Anda di halaman 1dari 3

Skenario 1

Bayiku terlahir terlalu cepat....


Seorang ibu datang dengan KPD dan harus segera dilakukan terminasi. Saat lahir, bayi tidak
langsung menangis, tonus otot lemah, ketuban jernih dengan BBL 2000 g. Dilakukan resusitasi pada bayi
dan menunjukkan perkembangan yang baik. Bayi bernafas tetapi cepat dan merintih, denyut jantung >
100x/menit. Bayi kemudian ditatalaksana dengan pemberian vitamin K 1x 1mg (im), imunisasi hepatitis
B 1x 0,5 mg (im), tali pusat dipotong, kemudian diletakkan dalam inkubator dengan suhu tubuh
dipertahankan 36,5 C –37,5 C dan dirawat di ruang perinatologi. Skor APGAR 1-3-5.
Pemeriksaan fisik setelah bayi berada di ruang didapatkan ballard score 24 sesuai dg usia
kehamilan 32-34 minggu, HR 142 x/menit, RR 40-50 x/menit, Tax 37 C, saturasi 90% (tanpa oksigen).
Dari evaluasi down score bayi didapatkan nilai 3. Bayi ditatalaksana dengan pemberian oksigenasi nasal 1
lpm, infus cairan D10%, injeksi ampicilin sulbactam 2x 100mg, Dipasang orogastric tube dan diet ASI
12 x 2-3cc (tropic feeding).
Skenario 2

Kasihan anakku...
Seorang anak X berusia 2 tahun dengan BB 12 kg datang ke UGD dibawa oleh orang tuanya
dengan keluhan kejang. Menurut orang tuanya kejang sudah berlangsung selama 3 menit, berupa mata
melirik ke atas, tangan dan kaki kaku. Saat kejang anak tidak sadar. Saat tiba di UGD dokter
memasangkan oksigen kemudian memasukkan obat diazepam suppositoria (10 mg). Saat tiba di UGD
kejang sudah berhenti dan anak sadar. Dari riwayatnya diketahui bahwa anak menderita demam 6 jam
sebelum kejang. Tidak ada riwayat kejang sebelumnya.
Pemeriksaan fisik saat di UGD GCS 456, kaku kuduk (-), tetapi masih demam dengan suhu 39 C,
RR 20 x/menit, N 120x/menit. Kemudian dilakukan pemasangan infus NaCl 500cc/24 jam, pemberian
paracetamol (iv) 120 mg serta dilakukan tepid sponge. Anak selanjutnya dirawat di RS untuk observasi
lebih lanjut, diberikan oksigen nasal 2 lpm. Dari hasil pemeriksaan darah lengkap dalam batas normal,
GDA dan serum elektrolit juga dalam batas normal. Keluarga di berikan edukasi mengenai beberapa
kemungkinan diagnosis dan tatalaksana awal pada pasien.
Skenario 3

Liburan yang Membawa Derita


Tina, Balita perempuan berusia 5 tahun dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Kota
malang oleh Ibunya dengan keluhan demam yang terjadi sejak 1 minggu yang lalu. Demam sempat
turun ke suhu yang normal ketika pagi hari lalu sore hari demam kembali meningkat. Keluhan demam
disertai menggigil selama 30 menit. Pasien juga mengeluh nyeri kepala, nyeri perut, mual serta muntah.
Beberapa hari ini Tina juga sering mimisan. Ibunya mengatakan sejak timbul keluhan, nafsu makan
Tina menurun. Sebelumnya Tina baru datang dari Papua 2 minggu yang lalu bersama ibunya menjenguk
ayahnya yang bekerja sebagai tentara di sana. Keluarga pasien tidak ada yang memiliki penyakit serupa.
Sebelumnya Tina sudah diberikan obat penurun panas oleh ibunya tetapi keluhannya tidak kunjung
membaik. Dokter UGD menyarankan Tina untuk dilakukan pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan
mikroskopis berupa sedian darah tebal dan tipis serta tes Gula darah Acak.
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan:
Keadaan Umum : Lemah tampak sakit berat. TB: 100 cm, BB: 20 kg
Vital Sign : Tekanan darah: 90/60 mmHg, Nadi 120 x/menit, RR : 40x/menit, Suhu: 39,5○C.
Kepala: Konjungtiva pucat, mata cekung, bibir kering
Leher : Pembesaran KGB (-).
Thorax : Jantung dan Paru dalam batas normal.
Abdomen : didapatkan kesan normal pada inspeksi, bising usus normal, nyeri pada palpasi regio
epigastrium, pada palpasi limpa juga teraba pada schuffner 3 dengan konsistensi keras.
Pemeriksaan Laboratorium
Hemoglobin (Hb) : 7,5 g/dL, Hematokrit (Ht) : 21 %, Trombosit : 100.000/ mm3, Leukosit
20.000/mm3,
Sediaan darah tebal: Ditemukan stadium tropozoit (sitoplasma teratur, gambaran uniform)
Sediaan darah tipis : Ditemukan sel darah merah yang terinfeksi parasit, ukuran sel darah merah
normal, eritrosit mengkerut dengan bagian tengah berwarna merah muda dan bagian tepinya lebih gelap,
ditemukan titik Maurer.
Gula darah Acak: 80 mg/dL
Pasien disarankan oleh dokter untuk di rawat di Rumah Sakit karena harus di terapi dan di pantau
kondisinya.