Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Reproduksi Bakteri
Pada umumnya bakteri hanya mengenal satu macam pembiakan
saja,yaitu pembiakan secara aseksual atau vegetatif. Pembiakan ini
berlangsung cepat,jika faktor-faktor luar menguntungkan. Pelaksanaan
pembiakan yaitu denganpembelahan diri atau divisio. Secara lebih mendalam
Reproduksi yang terjadi pada Bakteri terbagi menjadi 2 macam yaitu
reproduksi aseksual dan reproduksi seksual.
Bakteri berkembang biak secara seksual dan aseksual. Perkembang
biakan aseksual dilakukan dengan pembelahan biner. Setiap sel membelah
secara melintang dan sel hasil pembelahan membentuk koloni bakteri. Bentuk
koloni sangat bervariasi tergantung pada arah pembelahan dan jenis
bakterinya. Pada kondisi yang memungkinkan bakteri akan membelah diri
dengan sangat cepat. Pada keadaan normal bakteri dapat mengadakan
pembelahan setiap 20 menit sekali. Jika pembelahan berlangsung satu jam,
maka akan dihasilkan delapan anakan sel.
Perkembangbiakan secara seksual dilakukan tanpa melibatkan gamet dan
peleburan sel, tetapi berupa pertukaran materi genetic atau DNA. Materi
genetic dapat berpindah dari satu bakteri ke yang lain tanpa menghasilkan
zigot. Proses perpindahan materi genetic ini sering disebut rekombinasi
genetic. DNA hasil pertukaran materi genetic yang mengandung gen kedua
induk disebut DNA rekombinan.
2.2 Reproduksi Aseksual
Yang termasuk di dalam reproduksi secara aseksual ini adalah
pembelahan, pembentukan tunas/ cabang, dan pembentukan filamen.
1. Pembelahan
Pada umumnya bakteri berkembang biak dengan pembelahan biner,
artinya pembelahan terjadi secara langsung, dari satu sel membelah
menjadi dua sel anakan. Masing-masing sel anakan akan membentuk dua
sel anakan lagi, demikian seterusnya.
Proses pembelahan biner diawali dengan proses replikasi DNA
menjadi dua DNA identik, diikuti pembelahan sitoplasma dan akhirnya
terbentuk dinding pemisah di antara kedua sel anak bakteri.Pembelahan
diri dapat di bagi atas 3 fase,yaitu :
a. Fase pertama, dimana sitoplasma terbelah oleh sekat yang tumbuh
tegak lurus pada arah memanjang.
b. Sekat tersebut diikuti oleh suatu dinding melintang. Dinding melintang
ini tidak selalu merupakan penyekat yang sempurna, di tengah-tengah
sering ketinggalan suatu lubang kecil, dimana protoplasma kedua sel
baru masih tetap berhubung-hubungan. Hubungan protoplasma itu
disebut plasmodesmida.
c. Fase terakhir ialah terpisahnya kedua sel. Ada bakteri yang segera
berpisah, yaitu yang satu terlepas sama sekali dari pada yang lain,
setelah dinding melintang menyekat secara sempurna. Bakteri yang
semacam ini merupakan koloni yang merata,jika dipiara pada medium
padat. Sebaliknya,bakteri-bakeri yang dindingnya lebih kokoh itu tetap
bergandeng-gandengan setelah pembelahan. Bakteri macam ini
merupakan koloni yang kasar permukaannya.
2. Pembentukan tunas atau cabang
Bakteri membentuk tunas yang akan melepaskan diri dan membentuk
bakteri baru. Reproduksi dengan pembentukan cabang didahului dengan
pembentukan tunas yang tumbuh menjadi cabang dan akhirnya
melepaskan diri. Dapat dijumpai pada bakteri family Streptomycetaceae.
3. Pembentukan Filamen
Pada pembentukan filament, sel mengeluarkan serabut panjang
sebagai filament yang tidak bercabang. Bahan kromosom kemudian masuk
ke dalam filament, kemudian filament terputus-putus menjadi beberapa
bagian. Tiap bagian membentuk bakteri baru. Dijumpai terutama dalam
keadaan abnormal, misalnya bila bakteri Haemophilus influenzadibiakan
pada pembenihan yang basah.
2.3 Pembelahan Seksual
Bakteri berbeda dengan eukariota dalam hal cara penggabungan DNA
yang datang dari dua individu ke dalam satu sel. Pada eukariota, proses
seksual secara meiosis dan fertilisasi mengkombinasi DNA dari dua individu
ke dalam satu zigot. Akan tetapi, jenis kelamin yang ada pada ekuariota tidak
terdapat pada prokariota. Meiosis dan fertilisasi tidak terjadi, sebaliknya ada
proses lain yang akan mengumpulkan DNA bakteri yang datang dari individu-
individu yang berbeda. Proses-proses ini adalah pembelahan transformasi,
transduksi dan konjugasi.
1. Transformasi
Dalam konteks genetika bakteri, transformasi merupakan perubahan
suatu genotipe sel bakteri dengan cara mengambil DNA asing dari
lingkungan sekitarnya. Misalnya, pada bakteri Streptococcus
pneumoniae yang tidak berbahaya dapat ditransformasi menjadi sel-sel
penyebab pneumonia dengan cara mengambil DNA dari medium yang
mengandung sel-sel strain patogenik yang mati. Transformasi ini terjadi
ketika sel nonpatogenik hidup mengambil potongan DNA yang kebetulan
mengandung alel untuk patogenisitas (gen untuk suatu lapisan sel yang
melindungi bakteri dari sistem imun inang) alel asing tersebut kemudian
dimasukkan ke dalam kromosom bakteri menggantikan alel aslinya untuk
kondisi tanpa pelapis. Proses ini merupakan rekombinasi genetik –
perputaran segmen DNA dengan cara pindah silang (crossing over). Sel
yang ditransformasi ini sekarang memiliki satu kromosom yang
mengandung DNA, yang berasal dari dua sel yang berbeda.
2. Transduksi
Pada proses transfer DNA yang disebut transduksi, faga membawa
gen bakteri dari satu sel inang ke sel inang lainnya. Ada dua bentuk
transduksi yaitu transduksi umum dan transduksi khusus. Keduanya
dihasilkan dari penyimpangan pada siklus reproduktif faga.
Diakhir siklus litik faga, molekul asam nukleat virus dibungkus di
dalam kapsid, dan faga lengkapnya dilepaskan ketika sel inang lisis.
Kadangkala sebagian kecil dari DNA sel inang yang terdegradasi
menggantikan genom faga. Virus seperti ini cacat karena tidak memiliki
materi genetik sendiri. Walaupun demikian, setelah pelepasannya dari
inang yang lisis, faga dapat menempel pada bakteri lain dan
menginjeksikan bagian DNA bakteri yang didapatkan dari sel pertama.
Beberapa DNA ini kemudian dapat menggantikan daerah homolog dari
kromosom sel kedua. Kromosom sel ini sekarang memiliki kombinasi
DNA yang berasal dari dua sel sehingga rekombinasi genetik telah terjadi.
Jenis transduksi ini disebut dengan transduksi umum karena gen-gen
bakteri ditransfer secara acak.
3. Konjugasi dan Plasmid
Konjugasi merupakan transfer langsung materi genetik antara dua sel
bakteri yang berhubungan sementara. Proses ini, telah diteliti secara tuntas
pada E. Coli. Transfer DNA adalah transfer satu arah, yaitu satu sel
mendonasi (menyumbang) DNA, dan pasangannya menerima gen. Donor
DNA, disebut sebagai jantan, menggunakan alat yang
disebutpili seks untuk menempel pada resipien (penerima) DNA dan
disebut sebagai betina. Kemudian sebuah jembatan sitoplasmik sementara
akan terbentuk diantara kedua sel tersebut, menyediakan jalan untuk
transfer DNA.
Plasmid adalah molekul DNA kecil, sirkular dan dapat bereplikasi
sendiri, yang terpisah dari kromosom bakteri. Plasmid-plasmid tertentu,
seperti plasmid f, dapat melakukan penggabungan reversibel ke dalam
kromosom sel. Genom faga bereplikasi secara terpisah di dalam
sitoplasma selama siklus litik, dan sebagai bagian integral dari kromosom
inang selama siklus lisogenik. Plasmid hanya memiliki sedikit gen, dan
gen-gen ini tidak diperlukan untuk pertahanan hidup dan reproduksi
bakteri pada kondisi normal. Walaupun demikian, gen-gen dari plasmid ini
dapat memberikan keuntungan bagi bakteri yang hidup di lingkungan yang
banyak tekanan.
2.4 Pertumbuhan Bakteri
Istilah pertumbuhan umum digunakan untuk bakteri dan mikroorganisme
lain dan biasanya mengandung pada perubahan didalam hasil panen sel
(pertambahan total massa sel) dan bukan perubahan individu organisme.
Inokulum hampir mengandung ribuan organisme ; pertumbuhan menyatakan
pertambahan jumlah atau massa melebihi yang ada di dalam inokulum
asalnya. Selama massa pertumbuhan seimbang (balanced growth) yang akan
diuraikan kemudian, pertambahan massa bakteri berbanding lurus
(proporsional) dengan pertambahan komponen selular yang lain seperti
DNA,RNA dan Protein. Karena itu maka mungkinlah untuk mengembangkan
pengukuran bagi pertumbuhan dengan berbagai cara.
Laju pertumbuhan dan waktu generasi sebagaimana telah disebutkan,
cara khas reproduksi bakteri ialah pembelahan biner melintang;satu sel
membelah diri,menghasilkan dua sel. Jadi bila kita mulai dengan satu bakteri
tunggal, maka populasi bertambah secara geometric.
Selang waktu yang dibutuhkan bagi sel untuk membelah diri atau untuk
populasi menjadi dua kali lipat dikenal sebagai waktu generasi. Tidak semua
spesies bakteri mempunyai waktu generasi yang sama, seperti Escherichia coli
(suatu bakteri umum yang dijumpai di dalam saluran pencernaan manusia dan
binatang lain) dapat berlangsung sesingkat 15-20 menit; untuk yang lain
mungkin selama berjam-jam. Waktu generasi untuk suatu spesies bakteri
tertentu juga tidak sama pada segala kondisi. Waktu generasi juga amat
bergantung pada cukup tidaknya nutrien di dalam medium serta pada sesuai
tidaknya kondisi fisik.
Waktu generasi bakteri dapat ditentukan dengan pemeriksaan
mikroskopik langsung. Tetapi metode yang kebih praktis dan umum ialah
menginokulasi suatu medium dengan akteri dalam jumlah yang diketahui,
membiarkan mereka tumbuh pada kondisi optimum, dan menentukan populasi
pada interval waktu tertentu secara berkala. Data percobaan yang dibutuhkan
untuk menghitung waktu generasi ialah: (1) Jumlah bakteri yang ada pada
mulanya, yaitu di inokulum; (2) Jumlah bakteri yang ada pada akhir waktu
tertentu; dan (3) Interval waktu.
1. Daur Pertumbuhan Normal (Kurva Pertumbuhan)
Andaikanlah satu bakteri tunggal diinokulasikan pada suatu medium
dan memperbanyak diri dengan laju yang konstan. Bila kita
mempergunakan jumlah teoritis bakteri yang harus ada pada berbagai
interval waktu dan kemudian memetakan data tersebut dengan dua cara
(logaritma jumlah bakteri pada waktu, dan jumlah bakteri terhadap waktu),
maka kita akan memperoleh kurva.
Namun, ini tidak mewakili pola pertumbuhan yang normal, melainkan
hanya merupakan satu bagian terpilih dari kurv pertumbuhan normal
kurva, yaitu fase pertumbuhan eksponensial atau logaritma (biasanya
disebut fase log).
Disini, populasi bertambah secara teratur, menajdi 2 kali lipat pada
interval waktu tertentu (waktu generasi) selama inkubasi; fase
pertumbuhan ini disebut juga pertumbuhan seimbang. Di dalam
kenyataannya, bila kita menginokulasikan jumlah tertentu sel pada suatu
medium yang segar, lalu menentukan populasi bakteri tersebut pada waktu
waktu tertentu selama periode inkubasi 24 jam (lebih atau kurang), dan
memetakan logaritma jumlah sel terhadap waktu, maka kita memperoleh
suatu kurva. Waktu generasi suatu bakteri dapat dihitung dengan
menggunakan rumus berikut:
G = t/3,3 log (b/B)
Keterangan :
G = waktu generasi
t = selang waktu antara penukuran jumlah sel di dalam populasi
pada suatu saat dalam fase log (B) dan kemudian lagi pada suatu titik
waktu kemudian (b).
B = populasi awal
B = populasi setelah waktu t
Log = log10
3,3 = faktor konversi log2 menjadi log10
Ciri-ciri tambahan yang berkaitan dengan setiap dari keempat fase
pertumbuhan. Sebagaimana telah diutarakan sebelumnya, pertumbuhan
satu biakkan dimanipulasi beberapa cara. Sebagai contoh, secara
eksperimental semua sel dipertahankan tepat pada stadium pertumbuhan
yang sama (pertumbuhan sinkron) selama suatu jangka waktu yang lama.
Juga mungkin untuk memperpanjang pertumbuhan fase log dengan terus
menerus menyediakan nutrien dengan cara penyingkiran serentak medium
yang lama telah digunakan. Ini disebut biakkan sinambung.
2. Pengukuran Kuantitatif Pertumbuhan
Kita telah melihat bawha istilah pertumbuhan sebagaimana digunakan
pada bakteri mengacu pada perubahan dalam populasi total dan bukannya
perubahan dalam suatu individu organisme saja. Tambahan pula, pada
kondisi pertumbuhan seimbang ada suatu pertambahan semua komponen
seluler secara teratur. Akibatnya, pertumbuhan dapat ditentukan tidak
hanya dengan cara mengukur jumlah sel tetapi juga dengan mengukur
jumlah berbagai komponen seluler (RNA, DNA, Protein) dan juga produk
produk metabolisme tertentu.
Tersedia banyak teknik laboratorium untuk mengukur pertumbuhan
bakteri; alat-alatnya berkisar dari peralatan sederhana seperti sebuah kaca
objek dengan olesan yang diwarnai yang volumenya diketahui (hitungan
mikroskopis) sampai kepada alat-alat elektronik modern yang mengukur
fotoluminesens senyawa-senyawa yang dihasilkan oleh beberapa spesies
bakteri. Beberapa dari teknik-teknik ini serta penerapannya.
3. Pentingnya Pengukuran Pertumbuhan
Sebelum kita dapat mengevaluasi atau menafsirkan respons
pertumbuhan bakteri dalam berbagai media atau pada kondisi yang
berbeda-beda, kita harus menyatakan pertumbuhan secara kuantitatif.
Dalam mikrobiologi, istilah pertumbuhan ditafsirkan dalam beberapa
cara.sebagai contoh, mungkin suatu perangkat tertentu kondisi pembiakan
dinilai sama baiknya karena bakteri tumbuh cepat pada stadia awal, tetapi
panen sel total akhir belum tentu sebanyak seperti yang dapat diperoleh
pada seperengkat lain kondisi yang membuat laju pertumbuhan pada
tahap-tahap lebih lambat. Situasi semacam itu diperlihatkan secara
skematis yaitu pertumbuhan spesies bakteri yang sama dibandingkan
dalam dua medium yang berbeda.
2.5 Faktor-Faktor Pertumbuhan Bakteri
Pertumbuhan bakteri dipengaruhi faktor-faktor fisik dan nutrisi. Faktor-
faktor fisik termasuk pH, suhu, kelembapan, konsentrasu oksigen, dan tekanan
osomosis. Faktor nutrisi termasuk ketersediaan sel akan sumber karbon,
sumber nitrogen, kehadiran beberapa materi untuk pertumbuhan di dalam
llingkungan seperti sulfur, fosfor, bahan bahan logam dan, untuk beberapa
kasus, vitamin.
pH optimum untuk kebanykan pertumbuhan bakteri adalah sekitar 7,0.
Sel-sel yang tumbuh pada pH sekitar 5,4 sampai 8,5 diklasifikasikan sebagai
neutrofil, dan kebanyakan bakteri yang menyebabkan penyakit pada manusia
tumbuh dia areal tersebut. Selama pertumbuhan, bakteri seringkali
menghasilkan produk sisa metabolik-baik asam maupun basa yang akan
menganggu pertumbuhan mereka sendiri. Untuk mencegah hal ini, media
laboratorium umumnya mengandung dapar seperti fosfat untuk
mempertahankan pH lingkungan untuk pertumbuhan yang baik.
Kebanyakan bakteri tumbuh terbaik pada suhu 350-370C. Patogen bagi
manusia, bakteri yang menyebabkan penyakit dan infeksi pada manusia,
adalah mesofil yang tumbuh pada suhu 24-400C. Kisaran suhu saat organisme
yang lain tumbuh dengan baik adalah suhudisaat enzim berfungsi maksimal.
Bakteri yang secara aktif melakukan metabolisme nutrisi membutuhkan
lingkungan air untuk kelangsungan hidupnya. Faktanya, kebanyakan sel-sel
vegetatif hanya dapat bertahan beberapa jam saja tanpa kelembapan. Sel-sel
pembentuk spora dapat memiliki yang tetap tidur atau tidak aktif dalam
kondisi yang kering untuk kurun waktu tertentu.
Konsentrasi oksigen di dalam lingkungan tempat bakteri tumbuh
membagi bakteri menjadi dua kategori besar : aerob yang membutuhkan O2
dilingkungannya untuk bertahan hidup dan anerob yang tidak membutuhkan
O2 dilingkungannya. Aerob obligat harus memiliki O2 sedangkan anaerob
obligat akan mati dengan adanya O2. O2 dibutuhkan untuk respirasi bakteri
aerob ,dan menjadi faktor pembatas yang akan menentukan kecepatan
pertumbuhan bakteri. Mikroba seperti Escherichia coli digunakan dalam
praktikum ini, dan staphylococcus aureus merupakan anaerob fakultatif.
Organisme-organisme tersebut melanjutkan metabolisme aerobik ketika
terdapat oksigen namun berubah menjadi metabolisme anaerobik ketika tidak
terdapat oksigen. Anaerob fakultatif memiliki sistem enzim yang paling
kompleks karena satu set enzim memungkinkan mereka menggunakan
oksigen sebagai akseptor elektif dan set enzim lainnya digunakan ketika tidak
ada oksigen. Sebagai tambahan dari kategori-kategori tersebut
adalah mikroaerofil, yang lebih menyukai konsentrasi oksigen antara aerob
obligat dan anaerob obligat. Mikroaerofil umumnya kapneik (kapnofil); yaitu
mereka lebih menyukai konsentrasi dari karbon dioksida yang ditemukan pada
hewan (3-10%) dibandingkan karbon dioksida yang ditemukan di atmosfer.
Tekanan osmosis adalah pengaturan pergerakan air didalam dan diluar sel
yang ditentukan oleh jumlah bahan terlarut yang terdapat pada medium
dengan jumlah bahan terlarut yang tinggi akan kehilangan air ke
lingkungannya dan menyusut. Sebaliknya sel-sel didalam air dengan hampir
tanpa bahan terlarut yang justru akan membengkak dan pecah. Kebanyakan
media pertumbuhan di laboratorium mengandung sejumlah bahan terlarut
yang tepat untuk memungkinkan sel hidup dengan memperbanyak diri tanpa
hambatan yang disebabkan oleh perubahan tekanan osmosis. Beberapa bakteri
seperti S. aureus adalah halofil atau organisme suka-garam ysng
menginginkan garam dalam jumlah sedang sampai banyak (natrium klorida).
Organisme-organisme ini memiliki dinding dan membran sel yang toleran
terhadap konsentrasi garam yang tinggi dan tidak mengalami interupsi fungsi
metabolik.
Secara nutrisi, bakteri membutuhkan karbon, nitrogen, sulfur, fosfor dan
mineral. Bakteri yang membutuhkan nutrisi khusus disebut
sebagai fastidious. Organisme-organisme tersebut membutuhkan bahan
tambahan yang khusus pada medium pertumbuhan seperti beragam
vitamin,darah,atau komponen serum yang memungkinkan pertumbuhan dapat
terjadi. Sumber karbon digunakan oleh bakteri sebagai sumber energi
metabolik yang utama. Glukosa adalah sumber karbon yang paling umum dan
di metabolisme melalui proses glikolisis, siklus krebs, atau dengan
fermentasi. Sumber nitrogen umumnya disediakan dengan menambah asam
amino, peptida, pepton, atau asam nukleat. Bahan-bahan biokimia tersebut
secara berturut-turut digunakan sebagai bahan pembangun untuk
memproduksi protein bakteri atau DNA/RNA. Nitrogen juga dapat menjadi
bahan tambahan pada medium pertumbuhan dalam bentuk ion-ion nitrat atau
ammonium. Sulfur adalah mineral yang digunakan oleh bakteri untuk sintesis
asam amino mengandung sulfur dan untuk produksi protein
structural. Fosfor adalah mineral yang digunakan dalam sintesis ion fosfat
yang digunakan oleh sel-se untuk mensistesis ATP, fosfolipid, dan asam
nukleat. Beberapa mineral seperti kalsium, tembaga, seng, besi,
magnesium,dan mangan digunakan sebagai faktor untuk mengaktivasi enzim-
enzim ; besi khususnya digunakan untuk mensitesis molekul-molekul heme,
dan kalsium dibutuhkan oleh bakteri Gram-positif untuk mensintesis dinding
sel dan juga digunakan oleh bakteri pembentuk-spora untuk memproduksi
spora. Jika dibutuhkan oleh bakteri untuk pertumbuhan, vitamin digunakan
untuk memproduksi molekul-molekul koenzim.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bakteri seperti makhluk hidup lainnya, melakukan reproduksi untuk
mempertahankan spesiesnya. Cara-cara reproduksi pada mikroorganisme
umumnya secara seksual dan aseksual.
Perkembang biakan aseksual dilakukan dengan pembelahan biner. Setiap
sel membelah secara melintang dan sel hasil pembelahan membentuk koloni
bakteri. Sedangkan perkembang biakan secara seksual dilakukan tanpa
melibatkan gamet dan peleburan sel, tetapi berupa pertukaran materi genetic
atau DNA.
DAFTAR PUSTAKA
Sears,Spear,Saenz. 2011. Intisari Mikrobiologi & Imunologi. Kedokteran EGC.

Louise B.hawley. 2003. Intisari Mikrobiologi & Penyakit Infeksi. Hipokrates

Pollack, dkk. 2016. Praktik Laboratorium Mikrobiologi edisi 4. Buku Kedokteran


EGC.

Plelczar dan Chan. 2013. Dasar-dasar Mikrobiologi. Penerbit UI.