Anda di halaman 1dari 164

PERANCANGAN SISTEM INFORMASI SENSUS HARIAN

RAWAT INAP MENGGUNAKAN VISUAL STUDIO 2010


DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MAJALAYA
BANDUNG

SKRIPSI
Untuk Memenuhi Sebagian Syarat
Kelulusan Ujian Akhir Program Diploma IV
Program Studi Manajemen Informatika
Konsentrasi Informatika Rekam Medis

Disusun Oleh :
YUSUF WILDANI FAUZI
NPM. 13.300.004

POLITEKNIK
PIKSI GANESHA BANDUNG
2016
ABSTRAK
YUSUF WILDANI FAUZI
NPM. 13.300.004
Menejemen Informatika
Konsentrasi Informatika Rekam Medis

PERANCANGAN SISTEM INFORMASI SENSUS HARIAN UNIT


RAWAT INAP DENGAN MENGGUNAKAN MICROSOFT VISUAL
STUDIO 2010 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MAJALAYA
BANDUNG

Skripsi: 155 Halaman


Tujuan penelitian adalah untuk perancangan sistem informasi sensus
harian unit rawat inap dengan menggunakan microsoft visual studio 2010 di
Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya Bandung.
Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu metode dengan pendekatan
kualitatif dan Metode penelitian deskriptif yakni kedua metode ini saling
berkesinambungan agar mengetahui permasalahan yang ada dan menelitinya
secara objektif. Data penelitian dikumpulkan dari observasi dan wawancara
kepada pelaku sistem dan berbagai buku ilmiah serta literatur lainnya, Serta
aplikasi pendukung yang digunakan adalah Visual Studio 2010 dan Microsoft
Acces 2007.
Dari hasil penelitian yang dilakukan ditemukan permasalahan , yaitu:
belum tersedianya sajian data tentang efesiensi penggunaan tempat tidur, sensus
harian masih dilakukan secara manual, dan sering terlambatnya laporan data
sensus dari admin ruangan.
Saran-saran yang diberikan yaitu: (1). Membuat sistem khusus yang
mengatur persoalan efesiensi penggunaan tempat tidur, (2). Membuat sistem baru
sehingga sensus dilakukan secara komputerisasi, dan (3). Melakukan sosialisasi
kepada setiap admin ruangan agar selambat-lambatnya laporan dikirimkan pada
pukul 09.00 WIB.

Kata Kunci : Desain, Sistem Informasi, Sensus Harian, Unit Rawat Inap, Visual
Studio 2010.
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Permasalahan

Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya Bandung adalah Rumah Sakit

milik pemerintah, berdiri sejak tahun 1951, yang pada mulanya adalah

puskesmas DPT. Pada tahun 2012 menjadi Rumah Sakit Umum dengan surat

keputusan dari No.769/MENKES/sk/VI/2010. Rumah Sakit Umum Daerah

Majalaya Bandung mempunyai visi untuk menjadi Rumah Sakit Umum

dengan tingkat pelayanan tertier pilihan utama masyarakat majalaya dan

sekitarnya, khususnya kelompok masyarakat menengah dan bawah.

Salah satu pengelolaan pelayanan Rumah Sakit yang mendapat perhatian

yang cukup besar adalah Unit Rawat Inap. Hal ini dikarenakan fungsi Rumah

Sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan banyak ditentukan oleh pelayanan

di Unit Rawat Inap (URI). Dalam pengelolaan Unit Rawat Inap ( URI ),

salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah pengelolaan tempat tidur

pasien. Pengelolaan tempat tidur pasien perlu mendapat perhatian besar

dari manajemen Rumah Sakit karena sebagai tempat perawatan pasien,

perlu diatur guna memperoleh Efisiensi penggunaannya. Dalam pengelolaan

tempat tidur di URI, manajemen Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya

Bandung, perlu mengevaluasi Efisiensi penggunaan tempat tidur untuk

masing masing bangsal URI. Hasil evaluasi ini dapat digunakan untuk
melakukan relokasi tempat tidur dengan mengurangi tempat tidur pada

bangsal yang okupansinya rendah, dipindah ke bangsal yang tingkat

penggunaannya tinggi, bahkan cenderung over load, atau dijadikan dasar

untuk tetap dilakukan operasionalisasi pelayanan URI, menutupnya, bahkan

mengganti pelayanan lain yang lebih efisien dan menguntungkan. Sampai

saat ini evaluasi penggunaan tempat tidur URI mengalami kesulitan,

dikarenakan tidak adanya informasi yang mampu memberikan tingkat

Efisiensi penggunaan tempat tidur yang dapat diandalkan dan bersifat

continue. Bila ada informasi, sampai saat ini belum dapat digunakan untuk

pengambilan keputusan secara optimal.

Evaluasi penggunaan tempat tidur, agar tepat dapat menggunakan data

yang disetorkan dari admin ruangan serta melihat kecenderungannya tiap

waktu. Oleh karena itu, dengan menggunakan indikator Rumah Sakit

tersebut, dapat diketahui apakah tempat tidur yang disediakan telah

digunakan efisien.

Penggunaan masing-masing indikator Rumah Sakit tersebut tidak mudah,

karena mempunyai angka standar yang berbeda beda. Meskipun demikian

pengolahan data kegiatan Unit Rawat Inap untuk menjadi indikator Rumah

Sakit tersebut sudah dilakukan secara manual oleh dua orang petugas Unit

Rekam Medis, khususnya bagian Analising Reporting yang berlatar belakang

pendidikan Diploma Tiga Rekam Medis. Pelaporan pengolahan data

kegiatan dilakukan perbulan. Selain petugas Rumah Sakit tersebut, tidak ada
yang dapat melakukan kegiatan pengolahan data menjadi indikator Rumah

Sakit tersebut.

Pengolahan data secara manual yang saat ini dilakukan memiliki

beberapa kelemahan diantaranya: Memerlukan waktu yang lama, Telatnya

laporan dari admin ruangan rawat inap, Ancaman pada akurasi dan ketelitian

data dikarenakan Human Error.

Disini penulis akan memberi masukan agar dapat dengan jelas

menganalisa dan sekaligus menyajikan Efisiensi penggunaan tempat tidur

baik dari segi mutu medis maupun ekonomis, dengan menampilkan indikator

Rumah Sakit tersebut, yakni dapat menunjukkan Efisiensi penggunaan tempat

tidur di URI, secara visual dengan cara melihat data pasien peruangan dan

perkelas.

Berdasarkan masalah manajerial Rumah Sakit tersebut, diperlukan sistem

informasi Efisiensi penggunaan tempat tidur yang berbasiskan komputer

dengan menggunakan model grafik. Karena dengan sistem informasi yang

otomatis, kebutuhan informasi yang cepat dan akurat dapat terpenuhi, selain

juga dapat disajikan informasi secara interaktif dan komunikatif. Grafik

Efisiensi ini juga dapat digunakan sebagai alat yang baik dan memudahkan

para manajer untuk memantau Efisiensi penggunaan tempat tidur, karena

disajikan dalam bentuk visual grafik. Berdasarkan penjelasan diatas, maka

penulis tertarik untuk mengambil judul


PERANCANGAN SISTEM INFORMASI SENSUS HARIAN

RAWAT INAP MENGGUNAKAN VISUAL STUDIO 2010 DI RUMAH

SAKIT UMUM DAERAH MAJALAYA.

1.2 Pokok Permasalahan

Berdasarkan latar belakang yang penulis sampaikan di atas maka pokok

permasalahannya bagaimana perancangan sistem informasi pengolahan data

sensus harian untuk mengetahui penggunaan tempat tidur di Unit Rekam

Medis Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya.

1.3 Pertanyaan Penelitian

A. Bagaimana pengolahan data sensus harian rawat inap Unit Rekam Medis

di Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya?

B. Permasalahan apa saja yang terdapat dalam pengolahan data sensus harian

rawat inap Unit Rekam Medis di Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya?

C. Upaya apa saja yang telah dilakukan untuk mengatasi berbagai masalah

dalam pengolahan data sensus harian rawat inap Unit Rekam Medis di

Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya?

D. Bagaimana perancangan sistem informasi pengolahan data sensus harian

rawat inap Unit Rekam Medis di Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya?

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian

A. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah membuat suatu

perancangan sistem informasi untuk membantu meningkatkan

efektifitas pengolahan laporan sensus harian rawat inap Unit Rekam

Medis di Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui pengolahan data sensus harian rawat inap Unit

Rekam Medis di Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya.

b. Untuk mengetahui permasalahan yang ada pada pengolahan data

sensus harian rawat inap Unit Rekam Medis di Rumah Sakit

Umum Daerah Majalaya.

c. Untuk mengetahui upaya apa yang telah dilakukan guna mengatasi

permasalahan dalam pengolahan sensus harian rawat inap Unit

Rekam Medis di Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya.

d. Untuk mengetahui rancangan sistem informasi pengolahan data

sensus harian rawat inap Unit Rekam Medis di Rumah Sakit

Umum Daerah Majalaya.

B. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dari penulisan Skripsi ini yaitu:

1. Bagi Rumah Sakit

Sebagai bahan masukan untuk menyelesaikan permasalahan yang

ada dalam pengolahan data sensus harian rawat inap Unit Rekam
Medis di Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya sehingga dapat

menyajikan informasi yang efisien, tepat waktu dan relevan.

2. Bagi Akademik

Menambah kepustakaan dalam pengembangan ilmu di bidang

rekam medis khususnya mengenai efektifitas sistem informasi

pengolahan data sensus harian rawat inap serta dapat dijadikan

sebagai sumber informasi bagi perkembangan profesi rekam medis.

3. Bagi Penulis

Sebagai bahan pengembangan maupun pengimplementasian ilmu

pengetahuan yang telah diperoleh selama mengikuti perkuliahan dan

mampu menerapkannya di lapangan kerja.

1.5 Ruang Lingkup dan Batasan Analisis Permasalahan

A. Ruang Lingkup

Permasalahan yang akan dibahas meliputi:

1. Pengolahan data pasien rawat inap mulai dari TPPRI (Tempat

Penerimaan Pasien Rawat Inap), Admin Ruangan Rawat Inap, sampai

ke bagian Rekam Medis.

2. Pengolahan data sensus harian rawat inap.

3. Proses pembuatan laporan sensus harian rawat inap.

B. Batasan Analisis Permasalahan

Adapun batasan permasalahan dari sistem yang akan dirancang

yaitu:
1. Materi penelitian dibatasi pada perancangan sistem informasi rawat

inap, proses pengolahan data sensus harian rawat inap, hingga

menghasilkan keluaran barupa laporan sensus harian rawat inap.

2. Keterbatasan dalam informasi yang dihasilkan, berupa Efisiensi

penggunaan tempat tidur seluruh Rumah Sakit yang disajikan dalam

periode perbulan dalam setahun.

3. Keterbatasan dalam penetapan kebutuhan informasi dan data base

yang akan digunakan, sehingga mempengaruhi model sistem yang

akan dikembangkan.

1.6 Metode Penelitian

Dalam menyelesaikan Skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian

deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode penelitian kualitatif yaitu

penelitian yang tidak menekankan pada perhitungan angka-angka dalam

memberikan bobot penilaian terhadap suatu permasalahan melainkan dengan

menganalisa dan memahami proses kerja yang ada. Metode penelitian

deskriptif adalah metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama

untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara

objektif. Metode penelitian deskriptif digunakan untuk memecahkan masalah

atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada masa sekarang.

(Notoatmodjo, 2010:138).

1.7 Waktu dan Tempat Penelitian

Dalam melakukan penelitian ini selama 2 bulan tertanggal sejak 11 April

2016 sampai 11 Juni 2016. Bertempat di Unit Rekam Medis Rumah Sakit
Umum Daerah Majalaya. Teknis penelitian dilakukan pada sela-sela waktu

praktek kerja lapangan.

1.8 Sistematika Penulisan Penelitian

Penyusunan Skripsi harus sesuai dengan sistematika yang baik danbenar

terdiri dari 6 bab, yang secara garis besar akan disusun sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini terdiri dari beberapa pokok bahasan yang terdiri dari latar

belakang, pokok permasalahan, pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat

penelitian, Ruang lingkup dan Batasan Sistem, Metodologi Penelitian dan

Teknik Pengumpulan data, Waktu dan Tempat penelitian dan sistematika

penulisan penelitian.

BAB II LANDASAN TEORI

Pada bab ini berisi tentang landasan teori-teori yang menunjang dan

digunakan dalam penulisan Skripsi.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini berisi tentang berbagai metodologi yang digunakan dalam

penyusunan skripsi ini.

BAB IV ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN

Pada bab ini penulis menguraikan tentang Profil Unit Rekam Medis

Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya, visi dan misi Unit Rekam Medis

Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya, Struktur Organisasi Unit Rekam


Medis Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya, uraian prosedur, kesimpulan

hasil analisis.

BAB V PERANCANGAN SISTEM

Pada bab ini berisi rancangan proses, rancangan basis data, rancangan

keluaran, rancangan masukan, spesifikasi perangkat keras dan lunak,

implementasi dan pengujian sistem.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini penulis akan mengemukakan tentang kesimpulan yang

merupakan sintesis hasil dari penelitian dan pembahasan. Pada akhir bab

ini penulis berusaha memberikan saran-saran yang bermanfaat.


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Teori – Teori Tentang Konsep Dasar

E. Konsep Rumah Sakit

1. Pengertian Rumah Sakit

Berdasarkan UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit,

menjelaskan bahwa Rumah Sakit adalah “institusi pelayanan kesehatan

perseorangan secara paripurna (yang meliputi promotif, preventif,

kuratif dan rehabilitatif) dengan menyediakan pelayanan rawat inap,

rawat jalan dan gawat darurat”.

Menurut American Hospital Association (1974) menjelaskan


bahwa Rumah Sakit adalah suatu organisasi yang melalui tenaga
medis professional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang
permanen menyelenggarakan pelayanan kedokteran, asuhan
keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan
penyakit yang diderita oleh pasien. (Azwar, 1996: 82).

Menurut Wolper dan Pena (1987) Rumah Sakit adalah tempat


dimana orang sakit mencari dan menerima pelayanan kedokteran
serta tempat pendidikan klinik untuk mahasiswa kedokteran,
perawat dan berbagai tenaga profesi kesehatan lainnya
diselenggarakan (Azwar, 1996: 82).
2. Tugas dan Fungsi Rumah Sakit

Tugas Rumah Sakit umum menurut UU Nomor 44 tahun 2009

tentang Rumah Sakit adalah memberikan pelayanan kesehatan

perorangan secara paripurna. Sedangkan menurut Keputusan Menteri

Kesehatan RI Nomor: 134/Menkes/SK/IV/78 tahun 1978 tentang

susunan organisasi dan tata kerja Rumah Sakit Umum di Indonesia

adalah melaksanakan pelayanan kesehatan (Caring) dan penyembuhan

(Curing) penderita serta pemulihan keadaan cacat badan dan jiwa

(Rehabilitation).

Fungsi Rumah Sakit menurut UU Nomor 44 tahun 2009

tentang Rumah Sakit adalah:

a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan

kesehatan sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit.

b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui

pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga

sesuai kebutuhan medis.

c. Penyelenggaaan pendidikan dan pelatihan sumber daya

manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam

pemberian pelayanan kesehatan.

d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta

penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka

peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan

etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.


Sedangkan menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor:

134/Menkes/SK/IV/78 tahun 1978 tentang susunan organisasi dan tata

kerja Rumah Sakit Umum di Indonesia adalah :

a. Melaksanakan usaha pelayanan medik.

b. Melaksanakan usaha rehabilitasi medik.

c. Usaha pencegahan komplikasi penyakit dan peningkatan

pemulihan kesehatan.

d. Melaksanakan usaha perawatan.

e. Melaksanakan usaha pendidikan dan latihan medis dan

paramedis.

f. Melaksanakan sistem rujukan.

g. Sebagai tempat penelitian.

3. Klasifikasi Rumah Sakit

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 340 Tahun 2010

tentang klasifikasi Rumah Sakit, pada pasal 4 dijelaskan bahwa

berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan, Rumah Sakit umum

diklasifikasikan menjadi:

a. Rumah Sakit umum kelas A

Rumah Sakit umum yang mempunyai fasilitas dan

kemampuan pelayanan medis paling sedikit 4 pelayanan medis

spesialis dasar, 5 pelayanan spesialis penunjang medis, 12

pelayanan medis spesialis lain dan 13 pelayanan medis

subspesialis.
b. Rumah Sakit umum kelas B

Rumah Sakit umum yang mempunyai fasilitas dan

kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 pelayanan medis

spesialis dasar, 4 pelayanan spesialis penunjang medik, 8

pelayanan medik spesialis lain dan 2 pelayanan medik

subspesialis.

c. Rumah Sakit umum kelas C

Rumah Sakit umum yang mempunyai fasilitas dan

kemampuan pelayanan medis paling sedikit 4 pelayanan medis

spesialis dasar dan 4 pelayanan spesialis penunjang medik.

d. Rumah Sakit umum kelas D

Rumah Sakit umum yang mempunyai fasilitas dan

kempuan pelayanan medis paling sedikit 2 pelayanan medik

spesialis dasar.

Rumah Sakit khusus adalah Rumah Sakit yang memberikan

pelayanan utama pada satu bidang atau jenis penyakit tertentu.

F. Konsep Rekam Medis Elektronik

1. Pengertian Rekam Medis Elektronik

Menurut Peraturan Kementrian Kesehatan 269 tahun 2008 pada

pasal 2 yaitu :

1) Rekam medis harus dibuat secara lengkap tertulis dan jelas atau

secara elektronik.
2) Penyelengaraan rekam medis dengan menggunakan teknologi

informasi elektronik diatur lebih lanjut dengan peraturan sendiri.

2. Keamanan Data Rekam Medis Elektronik

Pemanfaatan Rekam Medis Hal tersebut diatur dalam Peraturan

Kementrian Kesehatan 269 tahun 2008 pada pasal 13 yaitu :

(1) Pemanfaatan Rekam Medis dapat dipakai sebagai :

a. Pemeliharaan kesehatan dan pengobatan pasien

b. Alat bukti dalam proses penegakan hukum, disiplin kedokteran

dan kedokteran gigi dan penegakan etika kedokteran dan etika

kedokteran gigi

c. Keperluan pendidikan dan penelitian

d. Dasar pembayar biaya pelayanan kesehatan, dan

e. Data statistik kesehatan.

(2) Pemanfaatan rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf

c yang menyebutkan identitas pasien harus mendapat persetujuan

secara tertulis dari pasien atau ahli warisnya dan harus dijaga

kerahasiannya.

(3) Pemanfaatan rekam medis untuk keperluan pendidikan dan penelitian

tidak diperlukan persetujuan pasien, bila dilakukan untuk kepentingan

negara.

Rekam Medis merupakan bukti hukum yang sah Hal tersebut diatur

dalam Undang-Undang Interaksi dan Transaksi Elektronik Nomor 11

Tahun 2008 pada Pasal 5 dan 6 yaitu:


Pasal 5

(1) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil

cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah

(2) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil

cetaknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perluasan

dari alat bukti yang sah sesuai dengan Hukum Acara yang berlaku di

Indonesia.

(3) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dinyatakan sah

apabila menggunakan Sistem Elektronik sesuai dengan ketentuan

yang diatur dalam Undang- Undang ini.

(4) Ketentuan mengenai Informasi Elektronik dan/atau Dokumen

Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk:

a. Surat yang menurut Undang-Undang harus dibuat dalam

bentuk tertulis, dan

b. Surat beserta dokumennya yang menurut Undang- Undang

harus dibuat dalam bentuk akta notaril atau akta yang dibuat

oleh pejabat pembuat akta.

Pasal 6

Dalam hal terdapat ketentuan lain selain yang diatur dalam

Pasal 5 ayat (4) yang mensyaratkan bahwa suatu informasi harus

berbentuk tertulis atau asli, Informasi Elektronik dan/atau Dokumen

Elektronik dianggap sah sepanjang informasi yang tercantum di dalamnya


dapat diakses, ditampilkan, dijamin keutuhannya, dan dapat

dipertanggungjawabkan sehingga menerangkan suatu keadaan.

Rekam Medis harus terdapat tanda tangan Hal tersebut diatur dalam

Undang-Undang Interaksi dan Transaksi Elektronik Nomor 11 Tahun 2008

pada Pasal 11 yaitu:

(1) Tanda Tangan Elektronik memiliki kekuatan hukum dan akibat

hukum yang sah selama memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. Data pembuatan Tanda Tangan Elektronik terkait hanya kepada

Penanda Tangan,

b. Data pembuatan Tanda Tangan Elektronik pada saat proses

penandatanganan elektronik hanya berada dalam kuasa Penanda

Tangan,

c. Segala perubahan terhadap Tanda Tangan Elektronik yang terjadi

setelah waktu penandatanganan dapat diketahui,

d. Segala perubahan terhadap Informasi Elektronik yang terkait

dengan Tanda Tangan Elektronik tersebut setelah waktu

penandatanganan dapat diketahui,

e. Terdapat cara tertentu yang dipakai untuk mengidentifikasi siapa

Penandatangannya, dan

f. Terdapat cara tertentu untuk menunjukkan bahwa Penanda

Tangan telah memberikan persetujuan terhadap Informasi

Elektronik yang terkait.


(2) Ketentuan lebih lanjut tentang Tanda Tangan Elektronik

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan

Pemerintah.

Rekam Medis harus mempunyai sifat ketersediaan Hal tersebut diatur

dalam Undang-Undang Interaksi dan Transaksi Elektronik Nomor 11

Tahun 2008 pada Pasal 16 yaitu:

(1) Sepanjang tidak ditentukan lain oleh undang-undang tersendiri, setiap

penyelenggara Sistem elektronik yang memenuhi persyaratan

minimum sebagai berikut:

a. Dapat menampilkan kembali Informasi Elektronik dan/atau

Dokumen Elektronik secara utuh sesuai dengan masa retensi

yang ditetapkan dengan Peraturan Perundang-undangan,

b. Dapat melindungi ketersediaan, keutuhan, keotentikan,

kerahasiaan, dan keteraksesan Informasi Elektronik dalam

Penyelenggaraan Sistem Elektronik tersebut,

c. Dapat beroperasi sesuai dengan prosedur atau petunjuk

dalam Penyelenggaraan Sistem Elektronik tersebut,

d. Dilengkapi dengan prosedur atau petunjuk yang diumumkan

dengan bahasa, informasi, atau simbol yang dapat dipahami oleh

pihak yang bersangkuta

e. n dengan Penyelenggaraan Sistem Elektronik tersebut, dan

f. Memiliki mekanisme yang berkelanjutan untuk menjaga kebaruan,

kejelasan, dan kebertanggungjawaban prosedur atau petunjuk.


(2) Ketentuan lebih lanjut tentang Penyelenggaraan Sistem Elektronik

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan

Pemerintah.

G. Konsep Rawat Inap

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

560/MENKES/SK/IV/2003 Pelayanan Rawat Inap adalah pelayanan

pasien untuk observasi, diagnosis, pengobatan, rehabilitasi medik dan

atau upaya pelayanan kesehatan lainnya dengan menginap di Rumah Sakit.

1. Mutu Asuhan Pelayanan Rawat Inap

Menurut Azwar (2000), mutu asuhan pelayanan rawat inap

dikatakan baik, apabila :

1. Memberikan rasa tentram kepada pasien

2. Memberikan pelayanan yang profesional dan setiap strata pengelola

Rumah Sakit, pelayanan bermula sejak masuknya pasien ke Rumah

Sakit sampai pasien pulang.

Dari kedua aspek ini dapat diartikan sebagai berikut :

1. Petugas menerima pasien dalam melakukan pelayanan terhadap

pasien harus mampu melayani dengan cepat karena mungkin

pasien memerlukan penanganan segera

2. Penanganan pertama dari perawat harus mampu menaruh

kepercayaan bahwa pengobatan yang diterima dimulai secara benar


3. Penanganan para dokter dan perawat yang profesional akan

menimbulkan kepercayaan pasien bahwa pasien tidak salah

memilih Rumah Sakit

4. Ruang yang bersih dan nyaman, memberikan nilai tambah kepada

Rumah Sakit

5. Peralatan yang memadai dengan operator yang profesional

6. Lingkungan Rumah Sakit yang nyaman

Diruang rawat inap pasien menjalani 5 tahap standar pelayanan

perawatan, yang dikeluarkan oleh American Nursing Association/ ANA

(PPNI, 2002), yaitu:

Standar I : Perawat mengumpulkan data tentang kesehatan pasien.

Standar II : Perawat menetapkan diagnosa keperawatan.

Standar III : Perawat mengembangkan rencana asuhan keperawatan

yang berisi rencana tindakan untuk mencapai hasil yang diharapkan.

Standar IV : Perawat mengimplementasikan tindakan yang sudah

ditetapkan dalam rencana asuhan keperawatan.

Standar V : Perawat mengevaluasi perkembangan pasien dalam

mencapai hasil akhir yang sudah ditetapkan.

2. Tarif Rawat Inap

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

560/MENKES/SK/IV/2003 BAB V Tentang Tarif Rawat Inap Pasal Enam

Terdapat Empat Yaitu :


Kelas rawat inap di Rumah Sakit ditetapkan sekurang-kurangnya

sebagai berikut:

1. Kelas III

2. Kelas II

3. Kelas I

Direksi diberikan wewenang untuk menambah kelas rawat inap sesuai

dengan kebutuhan.

Jumlah tempat tidur dikelas III disesuaikan dengan kebutuhan dan

sekurang- kurangnya 25% dari jumlah tempat tidur yang tersedia.

Standar fasilitas masing-masing kelas perawatan sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) ditetapkan oleh Direksi Rumah Sakit, dengan mengacu

kepada standar fasilitas yang ada.

H. Konsep Sensus Harian Rawat Inap

1. Pengertian Sensus Harian Pasien Rawat Inap

Menurut Dirjen Yanmed (2005:2) sensus harian pasien rawat inap

adalah “Kegiatan pencacahan atau perhitungan pasien rawat inap yang

dilakukan setiap hari pada suatu ruang rawat inap. Sensus harian berisi

tentang mutasi keluar masuk pasien selama 24 jam mulai dari 00.00-

24.00”.

2. Tujuan Sensus Harian Pasien Rawat Inap

Tujuan sensus harian pasien rawat inap menurut Dirjen Yanmed

(2005:2) adalah “Untuk memperoleh informasi semua pasien yang

masuk dan keluar rumah sakit selama 24 jam”.


3. Kegunaan Sensus Harian Pasien Rawat Inap

Kegunaan sensus harian pasien rawat inap menurut Dirjen

Yanmed (2005:2) yaitu :

a. Untuk mengetahui jumlah pasien masuk, pasien keluar dan pasien

meninggal di rumah sakit.

b. Untuk mengetahui tingkat penggunaan tempat tidur

c. Untuk menghitung penyediaan sarana atau fasilitas pelayanan

kesehatan.

4. Tanggung Jawab Pelaksana Sensus Harian Pasien Rawat Inap

Tanggung jawab pelaksana sensus harian pasien rawat inap

menurut Dirjen Yanmed (2005:2) :

a) Kepala perawat pada masing-masing rawat inap bertanggung

jawab dalam pengisian sensus harian.

b) Perawat atau bidan yang memutasikan pasien atau petugas yang

ditunjuk oleh kepala perawat ruang rawat inap melaksanakan

pengisian sensus harian sesuai petunjuk yang telah ditetapkan.

c) Formulir sensus harian disediakan oleh unit pencatatan medis di

rumah sakit.

5. Mekanisme Pengisian Sensus Harian Pasien Rawat Inap

Mekanisme pengisian sensus harian pasien rawat inap menurut

Dirjen Yanmed (2005:2) :

a) Sensus harian diisi segera setelah pasien masuk ruang rawat,

pindah intern rumah sakit dan keluar rumah sakit.


b) Sensus harian untuk satu hari ditutup jam 24.00 dan sesudah itu

dibuat resume sensus harian untuk hari yang bersangkutan.

c) Jika ada pasien masuk rumah sakit, keluar atau meninggal sesudah

jam 24.00 maka harus dicatat dalam formulir sensus harian

berikutnya.

d) Sensus harian dibuat 3 rangkap, yaitu :

1. 1 lembar untuk sub bagian catatan medik

2. 1 lembar untuk P2RI

3. 1 lembar untuk arsip ruang rawat

e) Sensus harian dikirim pukul 08.00

f) Lain-lain untuk rumah sakit kecil mekanisme pembuatan sensus

harian disesuaikan dengan kebutuhan.

6. Cara Pengisian Sensus Harian Pasien Rawat Inap

a. Umum

1) Hari

Diisi dengan nama hari pada saat sensus dilakukan.

2) Tanggal

Diisi dengan tanggal pada saat sensus dilakukan.

3) Nama rumah sakit

Diisi dengan nama rumah sakit yang bersangkutan.

4) Ruang Rawat Inap

Diisi dengan nama ruang rawat inap.

5) Tempat tidur tersedia


Diisi dengan jumlah tempat tidur yang tersedia di ruang

rawat inap tersebut yang ditetapkan oleh Direktur Rumah Sakit.

6) Kelas

Diisi dengan nama kelas yang ada pada ruang rawat

inap yang bersangkutan.

7) Sensus diberi tanggal dan ditanda tangani oleh Perawat Kepala

Ruang Rawat Inap yang bersangkutan.

b. Pasien masuk

1) Kolom 2, Nama Pasien

Diisi dengan nama pasien yang masuk ke ruangan rawat

inap pada hari sensus dilakukan. Nama pasien dalam sensus

harus sama dengan nama pasien di catatan dalam dokumen

medik dan buku register.

2) Kolom 3, Nomor Rekam Medis

Diisi dengan nomor rekam medis pasien yang

bersangkutan.

3) Kolom 4, Kelas

Diisi dengan kelas ruang perawatan rawat inap pasien

yang bersangkutan.

c. Pasien Pindahan Dari Ruangan Lain


1) Kolom 5, Nama Pasien

Diisi dengan nama pasien pindahan dari ruang rawat

lain pada saat sensus dilakukan.

2) Kolom 6, Nomor Rekam Medis

Diisi dengan nomor rekam medis pasien yang

bersangkutan.

3) Kolom 7, Kelas

Diisi dengan kelas ruang perawatan rawat inap pasien

yang bersangkutan.

4) Kolom 8, Dari Ruang atau Kelas

Diisi dengan ruang rawat inap atau kelas dari tempat

sebelum pasien tersebut dipindahkan.

d. Pasien Dipindahkan ke Ruang Lain

1) Kolom 1, Nama Pasien

Diisi dengan nama pasien yang bersangkutan yang

dipindahkan ke ruang rawat lain pada saat sensus dilakukan.

2) Kolom 2, Nomor Rekam Medis

Diisi dengan nomor rekam medis pasien yang

bersangkutan.

3) Kolom 3, Kelas

Diisi dengan kelas ruang perawatan rawat inap pasien

yang bersangkutan.
4) Kolom 4, Dari Ruang atau Kelas

Diisi dengan ruang rawat inap atau kelas dari tempat

sebelum pasien tersebut dipindahkan.

e. Pasien Pindah Antar Kelas Dalam satu Ruangan

Jika terjadi pasien pindah antar kelas pada ruang rawat inap

yang sama maka harus dicatat pada kolom pasien pindahan

maupun pasien yang dipindahkan.

f. Pasien Keluar

1) Kolom 5, Nama Pasien

Diisi dengan nama pasien yang keluar rumah sakit pada

saat sensus dilakukan.

2) Kolom 6, Nomor Rekam Medis

Diisi dengan nomor rekam medis pasien yang

bersangkutan.

3) Kolom 7, Kelas

Diisi dengan kelas ruang perawatan rawat inap pasien

yang bersangkutan.

4) Kolom 8, Tanggal Masuk Rumah sakit


Diisi dengan tanggal pasien tersebut masuk rumah sakit

(bukan tanggal pasien dipindahkan) tanggal masuk harus sama

seperti tanggal masuk di dokumen medis dan buku register.

5) Kolom 9 sampai 15, Cara Pasien Keluar Rumah Sakit

a. Berikan tanda V pada kolom 9 untuk pasien yang diizinkan

pulang.

b. Berikan tanda V pada kolom 10 untuk pasien yang di rujuk

ke rumah sakit yang lebih tinggi.

c. Berikan tanda V pada kolom 11 untuk pasien yang dirujuk

ke rumah sakit lain.

d. Berikan tanda V pada kolom 12 untuk pasien yang pulang

secara paksa.

e. Berikan tanda V pada kolom 13 untuk pasien yang pulang

dengan cara lain-lain (melarikan diri).

f. Berikan tanda V pada kolom 14 untuk pasien yang keluar

mati sebelum 48 jam setelah dirawat.

g. Berikan tanda V pada kolom 15 untuk pasien yang keluar

mati dalam 48 jam atau lebih setelah dirawat.

g. Resume

1) Lajur 1, Pasien Awal

Diisi dengan banyaknya pasien yang masih dirawat

yang tercatat pada sensus harian sebelumnya.

2) Lajur 2, Pasien Masuk


Diisi dengan banyaknya pasien masuk rumah sakit pada

hari sensus dilakukan (jumlah pasien pada kolom 2).

3) Lajur 3, Pasien Pindahan

Diisi dengan banyaknya pasien pindahan dari ruang lain

pada hari sensus dilakukan (jumlah pasien pada kolom 5).

4) Lajur 4, Total Pasien di Rawat

Diisi dengan penjumlahan pasien awal (lajur 1), pasien

masuk (lajur 2), pasien pindahan (lajur 3).

5) Lajur 5, Pasien Diizinkan Pulang

Diisi dengan banyaknya pasien diizinkan pulang

(jumlah pasien pada kolom 9).

6) Lajur 6, Pasien di Rujuk

Diisi dengan banyaknya pasien yang di rujuk ke rumah

sakit yang lebih tinggi (kolom 10).

7) Lajur 7, Pasien Pindah ke Rumah Sakit Lain

Diisi dengan banyaknya pasien yang pindah ke rumah

sakit lain (jumlah pasien pada kolom 11).

8) Lajur 8, Pasien Pulang Paksa

Diisi dengan banyaknya pasien yang pulang paksa.

9) Lajur 9, Lain-lain

Diisi dengan keterangan lain-lain yang ada pada pasien

misalnya melarikan diri, dan sebagainya.


10) Lajur 10, Total Pasien Keluar Hidup

Diisi dengan banyaknya pasien yang keluar hidup,

diizinkan pulang (lajur 5), pasien di rujuk (lajur 6), pasien

pindah ke rumah sakit lain (lajur 7), pasien pulang paksa (lajur

8), dan lain-lain (lajur 9).

11) Lajur 11, Pasien Mati Kurang Dari 48 Jam

Diisi dengan banyaknya pasien yang meninggal kurang

dari 48 jam setelah dirawat (jumlah pasien kolom 13).

12) Lajur 12, Pasien Mati Selama 48 Jam & Lebih

Diisi dengan banyaknya pasien yang meninggal selama

48 jam atau lebih setelah dirawat (jumlah pasien kolom 14).

13) Lajur 13, Total Pasien Keluar

Diisi dengan total pasien keluar hidup dan mati (jumlah

pasien pada lajur 10, lajur 11 dan lajur 12).

14) Lajur 14, Banyaknya Pasien yang Masih Dirawat

Diisi dengan jumlah pasien yang masih dirawat di

rumah sakit (jumlah pasien pada lajur 1 dan lajur 2 dikurangi

dengan total pasien keluar pada lajur 13).


Gambar 2.1 Sensus Harian Pasien Rawat Inap

Sumber: Direktorat Jendral Pelayanan Medik (2005)


E. Konsep Rekapitulasi Bulanan Pasien Rawat Inap (RP.1)

1. Pengertian Rekapitulasi Bulanan Pasien Rawat Inap

Menurut Dirjen Yanmed (2005:7) rekapitulasi bulanan pasien

rawat inap adalah “Formulir perantara untuk menghitung dan merekap

pasien rawat inap selama sebulan yang diterima dari masing-masing

rawat inap”.

2. Tujuan Rekapitulasi Bulanan Pasien Rawat Inap

Menurut Dirjen Yanmed (2005:7) tujuan rekapitulasi bulanan

pasien rawat inap adalah “Untuk memperoleh informasi semua pasien

yang dirawat di rumah sakit selama sebulan secara keseluruhan

maupun pada masing-masing ruang rawat inap yang diperlukan bagi

perencanaan, pengawasan atau penilaian kinerja”.

3. Kegunaan Rekapitulasi Bulanan Pasien Rawat Inap

Menurut Dirjen Yanmed (2005:7) tujuan rekapitulasi bulanan

pasien rawat inap adalah :

a. Untuk mengetahui jumlah pasien dirawat selama sebulan atau

triwulan.

b. Untuk mengetahui tingkat penggunaan tempat tidur selama periode

bulanan atau triwulan.

c. Merupakan data dasar mengenai pasien rawat inap yang perlu

dilaporkan kepada departemen kesehatan setiap triwulan pada

formulir RL.1 halaman 1.


4. Tanggung Jawab Rekapitulasi Bulanan Pasien Rawat Inap

Menurut Dirjen Yanmed (2005:7) tanggung jawab rekapitulasi

bulanan pasien rawat inap adalah :

a. Kepala unit pencatatan medik rumah sakit bertanggung jawab

dalam pengisian rekapitulasi sensus harian pasien rawat inap.

b. Staf unit perekam medis yang ditunjuk oleh kepala unit pencatatan

medik rumah sakit melaksanakan pengisian rekapitulasi bulanan

pasien rawat inap.

c. Formulir unit perekam medis rumah sakit sesuai dengan format

yang telah ditetapkan.

5. Mekanisme Pengisian Rekapitulasi Bulanan Pasien Rawat Inap

Menurut Dirjen Yanmed (2005:7) mekanisme pengisian

rekapitulasi bulanan pasien rawat inap adalah :

a. Formulir rekapitulasi bulanan pasien rawat inap (RP.1) merupakan

formulir standar untuk membuat rekapitulasi pasien rawat inap

setiap bulan yang kemudian dijumlahkan untuk setiap triwulan.

b. Formulir RP.1 dibuat satu lembar untuk masing-masing jenis

pelayanan rawat inap dan satu lembar untuk rumah sakit secara

keseluruhan.

c. Formulir RP.1 diisi segera setelah formulir rekapitulasi sensus

harian selesai diisi secara lengkap.


d. Formulir rekapitulasi sensus harian pasien rawat inap diisi sesuai

dengan data yang terdapat pada rekapitulasi sensus harian menurut

jenis pelayanan rawat inap yang ada.

e. Formulir rekapitulasi sensus harian pasien rawat inap (RP.1) diisi

setiap hari untuk setiap lembar formulir RP.1 yang harus dibuat

oleh masing-masing rumah sakit. Pengisian formulir RP.1 harus

selesai setiap hari untuk setiap tanggal laporan.

6. Cara Pengisian

Menurut Dirjen Yanmed (2005:7) cara pengisian rekapitulasi

bulanan pasien rawat inap adalah sebagai berikut :

a. Umum

1) Nama rumah sakit

Diisi dengan nama rumah sakit yang bersangkutan.

2) Ruang rawat

Diisi dengan jenis pelayanan rawat inap.

3) Tempat tidur tersedia

Diisi dengan jumlah tempat tidur yang tersedia pada

jenis pelayanan rawat inap yang bersangkutan.

4) Data Bulanan

Diisi dengan bulan dan tahun yang bersangkutan.

5) Tanda tangan

Diisi dengan tanda tangan kepala unit rekam medis.


6) Data triwulan

Adalah penjumlahan angka bulanan yang dikumpulkan

selama tiga bulan dalam periode yang bersangkutan.

b. Khusus

1) Kolom 1, Tanggal

Diisi dengan tanggal pada saat sensus dilakukan.

2) Kolom 2, Pasien Awal

Diisi dengan banyaknya pasien awal yang dirawat pada

tanggal sensus yang bersangkutan. Angka tersebut diambil dari

kolom 3 pasien awal dari pengisian formulir rekapitulasi sensus

harian rawat inap untuk masing-masing jenis pelayanan atau

merupakan sisa pasien pada tanggal akhir bulan sebelumnya.

3) Kolom 3, Pasien Masuk

Diisi dengan banyaknya pasien masuk rumah sakit pada

tanggal sensus yang bersangkutan. Angka tersebut diambil dari

kolom 4 pasien masuk dari pengisian rekapitulasi sensus harian

pasien rawat inap.

4) Kolom 4, Pasien Pindahan

Diisi dengan banyaknya pasien pindahan intern rumah

sakit pada tanggal sensus yang bersangkutan. Angka tersebut

diambil dari kolom 5 pasien pindahan dari pengisian

rekapitulasi sensus harian pasien rawat inap untuk masing-

masing jenis pelayanan.


5) Kolom 5, Total Pasien Dirawat

Diisi dengan penjumlahan pasien awal (kolom 2),

pasien masuk (kolom 3), pasien pindahan (kolom 4).

6) Kolom 6, Pasien Dipindahkan

Diisi dengan jumlah pasien yang dipindahkan intern

rumah sakit pada tanggal sensus dilakukan. Angka tersebut

diambil dari kolom 6 pasien dipindahkan dari pengisian

rekapitulasi sensus harian pasien rawat inap untuk masing-

masing jenis pelayanan.

7) Kolom 7, Pasien Keluar Hidup

Diisi dengan jumlah pasien yang keluar hidup rumah

sakit pada tanggal sensus dilakukan. Angka tersebut diambil

dari kolom 7 pasien keluar hidup dari pengisian rekapitulasi

sensus harian pasien rawat inap untuk masing-masing jenis

pelayanan.

8) Kolom 8, Pasien Mati

Diisi dengan banyaknya pasien mati pada tanggal

sensus yang bersangkutan. Angka tersebut diambil dari kolom

8 pasien mati dari pengisian rekapitulasi sensus harian pasien

rawat inap untuk masing-masing jenis pelayanan.

9) Kolom 9, Pasien Mati Kurang Dari 48 jam

Diisi dengan banyaknya pasien yang meninggal kurang

dari 48 jam pada tanggal sensus dilakukan. Angka tersebut


diambil dari kolom 9 pasien mati kurang dari 48 jam dari

pengisian rekapitulasi sensus harian pasien rawat inap untuk

masing-masing jenis pelayanan.

10) Kolom 10, Pasien Mati Dalam 48 jam atau Lebih

Diisi dengan banyaknya pasien yang meninggal dalam

48 jam atau lebih pada tanggal sensus dilakukan. Angka

tersebut diambil dari kolom 10 pasien mati dalam 47 jam atau

lebih dari 48 jam dari pengisian rekapitulasi sensus harian

pasien rawat inap untuk masing-masing jenis pelayanan.

11) Kolom 11, Total Pasien Keluar

Diisi dengan penjumlahan total pasien keluar hidup

(kolom 6), pasien dipindahkan (kolom 7), pasien mati (kolom

8).

12) Kolom 12, Jumlah Lama Dirawat

Diisi dengan jumlah lamanya dirawat dari pasien yang

sudah keluar rumah sakit, baik hidup maupun meninggal.

Angka tersebut diambil dari kolom 11 pasien lama dirawat dari

pengisian rekapitulasi sensus harian pasien rawat inap untuk

masing-masing jenis pelayanan.

13) Kolom 13, Pasien Keluar / Masuk Pada Hari yang Sama

Diisi dengan jumlah pasien keluar / masuk rumah sakit

pada tanggal sensus dilakukan. Angka tersebut diambil dari

kolom 18 pasien keluar masuk dari pengisian rekapitulasi


sensus harian pasien rawat inap untuk masing-masing jenis

pelayanan.

14) Kolom 14, Pasien Sisa (yang masih dirawat)

Diisi dengan jumlah pasien sisa (yang masih dirawat)

pada tanggal sensus dilakukan. Angka tersebut diambil dari

kolom 12 pasien sisa dari pengisian rekapitulasi sensus harian

pasien rawat inap untuk masing-masing jenis pelayanan.

15) Kolom 15, Pasien Sisa Kelas Utama

Diisi dengan jumlah pasien sisa pada kelas utama pada

tanggal sensus dilakukan. Angka tersebut diambil dari kolom

13 pasien sisa pada kelas utama dari pengisian rekapitulasi

sensus harian pasien rawat inap untuk masing-masing jenis

pelayanan.

16) Kolom 16, Pasien Sisa Kelas I

Diisi dengan jumlah pasien sisa kelas I pada tanggal

sensus dilakukan. Angka tersebut diambil dari kolom 14 pasien

sisa kelas I dari pengisian rekapitulasi sensus harian pasien

rawat inap untuk masing-masing jenis pelayanan.

17) Kolom 17, Pasien Sisa Kelas II

Diisi dengan jumlah pasien sisa kelas II pada tanggal

sensus dilakukan. Angka tersebut diambil dari kolom 15 pasien


sisa kelas II dari pengisian rekapitulasi sensus harian pasien

rawat inap untuk masing-masing jenis pelayanan.

18) Kolom 18, Pasien Sisa Kelas III

Diisi dengan jumlah pasien sisa kelas III pada tanggal

sensus dilakukan. Angka tersebut diambil dari kolom 16 pasien

sisa kelas III dari pengisian rekapitulasi sensus harian pasien

rawat inap untuk masing-masing jenis pelayanan.

19) Kolom 19, Pasien Sisa Tanpa Kelas

Diisi dengan jumlah pasien sisa tanpa kelas pada

tanggal sensus dilakukan. Angka tersebut diambil dari kolom

17 pasien sisa tanpa kelas dari pengisian rekapitulasi sensus

harian pasien rawat inap untuk masing-masing jenis pelayanan.

c. Data triwulan

1) Kolom 2, Pasien Awal Triwulan

Diisi dengan pasien yang ada pada tangggal 1 bulan

bersangkutan atau sisa akhir tanggal berakhir bulan

sebelumnya.

2) Kolom 3, Pasien Masuk

Diisi dengan jumlah pasien masuk kolom 3 dari tanggal

1 s/d 31 bulan yang bersangkutan.

3) Kolom 4, Pasien Keluar Hidup

Diisi dengan jumlah pasien keluar hidup kolom 7 dari

tanggal 1 s/d 31 bulan yang bersangkutan.


4) Kolom 5, Pasien Mati Kurang Dari 48 Jam

Diisi dengan jumlah pasien mati kurang dari 48 jam

kolom 9 dari tanggal 1 s/d 31 bulan yang bersangkutan.

5) Kolom 6, Pasien Mati Lebih Dari 48 Jam

Diisi dengan jumlah pasien mati lebih dari 48 jam

kolom 10 dari tanggal 1 s/d 31 bulan yang bersangkutan.

6) Kolom 7, Pasien Mati

Diisi dengan jumlah pasien mati kolom 8 dari tanggal 1

s/d 31 bulan yang bersangkutan (kolom 5 + kolom 6).

7) Kolom 8, Jumlah Lama Dirawat

Diisi dengan jumlah lama dirawat kolom 12 dari

tanggal 1 s/d 31 bulan yang bersangkutan.

8) Kolom 9, Pasien Sisa

Diisi dengan jumlah pasien sisa pada akhir triwulan

yang bersangkutan atau tanggal terakhir bulan yang

bersangkutan.

9) Kolom 10, Jumlah Hari Rawat

Diisi dengan jumlah pasien sisa kolom 14 dari tanggal 1

s/d 31 bulan yang bersangkutan.

10) Kolom 11, Kelas Utama

Diisi dengan jumlah hari rawat pada kelas utama kolom

15 dari tanggal 1 s/d 31 bulan yang bersangkutan.

11) Kolom 12, Kelas I


Diisi dengan jumlah hari rawat pada kelas I kolom 16

dari tanggal 1 s/d 31 bulan yang bersangkutan.

12) Kolom 13, Kelas II

Diisi dengan jumlah hari rawat pada kelas II kolom 17

dari tanggal 1 s/d 31 bulan yang bersangkutan.

13) Kolom 14, Kelas III

Diisi dengan jumlah hari rawat pada kelas III kolom 18

dari tanggal 1 s/d 31 bulan yang bersangkutan.

14) Kolom 15, Tanpa Kelas

Diisi dengan jumlah hari rawat pada pelayanan tanpa

kelas kolom 19 dari tanggal 1 s/d 31 bulan yang bersangkutan.


Gambar 2.2 Rekapitulasi Harian Pasien Rawat Inap

Sumber: Direktorat Jendral Pelayanan Medik (2005)


F. Pengertian Pasien

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor:

269/Menkes/PER/III/2008, “Pasien adalah setiap orang yang melakukan

konsultasi masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan

yang diperlukan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada

dokter atau dokter gigi”.

Sedangkan menurut UU Nomor 44 tentang Rumah Sakit pasal 1 ayat

4 menyatakan bahwa pasien adalah “setiap orang yang melakukan

konsultasi masalah kesehatan yang diperlukan, baik secara langsung

maupun tidak langsung di Rumah Sakit”.

G. Konsep Pelaporan Rumah Sakit

1. Pengertian Pelaporan Rumah Sakit

Menurut Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik (2006:65),

pelaporan Rumah Sakit merupakan suatu alat organisasi yang bertujuan

untuk dapat menghasilkan laporan secara cepat, tepat dan akurat.

2. Jenis Pelaporan Rumah Sakit

Menurut Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik (2006:65),

secara garis besar jenis pelaporan Rumah Sakit dapat dibedakan

menjadi 2 kelompok yaitu:

a. Laporan Intern Rumah Sakit

Laporan intern Rumah Sakit merupakan laporan yang

dibuat sebagai masukan untuk menyusun konsep rancangan


dasar sistem informasi manajemen Rumah Sakit, biasanya

laporan intern ini disesuaikan dengan kebutuhan Rumah Sakit.

Adapun indikasi laporan adalah sebagai berikut:

1) Sensus harian, yang meliputi:

a) Pasien masuk Rumah Sakit

b) Pasien keluar Rumah Sakit

c) Pasien meninggal di Rumah Sakit

d) Lamanya pasien dirawat

e) Hari perawatan

2) Presentase pemakaian TT

3) Kegiatan persalinan

4) Kegiatan pembedahan dan tindakan medis lainnya

5) Kegiatan rawat jalan penunjang

a. Laporan Ekstern Rumah Sakit

Menurut Direktorat jenderal bina pelayanan medik


(2006:68), menjelaskan mengenai laporan ekstern adalah
Laporan ekstern merupakan pelaporan yang wajib dibuat
oleh Rumah Sakit sesuai dengan peraturan yang berlaku,
ditujukkan kepada Departemen Kesehatan RI, Dinas
Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten atau
Kota.

Berdasarkan ketentuan yang tercantum dalam

Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor:

1171/MENKES/PER/VI/2011 Tentang Sistem Informasi Rumah

Sakit, bahwa yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri

Kesehatan Nomor 1410/MENKES/SK/X/2003 tentang sistem


informasi Rumah Sakit (sistem pelaporan Rumah Sakit) Revisi

V, tidak sesuai lagi dengan perkembangan yang ada sehingga

perlu disesuaikan. Maka dibuatlah Sistem Informasi Rumah

Sakit (SIRS) Revisi VI.

Sifat pelaporan SIRS sebagaimana dimaksud pada

Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor:

1171/MENKES/PER/VI/2011 ditetapkan oleh Direktur Jenderal

Bina Upaya Kesehatan. Formulir pelaporan SIRS Revisi VI

terdiri dari 5 (lima) Rekapitulasi Laporan (RL), diantaranya

yaitu:

1) RL 1 berisikan Data Dasar Rumah Sakit yang dilaporkan

setiap waktu apabila terdapat perubahan data dasar dari

Rumah Sakit sehingga data ini dapat dikatakan data yang

bersifat terbarukan setiap saat (update).

2) RL 2 berisikan data ketenagaan yang dilaporkan periodik

setiap tahun.

3) RL 3 berisikan Data Kegiatan Pelayanan Rumah Sakit yang

dilaporkan periodik setiap tahun.

4) RL 4 berisikan Data Morbiditas / Mortalitas Pasien yang

dilaporkan periodik setiap tahun.

5) RL 5 yang merupakan data bulanan yang dilaporkan secara

periodik setiap bulan, berisikan data kunjungan dan data 10

(sepuluh) besar penyakit.


2.2 Teori – Teori Tentang Konsep Aplikasi
A. Konsep Dasar Sistem

1. Pengertian Sistem

Sistem menurut Ryans adalah „Gabungan dari elemen-elemen


yang saling dihubungkan oleh suatu proses atau struktur dan
berfungsi sebagai satu kesatuan organisasi dalam upaya
menghasilkan sesuatu yang telah ditetapkan‟ (Azwar, 1996: 17).

Sedangkan sistem menurut Sutanta (2003: 4) Secara umum


sistem dapat didefinisikan sebagai sekumpulan hal atau kegiatan
atau elemen atau subsistem yang saling bekerja sama atau yang
dihubungkan dengan cara-cara tertentu sehingga membentuk satu
kesatuan untuk melaksanakan suatu fungsi guna mencapai satu
tujuan.

Menurut Sutanta (2003: 4) suatu sistem mempunyai karakteristik

sebagai berikut:

a. Mempuyai komponen (components)

Komponen sistem adalah segala sesuatu yang menjadi

bagian penyusun sistem. Komponen sistem dapat berupa benda

nyata atau abstrak. Komponen sistem disebut sebagai subsistem,

dapat berupa orang, benda, hal atau kejadian yang terlibat di dalam

sistem.

b. Mempunyai batas (boundary)

Batas sistem diperlukan untuk membedakan satu sistem

dengan sistem yang lain. Tanpa adanya batasan sistem, maka


sangat sulit untuk menjelaskan suatu sistem. Batas sistem akan

memberikan batasan scope tinjauan terhadap sistem.

c. Mempunyai lingkungan (environments)

Lingkungan sistem adalah segala sesuatu yang berada di

luar sistem. Lingkungan sistem dapat menguntungkan ataupun

merugikan. Umumnya, lingkungan yang menguntungkan akan

selalu dipertahankan untuk menjaga keberlangsungan sistem.

Sedangkan lingkungan sistem yang merugikan akan diupayakan

agar mempunyai pengaruh seminimal mungkin, bahkan jika

mungkin ditiadakan.

d. Mempunyai penghubung atau antar muka (interface) antar

komponen.

Penghubung atau antar muka merupakan komponen sistem,

yaitu segala sesuatu yang bertugas menjembatani hubungan antar

komponen dalam sistem. Penghubung atau antar muka merupakan

sarana yang memungkinkan setiap komponen saling berinteraksi

dan berkomunikasi dalam rangka menjalankan fungsi masing-

masing komponen. Dalam dunia komputer, penghubung atau antar

muka dapat berupa berbagai macam tampilan dialog layar monitor

yang memungkinkan seseorang dapat dengan mudah

mengoprasikan sistem aplikasi komputer yang digunakannya.

e. Mempunyai masukan (input)


Masukan merupakan komponen sistem, yaitu segala

sesuatu yang perlu dimasukan ke dalam sistem sebagai bahan yang

akan diolah lebih lanjut untuk menghasilkan keluaran yang

berguna. Dalam Sistem Informasi Manajemen, masukan disebut

sebagai data.

f. Mempunyai pengolahan (processing)

Pengolahan merupakan komponen sistem yang mempunyai

peran utama mengolah masukan agar menghasilkan keluaran yang

berguna bagi para pemakainya. Dalam Sistem Informasi

Manajemen, pengolahan adalah berupa program aplikasi komputer

yang dikembangkan untuk keperluan khusus. Program aplikasi

tersebut mampu menerima masukan, mengolah masukan, dan

menampilkan hasil olahan sesuai dengan kebutuhan para pemakai.

g. Mempunyai keluaran (output)

Keluaran merupakan komponen sistem yang berupa

berbagai macam bentuk keluaran yang dihasilkan oleh komponen

pengolahan. Dalam Sistem Informasi Manajemen, keluaran adalah

informasi yang dihasilkan oleh program aplikasi yang akan

digunakan oleh para pemakai sebagai bahan pengambilan

keputusan.

h. Mempunyai sasaran (objective) dan tujuan (goal)

Setiap komponen dalam sistem perlu dijaga agar saling

bekerja sama dengan harapan agar mampu mencapai sasaran dan


tujuan sistem. Sasaran berbeda dengan tujuan. Sasaran sistem

adalah apa yang ingin dicapai oleh sistem untuk jangka waktu yang

relatif pendek. Sedangkan tujuan merupakan kondisi atau hasil

akhir yang ingin dicapai oleh sistem untuk jangka waktu yang

panjang. Dalam hal ini, sasaran merupakan hasil pada setiap tahap

tertentu yang mendukung upaya pencapaian tujuan.

i. Mempunyai kendali (control)

Setiap komponen dalam sistem perlu selalu dijaga agar

tetap bekerja sesuai peran dan fungsinya masing-masing. Hal ini

bisa dilakukan jika ada bagian yang berperan menjaganya, yaitu

bagian kendali. Bagian kendali mempunyai peran utama menjaga

agar proses dalam sistem dapat berlangsung normal sesuai batasan

yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam Sistem Informasi

Manajemen, kendali dapat berupa validasi masukan, validasi

proses, maupun validasi keluaran yang dapat dirancang dan

dikembangkan secara terprogram.

j. Mempunyai umpan balik (feed back)

Umpan balik diperlukan oleh bagian kendali (control)

sistem untuk mengecek terjadinya penyimpangan proses dalam

sistem dan pengembaliannya ke dalam kondisi normal.

Berdasarkan definisi diatas penulis menyimpulkan bahwa

sistem adalah suatu atau beberapa elemen yang saling bekerja sama

satu sama lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu, antara satu
elemen dan elemen lainnya saling membutuhkan (simbiosis

mutualisme). Jika salah satu elemen rusak atau bermasalah maka

sistem pun akan bermasalah tidak akan berfungsi sebagai mana

mestinya.

2. Unsur Sistem

Menurut Azwar (1996:22) bagian atau elemen yang terdapat dalam

sistem dikelompokan ke dalam 6 unsur yaitu:

a. Masukan (Input)

Kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem

dan diperlukan untuk dapat berfungsinya sistem tersebut.

b. Proses (Process)

Kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem

dan yang berfungsi untuk mengubah masukkan menjadi keluaran

yang direncanakan.

c. Keluaran (Outcome)

Bagian atau elemen yang dihasilkan dari langsungnya proses

dalam sistem.

d. Umpan Balik (Feed Back)

Kumpulan bagian atau elemen yang merupakan keluaran dari

sistem dan sekaligus sebagai masukkan bagi sistem tersebut.

e. Dampak (Impact)

Akibat dari yang dihasilkan oleh keluaran suatu sistem.

f. Lingkungan (Environment)
Dunia diluar sistem yang tidak dikelola oleh sistem tetapi

mempunyai pengaruh besar terhadap sistem.

3. Klasifikasi Sistem

Ladjamudin (2013:6) mengemukakan bahwa sistem dapat

diklasifikasikan dari beberapa sudut pandang, diantaranya adalah

sebagai berikut:

a. Sistem abstrak (Abstract Sistem) dan sistem fisik (Phsical Sistem).

Sistem abstrak adalah “sistem yang berupa pemikiran atau

ide-ide yang tidak tampak secara fisik” (Contoh: sistem teologia).

Sistem fisik adalah “sistem yang ada secara fisik” (Contoh: Sistem

komputer).

b. Sistem alamiah (Natural Sistem) dan sistem buatan manusia

(Human madeSistem).

Sistem alamiah adalah “sistem yang terjadi melalui proses

alam dan tidak dibuat manusia” (Contoh: Sistem perputaran bumi).

Sistem buatan manusia adalah “sistem yang dirancang oleh

manusia dan melibatkan interaksi antara manusia dengan mesin

(Contoh: Sistem informasi).

c. Sistem tertentu (Deteministic Sistem) dan sistem tak tentu

(Probabilistic Sistem).

Sistem tertentu beroperasi dengan tingkah laku yang sudah

dapat diprediksi, interaksi diantara bagian-bagiannya dapat

dideteksi dengan pasti sehingga keluarannya dapat diramalkan.


Sistem tak tentu adalah “sistem yang kondisi masa depannya tidak

dapat diprediksi karena mengandung unsur probabilitas”.

d. Sistem tertutup (Closed Sistem) dan sistem terbuka (Open Sistem).

Sistem tertutup adalah “sistem yang tidak berhubungan dan

tidak terpengaruh dengan lingkungan luarnya”. Sistem ini bekerja

secara otomatis tanpa adanya turut campur tangan dari pihak

diluarnya (kenyataannya tidak ada sistem yang benar-benar

tertutup), yang ada hanyalah relatively closed sistem. Sistem

terbuka adalah “sistem yang berhubungan dan terpengaruh dengan

lingkungan luarnya”. Sistem ini menerima masukkan dan

menghasilkan keluaran untuk lingkungan luar atau subsistem yang

lainnya, sehingga harus memiliki sistem pengendalian yang baik.

B. Konsep Data dan Informasi

1. Data

“Data dapat didefinisikan sebagai deskripsi dari suatu kejadian

yang kita hadapi”. (Ladjamudin, 2013:8). Data akan menjadi bahan

dalam suatu proses pengolahan data. Oleh karena itu, suatu data belum

dapat berbicara banyak sebelum diolah lebih lanjut lagi.

Data adalah sesuatu yang belum mempunyai arti bagi penerimanya

dan masih memerlukan adanya suatu pengolahan. Data bisa berwujud

suatu keadaan, gambaran suara, huruf, angka, matematika, bahasa

ataupun simbol – simbol lainnya yang bisa kita gunakan sebagai bahan

untuk melihat lingkungan, objek, kejadian ataupun suatu konsep.


Menurut Jogiyanto (2005:8) “Data merupakan kenyataan yang

menggambarkan suatu kejadian –kejadian dan kesatuan nyata”.

Proses pengolahan data terbagi menjadi tiga tahap, yang disebut

dengan siklus pengolahan data (Data Processing cycle) yaitu:

a. Tahapan input

Yaitu dilakukan proses pemasukan data ke dalam komputer

lewat media input (Input Devices).

b. Tahapan Processing

Yaitu dilakukan proses pengolahan data yang sudah

dimasukan, yang dilakukan oleh alat pemroses (Process Devices)

yang dapat berupa proses hitungan, perbandingan, pengendalian,

atau pencarian distorage.

c. Tahapan Output

Yaitu dilakukan proses menghasilkan output dari hasil

pengolahan data ke alat output (output Devices) yaitu berupa

informasi.

2. Informasi

Informasi didefinisikan “merupakan hasil pengolahan data


sehingga menjadi bentuk yang penting bagi penerimanya dan
mempunyai kegunaan sebagai bahan dalam pengambilan
keputusan yang dapat dirasakan akibatnya secara langsung saat
itu juga atau secara tidak langsung pada saat mendatang”.
(Sutanta, 2003:10).
Sedangkan pengertian Informasi Menurut Gordon. B. Davis

(1985), „Informasi sebagai data yang telah diolah menjadi bentuk yang

lebih berarti dan berguna bagi penerimanya untuk mengambil

keputusan masa kini maupun yang akan datang‟. (Ladjamudin, 2013:8)

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa informasi adalah

kumpulan dari data-data yang telah diolah dari hasil fakta-fakta yang

ada dan memilki nilai atau arti bagi pengunanya.

C. Pengertian Sistem Informasi

Sistem informasi adalah seperangkat komponen yang saling


berhubungan yang berfungsi mengumpulkan, memproses,
menyimpan dan mendistribusikan informasi untuk mendukung
pembuatan keputusan dalam organisasi. (Sutanta, 2003:6).

Sedangkan Menurut Ladjamudin (2013:13) Sistem informasi


adalah sekumpulan prosedur organisasi yang pada saat dilaksanakan
akan memberikan informasi bagi pengambil keputusan dan atau
untuk mengendalikan organisasi.

Dari pengertian di atas dapat disimpulakan bahwa Sistem

Informasi adalah langkah-langkah dalam mengolah suatu data yang telah

dikumpulkan yang kemudian informasi tersebut diubah dan disebarkan di

dalam suatu bentuk organisasi.

D. Pengertian Sistem Informasi Rumah Sakit

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor:

1171/Menkes/Per/VI/2011 tentang Sistem Informasi Rumah Sakit, sistem

informasi Rumah Sakit adalah suatu proses pengumpulan, pengolahan dan

penyajian data Rumah Sakit.


E. Konsep Perancangan Sistem

1. Pengertian Perancangan

Perancangan sistem menurut Sutanta (2003:121) merupakan “tahap

paling awal yang memberikan pedoman dalam melakukan langkah

selanjutnya”. Tahap perencanaan sistem meliputi kegiatan sebagai

berikut:

a. Mengenali masalah.

b. Menentukan masalah.

c. Menentukan tujuan.

d. Mengenali kendala.

e. Studi kelayakan.

f. Laporan ke manajemen

Tahap perencanaan sistem dapat dikelompokan dalam dua bagian,

yaitu:

a. Perancangan sistem secara umum (general sistem design) atau

desain konseptual (conceptual sistem) atau perancangan logika

(logical design).

b. Perancangan sistem secara terinci (detailed sistem design) atau

perancangan sistem secara fisik (phisical sistem design)

perancangan internal (internal design).

(Sutanta, 2003:123).
2. Tujuan dan Sasaran Perancangan

Menurut Ladjamudin (2013:39) tujuan perancangan sistem


adalah untuk mendesign sistem baru yang dapat menyelesaikan
masalah-masalah yang dihadapi perusahaan yang diperoleh dari
pemeliharaan alternatif sistem yang baik. Kegiatan yang
dilakukan dalam tahap perancangan ini meliputi perancangan
output, input, dan file.
Adapun sasaran dari suatu perancangan adalah sebagai berikut :

a. Perangcangan harus berguna, mudah dipahami dan mudah

digunakan.

b. Perancangan harus dapat mendukung tujuan utama yang telah

didefinisikan pada tahap perancangan yang dilanjutkan pada

tahap analisis.

c. Perancangan harus efiien dan efektif untuk dapat mendukung

pengolahan transaksi, pelaporan dan mendukung keputusan

yang akan dilakukan oleh manajemen.

d. Perancangan harus dapat mempersiapkan rangcang bangun

yang terinci untuk masing-masing komponen dan sistem

meliputi data dan informasi simpanan data, metode-metode,

prosedur-prosedur, para pemakai perangkat keras, perangkat

lunak serta pengendali sistem.

F. Data Flow Diagram (DFD)


Data Flow diagram (DFD) adalah suatu diagram yang

menggambarkan aliran informasi dan transformasi data oleh suatu proses

yang pada saat data bergerak dari masukan (input) menjadi keluaran

(output) pada suatu sistem. Salah satu keuntungan diagram aliran data

adalah memudahkan pemakai ataukurang menguasai bidang komputer

untuk mengerti sistem yang akan dikerjakan.

1. Simbol Data Flow Diagram (DFD)

Beberapa simbol digunakan di DFD untuk maksud mewakili

(Ladjamudin, 2013:62):

a. External entity (kesatuan luar) atau boundary (batas sistem).

Setiap sistem pasti mempunyai batas sistem (boundary) yang

memisahkan suatu sistem dengan lingkungan luarnya. Sistem akan

menerima input dan menghasilkan output kepada lingkungan

luarnya. Kesatuan luar (external entity) merupakan kesatuan (entity)

dilingkungan luar sistem yang dapat berupa orang, organisasi atau

sistem lainnya yang berada di lingkungan luarnya yang akan

memberikan input atau menerima output dari sistem.

b. Data flow (arus data).

Arus data (data flow) di DFD diberi simbol suatu panah.

Arus data ini mengalir diantara proses (process), simpanan data

(data store) dan kesatuan luar (exsternal entity). Arus data

menunjukan arus data yang dapat berupa masukan untuk sistem atau

hasil dari proses sistem.


c. Process (proses)

Suatu proses adalah kegiatan atau kerja yang dilakukan oleh

orang, mesin atau komputer dari hasil suatu arus data yang masuk

kedalam proses untuk dihasilkan arus data yang akan keluar dari

proses. Suatu proses dapat menunjukkan dengan simbol lingkaran

atau dengan simbol empat persegi panjang tegak dengan sudut-sudut

tumpul.

d. Data store (simpanan data).

Menunjukkan informasi yang tersimpan dalam file diantara

transactions. Data store diidentitaskan dengan “D dengan nomor”

untuk data store komputer dan “M dengan nomor” untuk manual

data store.

2. Level Data Flow Diagram (DFD)

a. Diagram konteks

Diagram konteks adalah diagram yang terdiri dari suatu proses

dan menggambarkan ruang lingkup suatu sistem. Diagram konteks

merupakan level tertinggi dari DFD yang menggambarkan seluruh

input atau output dari suatu sistem.

b. Diagram Nol atau Zero ( Overview Diagram )

Diagram nol adalah diagram yang menggambarkan proses dari

data flowdiagram. Pada level ini sudah dimungkinkan adanya data

store yang digunakan. Keseimbangan input dan output (balancing)

antara diagram nol dengan diagram konteks harus terpelihara.


c. Diagram Rinci

Diagram rinci adalah diagram yang menguraikan proses apa yang

ada dalam diagram zero atau diagram level diatasnya.

d. Balancing dalam DFD

Aliran data yang masuk kedalam dan keluar adri suatu proses

harus sama dengan aliran data yang masuk ke dalam dan keluar dari

rincian proses pada level atau tingkatan dibawahnya.

e. Kamus data

1) Nama arus data

Nama arus data harus dicatat pada kamus data, sehingga

mereka yangmembaca DFD memerlukan penjelasan lebih

lanjut tentang arus data tertentu dan dapat langsung

mencarinya di kamus data.

2) Alias

Alias digunakan untuk menyatakan nama lain dari suatu

data elemen atau data store yang telah ada.

3) Bentuk data

Bentuk data perlu dicatat di kamus data, karena dapat

dipergunakan untuk mengelompokan kamus data ke dalam

kegunaannya sewaktu perancangan sistem.

4) Arus data

Arus data menunjukan dari mana data mengalir dan

kemana data menuju.


5) Penjelasan

Untuk memperjelas tentang makna dari arus data yang

dicatat dalam kamus data, maka sebagian penjelasan dapat

diisi dengan keterangan-keterangan tentang arus data tersebut.

Tabel 2.1 Daftar Simbol DFD dan Keterangan

Sumber: Ladjamudin (2013:72)

G. Entity Relationship Diagram ( ERD )

Menurut Ladjamudin (2013:142), Entity Relationship diagram

(ERD) adalah “suatu model jaringan yang menggunakan susunan data

yang disimpan dalam sistem secara abstrak”. ERD merupakan model

jaringan data yang menekan pada struktur-struktur dan relationship data.

Dalam pembentukan ERD terdapat 3 komponen yang akan

dibentuk yaitu:
a. Entity

Entity digambarkan dengan sebuah bentuk persegi panjang. Entity

yaitu sesuatu apa saja yang ada di dalam sistem, nyata maupun abstrak

dimana data tersimpan atau dimana terdapat data.

b. Relationship

Relationship dapat digambarkan dengan sebuah bentuk belah

ketupat. Relationship adalah hubungan alamiah yang terjadi antara

entitas. Pada umumnya relationship diberi nama dengan kata kerja

dasar, sehingga memudahkan untuk melakukan pembacaan relasinya.

c. Atribut

Atribut adalah sesuatu yang menjelaskan apa sebenarnya yang

dimaksud entitas maupun relationship, sehingga sering dikatakan

atribut adalah elemen dari setiap entitas dan relationship.

Tabel 2.2 Daftar Simbol ERD dan Keterangan


Sumber: Ladjamudin (2013:149)
H. Flowchart

Flowchart adalah bagan-bagan yang mempunyai arus yang

menggambarkan langkah-langkah penyelesaian suatu masalah. Flowchart

merupakan cara penyajian dari suatu algoritma. Simbol-simbol flowchart

menurut Ladjamudin (2013:266) dibagi menjadi tiga kelompok yaitu:

1. Simbol Penghubung atau Alur

Simbol yang digunakan untuk menghubungkan antara simbol yang

satu dengan simbol yang lainnya.

Tabel 2.3 Daftar Simbol Penghubung atau Alur dan Keterangan

Sumber: Ladjamudin (2013:266)


2. Simbol Proses (Prossesing Symbol)

Simbol yang menunjukkan jenis pengolahan dalam suatu proses

atau prosedur.

Tabel 2.4 Daftar Simbol Proses dan Keterangan

Sumber: Ladjamudin (2013:267)


3. Simbol Masuk-Keluar (Input-Output Symbol)

Simbol yang menunjukkan jenis peralatan yang digunakan sebagai

media input atau output.

Tabel 2.5 Daftar Simbol Masuk-Keluar dan Keterangan

Sumber: Ladjamudin (2013:268)

I. Diagram Konteks

Diagram konteks menurut Ladjamudin (2013:64) adalah, “diagram

yang terdiri dari suatu proses dan menggambarkan ruang lingkup suatu

sistem”. Diagram konteks merupakan level tertinggi dari DFD yang


menggambarkan seluruh input ke sistem atau output dari sistem. Dalam

diagram konteks hanya ada satu proses. Tidak boleh ada store dalam

diagram konteks.

J. Basis Data dan Database Management Sistem (DBMS)

1. Pengertian Basis Data

Database adalah kumpulan data yang saling berhubungan yang

disimpan secara bersamaan sedemikian rupa dan tanpa pengulangan

(redudancy) yang tidak perlu, untuk memenuhi berbagai kebutuhan.

Basis data bias dibayangkan sebagai lemari arsip dengan berbagai cara

pengaturan. Basis data dan lemari arsip memiliki prinsip kerja dan

tujuan yang sama. Prinsipnya yakni pengaturan data/arsip. Sedangkan

tujuan utama pemanfaatan basis sata yaitu:

a. Kecepatan dan kemudahan (speed): Mudah dan cepat dalam

pengambilan data.

b. EFISIENSI Ruang Penyimpanan (Space): Mengurangi atau

Menghilangkan redudansi data.

c. Keakuratan (Accuracy): Pembentukan kode dan relasi antar data

berdasarkan aturan/batasan tipedata, domain data, keunikan data,

untuk menekan ketidakakuratan saatentry/penyimpanan data.


d. Ketersediaan (Availability): Pemeliharaan data yang sifatnya pasif

dari database aktif.

e. Kelengkapan (Completeness): Kompleksnya sata menyebabkan

perubahan struktur database.

f. Keamanan (Security): Memberikan keamanan atas hak ases data.

g. Kebersamaan (Sharability): Pemakaian bersifat multiseluler.

2. Konsep Database Management Sistem (DBMS)

DBMS adalah kumpulan program yang digunakan user untuk

memanagement database (create, maintain). DBMS mencakup proses:

a. Defining

Database mengidentifiksikan tipe data, struktur dan batasan

(constraint) dari data yang disimpan dalam database.

b. Manipulating

Database mencakup berbagai fungsi dan query untuk

mendapatkan data yang dicari, termasuk operasi insert, update dan

delete serta dalam generate report data.

c. Sharing

Database dapat diatur untuk dapat sharing multiple user

dan pogram untuk mengakses database secara bersama-sama.

Fungsi yang lebih penting dari DBMS adalah proteksi dan maintain

database dalam jangka panjang.

1) Proteksi
Mengandung sistem protection yang menangani

kondisi malfunction (crash) baik pada hardware ataupun

software, juga mengandung security protection yang

menangani pengaksesan oleh user terlarang.

2) Maintaining

Mengandung sistem maintaining yang selalu

meningkatkan kebutuhan perubahan tap waktu.

3. Tujuan Database Management Sistem (DBMS)

Menurut Ladjamudin (2013:131), Tujuan utama dari DBMS adalah

untuk menyediakan suatu lingkungan yang mudah dan efisien untuk

penggunaan, penarikan, dan penyimpanan data dan informasi.

Pengelolaan manajemen basis data antara lain meliputi:

a. Pendefinisian struktur penyimpanan

b. Penyediaan mekanisme untuk manipulasi informasi

c. Penyediaan keamanan dalam penarikan dan penyimpanan data dan

informasi

4. Keunggulan Database Management Sistem (DBMS)

Menurut Ladjamudin (2013 : 131) keunggulan DBMS yaitu :

a. Kepraktisan.

Sistem yang berbasis kertas akan menggunakan kertas yang

sangat banyak untuk menyimpan informasi, sedangkan DBMS

menggunakan media penyimpanan sekunder yang berukuran kecil

tetapi padat informasi.


b. Kecepatan.

Mesin dapat mengambil atau mengubah data jauh lebih

cepat dari pada manusia.

c. Mengurangi Kejemuan.

Orang cenderung menjadi bosan kalau melakukan tindakan-

tindakan berulang yang menggunakan tangan (misalnya harus

mengganti suatu informasi).

d. Kekinian.

Informasi yang tersedia pada DBMS akan bersifat mutakhir

dan akurat setiap saat.

K. Microsoft Access 2007

1. Pengertian Microsoft Access 2007

Menurut Taufani (2009 : 1), Microsoft Access 2007 atau


lebih dikenal dengan sebutan Access 2007 merupakan salah satu
perangkat lunak yang diperuntukkan untuk mengolah database
dibawah sistem windows. Dengan menggunakan Microsoft Access
2007, seseorang dapat merancang, membuat, dan mengolah
database dengan mudah dan cepat.

Menurut Abdul Kadir (2010 : 12), Microsoft Office Access

2007 tergolong sebagai DBMS (Data Base Management System).

Perangkat lunak ini bermanfaat untuk mengolah data dengan cara

yang sangat fleksibel dan cepat. Sejumlah aktivitas yang terkait

dengan data yang didukung oleh perangkat lunak tersebut, antara

lain :

a. Menyimpan data dengan ukuran yang tidak terbatas

b. Mengatur data yang tersimpan agar selalu konsisten


c. Mengambil data yang tersimpan dengan mudah dan cepat

d. Memungkinkan untuk memilah hanya tertentu yang diambil

e. Memungkinkan untuk mengkombinasikan teks, gambar, dan

bahkan suara

f. Memasukan data yang dapat ditangani melalui suatu formulir

g. Menyajikan informasi dengan cepat dan mudah melalui fasilitas

pembangkit laporan

h. Mengimpor data dari format lain (misalnya dari Excel

i. Mengekspor data ke dalam format lain (misalnya ke bentuk

RTD atau file teks)

2. Jenis Data Dalam Access 2007

Ada sejumlah tipe data yang disediakan Access menurut Abdul

Kadir (2010:23) antara lain:

Tabel 2.6 Daftar Jenis Data dan Keterangan Dalam Access 2007

Jenis Data Keterangan

Text Sebuah tipe data untuk menentukan data

yang bisa masukkan dengan kombinasi nilai antara

text dan number, dan memiliki maximum karakter

sebanyak 255 karakter. Tipe data ini biasa juga

disebut Teks Pendek.

Memo Tipe data ini biasa juga disebut juga dengan

Teks Panjang yang dapat menyimpan hingga

sekitar satu gigabyte teks walaupun kontrol pada


Jenis Data Keterangan

formulir dan laporan hanya bisa menampilkan

64.000 karakter pertama.

Number Data berupa angka dengan pilihan field size

yang terdiri dari (Byte, Integer, Long Integer,

Single, Double, General Number, Currency,

Standard, Percent, Scientific). Atau secara umum

diartikan sebagai sebuah data yang memiliki jenis

number (angka) yang digunakan untuk kalkulasi

matematika dan keperluan lainnya.

Date/Time Tipe data berupa jenis tanggal, waktu atau

penggabungan dari tanggal dan waktu. Anda dapat

mengatur properti Format tanggal dan waktu yang

telah ditentukan format atau menggunakan format

kustom untuk Date / Time tipe data.

Currency Sebuah tipe data dengan format mata uang

Mata uang Gunakan pemisah ribuan, yang biasa

ditandai dengan awal angka yang disertakan dengan

symbol currency default sesuai dengan regional

setting yang digunakan, misalnya Rp, $, dll.

Currency dapat menggunakan angka dengan 15 digit

dibelakang desimal dan 4 digit sesudah desimal.

Auto Number Jenis data yang digunakan dalam Microsoft


Jenis Data Keterangan

Access tabel untuk menghasilkan counter numerik

otomatis bertambah. Ini dapat digunakan untuk

membuat kolom identitas yang unik

mengidentifikasi setiap record dalam sebuah tabel.

Hanya satu bidang AutoNumber diperbolehkan

dalam setiap tabel. Tipe data disebut Counter

Access. Secara umum dapat digunakan untuk

membuat no urut secara otomatis.

Yes/No sebuah tipe data dengan jenis hanya 2

pillihan yaitu True (1) atau False (0). Format yang

tersedia adalah : Yes/No, True/False, dan On/Off.

OLE Object Sebuah tipe data yang diambil dari system

OLE seperti Microsoft Excel spreadsheet, Microsoft

Word document, graphics, sounds, atau data-data

biner lainnya baik yang dilink ataupun dimasukkan

secara permanen (embedded) kedalam table

Microsoft Access.

Hyperlink Sebuah tipe data yang digunakan untuk

menyimpan alamat internet atau file yang

ditunjukkan melalui alamat URL.

Sumber: Abdul Kadir (2010:23)

L. Visual Studio 2010


1. Pengertian Visual Studio 2010

VISUAL BASIC 2010 merupakan salah satu bagian dari

prodeuk pemograman terbaru yang dikeluarkan oleh Microsoft, yaitu

miscrosoft visual studio 2010. Visual Studio 2010 pada dasarnya

adalah sebuah bahasa pemrograman computer

Visual Studio 2010 (yang sering juga disebut dengan VB .Net

2010) selain disebut dengan bahasa pemrograman, juga sering disebut

sebagai sarana (tool) untuk menghasilkan program-progam aplikasi

berbasiskan windows.

Visual studio merupakan produk pemograman andalan dari

Microsoft corporation, yang di dalamnya berisi beberapa jenis IDE

pemograman seperti VISUAL BASIC, visual C++, visual Web

Developer, Visual C# dan Visual F#. Beberapa kemampuan atau

manfaat dari Visual Studio 2010 diantaranya seperti :

a. Untuk membuat program aplikasi berbasiskan windows.

b. Untuk membuat objek-objek pembantu program seperti,

misalnya : kontrol ActiveX, file Help, aplikasi Internet dan

sebagainya.

Menguji program (debugging) dan menghasilkan program berakhiran

EXE yang bersifat executable atau dapat langsung dijalankan.

2. Tampilan Pertama Visual Studio 2010


Saat kita memulai visual studio 2010, maka akan muncul

tampilan splash screen seperti berikut:

Gambar 2.3 Splash Screen Visual Studio 2010


Sumber: (http://www.dasarpendidikan.com/2014/07/pengertian-
keistimewaan-dan-sejarah-microsoft-visual-studio-2010.html)

Kemudian muncul IDE Visual Studio 2010 seperti dibawah ini:


Gambar 2.4 IDE Visual Studio 2010
Sumber: (http://www.dasarpendidikan.com/2014/07/pengertian-
keistimewaan-dan-sejarah-microsoft-visual-studio-2010.html)

3. Jendela Pada Visual Studio 2010

a. Toolbox

Jendela ini berisi control dan komponen yang dapat

digunakan sewaktu-waktu dengan menambahkannya kedalam

aplikasi. Terdapat 12 komponen sesuai dengan kegunaan masing-

masing.

b. Design

Jendela ini menampilkan form yang dibuat dan disini pula

mendesain tampilan dari aplikasi. Jendela ini merupakan jendela

utama paling besar terletak ditengah IDE.

c. Solution explorer

Jendela ini menampilkan hierarki dari solution. Sebuah

solution dapat berisi banyak proyek, dimana proyek dapat

mengandung banyak form, kelas, modul, dan komponen lain untuk

menyelesaikan masalah.

d. Properties

Jendela ini menampilkan property dari objek yang dipilih

pada jendela desain. Dengan jendela ini kita dapat mengubah

property objek terpilih.

e. Datasource
Jendela ini digunakna untuk memanipulasi data source yang

berhubungan dengan database (Suyantoro, 2012:14)

M. Macam-Macam Bahasa Pemograman

Bahasa pemrograman, atau sering diistilahkan juga dengan

bahasa komputer atau bahasa pemrograman komputer, adalah instruksi

standar untuk memerintah komputer. Bahasa pemrograman ini

merupakan suatu himpunan dari aturan sintaks dan semantik yang

dipakai untuk mendefinisikan program komputer. Bahasa ini

memungkinkan seorang programmer dapat menentukan secara persis

data mana yang akan diolah oleh komputer, bagaimana data ini akan

disimpan/diteruskan, dan jenis langkah apa secara persis yang akan

diambil dalam berbagai situasi.

Menurut tingkat kedekatannya dengan mesin komputer, bahasa

pemrograman terdiri dari:

1. Bahasa Mesin, yaitu memberikan perintah kepada komputer dengan

memakai kode bahasa biner, contohnya 01100101100110.

2. Bahasa Tingkat Rendah, atau dikenal dengan istilah bahasa rakitan

(bah.Inggris Assembly), yaitu memberikan perintah kepada komputer

dengan memakai kode-kode singkat (kode mnemonic), contohnya

kode_mesin|MOV, SUB, CMP, JMP, JGE, JL, LOOP, dsb.

3. Bahasa Tingkat Menengah, yaitu bahasa komputer yang memakai

campuran instruksi dalam kata-kata bahasa manusia (lihat contoh


Bahasa Tingkat Tinggi di bawah) dan instruksi yang bersifat

simbolik, contohnya {, }, ?, <<, >>, &&, ||, dsb.

4. Bahasa Tingkat Tinggi, yaitu bahasa komputer yang memakai

instruksi berasal dari unsur kata-kata bahasa manusia, contohnya

begin, end, if, for, while, and, or, dsb. Komputer dapat mengerti

bahasa manusia itu diperlukan program compiler atau interpreter.

Sebagian besar bahasa pemrograman digolongkan sebagai

Bahasa Tingkat Tinggi, hanya bahasa C yang digolongkan sebagai

Bahasa Tingkat Menengah dan Assembly yang merupakan Bahasa

Tingkat Rendah. Macam – macam bahasa pemrograman yang

sering digunakan diantaranya:

1. Bahasa pemrograman C (kategori tingkat tinggi)

Dibuat untuk memprogram sistem dan jaringan komputer

namun bahasa ini juga sering digunakan dalam mengembangkan

software aplikasi.

2. Bahasa pemograman JAVA (kategori tingkat tinggi)

Java adalah bahasa pemrograman yang dapat dijalankan

di berbagai komputer termasuk telepon genggam.

3. Bahasa pemograman PYTHON

Python adalah bahasa pemrograman dinamis yang

mendukung pemrograman berorientasi obyek. Python dapat

digunakan untuk berbagai keperluan pengembangan perangkat

lunak dan dapat berjalan di berbagai platform sistem operasi.


4. Bahasa pemograman RUBY

Ruby adalah bahasa skripting yang berorientasi obyek.

Tujuan dari Ruby adalah menggabungkan kelebihan dari semua

bahasa-bahasa pemrograman scripting yang ada di dunia.

5. Bahasa pemograman SQL (kategori tingt tinggi)

SQL (Structured Query Language) adalah sebuah bahasa

yang dipergunakan untuk mengakses data dalam basis data

relasional.

6. Bahasa pemograman ColdFusion

ColdFusion adalah server aplikasi dan framework

pengembangan perangkat lunak yang digunakan

untuk pengembangkan perangkat lunak komputer, khususnya

situs webdinamis.

7. Bahasa pemograman PHP (kategori tingkat tinggi)

PHP adalah bahasa pemrograman script yang paling

banyak dipakai saat ini. PHP pertama kali dibuat oleh Rasmus

Lerdorf pada tahun 1995. Pada waktu itu PHP masih bernama

FI (Form Interpreted), yang wujudnya berupa sekumpulan

script yang digunakan untuk mengolah data form dari web.

8. Bahasa pemograman HTML (kategori tingkat tinggi)

HyperText Markup Language (HTML) adalah sebuah

bahasa markup yang digunakan untuk membuat sebuah


halaman web dan menampilkan berbagai informasi di dalam

sebuah browser Internet.

9. Bahasa pemograman COBOL

COBOL (singkatan dari Common Business Oriented

Language) adalah sebuah bahasa pemrograman generasi

ketiga.

10. Bahasa pemograman MICROSOFT VISUAL BASIC (kategori

tingkat tinggi)

VISUAL BASIC (sering disingkat sebagai VB saja)

merupakan sebuah bahasa pemrograman yang menawarkan

Integrated Development Environment (IDE) visual untuk

membuat program perangkat lunak berbasis sistem operasi

Microsoft Windows dengan menggunakan model

pemrograman (COM), VISUAL BASIC merupakan turunan

bahasa pemrograman BASIC dan menawarkan pengembangan

perangkat lunak komputerberbasis grafik dengan cepat.

11. Bahasa pemograman VISUAL C++ (kategori tingkat tinggi)

VISUAL C++ adalah sebuah produk Integrated

Development Environment (IDE) untukbahasa pemrograman

C dan C++ yang dikembangkan Microsoft. VISUAL C++

merupakan salah satu bagian dari paket Microsoft Visual

Studio.

12. Bahasa pemograman DELPHI (kategori tingkat tinggi)


Umumnya DELPHI lebih banyak digunakan untuk

pengembangan aplikasi desktop danenterprise berbasis

database, tapi sebagai perangkat pengembangan yang bersifat

general-purpose ia juga mampu dan digunakan dalam

berbagai jenis proyek pengembangan software.

13. Bahasa pemograman C++ (kategori tingkat tinggi)

C++ merupakan bahasa pemrograman yang memiliki

sifat Pemrograman berorientasi objek.

14. Bahasa Pemrograman ASP

ASP adalah singkatan dari Active Server Pages yang

merupakan salah satu bahasa pemograman web untuk

menciptakan halaman web yang dinamis.

15. Bahasa Pemrograman XML

Extensible Markup Language (XML) adalah bahasa

markup serbaguna yang direkomendasikan W3C untuk

mendeskripsikan berbagai macam data.

16. Bahasa Pemrograman WML

WML adalah kepanjangan dari Wireless Markup

Language, yaitu bahasa pemrograman yang digunakan dalam

aplikasi berbasis XML (eXtensible Markup Langauge).

17. Bahasa Pemrograman PERL


Perl adalah bahasa pemrograman untuk mesin dengan

sistem operasi Unix (SunOS, Linux, BSD, HP-UX), juga

tersedia untuk sistem operasi seperti DOS, Windows,

PowerPC, BeOS, VMS, EBCDIC, dan PocketPC.(mirip

bahasa pemograman C.)

18. Bahasa Pemrograman CFM

Cfm dibuat menggunakan tag ColdFusion dengan

software Adobe ColdFusion / BlueDragon / Coldfusion

Studio.

19. Bahasa Pemrograman Javascript (kategori tingkat tinggi)

Javascript adalah bahasa scripting yang handal yang

berjalan pada sisi client. JavaScript merupakan sebuah

bahasa scripting yang dikembangkan oleh Netscape.

20. Bahasa Pemrograman CSS

Cascading Style Sheets (CSS) adalah suatu bahasa

stylesheet yang digunakan untuk mengatur tampilan suatu

dokumen yang ditulis dalam bahasa markup.

21. Pascal

Dirancang oleh Prof. Nicklaus Wirth dari Technical

University di Zurich, Switzerlandtahun 1971. Nama Pascal

berasal dari Blaise Pascal, nama ahli matematika dan


philosopi dari Perancis (abad 17). Pengembangan dari bahasa

Algol 60 dan Algol W (turunan Algol 60).

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metotologi Penelitian

Metodologi penelitian menurut Notoatmodjo (2010:19) “Metodologi

penelitian merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmu

pengetahuan atau pemecahan suatu masalah”.

Dalam menyelesaikan Skripsi ini penulis menggunakan metode

kualitataif dalam tingkat eksplanasi deskriptif. Metode penelitian kualitatatif

yaitu penelitian yang tidak menekankan pada perhitungan angka-angka dalam

memberikan bobot penilaian terhadap suatu permasalahan melainkan dengan

menganalisa dan memahami proses kerja yang ada. Metode penelitian

deskriptif adalah metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama

untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara

objektif. Metode penelitian deskriptif digunakan untuk memecahkan masalah


atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada masa sekarang.

(Notoatmodjo, 2010: 138).

3.2 Teknik Pengumpulan Data

Dalam Skripsi ini teknik pengumpulan data yang digunakan oleh

penulis di Unit Rekam Medis Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya adalah

dengancara sebagai berikut:

A. Observasi

Penelitian dilakukan secara langsung dengan melakukan pengamatan

terhadap objek penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan sesuai

kebutuhan penulis.

B. Studi Pustaka

Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan cara melihat dan

mempelajari buku referensi yang tentunya ada kaitannya dengan variabel

yang akan diteliti.

C. Wawancara

Wawancara yang dilakukan adalah ketika penelitian berlangsung yaitu

dengan cara langsung bertanya kepada petugas yang menangani masalah

tentang penelitian ini.

D. Studi Internet
Studi internet adalah proses data dengan cara mengunjungi situs

internet yang terkait dengan permasalahan yang sedang diteliti.

3.3 Metode Pengembangan Perngkat Lunak

A. Waterfall

Adapun metode pengembangan perangkat lunak yang digunakan

oleh penulis dalam perancangan sistem informasi pasien rawat inap

adalah metode waterfall, waterfall adalah suatu metode pengembangan

software yang bersifat sekuensial yang terdiri dari beberapa langkah

penting.

Sistem
Enginering

Analisis

Desain

Coding

Testing

maintenance

Gambar 3.1 Siklus Hidup (life cycle) dengan model-model Waterfall


Sumber: Al-Bahra (2006:18)
Berikut adalah penjelasan dari tahap-tahap yang dilakukan di

dalam model ini menurut Pressman:

1. System/Information Enginering and Modeling

Pemodelan ini diawali dengan mencari kebutuhan dari

keseluruhan sistem yang akan diaplikasikan kedalam bentuk software.

Hal ini sangat penting mengingat software harus dapat berinteraksi

dengan elemen-elemen yang lain seperti hardware, database dan

sebagainya. Tahapan ini sering disebut dengan Project Definition.

2. Software Requirement Analysis

Proses pencarian kebutuhan diintensifkan dan difokuskan pada

software. Untuk mengetahui sifat dari program yang akan dibuat,

maka para software engineer harus mengerti tentang domain informasi

dan software, misalnya fungsi yang dibutuhkan, user interface, dsb.

Dari 2 aktivitas tersebut (pencarian kebutuhan sistem dan software)

harus didokumentasikan dan ditujukan kepada pelanggan.

3. Design

Proses ini digunakan untuk mengubah kebutuhan-kebutuhan

diatas menjadi representasi kedalam bentuk “blueprint” software

sebelum koding dimulai. Desai harus mengimplementasikan

kebutuhan yang telah dimulai. Desain harus mengimplementasikan


kebutuhan yang telah disebutkan pada tahap sebelumnya. Seperti 2

aktivitas sebelumnya, maka proses ini juga harus didokumentasikan

sebagai konfigurasi dari software.

4. Coding

Untuk dapat dimengerti oleh mesin, dalam hal ini adalah

computer, maka desain tadi harus diubah bentuknya menjadi bentuk

yang dapat dimengerti oleh mesin, yaitu kedalam bahasa

pemrograman melalui proses coding. Tahap ini merupakan

implementasi dari tahap design yang secara teknis nantinya dikerjakan

oleh programmer.

5. Testing/Verification

Sesuatu yang dibuat haruslah diujicoba. Demikian juga dengan

software. Semua fungsi-fungsi software harus diujicobakan, agar

software bebas dari eror, dan hasilnya harus benar-benar sesuai

dengan kebutuhan yang sesudah didefinisikan sebelumnya.

6. Maintenance

Pemeliharaan suatu software diperlukan, termasuk didalamnya

adalah pengembangan, karena software yang dibuat tidak selamanya

hanya seperti itu. Ketika dijalankan mungkin saja masih ada error

kecil yang tidak ditemukan sebelumnya, atau ada penambahan fitur-

fitur yang belum ada pada software tersebut. Pengembangan


diperlukan ketika adanya perubahan dari eksternal perusahaan seperti

ketika ada pergantian sistem operasi, atau perangkat lainnya.

Adapun kelebiham dan kekurangan metode pengembangan sistem

waterfall yaitu:

1. Kelebihan Model Waterfall

a. Kualitas yang dihasilkan sistem akan baik. Dikarenakan oleh

pelaksanaanya secara bertahap sehingga tidak terfokus pada

tahapan tertentu.

b. Dokumen pengembangan sistemnya sangat terorganisir, karena

setiap fase harus terselesaikan dengan lengkap sebelum melangkah

ke fase berikutnya, ini dikarenakan setiap fase atau mempunyai

dokumen tertentu.

c. Pengerjaan Project sistem akan terjadwal dengan baik dan mudah

di kontrol.

d. Metode ini masih lebih baik digunakan walaupun sudah tergolong

kuno, metode ini juga masih masuk akal jika kebutuhan sudah

diketahui dengan baik.

e. Dapat digunakan untuk sistem software berskala dan juga software

yang bersifat generik.

f. Mudah diaplikasikan serta memberikan template tentang metode

analisis, pengkodean, pengujian design, serta pemeliharaan.

2. Kekurangan Model Waterfall


a. Diperlukan manajemen yang baik, karena proses pengembangan

tidak dapat dilakukan secara berulang sebelum terjadinya suatu

produk.

b. Kesalahan kecil akan menjadi masalah besar jika tidak diketahui

sejak awal pengembangan yg berakibat pada tahap selanjutnya.

c. Rincian proses harus benar-benar jelas dan tidak boleh berubah-

ubah.

d. Pada kenyataannya jarang mengikuti urutan sequensial seperti pada

teori, iterasi sering terjadi dan menyebabkan masalah baru.

e. Perubahan ditengah-tengah pengerjaan produk akan membuat

bingung team work yg sedang membuat produk.

f. Adanya waktu menganggur bagi pengembang, karena harus

menunggu anggota tim proyek lainnya menuntaskan pekerjaan.

B. Model Prototyping

Prototyping adalah sebuah proses pengumpulan persyaratan,

pengaplikasian prinsip analisis, dan penyusunan model perangkat lunak

yang akan dibangun untuk penilaian dan pengembangan. Akhirnya ada

lingkungan yang membutuhkan konstruksi prototipe pada awal analisis,

karena model adalah satu-satunya alat dimana persyaratan dapat ditarik

secara efektif. Model tersebut kemudian dikembangkan dalam perangkat

lunak produksi.

1. Kelebihan Model Prototyping

a. Komunikasi antara pengembang dan pelanggan menjadi lebih baik.


b. Menghemat waktu pengembangan.

c. Pengembang dapat menentukan kebutuhan pelanggan sehingga dia

dapat bekerja dengan baik.

d. Pemakai mengetahui apa yang diharapkannya sehingga penerapan

menjadi lebih mudah.

e. User dapat berpartisipasi aktif dalam pengembangan sistem.

f. Dapat menangkap syarat/keperluan secara nyata.

g. Adanya komunikasi yang intensif antara pengembang dan user

h. Membantu dalam analisis

i. Mudah dalam implementasinya.

2. Kekurangan Model Prototyping

a. Apabila data yang dikumpulkan hanya sebagian maka banyak

kebutuhan yang tidak ditampilkan.

b. Bentuk prototype banyak yang tidak sesuai.

c. Proses analisis dan perancangan sangat singkat.

d. Versi perbaikan dibuat tanpa memperhatikan kualitas dan

pemeliharaan jangka panjang.

e. Mengesampingkan alternatif pemecahan masalah.

f. Bisanya kurang fleksible dalam mengahadapi perubahan.

g. Prototype yang dihasilkan tidak selamanya mudah dirubah

h. Pelanggan kadang tidak melihat atau menyadari bahwa perangkat

lunak yang ada belum mencantumkan kualitas perangkat lunak


secara keseluruhan dan juga belum memikirkan kemampuan

pemeliharaan untuk jangja waktu lama.

i. Pengembang biasanya ingin cepat menyelesaikan proyek. Sehingga

menggunakan algoritma dan bahasa pemrograman yang sederhana

untuk membuat prototyping lebih cepat selesai tanpa memikirkan

lebih lanjut bahwa program tersebut hanya merupakan cetak biru

sistem.

j. Hubungan pelanggan dengan komputer yang disediakan mungkin

tidak mencerminkan teknik perancangan yang baik.

k. Pengembang kadang-kadang membuat kompromi implementasi

dengan menggunakan sistem operasi yang tidak relevan dan

algoritma yang tidak efisien.

l. Prototype yang di setujui oleh client harus dikembangkan oleh

developer tanpa ada data tambahan dari client dan software dari

prototype harus memiliki fungsi yang lengkap.

C. Model Rapid Application Development (RAD)

Rapid Application Development (RAD) adalah salah satu metode

pengembangan suatu sistem informasi dengan waktu yang relatif singkat.

Untuk pengembangan suatu sistem informasi yang normal membutuhkan

waktu minimal 180 hari, akan tetapi dengan menggunakan metode RAD

suatu sistem dapat diselesaikan hanya dalam waktu 30-90 hari.

1. Kelebihan Model Rapid Application Development (RAD)


a. Lebih efektif dari pendekatan waterfall/sequential linear dalam

menghasilkan sistem yang memenuhi kebutuhan langsung dari

pelanggan

b. Cocok untuk proyek yang memerlukan waktu yang singkat

c. Model ini cocok untuk proyek dengan skala besar.

2. Kekurangan Model Rapid Application Development (RAD)

a. Model RAD memerlukan sumber daya yang cukup besar, terutama

untuk proyek dengan skala besar.

b. Kinerja dari perangkat lunak yang dihasilkan dapat menjadi

masalah manakala kebutuhan-kebutuhan diawal proses tidak dapat

dimodulkan, sehingga pendekatan dengan model ini kurang bagus.

c. Sistem yang tidak bisa dimodularisasi tidak cocok untuk model ini.

d. Penghalusan dan penggabungan dari beberapa tim di akhir proses

sangat diperlukan dan ini memerlukan kerja keras.

e. Proyek bisa gagal karena waktu yang disepakati tidak dipenuhi

f. Risiko teknis yang tinggi juga kurang cocok untuk model ini.

D. Model Spiral

Model spiral adalah model proses software yang evolusioner yang

merangkai sifat iteratif dari prototipe dengan cara kontrol dan aspek

sistematis dari model sekuensial linier.

1. Kelebihan Model Spiral

a. Sangat mempertimbangkan resiko kemungkinan munculnya

kesalahan.
b. Baik pengembang maupun pemakai dapat cepat mengetahui letak

kekurangan dan kesalahan dari sistem.

c. Lebih cocok untuk pengembangan sistem dan perangkat lunak

skala besar.

d. Membutuhkan pertimbangan langsung terhadap resiko teknis

sehingga mengurangi resiko sebelum menjadi permaslahan yang

serius

e. Dapat disesuaikan agar perangkat lunak bisa dipakai selama hidup

perangkat lunak komputer.

f. Pengembang dan pemakai dapat lebih mudah memahami dan

bereaksi terhadap resiko setiap tingkat evolusi karena perangkat

lunak terus bekerja selama proses.

2. Kekurangan Model Spiral

a. Waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan perangkat lunak

cukup panjang

b. Sangat tergantung kepada tenaga ahli

c. Terdapat pula kesulitan untuk mengontrol proses.

d. Lebih cocok untuk pengembangan sistem dan perangkat lunak

skala besar.

e. Membutuhkan pertimbangan langsung terhadp resiko teknis

sehingga mengurangi resiko sebelum menjadi permaslahan yang

serius
f. Dapat disesuaikan agar perangkat lunak bisa dipakai selama hidup

perangkat lunak komputer.

g. Pengembang dan pemakai dapat lebih mudah memahami dan

bereaksi terhadap resiko setiap tingkat evolusi karena perangkat

lunak terus bekerja selama proses.

h. Menggunakan prototipe sebagai mekanisme pengurangan resiko

dan pada setiap keadaan di dalam evolusi produk.

E. Model Incremental

Model Incremental merupakan model dalam rekayasa perangkat

lunak yang menerapkan rekayasa perangkat lunak perbagian, hingga

menghasilkan perangkat lunak yang lengkap. Proses membangun

berhenti jika produk telah mencapai seluruh fungsi yang diharapkan.

1. Kelebihan Model Incremental

a. Dikerjakan secara urut dan sistematis.

b. Mencagah ketidaknyamanan perubahan sistem. Klien dibiasakan

perlahan-lahan menggunakan produknya bagian per bagian.

c. Pembuat perangkat lunak yang diperlukan hanya sedikit.

d. Mengutamakan fungsi-fungsi pada sistem perangkat lunak

sehingga kemudahan pemakaian sistem yang paling di utamakan.

e. Tahap awal adalah dasar dari pembuatan tahap berikutnya

f. Resiko yang rendah pada pengembangan sistem

g. Mampu menyesuaikan perubahan kebutuhan customer.


2. Kekurangan Model Incremental

a. Hanya akan berhasil jika tidak ada staffing untuk penerapan secara

menyeluruh.

b. Penambahan staf dilakukan jika hasil incremental akan

dikembangkan lebih lanjut.

c. Hanya cocok untuk proyek dengan skala kecil.

d. kemungkinan tiap bagian tidak dapat diintegrasikan.

e. Batasan proses tidak jelas

f. Sistem kurang terstruktur

g. Kemampuan aplikasi

h. Untuk sistem dengan interaksi skala kecil dan medium

i. Untuk antarmuka user

j. Untuk sistem dengan masa penggunaan pendek

F. Metode Pengembangan Yang Digunakan

Dengan mempertimbangkan metode-metode pengembangan

perangkat lunak yang sudah di bahas sebelumnya, di mana penulis melihat

keuntungan dari metode waterfall maka penulis memutuskan untuk

menggunakannya dimana pengaplikasian menggunakan model ini mudah,

kelebihan dari model ini juga ketika semua kebutuhan sistem dapat

didefinisikan secara utuh, eksplisit, dan benar di awal project, maka waterfall

dapat berjalan dengan baik dan tanpa masalah. Meskipun seringkali

kebutuhan sistem tidak dapat didefinisikan seeksplisit yang diinginkan, tetapi

paling tidak, problem pada kebutuhan sistem di awal project lebih ekonomis
dalam hal uang (lebih murah), usaha, dan waktu yang terbuang lebih sedikit

jika dibandingkan problem yang muncul pada tahap-tahap selanjutnya.


BAB IV
ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN

4.1 Tinjauan Organisasi

A. Latar Belakang Unit Rekam Medis Rumah Sakit UmumDaerah

Majalaya

Rumah Sakit sebagai salah satu sarana Pelayanan Kesehatan

Masyarakat dan diharapkan dapat berperan optimal untuk mempercepat

peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Unit Rekam Medis Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya

Kabupaten Bandungbertipe B, jumlah tempat tidur untuk rawat inap 183

tempat tidur, dengan gedung vertikal. Untuk rawat jalan dengan 13

poliklinik dengan gedung vertikal 2 lantai, berada di Jalan Cipaku No. 87,

Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung.

Unit Rekam Medis Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya sebagai

unit pelayanan teknis Daerah Kabupaten Bandung dibidang pelayanan

kesehatan dan menjadi Rumah Sakit Umum Daerah milik pemerintah

Kabupaten Bandung.

Unit Rekam Medis Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya dipimpin

oleh seorang Kepala yang secara teknis fungsional dan teknis operasional

bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Kesehatan Bandung.


B. Sejarah Unit Rekam Medis Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya

Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya adalah RSUD milik Pemda

Kabupaten Bandung awalnya adalah Rumah Sakit yang dibangun pada

tahun 1951 dan mulai dipergunakan tahun 1955 yang awalnya adalah

puskesmas DPT, karena perkembangannya maka berkembang menjadi

Rumah Sakit Tipe-D sejak tahun 1980 dengan SK Bupati No. 84/Sk-

Ks.032/BK-HUK/1980. Pada tahun 1988 Rumah Sakit Umum Daerah

(RSUD) Majalaya ini mengalami transformasi menjadi Rumah Sakit

Kelas-C karena telah memenuhi persyaratan sebagai Rumah Sakit dengan

4 spesialis dasar, yang ditetapkan oleh SK Menkes No.

105/MENKES/SK/II/1988.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Majalaya ditetapkan sebagai

Rumah Sakit Kelas-C dengan memiliki 6 ruangan dan jumlah tempat tidur

mencapai 124 buah. Nama ruangannya disesuaikan dengan golongan

penyakit dan identitas penyakit seperti: Ruang Penyakit Dalam Wanita,

Ruang Penyakit Dalam Laki-laki, Ruang kebidanan, Ruang Perinatologi

dan Ruang Bedah. Namun seiring dengan kebutuhan Rumah Sakit, maka

pada tahun 2000 bertambah menjadi 9 ruangan dengan jumlah tempat tidur

sebanyak 142 buah.

Pada tahun 1999 mentri dalam negri dengan SK.Mendagri No.

44532-308 mengesahkan Perda kabupaten bandung No. 16 tahun 1998

tentang penetapan Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya menjadi Unit


Swadaya Daerah dan di undang dalam lembaran daerah Kabupaten

Bandung No. 2 tahun 1999 seri-D. Kemudian pada tahun 2002 sampai

sekarang Rumah Sakit Umun Daerah Majalaya menjadi Rumah Sakit

milik pemerintah daerah (PEMDA) Kabupaten Bandung.

Pada tahun 2007, Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya

melaksanakan pembangunan ICU dengan menggunakan anggaran APMN

dan APBD serta pengadaan peralatan medis dan non medis sebagai tindak

lanjut dari studi kelayakan pembangunan RSUD Majalaya dalam proses

akreditasi dari Kelas C menjadi Kelas B.

Sesuai dengan rencana peningkatan dan pengembangan Rumas

Sakit dan hasil studi kelayakan peningkatan dari Kelas C menjadi Kelas B,

Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya pada tanggal 24 Juni pada tahun

2010 telah ditetapkan menjadi Rumah Sakit Umum Daerah Kelas B.

Seiring dengan hal tersebut telah dilakukan pembangunan di berbagai

bidang diantaranya :

1. Pembangunan Gedung Instalasi Gawat Darurat (IGD),

2. Rehabilitasi untuk Gedung ICU,

3. Rehabilitasi Gedung Hemodialisa,

4. Pembangunan Gedung Rawat Inap,

5. Pembangunan Gedung Workshop,

6. Pemabangunan Gedung Asrama Pamagaran Rumah Sakit dan

7. Pengunjung lainnya
Kenaikan kelas dari Rumah Sakit Umum Daerah Kelas C menjadi

Rumah Sakit Umum Daerah Kelas B ditetapkan dengan keputusan Mentri

Kesehatan No.769/MENKES/sk/VI/2010. Dan berdasarkan Peraturan

Daerah nomor 59 tahun 2011, RSUD Majalaya telah disahkan menjadi

Rumah Sakit Umum daerah kelas B dan baru dijalankan pada tahun 2012.

Rumah Sakit Umum Kelas B dalam rancangan RENSTRA bisnis

Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)-SKPD-2010-2014, melalui surat

keputusan No:900/Kep.493-Org/2009 tanggal 23 Desember 2009, telah

ditetapkan menjadi Badan Layanan Umum daerah (BLUD) setelah

memenuhi persyaratan administrasi dan persyaratan yang telah ditentukan.

Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya dari tahun 1986 sampai

dengan sekarang telah mengalami beberapa pergantian kepemimpinan

diantaranya:

1. Dr. H. Ahmad Suwenda (1986-1998)

2. Dr. Hj. Hani Rono, Sp.OG (1998-1999)

3. H. Kosim Syarief, MKM (1999-2006)

4. Dr. H. Kusmawan Dardja, Sp.PK (2006-2013)

5. DRG. Grace Mediana Purnami, M.Kes (2013-Sekarang)

C. Visi Misi Unit Rekam Medis Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya

VISI

Terwujudnya Pelayanan Kesehatan Prima yang Maju dan Mandiri Serta

Berwawasan Pendidikan
MISI

1. Meningkatkan Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Mengembangkan

Pelayanan Kesehatan Berfokus Pada Kesehatan Ibu dan Anak (KIA),

Trauma dan Infeksi Lanjut

2. Meningkatkan Lingkungan Kerja yang Aman dan Nyaman

3. Meningkatkan Sumber Daya Manusia yang Profesional Menuju Tata

Kelola Pemerintahan yang Baik

4. Meningkatkan Sistem Informasi dan Manajemen Rumah Sakit (SIM-

RS), yang Akuntabel

5. Meningkatkan Tata Kelola Keuangan yang Mandiri Melalui Sistem

Pola PPK-BLUD

6. Meningkatkan Kualitan dan Fungsi Rumah Sakit Sebagai Wahana

Pendidikan dan Latihan.

D. MottoUnit Rekam Medis Rumah Sakit UmumDaerah Majalaya

“MULIA” merupakan motto dari Rumah Sakit Umum Daerah Kelas B

Majalaya, yang merupakan singkatan dari:

Mutu

Unggulan

Lengkap

Inovatif

Asih
E. Sejarah Singkat berdirinya Rekam Medis Rumah Sakit Umum

Daerah Kelas B Majalaya

Rumah Sakit Umum Daerah Kelas B Majalaya mulai

menyelenggarakan pelayanan Rekam Medis pada tahun 1993. Dengan

petugas sebanyak 3 orang yang berada dibawah bidang kesekertariatan.

Petugas Rekam Medis tersebut hanya bertugas utuk bagian pelayanan

Rawat Inap sedangkan untuk bagian pelayan Rawat Jalan dilakukan oleh

bagian keuangan yang juga merangkap menjadi kasir. Pada tahun 1998,

Sumber Daya Manusia diunit Rekam Medis bertambah menjadi 8 orang

termasuk Kepala Rekam Medis. 8 orang tersebut terdiri dari 1 orang

lulusan D3 Rekam Medis, 6 orang lulusan SLTA sederajat dan 1 orang

lulusan SD. Dari 8 orang tersebut 2 orang diberi pelatihan mengenai

Rekam Medis dan Informasi Kesehatan selama 10 hari dan 1 orang diberi

pelatihan mengenai ICD dengan biaya ditanggung oleh pemerintah.

Rekam Medis di RSUD Kelas B Majalaya dari tahun 1993 sampai

sekarang telah mengalami 3 kali pergantian Kepala Unit Rekam Medis

diantaranya:

1. Hj. Wiwi, Spk (1993-1998)

2. Bpk. Abas (1998-2002)

3. Deni Rahmadani Barakah, AMK.,S.Sos.,MM


Dari ketiga kepemimpinan tersebut, pelayan Rekam Medis

mengalami beberapa kali pergantian baik dari segi struktur organisasi

maupun dari prosedur dan ketetapan pelayanan yang berlaku.

Tenaga Rekam Medis pada perkembangannya bertambah terus

sesuai dengan kebutuhan Rumah Sakit dan sampai sekarang jumlah staff

Rekam Medis sebanyak 21 orang termasuk KA.SUB.BAG SIMRS & RM.

Pada tahun 2009 dilakukan inhouse training Rekam Medis Tingkat Dasar

dengan bobot 36 jam. Jadi pada tahun 2009 semua petugas Rekam Medis

memiliki sertifikat dasar Rekam Medis.

F. Visi, Misi dan Motto Rekam Medis Rumah Sakit Umum Daerah

Kelas B Majalaya

VISI

Terwujudnya Pelayanan Kesehatan Prima yang Maju dan Mandiri Serta

Berwawasan Pendidikan

MISI

Misi Rekam Medis Rumah Sakit Umum Daerah Kelas B Majalaya

diantaranya:

1. Menyelenggarakan pengelolaan Rekam Medis yang

informative dan privacy,

2. Mengembangkan sistem informasi yang akurat, mutakhir, dan

dapat dipertanggung jawabkan


MOTTO

Motto Rekam Medis Rumah Sakit Umum Daerah Kelas B

Majalaya adalah “APUKAPU” yang singkatan dari:

Anda

PUas

KAmi

PUas

G. Fasilitas Unit Rekam Medis Rumah Sakit UmumDaerah Majalaya

1. Fasilitas

a. Rawat Jalan

1) Instalasi Gawat Darurat 24 Jam

2) Poliklinik Gigi

3) Poliklinik Dalam

4) Poliklinik Bedah

5) Poliklinik Fisioterapi

6) Poliklinik Obstetrik & Ginekologi

7) Poliklinik Kulitdan Kelamin

8) Poliklinik Anak

9) Poliklinik Jiwa

10) Poliklinik Saraf

11) Poliklinik THT

12) Poliklinik Mata

13) Poliklinik Rehabilitasi Medik


b. Rawat Inap

1. Ruang Anggrek : Merupakan ruangan VVIP Perawatan

semua poli terdiri dari delapan tempat tidur dengan kapasitas

tempat tidur sebagai berikut:

a. Umum : 6 tempat tidur

b. ISO : 2 tempat tidur

2. Ruang Anyelir : Perawatan semua poli terdiri dari delapan

kelas dengan kapasitas tempat tidur sebagai berikut:

a. Kelas III : 18 tempat tidur

3. Ruang Cempaka : Perawatan Penyakit Dalam, Kulit, Saraf

dan Jiwa. Terdiri dari dua puluh lima dengan kapasitas tempat

tidur sebagai berikut:

a. Kelas III : 25 tempat tidur

4. Ruang Dahlia : Perawatan Penyakit Anak Terdiri dari tiga

puluh dengan kapasitas tempat tidur sebagai berikut:

a. HCU : 2 tempattidur

b. Isolasi : 3 tempat tidur

c. Kelas II : 6 tempat tidur

d. Kelas III A : 10 tempat tidur

e. Kelas III B : 9 tempat tidur

5. Ruang Flamboyan : Perawatan Penyakit Saraf, Kulit, Dalan dan

Jiwa Terdiri dari dua puluh dengan kapasitas tempat tidur

sebagai berikut:
a. Kamar A : 3 tempat tidur

b. Kamar B : 3 tempat tidur

c. Kamar C : 3 tempat tidur

d. Kamar D : 6 tempat tidur

e. Ruang Isolasi Kamar E : 3 tempat tidur

f. Ruang Isolasi Kamar F : 2 tempat tidur

g. HCU : 3 tempat tidur

6. Ruang Kenanga : Perawatan Penyakit Anak Terdiri dari lima

belas dengan kapasitas tempat tidur sebagai berikut:

a. Isolasi : 3 tempat tidur

b. Kelas II : 2 tempat tidur

c. Kelas III : 10 tempat tidur

7. Ruang Melati : Perawatan Penyakit semua poli kecuali

obgyn Terdiri dari lima kelas dengan kapasitas tempat tidur

sebagai berikut:

a. Kelas I : 8 tempat tidur

b. Kelas II : 7 tempat tidur

8. Ruang ICU : Perawatan Penyakit Poli Terdiri dari empat

dengan kapasitas tempat tidur sebagai berikut:

a. Non ISO : 2 tempat tidur

b. ISO : 2 tempat tidur

9. Ruang Mawar Nivas : Perawatan Penyakit Obgyn Terdiri dari

delapan belas dengan kapasitas tempat tidur sebagai berikut:


a. Kelas I : 1 tempat tidur

b. Kelas II : 4 tempat tidur

c. Kelas III : 13 tempat tidur

10. Ruang Teratai : Perawatan Bayi Baru Lahir Terdiri dari dua

puluh lima dengan kapasitas tempat tidur sebagai berikut:

a. Kelas II : 18 tempat tidur

b. HCU : 7 tempat tidur

c. Pelayanan Non Rawat Inap

1. Ruang Aster : Perawatan Penyakit dari Unit Gawat Darurat

Terdiri dari dua belas dengan kapasitas tempat tidur sebagai

berikut:

a. Aster : 12 tempat tidur

2. Ruang Soka : Perawatan Operasi Terdiri dari enam

dengan kapasitas tempat tidur sebagai berikut:

a. R.Pemulihan Post Operasi : 4 tempat tidur

b. R.Persiapan Operasi : 2 tempat tidur

3. Ruang VK : Perawatan Penyakit Poli Obgyn Terdiri dari dua

belas dengan kapasitas tempat tidur sebagai berikut:

a. Ruang USG : 2 tempat tidur

b. Ruang Persalinan : 6 tempat tidur

c. Ruang Ginekologi : 2 tempat tidur

d. Ruang Tindakan : 2 tempat tidur


d. PELAYANAN PENUNJANG MEDIS

1. Ruang Haemodialisa : Perawatan Cuci Darah

2. Instalasi Farmasi (24 jam)

3. Instalasi Laboraturium (24 jam)

4. Instalasi Radiologi (24 jam)

5. Ambulance (24 jam)

6. Kamar Bedah (24 jam)

H. Struktur Organisasi Rumah SakitUmum Daerah Majalaya

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya

Sumber: Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya


Gambar 4.2 Struktur Organisasi Unit Rekam Medis Rumah Sakit Umum

Daerah Majalaya

Sumber: Unit RekamMedis Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya

4.2 Uraian Prosedur

A. Uraian Prosedur Sistem Informasi Sensus Harian Rawat Inap

Uraian bertujuan untuk mengetahui proses-proses apa saja yang

dilakukan pada sistem yang berjalan. Berikut ini adalah uraian prosedur

sistem informasi sensus harian rawat inap di Unit Rekam Medis Rumah

Sakit Umum Daerah Majalaya adalah sebagai berikut:

1. Proses Analisa

a. Kelengkapan Data

Proses dimulai dengan memeriksa data telah sesuai dan

lengkap untuk selanjutnya di inputkan.


b. Perhitungan Sementara

Menghitung setiap variable yang ada untuk input data

sensus harian rawat inap.

2. Proses Input

Proses Inputsekurang-kurangnya harus berisi:

a. Lama Rawat.

b. Pasien Awal.

c. Cara Pulang.

d. Status Pulang.

3. Proses Pengolahan Data

Data dari unit rawat inap kemudian diolah di ruangan

pengolahan data untuk diinputkan.

4. Proses Pembuatan Laporan

Hasil dari pengolahan data kemudian direkap menjadi

laporan bulanan untuk kemudian dilaporkan kepala unit rekam

medis dan bagian yang lain jika diperlukan dan telah mendapat

izin.

B. Uraian Prosedur Sistem Perancangan Laporan Sensus Harian Rawat

Inap

1. Kebijakan pembuatan laporan Sensus Harian Rawat Inap

a. Data Sensus Harian dilaporkan setiap bulan peruangan.

b. Pembuatan data sensus harian rawat inap dilakukan oleh

petugas rekam medis.


2. Prosedur pembuatan laporan Efisiensi penggunaan tempat tidur

a. Petugas menerima laporan sensus admin dari tiap ruangan

rawat inap.

b. Petugas mengolah laporan menjadi rekapan data sensus harian

rawat inap.

c. Rekapan data sensus harian diinput secara komputerisasi agar

menjadi laporan sensus harian rawat inap.

4.3 Dekomposisi Fungsi

Menurut Akhmad Nuryahya (2005:11), Dekomposisi fungsi dimulai

dengan analisis pekerjaan apa saja yang ingin dilakukan, diikuti tahap desain

bagaimana pekerjaan tersebut dapat dilakukan dimana prosesnya berorientasi

pada tujuan. Perangkat yang digunakan biasanya berdasarkan pada data flow

dan bahasa prosedural.

Dekomposisi fungsi bertujuan untuk mengetahui pemisahan dari fungsi-

fungsi yang ada di dalam sistem yang berjalan. Adapun dekomposisi fungsi

sistem yang berjalan adalah sebagai berikut:


Sistem Informasi
Rekam Medis Sensus
Harian Rawat Inap

1. Admin Ruangan 3. Pengolahan Data


2. Unit Rekam Medis 4. Membuat Laporan
Rawat Inap Sensus Harian

1.1 Laporan Sensus


2.1 Analisa Laporan 3.1 Input Data 4.1 Pembuatan Laporan
Harian

Gambar 4.3 Dekomposisi Fungsi Sistem yang Berjalan

Sumber: Unit Rekam Medis Unit Rekam Medis Rumah Sakit Umum Daerah

Majalaya Setelah Diolah Oleh Penulis

4.4 Analisis Masukan

Analisis masukan merupakan penjelasan dari masukan (input) yang

dibutuhkan oleh sistem yang ada. Masukan yang diperlukan adalah :

Nama Masukan : Admin Ruangan Rawat Inap

Fungsi : Data pasien yang di rawat inap

Sumber : Pendaftaran

Media : Formulir (kertas)

Hasil Analisa : Sudah cukup baik, karena sudah dilakukan dengan

media kertas dan komputersasi.

Nama Masukan : Unit Rekam Medis

Fungsi : Pengolahan data sensus harian rawat inap


Sumber : Admin ruangan rawat inap

Media : Kertas

Hasil Analisa : Masih kurang baik, karena petugas sering telat

mengirim.

4.5 Analisis Keluaran

Analisis keluaran merupakan penjelasan dari output yang dihasilkan dalam

sistem yang berjalan. Keluaran tersebut adalah:

Nama Keluaran : Laporan Sensus Harian Rawat Inap

Fungsi : Laporan harian untuk mengetahui data penggunaan tempat

tidur yang diambil sebagai judul oleh penulis.

Sumber : Laporan admin ruangan

Media : kertas dan softcopy

Hasil Analisa : Sudah cukup baik, karena data pada laporan dari admin

ruangan diinputkan secara komputerisasi adanya

pembaharuan untuk analisa penggunaan Efisiensi tempat

tidur yang diusulkan penulis diharap bisa membantu

mempermudah pengambilan keputusan dan ketersediaan

informasi tentang Efisiensi penggunaan tempat tidur atau

Bed Managment.
4.6 Analisis Proses

A. Flowmap Sistem Yang Berjalan

Flowmap Pengolahan Data Sensus Harian Rawat Inap


Admin Ruangan Pengolahan Data
Unit Rekam Medis Kepala Rekam Medis
Rawat Inap Sensus Harian

Mulai Data Sensus Harian Laporan Sensus


Hasil Rekap
Rawat Inap Harian Rawat Inap

Data Sensus Harian


Rawat Inap

Input Data Diperiksa


Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya

Cek Kelengkapan dan


Konsistensi Data

Pelaporan Cek Kelengkapan dan


Tidak Konsistensi Data
Ya
Tidak
Rekapitulasi

Laporan Sensus Ya
Harian Rawat Inap

Laporan Sensus
DB Harian Rawat Inap
Sensus Harian

Hasil Rekap Selesai

Gambar 4.4 Flowmap Sistem yang Berjalan

Sumber: Penulis (2016)


B. Data Flow Diagram (DFD)

1. Diagram Konteks Yang Berjalan

Data Sensus Harian Rawat Inap


Admin Ruangan Kepala Rekam Medis

Laporan Sensus Harian Rawat Inap

Sistem Informasi
Pengolahan Data Laporan Sensus Harian Rawat Inap
Data Sensus Harian Rawat Inap Sensus Harian
Rawat Inap

Analisa Data Sensus Harian Rawat Inap


Petugas Rekam Medis Direktur Rumah Sakit

Gambar 4.5 Diagram Konteks Sistem yang Berjalan

Sumber: Penulis (2016)


2. Data Flow Diagram Level 0 Sistem yang Berjalan

Admin Ruangan Rawat


Inap Belum Lengkap

Data Sensus Harian Rawat Inap

1.0
Analisa Data
Petugas Rekam Medis Analisa
Sensus Harian
Rawat Inap

Rec_Data Sensus

Input Data 2.0


Rekap Data Sensus Harian Sensus
Rawat Inap Rec_Laporan Sensus
Harian Rawat Inap

Rec_Laporan Sensus Harian Rawat Inap

Buat Laporan 3.0


Buat Laporan
Kepala Rekam Medis
Laporan Sensus Harian Rawat Inap

Laporan Sensus Harian Rawat Inap

Direktur Rumah Sakit

Gambar 4.6 DFD Level 0 Sistem yang Berjalan

Sumber: Penulis (2016)


3. Data Flow Diagram Level 1 Proses 1.0 Sistem yang Berjalan

Admin Ruangan Rawat


Sensus
Inap Belum Lengkap Lengkap

Data Sensus Harian Rawat Inap

1.1
Analisa Data
Petugas Rekam Medis
Sensus Harian
Rawat Inap

Update Data

Input Data 1.2 Rec_Data Sensus


Update Data Sensus Harian
Rawat Inap

Gambar 4.7 DFD Level 1 Proses 1.0 Sistem yang Berjalan

Sumber: Penulis (2016)


4. Data Flow DiagramLevel 1 Proses 2.0 Sistem yang Berjalan

Petugas Rekam Medis

2.1
Analisa Rekap Data
Sensus Harian
Rawat Inap
Lengkap

Input Data 2.2 Input Data


Input Data Sensus Sensus
Harian Rawat Inap

Buat Laporan 2.3 Rec_Data Sensus


Laporan Sensus
Harian Rawat Inap

Laporan Lapran

Direktur Rumah Sakit Kepala Rekam Medis

Gambar 4.8 DFD Level 1 Proses 2.0 Sistem yang Berjalan

Sumber: Penulis (2016)


5. Data Flow Diagram Level 1 Proses 3

Petugas Rekam Medis

Buat Laporan
3.1
Buat Laporan Rec_Sensus

Sensus

Cetak Laporan Rec_Sensus


3.2
Cetak Laporan

Laporan Laporan

Direktur Rumah Sakit Kepala Rekam Medis

Gambar 4.9 DFD Level 1 Proses 3 Sistem yang Berjalan

Sumber: Penulis (2016)

C. Kamus Data

Kamus data pada sistem informasi laporan sensus harian rawat

inap yang berjalan adalah sebagai berikut:

1. Penjelasan Proses

a) Proses : 1.1

Nama Proses : Analisa Data Sensus Harian Rawat

Inap

Masukan : Tandai data yang kurang

Keluaran : Data sudah lengkap


Ringkasan proses : Analisa data sensus harian oleh

petugas pada bagian sensus rawat inap.

b) Proses : 1.2

Nama Proses : Update Data Sensus Harian Rawat

Inap

Masukan : data sensus yang akan diubah

Keluaran : data sensus setelah diubah

Ringkasan proses : Mengubah data sensus oleh petugas

pada bagian sensus rawat inap jika ada perubahan seperti

lama rawat ataupun status pulang.

c) Proses : 2.1

Nama Proses : Rekap Data Sensus Harian Rawat

Inap

Masukan : Data sensus

Keluaran : record sensus

Ringkasan proses : Merekap data yang dibutuhkan dari

data yang sudah ada.

d) Proses : 2.2

Nama Proses : Input Data Sensus Harian Rawat

Inap

Masukan : Laporan Sensus

Keluaran : record laporan sensus


Ringkasan proses : Data dimasukan kesetiap variable

sesuai kelompoknya.

e) Proses : 2.3

Nama Proses : Laporan Sensus Harian Rawat Inap

Masukan : record sensus

Keluaran : laporan sensus

Ringkasan proses : Data yang telah dikelompokkan lalu

diolah untuk menjadi laporan sensus harian rawat inap.

f) Proses : 3.1

Nama Proses : Buat Laporan

Masukan : Data sensus harian

Keluaran : Laporan sensus harian

Ringkasan proses : Membuat laporan dari data sensus

harian yang telah dibuat oleh bagian sensus.

g) Proses : 3.2

Nama Proses : Cetak Laporan

Masukan : Laporan sensus harian

Keluaran : Laporan sensus harian

Ringkasan proses : Laporan sensus harian yang tela

dibuat lalu dicetak dan diserahkan kepada kepala RM.


2. Penjelasan Data Store

a) Nama data store : Sensus

Struktur data :

Pasien Awal + Pasien Masuk + Cara Pulang + Meninggal

>> 48 Jam + Meninggal << 48 Jam + Pindah Ruangan +

Jumlah Pasien Keluar + Pasien Masih Rawat + Pasien

Masuk Keluar Pada Hari Yang Sama + Lama Rawat.

Deskripsi :

Berisi data mengenai data yang diolah dan dikelompokan

sehingga menghasilkan informasi yang dibutuhkan.

4.7 Masalah Yang Dihadapi

Setelah melakukan Praktek Kerja Lapangan selama dua bulan, penulis

menemukan permasalahan yang ada di Unit Rekam Medis Rumah Sakit

Umum Daerah Majalaya sebagai berikut:

A. Dalam proses pembuatan laporan sensus harian rawat inap, permasalahan

umum yang terjadi adalah keterlambatan pengiriman laporan data dari

admin ruangan padahal sesuai Standar Prosedur Operasional (SPO) paling

lambat jam 09.00 WIB.

B. Dalam proses pembuatan Laporan Sensus Harian terdapat dua proses

dimana petugas harus menganalisa data dari admin apakah sudah sesuai,

karna ada perbedaan format data yang dikirimkan dari admin ruangan

kemudian data di rekap ulang untuk mengisi variable format sensus harian
rawat inap untuk di masukkan ke komputer, ini memakan waktu dalam

pembuatan laporan.

4.8 Upaya Pemecahan Masalah

A. Melakukan sosialisasi dan kerjasama dengan tenaga kesehatan lainnya

khususnya admin ruangan rawat inap untuk ketepatan waktunya dalam

penyetoran data sensus harian.

B. Akan merencanakan perubahan penginputan data menjadi komputerisasi

sehingga data dapat tersedia cepat dan tepat.

4.9 Kesimpulan Hasil Analisis

Berdasarkan analisis yang dilakukan selama Praktek Kerja Lapangan

penulis menyimpulkan bahwa pada Sistem Informasi Efisiensi penggunaan

tempat tidur pengolahan data belum dilakukan dan juga sensus harian rawat

inap masih dilakukan secara manual yaitu dengan merekap pada data laporan

admin ruangan rawat inap kemudian diinputkan ke komputer.

Dokumen masukan dari sistem pengolahan data sensus harian rawat inap

adalah laporan data admin ruangan rawat inap. Sedangkan dokumen

keluarannya yaitu Efisiensi penggunaan Tempat Tidur dalam bentuk

rekapitulasi bulanan.

Permasalahan yang ada dalam sistem informasi Efisiensi penggunaan

tempat tidur di Unit Rekam Medis Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya

antara lain yaitu belum ada sistem proses pembuatan laporan Efisiensi

penggunaan tempat tidur dan juga sensus harian rawat inap dilakukan masih
manual, dimana prosesnya direkap terlebih dahulu data sensus yang diberikan

dari admin ruangan yang kemudian dimasukkan ke komputer.

Sering juga terjadi keterlambatan pengiriman laporan sensus dari admin

ruangan rawat inap dan tidak sesuai SOP yang berjalan padahal seharusnya

pengiriman paling telat pukul 09.00 WIB.

Upaya yang telah dilakukan oleh petugas rekammedis yaitu dengan

melakukan sosialisasi dan kerjasama dengan admin ruangan supaya tidak

terjadi keterlambatan kembali dalam penyetoran data sensus harian rawat

inap.

Dari hasil analisis diatas penulis akanmencoba melengkapi dan

merancang suatu sistem informasi yang diharapkan dapat membantu dalam

proses pembuatan laporan Efisiensi penggunaan tempat tidur dan

mempermudah prosesnya.
BAB V
PERANCANGAN SISTEM

5.1 Tujuan Perancangan Sistem

Menurut Ladjamudin (2013 : 39) tujuan perancangan sistem


adalah untuk mendesign sistem baru yang dapat menyelesaikan
masalah-masalah yang dihadapi perusahaan yang diperoleh dari
pemeliharaan alternative sistem yang baik. Kegiatan yang dilakukan
dalam tahap perancangan ini meliputi perancangan output, input, dan
file.

5.2 Rancangan Proses

Dalam melakukan rancangan proses ini, upaya yang dilakukan dalam

analisis sistem informasi pelaporan data Efisiensi penggunaan Tempat Tidur

ini yaitu dengan menambah fitur-fitur yang kurang lengkap dalam pengolahan

data Efisiensi penggunaan Tempat Tidur agar dapat lebih efektif dalam

melakukan pengolahan data tersebut seperti yang tergambar dalam aliran-

aliran sistem informasi yang dibutuhkan seperti yang dijelaskan dibawah ini :
A. Flowmap

Flowmap adalah penggambaran secara grafik dari langkah-langkah dan

urutan prosedur dari suatu program.

Flowmap Sistem yang Dirancang


Kepala Rekam Direktur Rumah
Admin Ruangan Unit Rekam Medis Pengolahan Data
Medis Sakit
Data Sensus Harian Laporan Efesiensi Laporan Efesiensi
Mulai Rekapitulasi Data Pengolahan Data
Rawat Inap Penggunaan Tempat Penggunaan Tempat
Tidur Tidur
Ya

Data Sensus Harian Cek kelengkapan DB Rekapan


Rawat Inap Input Data Periksa Selesai
Data Sensus Harian

Tidak

Pengolahan Data Cek kelengkapan

Penggunaan Tempat
DB Penggunaan TT
Data

Tidur
Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya

Ya

Laporan Efesiensi
Penggunaan Tempat
Tidur
DB SHRI

SHRI

Tidak
Pelaporan
Input Pelaporan
DB Pelaporan

Laporan Efesiensi
Penggunaan Tempat
Tidur

Gambar 5.1 Flowmap Sistem yang Diusulkan

Sumber: Penulis, (2016)


B. Statement of Purpose

Perangkat lunak sistem Pengolahan Data Efisiensi penggunaan

Tempat Tidur berfungsi untuk mengolah data identitas pasien dan penyakit

pasien rawat jalan. Cangkupan perangkat lunak meliputi pengolahan data

berkas rawat jalan, pengolahan data diagnosa pasien, serta membuat

laporan Efisiensi penggunaan tempat tidur. Pemakai perangkat lunak

adalah Petugas Rekam Medis.

C. Diagram Konteks

Diagram konteks adalah diagram yang terdiri dari suatu proses dan

menggambarkan ruang lingkup suatu sistem. Proses pengolahan data

rekam medis guna menunjang laporan Efisiensi penggunaan tempat tidur.

Kepala Rekam
Laporan Efesiensi Medis
Penggunaan Tempat
Tidur

- Sensus Harian Rawat Inap


Sistem Infomasi
- Data Tempat Tidur
Pengolahan Data
Petugas RM
Sensus Harian Rawat
Ianp

Laporan Efesiensi
Penggunaan Tempat
Tidur Direktur Rumah
Sakit

Gambar 5.2 Diagram Konteks Sistem yang Diusulkan

Sumber: Penulis, (2016)


D. Data Flow Diagram Level 0 Sistem yang Diusulkan

Authentifikasi
User Name 1.
Password LOGIN
Authentifikasi Username
Password

Login

KEPALA REKAM
MEDIS

Informasi Data User


2.
Data User
Data User

User
PETUGAS REKAM MEDIS
Username
Password
3. Authentifikasi
Data Tempat Tidur Data Tempat
Informasi Data Tempat Tidur Tidur

Tempat Tidur DIREKTUR RUMAH


SAKIT
Informasi Laporan

4.
Data Sensus
Informasi Sensus Rekap Sensu

Sensus

Informasi Laporan

5.
Data Laporan
LAPORAN
Inofrmasi Laporan

Gambar 5.3 DFD Level 0 Sistem yang Diusulkan

Sumber: Penulis, (2016)


E. Data Flow Diagram Level 1 Proses 1.0 Sistem yang Diusulkan

1.1
Masukan
Masukan User Lihat Data
User dan
Sandi

1.2
Petugas Rekam Medis Tidak Valid Validasi Validasi User
User

Validasi

Direktur Rumah Sakit Masukan User

Gambar 5.4 DFD Level 1 Proses 1.0 Sistem yang Diusulkan

Sumber: Penulis, (2016)

F. Data Flow Diagram Level 1 Proses 2.0 Sistem yang Diusulkan

2.1
Identitas User Tambah Data Tambah Data
User

2.2
Petugas Rekam Medis Simpan Identitas User Simpan Data Simpan Data User
User

2.3
Hapus Identitas User Hapus Data Hapus Data
User

Gambar 5.4 DFD Level 1 Proses 2.0 Sistem yang Diusulkan

Sumber: Penulis, (2016)


G. Data Flow Diagram Level 1 Proses 3.0 Sistem yang Diusulkan

3.1
Tambah Data
Data Tempat Tidur Tambah Data
Penggunaan
Tempat Tidur

3.2
Simpan Data
Simpan Data Tempat Tidur Simpan Data
Penggunaan
Tempat Tidur

3.3
Ubah Data
Petugas Rekam Medis Ubah Data Tempat Tidur Ubah Data Tempat Tidur
Penggunaan
Tempat Tidur

3.4
Hapus Data
Hapus Data Tempat Tidur Hapus Data
Penggunaan
Tempat Tidur

3.5
Batal Data
Batal Data Tempat Tidur Batal Data
Penggunaan
Tempat Tidur

Gambar 5.5 DFD Level 1 Proses 3.0 Sistem yang Diusulkan

Sumber: Penulis, (2016)


H. Data Flow Diagram Level 1 Proses 4.0 Sistem yang Diusulkan

4.1
Tambah Data
Rekapan Sensus Tambah Data
Rekapan
Sensus

4.2
Simpan Data
Simpan Rekapan Sensus Simpan Data
Rekapan
Sensus

4.3
Ubah Data
Ubah Rekapan Sensus Ubah Data
Rekapan
Sensus
Petugas Rekam Medis Sensus

4.4
Hapus Data
Hapus Rekapan Sensus Hapus Data
Rekapan
Sensus

4.5
Batal Data
Batal Rekapan Sensus Batal Data
Rekapan
Sensus

4.6
Cari Rekapan Sensus Cari Data
Cari Data
Rekapan
Sensus

Gambar 5.6 DFD Level 1 Proses 4.0 Sistem yang Diusulkan

Sumber: Penulis, (2016)


I. Data Flow Diagram Level 1 Proses 5.0 Sistem yang Diusulkan

Pilih Data 5.1 Rec_Sensus


Petugas Rekam Medis Sensus
Preview Laporan

Data Dicetak

Laporan Efesiensi Penggunaan


Cetak Data 5.1 Tempat Tidur
Kepala Rekam Medis
Cetak Laporan

Laporan Efesiensi Penggunaan


Tempat Tidur

Direktur Rumah Sakit

Gambar 5.7 DFD Level 1 Proses 5.0 Sistem yang Diusulkan

Sumber: Penulis, (2016)

J. Kamus Data

Dalam kamus data berisi data-data yang digunakan untuk

perancangan masukan dan keluaran. Adapun kamus data pada sistem yang

akan dirancang yaitu sebagai berikut :

1. Penjelasan Proses

a. Proses : 1.0

Nama Proses : Login

Masukan :-

Keluaran :-

Ringkasan Proses :

Petugas Rekam Medis melakukan login

b. Proses : 2.0
Nama Proses : Input User

Masukan : Identitas User

Keluaran : Record User

Ringkasan Proses :

Merupakan penginputan identitas user oleh petugas rekam medis.

c. Proses : 3.0

Nama Proses : Input Data Tempat Tidur

Masukan : Data Ruang Rawat Inap

Keluaran : Record Tempat Tidur

Ringkasan Proses :

Merupakan penginputan Penggunaan Tempat Tidur oleh petugas

rekam medis.

d. Proses : 4.0

Nama Proses : Input Sensus Harian Rawat Inap

Masukan : Rekapan Sensus Harian

Keluaran : Record Sensus

Ringkasan Proses :

Merupakan penginputan Sensus Harian Rawat Inap oleh petugas

rekam medis.

e. Proses : 5.0

Nama Proses : Buat Laporan

Masukan : Record Sensus

Keluaran :
Laporan Efisiensi penggunaan Tempat Tidur

Ringkasan Proses :

Merupakan pengolahan laporan Efisiensi penggunaan tempat

tidur oleh petugas rekam medis yang nantinya diserahkan kepada

Kepala RM, Direktur RS.

2. Penjelasan Data Store

a. Nama Data Store : User

Struktur Data : Nama_User + Password

b. Nama Data Store : Data Tempat Tidur

Struktur Data : Kode_Ruangan + Nama_Ruangan +

Kelas_Ruangan + Jumlah_Tempat_Tidur

c. Nama Data Store : Sensus Harian Rawat Inap

Struktur Data : Pasien_Awal + Pasien_Masuk + Sembuh +

Lari + Paksa + Rujuk + Meninggal >> 48 Jam + Meninggal <<

48 Jam + Pindah_Ruangan + Jumlah_Pasien_Keluar +

Pasien_Masih_Rawat + Pasien_Masuk_Keluar_Hari_Yang_Sama

+ Lama_Rawat + Kode_Ruangan + Nama_Ruangan +

Kelas_Ruangan + Jumlah_Terpakai + Tanggal_Bulan_Tahun

3. Spesifikasi Proses

Spesifikasi proses digunakan untuk menggambarkan proses model

aliran yang terdapat pada DFD.


a. Proses

Nama Proses : Sistem Informasi Pengolahan Data Efisiensi

penggunaan Tempat Tidur

Keterangan : Sistem Informasi yang terintegrasi antara admin

ruangan rawat inap dan unit rekam medis, yaitu proses

penginputan dari rekapan sensus harian dari data laporan admin

ruangan lalu diinputan penggunaan tempat tidur dan sensus harian

rawat inap dari data laporan admin ruangan, yang akan

menghasilkan laporan Efisiensi penggunaan Tempat Tidur.

b. Arus Data

1) Masukan dari petugas RM : Rekapan Sensus

2) Keluaran dari petugas RM : Record User, Record

Data Tempat Tidur, Record SHRI, Record Efisiensi

penggunaan Tempat Tidur

3) Keluaran kepada Kepala RM : Laporan Efisiensi

penggunaan Tempat Tidur

4) Keluaran kepada Direktur RS : Laporan Efisiensi

penggunaan Tempat Tidur

c. Entitas

Nama Entitas : Petugas Rekam Medis, Kepala

Rekam Medis, Direktur Rumah Sakit


5.3 Rancangan Basis Data

A. Entity Relationship Diagram (ERD)

id_user nama_user

User 1 Menginputkan

M
Lari Paksa
password
Rujuk
Kode_Ruangan

Pasien_Masuk
Kelas_Ruanga
n
Pasien_Awal
Meninggal >>
48 Jam
Lama_Rawat
Meninggal <<
Masuk_Keluar 48 Jam
Sensus Harian Rawat
_Hari_Yang_
Inap
Sama
Pindah_Ruang
Sembuh
Jumlah_Pasien
_Keluar
Tanggal_Bulan
_Tahun Jumlah_Pasien
Nama_
Pasien_Awal Masih_Rawat _Masih_Rawat
Ruangan
Jumlah_ Nama_
Terpakai Ruangan
Pasien_Masuk

Sembuh
M

Paksa
Efesiensi Penggunaan Menghasilkan
1
Tempat Tidur
Rujuk

Lari

Meninggal <<
48 Jam

Meninggal >>
48 Jam

Jumlah_ Kelas_Ruanga Jumlah_


Terpakai n Tersedia

Gambar 5.8 ERD (Entity Relationship Diagram)

Sumber: Penulis, (2016)


B. Skema Relasi Tabel

Gambar 5.9 Skema Relasi Tabel

Sumber: Penulis, (2016)

C. Spesifikasi Perancangan Basis Data

1. Tabel User

Nama Tabel : tb_user

Media : Harddisk

Primary Key : Id_User

Struktur :

Tabel 5.1 Struktur Tabel User

Nama Type Data Ukuran Keterangan


Id_User Text 10 Primary Key
Nama_User Text 20 -
Password Text 10 -

Sumber: Penulis, 2016


2. Penggunaan Tempat Tidur

Nama Tabel : tb_data_tt

Media : Harddisk

Prmary Key : kode_ruangan

Struktur :

Tabel 5.2 Struktur Tabel Data Tempat Tidur

Nama Type Data Ukuran Keterangan


Kode_Ruangan Text 5 Primary Key
Nama_Ruangan Text 10 -
Kelas_Ruangan Text 10 -
Jumlah_Tempat_Tidur Integer 5

Sumber: Penulis, 2016

3. Sensus Harian Rawat Inap

Nama Tabel : tb_SHRI

Media : Harddisk

Primary Key : Pasien_Awal

Struktur :
Tabel 5.3 Struktur Tabel SHRI

Nama Type Data Ukuran Keterangan


Pasien_Awal Integer 10 Primary Key
Pasien_Masuk Integer 10 -
Cara_Pulang Integer 10 -
Meninggal >>48 Jam Integer 10 -
Meninggal << 48 Jam Integer 10 -
Pindah_Ruangan Integer 10 -
Jumlah_Pasien_Keluar Integer 10 -
Pasien_Masih_ Rawat Integer 10 -
Pasien_Masuk_Keluar_ Integer -
10
Hari_Yang_Sama
Lama_ Rawat Integer 10 -
Nama_Ruangan Char 10 -
Kelas_Ruangan Char 10 -
TBT Char 10 -
Jumlah_Terpakai Char 10 -

Sumber: Penulis, (2016)

5.4 Rancangan Dialog Layar

A. Struktur Tampilan

Sistem Informasi
Efisiensi penggunaan
Tempat Tidur

Login

File Data SHRI Laporan

Log Out Tempat Tidur Efisiensi Cetak


penggunaan Laporan
Tempat Tidur
User
Keluar
Gambar 5.10 Rancangan Struktur Tampilan

Sumber: Penulis, (2016)

B. Rancangan Dialog Layar Form Login

LOGIN

Nama Pengguna

Sandi
LOGO

Akses

Gambar 5.11 Rancangan Dialog Layar Form Login

Sumber: Penulis, (2016)

C. Rancangan Dialog Layar Form Menu Utama

MENU

File Data SHRI Laporan

Gambar Rumah Sakit


Gambar 5.12 Rancangan Dialog Layar Form Menu Utama

Sumber: Penulis, (2016)

D. Rancangan Dialog Layar Form User

Data User

Nama
Pengguna
Kata Sandi
Logo Rumah Sakit
Akses

Kode User

Masuk Simpan Hapus Batal Keluar

Data Grid View

Gambar 5.13 Rancangan Dialog Layar Form User

Sumber: Penulis, (2016)


E. Rancangan Dialog Layar Form Data Tempat Tidur
Data User

Nama Masuk Hapus


an
Kata Sandi Simpan Batal

Akses Ubah Keluar

Kode User

Cari Berdasarkan :
Nama Ruangan Kelas Ruangan Kode Ruangan

Data Grid View

Gambar 5.14 Rancangan Dialog Layar Form DTT

Sumber: Penulis, (2016)


F. Rancangan Dialog Layar Form Sensus Harian Rawat Inap

SHRI

Nama Ruangan Jumlah


Terpakai
Kelas Ruangan Sembuh
Pasien Awal Paksa
Pasien Masuk Rujuk
Meninggal >> 48 Lari
Jam
Meninggal << 48 Waktu
Jam Sensus
Pindah Ruangan MKHYS
Pasien Keluar Lama
Rawat
Masih Rawat Waktu
Diantar
Masuk Simpan Ubah Hapus Batal Keluar Laporan

Cari Data Tempat


Tidur

Data Grid View

Gambar 5.15 Rancangan Dialog Layar Form SHRI

Sumber: Penulis, (2016)


G. Rancangan Dialog Layar Form Laporan Sensus Harian Rawat Inap
LEPTT

Nama Ruangan

Kelas Ruangan

Cetak Dari Sampai

Previe Cetak Keluar


w

Crystal Reports

Gambar 5.16 Rancangan Dialog Layar Form Laporan SHRI (Cetak)

Sumber: Penulis, (2016)


H. Rancangan Laporan Efisiensi penggunaan Tempat Tidur
Gambar 5.17 Laporan Efisiensi penggunaan Tempat Tidur
Sumber: Penulis, (2016)

5.5 Spesifikasi Hardware dan Software


A. Spesifikasi Hardware
Hardware atau perangkat keras merupakan semua peralatan fisik

komputer. Sistem perangkat keras ini terdiri dari input, proses dan output.

Beberapa kebutuhan perangkat keras yang digunakan dalam pembuatan

sistem ini adalah :

1. Processor : Intel, Processor 13 Min 3. 00 Ghz

2. Memory (RAM) : Minimal 2 GB

3. System Type : 64-bit (6.1, Build 7600)

4. Hardisk : 250 Gb

5. VGA : Minimal 512 Mb

6. Optical Drive : CD/DVD RW

7. Input Device : Keyboard dan Mouse

8. Output : a. Monitor resolusi minimal 1280x720 pixel

b. Printer

B. Spesifikasi Software
Dalam pembuatan sistem informasi pasien rawat inap ini,

spesifikasi software atau perangkat lunak yang digunakan adalah :

1. Sistem Operasi : Windows 7

2. Bahasa Pemrograman : Microsoft Visual Studio 2010/VB.Net

3. Pengolahan Database : Microsoft Access 2007

4. Pengolahan Laporan : Crystal Report 8.5


5.6 Implementasi dan Pengujian
A. Implementasi Hardware
Perangkat keras yang digunakan untuk mendukung pembuatan

program aplikasi ini sebagai berikut:

a. Laptop dengan Processor AMD FX-7500, AMD Radeon(TM) R7

Graphics (4 CPUs), 2.1 GHz

b. Kapasitas RAM 4 GB

c. Printer

B. Implementasi Software
Perangkat lunak yang digunakan untuk mendukung pembuatan

program aplikasi ini adalah sebagai berikut:

d. Sistem Operasi : Window 8.1

e. Pemrograman : Visual Studio 2010

f. Pembuatan Basis Data : Microsoft Access 2013

C. Implementasi Interface
1. Implementasi Dialog Layar Form Login
Gambar 5.18 Implementasi Dialog Layar Form Login

Sumber: Penulis, (2016)

2. Implementasi Dialog Layar Form Menu Utama

Gambar 5.19 Implementasi Dialog Layar Form Menu Utama

Sumber: Penulis, (2016)


3. Implementasi Dialog Layar Form User

Gambar 5.20 Implementasi Dialog Layar Form User

Sumber: Penulis, (2016)


4. Implementasi Dialog Layar Form Data Tempat Tidur

Gambar 5.21 Implementasi Dialog Layar Form DTT

Sumber: Penulis, (2016)


5. Implementasi Dialog Layar Form Sensus Harian Rawat Inap

Gambar 5.22 Implementasi Dialog Layar Form SHRI

Sumber: Penulis, (2016)

6. Implementasi Dialog Layar Form Laporan SHRI (Cetak)

Gambar 5.23 Implementasi Dialog Layar Form Laporan Sensus (Cetak)


Sumber: Penulis, (2016)

7. Implementasi Dialog Layar Form Laporan SHRI

Gambar 5.24 Implementasi Dialog Layar Form Laporan Sensus

Sumber: Penulis, (2016)

A. Pengujian Sistem
A. Pengujian Sistem

Pengujian merupakan bagian yang penting dalam siklus

pembangunan sistem informasi. Pengujian dilakukan untuk menjamin

kualitas dan juga mengetahui kelemahan dari sistem informasi yang

dibangun. Tujuan dari pengujian ini untuk mengetahui sistem informasi

yang telah dimiliki kualitas yang baik, yaitu sesuai analisis,

perancangan, dan pengkodean serta mampu memenuhi kebutuhan

pengguna.

1. Rancangan Pengujian

Pengujian sistem informasi ini menggunakan metode

pengujian black box. Pengujian Blackbox berfokus pada


persyaratan fungsional sistem informasi yang dibuat dan dilakukan

selama proses pembuatan program. Pengujian Black box yaitu

pengujian yang dilakukan terhadap fungsionalitas perangkat lunak

tanpa melihat struktur internal program. Sehingga memungkinkan

pembuat program atau petugas penguji mendapat serangkaian

kondisi input yang sepenuhnya dengan menggunakan semua

persyaratan fungsional untuk suatu program. Penguji Black box,

cenderung diaplikasikan pada tahap akhir pengujian. Pengujian

black box merupakan pendekatan komplementer yang

kemungkinan besar mampu mengungkapkan kesalahan dari pada

metode white box.

Pengujian Black box berusaha menemukan kesalahan dalam

kategori sebagai berikut :

a. Fungsi – fungsi yang tidak benar atau hilang

b. Kesalahan Interface

c. Kesalahan dalam struktur data atau akses basis data eksternal

d. Kesalahan Kinerja

e. Insialisasi dan kesalahan terminasi.

2. Rencana Pengujian

Pengujian sistem informasi peminjaman dan pengembalian

rekam medis ini menggunakan data uji berupa data input dari

pengguna yang telah dibuat. Berikut adalah rencana pengujian

sistem informasi yang telah dibangun.


Tabel 5.4 Rencana Pengujian
JENIS
ITEM PENGUJIAN DESKRIPSI
PENGUJIAN
Login Melakukan Log in ke dalam sistem Black box
Form Pengguna Menambahkan Data Pengguna Black box
Form Tempat Tidur Menambahkan Data Tempat Tidur Black box
Form Sensus Harian Menambahkan Data Sensus Harian
Black box
Rawat Inap Rawat Inap
Form Laporan Sensus
Menambahkan Data Diagnosa Black box
Harian Rawat Inap

Sumber: Penulis 2016

Tabel 5.5 Pengujian Log In


Kasus dan Hasil Uji (Data Normal)
Data Masukan Username = admin, password = admin
Yang Diharapkan Log in berhasil, Masuk ke menu utama
Pengamatan Log in berhasil, Masuk ke form menu utama
Kesimpulan {X} Diterima , {}Ditolak
Kasus dan Uji Hasil (Data Salah)
Data Masukan Data Log in yang diinput salah
Log in yang diinputkan salah dan menampilkan pesan
Yang diharapkan
kesalahan berupa pesan dialog
Pengamatan User Harus sesuai dengan data yang tersimpan di data base
Kesimpulan {X} Diterima , {}Ditolak

Sumber: Penulis 2016


Table 5.6 Pengujian Form Pengguna/ User
Kasus dan Hasil Uji (Data Normal)
Data Masukan Nama Pengguna, Kata Sandi, Akses, Kode User.
Yang Diharapkan Data pengguna berhasil di simpan ke dalam database
Pengamatan Data berhasil dimasukan ke dalam data pengguna
Kesimpulan {X} Diterima , {}Ditolak
Kasus dan Uji Hasil (Data Salah)
Data Masukan Data pengguna yang diinputkan salah
Data pengguna yang diinputkan salah dan menampilkan
Yang diharapkan
pesan kesalahan berupa pesan dialog
Pengamatan Tidak dapat memasukan username yang sama
Kesimpulan {X} Diterima , {}Ditolak

Sumber: Penulis 2016

Table 5.7 Pengujian Form Tempat Tidur


Kasus dan Hasil Uji (Data Normal)
Data Masukan Nama Ruangan, Kelas Ruangan, Kode Ruangan, Jumlah
Tempat Tidur.
Yang Diharapkan Data tempat tidur berhasil di simpan ke dalam database
Pengamatan Data tempat tidur berhasil dimasukan ke dalam data tempat
tidur
Kesimpulan {X} Diterima , {}Ditolak
Kasus dan Uji Hasil (Data Salah)
Data Masukan Data tempat tidur yang diinputkan salah
Yang diharapkan Data tempat tidur yang diinputkan salah dan menampilkan
pesan kesalahan berupa pesan dialog
Pengamatan Tidak dapat memasukan kode ruangan yang sama
Kesimpulan {X} Diterima , {}Ditolak

Sumber: Penulis 2016

Table 5.8 Pengujian Form Sensus Harian Rawat Inap


Kasus dan Hasil Uji (Data Normal)
Nama Ruangan, Kelas Ruangan, Pasien Awal, Pasien
Masuk, Meninggal Lebih 48 Jam, Meninggal Kurang 48
Jam, Pindah Ruangan, Pasien Keluar, Masih Rawat,
Data Masukan
Jumlah Terpakai, Sembuh, Paksa, Rujuk, Lari, Tanggal
Bulan Tahun, Masuk Keluar Hari Yang Sama, Lama
Rawat, Diantar Pada Pukul.
Yang Diharapkan Data Sensus berhasil di simpan ke dalam database
Pengamatan Data berhasil dimasukan ke dalam data sensus
Kesimpulan {X} Diterima , {}Ditolak
Kasus dan Uji Hasil (Data Salah)
Data Masukan Data sensus yang diinputkan salah
Data sensus yang diinputkan salah dan menampilkan pesan
Yang diharapkan
kesalahan berupa pesan dialog
Pengamatan Tidak ada data yang terlewat
Kesimpulan {X} Diterima , {}Ditolak

Sumber: Penulis 2016


Table 5.9 Pengujian Form Cetak Laporan Sensus Harian Rawat Inap
Kasus dan Hasil Uji (Data Normal)
Data Masukan Tanggal laporan yang ingin dicetak, Kategori sesuai nama
dan kelas ruangan
Yang Diharapkan Muncul laporan sensus pada tanggal, nama dan kelas
ruangan yang diinginkan
Pengamatan Data berhasil ditampilkan
Kesimpulan {X} Diterima , {}Ditolak
Kasus dan Uji Hasil (Data Salah)
Data Masukan Tanggal laporan yang ingin dicetak, nama dan kelas yang
ingin ditampilkan
Yang diharapkan Tidak muncul laporan pasien rawat inap pada tanggal dan
kategori yang diinginkan
Pengamatan Data tidak berhasil ditampilkan
Kesimpulan {X} Diterima , {}Ditolak

Sumber: Penulis 2016


BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah penulis lakukan dan

pembahasan yang telah penulis sampaikan, maka dapat disimpulkan bahwa:

A. Proses pengolahan data sensus harian rawat inap Unit Rekam Medis

Rumah Sakit Umum Daerah Majalaya ada beberapa tahap, tahapannya

sebagai berikut:

1. Penerimaan data sensus harian rawat inap dari admin ruangan.

2. Data kemudian di cek dan di rekap.

3. Data kemudian di inputkan ke komputer.

4. Data sensus disimpan sebagai arsip.

5. Proses pembuatan laporan dari data sensus harian rawat inap yaitu

Efisiensi penggunaan tempat tidur.

B. Masalah yang sangat berpengaruh dalam pembuatan laporan Efisiensi

penggunaan tempat tidur adalah:

1. Belum tersedianya sajian data tentang Efisiensi penggunaan tempat


tidur.
2. Sensus harian masih dilakukan secara manual.
3. Sering terlambatnya laporan data sensus dari admin ruangan.
C. Dari semua permasalahan yang ada pada proses pengolahan data sensus

harian rawat inap di Unit Rekam Medis Rumah Sakit Umum Daerah

Majalaya, telah dilakukan berbagai macam upaya yang dapat

meminimalisir permasalahan diantaranya:


1. Membuat sistem khusus yang mengatur persoalan Efisiensi
penggunaan tempat tidur.
2. Membuat sistem baru sehingga sensus dilakukan secara
komputerisasi.
3. Melakukan sosialisasi kepada setiap admin ruangan agar selambat-
lambatnya laporan dikirimkan pada pukul 09.00 WIB.
D. Dalam Perancangan Sistem Informasi Efisiensi penggunaan Tempat

Tidur penulis membuat rancangan interface saja, sehingga ada

gambaran jika akan diimplementasikan.

6.2. Saran

Dari kesimpulan diatas, penulis memberikan saran sebagai masukan

dan motivasi yang membangun kepada pihak Unit Rekam Medis Rumah

Sakit Umum Daerah Majalaya, yaitu:

A. Perlu adanya sistem informasi Efisiensi penggunaan tempat tidur untuk

mengoptimalkan informasi sensus dan rekap laporan Efisiensi

penggunaan Tempat Tidur serta mampu menghasilkan laporan Efisiensi

penggunaan tempat tidur yang sesuai dan Laporan Efisiensi penggunaan

tempat tidur dapat tersedia setiap dibutuhkan seperti yang telah penulis

rancang.

B. Sebaiknya data ruangan rawat inap dapat dipastikan tidak adanya

simpang siur soal data jumlah tempat tidur dan setiap ada perubahan

dapat langsung diintregasikan keseluruh pihak.

C. Sebaiknya mengadakan sosialisasi ke setiap admin ruangan agar tidak

telat dalam melakukan laporan.

D. Sebaiknya SOP dilakukan dengan baik dan benar.


E. Sebaiknya diberikan pendidikan dan pelatihan mengenai manajemen

Rekam Medis Infomasi Kesehatan setiap ada peningkatan atau

perubahan manajemen Rekam Medis Informasi Kesehatan.