Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN

ISOLASI SOSIAL

Oleh :
Fatimatussany
17 1101 1058

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2018
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Pengertian
Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang
karena orang lain menyatakan sikap negatif atau mengancam. (Ermawati
Dalami, et. All, 2009, hal. 2).
Isolasi sosial merupakan suatu gangguan hubungan interpersonal yang terjadi
akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku
maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam berhubungan sosial.
(Depkes RI, 2000, hal. 114).
Isolasi sosial adalah sulit untuk berhubungan dengan orang lain ketika konsep
diri tidak jelas. (Sheila L. Videbeck, 2008, hal. 364).
B. Psikodinamika
1. Etiologi
Klien dengan masalah isolasi sosial didapatkan etiologi antara lain karena
mengalami masalah dalam hal kepercayaan dan keintiman dengan orang
lain, harga diri yang rendah yang menyulitkan kemampuan klien untuk
berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan, adanya rasa tidak percaya
diri, merasa asing atau berbeda dari orang lain, tidak percaya bahwa
mereka adalah individu yang berharga, kegagalan perkembangan, ragu,
rasa takut salah, pesimis, dan rasa putus asa, terhadap hubungan dengan
orang lain. (Sheila L. Videbeck, 2008, hal. 364)

2. Proses perjalanan penyakit


Salah satu gangguan berhubungan sosial diantaranya perilaku menarik diri
atau isolasi sosial yang disebabkan oleh perasaan tidak berharga, yang bisa
dialami oleh klien dengan latar belakang yang penuh dengan
permasalahan, ketegangan, kekecewaan dan kecemasan. Perasaan tidak
berharga menyebabkan klien makin sulit dalam mengembangkan
hubungan dengan orang lain. Klien semakin tenggelam dalam perjalanan
dan tingkah laku masa lalu serta tingkah laku primitif, antara lain
pembicaraan yang autistik dan tingkah laku yang tidak sesuai dengan
kenyataan, sehingga berakibat lanjut menjadi halusinasi. (Ermawati
Dalami, et. All, 2009, hal. 10)
3. Komplikasi. (Ermawati Dalami, et. All, 2009).
Isolasi Sosial apabila tidak ditangani secara komprehensif melalui asuhan
keperawatan dan terapi medik maka keadaan tersebut akan berlanjut
menjadi Halusinasi, Defisit Perawatan Diri dan Curiga.
C. Rentang Respon
Sebagai mahluk sosial manusia membutuhkan orang lain dan lingkungan
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Manusia tidaka akan
mampu memenuhi kebutuhan hidup tanpa adanya hubungan dengan orang
lain dan lingkungan sosial yang berada dalam rentang respon adaptif hingga

respon maladaptive.

1. Respon adaptif adalah respon yang dapat diterima oleh norma- norma
sosial budaya yang berlaku. Dengan kata lain individu tersebut dalam
batas normal jika menghadapi suatu masalah akan dapat memecahkan
masalah tersebut. Respon adaptif meliputi :
a. Pikiran logis adalah pandangan yang mengarah pada kenyataan.
b. Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan.
c. Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul dari
pengalaman ahli.
d. Perilaku sosial adalah sikap dan tingkah laku yang masih dalam
batas kewajaran.
e. Hubungan sosial adalah proses suatu interaksi dengan orang lain dan
lingkungan.
2. Respon psikososial meliputi :
a. Proses pikir terganggu adalah proses pikir yang menimbulkan
gangguan.
b. Ilusi adalah miss interpretasi atau penilaian yang salah tentang
penerapan yang benar-benar terjadi (objek nyata) karena rangsangan
panca indera.
c. Emosi yang berlebihan atau berkurang.
d. Perilaku tidak biasa adalah sikap dan tingkah laku yang melebihi
batas kewajaran.
e. Menarik diri yaitu percobaan untuk menghindar interaksi dengan
orang lain.
3. Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah
yang menyimpang dari norma-norma sosial budaya dan lingkungan,
adapun respon maladaptif meliputi :
a. Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh dipertahankan
walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan
kenyataan sosial.
b. Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah atau persepsi
eksternal yang tidak realita atau tidak ada.
c. Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesuatu yang timbul dari
hati.
d. Perilaku tidak terorganisir merupakan suatu perilaku yang tidak
teratur.
e. Isolasi sosial adalah kondisi kesendirian yang dialami oleh individu
dan diterima sebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagai suatu
kecelakaan yang negatif mengancam. (Dalami, 2009 : hal.22).

D. Asuhan Keperawatan
Pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang
melibatkan hubungan kerjasama antara perawat dengan klien, keluarga dan
masyarakat, untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal, proses
keperawatan bertujuan untuk memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan
kebutuhan dan masalah klien sehingga mutu pelayanan keperawatan menjadi
optimal. Kebutuhan dan masalah klien dapat diidentifikasi, diprioritaskan
untuk dipenuhi, serta diselesaikan.(Budi Anna Keliat, 2006, Hal.1).
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses
keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan
perumusan kebutuhan atau masalah klien, data yang dikumpulkan
meliputi data biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Dari pengkajian
kesehatan jiwa dapat dikelompokan menjadi faktor predisposisi, faktor
presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan
yang dimiliki. .(Budi Anna Keliat, 2006, Hal.3)
a. Faktor Predisposisi
1) Faktor Perkembangan
Pada dasarnya kemampuan hubungan sosial berkembang
menjadi atau sesuai dengan proses tumbuh kembang individu
mulai dari bayi sampai dengan usia lanjut. Untuk
mengembangkan hubungan sosial yang positif, setiap tugas
perkembangan sepanjang umur kehidupan diharapkan dilalui
dengan sukses. Kemampuan berperan serta dalam proses
hubungan diawali dengan kemampuan tergantung pada masa
bayi dan berkembang pada masa dewasa dengan kemampuan
saling (tergantung dan mandiri).
a) Masa Bayi
Bayi sangat tergantung pada orang lain dalam pemenuhan
kebutuhan biologis dan psikologisnya. Bayi umumnya
menggunakan komunikasi yang sangat sederhana dalam
menyampaikan kebutuhannya. Menangis untuk semua
kebutuhan, respon lingkungan, (ibu atu pengasuh) terhadap
kebutuhan bayi harus sesuai agar berkembang rasa percaya
diri bayi akan respon atau perilakunya dan rasa percaya
terhadap orang lain. Kegagalan pemenuhan kebutuhan bayi
melalui ketergantungan pada orang lain akan
mengakibatkan rasa tidak percaya pada diri sendiri dan
orang lain serta menarik diri.
b) Masa Prasekolah
Anak pra sekolah mulai memperluas hubungan sosialnya
diluar lingkungan keluarga khususnya ibu atu pngasuh,
anak menggunakan kemampuan berhubungan yang telah
dimiliki untuk berhubungan dengan lingkungan diluar
keluarga, dalam hal ini anak membutuhkan dukungan dan
bantuan dari keluarga khususnya pemberian pengakuan
yang positif terhadap perilaku anak yang adaptif, hal ini
merupakan dasar rasa otonomi yang berguna untuk
mengembangkan kemampuan hubungan interdependen.
Kegagalan anak dalam berhubungan dengan lingkungan
disertai respon keluarga yang negatif akan mengakibatkan
anak menjadi tidak mampu mengontrol diri, tidak mandiri
(tergantung), ragu, menarik diri dari lingkungan, kurang
percaya diri, pesimis takut perilakunya salah.

c) Masa Sekolah
Anak mulai mengenal hubungan yang lebih luas khususnya
lingkungan sekolah, pada usia ini anak mulai mengenal
bekerja sama, kompetisi, kompromi, konflik sering terjadi
dengan orang tua karena pembatasan dan dukungan yang
tidak konsisten, teman dengan orang dewasa diluar keluarga
(guru, orang tua, teman) merupakan sumber pendukung
yang penting bagi anak. Kegagalan dalm membina
hubungan dengan teman disekolah, kurangnya dukungan
guru dan pembatasan serta dukungan yang tidak konsisten
dari orang tua mengakibatkan anak frustasi terhadap
kemampuannya, putus asa, merasa tidak mampu, menarik
diri dari lingkungan.
d) Masa Remaja
Pada usia ini anak mengembangkan hubungan intim dengan
teman sebaya dan sejenis dan umumnya mempunyai
sahabat karib, hubungan dengan teman sangat tergantung,
sedangkan hubungan dengan orang tua mulai independent.
Kegagalan membina hubungan dengan teman dan
kurangnnya dukungan orang tua, akan mengakibatka
keraguan akan identitas, ketidak mampuan mengidentifikasi
karir dan rasa percaya diri kurang.
e) Masa Dewasa Muda
Pada usia ini individu mempertahankan hubungan
interdependent dengan orang tua dan teman sebaya,
individu belajar mengambil keputusan dengan
memperhatikan saran dan pendapat orang lain seperti
memilih pekerjaan, perkawinan, akan mengakibatkan
individu menghindari hubungan intim, menjauhi orang lain,
putus asa akan karir.
f) Masa Dewasa Tengah
Individu pada dewasa tengah umumnya telah pisah tempat
tinggal dengan orang tua, khususnya individu yang telah
menikah. Jika ia telah menikah maka peran menjadi orang
tua dan mempunyai hubungan antar orang dewasa
merupakan situasi tempat menguji kemampuan hubungan
interdependent. Individu yang perkembangannya baik akan
dapat mengembangkan hubungan dan dukungan yang baru.
Kegagalan pisah tempat dengan orang tua, membina
hubungan yang baru, dan mendapatkan dukungan dari
orang dewasa lain akan mengakibatkan perhatian hanya
tertuju pada diri sendiri, produktifitas dan kreatifitas
berkurang, perhatian pada orang lain berkurang.
g) Masa Dewasa Lanjut
Pada masa ini individu akan mengalami kehilangan, baik itu
kehilangan fungsi fisik, kegiatan, pekerjaan, teman hidup
(teman sebaya dan pasangan), anggota keluarga (kematian
orang tua). Individu tetap memerlukan hubungan yang
memuaskan dengan orang lain, individu yang mengalami
perkembangan yang baik dapat menerima kehilangan yang
terjadi dalam kehidupannya dan mengakui bawa dukungan
orang lain dapat membantu dalam menghadapi
kehilangannya. Kegagalan individu untuk menerima
kehilangan yang terjadi pada kehidupan serta menolak
bantuan yang disediakn untuk membantu akan
mengakibatkan perilaku menarik diri.

2) Faktor Komunikasi Dalam Keluarga


Gangguan komunikasi dalm keluarga merupakan faktor
pendukung untuk terjadinya gangguan dalam hubungan sosial.
Dalam teori ini termasuk masalah komunikasi yang tidak jelas
(double bind) yaitu suatu keadaan diman seoarng anggota
keluarga menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu
bersamaan, ekpresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang
menghambat unutk berhubungan dengna lingkungan diluar
keluarga. (Depkes RI, 2000, hal 117).

3) Faktor Sosial Budaya


Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial
merupakan suatu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam
hubungan sosial. Hal ini disebabkan oleh norma-norma yang
salah dianut oleh keluarga, dimana setiap anggota keluarga yang
tidak produktif seperti usia lanjut, penyakit kronis, dan
penyandung cacat diasingkan dari lingkungan sosialnya.
(Depkes RI, 2000, hal.117).

4) Faktor Biologis
Faktor biologis juga merupakan salah satu faktor pendukung
terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Organ tubuh yang
jelas dapat mempengaruhi terjadinya gengguan hubungan sosial
adalah otak. Sebagai contoh pada klien skizoprenia yang
mengalami masalah dalam hubungan sosial terdapat struktur
yang abnormal pada otak seperti atropi otak, perubahn ukuran
dan bentuk sel-sel dalam limbic dan kortikal. (Depkes RI, 2000,
hal 117).

b. Faktor presipitasi (Depkes RI, 2000)


Faktor presipitasi terjadinya gangguan hubungan sosial juga dapat
ditimbulkan oleh faktor internal dan eksternal seseorang. Faktor
stressor presipitasi dapat dikelompokan sebagai berikut :
1) Faktor Eksternal
Stressor sosial budaya, yaitu stress dapat ditimbukan oleh faktor
sosial budaya yang antara lain adalah keluarga.

2) Faktor Internal
Stressor psikologik, yaitu akibat ansietas yang bekepanjangan
dan terjadi bersmaan dengan keterbatasan kemampuan individu
untuk mengatasinya. Ansietas ini dapat terjadi akibat tuntutan
untuk berpisah dengan orang terdekat atau tidak terpenuhinya
kebutuhan ketergantungan individu.

c. Manifestasi klinis (Ermawati Dalami, et. All, 2009)


1) Apatis, ekspresi wajah sedih, afek tumpul.
2) Menghindar dari orang lain (menyendiri), klien memisahkan diri
dari orang lain.
3) Komunikasi kurang, klien tampak tidak bercakap-cakap dengan
klien lain atau perawat.
4) Tidak ada kontak mata atau kontak mata kurang.
5) Klien lebih sering menunduk dan berdiam diri dikamar.
6) Menoalak berhubungan dengan orang lain dan tidak melakukan
kegiatan sehari-hari.
7) Meniru posisi janin pada saat tidur.
8) Menjawab dengan singkat dengan kata-kata
“ya”,”tidak”dan”tidak tahu”.

d. Mekanisme Koping (Depkes RI, 2000)


Mekanisme koping adalah segala usaha yang diarahkan untuk
menanggulangi stress. Usaha ini dapat berorientasi pada tugas dan
meliputi usaha pemecahan masalah langsung :
1) Regresi : Kemunduran akibat stress terhadap perilaku dan
merupakan ciri khas dari suatu taraf perkembangan yang dini.
2) Represi : pengesampingan secara tidak sadar tentang pikiran,
impuls atau ingatan yang menyakitkan atu bertentangan, dari
kesadaran seseorang merupakan pertahanan ego yang primer
yang cenderung diperkuat oleh mekanisme lain.
3) Isolasi : Pemisahan unsur emosional dari suatu pikiran yang
mengganggu dapat bersifat sementara atau berjangka panjang.

e. Sumber Koping
Sumber koping adalah suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan
strategi seseorang. Contoh sumber koping yang berhubungan dengan
respon maladaptif termasuk :
1) Keterlibatan dalam hubungan yang luas dalam keluarga dan
teman.
2) Hubungan dengan hewan peliharaan.
3) Gunakan kreativitas untuk mengekspresikan stress interpersonal
seperti kesenian, musik, tulisan, atau olahraga.
f. Pohon Masalah

g. Test diagnostik/penunjang
1) Minuset Multhiphasic Personality Inventary (MMPI)
Adalah suatu bentuk pengujian yang dilakukan oleh psikiater
dan psikolog dalam menentukan kepribadian seseorang yang
terdiri dari 566 pertanyaan benar atau salah.
2) Neuropsikologik
Adalah suatu pemeriksaan dalam psikiatri untuk membantu
membedakan etiologi fungsional dan organic dalam kemajuan
status mental.
3) Elektro Ensefalo Grafi (EEG)
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui adanya dugaan
gangguan mental organic, dugaan koping dan karakteristik
gangguan tidur. Pada abnormal mempunyai suatu keadaan
organic, organitas, menyingkirkan epilepsi, lobus temporalis,
neuroplasma.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinik tentang respon individu,
keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau
potensial, sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai
tujuan asuhan keperawatan.(Nursalam, 2001).
Rumusan diagnosa keperawatan pada keperawatan jiwa adalah diagnosa
tunggal. ( Budi Anna Keliat, 2006)
Adapun diagnosa keperawatan yang ditemukan pada klien dengan isolasi
sosial adalah :
a. Isolasi Sosial.
b. Harga Diri Rendah.
c. Resiko Gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi.

3. Perencanaan Keperawatan
Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah,
mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasi pada
diagnosa keperawatan. Tahap ini dimulai setelah menentukan diagnosa
keperawatan dan menyimpulkan rencana dokumentasi. .(Nursalam,
2001).
Perencanaan keperawatan terdiri dari tiga aspek, yaitu tujuan umum,
tujuan khusus, dan rencana tindakan keperawtan. Tujuan umum dan
tujuan khusus berfokus pada penyelesaian masalah (P) dari diagnosis
tertentu. Tujuan umum dapat dicapai jika serangkaian tujuan khusus telah
tercapai ( Budi Anna Keliat, 2006).
Rencana Tindakan Keperawatan :
1. Diagnosa 1 : Isolasi Sosial
Tujuan Umum : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain.
Tujuan Khusus 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Kriteria Evaluasi : Setelah ... x interaksi selama 15 menit
diharapkan klien menunjukkan tanda-tanda percaya kepada /
terhadap perawat : wajah cerah, tersenyum, mau berkenalan, ada
kontak mata, bersedia menceritakan perasaan, bersedia
mengungkapkan masalahnya.
Rencana Tindakan :
a. Bina hubungan saling percaya dengan :
1) Beri salam setiap berinteraksi.
2) Perkenalkan nama, nama panggilan perawat dan tujuan
perawat berkenalan.
3) Tanyakan dan panggil nama kesukaan klien.
4) Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali
berinteraksi.
5) Buat kontrak interaksi yang jelas.
6) Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien.
Tujuan Khusus 2 : Klien mampu menyebutkan penyebab menarik
diri.
Kriteria Evaluasi : Setelah ... x interaksi dengan klien diharapkan
klien dapat menyebutkan minimal satu penyebab menarik diri dari
diri sendiri orang lain dan lingkungan.
Rencana Tindakan :
a. Tanyakan pada klien tentang :
1) Orang yang tinggal serumah atau teman sekamar klien.
2) Orang yang paling dekat dengan klien dirumah atau diruang
perawatan.
3) Apa yang membuat klien dekat dengan orang tersebut.
4) Orang yang tidak dekat dengan klien dirumah atau diruang
perawatan.
5) Apa yang membuat klien tidak dekat dengan orang tersebut.
6) Upaya yang sudah dilakukan agar dekat dengan orang lain.
b. Diskusikan dengan klien penyebab menarik diri atau tidak mau
bergaul dengan orang lain.
c. Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan
perasaannya.
Tujuan khusus 3 : Klien mampu menyebutkan keuntungan
berhubungan sosial dan kerugian menarik diri.
Kriteria Evaluasi : Setelah ... x interaksi dengan klien diharapkan
klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan sosial,
misalnya banyak teman, tidak kesepian, bisa diskusi, saling
menolong.
Rencana Tindakan :
a. Tanyakan pada klien tentang :
1) Manfaat hubungan sosial.
2) Kerugian menarik diri.
b. Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan sosial
dan kerugian menarik diri.
c. Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan
perasaannya.
Tujuan Khusus 4 : Klien dapat melaksanakan hubungan sosial
secara bertahap.
Kriteria Evaluasi : Setelah ... x interaksi dengan klien diharapkan
klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap dengan
perawat, perawat lain, klien lain, kelompok.
Rencana Tindakan :
a. Observasi perilaku klien saat berhubungan sosial.
b. Beri motivasi dan bantu klien untuk berkenalan atau
berkomunikasi dengan :
1) Perawat lain.
2) Klien lain.
3) Kelompok.
c. Libatkan klien dalam Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi.
d. Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan kemampuan klien bersosialisasi.
e. Beri motivasi klien untuk melakukan kegiatan sesuai dengan
jadwal yang telah dibuat.
f. Beri pujian terhadap kamampuan klien memperluas
pergaulannya melalui aktivitas yang dilaksanakan.
Tujuan Khusus 5 : Klien mampu menjelaskan perasaannya
setelah berhubungan sosial.
Kriteria Evaluasi : Setelah ... x interaksi dengan klien diharapkan
klien dapat menjelaskan perasaannya setelah berhubungan sosial
dengan orang lain dan kelompok.
Rencana Tindakan :
a. Diskusikan dengan klien tentang perasaannya setelah
berhubungan sosial dengan :
1) Orang lain.
2) Kelompok.
b. Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan
perasaannya
Tujuan Khusus 6 : Klien dapat dukungan keluarga dalam
memperluas hubungan sosial.
Kriteria Evaluasi : Setelah ... x pertemuan diharapkan keluarga
dapat menjelaskan tentang pengertian menarik diri, tanda dan
gejala menarik diri, penyebab dan akibat menarik diri, cara
merawat klien menarik diri.
Setelah ... x pertemuan keluarga dapat mempraktekkan cara
merawat klien menarik diri.
Rencana Tindakan :
a. Diskusikan pentingnya peran serta keluarga sebagai pendukung
untuk mengatasi perilaku menarik diri.
b. Diskusikan potensi keluarga untuk membantu klien mengatsi
perilaku menarik diri.
c. Jelaskan pada keluarga tentang :
1) Pengertian menarik diri.
2) Tanda dan gejala menarik diri.
3) Penyebab dan akibat menarik diri.
4) Cara merawat klien menarik diri.
d. Latih keluarga cara merawat klien menarik diri.
e. Tanyakan perasaan keluarga setelah mencoba cara yang
dilatihkan.
f. Beri motivasi keluarga agar membantu klien untuk
bersosialisasi.
g. Beri pujian kepada keluarga atas keterlibatannya merawat klien
dirumah sakit.
4. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Medis (Dalami, et.all, 2009 : hal.120)
Isolasi sosial termasuk dalam kelompok penyakit skizofrenia tak
tergolongkan maka jenis penatalaksanaan medis yang bisa dilakukan
adalah :
1) Electro Convulsive Therapy (ECT)
Electro Convulsive Therapy (ECT) adalah suatu jenis
pengobatan dimana arus listrik digunakan pada otak dengan
menggunakan 2 elektrode yang ditempatkan dibagian temporal
kepala (pelipis kiri dan kanan). Arus tersebut menimbulkan
kejang grand mall yang berlangsung 25-30 detik dengan tujuan
terapeutik. Respon bangkitan listriknya di otak menyebabkan
terjadinya perubahan faal dan biokimia dalam otak.
Indikasi :
a) Depresi mayor
(1) Klien depresi berat dengan retardasi mental, waham,
tidak ada perhatian lagi terhadap dunia sekelilingnya,
kehilangan berat badan yang berlebihan dan adanya ide
bunuh diri yang menetap.
(2) Klien depresi ringan adanya riwayat responsif atau
memberikan respon membaik pada ECT.
(3) Klien depresi yang tidak ada respon terhadap
pengobatan antidepresan atau klien tidak dapat
menerima antidepresan.
b) Maniak
Klien maniak yang tidak responsif terhadap cara terapi yang
lain atau terapi lain berbahaya bagi klien.
c) Skizofrenia
Terutama akut, tidak efektif untuk skizofrenia kronik, tetapi
bermanfaat pada skizofrenia yang sudah lama tidak
kambuh.
2) Psikoterapi
Membutuhkan waktu yang relatif cukup lama dan merupakan
bagian penting dalam proses terapeutik, upaya dalam psikoterapi
ini meliputi: memberikan rasa aman dan tenang, menciptakan
lingkungan yang terapeutik, bersifat empati, menerima klien apa
adanya, memotivasi klien untuk dapat mengungkapkan
perasaannya secara verbal, bersikap ramah, sopan dan jujur
kepada klien.
3) Terapi Okupasi
Adalah suatu ilmu dan seni untuk mengarahkan partisipasi
seseorang dalam melaksanakan aktivitas atau tugas yang sengaja
dipilih dengan maksud untuk memperbaiki, memperkuat dan
meningkatkan harga diri seseorang.

b. Penatalaksanaan Keperawatan
Terapi Modalitas Keperawatan yang dilakukan adalah:
1) Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
a) Pengertian
TAK merupakan salah satu terapi modalitas yang dilakukan
perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai
masalah keperawatan yang sama. (Keliat, 2004)

b) Tujuan
Membantu anggotanya berhubungan dengan orang lain
serta mengubah perilaku yang destruktif dan maladaptif.
(Keliat, 2004 : hal.3).
c) Terapi aktivitas kelompok yang digunakan untuk pasien
dengan isolasi sosial adalah TAK Sosialisasi dimana klien
dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan individu yang
ada di sekitar klien. Sosialisasi dapat pula dilakukan secara
bertahap dari interpersonal, kelompok dan massa. (Keliat,
2004 : hal.14).
c. Prinsip Perawatan Isolasi Sosial
1) Psikoterapeutik
a) Bina hubungan saling percaya
(1) Buat kontrak dengan pasien memperkenalkan nama
perawat pada waktu interaksi dan tujuan.
(2) Ajak klien bercakap-cakap dengan memanggil nama
klien, untuk menunjukan penghargaan yang tulus.
(3) Jelaskan pada klien bahwa informasi tentang pribadi
klien tidak akan diberitahukan kepada orang lain yang
tidak berkepentingan.
b) Berkomunikasi dengan pasien secara jelas dan terbuka
(1) Bicarakan dengan pasien tentang sesuatu yang nyata dan
pakai istilah yang sederhana.
(2) Bersama klien menilai manfaat dari pembicaraan dengan
perawat.
(3) Gunakan komunikasi verbal dan non verbal yang sesuai,
jelas dan teratur.
(4) Tunjukan sikap empati dan beri kesempatan kepada klien
untuk mengungkapkan perasaannya.
c) Kenal dan dukung kelebihan klien
Tunjukkan dan cari penyelesaian masalah (koping) yang
bisa digunakan klien, cara menceritakan perasaannya
kepada orang lain yang terdekat/dipercaya.
(1) Bahas dengan klien tentang koping yang konstruktif.
(2) Dukung koping klien yang konstruktif.
(3) Anjurkan klien untuk menggunakan koping yang
konstruktif.
d) Bantu klien mengurangi ansietasnya ketika hubungan
interpersonal
(1) Batasi jumlah orang yang berhubungan dengan klien
pada awal terapi.
(2) Lakukan interaksi dengan klien sesering mungkin.
(3) Temani klien beberapa saat dengan duduk di
sampingnya.
(4) Libatkan klien dalam berinteraksi dengan orang lain
secara bertahap.
(5) Libatkan klien dalam aktifitas kelompok.

2) Pendidikan kesehatan
a) Jelaskan kepada klien cara mengungkapkan perasaan klien
selain kata-kata seperti menulis, menangis, menggambar,
berolahraga atau bermain musik.
b) Bicarakan dengan klien peristiwa yang menyebabkan
menarik diri.
c) Jelaskan dan anjurkan pada keluarga untuk tetap
mengadakan hubungan dengan klien.
d) Anjurkan kepada keluarga agar mengikutsertakan klien
dalam kegiatan di masyarakat.
3) Kegiatan hidup sehari-hari (ADL)
a) Bantu klien dalam melaksanakan kebersihan diri sampai
dapat melaksanakan secara mandiri.
b) Bimbing klien berpakaian yang rapi.
c) Batasi kesempatan untuk tidur, sediakan sarana informasi
dan hiburan seperti majalah, surat kabar, radio dan televisi.
d) Buat dan rencanakan jadwal kegiatan bersama-sama klien
4) Lingkungan terapeutik
a) Pindahkan barang-barang yang dapat membahayakan klien
maupun orang lain di lingkungan.
b) Cegah agar klien tidak berada di dalam ruang sendiri dalam
jangka waktu yang lama.
c) Beri rangsangan sensorik seperti suara musik, gambar
hiasan di ruangan.

5. Pelaksanaan Keperawatan
Pelaksanan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan
yang spesifik, tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan
disusun dan ditujukan pada nursing oders untuk membantu klien
mencapai tujuan yang diharapkan. (Nursalam, 2001).
Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan, perawat perlu
memvalidasi dengan singkat, apakah rencana tindakan masih sesuai dan
dibutuhkan oleh klien saat ini (here and now). Perawat juga menilai diri
sendiri, apakah mempunyai kemampuan interpersonal, intelektual, dan
teknikal yang diperlukan untuk melaksanakan tindakan, perawat juga
menilai kembali apakah tindakan aman bagi klien, setelah tidak ada
hambatan tindakan boleh dilaksanakan, pada saat akan melaksanakan
tindakan keperawatan perawat membuat kontrak dengan klien yang
isinya menjelaskan apa yang akan dikerjakan dan peran serta yang
diharapkan dari klien. Tindakan keperawatan dibedakan berdasarkan
kewenangan dan tanggung jawab perawat secara professional
sebagaimana pendapat dalam standar keperawatan, pendekatan tindakan
keperawatan meliputi :
a. Independen
Merupakan fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang lain,
dimana perawat dalam melaksanakan tugasnya dilakukan secara
mandiri dengan keputusan sendiri.
b. Dependen
Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya atas
pesan atau intruksi dari perawat lain.
c. Interdependen
Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling
ketergantungan diantara satu dengan tim lainnya.
Implementasi tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana
tindakan keperawatan pada situasi nyata sering implementasi jauh
berbeda dengan rencana. Hal ini terjadi karena perawat belum terbiasa
menggunakan rencana tertulis dalam melaksanakan tindakan
keperawatan. Biasanya rencana tidak tertulis yaitu apa yang dipikirkan
dan dirasakan itu yang dilaksanakan. Hal ini sangat membahayakan klien
dan perawat jika berakibat fatal, dan juga tidak mempunyai aspek legal.
Strategi implementasi tindakan keperawatan menggunakan strategi
pelaksanaan tindakan keperawatan (SP) yang berprinsip bahwa setiap
kali berinteraksi dengan pasien output interaksi haruslah sampai kepada
kemampuan koping pasien walaupun pertemuan tersebut merupakan
pertemuan pertama. Oleh karenanya “paket” tindakan keperawatan
tidaklah terpaku pada tujuan khusus. Pada satu kesempatan interaksi
dapat mengimplementasikan beberapa tindakan keperawatan untuk
mencapai beberapa tujuan khusus. (Pelatihan Penerapan Asuhan
Keperawatan Jiwa, 2007).
Adapun strategi pelaksanaan untuk isolasi sosial yaitu strategi
pelaksanaan I diantaranya membina hubungan saling percaya,
mengidentifikasi penyebab isolasi sosial klien, berdiskusi dengan klien
mempraktekkan cara berkenalan dengan satu orang lain sebagai salah
satu kegiatan harian. Strategi pelaksanaan II diantaranya yaitu
mengevaluasi jadwal kegiatan klien, memberikan kesempatan kepada
klien mempraktekkan cara berkenalan satu orang, dan membantu klien
memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain sebagai
salah satu kegiatan harian. Dan strategi pelaksanaan III atau strategi
pelaksanaan yang terakhir dari isolasi sosial yaitu mengevaluasi jadwal
kegiatan harian klien, memberikan kesempatan kepada klien berkenalan
dengan dua orang atau lebih dan menganjurkan klien memasukkan dalam
jadwal kegiatan harian.
Dokumentasikan semua tindakan yang telah dilaksanakan beserta respon
klien (Budi Anna Keliat, 2006, hal.17).

6. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses
keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan,
rencana tindakan, dan pelaksanaan sudah berhasil dicapai. Melalui
evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor “kealpaan” yang
terjadi selama tahap pengkajian, analisa, perencanaan, dan pelaksanaan
tindakan. (Nursalam, 2001, hal.71).
Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai
tujuan. Hal ini biasa dilakukan dengan mengadakan hubungan dengan
klien berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang
diberikan. Pada tahap evaluasi ini terdiri dari dua komponen untuk
mengevaluasi kualitas tindakan keperawatan yaitu :
a. Evaluasi proses (Formatif)
Aktifitas dari proses keperawatan dari hasil kualitas pelayanan
tindakan keperawatan. Evaluasi proses harus dilakukan segera
setelah perencanaan keperawatan dilaksanakan untuk membantu
keefektifan terhadap tindakan. Evaluasi formatif terus menerus
dilaksanakan sampai tujuan yang telah ditentukan tercapai.
b. Evaluasi Hasil (Sumatif)
Faktor evaluasi hasil adalah perubahan perilaku atau ststus kesehatan
klien pada akhir tindakan perawatan klien. Tipe evaluasi ini
dilaksanakan pada akhir tindakan secara paripurna. Adapun metode
pelaksanaan evaluasi sumatif terdiri dari : interview akhir pelayanan,
pertemuan akhir pelayanan, dan pertanyaan kepada klien dan
keluarga. Evaluasi sumatif bisa menjadi suatu metode dalam
memonitor kualitas dan efesiensi tindakan yang telah diberikan.
Evaluasi juga dilakukan dengan berfokus pad perubahan perilaku klien
setelah diberikan tindakan keperawatan. Keluarga juga perlu dievaluasi
karena merupakan sisitem pendukung yang terutama, bahkan dapat
dikatakan keluarga merupakan indikator dari keberhasilan perawatan
klien. Hasil akhir yang diharapkan dari tindakan keperawatan pada klien
dengan isolasi sosial adalah sebagai berikut :
Klien dapat :
a. Menyebutkan penyebab menarik diri.
b. Menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain.
c. Melakukan hubungan sosial secara bertahap : klien-perawat, klien-
perawat-klien/perawat, klien-kelompok, klien-keluarga.
d. Mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang
lain.
e. Memberdayakan sistem pendukungya untuk memfasilitasi hubungan
sosialnya.
DAFTAR PUSTAKA

Safitri, Anik. 2011. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Isolasi Sosial.
http://aniksafitri.blogspot.com/2011/07/asuhan-keperawatan-pada-klien-
dengan.html. Di akses tanggal 27 Februari 2014.