Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan bagian yang sangat penting dalam meningkatkan


sumber daya manusia agar mampu bersaing dalam menghadapi perkembangan
zaman. Melalui pendidikan, terjadi penerimaan dan pemahaman ilmu yang
dilakukan melalui proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran harus terjalin
interaksi antara guru dengan siswa, interaksi antara siswa dengan siswa, maupun
interaksi antara siswa dengan sumber belajar.

Melalui interaksi antara siswa dengan sumber belajar, siswa dapat


membangun pengetahuan secara aktif dan dapat termotivasi untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang diharapkan. Tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal
apabila guru mampu menggunakan metode pembelajaran yang tepat sesuai dengan
situasi dan kondisi, sehingga dapat membelajarkan siswa sesuai dengan gaya dan
cara belajar siswa. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat
haruslah memperhatikan sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia,
kondisi guru dan kondisi siswa itu sendiri.

Kondisi siswa disini berdampak dan menentukan seberapa besar kemajuan


belajar siswa. Kondisi siswa yang beragam dipengaruhi dan dibentuk oleh berbagai
faktor sehingga menciptakan karakter dan sifat dan kepribadian yang berbeda.
Setiap siswa memiliki sifat dan kepribadian masing- masing yang menentukan
kemauan dan keinginan dalam belajar.

Kemauan dan keinginan belajar siswa akan berjalan lebih lambat apabila
dalam prosesnya tidak disertai dengan motivasi diri. Motivasi diri adalah suatu
perubahan tenaga di dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya

1
2

perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan (Frederick, J., dalam H Nashar,
2004:39). Untuk itu, guru disini memiliki peranan penting sebagai seorang
pengajar, pendidik, dan pelatih harus mampu memberikan motivasi kepada
siswanya sehingga perkembangan belajar siswa dapat meningkat.

Berdasarkan hal tersebut, maka penulis menyajikan beberapa metode


pembelajaran untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga dapat
tercapainya tujuan belajar yang efektif.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, dapat


diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut.

1. Bagaimana metode pembelajaran dalam meningkatkan kebutuhan akademik


siswa?
2. Bagaimana langkah-langkah untuk meningkatakan motivasi belajar siswa?
3. Bagaimana bentuk pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar?

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah
untuk mengetahui:

1. metode pembelajaran dalam meningkatkan kebutuhan akademik siswa,


2. langkah-langkah untuk meningkatakan motivasi belajar siswa,
3. bentuk pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Peningkatan Kebutuahan Akademik Siswa

Tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal apabila guru mampu


menggunakan metode pembelajaran yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi,
sehingga dapat membelajarkan siswa sesuai dengan gaya dan cara belajar siswa.
Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah
memperhatikan sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia, kondisi guru
dan kondisi siswa itu sendiri.

1. Perilaku Keterbukaan Guru Terhadap Motivasi Belajar Siswa

Guru memiliki kedudukan yang strategis dalam pencapaian mutu


pendidikan. Peranan guru sebagai pengelola proses pembelajaran sangat
menentukan kualitas proses belajar, yang pada akhirnya akan bermuara pada
kualitas hasil belajar (soedijarto,1993). Penerapan teori dan model model motivasi
dalam pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan akademik siswa yang
menekankan pada faktor-faktor eksternal dari siswa. Motivasi dipandang dari
perspektif yang berbeda, yaitu kognisi siswa dan dampaknya terhadap motivasi
untuk belajar. Berdasarkan hasil penelitian Brophy (dalam Levin, 1996) ditemukan
beberapa fakor yang berpengaruh kuat terhadap motivasi siswa, diantarnya adalah
sebagai berikut.

a. Minat siswa

Guru dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dengan mengaitkan isi


materi dengan minat siswa dalam kehidupan di luar sekolah. Contoh pada saat
seorang guru mengajar bahasa Inggris berkaitan dengan puisi dan lirik musik yang

3
4

populer. Minat siswa dapat juga ditingkatkan dengan menggunakan kegitan kelas
yang dapat dinimati siswa seperti game, simulasi, video, dan kerja kelompok.
Siswa diberikan kesempatan untuk merencanakan atau memilih kegiatan.

b. Kebutuhan siswa

Motivasi belajar meningkat apabila siswa merasa bahwa kegiatan belajar


memberikan kesempatan untuk memenuhi beberapa kebutuhan dasarnya,
sebagaimana yang dikemukakan oleh Maslow. Misalnya memberikan kesempatan
kepada siswa untuk mengaktualisasikan dirinya dengan memberikan kesempatan
kepada siswa untuk berbicara di depan kelas dan siswa yang lainnya
mendengarkan. Menyediakan suasana menyenangkan, pembelajaran yang
berorientasi tugas dengan harapan yang jelas dapat membantu siswa dalam
memenuhi kebutuhannya berkaitan dengan keselamatan dan keamanan psikologis.

c. Pembaharuan dan variasi

Guru hendaknya merancang kegiatan pembelajaran yang meliputi peristiwa


baru, situasi baru, dan bahan baru yang lebih memungkinkan siswa untuk terlibat
dalam pembelajaran. Membuat suatu variasi pelajaran baru yang menyenangkan
dapat meningkatkan perhatian siswa. Jangka waktu perhatian manusia dalam suatu
aktivitas lebih panjang apabila ia menemukan sesuatu yang menarik di dalam
keterlibatannya dalam aktivitas tersebut.

d. Keberhasilan

Menciptakan keberhasilan bagi siswa merupakan tugas terpenting bagi


seorang guru. Untuk mencapai kesuksean guru hendaknya memastikan bahwa
semua siswa mengalami kesuksesan dengan membuat tujuan dan sasaran yang
jelas, mengajarkan isi pelajaran dengan jelas dengan langkah-langkah kecil dan
memeriksanya untuk melihat bahwa siswa memahami setiap langkah. Selain itu,
guru mendorong keberhasilan dengan membantu siswa memperoleh keterampilan
5

yang diperlukan untuk sukses ketika mereka harus bekerja pada sendiri-
menguraikan mereka, mencatat, dan menggunakan buku teks dengan benar.

e. Feeling Ston

Feeling ston mengacu pada suasana emosional atau kondisi di kelas.


Suasana emosional di kelas bisa sangat positif, cukup positif, netral, cukup negatif,
dan sangat negatif. Suasana emosional yang sangat positif dapat menjadi manis
menjijikkan dan benar-benar langsung mempengaruhi perhatian tugas belajar
siswa. Dalam suasana emosional netral sangat hambar dan non stimulating, dan
suasana emosional yang sangat negatif sangat mengancam serta dapat
menghasilkan kelebihan ketegangan. Suasana emosional yang paling efektif dalam
menigkatkan motivasi siswa adalah suasana cukup positif di mana iklim yang
menyenangkan dan ramah tetapi jelas terfokus pada tugas belajar di tangan siswa.

f. Umpan balik

Motivasi belajar juga dapat ditingkatkan dengan memberikan umpan balik


yang kepada siswa tentang kinerja mereka. Pengetahuan tentang tingkat usaha dan
tingkat keberhasilan memotivasi siswa dengan memberikan informasi yang dapat
digunakan untuk meningkatkan kinerja di masa depan dan dengan menyediakan
tolok ukur atau kriteria kemajuan dalam pembelajaran yang dapat diukur. Umpan
balik yang paling efektif adalah ketika hal yang bersifat sfesifik disampaikan
segera setelah atau pada saat kinerja.

g. Dorongan.

Dorongan menekankan aspek positif dari perilaku, mengakui dan


memberikan penghargaan terhadap upaya nyata. Berkomunikasi positif merupakan
harapan bagi perilaku masa depan. Guru hendaknya mengkomunikasikan bahwa
guru percaya pada anak. Anak-anak sering diingatkan keterbatasan mereka oleh
orang dewasa.
6

2. Harapan Guru dan Pengaruhnya Terhadap Motivasi Belajar Siswa

Penelitian tentang harapan guru dan pengaruhnya terhadap belajar siswa


sangat erat kaitannya dengan penelitian tentang motivasi. Dalam sebuah penelitian
yang terkenal dengan judul Pygmalion in the Clasroom (1968) oleh Rosenthal dan
Jacobson memperoleh temuan-temuan yang kuat tentang perilaku guru di dalam
kelas. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa umpan balik dan keterbukaan
guru dapat meningkatkan belajar siswa. Guru yang mengkomunikasikan harapan
yang tinggi tehadap semua peserta didik dapat meningkakan prestasi siswa.

a. Pertanyaan Kelas (Classroom Questioning)

Pertanyaan kelas merupakan teknik yang serbaguna yang hendaknya


dimiliki oleh semua guru sebagai bagian dari alat pembelajaran. Pertanyaan dapat
digunakan untuk menilai kesiapan untuk belajar baru, untuk membuat minat dan
motivasi dalam belajar, untuk membuat konsep yang lebih tepat, untuk memeriksa
bahwa siswa memahami materi, untuk mengarahkan siswa off-task terhadap
perilaku yang lebih positif, dan untuk menciptakan sejumlah ketegangan yang
dapat meningkatkan pembelajaran.

b. Memaksimalkan Waktu Belajar (Maxiimizing Learning Time)

Salah satu faktor yang mempengaruhi seberapa banyak siswa belajar adalah
waktu belajar yang mereka habiskan. Secara umum, ada hubungan yang positif
antara waktu yang dihabiskan untuk belajar dan skor pada tes prestasi. Ada Dua
wilayah waktu yang dapat digunakan oleh guru dalam meningkatkan jumlah waktu
yang digunakan siswa dalam belajar yaitu waktu yang dialokasikan untuk instruksi
dan tingkat keterlibatan siswa dalam tugas-tugas belajar.

1) Waktu yang dialokasikan

Waktu yang dialokasikan mengacu pada jumlah waktu yang disediakan


guru bagi siswa untuk belajar subjek. Studi telah menemukan bahwa jumlah waktu
7

yang dialokasikan untuk berbagai mata pelajaran di sekolah dasar berbeda secara
luas bahkan di antara guru di distrik yang sama pada tingkat kelas yang sama
(Karweit, 1984). Sebagai contoh, beberapa guru di tingkat kelas empat
mengalokasikan sebanyak 12 jam dalam satu minggu untuk membaca bahasa dan
seni, sedangkan guru kelas empat lainnya mengalokasikan lebih sedikit 4 jam
dalam waktu satu minggu. Beberapa guru kelas empat mengalokasikan sebanyak
10 jam dalam satu minggu minggu untuk matematika, dan lain-lain.

2) Waktu untuk tugas

Di samping meningkatkan alokasi waktu, guru perlu memaksimalkan siswa


waktu untuk tugas. Penelitian tentang pengajaran telah menetapkan bahwa kunci
untuk keberhasilan pengelolaan (dan instruksi sukses juga) adalah kemampuan
guru untuk memaksimalkan waktu yang digunakan siswa yang aktif terlibat dalam
tugas-tugas akademik.

B. Langkah-langkah Meningkatakan Motivasi Belajar Siswa

Hasil belajar ditentukan,antara lain oleh gabungan antara kemampuan dasar


siswa dan kesungguhan dalam belajar. Kesungguhan ditentukan oleh motivasi
yang bersangkutan. Oleh karena itu,sangat penting untuk memberi perhatian dan
menumbuhkan motivasi belajar siswa. Langkah yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan motivasi belajar siswa melalui berbagai kegiatan inovasi
pembelajaran, seperti membuat alat peraga sendiri yang bahannya mengambil dari
lingkungan sekitar, penyajian materi ditunjang media video dan audio yang
memadai, penggunaan alat peraga elektronika, dan lainya.

Biggs dan Telfer (dalam Amri. 2013: 26-27) menyatakan bahwa ada empat
golongan motivasi belajar peserta didik, sebagai berikut.

1. Motivasi instrumental: peserta didik belajar karena didorong oleh adanya


hadiah atau menghindari hukuman.
8

2. Motivasi sosial: peserta didik belajar untuk penyelenggaraan tugas, dalam hal
ini keterlibatan peserta didik pada tugas menonjol.
3. Motivasi berprestasi: peserta didik belajar untuk meraih prestasi atau
keberhasilan yang telah ditetapkan.
4. Motivasi instrinsik: peserta didik belajar karena keinginanya sendiri.

Didalam kegiatan belajar mengajar peranan motivasi baik intrinsik maupun


ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan motivasi, pelajar dapat mengembangkan
aktivitas dan inisatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam
melakukan kegiatan belajar. Menurut Sadirman, ada beberapa bentuk dan cara
untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar disekolah, yaitu: memberi
angka, hadiah, kompetensi, Ego-Invholvement, memberi ulangan, meberitahu
hasil, pujian, hukuman, hasrat untuk belajar, minat dan tujuan yang diakui (dalam
Fauziah, Rosnaningsih & Azhar, 2017: 50). Penyebab motivasi siswa dapat
diketahui dan ditangai dengan mengambil langkah perbaikan. Siswa akan
termotivasi dalam belajarnya, jika dirinya yakin bahwa apa yang dipelajari manfaat
bagi dirinya, dirinya yakin akan mampu memahami/menguasai pelajaran tersebut,
dan adanya iklim dan situasi belajar menyenangkan bagi dirinya.

Dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa, terdapat beberapa


langkah yang harus dilakukan guru, yaitu sebagai berikut.

1. Keteladanan kepala sekolah dapat membangkitkan motivasi belajar siswa.


2. Tentukan target bersama seperti menyertakan siswa, guru, dan orang tua untuk
menyusun target sekolah maupun target individu siswa.
3. Memberi dorongan kepada guru untuk menggunakan model pembelajaran
yang inovatif, sehingga siswa menikmati kegiatan pembelajaran.
4. Memberi dorongan kepada guru untuk menggunakan insentif dalam
membangkitkan motivasi siswa untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
5. Meminta guru agar menyampaikan pembelajaran,sebelum mulai pelajaran.
6. Meyakinkan guru bahwa motivasi sangat menentukan keberhasilan belajar
siswa.
9

7. Memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan saling kerja sama.
8. Inisiatif kepala sekolah harus selalu mengusahakan tersedianya sarana dan
prasarana penunjang yang kondusif.

C. Bentuk Pembelajaran

Proses pembelajaran yang berpusat pada siswa/peserta didik, siswa


memperoleh kesempatan dan fasilitas untuk membangun sendiri pengetahuannya
sehingga mereka memperoleh pemahaman yang mendalam yang pada akhirnya
dapat meningkatkan mutu kualitas siswa dan dapat meningkatkan motivasi siswa
dalam belajar. Melalui penerapan pembelajaran yang berpusat pada siswa, maka
siswa diharapkan dapat berpartisipasi secara aktif, selalu ditantang utnuk memiliki
daya kritis, mampu menganalisis dan dapat memecahkan masalahnya sendiri.

Beberapa bentuk bentuk pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi


belajar siswa, antara lain:

1. Guru memberikan materi dengan mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan


sehari-hari siswa dan menunjukan manfaatnya untuk masa depan mereka
sehingga membuat pembelajaran menjadi penuh arti.
2. Menumbuhkan harga diri siswa dengan menciptakan harapan untuk sukses
dalam mencapai target yang ditetapkan
3. Menciptakan hubungan yang hangat dengan siswa, seperti mengenal nama
siswa.
4. Menggunakan metode belajar yang inovatif sehingga menarik minat siswa
dnegan menggunakan alat peraga.
5. Mengembangkan pendidikan sistem “among” yang menempatkan siswa
sebagai subjek dengan memberikan kebebasan untuk memerikan pendapat.
Guru bersikap “tut wuri handayani”.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan isi makalah ini adalah,
sebagai berikut.

1. Metode pembelajaran yang dapat meningkatkan kebutuhan akademik siswa,


antara lain Perilaku keterbukaan guru terhadap motivasi belajar siswa dan
harapan guru terhadap motivasi belajar siswa.
2. Langka-langkah meningkatakan motivasi belajar siswa adalah memberikan
lingkungan belajar yang nyaman. Siswa akan termotivasi dalam belajarnya,
jika dirinya yakin bahwa apa yang dipelajari manfaat bagi dirinya, dirinya
yakin akan mampu memahami/menguasai pelajaran tersebut, dan adanya iklim
dan situasi belajar menyenangkan bagi dirinya
3. Bentuk pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa adalah
dengan membuat pembelajaran menjadi penuh arti, menciptakan hubungan
yang hangat, pemberian metode belajar yang inovatif, dan bersikap “tut wuri
handayani”.

B. Saran

Upaya peningkatan motivasi siswa tidak dapat dibebankan secara tidak seimbang
hanya kepada guru. Perlu adanya kerjasama yang seimbang antara semua aspek
pendidikan. Selain guru dan lingkungan belajar yang nyaman, peran orang tua dan
siswa itu sendiri yang menentukan besar kecilnya motivasi belajar siswa.

10
DAFTAR PUSTAKA

Amri, Sofan. (2013). Pengembangan dan Model Pembelajaran Dalam Kurikulum


2013. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

Fauziah, A., Rosnaningsih, A., & Azhar, S. (2017). Hubungan Antara Motivasi
Belajar dengan Minat Belajar Siswa Kelas Iv SDN Poris Gaga 05 Kota
Tangerang. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar, 4, 47-53.
doi: http://dx.doi.org/10.26555/jpsd

Soedijarto. (1993). Menuju Pendidikan nasional yang Relevan dan Bermutu.


Jakarta: Balai Pustaka

Nashar, H. (2004). Peranan Motivasi dan Kemampuan awal dalam kegiatan


pembelajaran. Jakarta: Delia press

11