Anda di halaman 1dari 5

Prosiding Seminar Nasional Tahunan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan Tahun 2017 Vol. 1 No.

1 2017, Hal. 550-554

PERILAKU BULLYING DAN SOSIAL ANAK USIA DINI

Fadhilah Syam Nasution


Mahasiswa S2 Pendidikan Dasar Pascasarjana, Universitas Negeri Medan
Corresponding author: fadhilahsyamnst@yahoo.co.id

Abstrak
Bermula dari media massa yang berperan memberitahukan perilaku bullying yang dilakukan oleh anak usia dini.
Selanjutnya, tindakan bullying yang dialami oleh korban dan bentuk bullying dilakukan secara verbal bahkan fisik. Tujuan
penulisan ini adalah untuk mengetahui bagaimana perilaku bullying dan sosial anak usia dini dalam kehidupan sehari-
harinya, serta memberikan pengetahuan kepada orang tua korban terhadap perkembangan dan permasalahan yang
dihadapi oleh anak dan memantau pergaulan anak. Perkembangan sosial anak sangat tergantung pada individu anak, peran
orang tua, lingkungan masyarakat dan termasuk Taman Kanak-kanak. Ada kaitan erat antara keterampilan bergaul dengan
masa bahagia dimasa kanak-kanak. Kemampuan anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Penerimaan lingkungan
serta pengalaman-pengalaman positif lain selama melakukan aktivitas sosial merupakan modal dasar yang sangat penting
untuk satu kehidupan sukses dan menyenangkan dimasa yang akan datang, apa anak dipupuk dimasa kanak-kanak akan
mereka petik buahnya dimasa dewasa kelak. Perkembangan social merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan
sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma kelompok, moral, dan tradisi.
Meleburkan diri menjadi suatu kesatuan yang saling berkomunikasi dan bekerjasama. Perkembangan sosial di lingkungan
keluarga juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: status keluarga, keutuhan keluarga, sikap dan kebiasaan orang tua.

Kata kunci : Perilaku Bullying, Sosial Anak.

PENDAHULUAN
Di seluruh dunia, fenomena bullying merupakan suatu hal yang umum di taman kanak-kanak maupun sekolah dasar
sesuai dengan Piagam Hak Asasi Anak-Anak, siswa memiliki hak untuk merasa aman dan untuk memperoleh pendidikan.
Fenomena ini muncul dalam interaksi sosial di antara teman sebaya. Anak-anak dan remaja menghabiskan waktu minimal 6
jam sehari di sekolah sehingga interaksi dengan teman sebaya serta guru menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari
mereka.
Anak usia dini adalah investasi masa depan bagi keluarga dan bangsa. Nantinya, anak usia dini akan menjadi
orang-orang yang akan membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan tidak tertinggal dari bangsa-bangsa
lain. Dengan kata lain, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh pendidikan yang diberikan kepada anak usia dini. Di
Indonesia, pendidikan yang diperuntukkan untuk anak usia 0 – 6 tahun ini dikenal sebagai Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD). Pendidikan anak usia dini menjadi pendidikan yang penting bagi seseorang anak. Hal ini berkaitan dengan masa
pertumbuhan dan perkembangan otak anak yang sudah mencapai 80% pada usia 6 tahun. Pada usia tersebut segala
sesuatu yang diterima anak akan dapat memberikan bekas yang kuat dan tahan lama. Kesalahan dalam mendidik anak
akan memberikan efek negatif jangka panjang yang sulit diperbaiki (Slamet Suyanto, 2005:2).
Fakta menunjukkan, bullying terhadap anak yang terjadi di Indonesia bukan fenomena yang baru di lingkungan
sekolah, tempat tinggal dan lingkungan bermain anak. Menurut Ken Rigby dalam buku Ponny Retno Astuti, bullying
merupakan hasrat untuk menyakiti, yang diaktualisasikan dalam aksi sehingga menyebabkan seorang individu atau
kelompok menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atapun kelompok yang lebih kuat, biasanya
kejadiannya berulangkali dan pelaku tersebut melakukan bullying dengan perasaan senang.
Menurut Coloroso (2003) bullying adalah tindakan bermusuhan yang dilakukan secara sadar dan disengaja yang
bertujuan untuk menyakiti, seperti menakuti melalui ancaman agresi dan menimbulkan teror. Termasuk juga tindakan yang
direncakan maupun yang spontan, bersifat nyata atau hampir tidak kentara, di hadapan seseorang atau di belakang
seseorang, mudah untuk diidentifikasi atau terselubung dibalik persahabatan, dilakukan oleh seorang anak atau kelompok
anak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perilaku bullying adalah suatu tindakan negatif berulang yang dilakukan secara
sadar dan disengaja yang bermaksud untuk menyebabkan ketidaksenangan atau menyakitkan orang lain. Bullying adalah
jenis yang paling umum dari agresi dan korban yang dialami oleh anak-anak usia sekolah (O'Brennan, Bradshaw, &
Sawyer, 2009). Bullying terjadi pada semua tingkat usia, tetapi mulai meningkat pada akhir sekolah dasar, puncak di
sekolah menengah, dan umumnya menurun di sekolah tinggi. Bullying mempengaruhi baik anak laki-laki dan perempuan.
Anak laki-laki lebih sering terlibat dalam agresi fisik (Liu & Graves, 2011).
Tindakan kekerasan (bullying) yang dialami anak-anak adalah perlakuan yang akan berdampak jangka panjang dan
akan menjadi mimpi buruk yang tidak pernah hilang dari ingatan anak yang menjadi korban. Menurut Pinky Saptandari
dalam buku Bagong Suyanto, dampak yang dialami anak-anak yang menjadi korban tindak kekerasan biasanya kurang

http://semnastafis.unimed.ac.id ISSN: 2598-3237 (media cetak)


ISSN: 2598-2796 (media online)
550
Prosiding Seminar Nasional Tahunan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan Tahun 2017 Vol. 1 No. 1 2017, Hal. 550-554

motivasi atau harga diri, mengalami problem kesehatan mental, mimpi buruk, memiliki rasa ketakutan dan tidak jarang
tindak kekerasan terhadap anak juga berujung pada terjadinya kematian pada korban.
Menurut Suharto dalam buku Abu Huraerah, dijelaskan bahwa korban bullying biasanya memiliki ciri-ciri sebagai
berikut: keluarga miskin, memiliki cacat fisik, berasal dari keluarga yang broken home sehingga hal ini menyebabkan belum
matang proses pemikiran secara psikologis. Perilaku bullying dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang
terdiri faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal yang dapat menyebabkan munculnya perilaku bullying pada anak
adalah faktor keluarga, lingkungan dan teman sebaya. Sedangkan, faktor internal meliputi karakteristik kepribadian dan
adanya sifat pengganggu yang dimiliki anak. Sifat pengganggu ini biasanya muncul karena terjadinya interaksi yang kurang
baik antara sesama teman sebaya serta kurangnya identifikasi kelompok. Seperti diketahui, anak taman kanak-kanak akan
mengalami perkembangan dalam hubungan dengan orang lain dan mulai membentuk sebuah kelompok yang terdiri dari
anak-anak yang memiliki usia serta minat yang sama (Wong, et.al. 2001/2002).
Dampak lain dari perilaku bullying pada masa kanak-kanak erat kaitannya dengan perilaku anti-sosial pada masa
mendatang setelah anak tumbuh menjadi dewasa (Milson & Gallo, 2006). Selain itu, menurut hasil penelitian yang dilakukan
yayasan SEJIWA pada tahun 2006 menyebutkan bahwa selama periode tahun 2002-2005 telah terjadi 30 kasus bunuh diri
yang menimpa korban bullying pada rentang usia 6 – 15 tahun (Sahnaz, 2011). Peneliti berpendapat bahwa dengan
mengetahui angka kejadian bullying di sekolah dasar maka pemerintah, pihak sekolah, orang tua maupun pihat yang terkait
dapat merancang tindakan pencegahan untuk meminimalisasi dampak yang timbul akibat bullying. Dampak yang
ditimbulkan akibat perilaku bullying ini tidak hanya mempengaruhi kehidupan pada saat ini, akan tetapi dapat berdampak
pada kehidupan anak setelah anak tumbuh untuk mengetahui (Milsom & Gallo, 2006).
Penelitian Wong (dalam Sintha, 2011), yaitu 38% responden menyatakan bahwa mereka melakukan bullying karena
mereka ingin membalas dendam setelah menjadi korban bullying. Korban merasa tertindas dan tersakiti oleh orang dewasa
atau anak-anak yang lebih tua, ia melakukan bullying kepada yang lain untuk mendapatkan suatu obat bagi
ketidakberdayaan dan kebencian akan dirinya sendiri. Korban akan membalas dendam secara keji ke orang-orang yang
melukai dirinya.
Penelitian dengan judul “Faktor Dominan yang Mempengaruhi Kemampuan Berinteraksi Sosial” Program Studi
Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini FKIP Untan oleh Benny Dikta Rianggi Ria. Penelitian ini bertujuan untuk
mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan berinteraksi sosial pada anak yang bermasalah di kelompok
usia 5-6 tahun TK Barunawati Pontianak Barat. Sumber data terdiri dari 4 guru di kelompok anak usia 5-6 tahun, 4 orang tua
subyek kasus, dan 4 anak sebagai subyek kasus. Hasil analisis data menunjukkan bahwa konsep diri anak merupakan
faktor internal yang dominan mempengaruhi kemampuan berinteraksi sosial anak. Sedangkan dorongan dari guru
merupakan faktor eksternal yang dominan memperngaruhi kemampuan berinteraksi sosial anak. Faktor yang paling
dominan mempengaruhi kemampuan berinteraksi sosial anak adalah dorongan dari guru.
Perkembangan sosial anak sangat tergantung pada individu anak, peran orang tua, dewasa lingkungan masyarakat
dan termasuk Taman Kanak-kanak. Adapun yang dimaksud dengan perkembangan sosial anak adalah bagaimana anak
usia dini berinteraksi dengan teman sebaya, orang dewasa dan masyarakat luas agar dapat menyesuaikan diri dengan baik
sesuai apa yang diharapkan oleh bangsa dan negara. Ada kaitan erat antara keterampilan bergaul dengan masa bahagia
dimasa kanak-kanak. Kemampuan anak untuk menyessuaikan diri dengan lingkungan. Penerimaan lingkungan serta
pengalaman-pengalaman positif lain selama melakukan aktivitas sosial merupakan modal dasar yang sangat penting untuk
satu kehidupan sukses dan menyenangkan dimasa yang akan datang, apa anak dipupuk dimasa kanak-kanak akan mereka
petik buahnya dimasa dewasa kelak. Namun, kita semua tahu keterampilan bergaul harus dipelajari, dan masa awal
kehidupan, anak belajar dari orangorang yang terdekat dengan dalam hal ini, orang tua. Itu sebabnya, selain membimbing
dan mengajarkan anak bagaimana cara bergaul dengan tepat, orang tua juga dituntut untuk menjadi model yang baik bagi
anaknya. Betapa tidak, anak-anak usia dini yang senang meniru akan meniru apa saja yang dilakukan orang tuanya,
termasuk cara bergaul mereka dengan lingkungan. Peran orang tua dalam mengembangkan keterampilan bergaul anak
memang benar selain memberi anak kepercayaan dan kesempatan, orang tua juga diharapkan memberi penguatan lewat
pemberian rangsangan ganjaran atau hadiah kalau anak bertingkah laku positif atau hukuman kalau ia melakukan
kesalahan.
Dengan begitu anak bisa berkembangan menjadi makhluk sosial yang sehat dan bertanggung jawab. Oleh karena
itu, anak yang cerdas, walaupun umurnya 6 tahun, tetapi sudah mampu mengikuti permainan yang membutuhkan strategi
berfikir seperti catur. Oleh karena itu, biasanya anak yang cerdas lebih suka bermain dengan anak yang usia lebih tua,
sedangkan anak yang kurang cerdasmerasa lebih cocok dengan anak lebih muda usianya.
Penulis ingin mengetahui lebih mendalam bagaimana dampak sosial anak usia dini terhadap perilaku bullying yang
terjadi di Taman Kanak-Kanak Dian Ekawati Medan. Serta hal ini juga berdampak pada timbulnya bullying sangat
berpengaruh terhadap kondisi sosial anak usia dini baik di sekolah dan lingkungannya.

http://semnastafis.unimed.ac.id ISSN: 2598-3237 (media cetak)


ISSN: 2598-2796 (media online)
551
Prosiding Seminar Nasional Tahunan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan Tahun 2017 Vol. 1 No. 1 2017, Hal. 550-554

PEMBAHASAN
Rigby (2002) mendefinisikan bullying sebagai penekanan atau penindasan berulang-ulang, secara psikologis atau
fisik terhadap seseorang yang memiliki kekuatan atau kekuasaan yang kurang oleh orang atau kelompok orang yang lebih
kuat. Sementara itu Elliot (2005) mendefinisikan bullying sebagai tindakan yang dilakukan seseorang secara sengaja
membuat orang lain takut atau terancam. Bullying menyebabkan korban merasa takut, terancam atau setidak-tidaknya tidak
bahagia. Definisi yang diterima secara luas adalah yang dibuat Olweus (2004) yang menyatakan bahwa siswa yang
melakukan bullying adalah ketika siswa secara berulang-ulang dan setiap saat berperilaku agresif terhadap seorang atau
lebih siswa lain. tindakan negatif disini adalah ketika seseorang secara sengaja melukai atau mencoba melukai, atau
membuat seseorang tidak nyaman. Intinya secara tidak langsung tersirat dalam definisi perilaku agresif. Murphy (2009)
memandang bullying sebagai keinginan untuk menyakiti dan sebagian besar harus melibatkan ketidakseimbangan kekuatan
serta orang atau kelompok yang menjadi korban adalah yang tidak memiliki kekuatan dan perlakuan ini terjadi berulang-
ulang dan diserang secara tidak adil.
Menurut Veenstra, et.al (2005), perilaku bullying adalah agresi yang berulang-ulang, yang dilakukan seseorang atau
lebih dengan maksud menyakiti atau mengganggu orang lain secara fisik (memukul, menendang, mendorong, mengambil,
atau merebut sesuatu milik orang lain), secara verbal (mengejek, mengancam) atau secara psikologis (mengeeluarkan
temannya dari kelompok, menceritakan temannya).
Olweus berpendapat tidak ada perbedaan yang signifikan antarabullied dengan bullying dalam perbedaan kelas
sosial (Pereira dkk., 2004). Menurut para siswa di Amerika perilaku bullying yang dianggaplegal adalah ungkapanungkapan
secara verbal atau yang sering disebutdengan memberikan nama-nama panggilan yang buruk atau yang baik(Santrock,
2001). Bullying adalah interaksi antara individuyang melakukan bullying (individu yang dominan) terhadap individuyang
kurang memiliki dominan dengan cara menunjukan perilaku agresif(Craig, Pepler dan Atlas, 2000). Menurut Olweus,
bullying adalah bentuk-bentuk perilaku dimana terjadi pemaksaan atau usaha menyakitisecara psikologis ataupun fisik
terhadap seseorang atau sekelompok orang yang lebih “lemah”, oleh seseorang atau sekelompok orang yang lebih “kuat”
(Djuwita, 2006).
Menurut Olweus (Craig, Pepler dan Atlas, 2000) karekteristikdari para korban bullying (victims) adalah korban
merupakan individu yang pasif, cemas, lemah, kurang percaya diri, kurang popular danmemiliki harga diri yang rendah.
Korban tipikal bullying juga bisanyaadalah anak-anak atau remaja yang pencemas, yang secara sosial menarikdiri, terkucil
dari kelompok sebayanya dansecara fisik lebih lemahdibandingkan kebanyakan teman sebayanya (Krahe, 2005).
Sedangkanpelaku bullying biasanya kuat, dominan dan asertif dan biasanya pelakujuga memperlihatkan perilaku agresif
terhadap orang tua, guru, danorang-orang dewasa lainnya (Krahe, 2005). Sedangkan menurut Olweuspelaku bullying
biasanya kuat, agresif, impulsive, menunjukan kebutuhanatau keinginan untuk mendominasi dan memperlihatkan
kekerasan (Berthold dan Hoover, 2000).
Menurut Hurlock dalam Susanto (2011:131) bahwa masa periode perkembangan anak di bagi menjadi dua, yaitu
masa awal dan akhir anak. Periode awal anak berlangsung dari usia dua tahun sampai dengan enam tahun maka
disebutlah anak usia dini, adapun masa anak akhir yaitu dari usia enam tahun sampai si anak matang. Banyak sebutan
untuk menyebut anak usia dini saat berkembang, ada yang menyebut masa sulit, masa tumbuh kembang, dan masa
pencarian jati diri.
Menurut Berk, (dalam Sujiono, 2013:6) menjelaskan bahwa Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang
menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat bagi kehidupan selanjutnya. Anak usia dini berada pada rentang usia
0-8 tahun pada masa ini proses pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek sedang mengalami masa yang
cepat dalam rentang perkembangan hidup manusia. Proses pembelajaran sebagai bentuk perlakuan yang diberikan pada
anak harus memperhatikan karakteristik yang dimiliki setiap tahapan perkembangan anak.
Berdasarkan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional berkaitan dengan pendidikan anak usia
dini tertulis pada pasal 28 ayat 1 yang berbunyi “pendidikan anak usia dini diselengarakan bagi anak sejak lahir sampai
dengan 6 tahun dan bukan merupakan persyaratan untuk mengikuti pendidikan dasar”. Selanjutnya pada bab 1 pasal 1 ayat
1 ditegaskan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upya pembinaan yang ditujukan pada anak sejak lahir sampai
usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan
jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan yang lebih lanjut (Depdiknas, USPN,2004:4).
Perkembangan perilaku sosial ana ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan
meningkatkan keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota suatu kelompok, dan tidak puas bila tidak bersama
teman-temannya. Anak tidak lagi puas bermain sendiri di rumah atau dengan saudara-saudara kandung atau melakukan
kegiatan dengan anggota-anggota keluarga anak ingin bersamaan teman-temannya dan akan merasa kesepian serta tidak
puas bila tidak bersama teman-temannya. Dua atau tiga teman tidaklah cukup baginya. Anak ingin bersama dengan
kelompoknya, karena hanya dengan demikian terdapat cukup teman untuk bermain dan berolah raga, dan dapat
memberikan kegembiraan. Sejak anak masuk sekolah sampai masa puber, keinginan untuk bersama dan untuk diterima
kelompok menjadi semakinkuat. Hal ini, berlaku baik untuk anak laki-laki maupun anak perempuan.
Lingkungan sosial adalah interaksi antara masyarakat dengan lingkungannya. Lingkungan sosial yang membentuk
sistem pergaulan anak yang besar perannya untuk membentuk kepribadian dan terjadilah interaksi antara orang atau
masyarakat di lingkungannya. Pertama, lingkungan sosial primer adalah lingkungan sosial yang dimana terdapat hubungan

http://semnastafis.unimed.ac.id ISSN: 2598-3237 (media cetak)


ISSN: 2598-2796 (media online)
552
Prosiding Seminar Nasional Tahunan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan Tahun 2017 Vol. 1 No. 1 2017, Hal. 550-554

yang erat antara anggota satu dengan anggota yang lainnya. Kedua, lingkungan sosial sekunder adalah lingkungan sosial
yang hubungan antara anggota satu dengan anggota yang lain.
Sosial adalah upaya pengenalan atau sosialisasi seseorang terhadap orang lain yang berada di luar dirinya atau
lingkunganya, serta timbal balik dari segi-segi kehidupan bersama yang mengadakan hubungan satu dengan lainya, baik
dalam segi perorangan atau kelompok. Proses sosial yang dimaksud berbagai segi kehidupan bersama, misalnya
mempengaruhi antara sosial dan politik, politik dan ekonomi, ekonomi dan hukum. Tetapi proses sosial yang dimaksudkan
ialah termasuk hubungan sosial anak dengan sesamanya, baik teman sebaya atau orang dewasa bagai mana cara anak
bersosialisasi dengan orang lain, seperti dengan lingkungan rumah, sekolah anggota keluarga, guru, teman sebaya,
ataupun masyarakat lingkungan rumahnya.
Sosial anak usia dini dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu keluarga, masyarakat dan sekolah. Sosial anak ditandai
dengan meluasnya lingkungan pergaulan. Meluasnya lingkungan sosial menyebabkan anak mendapat pengaruh dari
lingkungan orang tua, khususnya dengan teman sebaya, baik di sekolah maupun di tempat lain. Sosial berlangsung pada
masa kanak-kanak awal (0-3 tahun) subjektif, masa krisis (3-4 tahun) yang disebut tort alter, masa kanak-kanak akhir (4-6
tahun) disebut subjektif menuju objektif, masa anak sekolah (6-12 tahun) objektif dan masa krisis (12-13 tahun) atau dengan
nama lain yaitu anak tanggung. Untuk mencapai tujuan sosial anak harus membuat penyesuaian baru dengan
meningkatkan pengaruh kelompok teman sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, dan pengelompokan sosial.
Untuk itu terdapat beberapa alasan, mengapa anak harus mempelajari prilaku sosial, setidaknya ada empat alasan
bagaimana yang dikemukakan oleh Sujiono dalam (Susanto 2011:140) sebagai berikut:
a. Agar anak dapat bertingkah laku yang diterima lingkunganya
b. Agar anak dapat memainkan peranan sosial yang bisa diterima kelompoknya, misalnya berperan sebagi laki-laki
dan perempuan.
c. Agar anak dapat mengembangkan sikap sosial yang sehat terhadap lingkunganya yang merupakan modal penting
untuk sukses dalam kehidupan sosialnya kelak.
d. Agar anak mampu menyesuaikan diri dengan baik, dan akibatnya lingkunganya pun dapat menerimanya dengan
senang hati.

SIMPULAN
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai
proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-nrma kelompok, moral, dan tradisi; meleburkn diri menjadi suatu
kesatuan yang saling berkmunikasi dan berkerja sama dengan orang banyak. Sehingga anak menjadi anak ekstropet anak
yang ramah dalam bersosialisasi dimana anak untuk mengambi keputusan atas kebersamaan kesepakatan bersama inilah
yang diharapkan oleh bangsa dan Negara. Disisi lain anak intropet artinya anak tidak mau bersoaialisasi dan mengambil
keputusan atas dirinya tanpa memperhatian teman yang lain. Oleh karena itu, kita sebagai pendidik anak usia dini
seyogianya membimbing, membina dan melatih anak bersosialisasi untuk menjadi orang yang matang bersosial kelak
dewasa menjadi keadilan sosial di masyarakat sesuai dengan sila kelima dari Pancasila.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial AUD: faktor ling-kungan keluarga: status di keluarga,
keutuhan keluarga, sikap dan kebiasaan orangtua; faktor dari luar rumah; faktor pengaruh pengalaman sosial anak. Usaha
guru untuk mengembangkan sosial AUD: menyediakan sudut berhias; bagi anak-anak yang berusia 3 tahun, alat-alat
permainan yang baik harus mencukupi menggunakan boneka untuk model teknik yang sesuai dalam memasuki suatu
kelompok bermain; mendorong anak-anak untuk membuat keputusan sebanyak mungkin; model empati dan mempedulikan
perilaku serta mendorong anak-anak untuk melakukan perilaku ini; bermain peran merupakan solusi untuk memecahkan
masalah dalam interaksi sosial.

REFERENSI
Ria, Benny Dikta Rianggi, dkk., Faktor Dominan yang Mempengaruhi Kemampuan Berinteraksi Sosial, Pontianak:
Universitas Tanjungpura, 2013.
Berthold, K. A. and Hoover, J. H., Correlates of Bullying and Victimization among Intermediate Students in the Midwestern,
USA Sage Publication Vol. 21, No.1, 2000.
Coloroso, Stop Bullying (Memutus Rantai Kekerasan Anak dari Prasekolah Hingga SMU), Jakarta: Serambi Ilmu Semesta,
2003.
Craig, W. M., Pepler, D., & Atlas, R., Observational of Bullying in the Playground and in the Classroom, School Psychology
International. 21, 1, 22-36, 2000
Depdiknas, Kerangka Dasar Kurikulum 2004, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2004.
Djuwita, R., Kekerasan Tersembunyi di Sekolah: Aspek-aspek Psikososial dari Bullying. Jakarta: Tidak diterbitkan, 2006
Elliot, M., Wise Guides Bullying, New York: Hodder Children’s Books, 2005.
Hurlock E. B., Perkembangan Anak Jilid I (Med Meitasari Tjandrasa. Terjemahan), Yogyakarta: Erlangga, 1978.
Huraerah, Abu, Kekerasan Terhadap Anak, Bandung: Nuansa Cendekia, 2012.
Krahe, B., Perilaku Agresif: Buku Panduan Psikologi Sosial. Terjemahan: Drs. Helly Prajitno Soetjipto, MA & Dra. Sri
Mulyantini Soetjipto, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

http://semnastafis.unimed.ac.id ISSN: 2598-3237 (media cetak)


ISSN: 2598-2796 (media online)
553
Prosiding Seminar Nasional Tahunan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan Tahun 2017 Vol. 1 No. 1 2017, Hal. 550-554

Liu, J., & Graves, N, Childhood Bullying: A Review of Constructs, Concepts and Nursing Implications, Public Health Nursing,
Vol.28, No.6, hal 556-568, 2011.
Murphy, M. M. & Bannas, Dealing with Bullying, New York: Chelsea House, 2009.
Olweus, D., Bullying at school, Australia: Blackwell publishing, 2004.
O’Brennan, L.M., Bradshaw, C.P., & Sawyer, A.L., Examining developmental differences in the social-emotional problems
among frequent bullies, victims, and bully/victims, Psychology in the Schools, Vol 46 No.2, hal 100-115, 2009.
Rigby, K., New Perspectives on Bullying, London: Jessica Kingsley, 2002.
Sahnaz, M., Pengaruh pengungkapan Corporate Social Responsibility terhadap kinerja keuangan pada perusahaan
perbankan, Malang: Universitas Brawijaya, 2011.
Santrock, J. W., Adolescence: Perkembangan Remaja, Jakarta: Erlangga, 2003.
Slamet Suyanto, Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Yogyakarta: Hikayat Publishing, 2005.
Sujiono, Yuliani Nurani & Sujiono, Bambang, Bermain Kreatif Berbasis Kecerdasan Jamak, Jakarta: PT Indeks, 2013.
Susanto, Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana Prenada. 2011.
Departemen Pendidikan Nasional, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bandung:
Citra Umbara, 2003.
Veenstra, R, at.al., Bullying and Victimization in Elementary Schools: A Comparison of Bullies, Victims, Bully/Victims, and
Uninvolved Preadolescents, Developmental Psychology, 41,4,672-682, 2005.
Wong, et.al, Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong, Alih bahasa: Agus Sutarna, Neti. Juniarti, H.Y. Kuncoro. Editor edisi
Bahasa Indonesia: Egi Komara Yudha, dkk, Edisi 6. Jakarta: EGC, 2001.

http://semnastafis.unimed.ac.id ISSN: 2598-3237 (media cetak)


ISSN: 2598-2796 (media online)
554