahat yang cukup sehingga
mendapatkan kondisi fisik yang bagus untuk dapat merawat
bayinya.

POSTPARTUM BLUES
1. Pengertian
Kemurungan masa nifas umum terjadi pada ibu baru. Hal ini
disebabkan oleh perubahan dalam tubuh seorang wanita selama
kehamilannya serta perubahan-perubahan irama atau cara hidupnya
sesudah bayinya terlahir. Yang beresiko mengalami kemurungan
pasca bersalin adalah wanita muda. Kesulitan menyusui bayinya.
Postpartum blues merupakan masa transisi mood setelah
melahirkan yang sering terjadi pada 50-70% wanita. Hal ini
disebabkan perubahan hormonal pada pertengahan masa postpartum.
Merasakan kesedihan atau kemurungan setelahmelahirkan,biasanya
hanya muncul sementara waktu yakni sekitar dua hari hingga dua
minggu sejak kelahiran bayi ditandai.

2. Etiologi
berbagai perubahan yang terjadi dalam tubuh wanita selama
kehamilan dan perubahan cara hidupnya sesudah mempunyai bayi,
perubahan hormonal, adanya perasaan kehilangan secara fisik sesudah
melahirkan yang menjurus pada suatu perasaan sedih. Penyebab yang
menonjol adalah :
a. Kekecewaan emosional yang mengikuti rasa puas dan takut
yang dialami kebanyakan wanita selama kehamilan dan
persalinan.
b. Rasa sakit pada masa nifas
c. Kelelahan karena kurang tidur selama persalinan
d. Kecemasan ketidakmampuan merawat bayi setelah pulang dari
rumah sakit
e. Rasa takut tidak menarik lagi bagi suami

3. Gejala-gejala postpartum blues


a. Cemas tanpa sebab
b. Menangis tanpa sebab
c. Tidak sabar
d. Tidak percaya diri
e. Sensitive
f. Mudah tersinggung
g. Merasa kurang menyayangi bayi

4. Faktor-faktor yang menyebabkan postpartum blues :


a. Pengalaman melahirkan,biasanya pada ibu dengan melahirkan
yang kurang menyenangkan dapat menyebabkan ibu sedih.
b. Perasaan sangat down setelah melahirkan,biasanya terjadi
peningkatan emosi yang disertai tangisan.
c. Tingkah laku bayi,bayi yang rewel dapat membantu ibu merasa
tidak mampu merawat bayi dengan baik.
d. Ketidakmampuan beradaptasi terhadap perubahan fisik dan
emosional yang kompleks
e. Faktor umum dan paritas (jumlah anak)
f. Latar belakang psikososial wanita yang bersangkutan seperti
tingkat pendidikan,status perkawinan,kehamilan yang tidak
diinginkan,riwayat gangguan kejiwaan sebelumnya,sosial ekonomi.
g. Rasa memiliki bayi terlalu dalam sehingga timbul rasa takut yang
berlebihan akan kehilangan bayinya.

5. Cara mengatasi gangguan psikologi pada masa nifas dengan


postpartum blues yaitu :
a. Dengan cara pendekatan komunikasi terapeutik.
b. Dengan cara peningkatan support mental dukungan keluarga.

GREAFING (KESEDIHAN DAN DUKACITA)


Kesedihan “GRIEF” adalah reaksi normal ketika mengalami
kehilangan sesuatu atau seseorang yang dicintai.
Tahap kehilangan menurut Kibber Ross (1978) ;
Tahap I :
Shock atau menyangkal atau kaku merupakan reaksi yang lazim dimana
pada tahap ini bisa berteriak, tidak percaya atau mengatakan tidak
mungkin, diam, terbelalak, bengong, strees.
Tahap II :
Pining (merana), marah, menawar, depresi, kekosongan salah satu dari
semua ini bisa dialami sebagai bagian dari emosi yang dialami mengatasi
dan menerima situasi. Pining : rasa sakit muncul, rasa rindu dan kesepian,
contohnya sakit daerah payudara atau tangan rindu menggendong. Marah
reaksi yang lazim muncul, dan memberikan kesempatan mengekspresikan
kemarahannya. Rasa bersalah : emosi yang biasa ditemui pada orang
berduka. Contoh : ibu melahirkan premature akan mengatakan “coba
kalau saya tidak merokok atau tidak minum jamu/cepat ke dokter” tidak
mau merokok lagi kalau bayi saya selamat.
Depresi akan kekosongan : dilihat dari fisik dan psikis. Contohnya
wanita yang bayinya lahir mati masih tetap merasakan atau menderita
persalinan (induksi, luka jahitan atau manual plasenta).
Tahap III :
Penerimaan dan penyesuaian tahap ini sudah dicapai, dapat dikatakan
kesedihan sudah selesai (3 tahun).

Tahapan Kesedihan
Menurut kubler ross (1970), membagi atas :
a. Daniel (menolak)
Pasangan menolak terhadao situasi kehilangan yang terjadi implikasi
asuhan yang harus diberikan adalah dengan memberikan support secara
verbal
b. Anger (merah)
Reaksi merah akan timbul baik dari dalam diri sendiri atau
lingkungannya. Asuhan yang diberikan dengan membantu untuk mengerti
bahwa marah adalah suatu respon normal terhadap, perasaaan kehilangan,
hindari menarik diri dan membalas dengan marah dan diizinkan klien
mengontrol sebaik mungkin emosinya sesuai dengan keadaannya.
c. Bergaing (tawar –menawar)
Tahap dimana pasangan ingin menunda kehilangan yang terjadi dan
berharap seandainya kehilangan ini tidak terjadi. Asuhan yang diberikan
yaitu dengan mendengarkan dengan penuh perhatian dengan apa yang
pasangan sampaikan dan mendorong pasangan untuk berbicara karena
akan mengurangi rasa bersalah dan perasaan takut yang metreka rasakan.
d. Depresion (depresi)
Kehilangan merupakan hal yang nyata yang membuat pasangan menjadi
berkabung ditandai dengan tidak banyak bicara. Mungkin sering
menangis,diam, menolak untuk makan. Pada tahap ini biarkan pasangan
mengekspresikan kesedihannya dan dalam hal ini perlu dilakukan
komunikasi non ferbal dengan cara duduk yang tenang disampingnya
tanpa mengharapkan adanya suatu percakapan, bahkan sentuhan. Berikan
pengertian kepada keluarga bahwa sangat penting penanganana berada
dalam kesendirian untuk sementara waktu.
e. Acceptance (menerima)
Pasangan mulai menerima kenyataan yang terjadi dan Mulai menentukan
rencana-rencana. Dala tahap ini, dukung pasangan untuk berpartisipasi
aktiv dalam program pemulihannya.

4 Komponen Konsep Yang Harus Dilakukan Oleh Tenaga Kesehatan


Antara Lain :
1. Mengenal (knowing)
Menyatakan bahwa tenaga kesehatan mempunyai waktu untuk
melakukan pendekatan dengan klien yang mengalami proses kehilangan
atau kesedihan. Bagaimana tenaga kesehatan memahami berbagai
perasaan dan persepsi anggota keluarga yang kehilangan.
2. Membantu (doingfor)
Bagaimana tenaga kesehatan membantu klien untuk mengurangi beban
seperti melakukan sentuhan, melihat dan memeluk.
3. Memungkinkan (enabling)
Tenaga kesehatan melakukan penawaran yang memungkinkan setiap
anggota keluarga untuk melihat hal-hal yang dapat membantu mereka
lebih nyaman, seperti mengambil foto bayinya, melihat jenis kelamin
serta membantu persiapan penguburan.
4. Mempertahankan Kepercayaan (maintaining believe)
Bagaimana tenaga kesehatan dapat meluangkan waktu untuk
meningkatkan kembali rasa percaya diri dari klien dan mulai kembali
memandang kedepan.

Asuhan Dalam Kedukaan Atau Kehilangan


Memberikan sebaiknya langsung diberitahukan bila sudah kepastian
diagnosa/kematian/cacat. Shock karena berita buruk, sering menyebabkan
orang lupa akan apa yang hadir disitu. Mengulang informasi pada
beberapa kesempatan, sebelum orang tua mampu mengerti dan
menerimanya. Keterampilan konseling mendengarkan dan mendampingi
sangatlah penting (seperti sentuhan atau empati, elusan). Tanggung jawab
seperti perhatian untuk orang yang sedang strees.
DAFTAR PUSTAKA
Sujiatini;Nurjana;Kurniati,2010.Asuhan Ibu Nifas:Askep III.Cyrllus:
Yogyakarta.