Anda di halaman 1dari 26

MODUL PERKULIAHAN

REKAYASA
HIDROLOGI
POKOK BAHASAN :
PRESIPITATION

Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

03
Teknik Sipil Teknik Sipil 11024EL DR. Ir. Rosmina Zuchri, MT
Perencanaan

Abstract Kompetensi
Memberikan gambaran umum tentang Mampu memahami dan menjelaskan
Presipitasi, Tipe Hujan meliputi mengenai Presipitasi, Tipe Hujan,
konvektif, orografis dan siklonik, Parameter Hujan, Pengukuran hujan,
Parameter Hujan, Pengukuran hujan, Jaringan pengukuran hujan, Penentuan
Jaringan pengukuran hujan, Penentuan hujan kawasan.
hujan kawasan yang digunakan oleh
analisis hidrologi.
Pembahasan
KULIAH KE 3 (TIGA) TANGGAL 21 SEPTEMBER 2018 HARI JUM’AT 14.00 – 16.30 WIB
KAMPUS D KRANGGAN

MODUL 3 (TIGA) PRESIPITATION / PRESIPITASI

REKAYASA HIDROLOGI

3. PRESIPITATION / PRESIPITASI

3.1. PENDAHULUAN

3.2. TIPE HUJAN

3.3. PARAMETER HUJAN

3.4. PENGUKURAN HUJAN

3.5. JARINGAN PENGUKURAN HUJAN

3.6. PENENTUAN HUJAN KAWASAN

3.7. PERBAIKAN DATA

3.8. SOAL LATIHAN

2
3. PRESIPITATION / PRESIPITASI

3.1. PENDAHULUAN

Presipitasi adalah turunnya air dari atmosfer ke permukaan bumi, yang bisa berupa:

 hujan,

 hujan salju,

 kabut,

 embun, dan

 hujan es.

Di daerah tropis, termasuk di Indonesia, yang memberikan sumbangan paling besar adalah
hujan, sehingga seringkali hujanlah yang dianggap sebagai presipitasi.

Hujan berasal dari dari uap air di atmosfer, sehingga bentuk dan jumlahnya dipengaruhi oleh
faktor klimatologi sepert : Angin, Temperatur, Tekanan atmosfer.

Uap air ini akan naik ke atmosfer sehingga mendingin dan terjadi kondensasi menjadi butir-
butir air dan kristal-kristal es yang akhirnya jatuh sebagai hujan.

3.2. TIPE HUJAN

Hujan terjadi karena udara basah yang naik ke atmosfer mengalami pendinginan sehingga
terjadi proses kondensasi. Naiknya udara ke atas dapat terjadi secara Siklonik, Orografik, dan
Konvektif. Tipe hujan dibedakan menurut cara naiknya udara ke atas.

Beberapa Tipe Hujan yaitu :

1. Hujan Konvektif.

2. Hujan Siklonik.

3. Hujan Orografis

3
3.3. PARAMETER HUJAN

Jumlah hujan yang jatuh di permukaan bumi dinyatakan dalam kedalaman air (biasanya mm),
yang dianggap terdistribusi secara merata pada seluruh daerah tangkapan air.

Intensitas hujan adalah jumlah curah hujan dalam satuan waktu, yang biasanya dinyatakan
dalam mm/jam, mm/minggu, mm/bulan, dan sebagainya, yang berturut-turut sering disebut
hujan jam-jam, harian, mingguan, bulanan, tahunan, dan sebagainya.

Keadaan hujan dan Intensitas hujan disajikan pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Keadaan hujan dan Intensitas hujan

Keadaan Hujan Intensitas Hujan (mm

1 (satu) Jam 24 Jam

Hujan sangat ringan <1 <5

Hujan ringan 1-5 5 - 20

Hujan normal 5 - 10 20 - 50

Hujan lebat 10 - 20 50 - 100

Hujan sangat lebat >20 >100

Sumber : Hidrologi Terapan, Bambang Triatmodjo, 2008.

Tabel diatas menunjukkan bahwa curah hujan tidak bertambah sebanding waktu. Jika durasi
waktu lebih lama, penambahan curah hujan adalah lebih kecil dibanding dengan penambahan
waktu, karena hujan tersebut bisa berkurang atau berhenti.

Durasi hujan adalah waktu yang dihitung dari saat hujan mulai turun sampai hujan berhenti,
yang biasanya dinyatakan dalam jam.

Intensitas hujan rerata adalah adalah perbandingan antara kedalaman hujan dan durasi hujan.

3.4. PENGUKURAN HUJAN

4
Di Indonesia, pengukuran hujan dilakukan oleh beberapa Instansi diantaranya adalah BMG
atau Badan Meteorologi dan Geofisika, Dinas Pengairan DPU, Dinas Pertanian, dan beberapa
Instansi lain yang berkepentingan dengan hujan baik Pemerintah maupun Swasta.

Alat Penakar hujan dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu :

 Penakar hujan biasa (Manual Raingauge), dan

 Penakar Hujan Otomatis (Automatic Raingauge).

3.5. JARINGAN PENGUKURAN HUJAN

Perencanaan Jaringan stasiun pengukuran hujan adalah sangat penting di dalam hidrologi
karena : Jaringan tersebut akan memberikan besarnya (takaran/jumlah dari masukan) hujan
yang jatuh di DAS.

Data hujan yang diperoleh dapat digunakan untuk :

 Analisis Banjir.

 Penentuan banjir rencana.

 Analisis ketersediaan air di sungai, dsb.

Untuk maksud tersebut diperlukan jaringan stasiun pencatatan hujan di dalam suatu DAS.
Untuk mendapatkan hasil yang dapat dipercaya, stasiun pencatat hujan harus terdistribusi
secara merata. Selain itu jmlah stasiun hujan yang dipasang di dalam DAS jangan terlalu
sedikit yang menyebabkan hasil pencatatan hujan tidak dapat dipercaya, dan juga jangan
terlalu banyak yang berakibat mahalnya biaya.

Pedoman kerapatan jaringan minimum di beberapa dearah diberikan oleh Organisasi


Meteorologi Dunia (World Meteorological Organisation) di sajikan pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2. Kerapatan Jaringan Stasiun Hujan.

Daerah Kerapatan Jaringan Minimum (km2/Stasiun


hujan
Daerah datar beriklim sedang, Laut tengah
dan tropis.
Kondisi Normal 600 - 900
Daerah datar beriklim sedang, Laut tengah
dan tropis.

5
Daerah Pegunungan 100 - 250
2
Pulau-pulau kecil bergunung ( < 20.000 km ) 25
Daerah kering dan kutub 1500 – 10.000
Sumber : Hidrologi Terapan, Bambang Triatmojo, 2008.
Penentuan jumlah optimum dari stasiun hujan yang perlu dipasang dalam suatu DAS dapat
dilakukan secara statistik yaitu :

 Cv 
2

N  
 E 

 100 
Cv   
 P 

p
p
n

 
1/ 2
 n 2 
  P2   p 
 n  1 

Dimana :

N = Jumlah stasiun hujan.

Cv = koef variasi hujan didasarkan pada stasiun hujan yang ada.

E = persentasi kesalahan yang diijinkan.

Contoh Soal.

Hujan Rerata tahunan di ketiga stasiun yaitu, 3600, 4400 dan 2600 mm. Ke tiga stasiun itu
ada di Dalam DAS.

Ditanya : Tentukan jumlah optimum stasiun hujan di DAS tersebut, jika 15 % adalah
kesalahan yang diijinkan.

Penyelesaian :

Menghitung hujan rerata :

P
 P  3600  4400  2600
n 3
10600
P  3533mm
3

6
P 2

P 2
(3600) 2  (4400) 2  ( 2600) 2

n 3
2 390080000
P   13.026.667 mm
3

 
1/ 2
 n 2 
  P2   p 
n 1 

1/ 2
 3
  13026667  (3533) 2  

3 1 

3 13026667 1 
2 12482089 2
1,5 544578 0,5 903,8069

Tentu   903,81

 100 
Cv   
 P 

 100 * (903,81) 
Cv   
 3533 

Cv  50,8

 Cv 
2

N  
 E 

 50,8 
2

N  
 15 

50,8
15,0
3,4
2
11,5

N = 11,5 = 12 buah.

Tentu jumlah stasiun hujan yang diperlukan adalah 12 buah, maka diperlukan 9 buah stasiun
hujan lagi.

SOAL SELESAI

PR. Soal sama dengan Contoh soal tetapi kesalahan yang diijinkan 13 %.

7
Hujan rata-rata di DAS tersebut berturut-turut yaitu : 3300, 4000 dan 2000 mm.

3.6. PENENTUAN HUJAN KAWASAN

Dalam analisis hidrologi sering diperlukan untuk menentukan hujan rerata pada daerah
tersebut, yang dapat dilakukan dengan beberapa metode meliputi :

 Metode Rerata Aritmatik (aljabar).

 Metode Poligon Thiessen.

 Metode Isohyet.

Stasiun penakar hujan hanya memberikan kedalam hujan di titik di mana stasiun hujan
berada, sehingga hujan pada suatu luasan harus diperkirakan dari titik pengukuran tersebut.
Apabila pada suatu daerah terdapat lebih dari satu stasiun pengukuran yang ditempatkan
secara terpencar, hujan yang tercata di masing-masing stasiun dapat tidak sama.

1. Metode Rerata Aljabar.

2. Metode Thiessen.

Metode ini memperhitungkan bobot masing-masing stasiun yang mewakili luasan di


sekitarnya. Pada suatu luasan di dalam DAS dianggap hujan adalah sama denagn yang
terjadi pada stasiun yang terdekat, sehingga hujan yang tercatat pada suatu stasiun
mewakili luasan tersebut.

Metode ini digunakan apabila penyebaran stasiun hujan di daerah yang ditinjau merata.
Hitungan curah hujan rerata dilakukan dengan memperhitungkan daerah pengaruh dari
setiap stasiun.

Pembentukan Poligon Thiessen adalah sebagai berikut :

a.

b.

c.

d.

e.

8
f. Jumlah dari hitungan pada butir e untuk semua stasiun dibagai dengan luas daerah yang
ditinjau menghasilkan hujan rerata daerah tersebut, yang dalam persamaan yaitu :

A1P1  A2 P 2  A3P3  ................  AnPn


P
A1  A2  A3  ........An

Dimana :

P Hujan rerata kawasan

P1,P2,P3,Pn = hujan pada stasiun 1,2,3 dan.n

A1, A2, A3,.An = luas daerah yang mewakili stasiun 1,2,3.dan n.

Metode poligon Thiessen banyak digunakan untuk menghitung hujan rerata kawasan.
Poligon Thiessen adalah tetap untuk suatu jaringan stasiun tertentu. Apabila terdapat
perubahan jaringan stasiun hujan, seperti pemindahan atau penambahan stasiun, maka
harus dibuat lagi poligon yang baru.

B C

Sumber : Halaman 33. Hidrologi Terapan, Bambang Triatmodjo.

Gambar 3.1. Contoh Stasiun Hujan di Suatu DAS

9
Soal.

Diketahui DAS dan stasiun Hujan disajikan pada Gambar 3.1. Luas DAS 1000 km 2.
Kedalaman Hujan A = 100 mm, B = 80 mm, C = 40 mm, dan D = 60 mm.

B C

Gambar 3.2.a. Stasiun Hujan Metode Thiessen

Ditanya : Hitung Hujan Rerata dengan menggunakan Metode Thiessen.

Penyelesaian : CATAT KEMBLI DARI BUKU HIDROLOGI TERAPAN PROF


BAMBANG TRIATMODJO HALAM 33-SELESAI

Pembentukan Poligon Thiessen adalah sebagai berikut :

a.

b.

c.

10
d.

e.

f. Jumlah dari hitungan pada butir e untuk semua stasiun dibagai dengan luas daerah yang
ditinjau menghasilkan hujan rerata daerah tersebut, yang dalam persamaan yaitu :

A1P1  A2 P 2  A3P3  A4 P 4
P
A1  A2  A3  . A4

Dimana :

P Hujan rerata kawasan

P1,P2,P3,P4 = hujan pada stasiun 1,2,3 dan 4

A1, A2, A3,.A4 = luas daerah yang mewakili stasiun 1,2,3.dan 4.

Perhitungan Luas area menggunakan program Autocad.

A1P1  A2 P 2  A3P3  A4 P 4
P
A1  A2  A3  . A4

A=100
mm

B=80 C=40

D=60

Gambar 3.2b. Metode Thiessen

11
Tabel 3.3a. Perhitungan Hujan Rerata Metode Thiessen.

Stasiun Hujan (mm) Luas Poligon (km2) Hujan x Luas


(1) (2) (3) (4) = (2)*(3)
A 100 190
B 80 240
C 40 344
D 60 226
Jumlah 1000

Tabel 3.3b. Perhitungan Hujan Rerata Metode Thiessen.

Hujan Luas Poligon


Stasiun Hujan x Luas
(mm) (km2)
-1 -2 -3 (4) = (2)*(3)
A 100 190 19000
B 80 240 19200
C 40 344 13760
D 60 226 13560
Jumlah 1000 65520
A1P1  A2 P 2  A3P3  A4 P 4
P
A1  A2  A3  . A4

65520
P  65,52
1000

Tentu Hujan rerata adalah 65,52 mm.

3. Metode Isohyet.

Metode Isohyet merupakan cara paling teliti untuk menghitung kedalaman hujan rerata di
suatu daerah, tetapi cara ini membutuhkan pekerjaan dan perhatian yang lebih banyak
dibandingkan dau metode sebelumnya ( Rerata Aljabar dan Thiessen).

Isohyet adalah garis yang menghubungkan titik dengan kedalaman hujan yang sama. Pada
metode isohyet, dianggap bahwa hujan pada suatu daerah di antara dua garis isohyet
adalah rerata dan sama dengan nilai rerata dari kedua garis isohyet tersebut.

12
Pembuatan garis Isohyet dilakukan dengan prosedur ini.

a.

b.

c.

d. Diukur luas daerah (menggunakan program Autocad) yang berurutan dan kemudian
dikalikan dengan nilai rerata dari nilai kedua garis isohyet.

e. Jumlah dari hitungan pada butir d untuk seluruh garis Isohyet dibagi dengan luas
daerah yang ditinjau menghasilkan kedalaman hujan rerata tersebut.

Rumus Kedalaman hujan Rerata :

I1  I 2 I 2  I3 I3  I 4 I 4  I5 In  In  1
A1  A2  A3  A4  An
P 2 2 2 2 2
A1  A2  A3  . A4  ............ An

Soal.

Diketahui DAS dan stasiun Hujan disajikan pada Gambar 3.2. Luas DAS 1000 km 2.
Kedalaman Hujan A = 100 mm, B = 80 mm, C = 40 mm, dan D = 60 mm.

Hitung Hujan rerata menggunakan Metode Isohyet.

13
A

B C

Gambar 3.3a. Metode Isohyet

Penyelesaian :

Pembuatan garis Isohyet dilakukan dengan prosedur ini.

a.

b.

c.

d. Diukur luas daerah (menggunakan program Autocad) yang berurutan dan kemudian
dikalikan dengan nilai rerata dari nilai kedua garis isohyet.

e. Jumlah dari hitungan pada butir d untuk seluruh garis Isohyet dibagi dengan luas
daerah yang ditinjau menghasilkan kedalaman hujan rerata tersebut.

Rumus Kedalaman hujan Rerata :

I1  I 2 I 2  I3 I3  I 4 I 4  I5 In  In  1
A1  A2  A3  A4  An
P 2 2 2 2 2
A1  A2  A3  . A4  ............ An

14
Dibuat garis-garis Isohyet seperti Gambar 3.2.b. dan Gambar 3.2.c. Selanjutnya dihitung
luasan daerah diantara dua garis Isohyet tersebut. Hitungan disajikan pada Tabel 3.4.

A=100
90

80
90 70
60
70 60 50 50

B=80 C=40

70
50

D=60

Gambar 3.3b. Metode Isohyet

A=100
90

80
90 70
60
70 60 50 50

B=80 C=40

70
50

D=60

Gambar 3.3c. Metode Isohyet

15
Tabel 3.4a. Hitungan Hujan rerata dengan menggunakan Metode Isohyet.

Luasan Rerata
Antara dari
Daerah Isohyet Dua Dua Hujan x Luasan
Isohyet Isohyet
(km2) (km2)
1 2 3 4 (5)=(3)*(4)
30
I 24 35
40
II 100 45
50
III 190 55
60
IV 222 65
70
V 280 75
80
VI 140 85
90
JUMLAH

Tabel 3.4b. Hitungan Hujan rerata dengan menggunakan Metode Isohyet.

Luasan Rerata
Antara dari
Daerah Isohyet Dua Dua Hujan x Luasan
Isohyet Isohyet
(km2) (km2)
1 2 3 4 (5)=(3)*(4)
30
I 24 35 840
40
II 100 45 4500
50
III 190 55 10450
60
IV 222 65 14430
70
V 280 75 21000

16
80
VI 140 85 11900
90
JUMLAH 63120

I1  I 2 I 2  I3 I3  I 4 I 4  I5 In  In  1
A1  A2  A3  A4  An
P 2 2 2 2 2
A1  A2  A3  . A4  ............ An

63120
P  63,12
1000

Tentu Hujan rerata adalah 63,12 mm.

3.7. PERBAIKAN DATA

Di dalam pengukuran hujan sering dialami dua masalah.

Masalah pertama adalah :

 Tidak tercatatnya data hujan karena alat rusak .

 Data tidak dicatat oleh pengamat hujan.

Sehingga data yang hilang ini ( masalah pertama ini) dapat diisi dengan nilai perkiraan.

Masalah Kedua adalah :

Karena adanya perubahan kondisi di lokasi pencatatan selama periode pencatatan, seperti
pemindahan atau perbaikan stasiun, perubahan prosedur pengukuran atau karena penyebab
lain.

Kedua masalah ( pertama dan Kedua) perlu diselesaikan dengan melakukan koreksi
berdasarkan data dari beberapa stasiun di sekitarnya.

3.7.1. Pengisian Data yang hilang.

17
a. Metode Perbandingan Normal (Normal Ratio Method)

b. Reciprocal Method.

3.7.2. Pemeriksaan konsistensi Data.

Contoh Soal.

Tabel disajikan pada Soal berikut. Pencatatan hujan di lima stasiun. Selidiki lah
konsistensi data hujan di Stasiun A. Jika pencatan tersebut tidak konsisten, koreksi
data di stasiun A.

3.8. SOAL LATIHAN

Soal 1. Hujan Rerata tahunan di ketiga stasiun yaitu, 3200, 4200 dan 2200 mm. Ke tiga
stasiun itu ada di Dalam DAS.

Ditanya : Tentukan jumlah optimum stasiun hujan di DAS tersebut, jika 12 % adalah
kesalahan yang diijinkan.

Soal 2. Hal 44, Hidrologi Terapan, Bambang Triatmodjo.

Soal 3. Hal 45, Hidrologi Terapan, Bambang Triatmodjo.

Soal 4. Suatu DAS Luas 200 km2 dilengkapi dengan 13 alat pengukur hujan disajikan pada
Gambar. Setelah kejadian hujan, jumlah hujan yang terakumulasi dalam masing-masing alat
penakar hujan .

Stasiun A B C D E F G H I Y K L M

Hujan 50 56 60 61 66 70 64 62 58 54 60 64 66
(mm)

Ditanya : Hitung hujan rerata menggunakan metode. Rerata Aljabar, Poligon Thiessen dan
Metode Isohyet.

Soal 5. Diketahui DAS dan stasiun Hujan disajikan pada Gambar 3.2. Luas DAS 5000 km 2.
Kedalaman Hujan A = 150 mm, B = 120 mm, C = 60 mm, dan D = 90 mm.

18
A=150

D=90 B=120

C=60

Hitung : Hujan rerata menggunakan Metode Rerata Aljabar, Thiessen dan Metode Isohyet

Soal 6.

Pencatatan hujan di lima stasiun. Selidiki lah konsistensi data hujan di Stasiun A. Jika
pencatatan tersebut tidak konsisten. Hujan Tahunan tersebut disajikan pada Tabel 3.5.

Ditanya : koreksi data di stasiun A.

Tabel 3.5. Hujan Tahunan.

19
20
FORUM MODUL 3 (TIGA) PRESIPITATION

JELASKAN BESERTA GAMBAR TENTANG :

3.1. TIPE HUJAN

3.2. PARAMETER HUJAN

3.3. PENGUKURAN HUJAN

3.4. JARINGAN PENGUKURAN HUJAN

3.5. PENENTUAN HUJAN KAWASAN

3.6. PERBAIKAN DATA

21
QUIZZ MODUL 3 (TIGA) PRESIPITATION

SOAL 1.

Diketahui :

DAS diketahui bujur sangkar dan segitiga sama sisi (tergambar) dengan sisi - sisinya 4 km,
sedang di lokasi alat ukur hujan dan kedalaman hujannya ( tergambar).

A=130 mm

B=48 mm

F=94 mm

C=32 mm

E=80 mm
D=54 mm

Ditanya : Hitung hujan rerata DAS dengan menggunakan a. Metode rerata Aljabar. b.
Poligon Thissen. c. Peta Isohyet.

SOAL 2.

Alat ukur hujan di suatu DAS (tergambar). Hujan tercatat pada suatu hari (Tabel). Ditanya :
Buatlah Poligon Thiessen untuk jaringan stasiun di DAS tersebut. Apabila luas poligon
Thiessen yang diwakili masing-masing stasiun (Tabel).

Hitung hujan rerata DAS, dan buat pula peta Isohyet.

22
A B

F
E D

Gambar 2.1. Stasiun Hujan dan Luas DAS.

Tabel 2.1. Stasiun Hujan, Kedalaman Hujan dan Luas DAS

Stasiun Hujan Kedalaman hujan (mm) Luas DAS (km2)

A 130 480

B 110 360

C 96 600

D 84 180

E 104 420

F 76 400

SOAL 3.

23
Suatu DAS luas 200 km2 dilengkapi 13 alat pengukur hujan. Setelah kejadian hujan, jumlah hujan
yang terakumulasi dalam masing-masing alat penakar hujan (tergambar).

Stasiun Hujan Kedalaman hujan Stasiun Hujan Kedalaman hujan


(mm) (mm)

A 50 H 62
B 48 I 58
C 60 Y 54
D 62 K 60
E 66 L 64
F 70 M 66

G 64 N 50

E
N

D G

M
C

L
H

K
B I
J

Ditanya : Hitung hujan rerata pada DAS menggunakan Metode a. Aljabar, b. Thiessen, c.
Isohyet.

SOAL 4.

Suatu kejadian hujan dengan kedalaman berikut :

24
Waktu (jam) 0–3 3-6 6-9 9-12

Hujan (mm) 4 8 16 2

Tentukan a. Intensitas hujan rerata dalam 3 jam pertama dan 6 jam pertama. b. Intensitas
hujan rerata untuk seluruh durasi.

SOAL 5.

Stasiun hujan X tidak beroperasi beberapa waktu. Hujan kumulatif pada suatu bulan di tiga
stasiun di sekitarnya yaitu A, B dan C adalah 214, 178 dan 244 mm. Hujan tahunan di stasiun
X,A,B dan C adalah 1956, 2240, 1870 dan 2400 mm. Perkirakan hujan yang tidak terukur di
Stasiun X pada bulan yang bersangkutan.

SOAL 6.

Alat pengukur hujan di Stasiun Y tidak beroperasi selama beberapa hari dalam bulan
Februari. Pada periode yang sama , kedalaman hujan yang terukur di lima stasiun yang
berada pada jarak seperti diberikan pada tabel.

Ditanya : Perkirakan data hujan yang hilang di Stasiun Y.

Stasiun Hujan Kedalaman hujan Jarak (km)


(mm)

A 50 17

B 56 13

C 54 74

D 60 39

E 54 74

SOAL 7.

Hujan tahunan di Stasiun R dan Hujan tahunan Rerata di 10 stasiun terdekat adalah sebagai
berikut.

Ditanya : Gunakan Metode Massa Ganda untuk mengkoreksi data yang tidak konsisten di stasiun R.

25
No. Tahun Hujan di Z (mm) Rerata 10 Stasiun

1 2016 70 56
2 2015 74 58
3 2014 78 62
4 2013 70 54
5 2012 60 50
6 2011 50 42
7 2010 40 34
8 2009 44 42
9 2008 60 52
10 2007 62 62
11 2006 70 72
12 2005 76 78
13 2004 80 88
14 2003 56 64
15 2002 50 60
16 2001 42 46
17 2000 70 72

18 1999 76 78

SELESAI

DAFTAR PUSTAKA

1. Bambang Triatmodjo. Hidrologi Terapan. Beta Ofset. 2008.


2. Ir. Hadi Susilo, MM. Modul Rekayasa Hidrologi. Fakultas Teknik Sipil, Universitas
Mercu Buana.
3. Linsley Kohler Paulhus. Applied Hydrology. Tata McGraw-Hill Publishing Company
Limited. 1975.
4. Sri Harto Br. Analisisi Hidrologi. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 1993.
5. E.M. Wilson. Hidrologi Tekni. Penerbit ITB Bandung.1993.
6. www.google.com Materi Kuliah Rekayasa Hidrologi.

26

Anda mungkin juga menyukai