Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

“Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Reproduksi”

HIPOGONADISME

OLEH :

KELOMPOK 6

Gita Apri Lonia


Rika Aprianti
Fany Luthfiani
Nurlaila
Ismawati

STIKes YARSI SUMBAR BUKITTINGGI

Program Studi S1 Keperawatan

TA : 2015 / 2016

1
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahhi Wabarakatuh

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang mana berkat segala rahmat dan hidayah-
Nya. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul tentang “Hipogonadisme”.

Dalam Penulisan makalah ini, pemakalah merasa makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan
dan masih banyak kekurangan-kekurangan baik secara teknis penulisan, ilmu pengetahuan
maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki pemakalah. Untuk itu kritik dan saran
yang membangun dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan makalah ini.

Akhirnya, Pemakalah mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak
yang telah membantu dalam menyelesaikan pembuatan makalah ini. Semoga dengan adanya
makalah ini dapat menambah ilmu pengetahuan bagi semua pembaca.

Wasalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bukittinggi, Maret 2016

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................... i

DAFTAR ISI.............................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................... 1

A. LATAR BELAKANG ................................................................................... 1


B. RUMUSAN MASALAH ............................................................................... 1
C. TUJUAN ........................................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................... 3

A. DEFENISI ...................................................................................................... 3
B. ETIOLOGI ..................................................................................................... 5
C. PATOFISIOLOGI.......................................................................................... 6
D. MANIFESTASI KLINIS ............................................................................... 7
E. KOMPLIKASI ............................................................................................... 7
F. PENATALAKSANAAN ............................................................................... 8
G. ASUHAN KEPERAWATAN ....................................................................... 9

BAB III PENUTUP ................................................................................................... 15

A. KESIMPULAN .............................................................................................. 15
B. SARAN .......................................................................................................... 15

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pola klinis pubertas sangat bervariasi. Pada 95% anak laki-laki pembesaran genetalia mulai
antara usia 9,5-13,5 tahun, yang mencapai maturasi antara 13-17 tahun. Pada sebagian kecil anak
laki-laki normal, pubertas mulai setelah usia 15 tahun. 50% anak laki-laki, rambut pubis tumbuh
pada usia 11 tahun, dan pada usia 13-17,5 tahun, rambut ini jumlahnya ekuivalen dengan jumlah
rambut orang laki-laki dewasa normal. Pada beberapa anak laki-laki, perkembangan pubertas
selesai pada kurang dari 2 tahun, tetapi pada anak lain pertumbuhan ini dapat memerlukan waktu
lebih lama dari pada usia 4,5 tahun. Pertumbuhan cepat remaja terjadi lebih lambat pada anak
laki-laki dari pada anak perempuan sejalan dengan tingkat maturasi seksual, misalnya, kecepatan
puncak perubahan dalam ketinggian tidak dapat dicapai pada anak laki-laki sampai genetalia
berkembang dengan baik, tetapi pada anak perempuan kecepatan pertumbuhan biasanya ada
pada maksimalnya ketika puting dan areola telah berkembang tetapi sebelum ada perkembangan
payudara lain yang berarti.
Kemajuan yang cepat dalam pemahaman interaksi hipothalamus-kelenjar pituitari-gonad
yang terlibat dengan pubertas dan pada diagnosa klinis penyimpangan perkembangan pubertas
telah dimungkinkan dengan pemeriksaan yang sangat diperbaiki untuk hormon kelenjar pituitaria
dan gonad yang dapat diukur pada sejumlah kecil darah. Dengan GnRH juga dimungkinkan
untuk membedakan antara defek kelenjar pituitari primer dengan hipothalamus pada penderita
hipogonadotropik.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian hipogonadisme ?
2. Apa etiologi hipogonadisme?
3. Bagaimana patofisiologi hipogonadisme?
4. Bagaimana manifestasi klinik hipogonadisme ?
5. Apa saja komplikasi dari hipogonadisme?
6. Bagaimana penatalaksanaan medis dan keperawatan hipogonadisme?

1
7. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan hipogonadisme?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami pengertian hipogonadisme
2. Untuk mengetahui dan memahami etiologi hipogonadisme
3. Untuk mengetahui dan memahami patofisiologi hipogonadisme
4. Untuk mengetahuidan memahami manifestasi klinik hipogonadisme
5. Untuk mengetahui dan memahami komplikasi dari hipogonadisme
6. Untuk mengetahui dan memahami penatalaksanaan hipogodisme
7. Untuk mengetahui dan memahami asuhan keperawatan hipogonadisme

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Hipogonadisme


Hipoganadisme adalah suatu keadaan dimana terjadi difisiensi hormon gonad.
Hipogonadisme adalah berkurangnya atau menurunnya hormone androgen sehingga
mempengaruhi fungsi dan ciri seks dari kelamin baik pria dan wanita.

2.2 Etiologi Hipogonadisme


Beberapa peneliti membagi hipogonadisme pada pria ke dalam beberapa kelompok yang
berbeda. Pedoman yang diterbitkan oleh Asosiasi Urologi Eropa pada tahun 2012 membagi
hipogonadisme pada pria menjadi empat kelas, yakni
1. Hipogonadisme primer disebabkan oleh insufisiensi testis;
2. Hipogonadisme sekunder yang disebabkan oleh disfungsi hipotalamus hipofisis;
3. Hipogonadisme onset lambat; dan
4. Hipogonadisme karena insensitivitas reseptor androgen.

a. Primer
Untuk hipogonadisme primer tentunya terjadi akibat adanya masalah pada testis,kadar
testoteron yang rendah juga disertai dengan meningkatnya hormon gonadotropik,seperti:
 Infeksi kelenjar gonad
 Atropi kelenjar gonad
 Kondisi testis yang tidak turun
 Adanya komplikasi dari penyakit gondongan
 Di akibatkan oleh trauma pada testis seperti misalnya dikebiri atau terjadi kecelakaan
 Adanya infeksi pada testis
 Adanya sindrom Klinefelter
 Sedang menjalani proses pengobatan kanker
 Adanya radang pada buah zakar
 Hemokromatosis

3
b. Sekunder
Hipogonadisme sekunder terjadi disebabkan karena adanya gangguan pada kelenjar hipotalamus
atau pituitari, yaitu suatu bagian otak yang berfungsi sebagai pengantar sinyal pada testis untuk
memproduksi testosteron, seperti contohnya di bawah ini :
 Tumor hifofisis
 Kerusakan hipothalamus untuk mensekresi GnRH.
 Hipersekresi prolaktin di hipofisis anterior
 Hiposekresi FSH dan LH
 Adanya sindrom Kallmann
 Penyakit HIV/AIDS
 Adanya faktor penuaan
 Adanya penyakit tumor
 Kegemukan atau obesitas
 Adanya penggunaan obat-obatan tertentu
 Adanya penyakit peradangan seperti contohnya sarkoidosis, histiositosis dan TBC

Sementara itu American Association of Clinical Endocrinologists'' membagi hipogonadisme


ini menjadi dua kelas, yakni hipogonadisme hipogonadotropik dan hipogonadisme
hipergonadotropik.
Pada wanita, Hipogonadisme hipergonadotropik atau kegagalan ovarium mungkin terjadi
karena kelainan kromosom, gangguan autoimun , infeksi (mumps oophoritis), dan iradiasi atau
obat sitotoksik.
Banyak kasus hipogonadisme hipergonadotropik adalah idiopatik bahkan setelah penyelidikan
yang ekstensif. Dan Hipogonadisme hipogonadotropik dapat disebabkan baik penyebab
kongenital seperti sindrom Kallmann (defisiensi gonadotropin terisolasi dan anosmia) atau
penyebab yang didapat seperti tumor hipofisis, nekrosis hipofisis (sindrom Sheehan), stres dan
penurunan berat badan berlebihan (anoreksia nervosa).

4
2.3 Patofisiologi

Folitropin (FSH) dan lutropin (LH dilepaskan dihipofisis anterior, dan dirangsang oleh
pelepasan pulsatil gonadoliberin (gonadotropin-releasing hormone, GnRH). Sekresi pulsatil dari
gonadotropin ini dihambat oleh prolaktin. LH mengatur pelepasan testosteron dari sel leydig di
testis. Testosterone, dengan mekanisme umpan balik negatif, menghambat pelepasan GnRH dan
LH. Pembentukan inhibin, yang menghambat pelepasan FSH, dan androgen binding protein
(ABP) ditingkatkan oleh FSH di sel Sertoli testis. Testosterone atau dihidrotestosteron yang
dibentuk dari testosterone di sel sertoli dan di beberapa organ meningkatkan pertumbuhan penis,
tubulus seminiferus, dan skrotum. Testosteron dan FSH diperlukan dalam pembentukan dan
pematangan spermatozoa. Selain itu, testosterone merangsang aktivitas sekretorik prostat
(menurunkan viskositas ejakulat) dan vesikula seminalis (campuran antara fruktosa dan
prostaglandin), serta aktivitas sekretorik kelenjar sebasea dan keringat di daerah aksila dan
genitalia. Testosteron meningkatkan ketebalan kulit, pigmentasi skrotum, dan eritropoiesis.
Testosterone juga mempengaruhi tinggi badan dan postur badan dengan meningkatkan
pertumbuhan otot dan tulang (anabolisme protein), pertumbuhan longitudinal, dan mineralisasi
tulang serta penyatuan lempeng epifisis.
Testosterone merangsang pertumbuhan laring (kedalaman suara), pertumbuhan rambut
pada daerah pubis dan aksila, pada dada dan wajah (janggut); keberadaannya penting dalam
kebotakan pada laki-laki. Hormone ini juga merangsang libido dan perilaku agresif. Akhirnya,
hormone ini merangsang retensi elektrolit di ginjal, mengurangi konsentrasi lipoprotein
berdensitas tinggi (HDL) di dalam darah, dan mempengaruhi distribusi lemak. Penurunan
pelepasan androgen dapat disebabkan oleh kekurangan GnRH. Bahkan sekresi GnRH nonpulsatil
merangsang pembentukan androgen secara tidak adekuat. Keduanya dapat terjadi pada
kerusakan di hipotalamus (tumor, radiasi, perfusi yang abnormal, kelainan genetik) serta sters
psikologis dan fisik.
Konsentrasi GnRH (dan analognya) yang tinggi dan menetap akan menurunkan
pelepasan gonadotropin dengan menurunkan jumlah reseptornya. Penyebab lain adalah
penghambatan pelepasan gonadotropin pulsatil oleh prolaktin serta kerusakan di hipofisis
(trauma, infark, penyakit autoimun, tumor, hiperplasia) atau di testis (kelainan genetic, penyakit

5
sistemik yang berat). Akhirnya, efek androgen dapat dihambat oleh kelainan enzim pada sintesis
hormon, misalnya pada defisiensi reduktase genetic atau kelainan reseptor testosteron

2.4 Manifestasi Klinik


A. Pria
1) Defisiensi hormon pada masa kanak-kanak (prepubertas)
Gambaran klinisnya adalah enukoidisme, orang-orang enukoid yang berusia di atas 20 tahun,
biasanya tinggi, bahu sempit dan otot kecil (konfigurasi tubuh yang mirip dengan wanita
dewasa). Selain itu genitalia kecil, suara memiliki nada tinggi, pertumbuhan rambut pubis wanita
yaitu segitiga dengan dasar di atas, bukan pola segitiga yang dasarnya di bawah seperti yang
dijumpai pada pria normal.
2) Difisiensi post pubertas
Pada pria dewasa mengalami penurunan sebagian libido, kadang-kadang mengalami hot flashes,
biasanya lebih mudah tersinggung, pasif dan menderita depresi dibanding dengan yang memiliki
testis utuh. Selain itu terjadi impotensi, pengurangan progresif rambut dan bulu tubuh, jenggot
dan berkurangnya pertumbuhan otot.

6
B. Wanita
Berhentinya menstruasi atau amenorhoe, atropi payudara dan genetalia eksterna serta
penurunan libido.
Dampak Terhadap Sistem Lain
1) Sistem Reproduksi
a. Atropi testis dan ovariu
b. Impotensi
c. Kehilangan/penurunan libido
d. Genetalia kecil
e. Atropi payudara
2) Sistem Muskuloskeletal
a. Otot kecil
b. Pertumbuhan otot kurang
3) Sistem Integumen
a. Pertumbuhan rambut tubuh jarang

2.4 Komplikasi
Akibat hipogonadisme yang terlambat ditangani dapat diobati sesuai dengan usia orang
tersebut pertama kali memiliki hipogonadisme (selama perkembangan janin, masa pubertas,
atau dewasa).
Masa perkembangan Janin
Seorang bayi mungkin lahir dengan:
o Alat kelamin yang ambigu
o Alat kelamin yang abnormal
Masa pubertas
Perkembangan pada masa pubertas biasanya tidak lengkap atau tertunda, sehingga
menimbulkan:
o Kurangnya atau ketiadaan jenggot serta rambut/ bulu tubuh
o Gangguan pada penis dan pertumbuhan testis
o Pertumbuhan yang tidak proporsional, lengan dan kaki biasanya lebih panjang
o Pembesaran payudara pada laki-laki (gynecomastia)

7
Masa dewasa,
Komplikasi mungkin termasuk:
o Infertilitas
o Disfungsi ereksi
o Penurunan dorongan seks
o Kelelahan
o Kehilangan atau lemahnya otot
o Pembesaran payudara pada laki-laki (gynecomastia)
o Kurangnya jenggot atau rambut/bulu tubuh dan Osteoporosis

2.5 Pemeriksaan Diagnostik


1. CT Scan otak, untuk melihat adanya tumor pada hipofise/hipothalamus
2. Pengambilan kadar testoteron serum
3. Kadar gonadotropi serum dan kariotip
4. Test stimulasi dengan klomifen
5. Test stimulasi Gn RH
6. Test stimulasi HCG
7. Analisis semen untuk kuantitas dan kwalitas sperma.

2.6 Penatalaksanaan Medis


1. Pria
Dengan pemberian testoteron dengan dosis yang sesuai untuk hasil yang maksimal
dikombinasikan dengan HCG diberikan 3x seminggu dalam waktu 4-6 bulan sampai kadar
testoteron normal. Setelah 6 bulan terapi, bila jumlah sperma tetap sedikit maka pegobatan
dihentikan, bila jumlah sperma meningkat maka terapi diteruskan.

2. Wanita
Dengan pemberian estrogen dan progesteron.

8
ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN
a. Identitas Pasien
Nama :

Jenis kelamin :

Umur :

No MR :

Alamat :

b. Riwayat Kesehatan
RKS : Biasanya pada pasien wanita mengeluhkan pengecilan payudara dan genetalia
eksterna, berhentinya menstruasi, penurunan libido. Pada pasien laki-laki mengeluhkan
penurunan libido, impoten, suara tinggi seperti wanita, bahu sempit dan otot kecil
(konfigurasi tubuh yang mirip dengan wanita dewasa), lebih mudah tersinggung,
menderita depresi. itu terjadi impotensi, pengurangan progresif rambut dan bulu tubuh,
jenggot dan berkurangnya pertumbuhan otot.

RKD : biasanya pasien mempunyai riwayat penyakit HIV/AIDS, tumor infeksi kelenjer
gonad, pasien pernah mengalami kecelakaan atau trauma pada daerah genetalia,
mengkonsumsi obat-obat kanker, pasien mempunyai riwayat obesitas.

RKK : biasanya anggota keluarga pasien mempunyai penyakit yang sama dengan
pasien.

c. Pemeriksaan Fisik

a) Tingkat energi
 Kaji perubahan kekuatan fisik dihubungkan dengan sejumlah gangguan hormonal
khususnya hormon gonad.
 Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

9
b) Pertumbuhan dan perkembangan
Secara langsung pertumbuhan dan perkembangan ada di bawah pengaruh GH, kelenjar
tiroid dan kelenjar gonad. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan dapat terjadi semenjak di
dalam kandungan bila hormon yang mempengaruhi tumbang fetus kurang. Kondisi ini dapat
terjadi pula setelah bayi lahir artinya selama proses tumbang terjadi disfungsi gonad.
o Kaji apakah gangguan ini terjadi semenjak bayi dilahirkan atau terjadi selama proses
pertumbuhan.
o Kaji secara lengkap pertumbhan ukuran tubuh dan fungsinya.
o Kaji apakah perubahan fisik dipengaruhi kejiwaan klien.
c) Seks dan reproduksi
Fungsi seksual dan reproduksi penting untuk dikaji baik pada klien wanita
maupun pria.
o Pada klien wanita
Kaji kapan mulai/berhenti menstruasi, perubahan fisik termasuk sering nyeri atau keram
abdomen sebelum, selama dan sesudah haid.
o Pada klien pria
Kaji apakah klien mampu ereksi, dan orgasme serta bagaimana perasaan klien setelah
melakukannya, adakah perasaan puas dan menyenangkan. Tanyakan adakah perubahan
bentuk dan ukuran alat genitalianya.

 Aspek Psikologis
 Kaji kemampuan kooping, dukungan keluarga, teman dan handaitoulan serta
bagaimana keyakinan klien tentang sehat dan sakit.
 Kaji kemampuan klien dan keluarga dalam memberi perawatan di rumah
termasuk penggunaan obat-obatan.

 Aspek sosial
Perlu dikaji kondisi lingkungan, menarik diri dari pergaulan.

 Aspek spiritual

10
Perlu dikaji tentang agama, keyakinan, peribadatan harapan serta semangat yang
terkandung dalam diri klien yang merupakan aspek penting untuk kesembuhan penyakit
klien.

d. Pemeriksaan Penunjang
1. CT Scan otak, untuk melihat adanya tumor pada hipofise/hipothalamus
2. Pengambilan kadar testoteron serum
3. Kadar gonadotropi serum dan kariotip
4. Test stimulasi dengan klomifen
5. Test stimulasi Gn RH
6. Test stimulasi HCG
7. Analisis semen untuk kuantitas dan kwalitas sperma.

2. ANALISA DATA
No. Data Masalah Keperawatan

1. Do : klien tampak tidak Gangguan citra tubuh b/d perubahan struktur


percaya diri
dan fungsi tubuh
Ds : klien mengatakan
payudara semakin mengecil

2. Do : kadar testosterone serum Disfungsi seksual b/d perubahan bentuk dan


menurun, atropi testis,
fungsi organ seks
genetalia mengecil
Ds : klien mengatakan
ketidakpuasan dalam
hubungan sexualitasnya

3. Do : klien tampak cemas dan Cemas b/d kurang pengetahuan tentang proses
gelisah
penyakit
Ds : klien sering bertanya
tentang penyakitnya

11
III. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN TIMBUL

a. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan struktur dan fungsi tubuh akibat
difisiensi gonad.
b. Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan bentuk dan fungsi organ seks akibat
difisiensi gonad.
c. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang proses penyakit, pengobatan
dan perawatan atau minimnya informasi yang didapat.

IV. INTERVENSI
No. Diagnosa NOC NIC
1. Gangguan citra  Body image Body image enhancement
tubuh b/d perubahan  Self esteem  Kaji secara verbal dan
struktur dan fungsi Kh : non verbal respon klien
tubuh  Body image positif teradap tubuhnya
 Mampu  Monitor frekuensi
mengidentifikasi mengkritik dirinya
kekuatan personal  Jelaskan tentang
 Mendeskripsikan pengobatan, perawatan,
secara factual kemajuan dan
perubahan fungsi prognosis penyakit
tubuh  Dorong klien
 Mempertahankan mengungkapkan
interaksi sosial perasaannya
2. Disfungsi seksual  Sexuality pattern, Sexual conseling
b/d perubahan ineffective  Membangun hubungan
bentuk dan fungsi  Self-esteem terapeutik, berdasarkan
organ seks Situasional Low kepercayaan dan rasa
 Knowledge Sexual hormat
Functioning  Menyediakan privasi
Kh :

12
 Pemulihan dan dan menjamin
penganiayaan kerahasiaan
sexual  Menginformasikan
 Perubahan fisik pasien di awal
dengan penuaan hubungan bahwa
pria dan wanita sexualitas adalah
 Pengenalan dan bagian penting bagi
penerimaan kehidupan dan bahwa
identitas sexual penyakit, obat obatan
pribadi dan stress atau masalah
 Mengetahui lain sering mengubah
masalah reproduksi fungsi sexual

 Control resiko  Memberikan informasi


penyakit menular fungsi sexual
sexual ( PMS )  Diskusikan efek dari
 Menunjukkan situasi penyakit atau
dapat berdaptasi kesehatan pada
dengan sexualitas
ketidakmampuan
fisik

3. Cemas b/d kurang  Anxiety self – Anxiety Reduction (


pengetahuan tentang control Penurunan Kecemasan )
proses penyakit  Anxiety level  Gunakan pendekatan
 Coping yang menengkan
Kh :  Nyatakan dengan jelas
 Klien mampu harapan terhadap
mengidentifikasi prilaku pasien
dan mengungkapan  Jelaskan semua
gejala cemas prosedur dan apa yang

13
 Mengidentifikasi,m dirasakan selama
engungkapkan dan prosedur
menunjukkan  Pahami perspektif
teknik untuk pasien terhadap situasi
mengontrol cemas stress
 Vital sign dalam  Temani pasien untuk
batas normal memberikan keamanan
 Postur tubuh, atau dan mengurangi takut
ekspresi wajah dan  Dengarkan dengan
bahasa tubuh penuh perhatian
menunjukkaan  Indentifikasi tingkat
kurangnya kecemasan
kecemasan

14
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Hipogonadisme adalah berkurangnya atau menurunnya hormone androgen sehingga


mempengaruhi fungsi dan ciri seks dari kelamin baik pria dan wanita. Pada pria dewasa
mengalami penurunan sebagian libido, kadang-kadang mengalami hot flashes, biasanya lebih
mudah tersinggung, pasif dan menderita depresi dibanding dengan yang memiliki testis utuh.
Selain itu terjadi impotensi, pengurangan progresif rambut dan bulu tubuh, jenggot dan
berkurangnya pertumbuhan otot. Berhentinya menstruasi atau amenorhoe, atropi payudara dan
genetalia eksterna serta penurunan libido. Dengan penggantian hormon dan perawatan yang tepat
penderita hipogonadisme baik laki –laki maupun perempuan dapat hidup normal.

3.2. Saran

Pemakalah berharap makalah ini bermanfaat bagi pembaca dalam menambah


pengetahuan mengenai Hipogonadisme. Pemakalah menyadari bahwa makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan, untuk itu mengharapkan krtik dan saran yang bersifat membangun untuk
kemajuan di masa yang akan datang

15