Anda di halaman 1dari 8

22

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada rentang waktu 1 Agustus 2018 sampai 26
September 2018 di Laboratorium Teknik Konversi Energi Politeknik Sriwijaya.
Pengujian mutu analisa proksimat dan nilai kalor briket dilakukan di Laboratorium
STG dan Boiler Batubara PT Pupuk Sriwidjaja Palembang Sumatera Selatan.

3.2. Alat dan Bahan


3.2.1. Alat
1) Furnace
2) Mortar
3) Ayakan
4) Parutan dan mesin parutan (Parut Mini STNLSH)
5) Grinder
6) Alat Pencetak Briket
7) Hot Plate
8) Oven
9) Neraca Analitis
10) Beaker Glass
11) Pipet Tetes
12) Batang Pengaduk

Sampel briket

Gambar 3.1. Skema Alat Pencetak Briket


23

3.2.2. Bahan
1) Plastik HDPE (High Density Polyethylene)
2) Plastik LDPE (Low Density Polyethylene)
3) Tempurung Kelapa
4) Sekam Padi
5) Tepung Tapioka
6) Aquadest

3.3. Variabel Penelitian


3.3.1. Variabel Bebas
1) Jenis plastik yaitu plastik HDPE (High Density Polyethylene) dan plastik
LDPE (Low Density Polyethylene).
2) Perbandingan komposisi bahan baku briket dengan total massa campuran
10 gram (Plastik polyethylene:arang tempurung kelapa:arang sekam padi)
yaitu 10:45:45, 20:40:40, 30:35:35, 10:70:20, 20:65:15, 30:60:10, 10:20:70,
20:15:65, 30:10:60.
3) Temperatur proses karbonisasi yaitu 400oC, 500oC, dan 600oC.
3.3.2. Variabel Tetap
1) Waktu proses karbonisasi selama 2 jam.
2) Massa perekat yaitu 5% dari massa total komposisi bahan baku briket.
3) Total massa campuran bahan baku penyusun briket yaitu 10 gram.
3.3.3. Variabel Terikat
1) Moisture
2) Ash content
3) Volatile matter
4) Fixed carbon
5) Nilai kalor

3.4. Prosedur Penelitian


3.4.1. Tahap Persiapan Bahan Baku
1) Tempurung kelapa dan sekam padi dibersihkan terlebih dahulu dari bahan
pengotor seperti serabut, tanah atau lumpur, dan kotoran yang menempel.
16

2) Plastik HDPE dan LDPE dibersihkan dari merk yang masih menempel dan
dicuci untuk menghilangkan tanah atau kotoran yang ada pada plastik.
3) Tempurung kelapa dan sekam padi dipotong menjadi ukuran yang lebih
kecil untuk memudahkan saat proses selanjutnya.
4) Tempurung kelapa dan sekam padi dikeringkan di bawah sinar matahari
selama 3 hari untuk mengurangi kandungan air.
5) Plastik HDPE dan plastik LDPE digerus menggunakan alat parut menjadi
ukuran yang lebih kecil dan seragam.
6) Plastik HDPE dan plastik LDPE yang telah diparut kemudian diayak
menggunakan ayakan 20 mesh.
3.4.2. Tahap Karbonisasi
1) Tempurung kelapa dan sekam padi yang telah kering dimasukkan ke dalam
furnace menggunakan kendi.
2) Suhu furnace diatur dengan variasi 400oC, 500oC, dan 600oC.
3) Proses pengarangan atau karbonisasi berlangsung selama 2 jam.
4) Arang yang diperoleh dihaluskan menjadi serbuk menggunakan grinder.
5) Arang yang telah mengalami size reduction kemudian diayak menggunakan
ayakan 60 mesh.
3.4.3. Tahap Pembuatan Perekat
1) Tepung tapioka ditimbang sebanyak 5% dari berat bahan baku per satu
briket.
2) Tepung tapioka dimasukkan ke dalam aquadest dengan perbandingan
konsentrasi perekat dan air yaitu 1:20(b/v).
3) Campuran tersebut dipanaskan di atas hot plate hingga perekatnya
mengental dan merata sempurna.
3.4.4. Tahap Pembriketan
1) Setiap jenis bahan baku masing-masing ditimbang sesuai dengan persentase
massa (Plastik polyethylene:arang tempurung kelapa:arang sekam padi)
dengan total massa campuran seberat 10 gram, yaitu 10:45:45, 20:40:40,
30:35:35, 10:70:20, 20:65:15, 30:60:10, 10:20:70, 20:15:65, 30:10:60.
2) Ketiga bahan tersebut dicampur dan dihomogenkan.
17

3) Perekat ditambahkan dan diaduk sampai merata.


4) Kemudian dicetak dengan menggunakan alat pencetak briket.
5) Campuran briket dikeringkan menggunakan oven pada temperatur 60oC
selama 24 jam.

3.5. Prosedur Uji Kualitas Briket


3.5.1. Analisa Proksimat Briket
Analisa proksimat briket berupa kadar air, kadar abu, volatile matter, dan
fixed carbon dilakukan menggunakan alat LECO TGA701 (Thermogravimetric
Analyzer) berdasarkan metode ASTM D7582. Analisa kadar air berlangsung
selama total waktu 28 menit pada temperatur 25oC dan berakhir pada temperatur
107oC, kemudian dilanjutkan dengan analisa volatile matter selama 26 menit pada
temperatur 107oC dan berakhir pada temperatur 950oC, dan analisa kadar abu
berlangsung selama 50 menit pada temperatur 600oC dan berakhir pada temperatur
750oC. Perhitungan fixed carbon dilakukan secara otomatis.
Pengoperasian Thermogravimetric Analyzer 701 dilakukan dengan tahapan
sebagai berikut:
1) Semua gas (oksigen, nitrogen, dan udara tekan) dipastikan sudah terpasang
dengan benar ke instrument, kemudian nyalakan instrument TGA701.
2) Software TGA701 diaktifkan pada komputer kemudian dilakukan
pengecekan awal dengan memilih Diagnostic dan System Check.
3) Data sampel dan nama sampel dimasukkan dan diketik secara login pada
software serta memilih metode analisa yang dipakai yaitu ASTM D7852.
4) Urutan nomor sampel dan jumlah sampel dituliskan pada atribut Location
dan Count.
5) Konfigurasi metode diatur dengan memilih metode ASTM D7852 dan
parameter moisture, ash, volatile, dan fixed carbon.
6) Pada menu utama, furnace dapat dibuka dengan cara klik Analyze. Sejumlah
crucible kosong yang akan digunakan untuk analisa ditempatkan pada
lubang-lubang carousel dan ditambah satu crucible kosong (sebagai
18

referensi). Tombol Actuator ditekan kemudian furnace akan tertutup dan


semua crucible akan terinialisasi dan ditimbang.
7) Furnace akan kembali terbuka dan carousel akan menuju ke posisi crucible
yang pertama dan sampel siap untuk ditimbang (1 gram).
8) Sampel dimasukkan sesuai yang diperlukan ke dalam crucible.
9) Tombol Actuator ditekan sehingga carousel akan berputar dan berhenti
pada posisi crucible berikutnya. Ulangi hingga semua crucible terisi.
10) Setelah semua crucible terisi, analisa akan dimulai oleh sistem secara
otomatis dengan parameter berturut-turut adalah moisture, volatile, ash, dan
fixed carbon.
11) Hasil analisa ditampilkan dalam data massa per parameter dan persentase.
Persamaan yang digunakan oleh sistem untuk setiap parameter adalah
sebagai berikut:
IM - MM '
Moisture (%) = x 100% (3.1)
|IM

MM - VM '
Volatile (%) = x 100% (3.2)
|IM|

AM' (3.3)
Ash (%) = x 100%
|IM|

nFixed Carbon (%) = 100 - [M + V + A]n (3.4)

Keterangan:
IM = Initial Mass (gr)
MM = Moisture Mass (gr)
VM = Volatile Mass (gr)
AM = Ash Mass (gr)
M = Moisture (%)
V = Volatile (%)
A = Ash (%)
19

3.5.2. Analisa Nilai Kalor


Analisa nilai kalor briket dilakukan menggunakan alat Calorimeter AC500
berdasarkan ASTM D5865. Analisa nilai kalor berlangsung selama 5 menit dengan
tingkat akurasi kenaikan temperatur 0,0001oC setiap 6 detik. Pengoperasian
Calorimeter AC500 dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
1) Sampel briket ditimbang sebesar 1 gram cup sampel calorimeter.
2) Sample holder dipersiapkan dengan fuse wire dipasang pada sample holder,
cup sampel dimasukkan ke sample holder, dan fuse diatur ± 0,5 cm di atas
sampel.
3) Sample holder dimasukkan ke dalam Combustion Vessel, tutup secara kuat.
4) Gas O2 (high pressure) diisi atau charging combustion vessel, tunggu
hingga selesai.
5) Bucket diisi dengan air demin menggunakan pipet tank (± 2L).
6) Combustion Vessel dimasukkan dengan menggunakan vessel handle ke
dalam bucket dan sesuaikan posisinya agar tidak bergerak.
7) Bucket yang berisi combustion vessel dimasukkan ke dalam instrument.
8) Balance diaktifkan untuk menampilkan pembacaan neraca pada software
dan Configuration Method diatur untuk mengatur jenis sampel yang akan
dianalisa.
9) Data sampel yang akan dianalisa dimasukkan sesuai dengan nama dan
metode yang digunakan.
10) Analisa secara otomatis akan dimulai oleh sistem dengan klik analyze pada
software.
11) Setelah hasil analisa keluar, data fuse wire yang tersisa diisi dan masukkan
data panjang fuse wire yang terbakar pada data sampel sehingga akan
menghasilkan nilai kalor sampel akhir.
20

3.6. Blok Diagram Proses Pembuatan Briket


Berikut ini Gambar 3.2. yang menunjukkan suatu diagram pembuatan briket
dari campuran plastik, arang tempurung kelapa, dan arang sekam padi.

Tempurung Kelapa dan Plastik HDPE dan


Sekam Padi LDPE

Pembersihan

Pengecilan ukuran

Pembersihan
Pengeringan (3 hari)

Karbonisasi (400oC, 500oC,


600oC) selama 2 jam

Penghalusan Penggerusan

Pengayakan (60 mesh) Pengayakan (20 mesh)

Pencampuran bahan
Bahan perekat
baku dan perekat
5%

Pencetakan Briket

Pengeringan pada oven T =


60oC dan t = 24 jam 1) Moisture
2) Ash content
Briket 3) Volatile matter
4) Fixed carbon
Analisa Briket 5) Nilai kalor

Gambar 3.2. Diagram Proses Pembuatan Briket dari Campuran Plastik, Arang
Tempurung Kelapa, dan Arang Sekam Padi
21

3.7. Matriks Penelitian


Penelitian ini menggunakan tiga variabel bebas yaitu jenis plastik
polyethylene, komposisi bahan baku penyusun briket, dan temperatur karbonisasi,
sehingga terdapat sampel penelitian sebanyak 54 sampel. Seluruh sampel tersebut
dianalisa proksimat dan nilai kalornya berdasarkan matriks penelitian pada Tabel
3.1. seperti berikut:

Tabel 3.1. Matriks Penelitian


Kode 1 2 3 4 5 6 7 8 9
A HA1 HA2 HA3 HA4 HA5 HA6 HA7 HA8 HA9
H B HB1 HB2 HB3 HB4 HB5 HB6 HB7 HB8 HB9
C HC1 HC2 HC3 HC4 HC5 HC6 HC7 HC8 HC9
A LA1 LA2 LA3 LA4 LA5 LA6 LA7 LA8 LA9
L B LB1 LB2 LB3 LB4 LB5 LB6 LB7 LB8 LB9
C LC1 LC2 LC3 LC4 LC5 LC6 LC7 LC8 LC9

Jenis Plastik: Komposisi: Temperatur:


L = LDPE (Plastik:TK:SP) A. 400
H = HDPE 1. 10:45:45 B. 500
Bahan Baku: 2. 20:40:40 C. 600
TK = Tempurung Kelapa 3. 30:35:35
SP = Sekam Padi 4. 10:70:20
5. 20:65:15
6. 30:60:10
7. 10:20:70
8. 20:15:65
9. 30:10:60