Anda di halaman 1dari 12

PEMBAHASAN

4.1 Konsep Dasar Pengendalian Intern


Pengendalian internal adalah suatu proses yang dilaksanakan atau dipengaruhi oleh
dewan direksi, manajemen, dan personel lainnya dalam suatu entitas, yang dirancang untuk
menyediakan keyakinan yang memadai berkenaan dengan pencapaian tujuan dalam kategori:

1. Keandalan suatu unsur-unsur laporan keuangan


2. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku
3. Efektivitas dan efisiensi operasi

Pengendalian internal juga dirancang untuk tujuan tambahan yaitu mengamankan


aset/kekayaan organisasi, yaitu memberikan keyakinan yang memadai bahwa perolehan,
penggunaan, dan pelepasan aset organisasi secara tidak sah dapat dicegah atau dideteksi
dengan segera

Menurut PP No 60 Th 2008 Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), sistem


pengendalian internal adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang
dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan
keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan
efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap
peraturan perundang-undangan.

Definisi pengendalian internal mengandung konsep fundamental adalah sebagai berikut:

1. Pengendalian internal adalah suatu proses/cara.


2. Pengendalian internal dipengaruhi oleh personel/orang pada setiap tingkatan
organisasi, termasuk pimpinan puncak organisasi tersebut.
3. Pengendalian internal hanya dapat memberikan keyakinan yang memadai,
bukannya keyakinan yang absolut bagi pimpinan organisasi.
4. Pengendalian internal dirancang untuk mencapai tujuantujuan pelaporan
keuangan, ketaatan, dan kegiatan tersebut secara bersama-sama.

1
Sistem Pengendalian Internal Pemerintah terdiri atas unsur :

1. Lingkungan pengendalian

Lingkungan pengendalian diperlukan untuk mendorong perilaku positif dan


kondusif dalam penerapan Sistem Pengendalian Internal melalui:

a) Penegakan integritas dan nilai etika


b) Komitmen terhadap kompetensi
c) Kepemimpinan yang kondusif
d) Pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan
e) Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat
f) Penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat tentang pembinaan
sumber daya manusia
g) Perwujudan peran aparat pengawasan intern
h) Pemerintah yang efektif
i) Hubungan kerja yang baik dengan Instansi Pemerintah terkait.

2. Penilaian risiko

Penilaian risiko terdiri atas:

1) Identifikasi risiko dan dilakukan dengan cara:

a) Menggunakan metodologi yang sesuai untuk tujuan Instansi Pemerintah


dan tujuan pada tingkatan kegiatan secara komprehensif
b) Menggunakan mekanisme yang memadai untuk mengenali risiko dari
faktor eksternal dan faktor internal
c) Menilai faktor lain yang dapat meningkatkan risiko.

2) Analisis risiko, dilaksanakan untuk menentukan dampak dari risiko yang


telah diidentifikasi terhadap pencapaian tujuan Instansi Pemerintah.

2
3. Kegiatan pengendalian

Kegiatan pengendalian terdiri atas :

1) Review atas kinerja Instansi Pemerintah yang bersangkutan


2) Pembinaan sumber daya manusia
3) Pengendalian atas pengelolaan sistem informasi
4) Pengendalian fisik atas aset
5) Penetapan dan review atas indikator dan ukuran kinerja
6) Pemisahan fungsi
7) Otorisasi atas transaksi dan kejadian yang penting
8) Pencatatan yang akurat dan tepat waktu atas transaksi dan kejadian
9) Pembatasan akses atas sumber daya dan pencatatannya
10) Akuntabilitas terhadap sumber daya dan pencatatannya
11) Dokumentasi yang baik atas Sistem Pengendalian Intern serta transaksi
dan kejadian penting.

4. Informasi dan komunikasi

Pimpinan Instansi Pemerintah wajib mengidentifikasi, mencatat, dan


mengkomunikasikan informasi dalam bentuk dan waktu yang tepat. Komunikasi atas
informasi tersebut harus dilakukan secara efektif dengan cara:

1) Menyediakan dan memanfaatkan berbagai bentuk dan sarana komunikasi


2) Mengelola, mengembangkan, dan memperbarui sistem informasi secara
terus menerus.

5. Pemantauan pengendalian intern

Pimpinan Instansi Pemerintah wajib melakukan pemantauan Sistem Pengendalian


Intern dengan cara:

1) Pemantauan berkelanjutan, (misal : pengelolaan rutin, supervisi, rekonsiliasi,


membandingkan hasil dengan tolok ukur)

3
2) Evaluasi terpisah (misal : penilaian sendiri, review dan pengujian efektivitas
pengendalian internal oleh aparat pengawas internal atau pihak eksternal dengan
menggunakan Daftar Uji Pengendalian Internal)
3) Tindak lanjut rekomendasi hasil audit dan review lainnya.
Untuk memperkuat dan menunjang efektivitas Sistem Pengendalian Internal perlu
dilakukan:
1) Pengawasan internal atas penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah
termasuk akuntabilitas keuangan negara melalu:
a) Audit
b) Reviu
c) Evaluasi
d) Pemantauan
e) Kegiatan pengawasan lainnya
2) Pembinaan penyelenggaraan SPIP.
Untuk audit keuangan, auditor harus memperoleh pemahaman atas pengendalian internal
untuk:
1) Menilai risiko pengendalian
2) Menentukan sifat, saat dan ruang lingkup pengujian atas pengendalian, ketaatan
dan substantif.
3) Menyatakan pendapat atau membuat laporan atas pengendalian internal berkenaan
dengan laporan keuangan dan ketaatan.

Untuk audit kinerja, auditor harus memperoleh pemahaman atas unsur-unsur


pengendalian intern yang berkaitan dengan keberadaan, kelengkapan, dan penilaian asersi
yang relevan dengan ukuran-ukuran kinerja yang dilaporkan dalam LAKIP.
Pengendalian-pengendalian yang perlu dipahami oleh auditor:
1. Pengendalian pelaporan keuangan
Pengendalian Pelaporan Keuangan bertujuan untuk mencegah atau menemukan
salah saji pada asersi laporan keuangan/anggaran, misalnya untuk asersi
keberadaan atau keterjadian, salah saji potensial dapat terjadi pada empat bidang
berikut:

4
1) Validitas, transaksi-transaksi yang tercatat tidak mewakili kejadian-
kejadian ekonomi yang sebenarnya.
2) Titik pisah (cutoff), transaksi-transaksi dicatat dalam periode yang berbeda
dengan periode timbulnya kejadian ekonomi.
3) Pengikhtisaran, transaksi-transaksi diringkas dengan cara yang tidak benar
sehingga angka totalnya dilaporkan terlalu tinggi.
4) Keberadaan, aset-aset dan hutang-hutang entitas tidak ada pada suatu
tanggal tertentu.
Salah saji potensial dan tujuan pengendalian yang ditetapkan adalah dasar
utama bagi auditor menilai efektivitas pengendalian internal entitas yang
diaudit.
2. Pengendalian Pengamanan
Pengendalian pengamanan bertujuan mengamankan aset dari perolehan,
penggunaan dan pelepasan yang tidak sah, dengan cara membatasi akses yang
tidak sah terhadap aset dan dokumennya. Contoh bentuk pengendalian
pengamanan:
1) Penerimaan kas dicatat sebelum kas disetorkan ke bank (kas negara).
2) Penggunaan fasilitas pengamanan. Akses terhadap formulir dan mesin-
mesin yang penting (misalnya mesin penandatangan) dibatasi hanya kepada
pegawai yang berwenang.
3) Akses terhadap sistem informasi dibatasi hanya kepada pegawai yang
berwenang. Misalnya, manual, terminal komputer, file backup ditempatkan
pada ruangan dengan pengamanan yang hanya bisa dimasuki oleh pegawai
yang berwenang.
4) Aset/harta dan catatan-catatan dilindungi dari kerusakankerusakan fisik,
Misalnya, penggunaan alarm, satpam, alat-alat pemadaman kebakaran
untuk menghindari perusakan secara sengaja maupun tidak sengaja
terhadap aset/catatan.
5) Aset yang dikeluarkan dan dimasukkan dicatat, diperiksa, diterima atau
diserahkan hanya dengan otorisasi yang sah sesuai dengan prosedur yang
telah ditetapkan.

5
6) Prosedur-prosedur ditetapkan untuk memberikan keyakinan yang memadai
bahwa file data dapat diperbaiki bila terjadi kegagalan sistem komputer.
7) Akses terhadap dokumen-dokumen dan formulir-formulir penting dibatasi,
misalnya akses terhadap cek bank.
3. Pengendalian anggaran
Pengendalian anggaran bertujuan untuk memberikan keyakinan yang
memadai bahwa entitas telah : 1. Mencatat, memproses, dan meringkas transaksi-
transaksi dengan benar yang memungkinkan penyajian laporan realisasi anggaran
sesuai dengan peraturan pelaporan anggaran yang berlaku; 2. Melaksanakan
transaksi-transaksi sesuai dengan otorisasi dalam anggaran
4. Pengendalian ketaatan
Pengendalian ketaatan bertujuan untuk menyediakan keyakinan yang
memadai bahwa entitas telah menaati semua peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Tujuan-tujuan pengendalian ketaatan harus cocok dengan peraturan yang
mendasarinya dan didokumentasikan pada kertas kerja secara terpisah atau dapat
juga digabungan dengan kertas kerja untuk pengendalian-pengendalian pelaporan
keuangan.
5. Pengendalian operasional
Pengendalian operasional dimaksudkan untuk memberikan keyakinan yang
memadai bahwa entitas telah mencapai tujuannya secara efektif dan efisien.
Bagian utama dari pengendalian operasional adalah pengendalian-pengendalian
ukuran kinerja yang dirancang untuk memberikan keyakinan yang memadai
bahwa data yang mendukung ukuran-ukuran kinerja yang dilaporkan pada laporan
akuntabilitas telah dicatat dan dipertanggungjawabkan untuk memungkinkan
penyusunan informasi kinerja yang andal dan lengkap.
4.2 Hubungan antara Pengendalian Intern dengan Lingkungan Audit
Manajemen perusahaan menerapkan sistem pengendalian intern agar mencapai kinerja
yang efektif dan efisien. Evaluasi secara periodik dan kontinu atas pengendalian intern
adalah alat manajemen untuk meyakinkan bahwa pengendalian intern yang diterapkan
efektif dan diperoleh perbaikan-perbaikan atas kekurangan yang ada.

6
Salah satu alat evaluasi itu adalah audit. Audit mengevaluasi setial pengendalian yang
mempengaruhi efektivitas dan efisiensi perusahaan. Oleh karena itu, pengendalian intern
termasuk dalam ruang lingkup audit. Hasil audit itu sendiri berupa rekomendasi perbaikan-
perbaikan atas kekurangan atau kelemahan dari sistem pengendalian intern yang ada. Audit
akan mengalami serta memberikan rekomendasi perbaikan terhadap pengendalian intern
disuatu perusahaan.
4.3 Alat untuk Memahami Pengendalian Intern
Pemahaman dan evaluasi atas pengendalian intern merupakan bagian yang sangat panting
dalam proses pemeriksaan oleh akuntan publik. Karena baik buruknya pengendalian intern
akan memberikan pengaruh yang besar terhadap:
a) keamanan aset perusahaan
b) dapat dipercayai atau tidaknya laporan keuangan perusahaan
c) lama atau cepatnya proses pemeriksaan akuntan
d) tinggi rendahnya audit fee
e) jenis opini yang akan diberikan akuntan publik
Ada tiga cara yang bisa digunakan akuntan publik, yaitu:
1) Internal Control Questionnaires
Cara ini banyak digunakan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP), karena dianggap
lebih sederhana dan praktis. Biasanya KAP sudah memiliki satu set ICQ yang
standar, yang bisa digunakan untuk memahami dan mengevaluasi pengendalian
intern diberbagai jenis perusahaan. Pertanyaan-pertanyaan dalam ICQ diminta untuk
dijawab Ya (Y), Tidak (T), atau Tidak Relevan (TR). Jika pertanyaan-pertanyaan
tersebut sudah disusun dengan baik, maka jawaban " a” akan menunjukkan ciri
internal control yang baik, “Tidak” akan menunjukkan Ciri internal control yang
lemah, "Tidak Relevan" berarti pertanyaan tersebut tidak relevan untuk
perusahaan tersebut. ICQ biasanya dikelompokkan sebagai berikut:
a) Umum
Biasanya pertanyaan menyangkut struktur organisasi, pembagian tugas dan
tanggung jawab, akta pendirian dan pertanyaan umum lainnya mengenai
keadaan perusahaan.

7
b) Akuntansi
Pertanyaan-pertanyaan menyangkut keadaan pembukuan perusahaan,
misalnya apakah proses pembukuan dilakukan secara manual atau
computerized, jumlah dan kualifikasi tenaga di bagian akuntansi dan Iain-
lain.
c) Siklus Penjualan-Piutang-Penerimaan Kas
Pertanyaan-pertanyaan menyangkut sistem dan prosedur yang terdapat di
perusahaan dalam siklus pemjualan (kredit dan tunai), utang dan pengeluaran
kas.
d) Siklus PembelianpUtang Pengeluaran Kas
Pertanyaan-pertanyaan menyangkut sistem dan prosedur yang terdapat di
perusahaan dalam siklus pembelian (kredit dan tunai), utang dan pengeluaran
kas.
e) Persediaan
Pertanyaan-pertanyaan menyangkut sistem dan prosedur penyimpanan dan
pengawasan fisik persediaan, sistem pencatatan dan metode penilaian
persediaan dam stock opname.
f) Surat Berharga (Securities)
Pertanyaan-pertanyaan menyangkut surat berharga, otorosasi untuk
pembelian dan penjualan surat berharga dan penilaiannya.
g) Aset Tetap
Pertanyaan-pertanyaan menyangkut sistem dan prosedur penambahan dan
pengurangan aset tetap, pencatatan dan penilaian aset tetap dan lain-Iain.
h) Gaji dan Upah
Pertanyaan-pertanyaan menyangkut kebijakan personalia (human resources
development) serta sistem dan prosedur pembayaran gaji dan upah.
2) Flow Chart
Flow Chart menggambarkan arus dokumen dalam sistem dan prosedur di suatu unit
usaha. Misalnya dalam flow chart untuk sistem dan PTOSEdUF Pembelian, utang
dan pengeluaran kas, digambarkan arus dokumen mulai dari permintaan pembelian
(puchase requisition), order pembelian (purchase order) sampai dengan pelunasan

8
utang yang berasal dari pembelian tersebut. Untuk auditor yang terlatih baik
penggunaan flow chart lebih disukai karena auditor bisa lebih cepat melihat apa saja
kelemahan-kelemahan dan kebaikan-kebaikan dari suatu sistem dan prosedur. Untuk
penugasan tahun-tahun berikutnya, auditor harus selalu memutakhirkan
(mengupdate) flow chart tersebut untuk mengetahui apakah terdapat perubahan-
perubahan dalam sistem dan prosedur perusahaan. Setelah flow chart dibuat, auditor
harus melakukan walk through, yaitu mengambil dua atau tiga dokumen untuk
mengetes apakah prosedur yang dijalankan sesuai dengan apa yang digambarkan
dalam flow chart. Misalnya ambil satu set dokumen untuk pelunasan utang yang
berasal dari pembelian persediaan secara kredit. Periksa apakah semua dokumen
(purchase requistion, purchase order, receiving report, supplier invoice dan cash
payment voucher) sudah diproses sesuai dengan prosedur yang digambarkan Dalam
row chart pembelian, utang dan pengeluran kas.
3) Narrative
Dalam hal ini auditor menceritakan dalam bentuk memo, sistem dan prosedur
akuntansi yang berlaku di perusahaan, misalnya prosedur pengeluaran kas. Cara ini
biasa digunakan untuk klien kecil yang pembukuannya sederhana.
4.4 Keterbatasan Pengendalian Intern
1. Kekeliruan pengoperasian sistem (mistake in judgement) karena terbatasnya informasi
dan waktu,karena tekanan lingkungan, atau karena terbatasnya kemampuan, meskipun
SPI sudah dilengkapi denganpedoman penyelesaian masalah.
2. Pelanggaran sistem (breakdowns), baik disengaja atau tidak, misalnya karena
kesalahan interpretasi, kecerobohan, gangguan lingkungan, perubahanpersonalia, atau
perubahan sistem dan prosedur.
3. Kolusi, atau kerjasama negatif sekelompok orang.
4. Pelanggaran dengan sengaja oleh manajemen (management override)
5. Dilema biaya-manfaat (costs versus benefits)
Menurut Jusup (2001:254-255) memaparkan bahwa keterbatasan bawaan yang melekat
dalam setiap sistem pengendalian intern sebagai berikut :

a) Kesalahan dalam pertimbangan.


b) Kemacetan.

9
c) Kolusi.
d) Pelanggaran oleh manajemen.
e) Biaya dan manfaat.

Berdasarkan hal tersebut di atas dapat dijelaskan masing-masing komponen sebagai berikut:

1. Kesalahan dalam pertimbangan. Seringkali manajemen dan personel lain dapat salah
dalam mempertimbangkan keputusan bisnis yang diambil atau dalam melaksanakan
tugas rutin karena tidak memadainya informasi, keterbatasan waktu atau tekanan lain.
2. Kemacetan. Kemacetan dalam pengendalian yang telah berjalan bisa terjadi karena
petugas salah mengerti tentang instruksi, atau melakukan kesalahan karena
kecorobohan, kebingungan, atau kelelahan. Perpindahan personil sementara atau tetap,
atau perubahan sistem atau prosedur bisa juga mengakibatkan kemacetan.
3. Kolusi. Tindakan bersama beberapa individu untuk tujuan kejahatan disebut dengan
kolusi. Kolusi dapat mengakibatkan bobolnya pengendalian intern yang dibangun
untuk melindungi kekayaan entitas dan tidak terungkapnya ketidak beresan atau tidak
terdeteksinya kecurangan oleh sistem pengendalian intern yang dirancang.
4. Pelanggaran oleh manajemen. Manajemen dapat mengabaikan kebijakan atau prosedur
yang telah ditetapkan untuk tujuan yang tidak sah seperti keuntungan pribadi manajer,
penyajian kondisi keuangan yang berlebihan, atau kepatuhan semu.
5. Biaya dan manfaat. Biaya yang diperlukan untuk mengoperasikan struktur
pengendalian intern tidak boleh melebihi manfaat yang diharapkan dari pengendalian
intern tersebut. Karena pengukuran secara tepat baik biaya maupun manfaat biasanya
tidak mungkin dilakukan, manajemen harus memperkirakan dan mempertimbangkan
secara kuantitatif dan kualitatif dalam mengevaluasi biaya dan manfaat suatu struktur
pengendalian intern. Karena adanya keterbatasan pengendalian internal, bahwa
penerapan pengendalian internal bukan ditujukan untuk menghilangkan semua
kemungkinan kecurangan dan kesalahan yang terjadi harus dapat diketahui dan diatasi
secepatnya. Pengendalian internal tidak dapat dikatakan efektif meskipun disertai
kehati-hatian dalam perancangan dan implementasinya, bahkan meskipun pegawai
sistem dapat merancang sistem yang ideal efektivitas yang tergantung kepada
kompetensi dan ketergantungan orang yang menggunakannya.

10
SIMPULAN
1. Sistem pengendalian internal adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan
yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk
memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan
yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan
ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Sistem Pengendalian Internal
Pemerintah terdiri atas unsur lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan
pengendalian, informasi dan komunikasi dan pemantauan pengendalian intern.
2. Manajemen perusahaan menerapkan sistem pengendalian intern agar mencapai kinerja
yang efektif dan efisien. Salah satu alat evaluasi itu adalah audit. Audit mengevaluasi
setial pengendalian yang mempengaruhi efektivitas dan efisiensi perusahaan. Oleh karena
itu, pengendalian intern termasuk dalam ruang lingkup audit.
3. Pemahaman dan evaluasi atas pengendalian intern merupakan bagian yang sangat panting
dalam proses pemeriksaan oleh akuntan publik. Ada tiga cara yang bisa digunakan
akuntan publik, yaitu Internal Control Questionnaires, Flow Chart, dan Narrative.
4. Keterbatasan bawaan yang melekat dalam setiap sistem pengendalian intern adalah
kesalahan dalam pertimbangan, kemacetan, kolusi, pelanggaran oleh manajemen, serta
biaya dan manfaat.

11
DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. Sukrisno Agoes, S.E.,Ak.,M.M.,CPA.,CA.2014. Buku 1 Edisi Ketiga. Auditin


Pemeriksaan Akuntan oleh Akuntan Publik

Prof. Dr. Abdul Halim, M.B.A., Akt. Jilid 1 Edisi Kelima. Auditing Dasar-Dasar Audit Laporan
Keuangan

http://yanuar.sewaacrida.com/hubungan-pengendalian-internal-dan-audit/ (diakses pada Sabtu 9


Maret 2019)

https://klc.kemenkeu.go.id/pusku-konsep-dasar-pengendalian-intern/ (diakses pada Sabtu, 9


Maret 2019)

https://dosenakuntansi.com/pengendalian-internal-dalam-audit (diakses pada Sabtu, 9 Maret


2019)

12