Anda di halaman 1dari 92

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Jambu biji ( Psidium guajava Linn ) tumbuh alami di daerah tropis
Amerika yang mudah di jumpai di seluruh daerah tropis dan subtropis.
Psidium guajava Linn, yang termasuk famili myrtaceae telah banyak
digunakan sebagai pengobatan. Daun jambu biji mengandung essensial yang
kaya akan sineol, tannin dan triterpen. Tiga senyawa flavonoid yaitu
Quersetin, Axicularin, dan Guaijavarin telah di isolasi dari daun jambu biji.
Kandungan senyawa fenolik fitokimia yang melimpah dalam daun jambu biji.
Dapat menghambat reaksi peroksida dalam tubuh, sehingga dapat mencegah
berbagai penyakit kronis seperti diabetes, kanker dan penyakit hepar.
Bagian yang sering digunakan adalah daun dan buah. Dimana daun
mengandung tannin , minyak atsiri (eugenol), minyak lemak, damar, dan zat
samak, triterpenoid, flavonoid, asam malat, dan asam apfel.
Sedangkan buah mengandung asam amino (tritofan, lisin), pectin, kalsium,
fosfor, besi, mangan, magnesium, belerang dan vitamin (A, B1, dan C).
Ekstrak daun jambu biji mempunyai aktivitas antiradikal yang potensial.
Peningkatan asupan seimbang ekstrak daun jambu biji dapat meningkatkan
kesehatan. Metabolit sekunder seperti Quersetin (yang juga terdapat dalam
daun jambu biji). Sudah dipastikan mempunyai aktivitas antiradikal,
sedangkan komponen tannin sebagai komponen utama juga menunjukkan
aktivitas yang potensial sebagai antiradikal.
Daun jambu biji sering dimanfatkan oleh masyarakat Indonesia untuk
pengobatan berbagai macam penyakit antara lain diare.
Pemanfaatan daun jambu biji diharapkan dapat memberikan alternatif produk
suplemen antiradikal bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
1.2. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana menentukan parameter standart ekstrak daun jambu biji
(Psidium guajava)
2. Berapa besar kandungan kimia Quersetin yang terdapat dalam ekstrak
daun jambu biji (Psidum guajava)
3. Apakah dapat menhasilakan sediaan obat dengan formulasi yang tepat
dari bahan aktif ekstrak etanol jambu biji (Psidium guajava)

1.3. TUJUAN
1. Menentukan parameter-parameter standart ekstrak daun jambu biji
2. Menentukan besarnya kandungan kimia (Quersetin) yang terdapat dalam
ekstrak daun jambu biji
3. Menghasilkan sediaan obat dengan formulasi yang tepat dari bahan aktif
ekstrak etanol jambu biji

1.4. MANFAAT
1. Bagi pemanfaatan IPTEKS
Menambah khasanah pengetahuan di bidang formulais sediaan kapsul
yang menggunakan ekstrak jambu biji (Psidium guajava)
2. Bagi Masyarakat
Menjadi alternatif antidiare alami yang relatif aman dan terjangkau
3. Bagi Mahasiswa
Terarahnya kemampuan, kreativitas, dan keahlian di bidang kefarmasiaan
4. Prospek di masa mendatang
Penelitian ini diharapkan dapat mendukung pengembangan daun jambu
biji sebagai fitofarmaka serta memiliki nilai komersial.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 . OBAT TRADISIONAL

Pengobatan tradisional adalah pengobatan dan/atau perawatan dengan


cara, obat dan pengobatnya yang mengacu kepada pengalaman, ketrampilan
turun temurun, dan/atau pendidikan atau pelatihan dan diterapkan sesuai
dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. Obat tradisional adalah obat
yang dibuat dari bahan atau paduan bahan-bahan yang diperoleh dari tanaman,
hewan atau mineral yang belum berupa zat murni, tapi sebagian besar berasal
dari tanaman (Anonim, 2003). Obat tradisional yang digunakan sebaiknya
memenuhi kriteria mudah didapat (jika mungkin dari kebun sekitar rumah),
dikenal oleh banyak orang serta proses penyimpanannya sederhana, mudah
digunakan dan tidak berbahaya dalam penggunaan (Agoes dan Jacob, 1992).

Obat asli Indonesia ada tiga yaitu jamu, obat herbal terstandar dan
fitofarmaka. Jamu adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan
tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dari
bahan-bahan tersebut yang secara tradisional telah digunakan untuk
pengobatan berdasarkan pengalaman. Obat herbal terstandar adalah sediaan
obat yang telah jelas keamanan dan khasiatnya, bahan bakunya dari simplisia
atau sediaan galenik yang telah memenuhi persyaratan yang berlaku, sehingga
sediaan tersebut terjamin keseragaman komponen aktif, keamanan dan
khasiatnya. Fitofarmaka merupakan sediaan obat yang jelas keamanan dan
khasiatnya serta sudah teruji secara praklinis, klinis dan pascaklinis. Bahan
bakunya terdiri dari simplisia atau sediaan galenik yang memenuhi persyaratan
yang berlaku, sehingga sediaan tersebut terjamin keseragaman komponen aktif,
keamanan dan khasiatnya (Anonim, 2004).
2.2. SIMPLISIA

Simplisia adalah bahan alami yang digunakan untuk obat dan belum
mengalami perubahan proses apapun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya
berupa bahan yang telah dikeringkan (Anonim, 1979). Berdasarkan hal itu
maka simplisia dibagi menjadi tiga golongan, yaitu simplisia nabati merupakan
simplisia yang dapat berupa tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat tanaman
atau gabungan antara ketiganya, simplisia hewani yaitu simplisia berupa
hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa
bahan kimia murni dan simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa
bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara
sederhana dan belum berupa bahan kimia murni. Pada umumnya pembuatan
simplisia melalui tahapan-tahapan : pengumpulan bahan baku, sortasi basah,
pencucian, perajangan, pengeringan, sortasi kering, pengepakan, penyimpanan
dan pemeriksaan mutu (Gunawan dan Mulyani, 2004).

2.3. EKSTRAK DAN EKSTRAKSI

Ekstrak adalah sediaan yang dapat berupa kering, kental dan cair,
dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang sesuai,
kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk
yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi syarat baku yang telah
ditetapkan (Anonim, 1995).

2.4. TANAMAN JAMBU BIJI (Psidium guajava Linn.)

1. Sistematika tanaman

Sistematika tanaman jambu biji sebagai berikut:

Divisio : Spermatophyta

Sub divisio : Angiospermae


Klass : Dicotyledonae

Ordo : Myrtales

Famili : Myrtaceae

Genus : Psidium

Spesies : Psidium guajava Linn. (van Steenis, 1947)

2. Nama daerah

Sumatera: glime breueh (Aceh), glimeu beru (Gayo), galiman (Batak karo),
masiambu (Nias), jambu biawas, jambu biji (Psidium guajava Linn.) ,
jambu batu, jambu klutuk (Melayu). Jawa: jambu klutuk (Sunda), jambu
krutuk, jambu krikil (Jawa), jhambu bhender (Madura), Nusa Tenggara:
sotong (Bali), guawa (Flores), goihawas (Sika). Sulawesi: gayawas
(Manado), boyawat (Mongondow), koyawas (Tonsaw), dambu (Gorontalo),
jambu paratugala (Makasar), jambu paratukala (Bugis), jambu (Baree),
kujabas (Roti), biabuto (Buol). Maluku: kayawase (Seram Barat), kujawase
(Seram Selatan), laine hatu, lutu hatu (Ambon), gawaya (Ternate,
Halmahera) (Dalimartha, 2000).

3. Deskripsi tanaman

Tanaman jambu biji merupakan jenis tanaman perdu, tingginya 5-10 meter,
batang berkayu, bulat, kulit kayu licin, mengelupas, bercabang, warna
coklat kehijauan. Daun tunggal, bulat telur, ujungnya tumpul, pangkal
membulat, tepi rata, panjang 6-14 cm, lebar 3-6 cm, pertulangan menyirip,
warna hijau kekuningan. Daun muda berbulu abu-abu, daun bertangkai
pendek. Bunga tunggal di ketiak daun, mahkota bulat telur, panjang 1,5 cm,
warna putih kekuningan. Bakal buah tenggelam, beruang 4-5, buah buni
bundar, bentuk buah peer atau buah bulat telur, warna putih kekuningan
atau merah muda, panjang 5-8,5 cm (van Steenis, 1947).
4. Distribusi Tanaman

Tanaman jambu biji tumbuh alami di daerah tropis Amerika, dan saat ini
dijumpai diseluruh daerah tropis dan sub tropis. Seringkali ditanam di
pekarangan rumah. Tanaman ini sangat adaptif dan dapat tumbuh tanpa
pemeliharaan. Terlalu banyak hujan selama musim pembuahan dapat
menyebabkan buah pecah dan busuk, sering ditanam sebagai tanaman buah,
sangat sering hidup alamiah ditepi hutan dan padang rumput (Sudarsono
dkk, 2002).

5. Kandungan kimia

Kandungan kimia yang terdapat dalam daun jambu biji antara lain : asam
psidiloat, asam ursolat, asam krategolat, asam oleanolat, asam guaiavolat,
kuersetin dan minyak atsiri (Sudarsono dkk., 2002).

2.5. FLAVONOID

Flavonoid adalah salah satu kelompok senyawa fenol terbesar yang


ditemukan di alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu,
dan biru, dan sebagian zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-
tumbuhan.

Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom


karbon, dimana dua cincin benzene (C6) terikat pada suatu rantai propane (C3)
sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6. Susunan inid apat
menghasilkan tiga jenis struktur, yakni 1,3-diarilpropan atau flavonoid, 1,2-
diarilpropan atau isoflavonoid, dan 1,1-diarilpropan atau neoflavonoid. Ketiga
struktur tersebut dapat dilihat di bawah ini.
Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada
tanaman hijau, kecuali alga. Flavonoid yang lazim ditemukan pada tumbuhan
tingkat tinggi (Angiospermae) adalah flavon dan flavonol dengan C- dan O-
glikosida, isoflavon C- dan O-glikosida, flavanon C- dan O-glikosida, khalkon
dengan C- dan O-glikosida dan dihidrokhalkon, proantosianidin dan
antosianin, auron O-glikosida dan dihidroflavonol O-glikosida. Golongan
flavon, flavonol, flavanon, isoflavon, dan khalkon juga sering ditemukan
dalam bentuk aglikonnya.

Istilah “Flavonoid” yang diberikan untuk senyawa-senyawa fenol ini


berasal dari kata flavon, yakni nama dari salah satu jenis flavonoid yang
terbesar jumlahnya dan juga lazim ditemukan. Senyawa-senyawa flavon ini
mempunyai kerangka 2-fenilkroman, dimana posisi orto dari cincin A dan
atom karbon yang terikat pada cincin B dari 1,3-diarilpropan dihubungkan
oleh jembatan oksigen, sehingga membentuk suatu cincin heterosiklik yang
baru (cincin C).

Senyawa-senyawa flavonoid terdiri atas beberapa jenis, bergantung


pada tingkat oksidasi dari rantai propan dan sistem 1,3-diarilpropan. Dalam hal
ini, flavan mempunyai tingkat oksidasi yang terendah sehingga senyawa ini
dianggap sebagai senyawa induk dalam tata nama senyawa-senyawa turunan
flavon. Flavon terbagi menjadi 4 kelompok.

Salah satu cincin benzene (cincin A) dari flavonoid mempunyai pola


oksigenasi yang berselang-seling, seperti fologlusinol, sedangkan cincin
benzene yang lain (cincin B) mempunyai pola oksigenasi dari fenol, katekol,
atau pirogalol (satu para plus dua meta).

Senyawa-senyawa flavonoid terdapat dalam semua bagian tumbuhan


tinggi, seperti bunga, daun, ranting, buah, kayu, kulit kayu dan akar. Akan
tetapi, senyawa flavonoid tertentu seringkali terkonsentrasi dalam suatu
jaringan tertentu, misalnya antosianidin adlah zat warna dari bunga, buah, dan
daun.

Sebagian besar flavonoid alam ditemukan dalam bentuk glikosida,


dimana unit flavonoid terikat pada suatu gula. Flavonoid dapat ditemukan
sebagai mono-, di-, atau triglikosida, dimana satu, dua, atau tiga gugus
hidroksil dalam molekul flavonoid terikat gula.Poliglikosida larut dalam air
dan hanya sedikit larut dalam pelarut-pelarut organic seperti eter ,benzene,
kloroform, dan aseton.

Flavonoid termasuk senyawa fenolik alam yang potensial sebagai


antioksidan dan mempunyai aktifitas sebagai obat. Senyawa-senyawa ini dapat
ditemukan pada batang, daun, bunga dan buah. Flavonoid dalam tubuh
manusia berfungsi sebagai antioksidan sehingga sangat baik untuk pencegahan
kanker. Manfaat flavonoid antara lain adalah untuk melindungi struktur sel,
meningkatkan efektivitas vitamin C, anti-inflamasi, mencegah keropos tulang
dan sebagai antibiotik.

2.6. QUERCETIN

Kuersetin adalah senyawa kelompok flavonol terbesar, kuersetin dan


glikosidanya berada dalam jumlah sekitas 60-75% dari flavonoid. Kuersetin
adalah salah satu zat aktif kelas flavonoid yang secaara biologis amat kuat.
Bila vitamin C mempunyai aktifitas antioksidan 1, maka kuersetin memiliki
aktivitas antioksidan 4,7. Flavonoid merupakan sekelompok besar antioksidan
bernama polifenol yang terdiri atas antosianididn, boflavon, katekin, flavanon,
flavon, dan flavonol. Kersetin termasuk ke dalam kelompok flavonol.

Kuersetin dipercaya dapat melindungi tubuh dari beberapa jenis


penyakit degenerative dengan cara mencegah terjadinya proses peroksidasi
lemak. Kuersetin memperlihatkan kemampuan mencegah proses oksidasi dari
Low Density Lipoproteins (LDL) dengan cara menangkap radikal bebas dan
mengkhelat ion logam transisi.

Ketika flavonol kuersetin beraksi dengan radikal bebas, kuersetin


mendonorkan protonnya dan menjadi senyawa radikal, tapi electron tidak
berpasangan yang dihasilkan didelokalisasi oleh resonansi, hal ini membuat
senyawa kuersetin radikal memiliki energi yang sangat rendah untuk menjadi
radikal yang reaktif.

Tiga gugus dari struktur kuersetin yang membantu dalam menjaga


kestabilan dan bertindak sebagai antioksidan ketika bereaksi dengan radikal
bebas antara lain:

a) Gugus O-dihidroksil pada cincin B


b) Gugus 4-oxo dalam konjugasi dengan alkena 2,3
c) Gugus 3- dan 5- hidroksil

Gugus fungsi tersebut dapat mendonorkan electron kepada cincin yang


akan meningkatkan jumllah resonansi dari struktur benzene senyawa kuersetin.
Kebanyakan flavonoid terikat pada gula dalam bentuk alamiahnya yaitu dalam
bentuk O-glikosida, dimana proses glikosilasi dapat terjadi pada gugus
hidroksil mana saja untuk menghasilkan gula. Bentuk glikosida kuersetin yang
paling umum ditemukan adalah kuersetin yang memiliki gugus gllikosida pada
posisi 3 seperti kuersetin-3-O-β-glukosida.
Dari beberapa hasil skrining fitokimia tanaman jambu biji ditemukan
senyawa tanin, minyak atsiri, flavonoid, saponin dan kemungkinan senyawa
golongan arbutin (Yuniarti, 2007; Atmaja, 2007 dan Sumanti, 2003).
Flavonoid dapat menghambat beberapa enzim antara lain : aldose reduktase,
xantin oksidase, CA2+ ATPase, fosfodiesterase, lipooksigenase dan
siklooksigenase (Narayana, 2001; Geissman, 1962).

Flavonoid ini dapat diekstraksi dengan etanol 70% (Harborne, 1987;


Anonim, 1979). Pelarut etanol dapat digunakan untuk menyari zat yang
kepolaran relatif tinggi sampai relatif rendah, karena etanol merupakan pelarut
universal, etanol tidak menyebabkan pembengkakan membran sel, dapat
memperbaiki stabilitas bahan obat yang terlarut dan juga efektif dalam
menghasilkan jumlah bahan aktif yang optimal (Voigt, 1994).

Ekstrak etanol daun jambu biji ini didapatkan melalui maserasi yang
merupakan metode penyarian yang cocok untuk senyawa yang tidak tahan
pemanasan dengan 3 suhu tinggi dan sering dipakai untuk mengekstraksi
bahan obat yang berupa serbuk simplisia yang halus (Voigt, 1994). Sediaan
infusa hanya dapat menyari zat-zat yang bersifat polar, penyarian dengan cara
ini menghasilkan sari yang tidak stabil dan mudah tercemar oleh kuman dan
kapang, oleh karena itu sari yang diperoleh tidak boleh disimpan lebih dari 24
jam (Anonim, 1986). Kelemahan lainnya adalah menyebabkan pembengkakan
sel sehingga bahan aktif akan terikat kuat pada simplisia. Sedangkan bentuk
sediaan ekstrak selain dapat disimpan lebih lama juga dapat dipakai berulang.
Etanol dapat menyari senyawa-senyawa yang tidak dapat tersari oleh air yaitu
lemak, terpenoid, antrakinon, kumarin, flavonoid polimetil, resin, klorofil,
isoflavon, alkaloid bebas, kurkumin dan fenol lain. Dari senyawa-senyawa
tersebut ada flavonoid polimetil, jenis flavonoid ini tidak tersari

Penyarian adalah peristiwa memindahkan zat aktif yang semula


didalam sel ditarik oleh cairan penyari sehingga zat aktif larut dalam cairan
penyari. Cairan pelarut dalam pembuatan ekstrak adalah pelarut yang optimal
untuk senyawa kandungan yang berkhasiat atau yang aktif, dengan demikian
senyawa tersebut dapat terpisahkan dari bahan, serta ekstrak hanya
mengandung sebagian besar senyawa kandungan yang diinginkan (Anonim,
2000).

Salah satu contoh metode penyarian adalah maserasi, maserasi


merupakan metode yang sederhana dan banyak digunakan untuk menyari
bahan obat yang berupa serbuk simplisia yang halus (Voigt, 1994). Maserasi
dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari.
Cairan akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang
mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan
konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang diluar sel, maka
larutan zat aktif akan terdesak keluar. Peristiwa tersebut berulang sehingga
terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan yang berada di luar dan di
dalam sel (Anonim, 1986).

Pembuatan maserasi kecuali dinyatakan lain dilakukan dengan


memasukkan 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus
yang cocok kedalam sebuah bejana kemudian dituangi dengan 75 bagian
cairan penyari, bejananya ditutup dan dibiarkan selama 5 hari yang terlindung
dari cahaya sambil sering diaduk. Maserat kemudian diserkai dan ampasnya
dicuci dengan cairan penyari secukupnya hingga diperoleh 100 bagian.
Maserat dipindahkan ke dalam bejana tertutup dan dibiarkan ditempat sejuk
dengan terlindung dari cahaya selama 2 hari kemudian dienap tuang atau
saring (Anonim, 1979). Waktu maserasi berbeda-beda tergantung dari sifat
campuran obat dan menstrum, lama maserasi harus cukup agar dapat menyari
semua zat yang mudah disari yaitu sekitar 2-14 hari (Ansel, 1989).

Kelemahan penyarian dengan metode maserasi ini pengerjaannya


membutuhkan waktu yang cukup lama dan penyariannya kurang sempurna
(Anonim, 1985). Pada maserasi ini digunakan larutan penyari etanol 70%
karena flavonoid dapat diekstraksi dengan etanol 70% (Harbone, 1987; Voigt,
1994)

2.7. VALIDASI METODE ANALISIS


Validasi metode analisis adalah suatu rangkaian percobaan yang bertujuan
untuk memastikan bahwa metode analisis yang digunakan telah memenuhi
persyaratan yang telah ditetapkan. Menurut USP 25, parameter-parameter
untuk validasi metode analisis adalah selektivitas, akurasi, presisi, limit
deteksi/kuantitasi, linieritas dan rentang. Sedangkan ICH menambahkan
parameter ketangguhan (ruggedness) dan kekuatan (robustness). Validasi
ulang perlu dilakukan meskipun sebelumnya telah divalidasi (ada dalam buku
teks,jurnal farmakope, dll) karena metode yang dinyatakan valid pada kondisi
tertentu, belum tentu valid pada kondisi lain.
Prosedur pengujian untuk penilaian tingkat kualitas suatu sediaan / produk
farmasi dibutuhkan untuk berbagai alasan. Oleh karena itu, digunakanlah
validasi metode analisis, yang bertujuan untuk menetapkan melalui penelitian
laboratorium bahwa metode analisis yang digunakan telah memenuhi syarat
yang telah ditetapkan sebelumnya. Validasi metode analisis merupakan suatu
rangkaian percobaan yang bertujuan untuk memastikan bahwa metode analisis
yang digunakan telah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Menurut
USP, validasi dilakukan untuk menjamin bahwa metode analisis akurat,
spesifik, reprodusibel dan tahan pada kisaran analit yang dianalisis
Suatu metode analisis harus divalidasi untuk melakukan verivikasi bahwa
parameter – parameter kinerjanya cukup mampu untuk mengatasi problem
analisis. Oleh karena itu suatu metode harus dilakukan validasi ketika :
a) Metode baru dikembangkan untuk mengatasi problem analisis
tertentu.
b) Metode yang sudah baku direvisi untuk menyesuaikan
perkembangan atau karena munculnya suatu problem yang
mengarahkan bahwa metode baku tersebut harus direvisi.
c) Penjaminan mutu yang mengindikasikan bahwa metode baku telah
berubah seiring dengan berjalannya waktu.
d) Metode baku digunakan di laboratorium yang berbeda, dikerjakan
oleh analisis yang berbeda dengan alat yang berbeda.
e) Untuk mendemonstrasikan kesetaraan antara dua metode, seperti
antara metode baru dan metode baku.
Berdasarkan USP, terdapat delapan karakteristik dalam validasi metode
analisis, yaitu : akurasi, presisi, spesifikasi (selektivitas), limit deteksi (LOD),
limit kuantitatif (LOQ), linearitas dan rentang, kekasaran (ruggedness) dan
ketahanan (robustness). Sementara itu International Conference of
Harmanization (ICH) membagi karakteristik validasi metode yang sedikit
berbeda dengan USP, yaitu : presisi, akurasi, batas deteksi, batas kuantifikasi,
spesifitas, linieritas, kisaran (range), ketahanan (robustness) dan kesesuaian
sistem.
Validasi adalah konfirmasi melalui pengujian dan pengadaan bukti yang
objektf bahwa persyaratan terentu untuk suatu khusus dipenuhi. Tujuan
validasi metode analisis adalah untuk membuktikan bahwa semua metode
analisis (cara/prosedur pengujian) yang digunakan dalam pengujian maupun
pengawasan mutu, senantiasa mencapai hasil yang diinginkan secara konsisten
(terus-menerus). Suatu metode perlu divalidasi apabila :
a. Apabila metode tersebut baru dikembangkan untuk suatu
permasalahan yang khusus.
b. Apabila metode yang selama ini sudah rutin, direvisi untuk
suatu pengembanagan atau diperluas untuk memecahkan
suatu permasalahan analisa yang baru.
c. Apabila hasil QC menunjukkan bahwa metode yang sudah
rutin tersebut berubah terhadap waktu (QC charts)
d. Apabila metode rutin digunakan di laboratorium yang
berbeda, atau dilakukan oleh analis yang berbeda atau
dilakukan dengan peralatan yang berbeda pula.

1. Uji Selektivitas

Istilah spesifisitas dan selektivitas seringkali membingungkan. Suatu


metode dikatakan spesifik apabila mampu mengukur analit tanpa diganggu
oleh komponen lain (single analite). Sedangkan metode dikatakan spesifik,
apabila mampu mengukur analit dalam campuran berbagai komponen
lain(kontaminan,hasil degradasi, matriks). Spesifisitas suatu metode dapat
dilakukan dengan menentukan identitas dan kemurnian dari analit yang akan
ditentukan. Sedangkan selektivitas dilakukan dengan menentukan nilai resolusi
(Rs). Selektifitas adalah kemampuan metode yang hanya mengatur zat tertentu
saja secara cermat dan seksama dengan adanya komponen lain yang mungkin
ada dalam matrix sampel. Selektivitas seringkali dapat dinyatakan sebagai
derajat penyimpangan. Selektivitas dapat ditunjukkan dengan cara
menganalisis sampel yang mengandung cemaran dengan metode yang akan
divalidasi lalu dibandingkan dengan metode lain untuk pengujian kemurnian
seperti kromatografi. Pada metode analisis dengan kromatografi, selektivitas
ditentukan melalui perhitungan daya resolusinya (Rs). Resolusi analit dengan
zat lain sebaiknya lebih dari 1,5.

Resolusi dihitung dengan rumus:

Rs= 2ΔZ = 2 [(dR)A-(dR)B]

( WA+WB) ( WA+WB)
Dimana:

ΔZ = jarak dua noda analit

(dR)A = jarak yang ditempuh analit A

(dR)B = jarak yang ditempuh analit B

WA = Lebar noda analit A

WB = Lebar noda analit B

2. Liniearitas

Linearitas berhubungan erat dengan rentang. Linearitas adalah


kemampuan suatu metode analisis untuk menunjukkan secara langsung atau
proporsional antara respon dengan perubahan konsentrasi analit dalam sampel.
Linearitas suatu metode merupakan ukuran seberapa baik kurva kalibrasi yang
menghubungkan respon (y) dengan konsentrasi (x). Linearitas dapat diukur
dengan melakukan pengukuran tunggal pada konsentrasi yang berbeda – beda.
Data yang diperoleh selanjutnya diproses dengan metode kuadrat terkecil,
untuk selanjutnya dapat ditentukan nilai kemiringan (slope), intersep, dan
koefirien korelasinya (r).

Sedangkan rentang (range) adalah sebuah interval dimulai dari nilai


terendah sampai tertinggi dari kadar analit, dimana dalam range tersebut
memuat presisi, akurasi dan linieritas tertentu. Rentang metode yang telah
tervalidasi harus dapat menunjukkan bahwa metode analisis tersebut mampu
menghasilkan presisi, akurasi dan linearitas yang dapat diterima saat
diaplikasikan pada sampel yang mengandung analit pada kadar yang ekstrim.
Penentuan linearitas disarankan menggunakan lima macam konsentrasi,
antara 25% - 200% dari kadar analit yang diperkirakan. Sebagai parameter
adanya hubungan linear atau tidak digunakan korelasi (r) pada suatu garis
regresi linear y = bx + a.

Data yang diperoleh selanjutnya diproses dengan metode kuadrat


terkecil, untuk selanjutnya dapat ditentukan nilai kemiringan (slope), intersep,
dan koefisien korelasinya (r) pada suatu garis regresi linier

y = bx + a

dimana : y = menyatakan absorbansi

b = koefisien regresi dan slope


x = konsentrasi
a = tetapan regresi dan intersep

3. Presisi

Parameter analisis yang harus dipertimbangkan dalam validasi metode


analisis, salah satunya yaitu presisi. Presisi adalah ukuran yang menunjukkan
derajad kesesuaian anatara hasil uji individual, diukur melalui penyebaran hasil
individual dari rata-rata jika prosedur diterapkan secra berulang pada sampel-
sampel yang diambil dari campuran yang homogen. Presisi diukur sebagai
simpangan baku atau simpanagna relatif (koefisien variasi). Presisi dapat
dinyatakan sebagai repeatability (keterulanagan) atau reprudicibility
(ketertiruan)

Repeatability adalah kesaksamaan metode jika digunakan berulang kali


oleh analis yang sama pada kondisi sama dan dalam interval waktu yang
pendek. Repeatability dinilai melalui pelaksanaan penetapan terpisah lengkap
terhadap sampel-sampel identik yang terpisah dari batch yang sama, jadi
memberikan ukuran keseksamaan pada kondisi yang normal

Reprodusibility adalak keseksamaan metode jika dikerjakan pada


kondisi yang berbeda. Biasanya analisis dilakukan dalam laboratorium-
laboratorium yang berbeda menggunakan peralatan, pereaksi, pelarut dan nalis
yang berbeda pula. Analisis dilakukan terhadap sampel-sampel yang diduga
identik yang dicuplik dari batch yang sama. Reproducibility dapat juga
dilakukan dalam laboratorium yang sama dengan menggunakan peralatan-
peralatan, dan analis yang berbeda.

Kriteria seksama diberiakan jika metode memberikan simpangan baku


relatif (RSD) atau koevisien variasi (CV) 2% atau kurang. Akan tetapi kriteria
ini sangat fleksibel tergantung pada konsentrasi analit yang diperiksa, jumlah
sampel, dan kondisi laboratorium. Dari penelitian dijumpai bahwa koefisien
variasi meningkat dengan menurunnya kadar analit yang dianalisis.

Ditemukan bahwa koefisien variasi meningkat seiring dengan


menurunnya konsentrasi analit. Pada kadar 1% atau lebih, standar deviasi
relatif antara laboratorium adalah sekitar 2,5% ada pada satu per seribu adalh
5%. Pada kadar satu per satu juta (ppm) RSDnya adalah 16%, dan pada kadar
part per bilion (ppb) adalah 32%. Pada metode yang sangat kritis, secara umum
diterima bahwa RSD harus lebih dari 2%. Percobaan keseksamaan dilakukan
terhadap paling sedikit enam replika sampel yang diambil dari campuran
sampel dengan matriks yang homogen. Sebaliknya keseksamaan ditentukan
terhadap sampel sebenarnya yaitu berupa campuran dengan bahan pembawa
sediaan farmasi (plasebo) untuk melihat pengaruh matriks pembawa terhadap
keseksamaan ini. Demikian juga harus disiapkan sampel untuk menganalisis
pengaruh pengotor dan hasil degradasi terhadap keseksamaan ini.

SD =
CV =

4. Akurasi

Akurasi metode analisis adalah keterdekatan hasil analisis yang


diperoleh dengan memakai metode tersebut dengan harga sebenarnya.
Kecermatan metode analisis biasanya dinyatakan sebagai persen perolehan
(Recovery) analit yang ditambahkan.

Kecermatan ditentukan dengan 2 cara yaitu metode simulasi dan


metode penambahan baku. Dalam metode simulasi, sejumlah analit bahan
murni ditambahkan kedalam campuran bahan pembawa sediaan (Plasebo), lalu
campuran tersebut dianalisis dan hasilnya dibandingkan dengan kadar analit
yang ditambahkan (kadar yang sebenarnya). Sedangkan dalam metode
penambahan baku, sampel dianalisis lalu sejuml;ah tertentu analit yang
diperiksa ditambahkan kedalam sampel, dicampur lalu dianalisis lagi. Selisih
antara kedua hasil tersebut dibandingkan dengan kadar sebenarnya (hasil yang
diharapkan).

Persen perolehan kembali dapat ditentukan dengan cara menbuat


sampel plasebo (eksipren obat, cairan biologis) lalu ditambahkan analit dengan
konsentrasi tertentu, biasanya 80%-120% dari kadar analit yang diperkirakan,
setelah itu dianalisis dengan metode yang akan divalidasi. kriteria kecermatan
sangat bergantung kepada konsentrasi analit dalam matrix sample dan pada
keseksamaan metode (RSD). Vanderweillen dkk, menyatakan bahwa selisih
kadar pada berbagai penentuan (xd) harus 5% atau kurang pada setiap
konsentrasi analit pada mana prosedur dilakukan. Harga rata-rata selisih secara
statistik harus 1,5% atau kurang dan dinyatakan sebagai berikut:
 Xd 
 .100  < 5%
 Xo 
 Xd  ( S < 0,95 n − I )
 .100  − < 1,5%
 Xo  n
Xd = Xi − Xo

Dimana :

Xi = Hasil analisis

Xo = Hasil yang sebenarnya

I = Nilai t pada table t’ student pada atas 95%

S = Simpangan baku relatif dari semua pengujian

n = Jumlah sampel yang dianalisis

Kadar analit dalam netode penambahan baku dihitung sebagai berikut :

Dimana :

C = kadar analit dalam sampel

S = kadar analit yang ditambakan pada sampel

R1 = respon yang diberikan sampel

R2 = respon yang diberikan campuran sampel dengan tambahan analit


Perhitungan perolehan kembali dapat juga ditetapkan dengan rumus :

Dimana :

Cf = konsentrasi total sampel yang diperoleh dari pengukuran

Ca = konsentrasi sampel yang sebenarnya

C*a= konsentrasi analit yang ditanbahkan

2.8. Keseragaman Bobot


1. Formulasi Dan Evaluasi
Tahap pengembangan sediaan (formulasi dimaksudkan agar bentuk
sediaan fitofarmaka yang akan diberikan kepada manusiamemenuhi
prasyarat-prasyarat kualitas maupun estetika. Tahapan-tahapan dalam
pengembangan sediaan, diantaranya adalah praformulasi, pengembangan
proses dan produksi (scale up). Praformulasi adalah penelitian atau
pemeriksaan sifat-sifat fisika dan kimia suatu zat aktif (ekstrak trandar) dan
eksipien, sehingga dapat diperoleh produk yang stabil, manjur, menarik,
mudah dibuat dan aman.

2. Eksipien (Bahan Tambahan)


Untuk mnedapatkansuatu produk farmasi diperlukan bahan
tambahan (eksipien). Tujuan penggunaan eksipien, dianaranya adalah:
a) Membawa obat dalam bentuk sediaan yang sesuai
b) Memperbaiki sifat obat, yang meliputi: membawa obat
dalam bnetuk yang tepat ke tempat absorpsi, pelepasan obat
yang terkontrol, memperbaiki stabilitas obat, menutupi rasa
pahit, dan memperbaiki penerimaan penderita.
Syarat umum bahan obat dan eksipien adalah:
a) Tidak toksik (karsinogen, teratogenik, allergenic, dan tidak
mengiritasi)
b) Kandunggan mikroorganisme (serendah mingkin dan tidak
boleh mengandung mikroorganisme pathogen)
c) Tidak OTT antara obat dan eksipien
d) Stabil (terhadap temperature, lembab, cahaya, dan CO2)
e) Murni (dari pengotor dan degradan)
f) Sifat fisika mekanik (ukuran dan bentuk partikel, sifat
permukaan, bobot jenis, sifat aliran, sifat kompresibilitas)

Beberapa jenis bahan tambahan yang sering digunakan dalam


sediaan farmasi diantaranya adalah:
Tipe Bahan Definisi Contoh
Bahan antilekat Zan yang berfungsi untuk mencegah saling Mg stearat,
melekatnya bahan-bahan pada punch dan die talk
dala suatu mesin tablet selama produksi.
Bahan pegikat Zat yang digunakan untuk mengikat/ Metal selulosa,
melekatkan partikel-partikel serbuk dalam gom
granulasi tablet.
Bahan pengisi Zat-zat inert yang digunakan sebagai pengisi Laktosa
untuk menciptakan bulk, sifat aliran dan
karekteristik kompresi dalam preparat tablet
dan kapsul.
Bahan pelican Zat yang digunakan dalam formulasi tablet dan Talk
kapsul untuk memperbaiki sifat aliran dari
campuran.
Bahan penyerap zat yang digunakan untuk menyerap bahan cair Cab-O-Sil,
ataupun pelarut yang ada di dalam ekstrak. avicell
Bahan Zat yang digunakan dalam formulasi sediaan Ca stearat, Mg
penghancur padat untuk mendorong hancurnya massa padat stearat, asam
menjadi partikel-partikel yang jauh lebih kecil. stearat
Bahan pelumas Zat yang digunakan dalam formulasi untuk Silica koloid,
(lubrikan) mengurangi gesekkan selama kompresi tablet. tepung jagung

3. Bentuk Sediaan
a) Kapsul
Kapsul dapat didefinisikan sebagai bentuk sediaan padat,
dimana satu macam bahan obat atau lebih dan atau bahan inert
lainnya yang dimasukkan kedaklam cangkang atau wadah kecil
yang umumnya dibuat dari gelatin yang sesuai. Tergantung pada
formulasinya, kapsul dari gelatin biasa lunak dan bisa juga keras.
Cangkang kapsul gelatin keras dibuat dari campuran
gelatin, gula dan air, jernih tidak berwarna dan pada dasarnya tidak
mempunyai rasa. Kapsul gelatin mudah mengalami peruraian oleh
mikrobabila menjadi lembab atau bila disimpan dalam larutan
berair. Kapsul gelatin tidak tepat untuk diisi cairan berair, karena
air akan melunakkan gelatin dan menimbulkan kerusakan kapsul.
Tetapi beberapa cairan tertentu atua minyak atsiri yang tidak
mengganggu stabilitas cangkang gelatin, mungkin dapat
dimasukkan dalam cangkang kapsul gelatin, lalu disegel untuk
menjamin penyimpanan cairan tersebut.
Umumnya kapsul gelatin keras dipakai untuk menampung
isi antara sekitar 65 mg – 1 gram bahan serbuk, termasuk bahan
obat dan bahan pengencer lain yang diperlukan. Bila bahan obat
yang diberikan dalam suatu kapsul cukup besar untuk memenuhi
kapsul, bahan pengisi tidak diperlukan. Tapi bila bahan obat yang
dimasukkan belum cukup untuk memenuhi isi kapsul, maka
diperlukan bahan pengisi. Laktosa dan amilum biasanya dipakai
sebagai bahan pengisi dalam pengisian kapsul.
Pada pengisisan kapsul keras perlu diperhatikan, apabila
bahan obat yang tidak berpotensi dimasukkan dalam kapsul, kapsul
pertama yang diisi harus ditimbang ( dengan menggunakan kapsul
kosong yang sama ukurannya diletakkan paa piring timbangan
sebelah kiri untuk menghitung berat cangkang). Untuk membantu
menentukan ukuran kapsul yang tepat dan tingkat tekanan yang
digunakan pada waktu mengisi cangkang kapsul, kapsul-kapsul ini
secara periodic ditimbang untuk mengamati keseragamannya. Bila
obat berpotensi yang diisikan, maka tiap kapsul harus ditimbang
setelah pengisisannya untuk menjamin ketepatannya. Penimbangan
ini akan mencegah terjadinya kesalahan mengisi, kurang tekanan
atau kurang mengisikan obat. Setelah bagian badan kapsul diisi dan
dituttp, maka bagian badan obat diputar sambil ditekan perlahan-
lahan agar menjadi padat sampai keujung tutupnya, sehingga hasil
produksi ini bagus hasilnya.
Untuk keseragaman isi kapsul, yaitu pada tiap 10 kapsul,
keseragaman dosis zat aktifnya terletak antara 85 sampai 110% dari
yang disyaratkan monografinya masing-masing. Bila satu atau
lebih unit dosis berada diluar batas tersenut, maka unit tambahan
harus ditetapkan kadarnya.
Kapsul gelatin lunak dibuat dari gelatin dimana gliserin
atau alcohol polivalen dan sorbitol ditambahkan supaya galatin
bersifat elastic seperti plastik. Kapsul lunak yang kosong dibuat
dan diberi segel dalam keadaan kedap udara ( untuk mencegah
kempis dan saling melekat satu dengan yang lainnya ).
Bahan obat yang telah dimasukkan dalam kapsul ini akan
langsung disegel. Kapsul ini juga sangat cocok bila diisi dengan
bahan obat cair atau larutan obat, begitu juga dengan oabat yang
mudah menguap atau obat yang mudah mencair bila terkena udara.
Zat padat juga dapat dimasukkan dalam kapsul gelatin lunak dalam
bentuk larutan dalam cairan pelarut yang cocok sebagai suspensi
atau sebagai serbuk kering, granul, atau bahan yang bibentuk palet.
Cairan yang mudah berpindah ke cangkang kapsul tidak
dapat dimasukkan kedalam kapsul gelatin lunak. Bahan-bahan ini
termasuk air 5%, senyawa organic yang larut dalam air dengan
berat molekul rendah dan senyawa yang mudah menguap seperti
alcohol keton, asam amino dan ester-ester.

b) Tablet
Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat
yang biasanya dibuat dengan penambahan farmasetika yang sesuai.
Tablet-tablet dapat berbeda dalam ukuran, bentuk berat, kekerasan,
ketebalan, daya hancurnya, dan dalam aspek lainnya tergantung
pada cara pemakaian tablet dan metode pembuatannya.
Kebanyakan tablet digunakan pada pemberian obat-obat secara
oral, dan kebanyakan dari tablet ini dibuat dengan penambahan zat
warna, zat pemberi rasa, dan lapisan-;apisan dalam berbagai jenis.
Tablet dibuat dengan cara kompresi. Sejumlah tertentu
tablet dibuat dengan mencetak. Tablet dibuat dengan mengkopresi
menggunakan mesin yang mampu meekan bahan bentuk serbuk
dan granul dengan menggunakan berbagai bentuk punch atau
ukuran dan die.
Jenis tablet bermacam-macam diantaranya tablet kompresi
ganda, tablet salut gula, ablet diwarnai coklat, tablet salut selaput,
tablet salut enetrik, tablet sublingual atau bukal, tablet kunyah,
tablet effervescent, tablet triturate, tablet hipodermik, dan tablet
pembagi serta tablet dengan pengelepasan terkendali.
c) Sirup
Sirupadalah sediaan pekat dalam airgula atau pengganti
gula dengan atau tanpa penambahan bahan pewangi dan zat obat.
Sirup mengandung bahan pemberi rasa tapi tidak mengandung zat
obat yang disebut zat pembawa. Sirup dimaksudkan untuk
pembawa yang memberikan rasa enak pada zat obat yang
ditambahkan kemudian, baik dalam peracikan resep secara
mendadak atau dalam pembuatan formula standard untuk sirup
obat, yaitu sirup yang mengandung bahan teraputik atau bahan
obat.
Sebagian besar sirup-sirup mengandung komponen berikut
disamping air murni dan semua zat obat yang ada : (1) gula,
biasanya sukrosa atau pengganti gula yang digunakan untuk
memberi rasa manis dan kental, (2) pengawet antimikroba, (3)
pembau, dan (4) pewarna. Juga banyak sirup-sirup, terutama yang
dibuat dalam perdagangan, mengandung pelarut-pelarut khusus,
pembantu kelarutan, pengental dan stabilisator.

d) Infus, rebusan, maserat.


Infus (infus panas, infusa). Disini jamu diuji dengan
sejumlah kecil air menurut penghalusan yang ditentukan dan
setelah didiamkan beberapa saat disiram dengan air mendidih.
Campuran tersebut dibiarkan 5 menit dalam penangas air dibawah
pengadukan yang berulang. Setelah didinginkan (atau setelah
didinginkan pada kira-kira 30 C) disari. Untuk menghasilkan berat
yang ditentukan maka jika perlu sisa jamu dituangi dengan air
dingin sejumlah yang diperlukan dan dipres perlahan.
Rebusan (decocta). Jamu dengan kehalusan yang
ditentukan dicampukan dengan airbersuhu kamar atau dengan air
suhu diatas 90C (keterangan farmakope disini tampak berbeda-
beda) dan dibiarkan 30 menit dibawah pengadukan berulang dalam
penangas air. Dalam perbedaannya terhadap infus maka rebusan
disari panas-panas.
Maserat (macerata). Jamu dengan kehalusan tertentu
dituang dengan air bersuhu kamar dan dibiarkan selama 30 menit
pada suhu kamar dibawah pengadukan jarang. Setelah waktu disari
dan setelah pencucian diisi dengan air sampai berat yang
ditentukan. Menurut cara ini ekstrak diperoleh dari jamu berlendir
(Althaeae radix, Lini semen) tanpa penggunaan panas. Salah
satunya menyebabkan lengketnya sediaan.

e) Tinktur
Penamaan tinktur berasal dari bahasa latin tingere =
membasahi, melembabkan, meendam, mewarnai. Dalam yunani
kuno orang mengartikan bahan penawar sebagai tinktur. Kemudian
setelah Avicenna memberitakan tentang tinktur dalam dalam
kaitannya dengan seni pengobatan, penerapannya ke dalam terapi
diikuti Oleh Paracelcus. Sejak abad XVII mereka dilaporkan dalam
farmakope (Dispensorium des Valerius Cordus 1666). Istilah
tinktur dalam perjalanan kurun waktu tertentu saja mkengalami
beberapa perubahan, terutama penyempitan. Dibawah tinktur
sekarang diartikan orang umumnya ekstrak etanol dari amterial
tumbuhan atau hewan. Beberapa farmakope mencantumkan
jugatumbuhan atau hewan. Beberapa farmakope mencantumkan
juga bahan pengekstraksi lainnya, seperti misalnya eter.
Tinktur umumnya dibuat dengan etanol (70%
volume),yang perbandingan jamu terhadap cairan pengekstraksi
berjumlah umumnya 1: 5 atau 1 : 10. kandungan etanol dari tinktur
berbeda-beda disebabkan oleh kandungan lembab dari jamu.
Pembuatannya berlangsung menurut cara maserasi, perkolasi atau
ekstraksi turbo.
f) Salep
Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah
dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obatnya harus
larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok. Salep
tidak berbau tengik. Kecuali dinyatakan lain bahan obat dalam
salep yang mengandung obat keras atau obat narkotik adalah 10 %.

g) Suspensi
Suspensi dapat didefinisikan sebagai preparat yang
mengandung partkel obat yang terbagi secara halus disebarkan
secara merata dalam pembawa dimana obat menunjukkan kelarutan
yang sangat minimum. Dalam literature lain suspensi didefinisikan
sebagai sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk
halus dan tidak larut, terdispensi dalam cairan pembawa. Zat yang
terdispersi harus halus, tidak boleh cepat mengendap, dan bila
digojong perlahan-lahan, endapan harus segera terdispersi kembali.
Dapat ditambahan zat tambahan untuk menjamin stabilitas suspensi
tapi kekentalan suspensi harus menjamin sediaan mudah digojog
dan dituang.

h) Pil (Pilulae)
Pil adalah suatu sediaan yang berbentuk bulat seperti
kelereng mengandung satu atau lebih bahan obat. Berat pil berkisar
antara 100 mg sampai 500 mg. Pil kecil yang beratnya kira-kira 30
mg disebut granula dan pil besar yang beratnya lebih dari 500 mg
disebut boli.

i) Emulsi
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair
atau larutan obat, terdispersi dalam cara pembawa, distabilkan
dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok. Emulsi
merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak
tercampur, biasanya air dan minyak, dimana cairan yang terdispersi
menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain.

Dari berbagai bentuk sediaan di atas, pada praktikum kali


ini dipilih bentuk sediaan kapsul. Seperti yang telah dijelaskan di atas,
bahwa kapsul dapat didefiniskan sebagai bentuk sediaan padat dimana
satu macam bahan obat atau lebih dan bahan inert lainnya yang
dimasukkan dalam cangkang atau wadah kecil yang umumnya dibuat
darigelatin yang sesuai. Ukuran cangkang kapsul bervariasi dari nomor
paling kecil (s) sampai nomor yang paling besar (000), kecuali ukuran
cangkang untuk hewan. Umumnya ukuran (00) adalah ukuran cangkang
terbesar yang dapat diberikan kepada pasien.
Umunya kapsul gelatian keras dipakai untuk menampung isi
antara sekitar 65mg sampai 1 gram bahan serbuk, termasuk bahan obat
dan bahan pengisi lain yang diperlukan. Agar kapsul dapat terisi penuh
biasanya kapsul dipakai dengan ukuran terkecil, biasanya bahan yang
dibutuhkan paling sedikit 65 mg. Bila dosis obat yang dimasukkan tidak
memenuhi untuk mengisi volume kapsul, maka diperlukan penambahan
bahan pengisi yang cocok dalam jumlah yang tepat pada bahan obat
supaya dapat memenuhi isi kapsul. Bila jumlah bahan obat yang akan
diberikan dalam satu kapsul cukup besar untuk mengisi penuh kapsul,
bahan pengisi tidak dibutuhkan. Biasanya digunakan laktosa sebagai
bahan pengisi kapsul.
Tergantung pada formulasinya kapsul dari gelatin bisa
lunak atau keras. Persiapan pengisian kapsul gelatin keras dapat dibagi
dalam tahapan sebagai berikut :
i. Persiapan dan pengembangan formulasi serta pemilihan
ukuran kapsul.
Umumnya kapsul gelatin keras dipakai untuk menampung
isi sekitar 65 mg – 1 g bahan serbuk, termasuk bahan obat dan
bahan pengencer lainnya. Bila bahan obat yang akan dimasukkan
tidak memenuhi untuk mengisi volume kapsul, maka diperlukan
penambahan bahan pengisi yang cocok dalam jimlah yang tepat
pada bahan obat supaya dapat memenuhi isi kapsil. Bila jumlah
bahan obat yang akan diberikan dalam satu kapsul cukup besar.
Untuk mengisi penuh kapsul, bahan pengisi tidak dibutuhkan.
Bahan-bahan padat yang akan ditempatkan dalam kapsul
harus tercampur sempurna. Sebelum kapsul dapat diisi, harus
dipertimbangkan masalah kepadatan dan ukuran partikel serbuk-
serbuk yang diberikan dalam kombinasi bila akan diisikan dalam
kapsul. Campuran serbuk-sebuk lebih menyatu bila ukuran partikel
dan kepadatannya hampir sama.
ii. Pengisian cangkang kapsul
Dalam pengisian kapsul dibidang farmasi biasanya
digunakan metode punch. Dalam metode ini diambil sejumlah
tertentu dari kapsul untuk diisi obat dari wadah persediannya.
iii. Pembersihan dan pengolesan kapsul yang terisi
Untuk keseragaman isi kapsul, yaitu pada tiap 10 kapsul,
keseragaman dosisi zat aktifnya antara 85-110% dari yang
disyaratkan monografi masing-masing. Bila satu atau lebih unit
dosis berada diluar batas tertentu, maka unit tambahan harus
ditentukan kadarnya. Kapsul gelatin lunak dibuat dari geltin
dimana glisetin atau alkohol polifenol dan sorbitol ditambahkan
supaya gelatin bersifat elastis, seperti plastik. Kapsul lunak yang
kosong dibuat dan diberi segel dalam keadaan kedap udara (untuk
mencegah kempis dan saling melekat satu dengan yang lainnya).

Kapsul harus memenuhi persyratan sebagi berikut :


a. Keseragaman bobot (bervariasi antara 7,5 % - 20 %)
b. Keseragaman isi zat berkhasiat
c. Waktu hancur, yaitu tidak boleh lebih dari 15 menit
d. Disimpan dalam wadah tertutup rapat

Kapsul jarang hanya mengandung bahan berkhasiat saja,


umumnya formulasi kapsul memerlukan bahan pengencer. Karena
banyaknya bahan yang dikapsulkan, tidak ada percobaan yang dapat
dibuat untuk memberi petunjuk yang spesifik guna memilih pengencer
yang sesuai. Berikut ini ada tiga pertimbangan utama :
1. Campuran serbuk harus memberikan tipe karakteristik aliran
seperti yang diperlukan oleh masing-masing mesin.
Ukuran partikel dan kerapatan serbuk dari berbagai bahan harus
sesuai untuk membantu mencegah pemisahan.
2. Tidak tercampurkan yang potensial harus dicegah pada tiap
pencampuran bahan yang baru. Reaksi pada kenaikan temperatur
dan kelembaban, juga harus sudah dipelajari karena pengaruhnya
tidak hanya pada pencampuran serbuk yang terkandung tetapi
juga pada kapsul gelatin.
3. Pemilihan bahan pengisi harus dilakukan dengan mengingat
kelarutan dari Food And Drug Administration yang berlaku,
yang diterapkan pada Investigational New Drug and New Drug
Application. Beberapa bahan yang dapat digunakan sebagai
pengisi adalah bentonit, kalsium karbonat, laktosa, manihot,
magnesium karbonat, magnesium oksida, silika gel, tepung, talk,
dan serbuk tapioka.

Jika untuk alasan tertentu diperlukan pertimbangan


penggunaan bahan selain yang disebutkan tadi, pertimbangan pertama
harus diberikan pada bahan-bahan yang diberi pernyataan ”secara
umum dinyatakan aman” oleh FDA.
Bahan-bahan yang disebutkan sebelumnya dapat meliputi
bahan-bahan berikut : ester-ester glikol, silikon, silikon dioksida, logam
stearat, asam stearat dan talk.
Minyak-minyak yang dapat dipertimbangkan untuk digunakan
dalam membantu pengontrolan debu serta mengadakan kohesi
tambahan pada campuran serbuk dapat meliputi : setiap bahan yang
inert, dapat dimakan dan disetujui FDA. Penentuan jumlah bahan
pengisi yang dapat digunakan didasarkan pada :
4. Jumlah bahan yang mungkin dapat dimasukkan ke dalam kapsul,
sesuai dengan jumlah bahan berkhasiat yang akan disediakan
oleh kapsul.
5. Jumlah zat pembasah atau minyak (biasanya sekitar 2 % atau
kurang) yang digunakan. Percobaan dengan bahan yang nyata
adalah satu-satunya cara untuk mengetahui hal ini.

Bahan tambahan dalam kapsul antara lain:


1. Cab-O-Sil
Rumus : SiO2
BM : 60,08
Fungsi : Adsorbent, Glidant
Penggunaan : Penstabil dalam pengentalan suatu liquid yang
polar; penyaring.
Batas penggunaan : 2 – 10 %
Pemirian : Submikroskopik silika dengan ukuran partikel
± 15 nm, berwarna putih agak kebiruan, tidak
berasa, tidak berbau, serbuk tidak amorf
pH : 3,5 – 4,4
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam pelarut organik, air
dan asam kecuali asam hidrolouric, larut dalm
pelaut yang panas dan hidrksi alkali
Kekurangan : Pada pengunaan berlebih dapat menyebabkan
voluminus, karsinogen dan toksik
2. Amilum
Rumus : (C6H10O5)n
Fungsi : Glidant, Diluent tablet dan kapsul, disintegran tablet
dan kapsul
Pemerian : tidak berbau, tidak berasa, serbuk warna putih sangat
lembut atau granul
Kelarutan : Praktis tidak lart dalam etanol dingin (95%) dan air
dingin
Keamanan : non-iritant dan non-toksik
3. Avicel
Sinonim : Avicel, cellulose gel, crystallin cellulose,
emcocel, fibrocel, tabulose, vivacel
Rumus senyawa : (C6H10O5)220
BM : 36000
Fungsi : adsorbent, suspending agent, tablet dan kapsul
diluent, tablet disintegrant
Densitas : 1512 – 1668 g/s
Daya alir : 1,41 g/s
Titik didih : 260 – 270oC
Kelarutan : sedikit larut dalam larutan NaOH 5 % w/v,
praktis tidak larut dalam air, larutan asam dan
banyak pelarut organik
pH : 6-8 untuk 1,2 % w/v dispersi encer
Penggunaan dan batas penggunaan: berfungsi sebagai adsorbent
(20-90%), suspending agent (5-20%), tablet and
capsule diluent (20-90%), dan tablet
disintegrant (5-15%).
Pemirian : Avicel merupakan serbuk kristal hambar terdiri
atas partikel penyerap, pembersih
Microcrystalline cellulose

4. Evaluasi
a) Keseragaman bobot kapsul
Cara untuk kapsul yang berisi obat kering
Timbang 20 kapsul. Timbang lagi kapsul satu persatu.
Keluarkan isi semua kapsul, timbang seluruh bagian cangkang
kapsul. Hitung bobot isi kapsul terhadap bobot rata-rata tiap isi
kapsul. Perbedaan dalam persen bobot isi tiap kapsul terhadap
bobot rata-rata tiap isi kapsul tidak boleh lebih dari yang ditetapkan
kolom A dan untuk setiap 2 kapsul tidak boleh lebih dari yang
ditetapkan kolom B.

Perbedaan bobot isi kapsul dalam %


Bobot rata-rata kapsul
A B
120 mg atau lebih ± 10 % ± 20 %
Lebih dari 120 mg ± 7.5 % ± 15 %

Cara untuk kapsul yang berisi bahan obat cair atau pasta
Timbang 10 kapsul. Timbang lagi kapsul satu persatu.
Keluarkan isi semua kapsul, cuci cangkang kapsul dengan eter P.
Buang cairan cucian, biarkan hingga tidak berbau eter, timbang
seluruh bagian cangkang kapsul. Hitung bobot isi kapsul dan bobot
rata-rata tiap isi kapsul. Perbedaan dalam persen bobot isi tiap
kapsul terhadap bobot rat-rata tiap isi kapsul tidak lebih dari 7,5%.

b) Kelarutan
Kelarutan normal untuk kapsul, baik kosong atau berisi, tidak
ditentukan oleh USP XX. Tetapi General Servuce Administration, di
Federal Specification #U-C-115b (2/10/58), menentukan batas
kelarutan untuk kapsul kosong sebagai berikut :
i. ketahanan airtidak larut dalam air pada 20 sampai 30C
dalam 15 menit.
ii. Kelarutan dalam asamlarut kurang dari 5 menit dalam
larutan HCl 0,5% (b/b) pada 36 sampai 38C.

c) Waktu Hancur
Kapsul tidak tahan asam lambung
Alat : Tabung gelas panang 80 mm sampai 100 mm,
diameter dalam lebih kurang 28 mm, diameter luar 30 mm hingga
31 mm, ujung bawah dilengkapi kasa kawat tahan karat, lubang
sesuai dengan pengayak nomor 4, berbentuk keranjang.
Keranjang disisipkan searah di tengah-tengah tabung kaca,
diameter 45 mm, dicelupkan ke dalam air bersuhu antara 36 dan
38C sebanyak lebih kurang 1000 mL, sedalam tidak kurang dari 15
cm sehingga dapat dinaikturunkan dengan teratur. Kedudukan
kawat kasa pada posisi tertinggi tepat di atas permukaan air dan
kedudukan terendah mulut keranjang tepat di permukaan air.
Masukkan 5 kapsul ke dalam keranjang, turun-naikkan
keranjang secara teratur 30 kali tiap menit. kapsul dinyatakan
hancur jika tidak ada bagian kapsul yang tertinggal di atas kasa,
kecuali fragmen yang berasal dari zat penyalut. Kecuali dinyatakan
lain, waktu yang diperlukan untuk menghancurkan kelima kapsul
tidak boleh lebih dari 15 menit.

Kapsul tahan asam lambung


Lakukan pengujian waktu hancur menggunakan alat dan
menurut cara pengujian waktu hancur terhadap kapsul tidak tahan
asam lambung. Air diganti dengan lebih kurang 250 mL asam
klorida 0,06 N. Pengerjaan dilakukan selama 3 jam, kapsul tidak
larut kecuali zat penyalut. Angkat keranjang, cuci segera kapsul
dengan air. Ganti larutan asam dengan larutan dapar pH 6,8. Atur
suhu antara 36dan 38C. Celupkan keranjang ke dalam larutan
tersebut. Lanjutkan pengujian selama 60 menit. Pada akhir
pengujian tidak terdapat bagian kapsul di atas kasa kecuali fragmen
zat penyalut.

c) Uji Variasi Berat


Uji variasi berat yang ditentukan oleh USP XX merupakan uji
yang berurutan, di mana 20 kapsul masing-masing ditimbang dan
ditentukan berat rata-ratanya. Persyaratan uji dipenuhi jika tidak satu
pun dari berat masing-masing kapsul yang kurang dari 90% atau lebih
dari 110% dari berat rata-rata. Jika ke-20 kapsul tidak memenuhi
kriteria tersebut, berat netto massing-masing ditentukan; diambil rata-
ratanya, dan perbedaan ditentukan antara masing-masing isi netto
dengan rata-rata. Persyaratan dipenuhi (1) jika tidak lebih dari dua
perbedaan yang lebih dari 10% terhadap rata-rata, atau (2) jika tidak
satupun yang mempunyai perbedaan lebih besar dari 25%.
Jika lebih dari 2 tetapi kurang dari 6 berat yang ditentukan
dengan uji tersebut berbeda lebih dari 10% tetapi kurang dari 25%, isi
neto ditentukan untuk 40 kapsul tambahan, dan rata-rata diambil dari 60
kapsul. Terhitung ada 60 penyimpangan dari berat rata-rata yang baru.
Persyaratan dipenuhi (1) jika perbedaan tidak melebihi 10% dari rata-
rata dalam lebih dari 6 dari 60 kapsul, dan (2) jika tidak ada perbedaan
yang lebih dari 25%.

d) Uji Keseragaman Isi


Uji kedua dalam USP XX yang dapat diterapkan pada kapsul
adalah keseragaman isi yang dilakukan bila ada spesifikasi oleh
masing-masing monografi. Dalam hal ini dipilih 30 kapsul, 10
diantaranya diperiksa dengan prosedur khusus. Persyaratan dipenuhi
jika 9 dari 10 kapsul mempunyai kisaran potensi spesifik dari 85 sampai
115%, dan yang kesepuluh tidak di luar 75 sampai 125%.
Jika lebih dari 1 tetapi kurang dari 3, dari 10 kapsul yang
pertama berada di luar batas 85 sampai 115%, ke-20 sisa diperiksa.
Persyaratan dipenuhi jika ke-30 kapsul berada dalam kisaran spesifik 75
sampai 125% dan tidak kurang 27 dari 30 kapsul berada dalam kisaran
85 samapai 115%.

2.9. PENETAPAN KADAR

Tahap pengembangan sediaan (formulasi) dimaksudkan agar


bentuk sediaan fitofarmaka yang akan diberikan kepada manusia memenuhi
persyaratan-persyaratan kualitas maupun estetika. Tahapan-tahapan dalam
pengembangan sediaan diantaranya praformulasi, pengembangan formulasi,
pengembangan proses dan produksi. Praformulasi adalah penelitian atau
pemeriksaan sifat-sifat fisika dan kimia suatu zat aktif (ekstrak terstandar)
dan eksipien sehingga dapat diperoleh produk yang stabil, manjur, menarik,
mudah dibuat, dan aman.
1. Eksipien
Untuk mendapatkan suatu produk sediaan farmasi diperlukan
bahan tambahan. Tujuan penambahan eksipien adalah :
a) membawa obat dalam bentuk sediaan yang sesuai.
b) memperbaiki sifat obat, yang meliputi : membawa obat dalam bentuk
yang tepat ke tempat absorpsi, pelepasan obat yang terkontrol, memperbaiki
stabilitas obat, menutupi rasa pahit, dan memperbaiki penerimaan penderita.

Syarat umum bahan obat dan eksipien :


a) tidak toksik (karsinogenik, teratogenik, alergenik, tidak
mengiritasi).
b) kandungan mikroorganisme (mengandung mikroba serendah
mungkin 102/gram dan tidak boleh mengandung mikroba patogen).
c) tidak OTT antara obat dengan obat dan eksipien.
d) stabil terhadap suhu, lembap, cahaya, dan O2.
e) murni dari pengotor dan degradan.
f) sifat fisika mekanik (ukuran dan bentuk partikel, sifat
permukaan, bobot jenis bulk, sifat aliran, sifat kompresibilitas).

Berikut ini adalah deskripsi bahan pengisi kapsul yang digunakan


dalam pembuatan kapsul ekstrak daun jambu biji :

a) Cab-O-Sil (Aerosil)

BP : Colloidal anhydrous silica

PHEUR : Silica colloidalis anhydrica


USPNF : Colloidal silicon dioxide

Sinonim : Aerosil, Cab-O-Sil, Cab-O-Sil M-5P,


colloidal silica, fumed silica, light anhydrous silicic acid, silicic
anhydride, silicon dioxide fumed, Wacker HDK.

Struktur formula : Si O2 (BM = 60.08)

Fungsi : adsorbent, anticaking agent, emulsion stabilizer,


glidant, suspending agent, tablet disintegrant, thermal stabilizer,
viscosity- increasing agent.

Cab-O-Sil digunakan secara luas dalam farmasi, kosmetik


dan produk makanan. Cab-o-sil merupakan partikel berukuran
kecil dan area permukaan spesifiknya besar yang memberikan
karakter aliran yang diinginkan yang dieskplorasi untuk
memperbaiki aliran serbuk kering pada proses pembuatan tablet.

Penggunaan cab-O-Sil sebagai :

•Aerosol = konsentrasi 0,5 – 2,0

•Emulsion stabilizer = konsentrasi 1,0 – 5,0

•Glidant = konsentrasi 0,1 – 0,5

•Suspending dan thickening agent= konsentrasi 2,0 – 10,0

Cab-O-Sil adalah sebuah fumed silica submicroscopic


dengan ukuran partikel 15 nm. Cab-O-Sil berwarna putih kebiru-
biruan, terang, tidak berbau, tidak berasa, serbuk amorf tidak
berpasir.

Sifat fisika-kimia Cab-o-sil

pH : 3,5 – 4,0 (4 % w/v aqueous


despersion)

Densitas : 0.029 – 0.042 9 / cm3


Distribusi ukuran partikel : 7 – 16 nm

Indek refrentive : 1.46

Kelarutan : praktis tidak larut dalam pelarut


organik, air, dan larutan asam, kecuali hydrofluoric acid. Larut
dalam larutan alkali hidroksida panas. Membentuk dispersi
koloidal dalam iar.

Specific gravity : 2.2

Floucalibility : 35.52 y

Spesific surface area : 200-400 m2/g

Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan:

Cab-O-Sil higroskopis tetapi mengadsorbsi sejumlah besar


air tanpa mencair. Ketika digunakan dalam sistem aqueous pada
pH 0-7.5, cab–o-sil dapat meningkatkan viskositas dari sistem.
Tapi pada pH lebih dari 7.5 peningkatan viskositas cab – o-sil
akan berkurang dan pada pH lebih dari 10.7 kemampuan cab – osil
dipreparasi dengan vapor hydropolisis dari chidrosilan : silicon
tetra chlorida. Pada 1800 0c (menggunakan hydrogen –
oxygenflame).

Keamanan:

Cab-o-sil biasanya digunakan dalam oral dan topical


produk farmasi dan umumnya tidak toksis dan merupakan non
irritant excipient.

LD50 (tikus, iv) : 15 mg/kg

LD50 (tikus, oral) : 3.16 g/kg

b) Avicel
BP: Microcrystalline cellulose
JP: Microcrystalline cellulose
PhEur: Cellulosum microcristallinum
USPNF: Microcrystalline cellulose

Sinonim : sel PH; Celex; cellulose gel; Celphere; Ceolus


KG; crystalline cellulose; E460; Emcocel; Ethispheres; Fibrocel;
Pharmacel; Tabulose; Vivapur.

Rumus empiris (C6H10O5)220 ( BM ≈36 000 )

Struktur formula

Fungsi : Adsorbent; suspending agent; tablet and capsule

diluent; tablet disintegrant.

Microcrystalline cellulose digunakan secara luas dalam


farmasi, umumnya sebagai binder/diluent pada tablet oral dan
formula kapsul dimana ini digunakan baik dalam granulasi basah
dan proses kempa langsung. Pada penambahannya sebagai
binder/diluent, microcrystalline cellulose juga memiliki fungsi
sebagai lubrikan dan disintegran yang berguna dalam tabletasi.

Sifat kimia fisika :

PH : 5,0 – 7,5

Density : 1,512 -1,668 g/cm3


Titik lebur : 260 – 270 oC

Distribusi partikel : 20 – 200 μm

Kelarutan : mudah larut dalam 5% w/v larutan


NaOH, praktis tidak larut dalam air, larut dalam asam, dan
sebagian besar pelarut organik.

Inkompatibilitas : avicel inkompatibilitas dengan agent


oksidator kuat.
BAB III
METODE

3.1 Uji Kandungan Kimia Ekstrak


3.1.1 Pembuatan Profil Kromatogram KLT-Densitometri
a. Alat dan bahan
Alat :
1. densitometer
2. pipet mikro
3. pinset
4. labu ukur
5. timbangan analitik
Bahan :
1. ekstrak daun jambu biji
2. Etanol 70 %
3. HCl 57 %
4. Kloroform
5. Aseton
6. Asam formiat
7. lempeng silika
b. Prosedur Percobaan

Sampel 1
250 mg ekstrak etanol daun jabu biji
Masukkan dalam labu alas bulat
21 mL etanol 70 % dan 0,6 mL HCl 57 %

Hidrolisis dengan refluks 30 menit,70 C

Hasil hidrolisis + etanol 25 ml

Sampel siap dianalisis

Sampel 2
250 mg ekstrak daun jambu biji
Masukkan dalam labu ukur 25 ml
Ditambahkan dengan etanol p.a ad tanda

Sampel siap dianalisis

Penentuan Pola Kromatogram


Hasil preparasi sampel

Totolkan sebanyak 10 μL pada lempeng KLT


Eluasi
Fase gerak (Kloroform:aseton:asam formiat = 150:33:17)

Analisis dengan densitometri pada λ 254 dan 365 nm


3.1.2 Analisis Kualitatif
a. Alat dan bahan
Alat :
• Labu ukur
• Mikropipet
• Plate KLT
• Densitometer
• Alat gelas
• Chamber
Bahan :
• Ekstrak daun jambu biji
• Etanol
• Standar quercetin
• kloroform: aseton: asam formiat
b. Prosedur percobaan
• Preparasi Standar

Timbang 25 mg standar quersetin

Masukkan ke dalam labu ukur 25 mL

Tambah etanol ad tepat tanda

Kocok ad larut

• Preparasi sample

Timbang 250 mg sampel+ etanol +0,6 HCl

Hidrolisis 30 menit suhu 70o C

Larutkan dengan etanol 25 ml ad tanda batas


• Analisis Kualitatif

Larutkan standar quercetin dan sample dengan etanol

Totolkan pada plate KLT 2μL larutan


standar dan 10 μL larutan sampel

Eluasi dengan kloroform: aseton: asam


formiat =150 : 33 : 17)

Amati dengan densitometer 200-400 nm

Bandingkan nilai Rf sample dan standar


3.2 Validasi Metode dan Penetapan Kadar Kuersetin Secara KLT
Densitometri
a. Alat dan Bahan
• Alat:

 KLT Densitometer

 Lempeng KLT

 Beaker glass

 Chamber

 Batang pengaduk

 Labu ukur

 Refluks

 Labu alas bulat

 Timbangan analit

 Pipet volume

 Pipet tetes

 Batu didih

 Mikropipet

• Bahan:

 Standar kuersetin

 Ekstrak daun jambu biji (sampel)


 Kloroform

 Aseton

 Asam formiat

 Toluen

 HCl 57%

 Metanol

 Air
b. Prosedur Percobaan
1. Uji Selektivitas

10 µl larutan sampel yang telah


2 µl larutan standar
dihidrolisis

ditotolka
nnnnn

Lempeng KLT

Dieluasi

ukur

Panjang dan
lebar noda

hitung

Resolusi
2. Linearitas
1. Pembuatan Larutan Baku Induk

Standar kuersetin

Ditimbang sebanyak 30 mg

Dimasukkan labu ukur 10 ml

Ditambah etanol sampai tepat


tanda,kocok pelan sampai larut

2. Pembuatan Larutan Baku Kerja

Larutan baku induk

300 ppm 600 ppm 900 ppm 1200 ppm 1800 ppm
3. Penentuan Linearitas

Masing-masing larutan baku kerja

Ditotolkan pada pelat KLT 2 µl

Dieluasi dengan fase gerak


Kloroform : aseton : as.formiat
( 150 : 33 : 17 )

Dianalisis dengan KLT


densitometri

Pada panjang gelombang


maksimum

Dibuat garis regresi linear


konsentrasi vs area noda

Dihitung harga koefisien


regresinya
3. Presisi
1. Preparasi Standard Kuersetin

Ditimbang 30 mg
standars kuersetin

30 mg kersetin dalam labu ukur 10


mL
Ditambah etanol ad tanda,
kocok sampai larut

Larutan baku induk 3000 ppm


Pengenceran larutan baku induk

300 ppm 600 ppm 900 ppm 1200 ppm 1800 ppm
2. Preparasi Sampel

Ditimbang 250 mg ekstrak


(replikasi 3x)

250 mg sampel dalam labu alas


bulat

Ditambah etanol 21 mL dan


0,6 HCl 57%

Sampel siap dihidrolisis

Hasil
hidrolisis
Dimasukkan labu ukur 25 mL, + etanol ad
tanda

Sampel siap dianalisis dengan KLT Densitometri


3. Penentuan Presisi

Larutan standar kuersetin


Hasil preparasi sampel (300,600,900,1200, dan
1800)

Ditotolkan Ditotolkan
10µL 2µL
Lempeng KLT

Dieluasi denagn fase gerak,


Kloroform : aseton : asam formiat
(150:33:17)

Lempeng KLT discan


denagn KLT Densitometer

Kurva regrasi konsentrasi vs area

Area sampel diintrapolasikan


dalam kurva regresi

Kadar kuersetin
Dihitung SD dan KV kadar
kuersetin

Presisi
4. Akurasi

1. Pembuatan Larutan Induk Kerja

30 mg standar kuersetin

Labu ukur 10 mL Etanol 5 mL

Kocok ad larut Etanol ad tanda batas

homogenkan

Larutan baku induk 3000 ppm

Larutan baku kerja

300 ppm 600 ppm 900 ppm 1200 ppm 1800 ppm
2. Preparasi sampel

250 mg sampel

Labu alas bulat 25 mL +21 mL etanol+o,6


1mg kuersetin
mL HCl 57%

Hidrolisis 70 C 30 menit

Labu ukur 25 mL
3. Penentuan Akurasi:

Hasil preparasi sampel Larutan standard kuersetin

totolkan

Lempeng KLT

Eluasi Fase gerak kloroform:aseton:as formiat= 150:33:17

Keringkan

densitometri

Regresi konsentarasi vs area

% recovery
3. 3 Formulasi dan Evaluasi
a. Alat dan Bahan
Alat
• Beker glass
• Spatula
• Mortir
• Stamper
• Cangkang kapsul kosong
• Timbangan analitik
• Seperangkat alat KLT-Densitometri
• Mikropipet

Bahan
• Standar quersetin
• Ekstrak quersetin
• Cab-o-sil
• Avicel
• Aseton
• Asam formiat
• Kloroform
• Etanol
• HCL 57 %
b. Prosedur Percobaan

Rancangan Formula
per kapsul 25
kapsul
R/ ekstrak daun jambu biji 202,528 mg 5,063 g
Cab - O - Sil 118,483 mg 2,962 g
Avicell 78,989 mg 1,975 g

Dalam 202,528 mg ekstrak daun jambu biji dalam 1 kapsul mengandung


5 mg kuercetin.

1. Keseragaman Bobot

Timbang 20 Kapsul

Timbangsatu lagi satu per satu

timbang
Keluarkan isi semua
kapsul

Seluruh bagian cangkang


kapsul
timbang

Bobot isi dan rata-rata tiap kapsul


2. Penetapan Kadar
1. Preparasi standar quersetin

Standar quersetin

Ditimbang 30 mg

30 mg standar quersetin

Dimasukkan ke dalam labu


ukur 10 ml+etanol 10 ml

Larutan baku induk quersetin

dipipet

1ml 2ml 6ml

dimasukkan labu ukur 10


mlditambah etanol ad tanda

300 ppm 600 ppm 1800 ppm

keterangan :
penotolan 300 ppm : ditotol 2 μl
600 ppm : ditotol 2 μl
900 ppm : ditotol 1 μl larutan 1800 ppm
1200 ppm : ditotol 4 μl larutan 600 ppm
1800 ppm : ditotol 2 μl larutan 900 ppm
2. Preparasi sampel

kapsul

Diambil 3 secara random

Kapsul 1 Kapsul 2 Kapsul 3

Dimasukkan labu alas bulat

Kapsul dalam labu

Ditambah etanol 21 ml dan HCl


57% 0,6 ml, dihidrolisis pada T
70oC t 30 menit

Hasil hidrolisis
Dimasukkan
Dimasukkan labu ukur 5 ml
ditambah Etanol ad tanda

Sampel siap
3. Penetapan kadar

Larutan standar sampel

Ditotolkan 2 μl pada lempeng KLT


Replikasi 3 kali

Lempeng yang telah ditotoli sampel dan standar

Dieluasi dengan eluen aseton,


kloroform,Asam formiat

Lempeng yang telah dieluasi

Dianalisis dengan KLT


densitometri
Pada panjang gelombang maks
Hasil analisis

Dibuat persamaan regresi


Konsentrasi kuersetin
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL PENGAMATAN

1. Pola Kromatogram
Nama Sampel Rf Absorbsi λ (nm)
Standart 0,45 95 384
H1 0,44 95 388
H2 0,43 95 390
H3 0,42 95 388
H4 0,41 95 388

Diketahui :
•Panjang gelombang maksimum kuersetin=384 nm
•Absorbsi kuersetin= 95
•Standart kuersetin X=60,5cm dan Y=46,4cm
H2=47,3 cm

H3=73,1 cm
•Jarak standart dengan H2=13,2 cm
Jarak standart dengan H3=12,6 cm
•Posisi X saat scan awal=7,6 cm sampai eluasi 7,6
Posisi Y saat scan awal=5,4 cm sampai eluasi 88,8

2. Validasi Metode Analisis


a) Uji Selektivitas

 Eluen = Kloroform : Metanol : Air = 85:15:1

 Waktu Eluasi = 23 menit 38 detik

 Kelompok 1=Rs=8

 Kelompok 2= Rs=7,059
 Kelompok 3= Rs=5,8

 Kelompok 4= Rs=6

 Eluen = Kloroform : Etil asetat : As.Formiat = 5:4:1

 Waktu Eluasi = 22 menit 56 detik

 Kelompok 1= Rs=3,143

 Kelompok 2= Rs=3,333

 Kelompok 3= Rs = 3,1423

 Kelompok 4= Rs=2,75

 Eluen = Toluen :Aseton: Metanol : Asam Formiat =


46:8:5:1

 Waktu Eluasi = 13 menit 41 detik

 Kelompok 1= Rs=1,67

 Kelompok 2= Rs=3,2

 Kelompok 3= Rs = 3,019

 Kelompok 4= Rs=3

 Eluen = Kloroform : Aseton : Asam Formiat = 150:33:17

 Waktu Eluasi = 31 menit 23 detik

 Kelompok 1= Rs=7

 Kelompok 2= Rs=8,2

 Kelompok 3= Rs = 8
 Kelompok 4= Rs=6,2

b) Penentuan Linearitas

 Baku induk Standar kurkuminoid :

 30 mg / 10 ml x 1000 ppm = 3000 ppm


 Pembuatan baku kerja
 300 ppm
1 ml / 10ml x 3000 ppm = 300 ppm
Penotolan 2 µl : 300 ppm x 2 µl = 600 ng
 600 ppm
2 ml / 10 ml x 3000 ppm = 600 ppm
Penotolan 2 µl : 600 ppm x 2 µl = 1200 ng
 900 ppm
3 ml / 10 ml x 3000 ppm = 900 ppm
Penotolan 2 µl : 900 ppm x 2 µl = 1800 ng
 1200 ppm
4 ml / 10 ml x 3000 ppm = 1200 ppm
Penotolan 2 µl : 1200 ppm x 2 µl = 2400 ng
 1800 ppm
6 ml / 10 ml x 3000 ppm = 1800 ppm
Penotolan 2 µl : 1800 ppm x 2 µl = 3600 ng
Penentuan linearitas
Larutan standar Rf C. standar (µg/2 ml) Area
Larutan stanadar 1 0,56 600 7948,05
Larutan stanadar 2 0,55 1200 13644,35
Larutan stanadar 3 0,57 1800 15469,98
Larutan stanadar 4 0,57 2400 18999,25
Larutan stanadar 5 0,56 3600 18458,79
Persaman regresi linier :
Y = bx + a
Y = 3,371 x + 8432,498
r = 0,8715
c) Penentuan Presisi

Y awal = 30
Y akhir = 48
X1 = 74.6
X2 = 84.7
X3= 94.8
X4 = 104.8
X5 = 114.9
X6= 124.6
X7 =134.6
X8 = 144.8
X9 = 154.8
X10 = 164.7
X11 = 174.5
Regresi Height = 2124 + 0.04195x r = 0.8013
Regresi Area = 8432 + 3.371 x r = 0.87149
Track Rf Area X (µg)

6 0.49 16746.22 2.467

7 0.56 15221.86 2.014

8 0.56 18294.79 2.926

Y = 3.371x + 8432.498
r = 0.87149

 Konsentrasi tiap penotoaln (ng/2µL)

 Replikasi 1
Y = 3.371x + 8432.498
16746.22 = 3.371x + 8432.498
X = 2466.248 ng

 Replikasi 2
Y = 3.371x + 8432.498
15221.86 = 3.371x + 8432.498
X = 2014.049 ng

 Replikasi 3
Y = 3.371x + 8432.498
18294.79 = 3.371x + 8432.498
X = 2925.625 ng

X rata-rata = 2468.642 ng

 Konsentrasi (mg/25mL)

 Replikasi 1 =

 Replikasi 2 =

 Replikasi 3=

Rata-rata= 6.172 mg/ 25 mL

 % Kadar

 Replikasi 1=

 Replikasi 2 =

 Replikasi 3 =

Rata-rata = 2.469%
Konsentrasi
tiap
penotolan Konsentrasi %
Replikasi Area
(mg/25mL) Kadar
(ng/2µL)

16746.2
1 2466.248 6.165 2.466
2

15221.8
2 2014.049 5.035 2.014
6

18294.7
3 2925.628 7.315 2.926
9

Rata-rata 2468.642 6.172 2.469

 SD =

=
= 0.456 %

 CV =

0,456 %
= 2,469 % = 18.469 %

d) Hasil Pengamatan Akurasi

 Persamaan regresi : y = 3,371 x +8432 ,498


 Perhitungan :
10520,19 = 3,371x + 8432,498
 Replikasi I :
x = 619,309 ng = 1,548 mg
10µl 25ml

 Replikasi II : 17939,27 = 3,371x + 8432,498


x = 2820,164 ng = 7,05 mg
10µl 25ml

 Replikasi III : 17955,07 = 3,371x + 8432,498


x = 2824,851ng = 7,063 mg
10µl 25ml

 Konsentrasi kuersetin rata-rata dalam sampel

1,548 mg + 7,05 mg + 7,063 mg


x= 25ml 25ml 25ml
3
= 5,220 mg
25ml
a
 Perhitungan % = ×100 % recovery
b +1

1,548
 R1 : ×100 % = 21,582 %
6,1725 +1

7,05
 R2 : ×100 % = 98,292 %
6,1725 +1

7,063
×100 % = 98,473 %
6,1725 +1
 R3 :

%Recovery rata-rata : 72,782%


SD =
( 21,582 - 72,782 ) 2 + ( 98 ,292 − 72 ,782 ) 2 + ( 98 ,473 − 72 ,782 ) 2
( 3 −1)
2621 ,44 + 650 ,7601 + 660 ,027481
=
2
= 1966 ,113791
= 44 ,341

SD
CV =
x
44 ,341
= ×100 % = 60 ,923 %
72 ,782

3. Rancangan Formula
a) Formulasi
per kapsul 25 kapsul
R/ ekstrak daun jambu biji 202,528 mg
5,063 g
Cab - O - Sil 118,483 mg
2,962 g
Avicell 78,989 mg 1,975 g

 Bentuk sediaan kapsul, dengan cangkang kapsul no.0 = 400 mg


Dalam 202,528 mg ekstrak daun jambu biji dalam 1
kapsul mengandung 5 mg kuercetin.
4. Keseragaman Bobot
Bobot Cab - O - Sil = 0,2004
gram
Bobot Avicell = 0,3008
gram
Berat cangkang + campuran Cab - O - Sil dan Avicell = 0,406
gram
Berat campuran = 0,316
gram
Bobot 20 cangkang kapsul = 2,612
gram
Bobot rata - rata cangkang kapsul = 0,1306
gram

Penyesuaian
R/ ekstrak daun jambu biji 202,528 mg
Avicell 82,483 mg
Cab - O - Sil 54,990 mg
No. Berat isi + kapsul Bobot isi % Simpangan

1. 0,4437 g 0,3131 g 7,5575 %


2. 0,4006 g 0,2700 g 7,2484 %
3. 0,4291 g 0,2985 g 2,5421 %
4. 0,4039 g 0,2733 g 6,1147 %
5. 0,3988 g 0,2682 g 7,8667 %
6. 0,4313 g 0,3007 g 3,2978 %
7. 0,4082 g 0,2776 g 4,6376 %
8. 0,4319 g 0,3013 g 3,5040 %
9. 0,4139 g 0,2833 g 2,6795 %
10. 0,4025 g 0,2719 g 5,5957 %
11. 0,4132 g 0,2826 g 2,9200 %
12. 0,4546 g 0,3240 g 11,3020 %
13. 0,4274 g 0,2968 g 1,9581 %
14. 0,4131 g 0,2825 g 2,9543 %
15. 0,4238 g 0,2932 g 0,7214 %
16. 0,4109 g 0,2803 g 3,7101 %
17. 0,4463 g 0,3157 g 8,4507 %
18. 0,4084 g 0,2778 g 4,5689 %
19. 0,4318 g 0,3012 g 3,4696 %
20. 0,4417 g 0,3111 g 6,8705 %
Rata-rata = 0,4217 g

 Penimbangan kapsul ( Berat cangkang kapsul : 0,1030 g )

 Replikasi 1 : berat cangkang + isi kapsul = 0,4196 g


berat isi kapsul = 0,3166 g

 Replikasi 2 : berat cangkang + isi kapsul = 0,426 g


berat isi kapsul = 0,323 g

 Replikasi 3 : berat cangkang + isi kapsul = 0,425 g


berat isi kapsul = 0,322 g

 Persamaaan regresi : Y = 3,371X + 8432,498

 Replikasi 1
8394,96 = 3.371 X + 8432,498
X = -11,136 ng/2μl
= - 0,028mg/5ml

 Replikasi 2
9286,39 = 3,371 X + 8432,498
X = 253,305 ng/2 μl
= 0,633 mg/5ml

 Replikasi 3
8564,09 = 3,371 X + 8432,498

X = 39,036 ng/2 μl
= 0,098mg/5ml
4.2 PEMBAHASAN

4.2.1 Pola Kromatografi Dan Analitik Kualitatif


Dalam praktikum kali ini, praktikan melakukan uji kandungan kimia
ekstrak yang meliputi pola kromatogram dan analisis kualitatif.

1. Uji pola kromatogram


Tujuan utama dari standarisasi ekstak adalah untuk mendapatkan produk
yang terjamin mutu, keamanan, dan manfaat. Persyaratan mutu ektrak terdiri dari
berbagai parameter standar umum, parameter standar spesifik, dan uji kandungan
kimia ekstrak. Tetapi pada praktikum kali ini yang dilakukan uji kualitatif dan uji
kuantitatif. Uji kuantitatif yang dimaksud adalah untuk mengetahui pola
kromatografi ekstrak yang merupakan salah satu uji kandungan kimia. Sedangkan
uji kualitatif untuk membandingkan noda hasil kromatogran sampel dengan
standar dengan dilihat nilai Rfnya jika sama maka ekstrak mengandung senyawa
yang sama dengan standar.

Ekstrak etanol daun jambu biji ini didapatkan melalui maserasi yang
merupakan metode penyarian yang cocok untuk senyawa yang tidak tahan
pemanasan dengan 3 suhu tinggi dan sering dipakai untuk mengekstraksi bahan
obat yang berupa serbuk simplisia yang halus. Maserasi dilakukan dengan cara
merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan akan menembus dinding
sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan
larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam
sel dengan yang diluar sel, maka larutan zat aktif akan terdesak keluar. Peristiwa
tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan yang
berada di luar dan di dalam sel. Kelemahan penyarian dengan metode maserasi
ini pengerjaannya membutuhkan waktu yang cukup lama dan penyariannya
kurang sempurna.

Tahapan preparasi sample sebagai berikut : sampel dihidrolisis dengan


cara refluks dalam etanol 70% sebanyak 21 mL dan o,6 mL HCl 57% v/v.
Pelarut etanol dapat digunakan untuk menyari zat yang kepolaran relatif tinggi
sampai relative rendah, karena etanol merupakan pelarut universal, etanol tidak
meyebabkan pembengkakan membrane sel, dapat memperbaiki stabilitas bahan
obat yang terlarut dan juga efektif dalam menghasilkan jumlah bahan aktif yang
optimal. Hidrolisis dilakukan untuk mendapatkan senyawa kuersetin yang
merupakan senyawa kelompok flavonol terbesar. Kuersetin dan glikosidanya
berada dalam jumlah sekitar 60-75 % dari flavonoid. ). Karena terdapat gula
maka memilki sifat polar dan mudah larut air serta tidak tahan asam.sehingga
untu memperoleh flavonoid atau aglikonnya saja perlu dilakukan hidrolisis
dengan penambahan asam.Sedangkan sifat flavonoid adalah tahan asam, kurang
polar atau terlarut dalam eter dan kloroform. Dalam praktikum ini yang bertindak
sebagai asam adalah HCl-nya.

Kemudian dilakukan penentuan pola kromatogram, yaitu: hasil preparasi


sampel ditotolkan pada lempeng KLT sebanyak 2 µL dan dieluasi dengan
kondisi:
• Fase diam : Silica gel F254
• Fase gerak : kloroform : aseton : asam formiat (150:33:17)
• Penampak noda : UV 254 nm dan 365 nm
Hasil KLT selanjutnya di scan dengan densitometri untuk melihat pola
kromatogram. Scanning dilakukan dari awal penotolan sampai akhir eluasi pada
panjang gelombang 365 nm dan 254 nm. Scanning dilakukan pada panjang
gelombang 254nm dan 365 nm karena pada panjang gelombang tersebut pola
kromatogram dari kuersetin dapat teramati secara maksimal. Berdasarkan hasil
dari pola kromatogram tersebut kita hanya mengetahui jumlah senyawa yang
terdapat dalam suatu sampel, dari hasil tersebut kita masih belum mengetahui
senyawa tersebut senyawa apa dan kadarnya berapa.
Hasil pola kromatogram adalah sebagai berikut:
Pola kromatogram pada λ 254 nm
Pola kromatogram pada λ 365 nm
2. Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif dilakukan dengan KLT-densitometer. Larutan
standar sebanyak 2µL dan sampel yang sudah dihidrolisis sebanyak 10µL
ditotolkan pada lempeng KLT dengan kondisi seperti pada penentuan
pola/profil kromatogram. Dari hasil KLT, diamati warna noda dan
dihitung Rf secara manual. Jika dibandingkan warna noda sampel dengan
standar dapat dikatakan hampir sama dan nilai Rf-nya juga tidak jauh
berbeda. Harga Rf pada standar adalah 0,42 sedangkan pada sampel kami
adalah 0,41. Berdasarkan dari perbandingan ini digunakan apakah sampel
tersebut benar-benar mengandung quersetin. Hal ini ditunjukan dengan
warna dan nilai Rf yang hampir sama. Standarisasi dengan pola
kromatogam ini dilakukan karena ekstrak tersebut tidak diketahui zat aktif
atau zat identitasnya dan guna menjamin reprodusibilitas produksi

Dengan menggunakan Lempeng KLT yang sama sepeti diatas


dilanjutkan untuk membuat profil spektrum pada titik noda standar dan
noda yang harga Rf-nya sama dengan standar pada panjang gelombang
200-500nm. Kemudian spektrum standar dibandingkan dengan spektrum
sampel. Hasil spektrumnya sedikit ada perbedaan. Berdasarkan spektrum
tersebut dapat diketahui panjang gelombang maksimumnya. λ maks pada
spektrum standar adalah 384nm. Sedangkan λ maks pada spectrum sampel
adalah 388nm. Jadi λmaks yang dipakai untuk menentukan kadar kuersetin
dalam sampel yaitu 388nm. Senyawa aktif yang kami inginkan adalah
kuersetin, sedangkan senyawa standar yang dibandingkan dengan sampel
adalah quersetin. Hal ini dikarenakan quersetin tersebut merupakan
senyawa marker.

4.2.2 Uji Selektivitas, Penentuan Linieritas, dan Presisi

Uji selektifitas dilakukan agar dapat mengetahui dan menentukan


besarnya resolusi dan pengaruh resolusi terhadap keselektifitasan eluen dalam
memisahkan analit(quersetin) dengan zat lain. Awalnya sampel yang telah
dihidrolisis ditotolkan sebanyak 10µl bersama dengan 2µl larutan
standar,selanjutnya dieluasi dengan beberapa macam eluen untuk mengetahui
perbandingan resolusi pada berbagai macam eluen tersebut, sehingga dapat
dilihat manakah eluen yang dapat memberikan resolusi paling bagus. Resolusi
analit dengan zat lain sebaiknya lebih dari 1,5. Eluen yang paling bagus itulah
yang dapat dikatakan bahwa eluen tersebut selektif dalam memisahkan
analit(quersetin) dengan zat lain.
Pada sampel yang dilakukan eluasi menggunakan eluen
Kloroform:Metanol:Air (85:15:1) dibutuhkan waktu untuk eluasi selama 23
menit 38 detik dan memberikan resolusi sebesar 5,8. Untuk eluen
kloroform:etil asetat: Asam formiat(5:4:1) akan memberikan resolusi sebesar
3,143 dengan waktu eluasi 22 menit 56 detik. Sedangkan untuk sampel yang
dieluasi dengan perbandingan eluen toluene:aseton:methanol: asam
formiat(46:8: 5:1) akan memberikan resolusi sebesar 3,091. Dan untuk eluen
kloroform:aseton:asam formiat (150:33:17) akan memberikan nilai resolusi
sebesar 8 dengan waktu eluasi 31menit 23 detik.
Dari data diatas,dapat diketahui bahwa semua eluen memberikan
nilai resolusi yang lebih besar dari 1,5. Tapi eluen kloroform:aseton:asam
formiat (150:33:17) yang paling bagus (selektif) digunakan untuk memisahkan
quersetin dengan zat lain (pengotornya) karena memiliki nilai resolusi yang
paling besar daripada yang lain.
Presisi atau keseksamaan adalah ukuran yang menunjukkan derajat
kesesuaian antara hasil uji individual, diukur melalui penyebaran hasil
individual dari rata-rata jika prosedur diterapkan secara berulang pada sampel-
sampel yang diambil dari campuran yang homogen.
Presisi diukur sebagai simpangan baku atau simpangan baku
relative (koefisien variasi). Kriteria presisi diberikan jika metode memberikan
simpangan baku relative atau koefisien variasi 2% atau kurang. Akan tetapi
kriteria ini sangat fleksibel tergantung pada konsentrasi analit yang diperiksa,
jumlah sampel dan kondisi laboratorium.
Pada penetapan presisi, sampel ditotolkan bersama standart pada
lempeng KLT dan dieluasi. Selanjutnya discan dengan densitometer dan dibuat
kurva regresi dari standart. Kadar kuersetin diperoleh dengan
menginterpolasikan area standart dalam persamaan regresi. Dari kadar sampel
yang diperoleh (3 replikasi) dapat dihitung nilai SD dan KV.
Untuk replikasi 1, kadar sampel diperoleh sebesar 2466.248
ng/2µL setara dengan 6.165 mg/25 mL (2.466%), untuk replikasi 2 kadar
sampel yang diperoleh 2014.049 ng/2µL setara dengan 5.035 mg/25 mL dan
untuk replikasi ke 3 kadar sampel yang diperoleh 2925.628 ng/2µL setara
dengan 7.315 mg/25 mL (2.926%). Dengan rata-rata kadar yaitu 2.469%, dapat
dihitungnilai SD dan KV. Nilai SD sebesar 0.456 dan CV sebesar 18.469%.
Hal ini menunjukkan bahwa pengukuran berulang (replikasi 1, 2 dan 3)
menunjukkan perbedaan yang cukup bermakna yang ditunjukkan dengan nilai
CV lebih dari 2% atau dalam artian percobaan ini memiliki presisi yang kurang
baik.
Pada praktikum kali ini dilakukan validasi metode analisis
terutama parameter linearitas dan akurasi. Validasi metode analisis diperlukan
umtuk menjamin bahwa metode analisis digunakan sudah memenuhi
persyaratan yang telah ditetapkan. Penentuan parameter-parameter ini
menggunakan metode KLT (Kromatografi Lapis Tipis) dan discanning
menggunakan alat Densitometer CAMAG.
Prosedur awal dilakukan pembuatan baku induk standar kuersetin,
dengan menimbang 30 mg dan dilarutkan dalam 10 ml etanol didapatkan
konsentrasi 3000 ppm. Selanjutnya dari baku induk tersebut dibuat larutan
baku kerja dengan konsentrasi 300 ppm, 600 ppm, 900 ppm, 1200 ppm, dan
1800 ppm. Untuk digunakan pada penentuan linearitas.
Prosedur berikutnya adalah penotolan satndar dan sampel dan
eluasi dengan fase gerak kloroform : aseton : as.formiat (150 : 33 : 17). Setelah
eluasi dilakukan pemayaran noda dengan alat densitometer CAMAG, dan
didapatkan data area. Dari data area tersebut dapat ditentukan konsentrasi
sampel dengan memasukkan pada persamaan kurva baku pada penentuan
linearitas. Setelah itu, dicari harga % perolehan kembali (recovery) dengan
membandingkan hasil konsentrasi sampel dengan data hasil penentuan kadar
pada praktikum sebelumnya.
Dari hasil praktikum pada penentuan linearitas diperoleh
persamaan kurva baku yakni, y = 3,371 x + 8432,498 dengan nilai r = 0,8715.
Semakin baik linearitas maka nilai r semakin mendekati satu. Jadi, pada
penentuan linearitas kali ini masih kurang memenuhi persyaratan yang
ditentukan.
Presisi atau keseksamaan adalah ukuran yang menunjukkan derajat
kesesuaian antara hasil uji individual, diukur melalui penyebaran hasil
individual dari rata-rata jika prosedur diterapkan secara berulang pada sampel-
sampel yang diambil dari campuran yang homogen.
Presisi diukur sebagai simpangan baku atau simpangan baku
relative (koefisien variasi). Kriteria presisi diberikan jika metode memberikan
simpangan baku relative atau koefisien variasi 2% atau kurang. Akan tetapi
kriteria ini sangat fleksibel tergantung pada konsentrasi analit yang diperiksa,
jumlah sampel dan kondisi laboratorium.
Pada penetapan presisi, sampel ditotolkan bersama standart pada
lempeng KLT dan dieluasi. Selanjutnya discan dengan densitometer dan dibuat
kurva regresi dari standart. Kadar kuersetin diperoleh dengan
menginterpolasikan area standart dalam persamaan regresi. Dari kadar sampel
yang diperoleh (3 replikasi) dapat dihitung nilai SD dan KV.
Untuk replikasi 1, kadar sampel diperoleh sebesar 2466.248
ng/2µL setara dengan 6.165 mg/25 mL (2.466%), untuk replikasi 2 kadar
sampel yang diperoleh 2014.049 ng/2µL setara dengan 5.035 mg/25 mL dan
untuk replikasi ke 3 kadar sampel yang diperoleh 2925.628 ng/2µL setara
dengan 7.315 mg/25 mL (2.926%). Dengan rata-rata kadar yaitu 2.469%, dapat
dihitungnilai SD dan KV. Nilai SD sebesar 0.456 dan CV sebesar 18.469%.
Hal ini menunjukkan bahwa pengukuran berulang (replikasi 1, 2 dan 3)
menunjukkan perbedaan yang cukup bermakna yang ditunjukkan dengan nilai
CV lebih dari 2% atau dalam artian percobaan ini memiliki presisi yang kurang
baik.
Penentuan Akurasi

Akurasi atau kecermatan adalah ukuran yang menunjukkan derajat


keterdekatan hasil analsis dengan kadar analit yang sebenarnya. Akurasi
dinyatakan dengan persen perolehan kembali (recovery) analit yang
ditambahkan. Kecermatan hasil analisis sangat tergantung pada sebaran galat
sistematik di dalam keseluruhan tahapan analisis. Oleh karena itu, untuk
mencapai kecermatan yang tinggi hanya dapat dilakukan dengan cara
mungurangi galat sistematik tersebut seperti menggunakan peralatan yang telah
dikalibrasi, menggunakan pereaksi dan pelarut yang baik, pengontrolan suhu,
dan pelaksanaan ynag cermat serta sesuai prosedur.
Akurasi ditentukan dengan tiga cara yaitu analisis sampel dengan
konsentrasi diketahui, perbandingan hasil dengan metode standar, dan standar
adisi. Pada standar adisi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu spiked-placebo
recovery dan penambahan baku. Untuk analisis ekstrak tidak memungkinkan
unutk membuat sampel placebo karena senyawa penyusunnya tidak diketahui
dengan tepat dan atau sangat sulit sekali untuk dibuat susunan senyawa yang
mirip dengan aslinya (berasal dari alam).
Sampel yang sudah ditambahkan standart ditotolkan pada lempeng
bersama-sama dengan larutan standart 300 ppm, 600 ppm, 900 ppm, 1200 ppm
dan 1800 ppm. Selanjutnya dieluasi dengan eluen terpilih dan discan dengan
densitometer. Kadar kuersetin dalam sampel diperoleh dengan
menginterpolasikan area sampel ke dalam persamaan regresi yang diperoleh.
Dari perhitungan didapat persen recovery sebesar 72,782%. Nilai ini tidak
masuk dalam rentang % recovery yaitu antara 80%-120%. Hal ini disebabkan
karena pada replikasi pertama hanya diperoleh % recovery sebesar 21,582%.

4.2.3 Formulasi dan Evaluasi

Keseragaman bobot

Pada praktikum Fitofarmasi yang terakhir adalah


“Formulasi dan Evaluasi Sediaan”, dimana sediaan yang kita buat adalah
kapsul. Adapun alasan dipilihnya sediaan kapsul antara lain :
• Dapat menutupi bau yang tidak enak, karena bahan baku yang digunakan
adalah ekstrak daun Jambu biji yang memiliki bau khas dan jarang
disukai sehingga dengan memilih sediaan kapsul, maka bau yang kurang
acceptable dapat dihindari.
• Dapat menutupi rasa pahit dan tidak enak. Sebagian besar ekstrak
tumbuhan memiliki rasa yang pahit atau getir sehingga dengan pemilihan
sediaan kapsul, dapat menutupi rasa yang tidak enak.
• Dapat melindungi bahan obat dari cahaya matahari langsung maupun
kondisi udara sekitar. Beberapa ekstrak dari tumbuhan memiliki
sensitivitas yang tinggi terhadap cahaya matahari langsung dan udara,
oleh sebab itu penggunaan cangkang kapsul keras yang buram, (TiO2)
dapat mengantisipasi kontak bahan obat dengan cahaya maupun udara.
• Mudah dalam penggunaannya.
• Pembuatan relative mudah, dapat dilakukan secara konvensional.
• Lebih murah

Kapsul yang digunakan untuk dikonsumsi harus memenuhi syarat-


syarat sebagai berikut:
• Tidak toksik
• Keseragaman dosis
• Tidak cacat secara fisik

Penggunaan tanaman obat sebagai alternatif dalam pengobatan


untuk masyarakat semakin meningkat, sehingga diperlukan penelitian
untuk membuktikan khasiat tanaman obat tersebut. Salah satu tanaman
yang banyak digunakan untuk pengobatan suatu penyakit adalah jambu
biji. Jambu biji dapat digunakan sebagai obat diare, sariawan dan
keputihan. Secara empiris, jambu biji juga berkhasiat untuk mengatasi
demam berdarah. Seperti yang terdapat pada literatur, pada demam
berdarah salah satu temuan laboratorium adalah trombositopenia, dimana
jumlah trombosit < 100.000/mm3 .
Salah satu senyawa yang terkandung dalam daun jambu biji adalah
kuersetin. Kuersetin digunakan sebagai senyawa marker dalam penelitian
ini karena diduga mempunyai peranan dalam peningkatan jumlah
trombosit pasien demam berdarah. Selain itu kuersetin dapat berfungsi
sebagai immunomodulator serta dapat menghambat agregasi trombosit
Juga didukung penelitian sebelumnya bahwa kuersetin mampu
menurunkan permeabilitas vaskular dimana pada pasien demam berdarah
terjadi peningkatan permeabilitas vaskular yang dapat menyebabkan
terjadinya syok.
Berikut adalah bahan-bahan yang digunakan dalam formulasi
kapsul ekstrak Jambu biji sebagai berikut :
per kapsul 25
kapsul
R/ ekstrak daun jambu biji 202,528 mg 5,063 g
Cab - O - Sil 82,483 mg 2,062 g
Avicell 54,990 mg 1,375 g

Dalam pembuatan kapsul ekstrak Psidium guajava (ekstrak Jmabu


biji) digunakan bahan penyerap . Zat yang digunakan untuk menyerap bahan
cair ataupun pelarut yang ada di dalam ekstrak adalah avicel dan Cab-O-Sil.
Avicel merupakan serbuk kristal hambar terdiri atas partikel penyerap,
pembersih Microcrystalline cellulose, berfungsi sebagai adsorbent (20-
90%), suspending agent (5-20%), tablet and capsule diluent (20-90%), dan
tablet disintegrant (5-15%). Digunakan bahan penyerap avicell karena
avicell memiliki sifat alir yang baik bila dibandingkan dengan Cabosil, dan
avicell tidak menimbulkan toksisitas.
Dalam praktikum ini jumlah kapsul yang dibuat adalah 25 kapsul
dimana 20 kapsul digunakan untuk keseragaman bobot dan 3 kapsul untuk
uji penetapan kadar, sisanya 2 kapsul untuk dikemas dengan 20 kapsul
keseragaman bobot menjadi produk jadi. Adapun langkah-langkah yang
dilakukan dalam formulasi sediaan kapsul adalah ekstrak ditimbang
sebanyak 5,063 g (untuk 25 kapssul), gerus ad halus dan homogen.
Kemudian Cab-O-Sil ditimbang sebanyak 2,062 g,gerus ad halus lalu
dicampurkan dengan ekstrak yang telah digerus sebelumnya, gerus ad
homogen, dan tambahkan Avicell sebanyak 1,375 g ke dalam campuran
ekstrak dan Cab-O-Sil tersebut, gerus ad homogen. Setelah terbentuk
ekstrak kering Psidium guajava, kemudian ditimbang, sehingga diperoleh
berat ekstrak kering sebanyak 0,316 g. Tara cangkang kapsul kosong
kemudian isi masing-masing kapsul dengan serbuk ekstrak Jambu biji
hingga diperoleh sebanyak 25 kapsul. Bersihkan cangkang kapsul agar
terlihat mengkilat. Masukkan 22 kapsul yang sudah jadi ke dalam wadah
dan beri etiket. Sisa 3 kapsul akan di uji penetapan kadarnya.
Setelah jadi kapsul ekstrak Psidium guajava, langkah selanjutnya
yaitu evaluasi sediaan. Untuk evaluasi sediaan kapsul, dilakukan dengan
cara menentukan keseragaman bobot, kelarutan ,waktu hancur, utuk kapsul
tahan asam lambung dan tidak tahan asam lambung serta uji keseragaman
kandungan. Namun dalam praktikum kali ini, hanya uji keseragaman bobot
dan penetapan kadar yang dilakukan.
Untuk uji keseragaman bobot, ditentukan dengan menimbang
sebanyak 20 kapsul. Timbang lagi satu per satu. Keluarkan isi kapsul,
timbang seluruh bagian cangkang kapsul. Hitung bobot rata-rata isi kapsul.
Perbedaan dalam persen bobot isi kapsul terhadap bobot rata-rata tiap isi
kapsul tidak boleh lebih dari yang ditetapkan kolom A, dan untuk setiap 2
kapsul tidak lebih dari yang ditetapkan kolom B.

Bobot rata-rata isi Perbedaan bobot isi kapsul dalam %


kapsul A B
120 mg atau lebih ± 10% ± 20%
Lebih dari 120 mg ± 7,5 % ± 15%

Setelah dilakukan pengujian keseragaman bobot diperoleh hasil simpangan yang


bervariasi mulai dari 0,7214 % hingga 11,3020 %. Dari hasil tersebut dapat
dikatakan bahwa kapsul untuk uji keseragaman bobot tidak sesuai dengan
persyaratan FI III. Hal ini disebabkan karena pembagian serbuk yang dilakukan
secara visual, sehingga berat serbuk dalam kapsul tidak seragam. Akibatnya
keseragaman bobot antara kapsul satu dengan lainnya berbeda, sehingga %
simpangannya pun juga bevariasi.
Penetapan Kadar

Tahap terakhir dari praktikum ini adalah pembuatan formulasi dari


ekstrak Psidium guajava menjadi sediaan kapsul. Alasan pemilihan
bentuk sediaan kapsul adalah untuk mengurangi rasa tidak enak (pahit)
dari bahan aktif, mudah penggunaannya, meningkatkan acceptabilitas,
cocok untuk bahan yang higroskopis, prosedur pembuatannya pun relatif
sederhana. Sediaaan kapsul ini digunakan untuk meningkatkan jumlah
trombosit dengan dosis 5 mg kuersetin dalam 400 mg kapsul. Setelah
dikonversikan dengan kadar kuersetin, maka diperoleh berat ekstrak
yang dibutuhkan untuk satu kapsul adalah 202,528mg ekstrak dalam
400 mg total berat isi kapsul.
Untuk mendapatkan sediaan kapsul yang sesuai dengan
persyaratan yang ditetapkan maka perlu dilakukan evaluasi keseragaman
bobot berdasarkan FI IV, keseragaman isi kapsul , dan evaluasi
penetapan kadar kapsul.
Pada evaluasi penetapan kadar praktikan terlebih dulu membuat
larutan standar kuersetin dengan memasukkan 30 mg kuersetin ke dalam
labu ukur 10 ml dan ditambahkan dengan etanol sampai tepat tanda
sehingga diperoleh kadar 3000 ppm. Dari larutan induk ini dibuat larutan
standar kuersetin 300 ppm, 600 ppm dan 1800 ppm. Selanjutnya ketiga
larutan standar ini ditotolkan sebanyak 2 μl pada lempeng KLT dengan
tata cara sebagai berikut :
Penotolan 300 ppm : ditotol 2 μl
penotolan 600 ppm : ditotol 2 μl
penotolan 900 ppm : ditotol 1 μl larutan 1800 ppm
penotolan 1200 ppm : ditotol 4 μl larutan 600 ppm
penotolan 1800 ppm : ditotol 2 μl
Pada praktikum ini tidak dibuat larutan standar 900 ppm dan
1200 ppm karena terbatasnya jumlah larutan induk yang dibuat sehingga
pada penotolan 900 ppm dan 1200 ppm dilakukan seperti yang tertera di
atas.
Preparasi sampel pada praktikum kali ini praktikan lakukan
dengan memilih tiga buah kapsul secara acak. Kemudian ketiga kapsul
tersebut dimasukkan ke dalam labu alas bulat dan ditambah dengan
etanol 21 ml dan HCl 57% 0,6 ml, dihidrolisis pada suhu 70oC selama
30 menit. Hasil hidrolisis dimasukkan ke dalam labu ukur 5 ml.
Sampel dan larutan standar yang telah siap selanjutnya ditotolkan
ke lempeng KLT masing-masing sebanyak 2μl. Lempeng KLT lalu
dieluasi menggunakan eluen campuran asam formiat, kloroform,dan
aseton. Lempeng yang telah dieluasi ditetapkan kadar kuersetin yang
terkandung di dalamnya menggunakan alat densitometer. Hasil
penetapan kadar kuersetin dapat dilihat pada hasil pengamatan. Hasil
yang didapat sangat bervariasi antara kapsul yang satu dengan kapsul
yang lain. Hal ini kemungkinan dikarenakan pada saat pencampuran
bahan aktif dengan bahan tambahan kurang homogen sehingga
berpengaruh kepada kadar kuersetin yang terdapat pada masing-masing
kapsul, tannin yang terkandung di dalam ekstrak daun jambu biji masih
ada sehingga tannin akan bereaksi dengan gelatin kapsul dan membuat
sediaan kapsul menjadi tidak stabil serta mempengaruhi kadar ekstrak
dalam kapsul ,masih ada bahan-bahan lain yang ikut terekstrak selain
kuersetin sehingga mempengaruhi kadar ekstrak saat KLT- Densitometri,
adanya kesalahan saat pembagian dalam kapsul dan adanya kesalahan
penimbangan bahan saat formulasi . Selain ini perbedaan kadar yang
sangat signifikan ini juga bisa dikarenakan penggunaan persamaan
regresi yang berasal dari percobaan lain yang dilakukan sebelumnya
yaitu linieritas. Seperti diketahui bahwa pada tiap percobaan terdapat
variasi kondisi analisis sehingga persamaan regresi hasil praktikum
sebelumnya tidak dapat digunakan untuk menentukan kadar kuersetin
yang dilakukan hampir 3 minggu setelah didapat persamaan regresi
tersebut.
Berdasarkan hasil percobaan diatas dapat dikatakan bahwa kapsul
kuersetin yang dibuat oleh praktikan tidak memiliki keseragaman
kandungan kuersetin.
BAB V
KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari hasil praktikum ini adalah :

1. Ekstrak yang diperoleh dari 250 g serbuk daun jambu biji (Psidium
guajava L.) dengan metode ekstraksi maserasi menggunakan etanol 96%
sebesar 15,24 gram.
2. Titik kritis analisis adalah pada saat penotolan dan penimbangan, baik
sampel atau standar, selain itu juga kondisi analisis.
3. Panjang gelombang maksimal standard 383 nm dan 381 nm
4. Pola kromatogram sampel adalah identik dengan standar
5. Dari keempat eluen dapat disimpulkan bahwa eluen yang paling
selektif untk memisahkan kuersetin dari ekstrak adalah eluen pertama
yaitu campuran antara kloroform, aseton, asam formiat dengan
perbandingan masing-masing 150:33:17 karena menghasilkan nilai
resolusi terbesar yaitu 5,81.
6. Dari uji linearitas diperoleh persamaan regresi y = 3,371 x + 8432,498
dengan nilai r = 0,8715. Penentuan linearitas kali ini masih kurang
memenuhi persyaratan yang ditentukan.
7. Hasil uji presisi menunjukkan nilai SD sebesar 0,456 dan CV sebesar
18,469%. Hal ini menunjukkan bahwa pengukuran berulang (replikasi 1, 2
dan 3) menunjukkan perbedaan yang cukup bermakna yang ditunjukkan
dengan nilai CV lebih dari 2%
8. Hasil uji akurasi menunjukkan persen recovery sebesar 72,782%. Nilai
ini tidak masuk dalam rentang % recovery yaitu antara 80%-120%.
9. Kandungan kuersetin rata-rata dalam 250 mg ekstrak jambu biji adalah
4,20625 mg.
10. Dari evaluasi keseragaman bobot kapsul diperoleh hasil simpangan
yang bervariasi mulai dari 0,7214 % hingga 11,3020 %. Dari hasil tersebut
dapat dikatakan bahwa kapsul untuk uji keseragaman bobot tidak sesuai
dengan persyaratan FI III.
11. Sediaan kapsul diformulasikan untuk meningkatkan jumlah trombosit.
12. Tiap satu kapsul adalah dibutuhkan 202,528mg ekstrak dalam 400 mg
total berat isi kapsul atau setara dengan 5 mg kuersetin.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim 1. 2006. Flavonoid.http://id.wikipedia.org/wiki/flavonoid


Anonim 2.2006.Quersetin. http://id.wikipedia.org/wiki/flavonoid
Bassett J.,RC Denney,G.H Jeffery, J. Mendham.1994. Buku Ajar Vogel Kimia
analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta: EGC
Burkill, I. H. MA. FLS, 1935. ADictionary of the Economicproduct of the Malay
Peninsulla .Volume II. Governments of straitssettlement and Federated
Malaystate by the Crown Agents for thecolonies. Milbank-London.
2402p
Departemen Kesehatan, 1989.Vademakum Bahan Obat Alam.Dirjen POM
DepartemenKesehatan Republik Indonesia. Jakarta. hal 84-86.
Guava Heyne, K.1987. TumbuhanBerguna Indonesia. Jilid III. Jakarta:Yayasan
Sarana Wana Jaya. p.1506-1507
Harborne, 1987. Metode Fitokimia.Penuntun cara modern menganalisitumbuhan.
Terjemahan KosasihPadmawinata dan Iwang Soediro.Penerbit ITB.
Bandung. hal 85-93.
Kemal Prihatman. 2000. TTGBudidaya Pertanian Jambu Biji/Jambu Batu. Jakarta
: Kantor DeputiMenegristek Bidang Pendayagunaandan Pemasyarakatan
IlmuPengetahuan dan Teknologi.
Irawan, Daniel. 2006. BakteriYoghurt Untuk Terapi Terbaru HIV.h t t p : / / w w
w . w a s p a d a . c o . i d /s e r b a _ s e r b i / k e s e h a t a n
/artikel.php?article_id=79556Diakses tanggal: 4 September2006
PDII-LIPI.2006. Khasiat Dan Produk Olahan Jambu Biji (Psidium Guajava
L.).Jakarta: LIPI
Yuliani.S,Dkk.2003.Kadar tannin dan quersetin tiga tipe daun jambu biji. Jakarta :
Balai penelitian Tanaman Rempah Obat. http//www.balitro.go.id
LAPORAN AKHIR
PRAKTIKUM FITOFARMASI

Dengan Materi :
Pola Kromatogram dan Analisis Kualitatif
Uji selektifitas, Penentuan Linearitas dan Presisi
Penentuan Akurasi
Formulasi dan Evaluasi (Keseragaman Bobot)
Penetapan Kadar

Disusun oleh :

Ichwan Hadi 052210101040


Laksmi Diah A. 072210101070
Isvadhila 072210101072
Devi Dwi R. 072210101073
Zulniar M. 072210101074
Amaratus S.A. 072210101075
Alviera S. 072210101076
Akhmad Novario P. 072210101077
Diajeng Putri K. 072210101078
Crysnanda M. 072210101079
LABORATORIUM BIOLOGI
Vintaria Rastika Dewi 072210101080
FAKULTAS FARMASI
Nuzulu rohmah 072210101081

UNIVERSITAS JEMBER
2010