Anda di halaman 1dari 6

2.

8 Pengertian Layak-Tidak Layak dan Indikator Kelayakan Etika Pejabat Publik


Layak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah wajar; pantas; patut. Layak
adalah tepat sesuai dengan penggunaan, konvensi atau perilaku termasuk konstitusi alami
atau hakekat suatu objek sesuai dengan hakekat seseorang.
Sedangkan tidak layak adalah belum atau tidak cukup untuk menjadi sempurna.
Tidak layak adalah sesuatu yang belum atau tidak sesuai dengan yang diinginkan
sehingga menyebabkannya menjadi tidak sempurna.
Prinsip-prinsip etika pelayanan publik yang dikembangkan oleh Etika Pelayanan
Publik Institute Josephson America (dikutip Maani 2010 : 65) dapat digunakan sebagai
rujukan atau referensi bagi para birokrasi publik dalam memberikan pelayanan, antara
lain adalah sebagai berikut:
1. Jujur, dapat dipercaya, tidak berbohong, tidak menipu, mencuri, curang, dan
berbelit-belit;
2. Integritas, berprinsip, terhormat, tidak mengorbankan prinsip moral
3. Memegang janji. Memenuhi janji serta mematuhi jiwa perjanjian sebagaimana
isinya dan tidak menafsirkan isi perjanjian itu secara sepihak;
4. Setia, loyal, dan taat pada kewajiban yang semestinya harus dikerjakan;
5. Adil. Memperlakukan orang dengan sama, bertoleransi dan menerima perbedaan
serta berpikiran terbuka;
6. Perhatian. Memperhatikan kesejahteraan orang lain dengan kasih sayang,
memberikan kebaikan dalam pelayanan;
7. Hormat. Orang yang etis memberikan penghormatan terhadap martabat manusia
privasi dan hak menentukan nasib bagi setiap orang;
8. Kewarganegaraan, kaum profesional sektor publik mempunyai tanggung jawab
untuk menghormati dan menghargai serta mendorong pembuatan keputusan yang
demokratis;
9. Keunggulan. Orang yang etis memperhatikan kualitas pekerjaannya, dan seorang
professional publik harus berpengetahuan dan siap melaksanakan wewenang
publik;
10. Akuntabilitas. Orang yang etis menerima tanggung jawab atas keputusan,
konsekuensi yang diduga dari dan kepastian mereka, dan memberi contoh kepada
orang lain;
11. Menjaga kepercayaan publik. Orang-orang yang berada disektor publik
mempunyai kewajiban khusus untuk mempelopori dengan cara mencontohkan
untuk menjaga dan meningkatkan integritas dan reputasi prosses legislatif.

Selain itu yang dapat menjadi indikator kelayakan sikap pejabat publik adalah :

1. Kode etik pelayanan banyak upaya-upaya yang telah dilakukan, tetapi masih
kurang dan rendah kesadaran aparat jika dilihat dari: 1) keikhlasan dalam
pemberian pelayanan (masih ada aparat yang mengharapkan belas jasa); 2)
pelayanan sesuai aturan yang ditetapkan (masih banyak aparat dalam pemberian
pelayanan melanggar prosedur dan ketentuan yang ada dan banyak pengguna jasa
menggunakan biro jasa dalam mengurus keperluannya); 3) Pilih kasih dalam
pelayanan (masih terdapat sikap dan tindakan aparat yang membeda-bedakan
pelayanan); 4) Kepuasan dalam pelayanan (masih terdapat adanya keluhan-
keluhan dari masyarakat terkait proses pelayanan di Dinas tersebut).
2. Kejujuran dalam pelayanan usaha-usaha sudah maksimal dilakukan, namun masih
kurang jika dilihat dari: 1) Tidak menyalahgunakan wewenang dalam pelayanan
(masih terdapat penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan aparat birokrasi);
2) Transparansi dalam pelayanan (aparat belum memberikan informasi yang jelas
dan benar kepada pengguna jasa); 3) Sikap aparat dalam pelayanan (aparat belum
menunjukkan sikap ramah, sopan, dan santun pada pengguna jasa); 4) Kesetiaan
dalam pelayanan (masih ada pegawai yang tidak berada pada tempat kerjanya atau
mejanya kosong disaat pengguna jasa membutuhkan pelayanan).
3. Tanggung jawab pelayanan secara umum belum menunjukkan hasil yang
mengembirakan dengan kata lain kesadaran akan tanggung jawab masih kurang
jika dilihat dari: 1) Ketepatan dalam pelayanan (banyak kasus pelayanan yang
molor atau lambat); 2) Pelemparan tanggung jawab (banyak masyarakat pengguna
jasa merasa dirugikan baik, waktu, biaya, dan tenaga); 3) Pemeliharaan dan
penggunaan pasilitas kantor (sudah baik); 4) Menyadari kepentingan public,
masih ada pegawai yang mementingkan kepentingan pribadi dan terlalu tunduk
dengan apa yang diperintahkan pimpinan (Sudana dkk 2009 : 1).

Selain indiktor ketidak layakan menurut Kumaratomo (dikutip Djamil dan Djafar
2016:1765) dapat berupa :

1. Ketidakjujuran (dishonesty); pejabat publik melakukan tindakan-tindakan yang


tidak jujur dalam tugas-tugasnya.
2. Perilaku yang buruk; dengan menerima uang suap.
3. Konflik kepentingan; pejabat publik seringkali dihadapkan pada posisi yang
dipenuhi oleh konflik kepentingan.
4. Melanggar peraturan perundangan; seorang pejabat mungkin tidak pernah
menerima uang sogok, uang pelicin dan sebagainya. Akan tetapi, sangat boleh jadi
bahwa tanpa sadar ia telah bertindak tanpa wewenang yang sah. Ia tidak
melakukan tindakan-tindakan yang buruk, namun, telah melanggar peraturan
perundangan yang berlaku.
5. Melakukan inefisiensi atau pemborosan; padahal, pemborosan dana atau
sumbersumber daya milik publik tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan
adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan.
6. Menutup-nutupi kesalahan; dalam hal ini pejabat publik seringkali menolak untuk
memberikan keterangan yang sesungguhnya kepada badan-badan legislatif.
Dalam organisasi, mungkin telah terjadi penyelewengan-penyelewengan berat,
akan tetapi, si pejabat bisa saja menutup mata dari penyelewengan tersebut. Hal
ini jelas merupakan tindakan yang melanggar norma etika.

3.3. Analisis tentang layak atau tidak layaknya tokoh tersebut dijadikan contoh atau
panutan
Untuk menganalisis kelayakan apakah tokoh publik tersebut dapat dicontoh atau
tidak menggunakan indikator Etika Pelayanan Publik Institute Josephson America :
1. Integritas, untuk indikator ini telah dipenuhi oleh Khofifah Indar dilihat
dari rekam jejak yang telah dicapainya seperti :
 Tahun 1992 menjabat sebagai Pimpinan Fraksi Pratai Persatuan
Pembangaun DPR RI sampai pada tahun 1997
 Wakil Ketua DPR RI pada thaun 1999, saat kepemimpinan
Bacharuddin Jusuf Habibie
 Ketua Delegasi Republik Indonesia dalam “Women 2000, Gender
Equality, Development and Peace for the Conventi on on The
Elliminati on of All Forms of Discriminati on Against Women” di
Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, 28 Febuari 2000
dan masih banyak lainnya.
2. Kejujuan, salah satu yang dapat digunakan untuk menilai kejujuran adalah
melihat laporan kekayaan apakah benar sesuai. Dalam laporan kekayaan
kepada LHKPN kekayaan khofifah tercatat sebesar Sementara bakal
Cawagub pendamping Khofifah, Emil Dardak Elestianto mengacu
LHKPN pada 8 Januari 2018, harta kekayaannya tercatat Rp 8,2 miliar
(Rp 8.254.061.908). Jumlah ini meningkat dari periodisasi sebelumnya (3
Agustus 2015) sebesar Rp 6,9 miliar (Rp 6.929.062.926) dan 20.000 dolar
AS. Terdiri dari harta tidak bergerak Rp 5.881.572.000, alat transportasi
dan mesin lainya Rp 459.000.000, peternakan, perikanan, perkebunan,
pertanian, kehutanan, pertambangan dan usaha lainnya Rp 475.000.000,
harta bergerak lain Rp 30.000.000, giro serta setara kas lainnya Rp
226.360.926 dan 20.000 dolar AS (Aji 2018:1).
3. Memegang janji, mengutip TEMPO.CO Menteri Sosial Khofifah Indar
Parawansa meresmikan 23 unit rumah yang dibangun Kementerian Sosial
bagi Suku Anak Dalam di Desa Pulau Lintang, Kabupaten Sarolangun,
Provinsi Jambi. Pada Sabtu, 18 Februari 2017, Khofifah senang bisa
mewujudkan janjinya menyediakan rumah bagi penduduk pedalaman ini.
4. Perhatian. Memperhatikan kesejahteraan orang lain, hal dapat diambil dari
contoh Menyediakan rumah bagi penduduk Anak Dalam di Desa Pulau
Lintang, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi menyiratkan bahwasanya
Ibu Khofifah juga perduli dengan kesejahteraan suku anak dalam tersebut.
5. Akuntabilitas, pada saat Ibu Khofifah mundur dari jabatannya sebagai
Mensos beliau tidak serta merta meninggalkan tanggung jawabnya
terhadap program yang elah dibuatnya yaitu, Program Rumah Tangga
Sangat Miskin (RTSM). Beliau mengimgatkan kepada Idrus Marham
sebagai Mensos baru untuk terus memantau pencairan dana Program
Keluarga Harapan (PKH) yang akan masuk tempo pada 1 Februari
mendatang. PKH sendiri merupakan program perlindungan sosial yang
diberikan kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) dan berhak
mendapatkan bantuan tunai.

Dari penjelasan-pejelasan diatas dapat dikatakan bahwa sosok Khofifah dapat


menjadi contoh atau panutan, disaat ia sudah menjaat sebagai seorang menteri Bu
Khofifah berani meninggalkan jabatan tersebut untuk membangun Jatim. Hal lain
yang patut dicontoh dari beliau adalah ketangguhan, sebagai seorang perempuan
Bu Khofifah memiliki jiwa yang kuat dan berani, beliau aktif dalam berpolitik
dan sering mengikuti forum-forum bahkan sampai tingkat internasional. Selain
itu, Ibu Khofifah telah banyak menduduki jabatan-jabatan baik di ranah politik
maupun bidang keagamaan seperti menjabat wakil ketua DPR RI, dua kali
pimpinan fraksi, dua kali pimpinan komisi DPR RI. Di organisasi Ibu Khofifah
juga empat kali berturut-turut pimpin Muslimat NU, bahkan sering jadi ketua
delegasi Indonesia di PBB, hal ini membuktikkan bahwasanya Ibu Khofifah
dipercayai dan memiliki tanggung jawab yang baik ketika mengemban amanah
tersebut.

Aji, Noviyanto. 2018. “4 Tahun Wagub Harta Gus Ipul Meroket, 3 Tahun Mensos Harta
Khofifah Merosot”. https://nusantara.news/4-tahun-wagub-harta-gus-ipul-meroket-3-
tahun-mensos-harta-khofifah-merosot/. Diakses tanggal 17 April 2018.

Maani, Karjuni Dt.. 2010. Etika Pelayanan Publik. Demokrasi Vol. IX No. 1.

Djamil, M. Nasir dan TB Massa Djafar. 2016. Etika Publik Pejabat Negara dalam
Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih. Jurnal Politik Vol 12 No. 01.