Anda di halaman 1dari 6

PERANAN PEMERINTAH DALAM MENYEDIAKAN BARANG-BARANG PUBLIK

GUNA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT


(STUDI KASUS DI PROVINSI BALI)

Dosen Pengempu :
Dr. I Gede Wardana, S.E, M.Si.

Kelas :
EKI 306 A2

Oleh :

Ni Putu Eka Wahyuni 1707511058

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Aktifitas pemerintah dapat mempunyai eksternalitas yang penting. Seluruh warga
negara akan merasakan manfaat atas berbagai barang yang dibeli oleh pemerintah. Contohnya
penyedia pertahanan umum. Seluruh masyarakat mendapatkan manfaat dari hal itu.
Pemerintah menetapkan sesuatu seperti undang-undang hak milik dan hukum kontrak yang
menciptakan lingkungan hokum dimana transaksi ekonomi terjadi. Keuntungan yang timbul
dari lingkungan ini dinikmati oleh seluruh masyarakat.
Pemerintah menyediakan barang publik kepada masyarakat. Sekilas pemerintah tidak
jauh berbeda dengan serikat pekerja, asosiasi professional atau bahkan seperti klub
mahasiswa yang memberikan manfaat dan menciptakan kewajiban bagi para anggotanya.
Namun pemerintah berbeda, karena pemerintah dapat mencapai skala ekonomis dank arena
pemerintah mempunyai kemampuan untuk membiayai aktifitas mereka melalui pajak,
Umumnya, barang publik harus disediakan oleh pemerintah dan barang ini dikonsumsi secara
kolektif.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan studi kasus ini adalah mengetahui peran pemerintah
dalam menyediakan barang-barang publik guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

1.3 Kegunaan
Adapun hasil yang didapat yaitu hasil tulisan ini dapat menjadi landasan dalam
pengembangan media pembelajaran atau penerapan media pembelajaran secara lebih lanjut.
Selain itu juga dapat menambah wawasan mengenai peran pemerintah dalam menyediakan
barang-barang public guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Teori yang Mendukung
Teori Bowen
Bowen mengemukakan teori yang didasarkan pada teori harga sama halnya pada
penentuan harga pada barang swasta. Bowen mendefinisikan barang publik sebagai barang
dimana pengecualian tidak dapat ditentukan. Jadi sekali suatu barang publik sudah tersedia
maka tidak ada seorang pun yang dapat dikecualikan dari manfaat barang tersebut. Jadi
menurut Bowen, jumlah barang publik yang dikonsumsi oleh individu A sama dengan jumlah
barang yang dikonsumsi oleh individu B, YA = YB
Kelemahan teori ini adalah karena Bowen menggunakan permintaan permintaan dan
penawaran. Yang menjadi masalah adalah karena pada barang publik tidak ada prinsip
pengecualian sehingga masyarakat tidak mau mengemukakan kesenangan mereka akan
barang tersebut sehingga permintaan kurva permintaan menjadi tidak ada.

2.2 Pembahasan
Kabupaten Badung di bawah kepemimpinan Bupati I Nyoman Giri Prasta dan Wakil
Bupati I Ketut Suiasa terus menggenjot pembangunan di berbagai bidang sebagai
implementasi Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana (PPNSB). Salah satunya
melalui pembangunan jalan lingkar selatan. Jalan yang digadang-gadang mempermudah
konektivitas tersebut saat ini sudah masuk dalam tahap pembebasan lahan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Badung, IB
Surya Suamba, mengatakan, jalan lingkar selatan Kabupaten Badung sudah tertuang dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Badung 2016-2021.
Jalan lingkar selebar 24 meter ini diproyeksikan untuk memudahkan koneksi antardestinasi
pariwisata di Badung selatan, khususnya Kuta dan Kuta Selatan yang merupakan pusat
ekonomi Kabupaten Badung.

Salah satu bentuk mendukung konektivitas antar kawasan pariwisata adalah adanya
jalan yang memadai dan bebas hambatan. Meski sudah dibangun dua underpass dan jalan tol,
menurutnya belum maksimal untuk mengurai kemacetan yang kerap terjadi di kawasan Kuta
dan Kuta Selatan.

2
Jalan lingkar sepanjang 33,5 km yang melintasi tebing, dataran, hingga laut tersebut
nantinya diharapkan menjadi salah satu alternatif. Guna pembangunannya, tahun lalu
pihaknya telah melaksanakan Feasibility Study (FS) alias studi kelayakan. Tahun ini,
pihaknya beranjak ke pembebasan lahan tahap pertama. Pagu anggaran yang disiapkan Rp 90
miliar. Sementara tahun 2019, disiapkan anggaran sekitar Rp 700 miliar.

Lebih lanjut, Surya Suamba selaku Kepala Dinas PUPR Kabupaten Badung
menegaskan, pihaknya tak mengesampingkan aspek estetika. Sebisa mungkin, keberadaan
jalan lingkar tersebut menambah indah kawasan yang dilewati. Di samping menggunakan
konsep Babadungan dalam tampilannya, juga akan dibangun 2 stop over, sebagai titik
pemberhentian dan pengendara bisa berdantai sejenak. Selanjutnya, untuk menambah indah
suasana malam hari, akan ditambahkan pencahayaan khusus.

Sementara menggenjot pembangunan jalan lingkar di Badung selatan, Dinas PUPR


Badung juga menggarap sejumlah pembangunan infrastruktur pertanian. Salah satunya
pembangunan Bendung Sengempel. Bendung berkapasitas air 288 meter perdetik tersebut
kini bisa dimanfaafkan untuk mengairi 280 hektare sawah Subak Sengempel.

2.3 Implikasi
Studi kasus ini telah menunjukkan jalan lingkar selatan ini memberikan beberapa
manfaat, salah satunya untuk memudahkan koneksi antardestinasi pariwisata di Badung
Selatan, khususnya Kuta dan Kuta Selatan yang merupakan pusat ekonomi Kabupaten
Badung. Hal ini mengandung implikasi agar kedepannya arus ekonomi di Badung Selatan
khususnya Kuta dan Kuta Selatan ini semakin lancar dan destinasi pariwisata di kawasan
tersebut semakin dikenal oleh wisatawan.

Salah satu bentuk mendukung konektivitas antar kawasan pariwisata adalah adanya
jalan yang memadai dan bebas hambatan. Meski pemerintah sudah membangun dua
underpass dan jalan tol, menurutnya belum maksimal untuk mengurai kemacetan yang kerap
terjadi di kawasan Kuta dan Kuta Selatan.

Dengan adanya jalan lingkar selatan ini, diharapkan mampu mengurangi kemacetan
dan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan luar negeri maupun dalam negeri.

3
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bowen mendefinisikan barang publik sebagai barang dimana pengecualian tidak
dapat ditentukan. Jadi sekali suatu barang publik sudah tersedia maka tidak ada seorang pun
yang dapat dikecualikan dari manfaat barang tersebut.

Seperti pembuatan jalan lingkar selatan yang dapat dilalui oleh semua orang dan
nantinya mampu mempersingkat perjalan. Jalan lingkar selebar 24 meter ini diproyeksikan
untuk memudahkan koneksi antardestinasi pariwisata di Badung selatan, khususnya Kuta dan
Kuta Selatan yang merupakan pusat ekonomi Kabupaten Badung. Salah satu bentuk
mendukung konektivitas antar kawasan pariwisata adalah adanya jalan yang memadai dan
bebas hambatan.

3.2 Saran
Semoga pembangunan jalan lingkar selatan ini mampu selesai sesuai target yang telah
ditentukan. Dan bagi masyarakat diharapkan memiliki kesadaran dalam membayar pajaknya
tepat waktu. Sehingga pembagunan jalan lingkar selatan ini mampu memberikan manfaat
bagi semua orang.

Dalam pengerjaan pembangunan jalan lingkar selatan ini, pemerintah harus


memperhatikan keindahan dari kawasan yang dilewati sehingga keindahan kawasan tersebut
tidak hancur akibat pembuatan jalan lingkar selatan, serta diharapkan mampu mengurangi
kemacetan yang sering terjadi saat ini.

4
Daftar Pustaka

Adi Sudarman, dkk. “Tori Barang Publik” Diakses pada 9 Maret 2019 pukul 11.40 Wita
URL : https://www.academia.edu/10987276/Teori_Barang_Publik_-_Kelompok_4

Prasetya ,Ferry.2012.“Teori Barang Publik” Diakses pada 9 Maret 2019 pukul 9.10 Wita
URL : http://ferryfebub.lecture.ub.ac.id/files/2013/01/Bagian-IV-Teori-Barang-
Publik.pdf

Sekretarian Daerah Kabupaten Badung.2018. “Dinas PUPR Badung Kebut Pembangunan


Jalan Lingkar Selatan Ditargetkan Selesai Maksimal 2022” Diakses pada 8 Maret
2019 pukul 20.30 Wita
URL : http://badungkab.go.id/instansi/setda/baca-berita/2150/Dinas-PUPR-Badung-
Kebut-Pembangunan-Jalan-Lingkar-Selatan--Ditarget-selesai-maksimal-2022.html