Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

PENGANTAR FISIKA MATERIAL

ALLOY : Nonferrous alloy and thermal processing

Oleh :
Partanu Ardi Aksa
140310120053

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
DEPARTEMEN FISIKA
JATINANGOR
2017
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................................... 2

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 3

1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 3

1.2 Identifikasi Masalah ...................................................................................... 3

1.3 Batasan Masalah............................................................................................ 3

1.4 Tujuan ........................................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 5

2.1 Sejarah Alloy................................................................................................. 5

2.2 Definisi Alloy ................................................................................................ 7

2.3 Klasifikasi Alloy ........................................................................................... 8

2.4 Non-ferrous Alloys ........................................................................................ 8

2.4.1 Alloy Magnesium ................................................................................... 9

2.4.2 Alloy Perunggu .................................................................................... 10

2.4.3 Alloy Aluminium ................................................................................. 10

2.4.4 Alloy Titanium ..................................................................................... 11

2.4.5 Alloy non-ferrous lainnya .................................................................... 12

2.5 Thermal Processing Alloy ........................................................................... 12

2.5.1 Annealing ............................................................................................. 12

2.5.2 Tempering ............................................................................................ 13

2.5.3 Quenching ............................................................................................ 13

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 15

3.1 Kesimpulan ................................................................................................. 15

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 16

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Alloy merupakan campuran logam-logam atau logam dengan unsur yang
lain yang memiliki sifat berbeda dari unsur penyusun nya. Alloy mengandung atom
dengan ukuran yang berbeda, yang akan merubah susunan atom nya. Logam yang
dominan pada Alloy biasa disebut logam utama, dan unsur lain disebut unsur
paduan.
Alloy adalah suatu bahan yang diproses dengan jalan mencampur beberapa
jenis logam menjadi bahan baru melalui proses peleburan pada suhu tinggi. Sifat
dari alloy ini diharapkan dapat lebih unggul daripada sifat unsur logam munrinya.
Sebagai contoh adalah besi (Fe) yang bersifat keras tetapi tidak stabil karena mudah
berkarat. Jika besi dicampur dengan 3% karbon (C) maka akan diperoleh besi baja
dengan kekerasan yang berlipat dari besi murninya. Tujuan pencampuran ini seperti
disebutkan di atas, adalah untuk mencari sifat bahan baru yang memiliki sifat lebih
unggul.
Secara umum Alloy dibagi menjadi dua berdasarkan kandungan besi (Fe),
yaitu ferrous alloy dan nonferrous alloy. Pembuatan dari alloy itu sendiri memiliki
proses yang dinamakan Thermal Processing of Alloys.

1.2 Identifikasi Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan ferrous alloy dan nonferrous alloy ?
2. Apa yang dimaksud dengan Thermal Processing of Alloys ?

1.3 Batasan Masalah


1. Pembahasan dibatasi pada penjelasan tentang nonferrous alloy dan jenis-
jenisnya.

1.4 Tujuan
1. Menjelaskan tentang nonferrous alloys

3
2. Menjelaskan tentang Thermal processing of alloys

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Alloy


Di jaman dahulu, perunggu adalah paduan pertama, atau kombinasi logam,
yang berdampak pada kemanusiaan. Bangsa Sumeria di milenia ketiga,
mengembangkan paduan 90 persen tembaga menjadi 10 persen timah. Lebih keras
dan lebih tahan kimia daripada tembaga murni, masyarakat yang memanfaatkan alat
perunggu dan senjata dengan mudah memerintah bangsa tetangga. Selama Zaman
Perunggu di Asia, tambang Tembaga di sana menghasilkan kualitas yang berbeda
daripada di Eropa karena jumlah paduan yang berbeda terjadi di dalamnya.
Tembaga dari tambang ini menciptakan perunggu dapat membuat alat musik dan
cermin yang lebih baik, membuat perunggu yang lebih baik, ada yang membuat alat
dan senjata terbaik. Paduan berbeda membuat kualitas Bronze yang berbeda.
Kita harus berterima kasih kepada orang-orang Persia atas pengembangan
baja karbon pada abad ke-16 SM dan memulai Zaman Besi. Baja adalah logam yang
masih paling banyak diproduksi, dan merupakan blok bangunan masyarakat
modern. Baja karbon pertama diproduksi saat besi dipalu dan ditempa dengan
adanya karbon (yang dilepaskan oleh api yang digunakan untuk memanaskannya.)
Setelah besi tersebut dibanjiri dengan karbon di kisaran 1%, kekerasannya
meningkat dan menjadi berguna untuk alat pertanian dan senjata. Setelah elemen
logam berat tertentu diisolasi, seperti magnesium, nikel dan kromium, dan
menggunakannya sebagai paduan dengan baja karbon dapat membuat baja
mengambil sifat seperti stainless, tahan aus, dan bahkan tahan korosi. Era Industri
dan zaman modern kita dibangun di atas paduan baja ini. Pandai besi dan pengrajin
tanah liat, pembuat pot tanah liat dan barang porcelin, bekerja bahu-membahu
dalam pengembangan paduan abad ke-18. Tukang tembikar, yang menghasilkan
kiln dan glazes suhu tinggi, sebenarnya menyempurnakan bahan yang dibutuhkan
untuk membuat paduan, dan secara serentak mengisolasi unsur logam. Garam
logam alami dan oksida logam adalah bahan dari banyak pigmen, pewarna dan
glazes. Besi tidak terjadi secara alami dalam keadaan logam - kecuali di Meteorit

5
Besi (yang merupakan 95% Besi dan Nikel 4,9%). Hal ini dapat disempurnakan
dari Hematit (Oksida Besi), sumber utama bijih. Begitu Tabel Periodik Mendeleyev
dari Elemen diterbitkan tahun 1869, penyempurnaan unsur logam akhirnya menjadi
sains dengan isolasi dan deskripsi nama dan perilaku logam berat tertentu.
Pada zaman kuno, paduan emas dan perak paling jelas terlihat dalam mata
uang yang diproduksi masyarakat tertentu. Koin nikel-perunggu muncul di dekat-
timur di abad ke-3 kemungkinan besar karena paduan alami yang ditemukan di
tambang lokal. Sampai 2000 tahun yang lalu, koin biasanya perunggu, emas atau
perak. Orang-orang Mesir mulai bereksperimen dengan kombinasi 50 persen emas
dan 50 persen perak di beberapa artefak. Paduan ini disebut Electrum, cenderung
mengacu pada fakta bahwa Silver adalah konduktor listrik dan panas terbaik.
Formula emas kuning 18K telah terbukti sejak era Raja Tutankhamen di tahun 1300
SM di Mesir. Rumus yang sama yang digunakan kemudian sama dengan yang
masih digunakan sampai sekarang (50% Copper dan 50% Silver).
Orang Romawi adalah yang pertama mengembangkan pengganti emas
mereka sendiri. Pada masa pemerintahan Caesar Augustus pada 20 SM, kuningan
dikembangkan (75 persen tembaga dan 25 persen seng) dan dimasukkan ke dalam
koin. Karena sangat mirip emas, dan menggunakan tembaga lebih sedikit (yang 90
persen tembaga dan kaleng 10 persen), hal ini segera diadopsi dan langsung
mendapat popularitas. Itu bahkan disebut 'Aurichalcum' atau Golden Copper. Koin
Celtic, yang dimulai saat Celtic mulai membuat koin Romawi, melanjutkan
pengembangan kuningan modern dengan paduan 60 persen tembaga dan seng 40
persen. Paduan emas modern yang digunakan dalam perhiasan dimaksudkan untuk
menguatkan emas, yang sangat lembut dalam bentuknya yang murni, dan
menghasilkan warna yang lebih menarik. Emas murni (100% AU) disebut emas 24
Karat. Istilah karat adalah istilah kuno untuk kemurnian dan berat berdasarkan biji
Carob yang ditemukan di Timur Tengah. Saat ini, ketika Anda mendengar emas
14K atau 18K, ini mengacu pada bagian emas di perhiasan. Sebagai contoh; sebuah
cincin emas 18 Karat memiliki 18/24 bagian emas dan 6/24 bagian dari logam atau
paduan yang berbeda.

6
2.2 Definisi Alloy
Alloy adalah campuran dari dua atau lebih elemen logam, kadang-kadang
merupakan unsur penting mungkin metalloid, atau bahkan non-logam (misalnya,
karbon dalam baja. Sifat logam bergantung pada sifat termal dan mekanik. Sifat-
sifat suatu paduan tidak hanya tergantung pada faktor-faktor ini, tetapi juga pada
komposisinya. Sifat mekanik paduan dapat sangat berbeda dari orang-orang dari
logam komponen atau metaloid. Sebagai contoh, sebuah paduan emas 50% dan
50% tembaga memiliki kekuatan impak lebih besar dari yang baik emas atau
tembaga.
Paduan dapat diklasifikasikan sebagai binary (2 unsur), tersier (3 konstituen.
kuartener (4 konstituen), dll. Semakin besar jumlah konstituen, semakin kompleks
menjadi struktur paduan. Suatu sistem mengacu pada semua komposisi persentase
kemungkinan paduan. Sebagai contoh, emas sistem perak mengacu pada semua
kombinasi dari perak dua dari 100% emas untuk 100%. Sifat-sifat paduan
diilustrasikan oleh dua contoh struktur kontras dan sifat-emas paduan dan baja.
Jika Alloy dilihat menggunakan mikroskop elektron, maka akan terlihat
susunan atom dalam struktur umum yang disebut kisi kristal.

Gambar 2. 1 Susunan atom Alloy secara mikroskopis

Jika unsur paduan mengganti kududukan logam utama dan ukuran nya kurang lebih
sama disebut Substitution Alloy. Dinamakan Interstitial Alloy jika unsur paduan
memiliki ukuran yang jauh lebih kecil dari logam utama dan menyelinap diantara
logam utama.

7
2.3 Klasifikasi Alloy
Logam Alloy secara umum dibagi menjadi dua, yaitu ferrous alloy dan non-
ferrous alloy. Pembagian ini didasari atas kandungan besinya.

Gambar 2. 2 Klasifikasi Alloy

Ferrous alloy adalah dimana besi sebagai komponen utama dan karbon
beserta komponen – komponen lainnya sebagai bahan paduan. Berdasarkan
kandungan paduan, besi paduan dibagi atas:
 Besi (iron)
 Baja (steel)
 Besi tuang (cast iron).
Logam non ferro atau logam bukan besi adalah logam yang tidak
mengandung unsur besi (Fe). Logam non ferro murni kebanyakan tidak digunakan
begitu saja tanpa dipadukan dengan logam lain, karena biasanya sifat-sifatnya
belum memenuhi syarat yang diinginkan.

2.4 Non-ferrous Alloys


Logam non ferro atau logam bukan besi merupakan logam yang tidak
mengandung unsur besi (Fe), yang memiliki sifat mekanik material tersendiri.
Logam non ferro murni kebanyakan tidak bisa digunakan begitu saja tanpa
dipadukan dengan logam lain, karena biasanya sifat-sifatnya belum memenuhi
syarat yang diinginkan. Kecuali logam non ferro murni, platina, emas dan perak
tidak dipadukan karena sudah memiliki sifat yang baik, misalnya ketahanan kimia
dan daya hantar listrik yang baik serta cukup kuat, sehingga dapat digunakan dalam
keadaan murni. Tetapi karena harganya mahal, ketiga jenis logam ini hanya
digunakan untuk keperluan khusus. Misalnya dalam teknik proses dan laboratorium
di samping keperluan tertentu seperti perhiasan dan sejenisnya.

8
Selain memiliki fungsi sebagai penghantar listrik yang cukup baik, Logam
non fero juga digunakan untuk campuran besi atau baja dengan tujuan memperbaiki
sifat-sifat baja. Dari jenis logam non ferro berat yang sering digunakan untuk
paduan baja antara lain, nekel, kromium, molebdenum, wolfram dan sebagainya.
Sedangkan dari logam non ferro ringan antara lain: magnesium, titanium, kalsium
dan sebagainya. Ferrous Alloy telah digunakan pada banyak sektor karena memiliki
sifat mekanis yang luas dan relatif murah untuk diproduksi, namun terdapat
beberapa batasan antara lain:
 Memiliki kerapatan yang relatif tinggi
 Konduktivitas listrik yang rendah
 Kerentanan terhadap korosi
Maka dari itu untuk aplikasi lain diperlukan menggunakan alloy lain yang memiliki
kombinasi sifat yang tepat. Pada bagian ini dibahas alloy sistem: Copper,
Aluminum, Magnesium, and Titanium Alloy. Refractory metals, Superalloys, noble
metal, dan miscellaneous alloys (434).
2.4.1 Alloy Magnesium
Magnesium alloy adalah percampuran logam magnesium dengan
metal lainnya yang disebut alloy. Umumnya campuran tersebut antara lain
aluminium, zinc, mangan, silikon, tembaga, dan zirkonium. Magnesium
sendiri merupakan struktur metal paling ringan (massa jenis 1,74 g/cm3)
yang sering digunakan dalam industri penerbangan dan otomotif.

9
Gambar 2. 3 Aplikasi Alloy Magnesium

2.4.2 Alloy Perunggu


Perunggu adalah campuran tembaga dengan unsur kimia lain,
biasanya dengan timah, walaupun bisa juga dengan unsur-unsur lain seperti
fosfor, mangan, alumunium, atau silikon. Perunggu bersifat keras dan
digunakan secara luas dalam industri. Perunggu sangat penting pada masa
lampau, bahkan pernah suatu masa disebut sebagai Zaman Perunggu. Ada
beberapa jenis alloy perunggu, diantaranya:
 Brass : koin, instrument music, dll.
 Bronze : lebih keras dari brass, dengan derajat ketahanan korosi
lebih tinggi
 Heat-treated Cu-alloys : ketahanan tinggi, tahan korosi, namun
mahal dalam produksi. Digunakan dalam industry pesawat.
2.4.3 Alloy Aluminium
Salah satu keunggulan dari aluminium yang membuatnya banyak
digunakan dalam industri adalah kemudahan dalam mencampurkannya

10
dengan bahan lain. Aluminium yang sudah dicampur bahan lain ini biasa
disebut dengan aluminium paduan atau aluminium alloy.
Mencampur aluminium dengan bahan lain bertujuan untuk
meningkatkan sifatnya supaya lebih kuat atau sesuai dengan tujuan industri
tertentu. Beberapa bahan yang biasa digunakan untuk pencampuran
aluminium jenis alloy adalah:
 Titanium : aluminium yang dicampur dengan bahan ini akan
menjadi lebih kuat dan daktilitas (kemampuan bahan untuk
meregang dan menahan beban).
 Nikel : aluminium dengan campuran nikel memiliki kemampuan
untuk bertahan dalam suhu tinggi.
 Boron : aluminium yang dicampur dengan boron akan
bertambah konduktivitas elektriknya.

Gambar 2. 4 Jenis seri penomoran alloy alumunium berdasarkan logam perpaduannya

2.4.4 Alloy Titanium


Titanium dapat digunakan sebagai aloi dengan besi, aluminium,
vanadium, dan molybdenum, untuk memproduksi aloi yang kuat namun
ringan untuk penerbangan (mesin jet, misil, adan wahana antariksa), militer,

11
proses industri (kimia dan petrokimia, pabrik desalinasi, pulp, dan kertas),
otomotif, agro industri, alat kedokteran, implan ortopedi, peralatan dan
instrumen dokter gigi, implan gigi, alat olahraga, perhiasan, telepon
genggam, dan masih banyak aplikasi lainnya.
2.4.5 Alloy non-ferrous lainnya
Alloy lain yang termasuk ke dalam non-ferrous alloy diantaranya :

 The refractory metals


Modulus elastisitas tinggi, sangat kuat pada jenjang temperature
yang sangat jauh. Digunakan pada berbagai tambang, alat
potong, dll.
 The superalloys
Digunakan pada aplikasi turbin pesawat, reactor nuklir, alat
petrokimia, dll.
 The noble metal alloy
Ru(44), Rh(45), Pd(46), Ag(47), Os(75), Ir(77), Pt(78), Au(79).
Sangat tahan terhadap korosi namun sangat mahal untuk
produksinya.
 Miscellaneous nonferrous alloys
Nickel dan alloynya (aplikasinya untuk pipa-pipa) dan Timbal
dan alloynya (aplikasinya untuk solder, perisai x-ray, pelapis,
dll.)

2.5 Thermal Processing Alloy


Suhu tinggi terutama sangat diperlukan untuk produksi alloy karena
pembuatan alloy membutuhkan peleburan agar logam-logam yang menjadi bahan
atau komponen alloy dapat bersatu sehingga saling memberikan sifat yang
meningkatkan kualitas alloy. Beberapa proses thermal tersebut diantaranya :

2.5.1 Annealing
Proses annealing atau anil merupakan perlakuan panas yang
dilakukan pada logam hasil pengerjaan dingin atau cold working.

12
› Stages of annealing:
• Heating to required temperature
• Holding (“soaking”) at constant temperature
• Cooling
› Purposes of annealing:
• Relieve internal stresses
• Increase ductility, toughness, softness
• Produce specific microstructure

Gambar 2. 5 Tipe-tipe Annealing

2.5.2 Tempering
Proses mengeraskan kaca atau logam, khususnya baja dengan cara
memanaskannya kemudian mendinginkannya secara cepat (misalnya
dicelup air atau oli), kemudian memanaskannya lagi pada suhu tertentu
(tetapi lebih rendah daripada suhu pemanasan pertama) dan selanjutnya
mendinginkannya secara perlahan.

2.5.3 Quenching
Quenching adalah proses perlakuan panas dimana prosesnya
dilakukan dengan pendinginan yang relatif cepat dari temperatur austenisasi
(umumnya pada jarak temperatur 815oC – 870oC) pada baja. Keberhasilan

13
proses quenching ditentukan oleh media quenching (quenchant medium)
yang digunakan. Untuk menentukan media quenching, sangat bergantung
pada mampu keras (hardenability) dari logam, ketebalan dan bentuk dari
benda uji yang akan quenching. Serta struktur mikro yang diinginkan dari
hasil proses quenching. Adapun media quenching yang sering digunakan
adalah media cair (liquid) dan gas. Media quenching cair adalah oli, air,
larutan polimer (aquos polymer solution), Larutan garam. Sedangkan media
quenching gas adalah helium, argon, dan nitrogen.

Tujuan dari proses quenching secara umum pada baja (baja carbon,
low alloy steel, dan tool steel) adalah untuk proses hardening, yaitu
menghasilkan struktur mikro martensit pada baja tersebut. Proses hardening
yang baik adalah bila mendapatkan harga kekerasan, kekuatan, dan
toughness yang besar tetapi dengan residual stress, distorsi, dan cracking
yang minimal. Pada stainless steel dan high alloy steels tujuan proses
quenching adalah untuk meminimalisasi keberadaan batas butir karbida atau
untuk meningkatkan distribusi ferit.

14
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Logam non ferro atau logam bukan besi adalah logam yang tidak
mengandung unsur besi (Fe). Logam non ferro murni kebanyakan tidak digunakan
begitu saja tanpa dipadukan dengan logam lain, karena biasanya sifat-sifatnya
belum memenuhi syarat yang diinginkan.
Suhu tinggi terutama sangat diperlukan untuk produksi alloy karena
pembuatan alloy membutuhkan peleburan agar logam-logam yang menjadi bahan
atau komponen alloy dapat bersatu sehingga saling memberikan sifat yang
meningkatkan kualitas alloy.

15
DAFTAR PUSTAKA

ASM International. ASM Handbook Volume 4 Heat Treating. ASM International, 2005.

Callister, William D Jr, 2003. Materials Science and Enginering. Utah: University
of Utah.

ASM team. 1997 “ASM Hand book, volume 2- Properties and Selection
Nonferrous Alloys and Special-Purpose Materials”, American Society
for Metals, The United States of America, Literatur

16